The Reason (Series) Chapter 2

Author : Lee Hyura

Title : Reason

Genre : Romance, Family, Friendship, horror, a bit Angst, and of course Fantasy

Cast :

–          F(x) Krystal

–          SHINee Minho

–          T-Ara Jiyeon

–          SNSD Jessica

–          F(x) Sulli

 

===Reason===

 

Minho dan Krystal membawa Jiyeon ke rumah Krystal. Krystallah yang mengusulkannya. Krystal segera menyuruh Jiyeon berganti pakaian namun karena Jiyeon masih sangat lemah, Krystal yang menggantikannya sedangkan Minho menunggu mereka di ruang tamu. Setelah ganti baju, Krystal membopong Jiyeon kembali ke ruang tamu.

 

“Jadi, bisa jelaskan apa saja masalahmu?” tanya Minho dengan gaya ala detektif. Krystal terkekeh pelan melihatnya.

 

“Khayangan sedang ada perang besar dengan kaum iblis. Karena itu, aku diperintahkan menjaga batu kehidupan yang mengatur kehidupan semua makhluk hidup dan di utus ke bumi. Aku dimanterai agar berbicara seperti orang-orang yang ada di sekitarku dan berusaha mencari tempat bersembunyi sendiri,” jelas Jiyeon.

 

“Kenapa kau disuruh untuk menjaga batu kehidupan?” tanya Krystal bingung.

 

“Molla. Mungkin karena hanya aku yang tidak bisa berperang. Aku kan peri baru,” jawab Jiyeon.

 

“Kenapa batu itu harus kau bawa pergi?” tanya Minho.

 

“Karena batu kehidupan diincar oleh para iblis. Jika batu kehidupan berada di tangan iblis, kehidupan di semua planet akan kacau.”

 

“Apa tuhan tidak melakukan apapun?” tanya Krystal dengan nada sinis.

 

“Molla. Yang pasti aku yakin tuhan mempunyai rencana lain. Aku tidak boleh berburuk sangka pada tuhan. Itu dilarang.” Jiyeon tersenyum lebar.

 

“Hah! Aku muak mendengarnya,” desis Krystal.

 

“Wae?” tanya Jiyeon.

 

“Karena nyatanya tuhan lah yang membuat kita berburuk sangka padanya! Karena ia tidak pernah adil!” sungut Krystal.

 

“Ya! Kau tidak boleh berbicara seperti itu!” bentak Jiyeon.

 

“Whatever!” sahut Krystal sambil melipat tangannya kesal.

 

“Biarkan saja dia. Dia memang seperti itu,” celetuk Minho yang membuat Krystal menatapnya tajam.

 

“Ah.. geure~” sahut Jiyeon.

 

“Bagaimana jika kau tinggal di rumahku?” usul Minho.

 

“Mwo?! Aku yakin keluargamu tidak akan setuju!” sahut Krystal cepat.

 

Minho melirik Krystal sambil menyeringai, “Wae? Kau cemburu?”

 

Mata Krystal membulat, “M-mwo? Y-ya! Jangan besar kepala kau!”

 

Minho terkekeh pelan. Memang paling menyenangkan kalau mengganggunya, pikir Minho.

 

“Ya~ jangan bertengkar.. bagaimana dengan nasibku, uh?” protes Jiyeon.

 

Minho menggaruk kepalanya bersalah. “Ok. Kau tinggal di rumahku saja. Tapi jangan dengan sosok manusia. Kau bisa berganti rupa?”

 

Jiyeon berpikir sejenak lalu mengangkat bahunya, “Mollayo. Sejauh ini aku baru bisa mentransparankan diriku.”

 

“Kalau begitu kau harus mentransparankan tubuhmu hingga kita sampai di kamarku. Setelah itu aku beri waktu untuk kau mencoba merubah sosokmu itu,” kata Minho. Sejenak ia teringat kartun Fairy Oddparents yang membuatnya terkekeh pelan.

 

“Geureyo~” setuju Jiyeon.

 

“Kau yakin membiarkan dia tinggal di rumahmu? Masuk ke kamarmu pula?” tanya Krystal tak percaya.

 

“Wae? Kau tidak rela gadis lain ke rumahku bahkan ke kamarku? Kau cemburu?” goda Minho.

 

Krystal langsung melemparnya bantal sofa, “Bermimpilah, sunbae!”

 

>>>

 

Krystal terdiam di ruang tamu. Minho dan Jiyeon sudah pergi dari beberapa menit yang lalu setelah tenaga Jiyeon pulih kembali. Baru sebentar ia bisa merasakan keadaan rumah yang ramai, tiba-tiba rumahnya kembali sunyi. Dia menghenala nafas panjang.

 

“Membosankan. Sepertinya biasa~” gumamnya.

 

Terdengar suara petir dan gemuruh. Krystal hanya mendesah mendengarnya. Jika ia mendengarnya dulu saat keadaan rumah tidak sesepi sekarang, mungkin ia sudah memeluk seseorang sambil berteriak ketakutan. Tapi sejak rumahnya sunyi karena seluruh anggota keluarga sibuk dengan kesibukannya masing-masing, ia sudah terbiasa dengan semua itu. Hingga ia bingung apa yang ia takutkan sekarang selain kehilangan kakaknya sekaligus keluarganya satu-satunya.

 

“Aku merindukan appa dan umma. Andai mereka masih hidup,” gumamnya lagi. Yap, kedua orangtuanya meninggal sejak 2 tahun yang lalu. Penyebab rumah itu menjadi sepi.

 

“Aku menemukanmu~” sebuah suara membahana di rumah itu. Tubuh Krystal menggigil tiba-tiba.

 

Sebuah cahaya hitam melesat dengan cepat ke dalam tubuh Krystal. Krystal menjerit kesakitan karena cahaya hitam itu mendesak masuk ke dalam tubuh Krystal.

 

“Onnie-ya~ tolong,” jeritnya namun dengan suara pelan karena tenaganya serasa lenyap seketika.

 

>>>

 

“Krystal-ah~ onnie wesseo,” teriak Jessica sambil membuka sepatunya dengan terburu-buru. Firasatnya buruk.

 

“Krystal!” jeritnya saat melihat adiknya tergeletak tak sadarkan diri di lantai ruang tamu.

 

“Krystal-ah~ ige mwoyeyo?” gumamnya tak percaya sambil berlari menghampiri Krystal dan berusaha menyadarkannya.

 

Akhirnya Krystal sadar. Dia menggumam pelan dan bangkit. Dia menatap dingin Jessica. Tubuh Jessica menggigil pelan melihat mata Krystal. Dingin.. mati.. bola matanya pun berubah menjadi hitam pekat.

 

“Krystal-ah~ gwencana?” tanya Jessica pelan. Ia merasa takut dengan adiknya saat itu.

 

“Ne, gwencana,” jawab Krystal dengan nada datar.

 

“Krystal..” panggil Jessica pelan. Ia benar-benar tidak merasa berada di sekitar adiknya. Aura Krystal terlalu kuat dan menakutkan.

 

“Siapa kau?” tanya Jessica pelan.

 

Krystal menyeringai dingin, “Kau sadar?” Krystal mengangkat tangan kanannya dan melipat jari tengah, manis dan kelingking seolah sebuah pistol. “Bang!” serunya sambil seperti menembak Jessica dengan tangannya yang seperti pistol itu. Seketika Jessica kehilangan kesadarannya.

 

“ARGH!” Krystal kembali menjerit. “Keluar dariku!! Onnie!! Jangan menyakiti onnieku, makhluk sialan! Keluar dariku!” jerit Krystal.

 

Jeritan Krystal semakin lama semakin kencang hingga akhirnya cahaya hitam keluar dari tubuh Krystal dan pergi dari rumahnya. Krystal roboh. Tangannya berusaha menggenggam tangan Jessica. Air matanya mengalir.

 

“Onnie~ tolong aku.. aku takut..” gumamnya terisak sebelum akhirnya kembali pingsan.

 

>>>

 

“Nah, kita sampai di kamarku,” seru Minho.

 

Jiyeon langsung menggumamkan sebuah mantera hingga akhirnya sosoknya tidak transparan lagi. Dia mengedarkan matanya ke sekeliling kamar Minho dan terkagum-kagum.

 

“Orangtuamu pasti bangga padamu,” gumam Jiyeon.

 

“Tentu saja~ sangat bangga pastinya,” Minho tersenyum bangga.

 

“Ne~” Jiyeon mengangguk setuju.

 

“Sekarang waktunya kau berubah. Mungkin kau cocok jadi … kucing! Aku suka kucing dan keluargaku semuanya juga suka kucing,” usul Minho.

 

“Tunggu. Aku coba dulu,” kata Jiyeon sambil menutup mata agar ia bisa berkonsentrasi.

 

Awalnya Jiyeon berubah menjadi marmut lalu menjadi anjing laut, singa, anjing, cacing, dan terus menerus. Tidak berhasil sedikit pun. Minho menutup mulutnya untuk menahan tawanya. Tapi semakin lama, itu menjadi tontonan yang semakin membosankan hingga akhirnya ia tertidur.

 

“Aku berhasil!” seru Jiyeon saat tubuhnya sudah menjadi tubuh seekor kucing.

 

“Minho-ssi~ aku berhasil!” seru Jiyeon sambil mendongak menatap Minho tapi Minho malah tertidur.

 

Ia menggertakkan giginya kesal dan melompat naik. Ia menginjak-injak wajah Minho hingga akhirnya Minho terbangun. Minho menggeram kesal sambil mengangkat tubuh Jiyeon.

 

“Kucing sialan!” teriaknya kesal sambil hendak melempar Jiyeon. Jiyeon langsung berteriak.

 

“Ah, Jiyeon-ssi?” tebak Minho sambil menarik Jiyeon ke depan wajahnya.

 

“Ne, ini aku, babo!” kesal Jiyeon lalu mencakar wajah Minho.

 

Minho meringis pelan lalu meletakkan Jiyeon di sampingnya, “Kau kejam.”

 

“Kau lebih kejam! Aku susah-susah berusaha menjadi kucing, kau malah asik tidur! Huh!” sungut Jiyeon. Minho tertawa mendengarnya.

 

“Oppa~ kau di dalam?” teriak Sulli dari luar.

 

“Ne~” sahut Minho cepat.

 

Sulli membuka pintu kamar Minho dan menatap kakaknya itu sarkastis, “Oppa.. kau sudah gila? Kenapa berteriak seperti orang kesal lalu tertawa?”

 

Minho mengedarkan matanya sambil mencari alasan. Tiba-tiba terdengar Jiyeon mengeong. Minho langsung mendapatkan alasannya. Ia mengangkat Jiyeon dan mengelusnya.

 

“Lihat tidak? Kucing ini sangat bagus dan lucu. Tapi galak. Lihat wajahku yang tampan ini mendapat sebuah cakaran darinya,” jawab Minho mengadu.

 

Sulli tertawa puas, “Rasakan itu!” setelah tertawa, Sulli menghampiri Minho dan mengambil Jiyeon. “Tapi kucing ini memang bagus. Siapa namanya?”

 

“Jiyeon. Kau bisa memanggilnya Jiyeon,” jawab Minho cepat.

 

“Jiyeon? Bukannya nama itu terlalu bagus untuk sebuah kucing? Payah kau!”

 

“Sesukaku! Dia kucingku jadi terserahku mau memberi nama apa padanya.”

 

“Memang kau menemukan dimana kucing ini, uh?”

 

Minho kembali memutar otaknya untuk mencari jawaban yang tepat. Tapi entah kenapa otaknya malas sekali untuk berpikir.

 

“Kau mencurinya ya? Tak mungkin kucing sebagus ini tidak punya majikan,” celetuk Sulli.

 

“Ya!” Minho menoyor kepala Sulli kesal. “Enak saja! Aku membelinya karena ku pikir kau pasti menyukainya. Ternyata aku salah ya berlaku baik padamu. Huh!”

 

“Jadi ini buatku?” seru Sulli dengan mata berbinar.

 

Minho langsung menggeleng cepat, “Ani~ dia kucingku. Dia hanya boleh tinggal di kamarku. Tapi kau boleh bermain dengannya dan memberikannya makanan di kamarku.”

 

“Ah, geureyo.. apa kau sudah minta izin sama appa dan umma?”

 

“Belum. Tolong ya~” Minho memakai suara memohon pada adiknya itu. Sulli mendesah pelan dan mengangguk.

 

Next day.

 

Minho membawa Jiyeon yang masih dalam rupa kucing ke sekolahnya hingga membuat sekolah itu geger. Para namja menyorakinya sedangkan para yeoja mengerubunginya untuk memuji betapa bagusnya Jiyeon. Saat ia baru duduk, tiba-tiba sosok Krystal terlihat berusaha mendesak masuk gerombolan itu lalu mengusir semua orang.

 

“Jagiya~ kau ke sini rupanya. Merindukan ku?” seru Minho yang membuat Krystal mendesah kesal.

 

“Siapa yang merindukanmu? Aku mempunyai sebuah urusan dengan Jiyeon tahu!” bantah Krystal kesal.

 

“Ah~ sayang sekali kalau begitu,” desah Minho pura-pura kecewa.

 

Krystal berdecak kesal lalu menggendong Jiyeon dan menarik Minho keluar kelas. “Kita harus ke tempat yang sepi!”

 

“Ah, aku belum siap untuk mendapatkan sesuatu yang hot darimu,” celetuk Minho asal.

 

Krystal berhenti melangkah dan berbalik badan, “CHOI MINHO!! BISA TIDAK BERHENTI BECANDA! INI PENTING!” teriak Krystal kesal.

 

Minho ingin tertawa namun saat melihat wajah Krystal yang serius sekaligus ketakutan, ia mengurungkan niatnya itu dan memilih untuk ikut serius.

 

“Mianhae..” sesal Minho. Ia merasa kasihan melihat wajah Krystal yang ketakutan itu.

 

>>>

 

“Mwo? Kau dirasuki sesuatu?” teriak Minho dan Jiyeon tidak percaya.

 

Krystal mengernyit, “Kau kan kucing. Kok bisa berbicara?”

 

Jiyeon mendesah kesal, “Aku bisa berbicara ala kucing dan manusia saat sedang menyamar jadi kucing. Arasso? Sekarang kembali ke pokok permasalahan. Kapan itu terjadi?”

 

“Tak lama setelah kalian pulang,” jawab Krystal.

 

“Gawat ini!” gumam Jiyeon.

 

“Eotteokhe?” gumam Krystal.

 

“Memang batu kehidupannya ada dimana?” tanya Minho.

 

“Ada di suatu tempat. Itu rahasia,” jawab Jiyeon ketus. Ia paling tidak suka jika seseorang menanyakan letak batu itu. Ia tidak mau memberitahukannya ke siapapun.

 

“Ok, jigeum eotteokhe?” tanya Krystal pelan.

 

“Minho dan aku akan tinggal di rumahmu. Itu wajib! Kebetulan aku mempunyai penangkal untuk makhluk sejenis itu. Setidaknya jika kau berada di dekatku, kau akan aman,” kata Jiyeon.

 

“Benar itu~” seru Minho dengan senyuman lebar.

 

Krystal menatap Minho datar, “Jangan berharap yang macam-macam, ok?”

 

“O-ok..”

 

===Reason===

Advertisements

4 responses to “The Reason (Series) Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s