Prekuel / Before Story of Cheonsa Team (Yesung-Heechul story)

Author : Lee Hyura

Genre : angst, family

Rating : PG 13

Cast :

  • SJ Heechul
  • SJ Yesung

 

Aku sengaja buat cerita ini karena banyak diantara kalian yang pasti penasaran sama cerita masa lalu para anggota cheonsa team kan? Dari masa kecil sampe akhirnya masuk KCIA. Pasti penasaran dong?

*reader : kagak~~~*

-__- yaudah baca gih ya~

====================================================================

 

“Lihat dia! Dia aneh, kan? Cuma berbicara pada kura-kura.”

 

“Dia pasti gila.”

 

“Aku takut!”

 

“Jangan dekat-dekat dengannya! Nanti kau akan gila sepertinya~”

 

Jongwoon menutup telinganya seraya menggeleng cepat. Ia berusaha keras untuk berpura-pura ia tidak mendengar perkataan anak-anak seumurannya yang sedang memandangnya yang asik menatap kura-kura di taman perumahan dari jauh. Dia lebih memilih bermain dengan kura-kura. Dia tidak pernah berbicara. Dia hanya mendengar segala cerita Jongwoon. Lalu saat Jongwoon selesai dengan ceritanya, kura-kura itu akan menyembulkan kepalanya ke atas permukaan air. Teman yang baik, bukan?

 

“Lagi-lagi mereka mengatakan aku gila. Aku harus bagaimana?” tanya Jongwoon menggumam sambil mengelus pinggiran kolam kecil itu dengan pasrah. “Aku ingin bermain dengan mereka. Tapi mereka tidak pernah sebaik dirimu, tuan kura-kura,” lanjutnya.

 

Kura-kura itu kembali menyembulkan kepalanya seakan ia mengerti dan ingin menghibur Jongwoon. Jongwoon tersenyum. Bibirnya bergerak seperti berkata ‘gomawo’.

 

“Akhir-akhir ini appa sering pulang dalam keadaan mabuk. Wajahnya selalu terlihat takut. Aku tidak tahu kenapa. Menurutmu bagaimana?” gumam Jongwoon lagi.

 

Kura-kura itu masih asik didalam air. Jongwoon tersenyum tipis.

 

“Oh! Ummaku juga sering memperlihatkan ekspresi takut saat ia tidak punya hal untuk dikerjakan. Kenapa orangtuaku seperti ketakutan, ya?” tambahnya.

 

>>>

 

Jongwoon membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Keadaan rumahnya benar-benar sepi. Ia membuka pintu dengan perlahan. Dia tidak mengerti. Apa yang terjadi? Rumahnya kosong dan berantakan. Tidak biasanya seperti ini.

 

Walaupun begitu, ia tidak terlalu memperdulikan kebingungannya. Dia tipe orang yang tidak mau pusing. Jadi dia tetap berjalan dengan riang menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak lalu mandi.

 

Glek!

 

Nafas tercekat. Seluruh tubuhnya serasa mati rasa. Sekitar 5 kaki didepannya, appa dan adiknya terbujur kaku dengan darah mengalir disekitar tubuhnya. Dia mundur beberapa langkah. Kakinya bergetar.

 

Ada apa ini?

 

Bocah berumur 6 tahun itu tidak tahun harus berbuat apa. Untuk menelan air liurnya pun ia tidak sanggup. Matanya hanya tertuju pada mayat appa dan adiknya itu. Waktu seakan berhenti. Saat ia sadar, ia mendengar teriak ummanya. Ia segera mencari tempat bersembunyi. Tapi dimana?

 

Dibawah kasur!

 

Itulah tempatnya bersembunyi setiap orangtua hendak memarahinya. Dan hebatnya, ia tidak pernah ketahuan. Dia merangkak masuk ke tempat gelap dan sempit itu.

 

Tak lama ia melihat 2 pasang kaki dan suara-suara yang tidak bisa ia mengerti. Otaknya tidak mau mengerti tentang apapun. Ia mulai melihat cipratan darah yang disusul dengan sosok ummanya yang jatuh tak berdaya. Nafasnya kembali tercekat. Bahkan ia tidak tahu kapan terakhir kali dia bernafas.

 

Sepasang kaki yang masih kokoh berdiri itu mulai merobohkan diri dengan perlahan. Sungguh, Jongwoon tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya melihat kaki itu tertekuk tanda orang itu sudah diposisi berlutut. Tubuh orang itu semakin turun. Keringat dingin mengalir semakin deras.

 

Oh tuhan! Wajahnya! Tuhan, selamatkan aku! Ku mohon!

 

Bocah itu meraung-raung memohon keselamatan dalam hati saat ia melihat wajah seorang pria asing. Entah karena orang itu yang tidak menyadari kehadiran Jongwoon atau memang tempat persembunyian Jongwoon yang terlalu gelap hingga bocah itu terselamatkan. Tidak ada yang tahu.

 

Pria itu hanya menyeringai sambil membisikkan sesuatu ditelinga wanita yang perutnya sudah dia ukir dengan indah menggunakan pisau dapur. Pikiran Jongwoon benar-benar kosong. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

 

>>>

 

“Maaf, nak. Kasus ditutup. Bukti benar-benar minim. Saksi pun hanya kau saja,” kata polisi itu dengan berat hati.

 

Jongwoon menatapnya kosong. Ia sadar ia memang tidak bisa mengandalkan siapapun. Sejak malam itu, hidupnya sudah hancur.

 

“Nak, kau ingin menemukan pembunuh keluargamu?” tanya seseorang yang asing baginya.

 

Jongwoon hanya mengangguk pelan dengan asal. Ia sama sekali tidak memikirkan kata-kata orang itu. Tapi saat orang asing itu hanya diam dan menatapnya penuh arti, ia memikirkan kata-kata itu dengan baik. Mungkin… itu adalah pilihan yang tepat. Siapa sangka jika anak polos berumur 6 tahun bisa mempunyai dendam?

 

“Aku mau,” kata Jongwoon mantap.

 

“Ikutlah aku ke KCIA.”

 

>>>

 

Heechul melempar kaca kecil di kamarnya dengan kesal. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kehidupannya. Apa yang salah dengan dirinya hingga ibunya begitu membencinya? Atau jangan-jangan.. ia bukan anak ibunya? Lalu, dia anak siapa?

 

Sore ini. Dia baru saja pulang dari rumah temannya. Tapi ibunya sudah menyambutnya dengan caci maki dan sumpah serapah. Bahkan Heechul tidak tahu apa salahnya. Ia hanya bermain seharian dirumah teman seperti yang diinginkan ibunya karena wanita itu tidak mau melihat wajahnya. Tidak hanya caci maki dan sumpah serapah, tubuhnya tidak luput dari hantaman ibunya.

 

Heechul membaringkan tubuhnya perlahan di kasurnya. Ia bersyukur ibunya sedang pergi jadi tidak mendengar suara kaca yang ia pecahkan. Ia benar-benar bersusah payah hanya untuk membaringkan tubuhnya. Lebam di tubuhnya itu benar-benar membuatnya serba salah. Menyebalkan!

 

“Aku harus merapikan pecahan itu segera,” gumamnya dengan nada putus asa dan menyesal. Ia menyesalkan karena sudah memecahkan kaca itu. Karena artinya, masalahnya pasti akan bertambah.

 

Cklek.

 

Suara pintu kamarnya yang terbuka terdengar seperti bel kedatangan malaikat kematian bagi Heechul. Ia baru saja membaringkan tubuhnya dan belum sempat membereskan pecahan-pecahan tersebut. Kiamat baginya!

 

“Heechul! Apa-apaaan ini?”

 

Suara ibunya menggelegar di kamar Heechul. Tubuh bocah berumur 7 tahun itu menegang. Ia tidak tahu harus seperti apa. Demi tuhan! Ia benar-benar menyesali hal yang sudah ia perbuat. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah melempar kaca itu dan kaca itu sudah pecah sekarang.

 

>>>

 

Heechul meringkuk di bangku taman. Malam itu sebenarnya dingin. Sangat dingin. Tapi Heechul sudah seperti mati rasa akan semuanya. Akan rasa dingin… dan rasa sakit. Mungkin anak seumurannya akan menangis jika mengalami hal yang sama dengannya. Tapi tidak dengannya. Sepertinya persediaan air matanya sudah habis sejak bertahun-tahun yang lalu.

 

Mungkin… hanya mungkin… rasa sakit dihatinya lah yang membuat fisiknya mati rasa. Perasaannya benar-benar kacau. Hatinya seperti dicabik-cabik. Ia tahu. Sangat tahu. Suatu hari nanti, ia pasti akan menghadapi kenyataan ini. Tapi dia tidak menyangka rasa sakitnya ini benar-benar sakit. Sakit yang mungkin saja sudah merengut nyawanya kalau saja Heechul sudah benar-benar menyerah soal kehidupannya.

 

“Sshh..”

 

Sedari tadi ia hanya menggumam tidak jelas. Ia pun tidak tahu apa yang ia gumamkan. Ia hanya ingin mulutnya tetap bergerak dengan harapan ia bisa melepas semua rasa sakitnya.

 

“Aku memang sangat membencimu! Kenapa kau harus hidup?! Kenapa kau tidak mati saja?!”

 

Kata-kata itu terngiang di otaknya. Di menggigit bibirnya kuat-kuat saat suara itu terasa semakin keras.

 

“Kenapa? Kau masih bertanya kenapa? Karena wajahmu itu terus saja mengingatkanku pada pria brengsek itu! Kau tahu itu?! Pria sialan, bedebah, brengsek!! Harusnya kau pergi saja dengannya! Kalian sama-sama sialan!”

 

Bohong jika Heechul menegaskan dirinya tidak menangis. Ia bahkan sebenarnya sedang menangis dalam hati. Matanya hanya tidak tahu harus berbuat apa agar mengeluarkan air mata. Hatinya benar-benar rapuh. Nafasnya pun masih memburu tanda emosinya masih bergejolak.

 

Suara mobil polisi yang mulai menjauh cukup membuat Heechul sedikit lebih tenang dan akhirnya air matanya baru mau mengalir dengan lancar seakan sudah tidak ada hari besok untuk menghabiskan air mata yang selama ini Heechul pendam.

 

“Nak, kau ingin ikut denganku?” tanya seseorang.

 

Cahaya taman yang remang-remang membuat wajah orang itu tidak terlalu jelas. Heechul hanya mendongak dan menatap intens orang itu. Ia tidak tahu harus apa.

 

“Jauh dari umma?” tanyanya dengan suara serak dan air matanya yang belum jua berhenti.

 

“Tentu saja. Kau ditempat yang aman dan damai. Jauh dari ummamu yang kini akan mendekam di penjara,” jawab orang mantap.

 

Heechul mengerjap, “Penjara?”

 

“Itu hukuman karena membuatmu seperti ini.”

 

“Apa umma baik-baik saja?”

 

“Dia baik-baik saja. Dia hanya sedang mendapat hukuman. Sama seperti hukuman biasanya.”

 

Heechul menggigit bibirnya. Ia teringat bagaimana ibunya memberikannya hukuman. Rasa takut menyelimuti hatinya. Walaupun ibunya jahat padanya, ia tetap tak ingin ibunya merasakan apa yang selama ini ia rasakan.

 

“Jangan! Nanti umma kesakitan. Kayak aku.” Heechul mendesak suaranya untuk keluar tapi suaranya terdengar sangat serak dan pelan.

 

“Ikut denganku dan kau akan menemukan kedamaian,” tekan orang itu tanpa memikirkan perkataan Heechul.

 

Mendengar kata ‘kedamaian’, mata Heechul segera berbinar. Dia mengangguk cepat sambil mengelap air matanya lalu menggenggam tangan orang itu sambil menggantungkan sisa harapan hidupnya.

 

>>>

 

“Itu siapa, Kim ahjussi?” tanya Heechul pelan.

 

Professor Kim menarik lembut tangan Heechul untuk menghampiri anak kecil yang tadi ditunjuk oleh Heechul. Bocah yang lebih muda dari Heechul itu hanya diam sambil menempelkan wajah dan telapak tangannya di kaca aquarium milik KCIA.

 

“Annyeong, Jongwoon-ah~” sapa professor Kim ramah.

 

Heechul melepaskan genggaman pria yang sudah berhasil membujuknya untuk dilindungi oleh KCIA lalu bersembunyi dibelakang pria itu. Ia selalu takut menghadapi orang-orang baru. Biasanya, professor Kim selalu menggendong Heechul lalu Heechul memendam wajahnya dibahu professor Kim setiap mereka diluar laboratorium.

 

“Jongwoon-ah~” sapa professor Kim yang gagal mengambil perhatian anak kecil itu.

 

Akhirnya Jongwoon menoleh. Ia melirik Heechul yang sedang meliriknya ragu lalu mendongak agar dapat menatap wajah professor Kim. Tak lama, ia kembali ke posisinya semula –wajah dan telapak tangan menempel di permukaan kaca aquarium untuk memperhatikan makhluk hidup di dalam aquarium itu.

 

8 years later.

 

“Jongwoon, apa misimu jika kau sudah lulus dari training ini?” tanya salah satu pelatihnya di sekolah militer khusus.

 

Jongwoon yang kini menginjak umur 14 tahun itu terdiam sesaat lalu menjawab, “Membunuh pembunuh keluargaku.”

 

“Hanya itu?” tanya pelatih lagi.

 

“Dan menguak alasan kematian keluargaku.” Jongwoon mengangguk mantap.

 

“Tapi kau tidak boleh mencampurkan persoalan negara dengan pribadi jika kau ingin menjadi anggota KCIA.”

 

Jongwoon mengangkat bahunya seakan tak peduli. “Aku fokus pada misi itu. Itulah yang membuatku selalu ingin lebih baik lagi dan lagi.”

 

Pelatih itu menghela nafas berat lalu menoleh ke arah Heechul yang sibuk menatap keluar jendela. “Bagaimana denganmu, Heechul?”

 

“Molla,” jawabnya pendek.

 

“Molla?”

 

“Aku hanya ingin sehebat professor Kim. Bahkan lebih hebat. Aku ingin membanggakannya,” ujar Heechul.

 

Dari luar ruangan, professor Kim tersenyum lega melihat perkembangan 2 remaja itu. Benar-benar berbeda. Jongwoon yang tidak peduli dengan apapun berubah menjadi orang yang agresif soal rencananya. Heechul yang penakut berubah menjadi orang yang cuek dan friendly, tapi tidak ramah.

 

Itu semua karena Jongwoon yang selalu dimotivasi oleh agen-agen spesial KCIA dan Heechul yang selalu dititipkan kepada kumpulan agen-agen yang sedang tidak bertugas. Dan kini, mereka tumbuh sebagai seseorang yang bisa diyakini pantas menjadi agen KCIA. Instingnya untuk membawa mereka kesini adalah pilihan yang tepat. Instingnya tak pernah salah.

 

4 years later.

 

Jongwoon atau yang kini dipanggil Yesung sejak diresmikan menjadi agen spesial itu memasuki gedung KCIA dengan pasti. Dia menepuk bahu Heechul yang sibuk menggoda salah satu agen senior. Heechul memutar kepalanya dan tersenyum pada sahabatnya sejak 10 tahun terakhir ini.

 

“Oh, kau! Bagaimana dengan kasus kali ini?” tanya Heechul –berbasa-basi.

 

“Membosankan. Hanya mengejar seorang teroris. Tidak ada diantara mereka yang merupakan pembunuh keluargaku,” jawab Yesung.

 

Heechul mengernyit, “Memang kau masih ingat?”

 

“Wajah tegang dan pandangan dingin malam itu tidak pernah bisa aku lupakan.”

 

>>>

 

“Bagaimana jika kita membentuk tim?” usul Heechul saat mereka sedang menghabiskan makan siang mereka bersama professor Kim yang baru saja pulang dari Amerika.

 

“Kita bertiga?” bingung professor Kim.

 

“Tentu saja! Pasti akan keren!” seru Heechul.

 

“Aku setuju saja,” tanggap Yesung.

 

“Akan lebih seru jika kalian mencari sendiri anggota tim kalian, bukan dari agen senior,” ujar professor Kim.

 

“Ide bagus!” seru Yesung dan Heechul bersamaan.

 

================================================================

 

Selanjutnya nih cerita cewek-cewek Amerika; Jessica dan Tiffany.

 

Preview :

 

Yesung dan Heechul berhenti berlari. Sekitar 13 meter di hadapan mereka, target mereka tersungkur. Yesung memutar kepalanya –mencari penyebab targetnya bisa pingsan dengan luka dikepala itu. Ia melihat 2 gadis yang berjarak sekitar 15 kaki arah barat daya dari tempatnya berdiri yang artinya beda sekitar 30 meter lebih dari tempat targetnya tersungkur. Hanya mereka saja yang disana selain Yesung, Heechul dan target agen KCIA itu.

Advertisements

7 responses to “Prekuel / Before Story of Cheonsa Team (Yesung-Heechul story)

  1. Waw waw.. Poor Heechul T____T
    kalo gue jadi Yesung gimana tuh ya.. bocah 6 tahun ngeliat maknya mati didepan mata kepala sendiri OMG
    eh itu nanti cuman JeTi doang.. truss Victoria pegimane??

  2. Kasian yesung oppa sma heechul oppa 😦
    Itu yang JETI bersambung y ?

    Untung ada profesor kim kalau ngak ada gmn y keadaan heechul oppa sma yesung oppa sekarang 😦

  3. astaga *shock*
    kasian banget ecung n chulie u,u
    untung ecung gak depresi ngeliat keluarganya dibunuh di depan matanya..
    gile, emaknya chulie sadis banget, untung eomma eon gak gitu 😀
    ternyata ecung aneh dari kecil 😛
    chulie masuk KCIA supaya dia aman aja? kayaknya dia gak punya obsesi yang besar kayak ecung ya,,

    pokoknya keren lah~
    daebak^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s