I Choose To Love You (Chapter 4)

Author : Lee Hyura

Title : I Choose To Love You

Genre : Romance, Angst, Comedy

Rating : PG 13

Cast :

–          JYJ Jaejoong

–          SNSD Jessica

–          SNSD Sooyoung

–          JYJ Junsu

–          2NE1 Sandara

–          BB G-Dragon

PROLOG || CHAPTER 1 || CHAPTER 2 || CHAPTER 3 

===ichoosetoloveyou===

Setengah jam Jessica dibuat berkeliling COEX Mall  itu. Membosankan. Kata itu lah yang sedang dirasakan oleh Jessica. Ini tempat orang-orang melepaskan frutasi. Itulah yang dipikirkan Jessica. Tapi kedatangannya dengan Jaejoong malah membuat pemikiran Jessica mulai berubah.

Mall adalah tempat terburuk untuk melepaskan penat jika kau pergi bersama orang yang entah mulutnya masih berfungsi atau tidak.” –Jessica Jung’s quote. Baru saja ia dapatkan hari ini.

Jessica ingat terakhir kali Jaejoong berbicara. Itu saat mereka menutup pintu apartemen. Tepatnya bukan berbicara tapi menceramahi. Oke, setidaknya ia mengucapkan banyak kata jadi bisa dikatakan ia berbicara pada Jessica. Dan masalahnya, kejadian itu sudah 1 jam 30 menit yang lalu. Kaki Jessica mulai letih. Benar-benar memperburuk moodnya.

“Kau dimana?” tanya Jaejoong pada IPhonenya.

Entah sedang menelepon atau yang lain, Jessica tidak peduli. Yang pasti ia ingin mencari tempat untuk istirahat. Itu juga sudah cukup. Tapi sayang, sepertinya Jaejoong tidak peduli.

“Sebenarnya temanmu ada dimana?” tanya Jessica kesal. Ia sudah kehabisan kesabaran.

“Molla.”

Molla? Jessica menarik nafasnya. Saat ia melihat food court, ia berjalan dengan lemas ke arah sana lalu duduk di salah satu kursinya. Jessica meletakkan kepalanya dengan lunglai di atas meja. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Tapi saat wajah Jaejoong mensejajarinya, ia segera menegakkan tubuhnya.

“Apa maumu, Kim Jaejoong?” tanya Jessica kesal sambil menatap Jaejoong tajam.

Salah satu alis Jaejoong naik. “Maumu?” sahut Jaejoong.

Jessica mengerang kesal, “Aku mau pulang.”

“Eh, tunggu!” seru Jaejoong cepat. “Dia sudah sampai di parkiran.”

“Bohong!”

Jaejoong langsung memperlihatkan pesan terbaru dari Sandara di layar IPhonenya. Sandara? Sepertinya kenal, pikir Jessica sambil mengerjap saat melihat nama itu.

Jaejoong menarik IPhonenya lalu mengetik sesuatu, “Akan ku suruh mereka kesini.”

“Bagus. Karena aku mulai mengantuk,” sahut Jessica. Dan 2 detik kemudian, ia sudah terbawa ke dalam dunia mimpinya.

“Sebentar lagi mereka da—“

Jaejoong tidak melanjutkan kata-katanya saat sadar Jessica sudah tertidur. Ia memilih meletakkan kepalanya agar sejajar dengan Jessica. Jaejoong menyibak rambut-rambut yang menutupi wajah Jessica. Ia tersenyum tipis.

“Baru pertama kali aku merasa sangat penasaran,” gumamnya.

>>>

“Apa kami terlambat sekali? Jessica sampai tertidur seperti itu,” gumam Sandara –merasa bersalah.

Jaejoong melirik Jessica, “Jangan pikirkan dia.”

“Tapi, sungguh. Sepertinya lelah sekali,” lanjut Sandara.

“Sudah ku bilang, jangan pikirkan dia,” tekan Jaejoong sambil memutar matanya. “Mana Jiyong?”

“Dia? Sedang ke kamar mandi. Sebentar lagi juga datang.”

Jaejoong membalasnya dengan gumaman tak niat sambil mengutak-atik smartphonenya itu. Sandara menarik salah satu kursi di meja itu dan duduk. Ia cemburut melihat Jaejoong malah sibuk dengan benda itu. Sibuk dengan cewek-cewek tak jelas itu, mungkin?

“Jae~” panggil Sandara yang kini bersendagu.

Jaejoong menoleh, “Hm?”

“Bagaimana ya kalau ternyata Jessica itu wanita yang dijodohkan denganmu? Pasti keren!”

Jaejoong tertawa sinis, “Lucu! Tapi tak mungkin.” Ia menghela nafas. Tapi apa mungkin?

“Oh, Jwoisonghae, Jaejoong-ssi.”

Suara Jiyong membuat Jaejoong dan Sandara menoleh. Mereka hanya melempar senyum pada Jiyong. Jiyong melirik wanita yang tertidur di meja food court. Wajah yang tidak asing. Dia terkejut melihatnya.

“Jessica Jung…” gumamnya

Sandara menoleh saat mendengar gumaman halus Jiyong, “Huh?”

Seketika, Jiyong teringat dengan keadaan Jessica sekarang. Wanita yang sempat menjadi asistennya di butik, sedang kabur dari rumah. Sebelum kabur, dia meminta Jiyong agar menganggap mereka tidak pernah kenal, apapun yang terjadi. Jiyong tahu, keluarganya pasti akan mencari informasi dengannya kepada orang-orang yang Jessica kenal.

“Ah, aku hanya bingung. Apa jangan-jangan kalian sudah menunggu kami begitu lama?” tanya Jiyong.

“Tapi ku dengar gumamanmu tidak seperti bingung. Malah seperti kaget,” celetuk Sandara.

Jiyong terkekeh dan mengacak lembut rambut kekasihnya itu. “Sok tau!”

“Jadi, kita mau kemana dulu?” tanya Sandara lalu meniup keningnya yang tertutupi helai rambut yang berantakan akibat ulah tangan Jiyong tadi. Dan dengan kesal, ia melirik kekasihnya yang sedang memasang tatapan jahil padanya.

Jaejoong mengangkat tangannya, “Aku baru ingat. Aku pasti aku muntah darah jika terus-menerus berada di sekitar kalian. Mungkin lebih baik aku membawa Jessica pulang.”

“Hei, bagaimana dengan rencana shopping kita?” rengut Sandara.

“Disampingmu ada pakar fashion. Jadi untuk apa kau memohon padaku untuk menemanimu? Bodoh,” desis Jaejoong sambil berusaha membangunkan Jessica dengan mengguncang tubuh dan sesekali menepuk pipi wanita itu. Tapi wanita itu sama sekali tidak bereaksi

“Bukan begitu caranya,” seru Jiyong tiba-tiba.

Jaejoong menoleh bingung, “Apa? Cara apa?”

“Membangunkannya.”

Jiyong menarik nafas pendek lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Jessica –membisiki sesuatu. Tak lama membuka matanya. Pandangan tajamnya langsung tertuju pada Jiyong. Sedangan Jiyong hanya membalas dengan senyuman tipis.

“B-bagaimana kau—“ Sandara terdiam karena bingung.

“Bawa dia pulang. Biarkan Dara denganku,” kata Jiyong seraya menarik Sandara pergi.

“Bagaimana kau tahu cara membangunkannya?” tanya Sandara saat mereka sudah menjauh dari Jaejoong dan Jessica.

“Erm, kau ingat kalau dulu aku pernah mempunyai asisten yang selalu membuat darahku mendidih?” Jiyong berbalas bertanya.

Sandara terdiam. Tak lama dia mengerjapkan mata saat ia merasa berhasil menebak maksud Jiyong. Sandara mendengus pelan.

“Jangan bilang itu adalah Jessica!”

“Tapi itu memang dia,” sahut Jiyong.

Sandara kembali mendengus, “Tapi, bukannya asistenmu saat itu adalah mahasiswi dari major fashion design?”

Jiyong menggeleng pelan –frustasi. Ia sadar ia tidak bisa berbohong pada kekasihnya. Dia mendesah dan memilih untuk diam. Suasana hening menemani mereka.

“Kau bisa menyimpan rahasia?” tanya Jiyong akhirnya.

>>>

“Kau mau membawaku kemana lagi, tuan Kim?” tanya Jessica frustasi saat mereka memasuki sebuah supermarket.

Jaejoong mendesah sambil memutar matanya, “Apa kau tidak bisa lihat dimana kita?”

Jessica berhenti berjalan. Tapi Jaejoong tidak menyadarinya –atau tak memperdulikannya? Walaupun akhir Jaejoong berbalik badan dan menatap datar Jessica. Jessica langsung berkacak pinggang sambil memicingkan matanya –berusaha menebak apa yang direncanakan oleh majikannya itu.

“Ayo!” teriak Jaejoong.

Jessica mengibaskan tangannya seraya berbalik badan. Ia ingin pergi dari tempat itu dan kembali ke mobil. Setidaknya ia bisa melanjutkan tidurnya. Tapi seseorang menariknya seakan melarang dirinya pergi. Jessica tebak itu adalah Jaejoong.

“Mau kemana?” tanya Jaejoong.

Bingo!

“Mobil? Tidur,” jawab Jessica malas.

“Bodoh, bagaimana bisa kau masuk ke mobil jika kuncinya ada padaku?” desis Jaejoong.

“Pulang dengan bus.”

Jaejoong mendengus lalu menarik paksa wanita itu ke dalam supermarket. Tidak, Jessica tidak memberontak. Dia hanya diam seakan pasrah. Oh tidak, yang benar ialah ia sudah tak peduli lagi. Sekarang, sesuka Jaejoong. Dia sudah malas menolak atau apapun itu.

“Setelah ini, akan ada kursus masak singkat bersama Kim Jaejoong,” kata Jaejoong.

Jaejoong melirik Jessica sekilas. Wajah wanita itu terlihat shock. Tak lama, mata mereka bertemu. Pandangan Jessica benar-benar tajam.

>>>

Mobil Jiyong berhenti di halaman rumah Sandara. Jiyong melirik bingung Sandara yang masih sibuk tersenyum sendiri.

“Ada apa denganmu?” tanya Jiyong.

Sandara menoleh, “Hanya.. erm..”

“Tentang Jessica?” tebak Jiyong.

Sandara mengerjap dan tersenyum lebih lebar. “Kau tahu?”

“Terlihat jelas di wajahmu.”

“Lebih tentang Jaejoong sih sebenarnya.”

Jiyong memicingkan matanya kesal, “Apa?”

“Takdir itu lucu ya? Mereka berusaha menjauh tapi malah bersatu dengan sendirinya. Aku semakin penasaran dengan kisah mereka selanjutnya,” ujar Sandara sambil diselingi kikikan lembut.

Next day.

Hari minggu. Jaejoong pergi. Apartemen sepi. Lalu, bagaimana dengan Jessica? Yeoja itu menghabiskan waktunya di rumah Sooyoung di prefektur Gangnam. Bisa dibilang rumah itu adalah rumah pribadi Sooyoung yang hanya diketahui oleh sang pemilik rumah, pekerjanya dan Jessica saja. Jadi aman! Apartemen Jaejoong pun tidak terlalu jauh dari sana.

Tentu tidak terlalu lama karena Sooyoung selalu mengingatkan Jessica akan pekerjaannya. Mau tak mau, dia harus pulang saat hampir jam 6 sore. Awalnya Jessica memaksa Sooyoung agar mengantarkannya pulang. Tapi Sooyoung terus menolak. Akhirnya Jessica menyerah dan jalan kaki menuju apartemen Jaejoong.

Langkah Jessica terhenti saat ia melihat sosok Jaejoong yang duduk di kursi taman gedung apartemennya. Sesaat, ia merasa bingung. Ia ingin menghampiri Jaejoong. Namun dia juga ingin segera kembali ke apartemen. Akhirnya dia mengusap wajahnya frustasi sebelum menghampiri Jaejoong.

“Hei,” sapa Jessica pelan.

Jaejoong yang sedari tadi hanya menunduk, mengangkat wajahnya untuk menatap Jessica tanpa membalas sapaan Jessica. Seulas senyum tipis yang dipaksakan terukir di wajahnya. Wajahnya benar-benar terlihat frustasi.

“Aku tidak bermaksud mengganggu. Tapi..” Jessica diam lalu duduk disamping Jaejoong. “Kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Mungkin. Aku memang bukan pendengar yang baik. Tapi setidaknya bebanmu akan berkurang jika kau menceritakannya pada orang lain.”

Jaejoong mendesah pelan, “Akan lebih baik jika kau kembali ke apartemen dan bersikap seakan aku baik-baik saja.”

“Hei~”

“Aku hanya ingin sendiri.”

Jessica menghela nafas. Dia tidak berbicara apapun. Dia hanya diam. Harusnya ia menuruti perintah Jaejoong sebelum majikannya itu marah padanya. Tapi kakinya tidak mau bergerak.

Setelah menghela nafas berat beberapa kali, akhirnya Jessica memutuskan untuk memaksakan dirinya untuk pergi. Toh sebenarnya dia juga kedinginan akibat angin awal musim semi karena dia tidak memakai jaket atau pakaian tebal. Dia memang tidak menyangka akan diluar ruangan di saat matahari terbenam. Tapi niat untuk perginya ia kubur dalam-dalam saat ia merasakan pundaknya terasa berat karena kepala Jaejoong bersandar di pundaknya.

“Kenapa kehidupan harus selalu diselingi oleh masalah?” gumam Jaejoong.

Jessica menatap langit yang sudah gelap –menerawang. “Agar kehidupan ini tidak terasa bosan. Mungkin?”

Jaejoong terkekeh. “Konyol.”

“Sungguh! Coba kau pikirkan. Bagaimana jika kau tidak pernah menghadapi kesulitan. Kau selalu mendapatkan apa yang inginkan tanpa berusaha. Kehidupanmu akan terasa hambar, kan?” jelas Jessica mantap –seakan menegaskan kata-kata itu pada dirinya sendiri.

Hening. Jessica merasa bodoh karena kata-katanya tidak direspon oleh Jaejoong. Apa dia salah berkata? Atau dia berkata salah? Dia tidak tahu.

“Kau benar.”

Bibirnya melengkung ke atas saat mendengar gumaman halus Jaejoong. Sedetik kemudian, dia merasa seperti seseorang yang jenius.

“Tidak ku sangka kalau orang sepertimu bisa berpikir seperti itu,” tambah Jaejoong yang membuat wajah Jessica kembali masam.

“Apa maksudmu?”

“Orang terceroboh dan terbodoh yang pernah ku kenal, bisa berkata seperti itu? Itu seperti sebuah keajaiban dari surga,” celetuk Jaejoong.

Jessica mendesis kesal. Dia langsung bangkit dan mengarahkan telunjuknya pada Jaejoong yang terjatuh akibat kehilangan tempat sandaran tiba-tiba. Matanya disipitkan dan tajam tanda ia sedang amat kesal.

“Kau! Bukannya bersyukur dan berterima kasih padaku, malah menghinaku! Apa maumu?” omelnya kesal.

Jaejoong membenarkan posisinya seraya menyeringai tipis. Entah apa yang membuatnya ingin tertawa. Ekspresi kesal Jessica? Ia tidak tahu. Lalu ia mengerjap saat melihat tubuh Jessica menggigil terkena terpaan angin malam. Dia memutuskan untuk bangkit.

“Kau kedinginan?” tanya Jaejoong lembut.

Jessica langsung bersikap seakan dia baik-baik saja. “Kedinginan? Tentu saja tidak. Ini sama sekali tidak dingin!” wanita itu tertawa paksa.

Jaejoong segera menariknya ke dalam pelukannya. Memeluk Jessica dengan erat.

“Maaf. Tapi aku juga kedinginan. Kita berbagi, oke?” bisik Jaejoong.

Selanjutnya yang mereka sadari hanyalah tentang jantung mereka yang berdetak ribuan kali lebih cepat dari biasanya.

>>>

“Hei, Jae! Ada surat untukmu,” kata Jessica saat Jaejoong baru saja keluar dari kamarnya setelah mandi.

“Oh..” sahut Jaejoong seraya mengambil surat yang diberikan oleh Jessica.

Ia membuka amplop yang lumayan besar itu dan membacanya. Ada sekitar 3 kertas dan 2 foto didalamnya. Wajah Jaejoong menegang. Melihat itu, Jessica menyipitkan matanya curiga.

“Hei, gwencana?” tanya Jessica pelan.

“Aku baik-baik saja.”

“Apa isi surat itu?”

“Hanya hal yang tidak penting.”

“Oh..” Jessica mengangguk. Tidak penting? Oh…

Jaejoong tersenyum tipis lalu berbalik badan dan masuk ke kamarnya. Saat pintu tertutup, dia mendesah kasar.

Salah! Ini sangat salah! Ini tidak mungkin! Harusnya tidak seperti ini!

Jaejoong menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan kasar. Dia kesal. Semuanya berantakan. Tidak seharusnya ini terjadi. Tapi dia sudah jatuh. Dia tidak yakin kalau dia bisa merangkak keluar.

“Hah!”

Dia menghembuskan nafas berat dan kasar serta kencang saat ia teringat akan isi kertas yang ia genggam sekarang. Sudah ia duga dari awal. Semua memang sudah salah dari awal. Andai saja itu tak pernah terjadi, dia tidak akan sefrustasi ini. Tidak, semua baik-baik saja jika dia tidak melakukannya.

Banyak orang yang dapat ia salahkan. Tapi hati kecilnya tahu. Tak seorang pun yang bersalah.

===ichoosetoloveyou===

Allo~ saya kembali dengan ff ini :3

Ayo komen! Kalo komennya tidak memuaskan, lanjutan gak ada diposting lebih cepet. Sama kayak chapter ini yang sedikit terlambat karena komen di chapter sebelumnya kurang memuaskan~

Advertisements

30 responses to “I Choose To Love You (Chapter 4)

  1. Jae ada masalah apa ya kira kira -__- dia dijebak apa gemana.. Haha kasian jaepa kacau sama seperti aku yg sedang kacau!
    Seandainya hoya dan aku punya takdir seperti jaesica ini, betapa nikmatnya hidup /oot

    btw ada yg kurang disini…hmmm sooyoung ga ada kopelnya,trus jg jae ngajak sikha keluar alasannya gaje bgt, trus juga sikha kenapa ngantuk setiap saat dan dimanapun -__- oh ya! Jae kurang pesaing tuh buat dapetin hati sikha /kyk jae uda cinta aja ma jess/

    kurang puas komennya? Mian aku lage sibuk dgn segala kegalauanku fufufufu yg penting aku slalu komen xD
    DILANJUT YA! Ampe tamat

    • jiah dia curcol. kacau kenapa, onn? (º̩̩́_º̩̩̀) cerita napa kalo ada masalah ~
      pengen banget punya takdir kayak gitu -__-

      masa iya semuanya harus punya couple? -_-
      alasannya jaejoong tuh dijelasin nanti lah. emang sengaja ga dikasih tau sekarang
      pesaing apaan? saya emang ga mau buat cinta segitiga kok -_- dan lg kok kayak jae usah cinta aja sih? emang ya? ga nyadar. hehehe ._.v

  2. Masih ade misteri terselubung!!!
    Jangan2 foto itu foto jessica!
    Beuhhh jeje pasti udah fall in lovee ama pembantu cantik itu #nunjukjessicapakekaki hahaha

    Udah,, nikah dulu sana…. #ayamkuuuuu

  3. Jae~ ini misteri!
    menurutku… kayaknya itu foto dia sama cewek’.. yah~ dijebak cewek tepatnya. mungkin aja foto dia tidur sama cewek. Sunye mungkin–‘ pengin balas dendam! *soktaukumat
    tapi, yg tau hanya lah fara.. *gayanya

    dan….. ya ampun! gue kesel banget sama naga! kenapa gak umumin aja, kek. kalau jung jessica lagi ada sama dia, jae, dan dara!! rese!>.//<

  4. papu jee ketauan udah mulai naksir mamii jess! cieeeeeeeeee~ :3

    sudah ah commentnya~ ceritanya pendek!*ditabok

    ok. lanjut, faaarrrrrrr~ penasaran sangat >//< *1st comment tadi kepotong xD

  5. halo._. maap eon ntah kenapa saya kurang suka part ini ._. soalnya saya bacanya juga gak khitmat(?) sambil main games soalnya ~ XD muehehe
    di akhir cerita juga kaga ngerti ._. soalnya gak mengkhitmati XD
    lanjutin ya eon biar saya ngerti wkwk XD

  6. jae perasaan misterius amat deh-_______-
    suka banget yang moment ditaman itu:D:D
    itu sica dasar sleeping princess maunya tidurr mulu

    ini tbcnya disaat yang tepatnya itu ga banget
    lagi enak enak baca eh langsung tbc
    bikin galau>.<

    lanjut yah:D:D

  7. jujur eon bingung komen apa coz ff inibener2 gak terduga sama eon, eon gak nyangka Jessica akan ketahuan secepat ini..
    tapi gpp, lebih cepat lebih baik *eh*
    jujur aja eon tersinggung sama ucapan jae “orang terceroboh dan terbodoh yang pernah ku kenal bisa berkata seprti itu sebuah keajaiban dari surga” ngerasa jae lagi ngomong kayak gitu dengan tatapan tajam dan nunjuk2 wajah eon, eon merasa dilecehkan *apadah nih orang -.-*
    part ini terlalu singkat, gak puas bacanya *readers yang bawel*
    padahal eon tahu bikin ff itu gak gampang u,u
    ok saeng, cukup..

  8. annyong,eonnie!!!
    Salam kenal,aq ananda yesika apriyanti a.k.a jessy park*lebay…

    Lama bgt nunggu part 4 ini keluar.
    Huhhh,tp part 5-nya jgn kelewat lama yah eon.,
    Nnti aq lumutan nunggunya,hehehhe

  9. Woahahahaa si jae lg banyak problem nih-_-Coba mereka udah pacaran,kan sica bisa menghibur jae biar ga stress :*
    Apa ya isi surat yg diterima jeje?:/ penasaran to the max nih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s