The Truth (Oneshoot)

Author : Lee Hyura

Title : The Truth

Rating : PG-13

Length : Oneshoot

Cast :

–          SNSD Jessica

–          SNSD Hyoyeon

–          SNSD Taeyeon

–          SJ Kyuhyun

–          SJ Leeteuk

–          SJ Eunhyuk

 

~*~*~

 

Wikipedia

 

Jessica Jung (Korean name: Jung Soo-yeon; Hangul: 정수연; Hanja: 鄭秀妍; born April 18, 1989), better known by her first name Jessica, is an American-born South Korean idol singer, dancer, actress and model. She was born in San Francisco, and is fluent in both Korean and English.

Jessica Jung was born on April 18, 1989 in San Francisco, California. She auditioned at the SM Entertainment Casting System and joined the company in 2000. She had been trained for seven years as a trainee before debuting as soloist.

Her younger sister, Krystal Jung, is a member of the Korean girl group f(x), also created by SM Entertainment.

 

===TheTruth===

 

Jessica memakai topi dan maskernya lalu mengendap-endap keluar dari ruangannya selama managernya—Hyoyeon—sedang tertidur di sofa ruang tunggunya. Setelah berhasil keluar, Jessica mencari temannya yang bekerja sebagai staf di gedung itu.

 

“Taeyeon-ah~” panggil Jessica berbisik sambil menarik tangan Taeyeon ke arahnya lalu membawanya bersembunyi di balik tembok.

 

“Ne?” tanya Taeyeon—temannya—dengan linglung.

 

“Aku pinjam blazzer kerjamu,” pinta Jessica.

 

“Mwo? Untuk apa?”

 

“Biasa..”

 

“Kau mau kabur lagi? Kasihan Hyoyeon, Sic.. dia pasti kebingungan mencarimu.” Taeyeon berdecak.

 

“Sshh.. pinjamkan saja,” desak Jessica kesal. Taeyeon mendesah dan melepaskan blazzer resminya itu.

 

~*~*~

 

Jessica bernyanyi pelan sambil menelusuri jalan raya yang ramai. Inilah yang ia lakukan setiap ia bosan dengan rutinitas sebagai artis solo. Terkadang dia memimpikan dirinya masuk ke dalam sebuah girlband seperti adiknya; Krystal. Pasti menyenangkan. Seperti mempunyai keluarga kedua, pikirnya sambil tersenyum tipis.

 

“Ah, kemana lagi hari ini?” gumamnya bingung. Dia terbiasa berpergian tanpa memikirkan tujuan.

 

Dia tersenyum melihat segerombolan orang yang menyebarang jalan di beberapa meter di depannya. Ia segera berlari mengikuti mereka. Namun sayang ia terlalu hingga ia baru sampai di tengah jalan saat lampu untuk pengendara hijau sedangkan lampu merah untuk pejalan kaki. Seseorang segera menarik dirinya ke pinggir jalan saat ia ‘hampir’ di tabrak oleh sebuah truk besar.

 

“Ugh, pasti pengemudi truk itu sedang mengantuk! Lihat saja gaya ia mengemudikan truk sudah seperti orang mabuk saja!” gerutu orang yang menolong Jessica.

 

Jessica mengerjap sesaat sambil menatap wajah orang itu. Setelah beberapa detik, ia baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi tadi. Ia segera membungkukkan badannya dan mengucapkan terima kasih. Tapi saat membungkuk, topinya terlepas. Orang yang menolong Jessica membulatkan mulutnya.

 

“Ohh.. Jes..” Jessica segera menutup mulut orang.

 

“Ku mohon.. jangan berteriak. Ne?” mohon Jessica panik. Orang itu mengangguk.

 

Jessica segera memungut topinya dan memakainya. Tepat saat topinya terpasang dengan baik di kepalanya, tangannya di tarik oleh orang yang menolongnya tadi.

 

“Ya~” teriak Jessica –memprotes.

 

Next day.

 

Jessica menggaruk kepalanya kesal. Dia paling benci paginya yang indah itu diganggu oleh bunyi ringtone hpnya dan bel apartemennya. Tapi mau bagaimana lagi? Jika ia mendiamkannya, ia akan mendapatkan kemurkaan dari seorang Kim Hyoyeon. Ia membuka pintu apartemennya malas.

 

“Wae geure, Hyoyeon-ah? Kenapa membangunkanku? Bukannya kau tahu password apatemenku?” tanya Jessica sambil sesekali menguap dan berjalan ke sofa.

 

“Aku lupa passwordmu.” Hyoyeon menahan tangan Jessica sebelum Jessica menghempaskan tubuhnya di sofa. “Sica-ya~ apa ini benar?” tanya Hyoyeon sambil menyerahkan sebuah koran kepada Jessica lalu memutar tubuh Jessica –memeriksa apakah ada luka di sekitar tubuh Jessica atau tidak.

 

“Ige mwoya?” desis Jessica kesal.

 

“Baca news koran itu. Koran itu memberitakan kalau kemarin kau hampir saja ditabrak oleh sebuah truk saat berpenampilan layaknya staf KBS yang memakai topi dan masker. Sudah ku bilang berapa kali untuk tidak kabur, uh?” kata Hyoyeon dengan nada kesal.

 

Jessica menghela nafas dan membaca news di salah satu kolom koran itu. Dia meniup poninya dan melempar koran itu ke sofa. Dia berkacak pinggang dengan pipi digembungkan.

 

“Aku sudah menolongmu tadi. Itu berarti kau hutang nyawa padaku.”

 

“Lalu?” tanya Jessica bingung.

 

“Kau harus membayarnya?” tekan orang itu.

 

“Ne? Maksudmu kau ingin menjadikanku tumbal?”

 

“Bukan seperti itu.. tapi berikan aku segala berita tentangmu. Bagaimanapun caranya, aku lah orang pertama yang mengetahui soal itu dibandingkan wartawan lainnya,” jelas orang itu.

 

“Ne. Aku memang hampir ditabrak oleh sebuah truk tapi seseorang menolongku. Itu sebabnya aku masih ada disini dengan tubuh yang tidak transparan,” jawab Jessica lalu melempar dirinya ke sofanya yang empuk itu.

 

“Bagaimana bisa orang itu tahu?”

 

“Dia yang menolongku.”

 

“Mwo?”

 

Jessica mendesah kesal, “Cho Kyuhyun, wartawan Seoul news lah yang menolongku. Orang yang menulis berita itu. Ara?”

 

“Hm.. namaku Cho Kyuhyun. Kau bisa memanggilku Kyuhyun,” kata orang itu sambil menyondorkan tangannya ke Jessica.

 

“Apa itu penting bagiku?” balas Jessica dingin sambil melirik tangan Kyuhyun sekilas dan membuang pandangannya ke arah lain. Dia menggigit bibirnya dan pandangannya lirih.

 

Hyoyeon mengangguk mengerti. “Jadi namanya Cho Kyuhyun. Apa dia tampan?”

 

Jessica memutar matanya kesal lalu pergi ke kamarnya.

 

~*~*~

 

Siang itu Jessica kembali melakukan kebiasaannya. Dia pergi dengan jaket bertudung pinknya dan kacamata hitam. Dia memutuskan untuk duduk di taman sambil melihat kumpulan anak kecil bersama orang tuanya memberi makan burung-burung merpati di taman itu.

 

“Jadi.. apa ada kabar baru?” tanya seseorang yang di sampingnya.

 

Jessica terlompat kaget, “Kkabjagi! Cho Kyuhyun-ssi!”

 

“Wae? Sepertinya kau begitu kaget melihatku duduk di sampingmu?” tanya Kyuhyun dengan pandangan fokus ke pemandangan yang diperhatikan Jessica tadi.

 

Jessica menghela nafas dan menggeleng, “Eobseoyo.”

 

“Mana mungkin tidak? Kan yang ku minta tidak hanya tentangmu tapi tentang teman-temanmu juga!” desak Kyuhyun kesal.

 

Jessica menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, “Tapi kenyataannya memang tak ada.”

 

“Wah lebih terkesan seperti kau sedang menyembunyikannya,” gumam Kyuhyun dengan nada merendahkan.

 

Jessica mendecak, “Oke. SHINee akan meluncurkan album baru. Beberapa artis SM akan menyumbang suara untuk 2 lagu di album baru mereka.”

 

Kyuhyun menyeringai, “Jelaskan lebih lanjut.” Dia mengeluarkan recordernya.

 

Kyuhyun pov.

 

“Kerja bagus, Cho Kyuhyun. Kau selalu mendapatkan info-info terbaru dengan cepat hingga kita selalu lebih dulu daripada yang lain,” puji ketua redaksiku –Park Jungsoo.

 

Aku tersenyum bangga, “Ne. Gomawo.”

 

“Mau berbagi rahasia pada kami?” seru Hyukjae—teman kerjaku—dengan wajah memelas.

 

Aku tertawa. “Tentu saja tidak.. itu rahasia, Hyukjae,” tolakku.

 

“Oh, pelitnya..” gerutunya. Aku terkekeh.

 

Aku memutar kursiku agar tubuhku kembali menghadap ke arah komputer untuk membuat artikel tentang info-info yang diberikan oleh wanita itu. Apakah wanita itu terlalu bodoh atau terlalu polos hingga ia mengikuti semua permintaanku?Entahlah, aku tidak tahu.

 

“Appamu pasti bangga karena kau sudah menjadi seorang wartawan handal, Kyu,” komentar Hyukjae.

 

Aku menghela nafas dan tersenyum tipis, “Yap, semoga ia bangga di surga sana.”

 

Aku membuka internetku. Membuat artikel, tentu saja harus menyisipkan beberapa data diri narasumber atau seseorang yang ku bahas. Kali ini yang ku bahas adalah Sooyoung. Seorang artis yang langganan dikontrak untuk sebuah film besar. Namun saat aku membuka profile dirinya, mataku menangkap nama Jessica. Aku membuka profilenya di tab baru. Aku membaca profilenya saat pekerjaanku selesai.

 

“Mwoya?” pekikku tak percaya dengan isi profile itu. Dia.. bersiaplah dia mendapat pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupnya!

 

Author pov.

 

Jessica menghela nafas panjang sambil memainkan cangkir tehnya. Di belakangnya, Hyoyeon memandangnya tajam –tak membiarkan dirinya kehilangan Jessica kembali. Itu sebabnya hari itu Jessica tak bisa berjalan-jalan seperti biasanya.

 

“Hyo~ ku mohon,” mohon Jessica.

 

“Andwae! Daripada kau memohon untuk hal yang tak akan ku izinkan, lebih baik kau berlatih. Sebentar lagi kau akan melakukan comeback, kan?” usul Hyoyeon.

 

“Ya tuhan! Itu masih lama! Bahkan belum tentu itu terjadi. Itu masih rencana, Hyo..” Jessica berdecak kesal.

 

“Bagaimana dengan dramamu? Sebentar lagi kau akan memulai shootingmu, bukan? Lebih baik kau perbanyak istirahatmu sebelum hari nerakamu mulai lagi,” Hyoyeon belum menyerah memberi usulan.

 

“Aku sudah terlalu banyak istirahat. Kan setiap hari aku hanya mendapatkan 1-3 job,” gerutu Jessica.

 

“Bagaimana jika..”

 

“Aku hanya ingin keliling kota, Hyo! Tidak yang lain!” potong Jessica –geram.

 

Hyoyeon menghela nafas panjang, “Untuk apa? Untuk wartawan tampan itu?”

 

“Bukan untuknya. Lagipula dia tidak tampan. Dia menyebalkan dan egois,” bantah Jessica.

 

“Oke..” Hyoyeon menarik nafas. “Bukankah lebih baik kau tetap di apartemen? Dengan begitu kau tidak akan bertemu dengannya lagi,” usul Hyoyeon –lagi.

 

Jessica terdiam. Tak lama senyuman terukir di wajahnya, “Kau benar, Hyo!”

 

Hyoyeon tersenyum bangga sekaligus lega. Akhirnya Jessica setuju dengan idenya. Tiba-tiba hp Jessica berbunyi.

 

“Yoboseyo~” salam Jessica. “Neo? Bagaimana bisa kau mendapatkan nomorku?”

 

Hyoyeon mendekat dan duduk di hadapan Jessica –meminta penjelasan pada wanita di depannya itu. Jessica menjauhkan hp dan mengusap wajahnya kesal.

 

“Kyuhyun. Dia meneleponku dan memintaku untuk menemuinya. Harus. Karena ini berhubungan dengan nyawa,” jelas Jessica lemas lalu mendekatkan hpnya ke telinganya kembali.

 

“Aish jinjja.. apa maksudnya?” desis Hyoyeon kesal.

 

~*~*~

 

“Jadi?”

 

Kyuhyun menoleh dan tersenyum melihat wanita yang sedari tadi ia tunggu, berdiri disampingnya dengan penampilan yang membuatnya seperti nerdy girl. Kyuhyun menghela nafas dan menunjuk seorang nenek-nenek yang sedang bekerja memungut sampah.

 

“Mwoya?” bingung Jessica.

 

“Buat nenek itu terjatuh tanpa penyamaran,” kata Kyuhyun.

 

“Ne? Buat apa?”

 

“Lakukan saja! Setelah menjatuhkannya, langsung kembali kesini tanpa melakukan apapun kecuali ku suruh. Arasso?”

 

Jessica menghela nafas lalu melakukan yang ia perintahkan oleh Kyuhyun. Jessica menggigit bibir. Dia merasa sangat amat bersalah pada nenek itu.

 

“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya Jessica kesal setelah mengerjakan yang di perintahkan oleh Kyuhyun yang asik dengan kameranya.

 

“Selesai. Tugasmu selesai. Besok ada misi lain untukmu,” kata Kyuhyun datar sambil pergi meninggalkan Jessica begitu saja.

 

“Y-ya!!” teriak Jessica. Akhirnya ia menghela nafas kasar lalu membantu nenek itu bangun bahkan melakukan hal-hal yang sekiranya membuat nenek itu memaafkannya.

 

Next day.

 

Jessica pov.

 

Aku menghempaskan diriku di sofa setelah performanceku sebagai penutup acara Live Power Music. Tiba-tiba pintu ruang tungguku buka lalu dibanting oleh Hyoyeon. Hyoyeon menatapku garang. Aku memejamkan mataku sambil berdecak kesal, ada apa lagi ini?

 

“Bisa tidak kau menahan sikap rudemu?” tanyanya—geram—sambil memperlihatkanku ipadnya yang memperlihatkan gambar nenek yang ku tabrak kemarin. Aku mendesah malas dan memainkan handphoneku.

 

“Sica!” bentaknya sambil mengambil hpku.

 

“Oke.. cukup! Ini menyebalkan. Itu bukan salahku. Aku hanya mengikuti perintah Kyuhyun.” Aku berdecak sambil merebut hpku kembali. “Lagipula aku sudah meminta maaf pada nenek itu dan melakukan hal-hal yang sekiranya bisa membuatnya memaafkanku.”

 

Hyoyeon memejamkan mata dan menelan ludahnya. Setelah itu dia duduk di sofa yang kosong. Dia menatapku dengan pandangan yang sungkar aku jelaskan. “Kau bodoh!” geramnya. Tapi aku tidak peduli. Dia kembali ke ipadnya dan aku ke handphone.

 

“Lihat ini,” pintanya yang membuatku mendongak dan membacanya. Itu adalah komentar-komentar para netizen tentang berita itu.

 

Aku menggerakkan layar touchscreen itu dengan jari lentikku ke atas agar layar itu ter-scroll ke bawah. Sebagian besar adalah komentar menghinaku. Oh thanks god.. kau memberikanku rasa cuek yang berlebihan hingga aku tidak peduli dengan komentar mereka. Hanya komentar dari penggemarku lah yang terpenting. Hanya mereka yang mengenalku.

 

“Aku akan menuntut orang itu,” ujar Hyoyeon yang membuatku menatapnya.

 

“Nugu?”

 

“Cho Kyuhyun.”

 

“Andwae!”

 

~*~*~

 

“Apa semua yang aku lakukan tidak cukup untuk membayar hutang nyawaku?” tanyaku pelan saat aku bertemu dengannya kembali.

 

Kyuhyun mendongakkan kepalanya, “Kalau kau maksud hanya nyawamu, tentu saja sudah lebih dari cukup.”

 

Aku tersenyum lega. “Ka..”

 

“Tapi..” potongnya yang membuatku menggigit bibirku. “Kalau termasuk nyawa lainnya yang kau rebut, itu jauh dari kata cukup.”

 

“Apa maksudmu?”

 

Kyuhyun menggeleng lalu bangkit. Tentu saja aku juga bangkit. Dia menarik tanganku pergi. Aku hanya menghela nafas pasrah dan mengikutinya. Dia masih sama seperti dulu.

 

“Bukankah semua orang selalu berubah setiap waktu? Ya walaupun hanya sedikit,” gumamku sambil menatap tangannya yang menggenggam tanganku.

 

“Err.. mungkin.”

 

“Lalu kenapa kau tidak pernah berubah? Ini sudah bertahun-tahun lamanya.” Aku menghela nafas. Tiba-tiba dia berhenti dan berbalik ke arahku.

 

“Apa maksudmu?” tanyanya. Aku segera menggeleng cepat.

 

Author pov.

 

“Kyu-ya~ ada bonus untukmu atas semua beritamu. Jangan lupa mengecek saldomu, ara?” teriak Jungsoo sambil berlari meninggalkan ruangan.

 

“Kemana dia?” tanya Kyuhyun sambil menunjuk samar Jungsoo.

 

“Rapat,” jawab Hyukjae sambil berjalan mendekati Kyuhyun dan berdiri di sampingnya. “Akhir-akhir ini kau selalu mendapatkan berita keburukan Jessica,” komentar Hyukjae.

 

“Wae? Kau cemburu dengan kesuksesanku?” sahut Kyuhyun.

 

Hyukjae menggeleng, “Takkan. Aku malah kasihan padanya. Apa salahnya? Bukankah yang salah adalah ayahnya?”

 

Kyuhyun mempause gamenya dan memutar kursinya menghadap Hyukjae. “Kau tahu?”

 

“Tentu saja.”

 

“Entahlah. Dendamku ini…” Kyuhyun tak melanjutkan kalimatnya dan malah menghela nafas. “Baiklah aku akan menghentikan permainan ini. Ku rasa dia juga sudah cukup tersiksa.”

 

~*~*~

 

Hyoyeon menghela nafas panjang dengan tangan sibuk mengetik di laptopnya. Sudah begitu banyak berita tentang keburukan Jessica. Nama Jessica sudah benar-benar buruk. Setiap harinya selalu saja ada yang menerornya. Namun Jessica tetaplah Jessica. Dia tidak pernah peduli akan semua itu. Agensinya pun sudah berkali-kali meminta Jessica untuk mengklarifikasinya namun sekali lagi, Jessica tetaplah Jessica. Lazy Sica..

 

Hyoyeon menyesap kopinya sebelum tangannya mengambil hpnya dan menelpon nomor Jessica. Pertama, mail box. Kedua, hasil masih sama. Ketiga, Jessica mengangkatnya.

 

“Neo eoddiseo?” tanya Hyoyeon terkesan datar.

 

Terdengar Jessica menghela nafas pendek, “Jangan marah.”

 

“Tidak akan. Aku sudah terbiasa. Pasti dengan wartawan itu lagi, kan?”

 

“Uhm.”

 

Hyoyeon menghela nafas. “Cepatlah kembali sebelum aku mengirim orang untuk membunuhnya sekarang juga.”

 

“Baiklah..”

 

Jessica’s side.

 

Jari tangan kanan Jessica memutari mulut cangkir sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menopang dagunya.

 

“Masih belum puas?” tanya Jessica. Kali ini ada suara lirih di nada bicaranya. Mau tak mau pada akhirnya memang dia tak bisa bersikap tak peduli pada masalahnya. Ia sudah cukup lelah dengan semua ini.

 

“Mwo?” tanya Kyuhyun sambil asik dengan polaroidnya.

 

“Sudah puas memfitnahku?” Jessica mengangkat wajahnya –menatap Kyuhyun bertepatan dengan Kyuhyun menatapnya. Kyuhyun memasang smirknya sebelum kembali asik dengan polaroidnya.

 

“Aku lelah.”

 

“Setidaknya aku tidak membunuh ayahmu. Jangan terlalu depresi seperti itu,” gumam Kyuhyun.

 

Jessica mengerjap, “Apa maksudmu?”

 

“Ani.”

 

“Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Bukankah aku bisa memberikanmu berita yang benar dan bukan fitnah?”

 

“Karena aku membencimu. Dan aku ingin semua orang juga membencimu.”

 

Jessica terdiam. Ia merasa oksigen begitu mahal hingga ia tidak berani mengambilnya sedikit. Tak lama, dia mengepalkan tangan dan menghela nafas.

 

“Dulu kau tidak memperdulikan keberadaanku. Sekarang kau membenciku. Sepertinya aku memang tidak di takdirkan untuk masuk ke dalam hidupmu,” gumam Jessica lalu menelan ludahnya. Sebisa mungkin ia mengatur suaranya agar tidak serak.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Kau mungkin tidak pernah menyadari kalau aku adalah temanmu saat sekolah. Oke, mungkin karena aku adalah adik kelasmu dan aku bukanlah murid yang populer.” Jessica menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengusap wajahnya.

 

“Kau tidak pernah berubah. Kau bersikap kasar kepada orang yang bahkan tidak dekat denganmu. Aku sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini darimu. Aneh jika kau tidak mengingatku karena kau sering menarikku tiba-tiba untuk membantumu saat kau membutuhkan pertolongan. Tapi itu kenyataannya. Kau tidak mengingatku,” lanjut Jessica. Terdengar hpnya berdering namun diacuhkan oleh Jessica.

 

“Aku masih tidak mengerti.”

 

Jessica menarik nafas dalam-dalam. “Tidak perlu kau mengerti karena kau tidak akan peduli.” Lagi-lagi hpnya berdering namun Jessica masih mendiamkannya. Kyuhyun menatapnya bingung.

 

“Jess..”

 

“Jamkan,” potong Jessica karena hpnya berdering untuk ketiga kalinya. Dari Hyoyeon.

 

“Yoboseyo.. jangan marah. Uhm. Baiklah.” Jessica menutup teleponnya dan menatap Kyuhyun.

 

“Tak ada lagi? Ini semua sudah berakhir?” tanya Jessica.

 

Kyuhyun mengangguk, “Kurasa cukup.”

 

“Baiklah aku pulang,” pamit Jessica.

 

Dia bangkit. Lalu dia kembali membuka mulutnya, “Maaf atas kematian ayahmu. Ayahku memang tidak suka dengan orang yang mengganggu karirnya.”

 

“Kau tahu?”

 

“Tentu saja. Memang kau kira untuk apa aku menerima dengan pasrah semua perlakuanmu selama ini kalau bukan untuk membayar kesalahan ayahku yang sudah membunuh ayahmu? Ditambah ia menutup rapat-rapat masalah kematian ayahmu hingga tak ada orang yang tahu tentang misteri kematian ayahmu,” sungut Jessica. Dan untuk pertama kalinya Jessica memperlihatkan seringaiannya pada Kyuhyun walaupun hanya seringaian lirih.

 

Kyuhyun menghela nafas panjang, “Jadi..”

 

“Ini semua sudah berakhir, bukan?” tanya Jessica lagi–memotong ucapan Kyuhyun. Dia bertanya untuk memastikannya.

 

“Tentu.” Kyuhyun mengangguk.

 

“Syukurlah. Dengan begitu aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Gomawo.”

 

~*~*~

 

Jessica menghempaskan dirinya di sofa sambil menggenggam sebuah kotak. Hyoyeon yang melihat Jessica sudah pulang pun segera duduk di samping Jessica.

 

“Apa itu?” tanya Hyoyeon dengan mata mengisyaratkan kotak itu.

 

Jessica mengangkat kotak itu, “Ini?” Hyoyeon mengangguk.

 

“Dari penggemarku yang ku temui di basement apartemen,” jawab Jessica pelan.

 

“Kau tahu kan kalau kau dilarang menerima hadiah sembarang?”

 

Jessica mendesah kesal, “Ayolah~ dia penggemarku. Jangan berpikir yang macam-macam!”

 

“Tapi bagaimana jika dia bukan penggemarmu tapi ..”

 

“Stop, Hyo.. kau terlalu parno. Tak mungkin seorang hater mengenaliku dengan baik saat aku sedang menyamar? Hanya penggemarku yang mengenaliku dengan baik,” potong Jessica –geram.

 

“Baiklah..” Hyoyeon menarik nafas dalam.

 

Jessica mulai membuka pita kotak itu. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka kotak itu. Jujur saja hatinya berdetak keras. Ada rasa takut yang dirasakan Hyoyeon di hatinya.

 

“Kya!” Jessica segera melempar kotak yang berisi pisau penuh darah. Tubuhnya menggigil hebat. Dengan cekatan, Hyoyeon membuang kotak beserta isi lalu kembali ke sisi Jessica dan memeluknya erat.

 

“Sica.. kau menangis?” gumam Hyoyeon tak percaya saat merasakan bajunya basah. Jessica tak membalas. Terdengar isakan pelannya.

 

“Sica.. uljima..”

 

“Apa tak ada yang menyayangiku? Apa semua orang membenciku? Apa aku memang tidak pantas untuk disayangi? Apa tidak ada satu pun yang menyayangiku?” tanya Jessica dengan suara parau dan bergetar. Hyoyeon terdiam.

 

“Jawab, Hyo.. oh pasti kau juga membenciku. Aku selalu merepotkanmu. Taeyeon juga membenciku. Karena aku memaksanya untuk meminjamkan blazzer resminya, pasti ia dikenai peringatan dan denda oleh bosnya. Iya kan?” Jessica mengepalkan tangannya.

 

“Aku menyayangimu. Sungguh.. kau adalah keluarga keduaku. Ku mohon, jangan menangis..” bisik Hyoyeon sambil memeluk Jessica lebih erat.

 

~*~*~

 

“Aku akan vakum untuk beberapa saat.”

“Bukankah kau akan mendapatkan denda kalau kau melakukan itu.”

“Urusan uang bukanlah masalah bagiku. Aku masuk ke dunia ini karena hobiku dan kepuasan diriku untuk bernyanyi dan berakting. Saat aku bosan, tentu saja aku akan berhenti dan akan melanjutkannya saat aku menginginkannya lagi. Mungkin aku akan menghabiskan waktuku diluar negeri bersama managerku.”

 

“Cukup. Selanjutnya biar kau saja yang menontonnya. Ku minta kau membuat artikel yang bagus tentang berita vakumnya seorang Jessica Jung,” perintah Jungsoo sambil mempause video yang ia dapatkan dari rekaman teman wartawannya.

 

Kyuhyun menghela nafas panjang, “Ne.”

 

“Aku ada janji dengan istriku. Jika aku terlambat, aku bisa kena amukan darinya lagi. Na ganda,” pamit Jungsoo sambil menutup pintu ruangannya bersama Hyukjae dan Kyuhyun.

 

“Wajahmu.. begitu aneh ekspresi wajahmu setelah menonton video itu,” gumam Hyukjae.

 

“Ne? Tidak mungkin,” bantah Kyuhyun sambil mengibas tangannya.

 

“Jujur saja..”

 

Kyuhyun menarik nafasnya dan melirik Hyukjae, “Menurutmu aku harus bagaimana?”

 

“Lupakan dendammu. Itu semua bukan salah dirinya. Itu adalah kesalahan ayahnya yang gila akan pekerjaannya,” usul Hyukjae pelan sambil menepuk pundak Kyuhyun dan pergi.

 

~*~*~

 

“Kau tahu alasan dia membuatku seperti ini?” tanya Jessica sambil menatap langit-langit apartemennya.

 

Hyoyeon meliriknya sekilas dan menghela nafas, “Dendam. Karena ayahmu membunuh ayahnya.”

 

“Kau tahu alasannya apa?” kali ini Hyoyeon menggeleng.

 

“Semua karena kegilaannya pada broadcast. Dia merasa kehadiran ayah Kyuhyun akan menggeser posisinya sebagai ahli di segala bidang broadcast. Entah apa alasan lainnya ia membunuh orang lain. Yang pasti penilaianku masih sama. Dia adalah orang pintar yang idiot,” gumam Jessica.

 

Hyoyeon segera memeluk kepala Jessica lembut, “Sshh.. lupakan. Sebentar lagi kau akan membuka lembar kehidupan baru, bukan?”

 

“Tentunya denganmu. Kau kan ummaku,” sahut Jessica –merajuk. Hyoyeon terkekeh.

 

“Umma~ aku lapar. Aku mau makan masakanmu!” pekik Jessica.

 

Hyoyeon menoyor kepala Jessica gemas, “Ya, kau kira aku pembantumu.”

 

“Ani. Sudah ku bilang kau ummaku.” Jessica menggembungkan pipinya.

 

“Arasso..” Hyoyeon berlalu ke dapur.

 

 

Setelah sosok Hyoyeon menghilang, Jessica mengangkat hpnya yang berdering. “Yoboseyo..”

 

~*~*~

 

“Ada apa lagi?” tanya Jessica –sinis.

 

Kyuhyun berbalik badan dan memasang senyumnya. Jujur itu membuat Jessica terkejut namun dengan cepat, Jessica membuat wajahnya datar kembali.

 

“Mianhae.”

 

Jessica terbelalak mendengarnya, “Mwoya?”

 

“Maaf karena aku sudah melampiaskan dendamku padamu,” lanjut Kyuhyun.

 

“Ige mwoyeyo?” Jessica mendesis dan membuang wajahnya bingung.

 

“Kau marah padaku?” tanya Kyuhyun. Tangannya mengambil rambut Jessica sedikit yang membuat jantung Jessica berdetak kencang.

 

Jessica memutar kepalanya menghadap Kyuhyun, “Ani.. un.. mbb..”

 

Kyuhyun mengunci bibir Jessica dengan bibirnya. Jessica hanya diam dan memejamkan mataku –berusaha menikmatinya.

 

Kyuhyun menarik wajahnya. Tak jauh karena hidung mereka bersentuhan. Dia menatap dalam mata Jessica. “Maaf. Tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu hingga aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku.”

 

Jessica menatapnya tak percaya. Tak lama, ia memeluk tubuh Kyuhyun erat sambil melompat-lompat kecil.

 

“Ya~ wae geure?” bingung Kyuhyun.

 

“Aku senang karena pada akhirnya perasaanku terbalaskan,” jawab Jessica tanpa melepaskan pelukannya.

 

Kyuhyun tersenyum dan membalas pelukan Jessica. Mereka terpaksa melepaskan pelukan itu saat hp Jessica berdering.

 

“Yoboseyo..” salam Jessica.

 

“Ya~ neo eoddiseo? Makanannya sudah matang!” teriak Hyoyeon kesal.

 

===TheTruth===

 

Aneh? Gaje? Ga ngerti? Maaf saya tidak mau tanggung jawab jika anda merasakan itu :p

Awalnya ini adalah ff ViTeuk. Namun karna adek tersayang saya ngerequest ff kyusica, saya langsung di ambang kegalauan pas cerita udah nyampe di tengah ;_; *apadeh* kerasa sendiri kan cerita aneh di tengah? Pada akhirnya saya memutuskan untuk menjadikannya ff kyusica. Jadi harus di edit ulang deh. Mana saya buatnya tengah malam lagi. Jadi begini lah jadinya ._.

Advertisements

17 responses to “The Truth (Oneshoot)

  1. hua sdah lama tak brkunjung.
    ku kira bkal g ada lgi ff kyusicanya.
    hhe.

    wah kyu kjam k sica.
    kan jadi tmbh bnyak dah yg bnci sica.
    tpi akhirnya kyu menyadari smwa kslahan dan prasaannya (?)
    sica emang ce datar.
    ada msalah apapun dia slalu cuek.
    lazy sica 😀

    chingu gmana nih ma klanjtan ff kyusica yg hello baby itu?
    pnsaran nih-,- (menagih janji :D)

    • selama adikku tercinta tetep tergila-gila dgn kyusica pasti tetep ada kok 😀

      haha.. hello baby udah siap publish kok cuma saya tahan dulu sebentar. februari baru aku rilis :3

  2. bagus chingu,… lain kali buat kyusica yya,..
    oh ya, aku suka blog nya, bagus!!
    request kyusica yang ada cinta segitiganya chingu, tapi happy ending!!! bisa kan chingu?? please!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s