Voice of My Heart (Series) Chapter 4

Author : Lee Hyura

Title : Voice of My Heart

Genre : Romance, Angst, Friendship

Rating : PG 13

Cast :

–          SNSD Jessica

–          SJ Yesung

–          Kim Jongjin

–          4 Minute Jihyun

–          Girls Day Sojin

–          2AM Seulong

Story idea by Putri Wahyu Rini and Lee Hyura 8D << what’s emotion for? Keke..

 

===VoiceofMyHeart===

 

2012, 12th February. 09.00 KST

 

“Ppali~” kesal Jihyun sambil menarik tangan Jessica dengan kesal.

 

Jessica berusaha melepaskan tangan Jihyun, “Jihyun-ah~ aku tidak enak badan. Tolong sampaikan maafku pada 2 pasangan itu. Khusus untuk sepupuku, Seulong, bilang kalau aku janji akan datang ke resepsi pernikahannya besok. Arasso?”

 

Jihyun terdiam. Dia mengangkat dagu Jessica hingga ia dapat melihat semua bagian wajah sahabatnya itu. Tatapannya melirih.

 

“Wajahmu pucat sekali. Sepertinya kau memang tidak usah pergi. Biar aku saja yang pergi,” ujar Jihyun. Dia tersenyum, “Hati-hati ya di apartemen sendirian. Jangan bawa masuk orang asing. Arasso?”

 

“Ya! Kau kira aku masih kecil, eh?”

 

Jessica pov.

 

Aku ingin tidur sepanjang hari selama Jihyun tidak ada. Tapi aku tidak bisa. Otakku sibuk memikirkan 2 pernikahan yang dilangsungkan hari ini. Akhirnya aku hanya menggeliat tak jelas di atas kasur serta menghabiskan persediaan di kulkas. Aku yakin Jihyun akan mengamuk, tapi siapa yang peduli?

 

“Sial,” desisku saat mendengar bel apartemenku berbunyi.

 

“Ya! Kenapa kau sudah pulang?” tanyaku saat melihat Jihyun lah yang menekan bel. Aku melirik jam yang berada di teras. Sudah 2 jam sejak kepergiannya. Aku tidak sadar aku menghabiskan 2 jam di hidupku hanya untuk menggeliat tak jelas di atas kasur.

 

“Aku lelah jadi tidak mengikuti pernikahan dari awal hingga akhir. Walaupun begitu, aku sudah menyampaikan pesanmu kepada orangtua Seulong oppa. Tenang saja~” jelasnya.

 

Dia menerobos masuk dan pergi ke dapur. Satu hal yang baru aku sadari, dia membawa tas belanja. Aku mengernyit lalu mengikutinya. Dia melirikku sekilas dan tersenyum sambil menata semua belanjaannya di kulkas.

 

“Dan ternyata tebakanku benar,” gumamnya. Aku hanya terkekeh sinis. Bukankah aku sudah bilang kalau aku memang tidak bisa menutupi apapun darinya?

 

Saat selesai, dia bangkit dan menutup kulkas lalu bersandar di kulkas. “Intinya kau harus membayarku lebih karena sudah mau repot-repot belanja kebutuhan mengemilmu. Arasso?”

 

“Hey..”

 

“…Dengan datang ke resepsi pernikahan Seulong oppa besok. Aku tidak mau memberikannya alasan konyol yang akhirnya hanya membuatnya kecewa karena sepupu kecilnya tidak datang ke pernikahannya,” lanjutnya.

 

Aku menggigit bibir. Lagi-lagi aku harus mengakui dia memang mengetahui semua hal tentangku. Bahkan sampai rencana menggeliat-tak-jelas milikku untuk menolak ajakan pergi saja dia tahu. Aku hanya menghela nafas panjang lalu terkekeh datar.

 

“Oke aku menarik kata-kata ‘sepupu kecilnya’ karena nyatanya dia masih memiliki Soojung yang lebih muda dan jauh lebih manis darimu,” serunya.

 

Yea~ I forgot about that rude girl,” desisku kesil. “…But she’s always cute. I miss her~” Jihyun langsung melirikku tajam sekaligus jengah.

 

Next day.

 

Aku menatap  pantulan diriku di cermin yang memakai dress berwarna ungu kebiruan. Rambut ku biarkan tergerai dengan dihiasi bando biru dengan hiasan 1 mawar biru kecil. Aku cukup suka dengan dandananku kali ini. Tapi.. kenapa Jihyun menatapku datar? Ada yang aneh dengan penampilanku?

 

“Lepas bando kekanakanmu itu! Itu cukup menjijikan jika dipakai olehmu,” desisnya. Aku merengut dan melepasnya.

 

“Berhenti merengut dan pergi sekarang atau aku akan menciummu,” desisnya –lagi.

 

Aku terkekeh kali itu. Aku langsung menepuk bibirku dengan telunjukku seakan menerima ancamannya. Dia hanya memutar matanya kesal lalu menarikku pergi.

 

“Beruntung temanya adalah pesta taman. Jadi aku tidak usah memakai dress yang menyusahkan. Hmp!” Jihyun menggembungkan pipinya lalu tersenyum penuh arti padaku.

 

“Aku tidak tahu kau menyukai tema pesta seperti itu,” gumamku.

 

At least, you know it.”

 

>>>

 

“Sica~ I’m glad to know that you come!” seru Seulong yang berpakaian rapi dengan jas hitamnya. Dia berjalan cepat menghampiri sepupunya yang tak lain adalah aku.

 

Of course! You are my cousin, Seulong. I wont miss your wedding,” sahutku lalu memeluknya.

 

But you did it,” desisnya.

 

Aku terkikik pelan dan melepaskan pelukanku, “Sorry. Just so busy.

 

Hmp! Wanna give another reason, miss?” sindirnya. Aku hanya bisa terkikik.

 

Yea, I know you are Mr. America now. But… hangul please~” desis Jihyun kesal.

 

Seulong terkekeh, “Geure, Jihyun-ah~ aku melakukannya. Puas?”

 

Jihyun mengangguk cepat, “Jinjja~”

 

“Kembali ke Sica. Apa hukuman yang pantas untuk seseorang yang melewatkan pernikahan sepupunya? Aku tahu suaramu baik. Bernyanyi untukku!” serunya. “S-E-K-A-R-A-N-G!” tekannya.

 

Aku memutar mataku, “Fine!”

 

“Oh apa lagu yang cocok dengannya? Without You?” seru Jihyun.

 

“Kau menyindirku, Nam Jihyun-ssi?!” aku berkacak pinggang.

 

“A-aniya~ tentu saja tidak! Aku hanya usul,” gumamnya dan merengut. Seulong hanya terkikik.

 

Yea, whatever. Mana istrimu, uh? Aku mau bernyanyi kalau sudah bertemu dengan istrimu,” kataku sambil berpura-pura mencari.

 

Seulong menghela nafas, “Berhenti melakukan itu, Sica-ya. Ku rasa dia sedang sibuk dengan rutinitasnya.”

 

“Rutinitas?” seru kami berdua.

 

Seulong terkikik, “Kalian itu memang semakin lama semakin seperti anak kembar saja!”

 

Jihyun mengibaskan tangannya dan terkikik, “Ani, kami sepasang kekasih.” Aku langsung menoyor kepalanya. “Hanya becanda,” lanjutku.

 

“Arasso.. maksudku Morning Sickness. Mengerti?”

 

Aku dan Jihyun sambil melempar pandangan kaget. Tak lama kemudian, kami memukul Seulong kesal. Setidaknya itu cukup untuk menghukumnya! Seulong meringis kencang sambil berusaha menghindari kami.

 

“Apa-apaan kalian ini?” bentaknya.

 

“Jangan-jangan kalian menikah hanya karena kau telah menghamilinya, ya?” tebak kami bersamaan.

 

Seulong memutar matanya, “Tentu saja tidak! Kami sudah merencanakan pernikahan ini sejak lebih dari setengah tahun yang lalu. Sedangkan dia baru hamil sekitar 8 minggu, Sica-ya.. Jihyun-ah..”

 

“2 keuntungan dalam 1 cara, ya?” tanya Jihyun dengan wajah polosnya.

 

Seulong terkekeh, “Mungkin semacam itu.”

 

Jihyun mengangguk mengerti, “Oh ya~ hey, Sica imo! Cepat naik ke panggung dan bernyanyi, ara?”

 

Aku menggertakkan gigiku, “Imo?”

 

“Sebentar lagi kau akan mempunyai keponakan. Apa salahnya aku memanggilmu Sica imo, uh?” jawabnya.

 

“Ah, arasso, Hyun ahjumma~” balasku lalu berlari ke atas panggung. Aku lihat Jihyun meremas tangannya lalu berkacak pinggang.

 

Aku mengetuk mike untuk mengetes suara dan meminta perhatian. Aku mengisyaratkan pada Seulong yang sedang menatapku penuh senyum kalau aku ingin memakai piano yang sudah tersedia di atas panggung. Dia hanya mengangguk.

 

Jihyun pov.

 

Detingan piano mengalun lembut disertai suara lembut Jessica. Aku hanya tersenyum. Setidaknya wajahnya tidak semenyeramkan mayat hidup seperti kemarin –saat aku pulang dari pernikahan. Entah apa yang terjadi jika ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin dia akan membenciku juga. Aish! Ku mohon jangan~

 

“Suaranya membaik. Apa dia sering berlatih?” tanya Seulong yang berdiri di sampingku.

 

“Sepertinya begitu. Akhir-akhir ini dia dekat dengan seorang penyanyi terkenal. Pantas jika ia mendapatkan pelatihan tak terduga,” jawabku asal lalu terkikik.

 

“Yesung maksudmu?”

 

Aku menoleh. Aku tersenyum lebar sebelum akhirnya mengangguk. Dia mengangguk mengerti dan menatap Jessica kembali. Begitu pula denganku.

 

“Apa dia datang?” tanyaku.

 

“Dia?”

 

“Dia.. aku tahu siapa yang ku maksud!”

 

“Mungkin. Dia perlu menjelaskan semuanya.”

 

Author pov.

 

“…” Jessica berhenti bernyanyi saat melihat sesosok wanita mendekati Seulong. Dia menutup matanya dan berusaha melanjutkan lagunya.

 

Saat selesai dengan lagunya, ia bangkit dan membungkuk, “Gamsahamnida~” terdengar suara tepuk tangan dari berbagai sudut. Dia tersenyum dan turun dari panggung. Sesampainya di bawah, ia memasang wajah datarnya.

 

“Annyeong~” sapa wanita yang merangkul Seulong –Sojin. Dari perilaku mereka, ia mengerti apa yang terjadi.

 

Mind to explain?” tanya Jessica.

 

Sojin tersenyum tipis dan menggeleng, “Tidak akan jika kau tidak mengabulkan permintaanku.”

 

Jessica mengernyit, “Mworago?”

 

“Bernyanyi dengannya,” jawabnya sambil menunjuk ke arah belakangku. Jessica menoleh dan melihat Jongwoon yang sepertinya sama kagetnya dengan Jessica.

 

“Shireoyo!”

 

“Sica-ya~ demi anakku,” mohon Seulong.

 

“Bahkan dia belum masuk ke tahap seperti itu, oppa! Dia hanya merasa morning sickness, ok?” sungut Jessica.

 

“Jebal.. jebal.. jebal~” rengek Sojin dengan suara anak kecilnya.

 

“Geun—“ Jessica terdiam saat tangannya digenggam seseorang. Ia menatap tangannya dan juga pemilik tangan itu. Jongwoon..

 

“Apa salahnya mengabulkan permintaan seorang calon ibu?” tanya Yesung lembut. Jessica menutup matanya sebelum akhirnya mengangguk setuju.

 

>>>

 

“Jadi semuanya karena kau berpikir aku dan Jongjin menjalani sebuah hubungan yang spesial?” Jessica menghela nafas kasar dan menyeringai menyindir. Mereka—Yesung dan Jessica—sengaja mengambil tempat di sisi taman yang sepi.

 

“Maaf. Aku hanya ingin kau tidak mengira aku masih berharap padamu dan berniat merusak hubunganmu dengan Jongjin. Jika aku tahu kalau kau tidak berpacaran dengan Jongjin, aku tidak akan melakukan ini,” balas Yesung.

 

“Apa alasan kau mengiraku dan Jongjin berpacaran?”

 

“Karena Jongjin selalu membicarakanmu seakan kau begitu berarti baginya.”

 

“Soal ketakutanmu itu?”

 

Yesung menunduk dan menghela nafas panjang. Lalu menarik tangan Jessica agar mendekat ke arahnya dan menghadapnya. Yesung menatap mata Jessica dalam-dalam. Jessica menggigit bibirnya, nervous..

 

“Kau ingat hari terakhir kita bertemu sebelum aku pergi ke Amerika, kan?” tanya Yesung pelan. Jessica mengangguk pelan.

 

“Oh tuhan! Jadi karena itu?” pekik Jessica.

 

Yesung segera menutup mulut Jessica. Takut-takut, mereka malah jadi pusat perhatian para tamu undangan. Jessica segera mengerang, meminta untuk dilepaskan. Wanita itu menginjak kaki Yesung. Setelah terlepas, ia berlari pergi meninggalkan pesta. Yesung hanya diam di tempat.

 

Next day.

 

Jemari Yesung sibuk menari di keyboard laptop Samsung warna merahnya. Dia berusaha menamatkan satu games kembali. Sejak kepulangannya dari pesta resepsi Sojin, Yesung mengurung dirinya di dalam kamar dan mengunci pintunya. Tidak ada satu orang pun yang berani mengganggunya.

 

Tiba-tiba Iphonenya berdering. Yesung hanya meliriknya sekilas dengan enggan. Dia tidak mau diganggu oleh APAPUN saat itu. Saat-saat itu hanya miliknya dan laptopnya. Tapi Iphone berwarna hitam elegan miliknya masih saja menyanyikan lagu Your Eyes miliknya yang sengaja ia pasang sebagai ringtone. Dengan enggan, ia mengambil Iphonenya dan menatap nama pemanggil di display Iphone. Jihyun..

 

Jongjin’s pov.

 

BRUK! Aku dan kedua keluargaku, Tidak! Seluruh orang yang berada di café tepatnya menoleh ke arah pintu masuk café. Disana, Yesung hyung menghampiriku sambil menarik kopernya. Aku mengerutkan alisku, bingung.

 

“Mau kembali ke Amerika?” tanyaku becanda.

 

Dia menggeleng, “Ke pinggiran Korea Selatan. Gwangju.”

 

“Astaga! Itu bukan pinggiran Korea Selatan, hyung!” pekikku kesal. Pasalnya bukan hanya kata-katanya yang salah, mukanya pun polos. Astaga!!

 

Aku menarik nafas dalam-dalam. “Untuk?”

 

“Jessica.”

 

Aku mengulas senyum lebar. Aku ingin tahu kelanjutan cerita mereka. Kisah cinta yang konyol!

 

Author pov.

 

Gwangju.

 

“Dimana kalian sebenarnya?” tanya Yesung yang mulai kesal. Ingin rasanya ia melempar Iphonenya itu. Tapi sayangnya hanya Iphone itu penghubung dirinya dengan Jihyun.

 

Kami sedang jalan-jalan di pasar dekat pantai,” jawab Jihyun berbisik. “Dimana kau?”

 

“Aku sudah ada di area pantai. Tepatnya jalan raya di dekat pantai. Coba aku ke supir taksi ini. Mungkin dia tahu.”

 

Kalau dia adalah taksi di daerah sini, pasti dia tahu!” tekan Jihyun.

 

Jihyun-ah!!”

 

“Sica? Apa itu suara Sica?” tanya Yesung cepat.

 

Bukan siapa-siapa. Hanya temanku. Iya, maaf. Aku sudah selesai dengannya. Ne, Sica-ya! Berhenti memarahiku~” terdengar suara Jihyun memelas. “Mian, oppa. Aku harus tutup telepon ini secepatnya. Annyeong!”

 

Tuts…

 

“Argh! Jihyun-ah!” geram Yesung karena Jihyun menutup telepon seenaknya.

 

“Ke pasar di sekitar sini. Kau tahu tempatnya?” tanya Yesung pada supir taksi itu. Supir itu hanya mengangguk.

 

Yesung menghela nafas panjang dan menyandarkan punggung. Badannya benar-benar tenggang. Ia ingin menenangkan seluruh tubuhnya sebelum bertemu Jessica. Keadaan jalan yang lumayan macet karena pengunjung pantai begitu banyak membuat Yesung semakin pusing. Tiba-tiba Iphone berbunyi. Ia mengangkatnya segera.

 

“Yoboseyo..”

 

Oppa..

 

Mata Yesung membulat. Ia menjauhkan Iphonenya dari telinganya dan menatap display Iphonenya dengan cermat. Itu memang nama Jessica. Jessica memang sedang meneleponnya sekarang.

 

“Ne, Sica-ya?” balas Yesung berusaha tenang.

 

Untuk kali ini.. biarkan untuk teleponku kali ini menjadi telepon kita yang terakhir kalinya.

 

Yesung menggigit bibirnya, “S-Sica-ya..”

 

Oppa.. biarkan aku selesaikan kata-kataku. Aku sudah terlalu kecewa karena kau mempermainkan perasaanku. Apa kau tahu apa yang terjadi padaku saat kau memperkenalkan Sojin onnie sebagai pacarmu? Aku menangis semalaman. Syukur, Jongjin bersamaku.”

 

Yesung mengepalkan tangannya. Hatinya sakit saat mengetahui 2 fakta. Yaitu Jessica menangis karenanya dan orang yang menghiburnya adalah Jongjin. Tidak bisa ia pungkiri bahwa ia masih merasa cemburu dengan adiknya.

 

Tidak hanya itu. Banyak hal yang kalian perbuat, berhasil membuatku menangis, menderita..

 

Yesung menghela nafas panjang. Lalu matanya membulat saat melihat sosok Jessica berjalan dari arah yang berlawanan. Dia segera menegakan badannya.

 

“Stop!” teriak Yesung.

 

“Disini?” tanya supir taksi itu.

 

T-tapi aku belum selesai.. ya sudah. Ku kira itu juga cukup. Aku sudah cukup lega. B—

 

Yesung terbelalak. “Jangan berhenti!”

 

“Baik,” sahut supir taksi sambil menjalankan kembali taksinya.

 

Apalagi? Kan kau sendiri yang menyuruhku berhenti,” kesal Jessica.

 

Yesung mengacak rambutnya kesal. “Berhenti! Kenapa malah kau lanjutkan?” omelnya pada supir taksi itu. Supir taksi itu mendengus.

 

Aish! Kau ini plin-plan sekali!” omel Jessica.

 

“Bukan untukmu, Sica-ya..” jelas Yesung pelan. “Lanjutkan. Ku mohon..”

 

“Kita berhenti di depan motel itu saja,” kata supir taksi dengan nada kesal.

 

“Baiklah. Kau tunggu disana. Aku akan naik ini lagi. Arasso? Tenang saja. Aku akan membayarmu 2 kali lipat,” kata Yesung. Supir itu hanya mengangguk.

 

Aku lupa kalau kau penyanyi terkenal. Kau pasti sibuk. Maaf kalau aku mengganggumu.”

 

“Tidak sama sekali!” sergah Yesung cepat sambil membuka pintu dan berlari kecil untuk menyebrangi jalan.

 

Ia melihat Jessica berjalan perlahan ke arah pinggir pantai. Angin laut yang berhembus lumayan kencang membuat rambut Jessica yang tergerai menjadi terkibar. Yesung tersenyum lebar saat melihat pemandangan itu.

 

“Boleh aku berbicara sekarang?” tanya Yesung pelan sambil menghampiri Jessica dari belakang.

 

Ten..tu..

 

“Aku minta maaf akan semuanya. Aku tidak bermaksud. Semua orang mengiraku kuat dan tidak takut apapun. Tapi sebenarnya ada satu hal yang sangat aku takuti. Yaitu kehilanganmu. Jadi aku tidak akan membiarkan ini adalah komunikasi terakhir kita. Aku tidak akan membiarkan kau pergi. Aku akan terbang ke tempatmu berada sekarang dan..”

 

Yesung terdiam sejenak dan memeluk Jessica dari belakang, “.. memelukmu. Setelah itu, aku tidak akan membiarkan sesuatu membawamu pergi dariku.”

 

Jessica melompat kecil karena kaget. Dia menarik nafas dalam-dalam. Tak lama, ia berbalik badan dan mendorong Yesung menjauh.

 

“Jongwoon..” gumam Jessica tidak percaya. “Semua ini karena Jihyun??”

 

Yesung tersenyum tipis, “Maja. Dengan bantuan hatiku yang sudah terhubung denganmu.”

 

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Sejak kapan kau pintar merayu?”

 

“Amerika mengubahku.”

 

Jessica membalasnya dengan kekehan sinis.

 

“Ayolah~ aku sudah meminta maaf. Aku tahu itu tidak cukup. Tapi aku janji aku akan melakukan apapun agar kau memaafkanku. Sungguh!” yakin Yesung.

 

Jessica berpikir sejenak. Ia memang sakit hati. Tapi dia sadar kalau hatinya sepenuhnya menginginkan dia, Jongwoon..

 

“Aku akan memberi kesempatan. Dengan syarat, jangan tinggalkan aku dan mengecewakanku lagi,” ucap Jessica hampir berbisik.

 

“Jinjja!” seru Yesung sambil memeluk Jessica erat-erat.

 

“Yesung oppa! Itu Yesung, kan?” seru seorang remaja.

 

“Ne, maja! Itu Yesung oppa! Aigo!!!” sahut temannya.

 

“Kya~~! Yesung oppa!!” teriak yang lain.

 

“Dan itu! Bukannya itu Jessica?” pekik seorang pria.

 

“Ada hubungan apa mereka?”

 

“Oppa!!”

 

Yesung dan Jessica baru sadar akan posisi mereka. Mereka langsung berlari. Yesung menarik Jessica ke taksinya.

 

“Hampir saja!” desah Jessica dengan nafas tersengal-sengal lalu melirik Yesung yang juga ngos-ngosan. Mereka tertawa.

 

“Lain kali kita harus hati-hati,” kata Yesung.

 

“Setuju!” timpal Jessica.

 

Mereka berdua kembali tertawa. Yesung tersenyum tipis melihat Jessica tertawa. Dia mendekatkan wajahnya dengan Jessica dan mengecup bibir gadisnya itu. Jessica melirik display hpnya. Jihyunlah yang menelepon mereka.

 

“Ehem!” sentak supir taksi sekaligus suara dering dari hp Jessica mengganggu mereka. Mereka langsung membuat muka.

 

“Yoboseyo.. mwoyeyo Jihyun-ah?” kata Jessica.

 

“NEO EODDISEO?! Jangan membuatku mati karena terlalu mengkhawatirkanmu!” teriak Jihyun.

 

Yesung dan Jessica saling berpandangan lalu tertawa.

 

“Sica..” panggil Yesung.

 

“Hm?”

 

“Tadi kau memanggilku ‘oppa’ di telepon,” goda Yesung.

 

“Bohong! Aku tidak mengatakan itu!” bantah Jessica dengan pipi bersemu merah. Yesung hanya menatapnya menggoda.

 

“Berhenti menatapku seperti itu!!”

 

===VoiceofMyHeart===

 

Mian kalo endingnya ga banget ._.v

Advertisements

5 responses to “Voice of My Heart (Series) Chapter 4

  1. Huaaaaaaaaa Gue Harus bilang apa yah.. Jujur aja gue pengenya lebih panjang.. dan Kisseunya di pantai ._.
    tapi overall keren :3

  2. hah?? ending?? ini endingnya??
    GAK RELAAAAAAAAAAAA >,<

    Padahal tadi udah seneng yesica-nya bersatu tapi langsung ending T.T

    ternyata yesung nherjain sica cuma karena salah paham toh?? ampun deh

    ternyata si soojin itu calon istrinya seulong?? ya ampun kekeke

    sequel dong thor

  3. tetap… FF NYA KEREN !!!
    Kyaa~ YeSica Kisseu …*Joget tor tor (?)
    Ditunggu FF lainnya yg ber-cast kan jessica^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s