천사 Team Chapter 1 — Watch Out, Tiffany!

Author : Lee Hyura

Title : 천사Team  (Cheonsa Team)

Sub Title : Watch Out, Tiffany!

Genre : Friendship, Action

Rating : PG 13

Main Cast :

–        SJ Yesung

–        SJ Kyuhyun

–        F(x) Victoria

–        SNSD Jessica

–        SNSD Tiffany

Minor cast :

–        SJ Heechul

–        2PM Wooyoung

–        Girls Day Yura

–        Girls Day Minah

 

===천사Team===

Yesung masuk ke dalam ruangan luas milik timnya. Dia mengernyit saat melihat hanya ada 3 anak buahnya yang berada di sana. Kyuhyun sibuk dengan laptopnya, Jessica sibuk mengelap senjatanya dan Victoria sibuk bertelepon dengan temannya. Itulah yang dikerjakan oleh 3 agen spesial Korean Central Intelligence Agency (KCIA). Hanya satu agen yang menghilang.

“Miyoungie eoddiseo?” tanya Yesung.

Mereka semua menoleh dan segera menghentikan kegiatan mereka kecuali Jessica yang dengan cueknya meneruskan kegiatannya mengelap senjatanya. Victoria dan Kyuhyun saling melirik satu sama lain dan Jessica.

“Err.. Fany? Mungkin dia ada di ruangan laboratorium atau kamar para mayat itu,” jawab Victoria akhirnya.

“Atau tidak Steph sedang membongkar organ mayat,” tambah Kyuhyun.

“Tiff ada di ruangan professor Kim,” jawab Jessica –membenarkan.

Yesung memutar matanya, “Gomawo, Sic.”

>>>

Yesung mengetuk pintu ruangan professor Kim. Saat mendengar sahutan dari dalam ruangan, ia membuka pintu. Ia melihat orang yang dicarinya—Tiffany—sedang mengobrol dengan orangtua itu. Tiffany menoleh dan tersenyum lebar.

What’s up, Boss?” serunya.

“Miyoungie~ apa kau sudah mendapat perkembangan mayat tentara itu?” tanya Yesung.

Tiffany menepuk keningnya, “Aigo~ aku lupa memberitahumu! Apa Kyuhyun tidak membicarakannya denganmu?”

“Anio. Cepat jelaskan,” jawab Yesung sambil menarik salah satu kursi kosong ke hadapan Tiffany.

“Kepalanya dipukul oleh benda tumpul yang aku yakini semacam pistol. Lalu darahnya mengandung bisa ular. Anehnya tidak ada bekas gigitan ular di sekujur tubuhnya tapi malah ada bekas suntikan. Aku yakin pelaku yang menyuntikkannya. Memang sulit mencari tahu pelaku tanpa ada bukti. Tapi bukti suara sudah cukup.”

“Lalu?”

Tiffany bangkit dan membungkuk pada senior tuanya itu lalu membawa Yesung ke ruangan khusus timnya. Dia menarik kursi ke meja Kyuhyun dan mengambil alih mouse. Dia membuka sebuah aplikasi internet, mengetik password. Entah apa lagi yang ia ketik dengan cepatnya. Sedangkan Kyuhyun meremas tangannya karena laptop yang sudah ia anggap separuh jiwanya disentuh oleh orang lain.

“Igo!” seru Tiffany sambil memperlihatkan layar laptop Kyuhyun pada Yesung. “Setelah aku dan Kyuhyun menghabiskan malam kami berdua di laboratorium, kami menemukan pelakunya. Dia adalah rekan kerja korban.”

“Bagaimana bisa dengan suara saja, kalian menemukan pelakunya? Di dunia ini banyak orang yang memiliki suara yang sama,” celetuk Victoria.

“Dengan 2 orang jenius disini, itu tidak sulit, Vivi.. kami mempunyai alat dan aplikasi canggih. Di tambah kita mempunyai hacker disini. Kami hanya butuh menyingkirkan nama-nama yang tidak mungkin lalu cocokkan dengan bukti lainnya,” jelas Tiffany dengan nada angkuh sambil melirik Kyuhyun.

“Apalagi yang kita tunggu? Kkaja!” perintah Yesung.

Semuanya langsung bangkit dari kursi mereka dan menuju parkiran.

=== Watch Out, Tiffany! ===

Tiffany berjalan perlahan menyusuri jalan Seoul yang ramai malam itu. Entahlah ia ingin pergi kemana. Hanya mengikuti permintaan kakinya saja. Malam itu, seluruh anggota tim dilarang untuk lembur. Dan jika memungkinkan, semuanya dipaksa untuk diliburkan karena seluruh anggota tim—kecuali Kyuhyun—sudah bekerja selama setahun penuh tanpa libur.

“Tapi aku tidak mau. Aku rindu semua yang ada di laboratoriumku. Aku rindu mayat-mayat korban percobaanku. Aku rindu semua anggota!” gerutunya kesal.

BRUK! Dia menabrak seorang pria kencang hingga mereka terhempas jatuh dengan kasar. Dengan cepat, ia membantunya bangkit. Dia segera meminta maaf dan membungkuk.

“Gwencanayo~ tidak usah seperti itu,” kata pria itu.

Tiffany menggigit bibirnya, “Tetap saja aku salah.” Tiffany menunjuk siku pria itu, “Lihat! Sampai terluka seperti itu!”

Pria itu melirik sikunya lalu menggeleng pelan, “Animnida. Ini bukan kesalahanmu. Ini luka yang aku dapatkan tadi sore. Lihat, tidak berdarah, kan?”

Tiffany menyengir, “Ah, jwoisonghae. Aku salah lihat~”

“Gwencana. Hm, sendiri? Mau menemaniku?” tanya pria itu. Tiffany berpikir sejenak lalu mengangguk.

>>>

“Miyoung, Tiff, Fany? Lalu apa lagi, uh? Panggilanmu banyak sekali,” komentar pria itu—Wooyoung sambil tertawa. Wooyoung membawanya ke sebuah restoran sederhana di daerah Gangseo.

“Ada satu lagi. Tapi.. aku membenci nama itu,” sahut Tiffany sambil mengaduk escappuccinonya lalu menyesapnya sedikit.

“Mworago? Siapa yang memanggilmu seperti itu?”

‘Steph’! Argh, Cho Kyuhyun jelek!, gerutu Tiffany dalam hati. “Orang yang sangat menyebalkan! Dia musuhku.. itu sebabnya panggilan darinya itu sangat memuakkan.”

“Marhaebwa~”

“Shireoyo! Kau tidak perlu tahu.. lagipula, ini sangat penting. Jadi tidak boleh,” tolak Tiffany kesal.

“Ah, geurom. Jangan marah. Aku hanya becanda.”

Tiffany tersenyum tipis, “Ne~ jadi bagaimana denganmu? Apa kau punya banyak panggilan?”

Wooyoung menghela nafas dan terkekeh pelan, “Tidak sebanyakmu. Hanya Woo atau Youngie. Nama yang menjijikan. Aku tidak suka dipanggil seperti itu.”

Tiffany menggembungkan pipinya sambil berpikir. “Bagaimana jika aku memanggilmu.. Katinoo?”

Mata Wooyoung membulat, “Heh? Nama macam apa itu?”

Tiffany menggeleng, “A~ kau tidak boleh tahu. Suatu saat nanti, aku akan memberitahunya padamu.”

“Aish.. kejam!”

“Kejam?”

“Ne, kau kejam karena membuatku penasaran!” tekan Wooyoung. Tiffany terkekeh.

“Apa kau suka membuat nama aneh seperti itu?” tanya Wooyoung.

Tiffany mengangguk pelan, “Yea~ di kantorku, semuanya wajib memiliki nama panggilan khas milikku. Hampir semuanya memiliki nama yang jauh dari nama aslinya sepertimu kecuali teman-teman setimku. Hanya satu orang yang belum dapat nama panggilan dariku. Dia anak baru.” Tiffany terdiam lalu menatap Wooyoung tajam, “Apa yang kau maksud dengan nama aneh, uh?!”

Wooyoung menelan salivanya dan menggeleng perlahan, “A-anio.. eobseo.. gwencana..”

“Aish.. neo—“

“Tiff?”

Tiffany dan Wooyoung menoleh saat mendengar suara lembut memanggil Tiffany. Jessie!, Tiffany bersorak dalam hati. Dia tersenyum lebar sejenak lalu memasang ekspresi bingung karena Jessica menatap Wooyoung dingin dan tajam. Siapapun yang berada di posisi Wooyoung pasti merasa lumpuh sesaat karena tatapan mengerikannya.

“Wooyoung-ssi~ terima kasih untuk malam ini. Nan ganda,” pamit Tiffany sambil menarik Jessica keluar dari restoran sederhana itu. “Come on, Jessie.”

Next day.

Morning, Pleteu ahjussi~” sapa Tiffany pada professor Kim sebelum membuka pintu ruangannya.

Morning, Fany-ah..” balas professor Kim. Pleteu bukanlah namanya ataupun nama samarannya. Itu semata hanya panggilan dari Tiffany. Professor Kim tidak pernah mempermasalahkannya. Toh ia yakin arti nama itu tidak berarti kata-kata kasar.

“Annyeong~” sapa Victoria dan Kyuhyun.

Morning, Boss, Vivi, Kyuhyun…” Tiffany terdiam karena melihat Jessica bahkan tidak mau menatapnya sebentar saja. Apa dia masih marah?

“Jessie~ kau masih marah padaku?” tanya Tiffany memelas.

“Tiff.. sadarlah akan posisimu sekarang,” sahut Jessica. Semua hanya menatap bingung kedua orang itu.

“Kami hanya berteman. Tidak lebih..” kata Tiffany.

BRAK! Jessica menggebrak mejanya, “Tiff! kalau hanya teman, matamu tidak akan berbinar saat menceritakan semua hal tentangnya yang kau ketahui padaku! Sudah jelas kau tertarik padanya!”

Kyuhyun terkekeh. Waw, dialog terpanjang darinya selama aku berada di dekatnya!, pikir Kyuhyun. Victoria dan Yesung melirik Kyuhyun tajam. Kyuhyun terkesiap karenanya.

Tiffany menggertakkan giginya, “Lalu kenapa? Apa masalahnya? Wooyoung adalah pria yang sangat baik dan menyenangkan, Jessie..”

“M-masalahnya..” Jessica terdiam.

“Terserahlah. Aku ke laboratorium saja.”

>>>

“Hey, Sica-ya~” sapa Heechul sampil menepuk kepala Jessica saat mereka bertemu di kantin kantor. Itu yang sering ia lakukan pada Jessica.

Kim Heechul, direktur KCIA yang fashionable. Tingkahnya yang frontal membuatnya tidak dipercaya untuk mendapatkan misi-misi penting. Tapi yang membuat heran semua orang, kenapa bisa Kim Heechul dipilih menjadi direktur KCIA? Kerjaan sehari-hari adalah memantau perkembangan para pekerjanya dan menjahili mereka. Orang yang tidak terkena efek aura Jessica seperti para anggota tim Jessica.

“Ya! Aish!!” Jessica mendesis kesal.

“Tiffany?” tebak Heechul.

Jessica mendongak, “Uh?”

“Bermasalah dengan Tiffany?”

Jessica menghela nafas lalu mengangkat bahunya. Dia melirik sedotannya yang sudah hancur karena ia gigiti sejak tadi. Akhirnya Jessica memutuskan untuk pergi dari sana.

“Tiffany sudah besar. Biarkan dia merasakan cinta, Jess,” kata Heechul yang membuat Jessica menghentikan langkahnya.

“Cinta itu indah,” lanjut sang direktur.

Jessica memutar matanya. Harusnya aku mengerti apa maksud orang itu sebenarnya. Bodohnya aku malah mendengarkan omong kosongnya, runtuk Jessica. Ia kembali melangkah meninggalkan Heechul yang sedang menyeringai lebar.

>>>

“Kemana Kyuhyun, Yesung dan Tiffany?” tanya Jessica pada Victoria yang sibuk mempelajari kasus kali itu.

“Di laboratorium.” Victoria mendongak dan menggumam sejenak, “Ah, aku baru ingat kalau tadi kau tidak ikut ke TKP. Benar-benar penuh kejanggalan.”

Alis Jessica terangkat, “Uh?”

“Jika penasaran, datang saja ke laboratorium. Aku malas menjelaskannya.”

Jessica duduk di kursinya, “Tidak.”

“Dan aku juga baru ingat kalau Yesung menitipkan brankas ini padamu,” seru Victoria sambil menunjuk benda yang ada di samping mejanya.

“Malas,” jawab Jessica.

“Hey, ratu kunci! Cepat buka~ kita membutuhkan isi brankas itu!” teriak Kyuhyun dari ambang pintu.

Jessica mengambil pensil yang ada di mejanya dan memainkannya sejenak lalu melemparkannya tepat ke arah kepala Kyuhyun. Kyuhyun meringis pelan karenanya. Ia lupa bahwa orang yang sedang berhadapan dengannya adalah sniper handal.

“Junior tidak pantas memerintah senior,” kata Jessica datar.

Kyuhyun segera membungkuk dan berlari pergi dari ruangan. Tawa Victoria meledak setelah melihatnya. Lagi-lagi, Jessica hanya memutar matanya dan bangkit dari duduknya. Dia mulai mencoba membuka brankas itu. Tidak sampai 1 menit, brankas itu terbuka.

“Astaga! Kau memang ratu kunci, Sica~” seru Victoria.

Jessica kembali duduk di kursinya, membiarkan brankas itu dipindahkan oleh Victoria sendirian. Jessica memilih untuk bersendagu di mejanya.

“Oh iya, Yesung kecewa kau gagal,” kata Victoria sebelum keluar dari ruangan –meninggalkan Jessica sendiri.

“Aku lebih kecewa,” sahut Jessica menggumam.

“Peraturan utama. Dilarang memiliki perasaan lebih pada rekan ataupun musuh,” gumamnya. “Aku hanya ingin mencegahmu untuk hal yang terburuk.”

Jessica meringai, “Kau sudah kalau aku sniper terhandal? Sudah jelas lebih baik kau menyerahkan diri daripada kepalamu pecah olehku.”

 Orang itu menggigit bibirnya, “Kau janji akan menyelamatkanku?”

 “Tentu saja jika kau bersedia bekerja sama dengan kami.”

 BANG! Seketika orang itu jatuh. Dari kepalanya, mengalir darah. Jessica langsung mencari asal tembakan itu. Wajahnya cukup jelas dari tempatnya berdiri. Jessica mengatur posisi flintlocknya ke arah orang itu.

 “Oh my~” gumam Jessica terkejut karena orang itu berhasil menghindar dari pelurunya. Ia hanya berhasil menggores siku orang itu.

“Wooyoung.. nama asli atau samaran? Aku membutuhkan Kyuhyun sekarang juga sebelum orang itu menjebak Tiffany!” tekan Jessica.

Next day.

“Ini wajah salah satu dealer senjata ilegal. Sebenarnya tidak hanya dealer senjata ilegal. Masih banyak kejahatan mereka. Anggota mereka tidak terlalu banyak. Tapi kita harus tetap berhati-hati dengan mereka,” kata Kyuhyun. Tiffany dan Victoria mengangguk mengerti sambil melihat tv layar sentuh yang digunakan untuk presentasi hasil penyelidikan pada anggota tim.

“Salah satu anak buahnya dibunuh oleh rekan kerjanya saat Jessica sudah berhasil menyudutkannya. Mungkin karena tahu orang itu akan melupakan janji setianya dan membocorkan rahasia tentang timya agar ia selamat dari Jessica,” lanjut Kyuhyun. Lagi-lagi 2 wanita itu mengangguk mengerti.

“Dan yang mengejutkan orang yang membunuh rekan kerjanya itu berhasil mengelak dari sasaran bidik Sica! Orang itu bukan orang sembarangan. Kelompok mereka memang berbahaya jika memiliki anggota semacamnya,” seru Victoria.

Tiffany membulatkan matanya tak percaya, “Yee? Ah, gotjimal!”

“Dia memang berhasil mengelak dari sasaran bidik. Tapi bukan berarti dia berhasil menghindari peluru. Pelurunya berhasil mengores siku kanannya. Yea, tetep saja orang itu berhasil membuatku takjub,” kata Victoria.

Tiffany mengangguk pelan. Kyuhyun menekan tombol di remote untuk mematikan tv. Ruangan itu hening seketika. Kyuhyun sibuk dengan laptopnya, Victoria sibuk dengan map berisi semua hal yang didapatkan tentang kasus senjata ilegal tersebut. Sedangkan Tiffany sibuk dengan berbagai rumus kimia di buku catatannya.

“Aih, Kyuhyun~ Fany~ cepat selesaikan kasus ini.. aku tidak mau acara runway koleksi terbaru Kwon Jiyong, designer favoriteku diganggu oleh pekerjaan. Arasso?” seru Victoria frustasi lalu membanting map itu.

“Hey, kami bukan yang mendapatkan tugas analisis, mengerti? Itu tugasmu dan Yesung, ok?” sahut Kyuhyun.

“Tapi contoh DNA milik pelaku belum kalian identifikasi, kan?” sungut Victoria.

“Vivi! Shut your mouth, please.. Aku sedang tidak mood mengindentifikasinya,” desah Tiffany malas.

Tatapan Victoria melembut, “Kau tidak coba berbicara dengan Sica?”

Tiffany memutar matanya, “Tentu saja! Tapi dia malah bertingkah jauh lebih menyebalkan daripada mendiamkanku!”

“Hm, Steph..” panggil Kyuhyun ragu.

Tiffany menoleh geram, “Berhenti memanggilku dengan nama asliku, Gyunnie!”

“G-Gyunnie?” Kyuhyun mengernyit.

“Ne, itu panggilanmu dariku. Tidak boleh protes!” tekan Tiffany lalu mengambil sebuah buku tebal.

Kyuhyun menghela nafas dan menyalakan tv layar sentuh lagi. Itu menarik perhatian Tiffany dan Victoria. Mereka menatap Kyuhyun bingung.

Kyuhyun menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskannya, “Semalam Jessica memintaku menyelidiki Wooyoung. Dan kau harus tahu satu hal bahwa dia—“

Oh, she really did not think of myself! Tiffany menggebrak mejanya, “Oh, jadi dia memintamu menyelidikinya? Apa wajah Wooyoung seperti seorang penjahat?”

“Fany..”

“Vivi.. would you shut your mouth, please?” desis Tiffany tajam. Dia menghela nafas panjang, “Lebih baik aku pergi. Gyunnie, urus DNA itu.”

“Steph—“

Tiffany melirik Kyuhyun tajam dan pergi. Kyuhyun hanya diam. Victoria menghela nafas panjang karenanya. Tak lama, Jessica datang dan duduk di mejanya. Matanya terfokus ke televisi layar sentuh itu.

“Jadi?” suara Jessica memecah keheningan ruangan itu.

Kyuhyun melempar remote tv pada Jessica, “Lihat saja sendiri.”

>>>

Tiffany memilih meja tempat ia dan Wooyoung sering bertemu. Yap, sejak malam itu, mereka sering bertemu dan berteleponan. Tanpa memesan, pelayan restoran itu sudah membawakan es cappucino untuknya karena ia selalu memesan itu saat ia datang.

“Fany-ah~”

Tiffany mendongak saat mendengar namanya dipanggil. Ia melihat sosok Wooyoung sedang melambaikan tangannya. Tiffany hanya tersenyum. Wooyoung berlari dan duduk dikursi yang kosong di meja Tiffany.

Hi!” sapa Tiffany pelan. Wooyoung tersenyum tipis.

“Hey, ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Wooyoung.

Tiffany menyesap es cappucinonya lalu membuang muka. Dia menghela nafas panjang. “Mian, aku tidak bisa menceritakannya padamu.”

“Gwencana.. kita masih baru berkenalan. Tidak baik kau terlalu terbuka padaku,” kata Wooyoung. Tiffany langsung merasa panas dan dingin disaat yang bersamaan.

“Tapi aku mempercayaimu,” gumam Tiffany pelan.

“Uh?”

“E-eobseoyo~”

Akhirnya Wooyoung menceritakan hal-hal yang menarik perhatian Tiffany. Tiffany hanya tersenyum sambil menatap Wooyoung. Wooyoung mulai mengeluarkan hpnya sebagai benda peraga.

“Aigo! Sudah 1 jam saja~ aku terlambat!” seru Wooyoung panik. “Na ganda, Fany-ah.” Dia bangkit dan pergi.

Tiffany hanya membalasnya dengan senyum. Namun ia baru sadar kalau Wooyoung meninggalkan hpnya. Tiffany segera mengejar Wooyoung. Akhirnya ia berhasil mengejar Wooyoung yang hendak menyebrang jalan.

“Wooyoung-ssi~ kau meninggalkan hpmu,” kata Tiffany dengan nafas tidak beraturan.

“Jeongmal? Aish Wooyoung-ah! Neomu baboya~” gerutu Wooyoung sambil menoyor kepalanya sendiri lalu menerima hpnya. Ne, kau sangat amat bodoh, Wooyoung-ssi.. tidak seharusnya kau seperti ini!, lanjutnya dalam hati sambil meringis kecil.

Tiffany hanya terkekeh. Tak lama, ia terkesiap saat melihat mata Wooyoung seperti mengisyaratkan sesuatu padanya. Dan entah kenapa, ia jadi ingin pergi secepatnya karena melihat mata Wooyoung namun ia tahan. Tak lama, Wooyoung menghela nafas panjang dan tersenyum sedih, membuat Tiffany mengernyit bingung.

“Gomawoyo, Fany-ah. Bye~” Wooyoung berlari pergi saat waktu lampu hijau untuk para pejalan kaki yang tertera benar-benar sebentar lagi.

“Y-ya~” teriak Tiffany namun suaranya tenggelam dalam suara kendaraan yang mulai bergerak.

Tiffany pov.

Ada apa dengannya? Seperti ada yang aneh.. tapi apa? “Argh!” aku berteriak frustasi. Semua ini terlalu banyak untukku! Pekerjaan, Jessie dan Wooyoung? Otakku tidak bisa menampung semua ini untuk di olah!

Selang beberapa saat, aku baru sadar kalau aku masih di sini dan tidak pergi kemana pun. Mungkin lebih baik aku kembali ke kantor. Itu artinya aku harus menyebrang. Huh! Tapi tak apa, karena tinggal 3 detik lagi, waktunya lampu hijau untukku. Kekeke..

“Go~” seruku sambil berjalan namun berhenti di tengah karena sebuah motor besar mencegatku. Bahkan dia menimbulkan suara-suara aneh dari motornya yang membuatku semakin bingung. Mungkin lain kali aku harus berguru dengan Vivi tentang motor dan para pria jadi aku tidak akan sebingung ini.

“Annyeong~” sapanya sambil membuka kaca helmnya.

“Omo!” teriakku saat melihat orang itu mirip dengan foto yang diperlihatkan Kyuhyun tadi pagi. Memang aku tidak ingat siapa dia tapi aku yakin dia orang jahat! Dia langsung menggas motornya pergi karena lampu hijau untuk para kendaraan sudah menyala.

Aku berlari ke mobil terdekatku dan mengetuk kaca pintunya. Aku mengeluarkan kartu identitas KCIAku, “Agen spesial KCIA, Tiffany! Bantu aku ikuti motor itu!”

Sang pengemudi tersenyum penuh arti dan pindah ke belakang –membiarkanku yang mengemudi. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Mata Wooyoung yang mengisyaratkan sesuatu padaku pun terbayang-bayang di otakku. Tapi jika aku mundur, aku melepaskannya begitu saja? Tidak, terima kasih!

Aku menyeringai tipis saat tahu orang jahat itu malah memilih jalan bagus untuk aksi kejar-kejaran kali ini. Aku memang tidak sehebat Vivi. Tapi dengan predikatku yang selalu memenangi balapan liar, aku tidak kaget jika aku berhasil mengejarnya.

“Pakai sabuk pengamanmu jika kau ingin selamat,” teriakku pada pemilik mobil itu. Aku meliriknya dari kaca pengemudi, dia malah menyeringai sambil menuruti perintahku.

“Tugasmu dibelakang layar. Jangan mengambil aksi.”

DEG! Perkataan Yesung saat aku pernah melakukan ini sebelumnya terlintas dibenakku yang membuatku semakin ciut. Sampai akhirnya aku memberhentikan mobil. Aku memukul stir kencang karena aku sadar kalau aku juga merasa takut. Dan saat itu juga, aku sadar kalau aku sudah membawa mobil ini ke pinggiran Seoul.

“Ada apa?” tanya orang itu.

“Tidak seharusnya aku melakukan ini. Kita kembali ke kota,” jawabku.

“Biar aku yang mengemudi. Aku kenal daerah ini,” sarannya. Aku hanya mengangguk. Tubuhku sudah lemas seketika.

Jessica pov.

Seperti biasa saat aku tidak ada kerjaan, aku menghabiskan waktuku di ruang kesehatan, kantin atau di ruangan. Kali ini aku memilih untuk di ruangan sambil mengelap senjata yang sudah ku anggap sebagai bagian dari diriku. Sama seperti Kyuhyun dengan laptopnya, Victoria dengan hpnya dan Tiffany dengan mayat korban. Kalau Yesung? Entahlah apa yang ia sukai. Dia dapat menyukai dan membenci satu barang dalam satu waktu.

“Ini sudah 2 jam lebih dari sejak ia pergi. Aku tanyakan ke semua pegawai dan agen, mereka tidak melihat Fany,” kata Victoria cemas. Perasaanku langsung buruk.

“Kyuhyun, cari letak dimana Tiffany dengan GPS hpnya,” perintahku. Dia langsung melakukannya.

Damn! Laptopku tidak kuat membukanya!” teriaknya kesal. “Ayo ke laboratorium saja.”

Aku dan Victoria menurut. Kami semua pergi ke laboratorium. Yesung juga mengikuti kami saat bertemu diluar ruangan.

Sesampainya di laboratorium, Kyuhyun segera membuka akses GPS untuk terhubung dengan hp Tiffany. Aku mengambil posisi disamping anak baru itu. Tak lama terlihat titik kedap-kedip di layar komputer besar itu. Dari keterangan, titik itu bergerak keluar dari Seoul. Ada yang aneh dengan kecepatan titik itu. Tiffany tidak aku perbolehkan memakai mobil tapi kecepatan pergerakan titik malah secepat mobil yang mengikuti balapan liar. 120 km/jam. Itu juga sudah diperlambat. Apalagi sebelumnya?

“Victoria dan Yesung ikut aku mengejar mobil itu. Tugasmu mengarahkan mobil kami ke tempat Tiffany. Arasso?” perintahku.

“Ne, arasso!”

>>>

Belok ke kanan di pertigaan di depan kalian,” kata Kyuhyun lewat telepon.

“Belok ke kanan di pertigaan di depan,” ulangku. Victoria hanya mengangguk.

Aku melirik ke luar jendela. Ya tuhan~ dimana ini? Benar-benar tempat terasing! Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Tiffany? Jika terjadi sesuatu dengan Tiffany, tanganku dan SVD Dragunovku lah yang beraksi!

Hilang!” gumam Kyuhyun pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Apa maksudmu dengan ‘hilang’, uh?! Jangan becanda, Cho Kyuhyun!” bentakku.

Yesung segera merampas hpku, “Biar aku yang mengatasinya. Sekarang kau tenangkan dirimu.”

Akhirnya aku memilih untuk diam dan menurut. Aku kesal. Kyuhyun, dia seorang I.T hacking! Kenapa bisa kehilangan? Dia bisa menggunakan cara lainnya.. kata ‘hilang’ tidak bisa aku terima!

“Ikut jalan sampai tebing curam, belok kiri dan ikuti tebing curam itu,” kata Yesung yang membuatku menoleh.

“M-mwo?” bingungku.

“Hp Tiffany dimatikan. Jadi Kyuhyun mencari GPS milik hp Wooyoung. Untung saja ia berhasil mencuri data diri Wooyoung. Dan lagi, seluruh gadget milik kita sudah terhubung dengan komputer. Jadi sekarang Kyuhyun tinggal membuka akses dengan hp Tiffany untuk mengaktifkannya lagi dan GPS Tiffany pun terbaca lagi,” jelas Yesung panjang lebar.

>>>

Akhirnya mobil kami sampai di depan sebuah gerbang yang di dalamnya ada sebuah rumah besar ala pendesaan dengan halaman yang sangat luas. Dari tempat kami, terlihat gerbang itu menggunakan pengamanan yang sangat canggih. Mata kami sudah terbiasa dengan alat seperti itu jadi bisa langsung mengenalinya.

“Dalam hitungan ke 10, gerbang itu terbuka lebar oleh Kyuhyun. Tapi hanya dalam 3 detik. Kau harus cepat, Vic,” kata Yesung.

“J-jamkan! Aku terlalu tegang~ beri aku waktu untuk menenangkan diri sebentar..” pinta Victoria.

“Itu membuang banyak waktu dan membiarkan mereka memberi hadiah untuk kedatangan kita,” sungutku pelan.

Yesung menghela nafas, “Itu sudah ditangani oleh Kyuhyun. Dia sudah merusak semua keamanan rumah ini. Dan GPS Tiffany memang berasal dari sini. Kita bisa tenang sekarang.”

Aku menggertakkan gigiku, “Kalian bisa tenang. Tapi tidak denganku.”

“Jess~”

Fine!”

“Siapkan senjatamu, Sic,” perintah Yesung.

“Setiap saat~” tekanku sambil memperlihatkannya SVD Dragunov yang aku selendangkan di bahuku dan flintlock yang kedua tanganku pegang. Sedangkan mereka dengan pistol otomatis mereka.

Yesung mendekatkan hpku ke telinganya, “Sekarang, Kyuhyun!”

Author pov.

Gerbang mulai terbuka dengan kecepatan sedang. Victoria sudah di posisi siap. Saat pintu belum terbuka sempurna, ia sudah menggasnya masuk ke dalam halaman rumah itu. Yesung, Victoria dan Jessica segera keluar dari mobil. Di luar, beberapa orang yang kebetulan sedang berada di luar rumah segera mengeluarkan senjata mereka masing-masing.

Victoria menjilat bibirnya dan menyeringai, “Waktunya refreshing~” Tak lama terjadi baku tembak.

“Oh sial, ini bukan gayaku,” gerutu Victoria sambil melempar pistolnya ke kepala lawannya lalu melayangkan kakinya mengenai kepalanya. “Ini baru gayaku. Dengan tangan kosong, itu baru keren!” seru Victoria sambil tersenyum lebar.

Yesung yang mendengar itu, mendengus, “Orang aneh..”

What?! Aneh?” pekik Victoria sambil menendang perut lawannya yang lain. Dia mengunci leher lawannya dengan kakinya lalu mematahkan tulang lehernya.

“Hey! Jangan seenaknya kau!” bentak Yesung.

“Salah kau sendiri yang membuatku marah!” sahut Victoria kesal. Yesung hanya menghela nafas.

Selama Yesung dan Victoria dengan semangatnya menghabisi orang-orang itu, Jessica memakai cara tenang. Dia beberapa kali mengelak dari peluru sebelum akhirnya menembak langsung ke organ vital. Semakin lama, ia semakin ke arah belakang mobil. Tiba-tiba bagasi mobil terbuka.

“Heechul?!” pekik Jessica kaget.

Heechul langsung memasang senyum tak bersalahnya, “Annyeong, Sica~”

Jessica hanya memutar matanya lalu melempar kedua flintlocknya pada Heechul. Heechul menerimanya lalu menatap kedua benda itu kebingungan. Melihat itu, Jessica menggertakkan giginya kesal.

“Bantu aku, bodoh!” bentak Jessica.

Heechul menyeringai dan mengarahkan flintlock itu ke arah rumah tanpa melihat. “Hey, hey.. siapa yang tadi berani membentak direkturnya sendiri, huh?” cibir Heechul dan 2 kali menekan pelatuk. 2 orang tergeletak di tanah. Jessica membalas menyeringai.

“Jangan menghinaku~” balas Jessica sambil mengarahkan SVD Dragunovnya ke arah yang sama dengan Heechul.

Bang..

Bang..

Bang..

“Itu baru Jessicaku!” seru Heechul dengan mata berbinar sambil melirik korban bidikan Jessica. Lagi-lagi Jessica memutar matanya jengah.

“Astaga~ mereka menganggap nyawa orang lain sebagai mainan dan candaan?” gumam Yesung sarkartis. “Berhenti becanda dan bantu!” teriak Yesung dari jauh.

Ok, Boss~” sahut Heechul sambil keluar dari bagasi.

Saat sudah keluar, Heechul terdiam. Jessica yang hendak berlari memasuki rumah, jadi melirik Heechul bingung.

“Boss?” gumamnya. “Boss?! Hey, siapa direktur KCIA sebenarnya? Kenapa aku memanggilnya boss? Huh!” gerutu Heechul.

Jessica menepuk keningnya, “Ya, Heechul!!”

Tiffany’s side.

Suara pintu terbuka membuat Tiffany mendongak. Dia menggertakkan giginya saat melihat sosok Wooyoung lah yang datang. Tangan Wooyoung terjulur untuk membelai rambutnya namun Tiffany menjauhkan kepalanya. Wooyoung hanya menghela nafas panjang.

“Mian.”

“Apa itu penting?” desis Tiffany.

“Mian. Aku tidak bisa melakukan apapun. Kelompokku butuh pertolonganmu untuk memecahkan sebuah rumus untuk membuat sebuah obat,” jelas Wooyoung.

“O-obat? Siapa kalian?!” tanya Tiffany membentak.

We can be both of god and devil to against the time,” jawab Wooyoung yang membuat Tiffany diam.

Wooyoung menghela nafas, “Aku sudah menyuruhmu untuk lari saat di jalan tadi tapi kau tetap memilih untuk diam. Jangan salahkan aku.”

“Ne, aku bodoh.. babo gatchi,” gumam Tiffany sambil terisak.

Fany-ah~ don’t cry, please,” mohon Wooyoung sambil menjulurkan tangannya untuk menghapus air mata Tiffany. Tapi lagi-lagi Tiffany mengelak.

“Lepaskan aku ikatan tangan dan kakiku serta biarkan aku pergi. Jika kau melakukannya, aku takkan menangis,” tekan Tiffany sambil menunduk lalu mendongak dan menyeringai meremehkan, “Tapi kau tidak akan melakukannya, kan?”

“Dan bodohnya aku, kenapa aku tidak mempercayai perkataan Jessie?”

“Fany-ah~” Wooyoung menarik nafas dalam dan memilih untuk keluar.

“Lebih baik kau mengikuti permintaan mereka jika masih sayang nyawamu,” kata Wooyoung sebelum membuka pintu.

“Pekerjaanku memang untuk orang-orang yang tidak sayang nyawa,” sahut Tiffany sinis.

Tak lama terdengar suara ribut diluar diikuti suara tembakan. Aura asli Tiffany keluar. Tiffany menyeringai dingin, seakan air matanya tadi hanyalah air mata buaya. Wooyoung panik saat mengintip keadaan diluar.

“Dan jika kau masih sayang nyawa, tidak semestinya kau melakukan ini. Karena hanya membuat iblis yang sesungguhnya mengamuk. Kau tahu siapa orang yang kau temui di malam pertama kali kita bertemu? Dia dijuluki Devil Killer.”

Devil Killer? Ah, dia Jessica.. aku sering mendengarnya. Dia terkenal di kelompokku dan para rekan bisnis kami. Dari dulu, aku ingin sekali bertemu dengannya,” gumam Wooyoung sambil berjalan perlahan dan duduk di depan Tiffany.

Tiffany menyeringai, “Oh, beruntung kau sebentar lagi akan bertemu dengannya.”

“Tidak, kami sudah pernah bertemu. Dan aku berhasil mengelak dari sasaran bidiknya. Ku akui dia memang hebat karena berhasil menggores sikuku,” ralat Wooyoung.

“Jadi.. kau orang yang membunuh rekan kerjamu sendiri?”

“Yap, sore yang mendung itu aku mengikutinya. Tanpa ku sangka, Jessica juga mengikutinya. Aku segera memberitahunya tentang itu lewat telepon. Bodohnya, dia malah berlari dan bukannya menjebak Jessica. Saat Jessica berhasil menyudutkannya, aku tahu pengecut itu akan membocorkannya. Mau tak mau, aku harus membunuhnya. Itu resiko yang harus ia tanggung saat berpikir untuk berkhianat.”

“Dan sialnya kau sendiri yang membocorkan markas kelompokmu selama di Korea, kan?” desis Tiffany.

“Aku tidak tahu kalau kau bekerja di KCIA. Yang kami tahu, kau adalah orang tercerdas di Asia. Jadi aku dikirim ke sini untuk menjebakmu,” jelas Wooyoung.

“M-menjebak..”

“Ne, maja. Memang selama ini, kau berpikir aku benar-benar mau bergaul dengan orang aneh sepertimu? Yang di otaknya hanya ada rumus-rumus dan semua tentang organ manusia yang menjijikan?” cibir Wooyoung dengan nada tinggi.

Tiffany menahan nafasnya saat mendengar itu. Dia menutup matanya kuat-kuat sambil menggigit bibirnya. Tak lama, dia menatap Wooyoung tajam.

“Berhenti menatapku seperti itu!” bentak Wooyoung. Tiffany tetap diam dan menatapnya tajam.

“Kau tahu arti panggilan Katinoo dariku?” tanya Tiffany dengan pandangan melembut.

Wooyoung menggeleng pelan dan menunduk, “Aku tidak tahu.. dan itu satu hal yang membuatku penasaran sampai sekarang. Jujur, nama itu yang selalu aku rindukan darimu. Tapi kau tidak pernah memanggilku seperti itu lagi.”

Tiffany membuang muka dan menghela nafas kasar, “Jangan membual.”

Wooyoung menarik sudut bibirnya membentuk seringaian sedih, “Mian.”

Tiffany kembali menghela nafas kasar, “Katinoo mengandung arti anak kucing. Itulah yang gambaranmu bagiku. Menyenangkan, polos tapi tak jarang menjadi menyebalkan. Tapi aku mengurungkan niatku untuk memanggilmu seperti itu karena aku takut kau merasa tersindir.”

“Fany-ah..”

“Dan aku sadar kalau kau memang tidak pantas ku panggil seperti itu.”

“Fany-ah.. ku mohon berhenti…” gumam Wooyoung dengan suara gemetar.

“Berhenti apanya? Bukankah harusnya kau senang saat mengetahui aku terjebak? Mengetahui kalau aku begitu bodoh?” teriak Tiffany membentak.

Wooyoung bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany. Dia mengecup bibir Tiffany sekilas.

“Ku mohon.. percaya padaku..”

Kyuhyun’s side.

Kyuhyun mengirim beberapa agen menuju lokasi. Mau tak mau, dia harus tetap mengawasi keadaan di lokasi lewat suara-suara yang tertangkap oleh hp Jessica yang masih tetap menyala. Saat beberapa alat pengaman rumah itu kembali aktif secara otomatis pun Kyuhyun harus berusaha keras untuk merusaknya lagi.

“Sial! Siapa I.T. hacking rumah itu? Kenapa alat-alat itu terus-menerus aktif secara otomatis dalam hitungan 5 menit walaupun sudah rusak parah?! Lain kali aku harus berguru padanya,” gerutunya pelan.

                 

“Pesanan datang~” seru Yura dan Minah sambil membawa tissue dan kopi starbuck.

Kim Ah Young atau yang sering dipanggil Yura adalah keponakan satu-satunya dan yang paling disayang oleh Heechul. Ia selalu datang ke pusat KCIA bersama sahabatnya, Minah. Tujuan mereka ialah untuk mempelajari seluk-beluk agen sehingga dapat menjadi agen spesial yang terhebat.

“Ya, Yura! Sudah ku bilang jangan seenaknya masuk laboratorium ini! Jika Steph tahu, kalian tidak akan aman,” desis Kyuhyun.

“Siapa yang peduli? Lagipula di luar sangatlah membosankan. Mereka cuma mendapatkan misi-misi biasa. Tidak seperti Cheonsa Team,” sahut Yura sambil memperhatikan layar komputer besar itu. “Mau aku bantu?”

“Uh? Tidak usah. Bukan membantu, tapi kau malah membuatnya semakin kacau,” desis Kyuhyun.

Yura mengerucutkan bibirnya dan berkacak pinggang, “Kau meremehkanku, ya? Awas!” Yura mendorong Kyuhyun menjauh dan suara ribut dari keyboard pun terdengar.

 

Setelah keluar dialog itu, semua waktu berhenti. Mata Kyuhyun membulat. Yura mengetukkan kakinya di lantai lalu menoleh ke Kyuhyun dan menyeringai lebar. Kyuhyun hanya mendesis kesal.

“Sial!”

“Yey, tiket Lotte World~” seru Minah.

Kyuhyun terbelalak, “Mwo?”

“Baiklah jika itu terlalu mahal. 1 kilogram daging segar pun tak apa,” lanjut Yura.

Hey, Kiddo!” desis Kyuhyun kesal.

“Jika kau memanggilku seperti itu, bukannya itu semakin membuat harga dirimu turun? Aku yang masih SMA bisa merusak keamanan di sana sampai ke inti. Tapi kau… tidak bisa..” cibir Yura.

“Sialan!” pekik Kyuhyun.

Tik.. tik.. tik..

Waktu pengaktifan otomatis keamanan kembali muncul. Kyuhyun dan Yura saling melirik.

“Pasti ada pengendalinya!” seru Minah. “Sangat tidak masuk akal jika alat itu dapat aktif lagi saat alat itu sudah di rusak dari intinya. Kecuali jika benda itu dibuat oleh orang yang sangat amat pintar luar biasa. Jadi cara merusaknya adalah lenyapkan dulu pengendalinya. Lokasi pengendali bisa dicuri dari informasi di dalam alat keamanan itu.”

Kyuhyun dan Yura saling menoleh. Tak lama, seringaian lebar mereka mulai merekah. Mereka berdua mencubit pipi Minah sebagai rasa terima kasih mereka. Kyuhyun mendekatkan kepalanya ke telepon otomatis di depan layar komputer.

“Siapa pun yang mendengarku, ikuti jalan yang aku katakan,” perintah Kyuhyun.

“Baik!” terdengar suara Yesung.

“Minah~ kau pintar! Kau cocok menjadi pengganti Victoria,” seru Yura sambil memeluk sahabatnya.

“Jika aku menjadi Victoria, kau menjadi siapa?” tanya Minah.

“Tentu saja aku yang ahli tentang I.T,” jawab Kyuhyun sambil berusaha membuka beberapa password.

Yura memutar matanya, “Tidak, aku ingin menjadi Jessica versi ahli I.T atau Yesung versi ahli I.T. Kerjaku menembak para penjahat tepat sasaran atau menginterogasi penjahat sampai penjahat itu berkeringat dingin dalam waktu hitungan detik.”

Kyuhyun menoleh dan menatapnya sarkartis. Sedangkan Yura menjulurkan lidahnya.

>>>

Yesung dan Jessica masuk ke dalam rumah secara diam-diam. Yesung mengikuti Kyuhyun sedangkan Jessica mencari Tiffany. Jessica mulai membuka beberapa pintu perlahan agar tidak ketahuan.

Saat sesampainya di depan tangga, Jessica melihat jam tangan yang selalu dipakai oleh Tiffany di depan sebuah pintu samping tangga. Dengan perlahan, Jessica mendekati pintu itu dan membukanya.

Kosong..

Jessica memutar pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Tidak ada apapun di dalam ruangan itu kecuali sebuah kursi dan tali. Selain wangi ruangan yang aneh, Jessica mencium wangi parfum Tiffany.

“Kau!” seru seseorang di belakangnya. Jessica langsung menembak orang itu.

>>>

Yesung berbelok kiri sesuai dengan apa yang Kyuhyun katakan. Dia menarik nafas dalam-dalam saat sampai di depan sebuah pintu. Yesung mengisi pistolnya yang isinya sudah sedikit. Akhirnya dia menjulurkan tangannya untuk membuka pintu dengan perlahan.

Bang!

Yesung menembak kaki salah satu orang di ruangan itu. Sedangkan 2 orang lainnya, ia lawan dengan keahlian bela dirinya yang ia pelajari dari Victoria. Tanpa sengaja, pistolnya terlempar dan jatuh tepat di depan wajah orang yang ia tembak. Yesung baru menyadarinya saat 2 orang itu berhasil ia buat pingsan.

“Jangan mendekat! Kau ada di jarak tembakku!” teriak orang itu.

Yesung tak menghiraukannya dan terus mendekati orang itu. BANG! Orang itu menembak bahu Yesung. Yesung hanya meringis pelan.

Orang itu menyeringai, “K-kau hanya akan mati jika kau pergi ke sini!”

“Aku memang ingin cepat mati,” sahut Yesung.

Orang itu terbelalak, “B-bagus kalau begitu. Aku yang akan membunuhmu!” dia diam sejenak dan menelan ludahnya. “Sebelumnya, aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa.. kenapa wajahmu mirip dengan Kim Jonggun?!”

Yesung terbelalak saat ia mendengar nama ayahnya di sebut. Tapi dia berusaha untuk tetap tetang. “Memang siapa dia?”

“Kami pernah membunuh keluarganya,” jawab orang itu. Ketahuan sekali bahwa sebenarnya orang itu ketakutan.

Yesung menelan salivanya, “J-jadi.. kau.. yang..”

Ucapan Yesung terpotong dengan suara tembakan yang melesat dari samping kanannya. Peluru itu tepat mengenai jantung orang itu. Yesung segera menoleh ke belakang. Disana, Heechul sedang memperlihatkan senyuman lebarnya.

“Kenapa kau menembaknya?!” teriak Yesung membentak.

Heechul menggertakkan giginya, “Karena dia hendak membunuhmu! Harusnya kau berterima kasih padaku. Bukannya membentakku!”

Yesung mendesis kesal.

>>>

Victoria terkesiap saat melihat Tiffany keluar dari rumah itu bersama seorang pria –Wooyoung. Tiffany hanya menundukkan wajahnya. Victoria tersenyum lega dan berjalan menghampiri Tiffany. Dia lupa kalau dia sedang berhadapan dengan 1 orang lawan. Lawannya melayangkan kakinya dengan keras ke kepala Victoria hingga Victoria terhempas jatuh ke depan.

“Vivi!” teriak Tiffany sambil berusaha untuk mendekati Victoria namun ditahan oleh Wooyoung. Tiffany menatap Wooyoung memelas. Wooyoung hanya membalasnya dengan gelengan kepala.

“Hebat, kau bisa tahu titik kelemahan konsentrasinya,” puji orang yang menjatuhkan Victoria tadi. Wooyoung hanya tersenyum tipis.

BANG! Suara tembakan kembali terdengar. Itu berasal dari peluru SVD Dragunov milik Jessica yang mengenai perut pria itu dari arah belakang. Dengan cepat, Jessica memukuli orang itu dengan SVD Dragunovnya.

“Mati kau!!” desah Jessica ditekan.

Tiba-tiba tangannya di tahan oleh pria itu. Pria itu merebut senjata Jessica dan memukulnya dengan senjata itu. Posisi terbalik.

“Jessie..” gumam Tiffany. Air matanya mengalir.

“Fany-ah~ ku mohon..” bisik Wooyoung.

Tiffany menoleh, “G-geundae..” akhirnya Tiffany memilih diam dan memejamkan matanya.

Jessica menyelengkat kaki pria itu. Saat pria itu jatuh, Jessica segera bangkit dan menginjak perut yang berhasil ia lubangi itu. Dia menyeringai tipis lalu mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya yang robek. Ia merebut SVD Dragunovnya.

“Kau tahu? Tidak ada yang boleh menyentuh senjataku. Jika ada yang berani, nyawa bayarannya,” kata Jessica sinis. Ia mengarahkan SVD Dragunovnya tepat ke jantung pria itu. Setelah menembak jantungnya, ia menembak kepala pria itu.

“Sekarang giliranmu, Jang Wooyoung!” desis Jessica sambil menoleh ke Wooyoung. Jessica menggelengkan kepalanya saat pandangannya memudar.

“Jessie, andwae..” bisik Tiffany. Tenaganya sudah hilang entah kemana.

“Kau masih membelanya, Tiff? Apa ia lakukan padamu, uh?” pekik Jessica kesal.

Tiffany hanya menggeleng pelan. Sedangkan Wooyoung menggenggam tangan Tiffany erat sambil terus-menerus berbisik, “Gwencana..”

BANG! Suara tembakan terdengar lagi bersamaan dengan seseorang yang menghantam kepala Jessica. Jessica langsung ambruk dan pingsan.

===천사Team===

Huahaha.. gimana ending chapter 1nya? Aneh ya? ._.v

Nama bapakenya ecung juga ga banget lagi -..- mau gimana lagi? males searching atau mikir nama keren xD *dibom ecung

Preview chapter 2, —One Word; Family—

“Haha.. kau pasti becanda, kan? Apa sekarang April Mop Day? Ku mohon, seseorang jujur padaku! Aku benci kejutan!”

“Tim adalah keluarga baginya. Dia menganggapku sebagai ayah dan yang lain dianggap sebagai kakak.”

“Keluarga? Benarkah yang seperti itu dapat dikatakan keluarga?”

Advertisements

15 responses to “천사 Team Chapter 1 — Watch Out, Tiffany!

  1. hiyyyaaaaa…jadi tegang baca ff ini! kebiasaan tiff aneh juga ngasih julukan ke orang2! hehe……
    jess gimana tuh nantinya?duo minah sama yura keren juga,kalau digabung sama team inti bisa tambah rusuh tuh hehe

  2. annyeong~ ingat diriku? ngga? yasudahlah~ kkkkk~ part satunya bagus deh, menurutku yang misterius di sini bukan yesung ya tapi heechul muahahaha part 1 nya bagus kooo~ saya suka wkwkwk, adegan actionya juga lumayan xD segini aja deh komenku.___. kalo ffnya keren aku bingung mau komen apaan-_-v

    • haha, iya inget. kok bisa ngekapar(?) di blog ini sih? haha
      iya. itu kegagalan saya. gagal membuat yesung itu misterius -_-
      beneran nih keren? gomawo ^^

      • mumpung ada waktu aku nyari blog kamu deh 😉 naksir sih sama ffmu yang ini^ ^ waaah aku di ingat O: ah ga gagal ko-_- yesungnya dewasa di sini aku suka hehehe, iyalah beneran keren, yakali ada orang muji tapi bohongan-_- wkwkwkwk

      • haha, yaudah deh. welcome ya di blog pribadiku XD
        iyalah diinget. secara yg komen kan dikit. dan yg kau termasuk reader yg memberi komen panjang. jadi diinget deh ._.
        tapi sebenernya karakter dia tuh misterius. tapi ga dapet *sigh*

      • aku do’ain biar ffmu banyak yang baca terus komen deh hehehehe, he? serius panjang? kayaknya kurang deh, biasanya saya lebih bawel dari ini kkkkk~ yesung misterius di masa kecilnya >,< aku juga penasaran kenapa keluarganya pada di bunuh pas dia masih bocah u,u

      • amin.. amin… semoga banyak~ soalnya sejak hiatus terakhir kali, readerku beneran jadi jarang banget -_- *curcol
        mwo? beneran? jarang lo saya di komenin sepanjang kamu. biasanya tuh dapet komen panjang pas dulu banget. pas masih rajin banget ff sampe tiap hari tuh update ._.
        nah, soal yesung nanti masuk tuh ke cerita inti ._.d

      • oh gitu~ aku sebenernya ga mentingin komentator sih karena kalo udah ada yang baca ff jelekku aja aku bersyukur bgt tapi kalo baca ff orang yang banyak komenya jadi iri, dan pengen ngerasain tapi… ffku aja dikit ya yang komen juga seuprit muahahahaha xD *tutupinmuka* *ikutan curcol* /plak, iya beneran saya ini bawel dan suka kelepasan kalo udah ngomen ff orang-_-v yes! makin ga sabar sama part berikutnya huaaaaaaa >,<

      • iya bener. udah bersyukur banget. kalo banyak ya jadi tambah semangat. jadi pengen cepet-cepet selesain ffnya jadinya XD
        semangat! pasti nanti rame deh ffnya~ kekeke
        iya dulu juga saya itu kalo komen ya beneran panjang. sampe terkadang disindir sama authornya XD pokoknya yg nama komen tuh wajib. panjang itu sunah yg wajib(?). tapi sekarang ga lagi. ga tau kenapa -.- *curcol again

      • iyaaa sama2 semangat deh untuk kita muehehehe, tuh kan.. emang paling enak tuh kalo komen panjangggg, iyakah sampai di sindir? O: aku malah seneng kalo ada yang ngomen panjangggg~

  3. Waaaa sica eonni
    Siapa yang gtuin eonniku sampai pingsan aku ngak terima huaaa 😥 eonni

    Ceritanya seru aku suka
    Wooyoung itu sebenarnya baik atau jahat sih ?
    Susah ditebak hebat aku suka cerita yang susah di tebak bikin penasaran n,n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s