Chocolate, Love? (Oneshoot)

Author : Lee Hyura

Title : Chocolate, Love?

Genre : Romance

Rating : PG

Main Cast :

–          SNSD Jessica

–          SNSD Tiffany

–          SJ Kibum

Harusnya sih ini ff untuk valentine. Tapi saya lupa ngepostnya u.u ini ff untuk ngebayar janjiku pada Winda onnie yg sudah menjadi umma tiriku sekarang XD

Ff ini bisa dibilang drabble yg kepanjangan dan oneshoot yg kependekan

Dan demi apapun saya ga tau mau kasih judul ff ini apa. Jadi maklum kalau judul ga nyambung .__.v 

===Chocolate,Love?===

“Sica-yaa~” teriak Tiffany kesal. “Keluar dari kamarmu dalam 5 menit atau kita akan terlambat!”

“Ne~” sahut Jessica sambil membuka pintu kamarnya cepat.

Tiffany menatap sahabatnya sejak kecil itu dari atas hingga bawah lalu menghela nafas membuat Jessica terdiam di tempatnya. Jessica menggigit bibir bawahnya gugup. Tak lama Tiffany mengerang pelan.

“Sica-ya! Apa itu semua perlu?” tanya Tiffany pelan –berusaha menahan emosi.

“Mwoya?” sahut Jessica sambil memasang pandangan polosnya agar Tiffany semakin menahan emosinya.

“Penampilanmu!” teriak Tiffany, gagal menahan emosinya. Jessica mundur selangkah karena ternyata rencananya gagal.

Jessica berlari kecil ke depan cermin besar di kamarnya. Seragam sekolah yang dibalik jaket putih bergambar Hello Kitty, rambut diikat ke samping dengan ikat rambut berhiasa boneka Hello Kittykecil, kaos kaki bergambar Hello Kitty, dan jam silver yang jika dicermati, beraksen Hello KittyApa salahnya?, pikir Jessica.

“Aku tahu kau sangat addict dengan Hello Kitty. Tapi sungguh, Sic.. kau sudah remaja. Itu sangat tidak pantas untukmu!” ceramah Tiffany yang sudah di belakang Jessica. Jessica melompat kaget dan berbalik untuk menatapnya.

Baru saja Jessica ingin membuka mulutnya untuk memberi pembelaaan, Tiffany sudah melanjutkan perkataannya. “Hello Kitty tidak ada hubungannya dengan keberuntunganmu, Sica..”

“Tapi—“

“Seluruh keberuntunganmu saat kau kecil hanya sebuah kebetulan. Mana mungkin memakai hal-hal yang berhubungan dengan Hello Kitty dapat memberikanmu keberuntungan? Bullshit!” potong Tiffany. Dia sudah tidak menahan emosinya.

Jessica menunduk. Sesaat kemudian dia mengangkat wajahnya dan merengutkan bibirnya. Dia berlari melewati Tiffany dengan langkah kasar. Tiffany menghela nafas panjang, aku salah lagi..

>>>

Seperti hari-hari biasanya saat jam istirahat selama sekitar 3 bulan ini, ia pergi ke atap sekolah. Dia tahu benar orang itu ada di atap sekolah. Dia berlari dengan semangat menyusuri koridor sekolah dan menaiki tangga. Dengan rencana yang sudah ia siapkan di rumah, membuatnya semakin bersemangat.

Dia membuka pintu perlahan. Dia melihat ke sekitar dengan ragu. Saat melihat orang yang ia cari sedang duduk di sisi yang teduh sambil membaca buku seperti biasanya, ia tersenyum. Ia menghampiri orang itu dan duduk di sampingnya.

“Annyeong, Kibum sunbae~” sapa Jessica.

“Aish! Kau ke sini lagi?” gerutu orang itu—Kibum—kesal .

“Aku ingin menemanimu,” jawab Jessica asal. “Lagipula ini sekolahku.”

“Ya, berhentilah menggangguku!” erang Kibum.

Jessica mengerucutkan bibirnya. Ia memang terbiasa menghabiskan jam istirahatnya dengan duduk disamping Kibum sambil mengganggu waktu membaca Kibum dengan berbagai pertanyaan dan kata-kata tak penting lainnya. Tapi anehnya Kibum tetap memilih untuk membaca di atap.

Jessica memang mengenal Kibum yang bernotabene sebagai anak kepala sekolah Jessica. Kibum memang sering menghabiskan waktu di atap sekolah itu saat ia tak ada jam kuliah karena kebetulan sekolah Jessica dan kampus Kibum sangatlah dekat.

“Aku.. aku hanya.. hanya..” Jessica terdiam. Dia tidak mempunyai kata-kata pembelaan. Akhirnya dia mendesah kasar. “Aku hanya ingin menemanimu, sunbae! Apa salahnya?”

“Kau menggangguku dengan segala keributan yang kau buat!” desis Kibum.

“Baiklah.. silahkan kembali membaca dan membiarkanku mengoceh sendiri seperti biasa,” balas Jessica ketus.

Kibum bangkit dan mencari tempat lainnya. Ia memilih tempat di samping pintu dan kembali membaca. Jessica bersendagu di kedua lututnya.

Hello kitty..” gumam Kibum.

Jessica mengerjap, “Ne?”

“Kau menyukai hello kitty.”

Jessica tersenyum lebar mendengarnya.

“Sunbae..”

Kibum menoleh, “Ne?”

“Joahaeyo.. manhi joahaeyo..” kata Jessica pelan. Kibum hanya mengerjap.

Next day.

“Kibum-ah,” panggil Changmin –teman sekelasnya.

Kibum yang sudah bersiap meninggalkan kelas, akhirnya memilih untuk berbalik badan. Dia menatap Changmin bingung.

“Coklat yang ada di mejamu..”

“Kalau kau mau, kau boleh memiliki semua itu,” kata Kibum –memotong ucapan Changmin.

Changmin tersenyum lebar. Dia segera berlari ke meja Kibum dan mengambil coklat itu. Tentu saja meja Kibum dipenuhi oleh coklat. Hari itu adalah valentine day. Beberapa mahasiswi sudah meletakkan coklat-coklatnya di meja-meja orang yang mereka sukai. Contohnya seperti meja Kibum yang menjadi tempat menampung coklat-coklat itu. Tapi sayangnya Kibum tidak menyukai makanan manis.

“Kau ingin ke atap seperti biasa?” tanya Ryeowook—sahabatnya—yang sedang mencoba mencicipi salah satu coklat yang ia terima.

Kibum mengangguk, “Yap. Wae?”

“Bukannya kau selalu bilang ada gadis yang suka mengganggumu di atap sekolah itu? Bahkan kau bilang kau membencinya karena terlalu mengganggu. Tapi, kenapa kau selalu terlihat bersemangat setiap waktunya untuk pergi ke atap?” tanya Ryeowook.

Kibum memutar matanya. “Ayolah. Kau sudah tahu jawabannya. Yaitu karena hanya tempat itu yang paling tenang. Lagipula Jessica tidak terlalu mengganggu juga kalau dipikir-pikir.”

“Jadi namanya Jessica?” seru Ryeowook.

Kibum mendesah. Dia segera berbalik badan dan pergi dari kelasnya sebelum Ryeowook mulai beraksi.

>>>

Kibum membuka pintu dan duduk di tempat biasanya. Dia membuka buku yang mengulas tentang makhluk-makhluk misterius di dunia. Tapi entah mengapa dia tidak bisa berkonsentrasi ke bacaannya itu. Sesekali, ia melirik jam tangannya.

“Kenapa aku merasa gugup seperti ini? Aish, baboya!” desisnya.

Dia kembali mencoba berkonsentrasi ke dalam bacaannya. Tapi keinginan untuk melirik jam tangan terlalu lah besar. Tak lama, dia mengerang kesal.

“Sudah 10 menit aku di sini tapi dia belum juga da—“ dia tersadar lalu menepuk pipinya. “Hei, kenapa aku jadi mengharapkan kedatangannya?”

Jessica’s side.

“Eotteokhe, Fany-ah?” gumam Jessica gugup.

“Ku rasa tidak ada bedanya dengan kemarin. Kau hanya akan didiamkan olehnya,” sahut Tiffany. Dia mendesah. “Lagipula apa sekali saja menyatakan cinta pada itu tidak cukup? Hanya satu hari itu tidak akan mengubah apapun.”

Jessica menggembungkan pipinya. Dalam hati, dia setuju dengan kata-kata Tiffany. Tapi saat melihat coklat yang ia genggam sedari tadi, dia rasa dia harus melakukannya. Atau, perjuangannya membuat coklat semalaman tidak akan ada artinya. Tapi saat ia ingat kejadian kemarin, entah kenapa dia menjadi tidak bersemangat untuk menemui Kibum.

“Jadi?” tanya Tiffany.

“Mungkin lebih baik coklat ini untuk ku makan saja,” kata Jessica lemas.

“Hei, jangan seperti itu. Ayo semangat! Ini hari penuh kasih sayang, Sic..” seru sahabatnya itu.

>>>

Bel pulang berbunyi lebih cepat dari biasanya. Itu semua karena besok adalah hari kelulusan para siswa tahun pelajaran terakhir yaitu Jessica, Tiffany dan teman-teman seangkatannya. Jessica dan Tiffany segera membereskan barang-barang mereka dan keluar dari kelas. Tiffany dan Jessica membicarakan hari esok sambil berjalan keluar dari sekolah.

Saat sampai di halaman parkir, Tiffany menunjuk ke arah gerbang sekolah mereka. Disana, sosok kibum sedang bersandar di dinding pos satpam. Jessica mendesah kesal.

“Argh! Kenapa dia ada disana saat aku tidak ingin bertemu dengannya?” gerutu Jessica.

“Kalau begitu, bagaimana jika kita lewat gerbang belakang?” usul Tiffany.

“Bukannya gerbang belakang ditutup karena sering digunakan sebagai jalan untuk bolos?”

Tiffany menepuk keningnya, “Astaga, aku lupa!”

“Bukan lupa. Tapi otakmu itu tidak mau menerima sesuatu yang bukan berupa pelajaran penting,” sahut Jessica mendesis. Tiffany menggembungkan pipinya kesal.

“Jadi bagaimana sekarang?” tanya Tiffany.

“Mollayo..”

“Lewati saja. Kalau perlu, lari yang kencang!”

“Setuju!”

Jessica dan Tiffany melangkah dengan perlahan. Mereka memperhitungkan waktu yang tepat untuk berlari. Saat mereka sudah hampir dekat dengan Kibum, mereka segera berlari.

“Jessica-ssi!”

Itu kelemahan Jessica. Entah sejak kapan suara itu berhasil menyihirnya setiap kali suara itu memanggil namanya. Perasaan bahagia menyelimut Jessica. Kaki yang tadi berlari pun menjadi berhenti. Jessica berbalik badan –menghadap Kibum. Sedangkan Tiffany mak tak mau juga berhenti dan memperhatikan sahabatnya.

“Urm.. apa yang kau lakukan disini, sunbae?” tanya Jessica seraya menggaruk tengkuknya karena gugup.

“Entahlah.” Kibum menjawabnya sngkat. Ia menghampiri Jessica dan melirik tas kecil bergambarhello kitty yang ditenteng oleh Jessica. “Itu.. apa?”

Jessica menggigit bibirnya. “Err.. sesuatu…”

“Sesuatu?”

Jessica menghela nafas panjang. Ia sadar ia tidak bisa untuk menahannya. Ia mengeluarkan kotak yang berisi coklat. Dia memberikannya pada Kibum. Kibum tidak bereaksi. Dia hanya menatap Jessica bingung.

“Ini coklat. Untukmu. Orangtuaku memaksaku untuk memberikan ini kepada teman-temanku,” kata gadis itu sambil tersenyum manis.

Untuk pertama kalinya Jessica bersyukur atas sifat malasnya hingga hanya menghias kotak itu sesuka hatinya hingga terlihat seperti bukan kotak coklat remaja yang sedang jatuh cinta biasanya.

“Tapi aku bukan temanmu!” sungut Kibum.

Jessica mendesah, “Terserah lah! Intinya, aku menanggapmu sebagai temanku. Jadi kau harus terima ini!”

Kibum menatapnya dalam setelah mendengar itu. Perlahan, tangannya terangkat untuk menerima itu. Kibum mengambilnya. Jessica langsung tersenyum kaku dan membuang muka. Sedangkan Kibum menghela nafas panjang.

“Dengan begini, semua coklat yang ku bawa sudah habis!” seru Jessica. Walaupun kenyataannya dia hanya membawa 2, untuk Tiffany dan Kibum.

Kibum menarik sudut bibirnya membentuk seringaian tipis dan kaku. “Oh, chukkae.”

“Kau tidak mau mencobanya, sunbae? Jessica membuat coklat-coklat itu semalaman,” celetuk Tiffany dari belakang Jessica. Jessica menepuk wajahnya dan meruntuki Tiffany.

Kibum melirik Jessica, “Jeongmal?”

Tiffany mengangguk mantap. “Ne. Jadi kau harus mencobanya!”

“T-tapi—“

“Ayolah, sunbae.. walaupun kau menolaknya kemarin, tapi tidak ada alasanmu untuk menolak coklat persahabatan itu, kan?”

Kibum menatap Tiffany dan Jessica bergantian. Dia tersenyum tipis. Tangannya membuka kotak itu dan mengambil salah satu coklat. Yap, dia memakannya.

“Eotteo? Enak, kan?” seru Tiffany.

Kibum hanya mengangguk. Jessica mengerjap melihatnya. Ia ingat sesuatu.

“Sunbae, bukannya kau tidak menyukai makanan manis?” tanya Jessica.

Kibum tersedak mendengarnya.

“Tidak ada salahnya kan mencoba makanan yang tidak kita suka?” kata Kibum –mencoba membela diri. Tiffany dan Jessica hanya mengangguk ragu.

“Semoga acara kelulusan besok lancar. Dan… Terimakasih atas coklatnya. Aku ada kelas setelah ini. Bye!”

Kibum pergi meninggalkan Jessica dan Tiffany yang masih ragu akan jawabannya. Baru beberapa langkah, dia berbalik –menatap Jessica.

“Dan lagi, aku tidak menolakmu, Jessica. Tapi tidak juga menerimamu. Aku tidak menjawab apapun,” kata Kibum.

Tiffany dan Jessica saling bertatapan lalu kembali menatap Kibum yang sudah mulai menjauh dari mereka.

“Sunbae, saranghae!” teriak Jessica.

===Chocolate, Love?===

Maaf kalo ceritanya aneh ^^v

maaf untuk komen yg kemarin-marin ga saya bales. lg ga mood .__.v *deepbow

Advertisements

One response to “Chocolate, Love? (Oneshoot)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s