Before Story of 천사 Team (Jessica-Tiffany’s Story)

Author : Lee Hyura

Genre : Angst, family

Rating : PG 13 – PG 15

Cast :

–          SNSD Jessica

–          SNSD Tiffany

–          SJ Heechul

–          SJ Yesung

 

Maaf ya sebelumnya. Disini beberapa dialog inggris. Jadi disarankan untuk menyediakan kamus bagi yang belum fasih inggris ._.v

Dan maaf akan typo. Hehe /ditendang

 

==============================================================

 

Mum? It’s you?” tanya bocah berumur 11 tahun itu saat mendengar suara pintu rumahnya terbuka. Tapi tidak ada yang menjawab. Hanya suara desahan yang ia dengar.

 

Stephanie keluar dari kamarnya saat mendengar pintu kamar ibunya tertutup. Pandangannya menyusuri ruang tamunya yang tidak begitu luas. Ia menemukan sebuah tas kerja. Ia tahu, itu pasti punya pelanggan ibunya.

 

Ibunya bekerja sebagai seorang wanita malam yang menjual tubuhnya untuk memenuhi hormon para lelaki. Tidak jarang juga wanita berjiwa lesbian mencarinya. Tapi Stephanie tidak keberatan. Selama orang itu membawa sesuatu yang bisa ia baca, itu bukan masalah.

 

Apa saja ia baca. Buku, komik, novel, bahkan proposal perusahaan asing pun ia baca. Dari sana, banyak yang ia ketahui. Tapi satu hal yang paling ia sukai; bahasa. Pelanggan ibunya tidak hanya warga negara Amerika, tapi juga negara lain. Membuatnya ingin mempelajari bahasa mereka. Bahkan diumur 11 tahun, ia sudah fasih berbahasa Spanyol, Prancis, Jerman dan Jepang. Selanjutnya, ia menargetkan bahasa China.

 

>>>

 

Mum!” teriak Stephanie histeris saat beberapa wanita mendorong ibunya dengan kasar.

 

Para wanita itu mengamuk karena suami atau pacarnya sering berhubungan dengan ibunya. Tapi apa ibunya peduli? Tidak. Lihat saja, wajahnya tersungging seringaian dingin.

 

You! Do not ever try to get my boy again, you old woman!” teriak salah satu wanita sebelum meninggalkan ibunya yang terluka parah.

 

Stephanie yang sedari tadi meringkuk di sudut ruangan pun akhirnya mencoba merangkak mendekati ibunya itu. Dia mengangkat tangannya untuk menyentuh ibunya. Tapi tangannya ditepis dengan kasar.

 

Go to your room! Now!” bentak ibunya.

 

Stephanie menggeleng, “But… your—“

 

Go away!” teriak ibunya. “All of this is because of you! You little brat! Bastard!”

 

Stephanie menjauh. Tubuh bergemetar. “Sorry… sorry…

 

“Kau bukan anakku! Tapi kenapa kau harus jadi tanggunganku? Kau menyusahkan! Kau sialan!” desis ibunya. “Aku kira jika aku memungut anak, nasibku akan semakin baik. Aku salah! Lebih baik kau pergi sebelum nasibku lebih sial lagi!”

 

Stephanie berlari ke kamarnya. Mengunci dirinya seharian. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa menangis.

 

Bukan anak mommy? Lalu aku anak siapa?

 

>>>

 

Pagi-pagi sekali, Stephanie keluar dari rumah yang selama ini menjadi tempatnya berlindung dengan sebuah tas kecil berisi baju dan makanan secukupnya. Dia tidak tahu harus kemana. Dia hanya ingin jauh-jauh dari ibunya, sesuai dengan permintaan ibunya itu. Dengan begitu, ia sudah berhasil memberikan sedikit kebahagiaan untuk ibunya.

 

1 jam berjalan, ia merasa sangat lelah. Ia ingin tidur karena semalam ia tidak bisa tidur. Melihat sebuah kardus besar yang terbuka, ia masuk ke dalamnya. Dia sengaja menutup kardus itu untuk menghindari terik matahari. Dia terlelap dengan mudahnya.

 

>>>

 

W-where am i?” gumamnya takut saat menyadari dirinya ditempat yang gelap.

 

Ia merangkak mencari cela untuk mengetahui tempatnya sekarang. Dia melihat sebuah tangga kecil. Dia menaiki tangga itu. Sebuah jendela, ia melihat itu! Ia segera berlari dan melihat keluar.

 

What’s that? White?, pikirnya bingung. Setelah melirik ke arah bagian bawah benda itu, ia sadar ternyata benda berwarna putih itu adalah awan. Dia berada di pesawat!

 

>>>

 

Matanya terbuka perlahan karena suara bising. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Yang pasti 4 orang pria sedang meributkan sesuatu. Tapi saat melihat dirinya bangun, mereka berempat segera bertanya dengan bahasa alien yang membuat Stephanie mual. Sampai akhirnya seorang dari mereka mengajaknya berbicara dengan bahasa inggris yang agak berantakan. Stephanie tersenyum geli dan menjawab semua pertanyaan mereka.

 

Kini, dia diantarkan ke sebuah panti asuhan. Matanya berbinar melihat banyak anak-anak seumuran dengannya. Tapi anak-anak itu menjauh darinya karena tak ada seorang pun yang mengerti bahasanya. Sebenarnya.. dia ada dimana?

 

>>>

 

Sooyeon benar-benar tidak menyangka appanya akan semarah ini. Dia hanya berusaha jujur kalau semua toko yang menjual soju mengusirnya. Gadis 12 tahun itu dilarang membeli soju. Semua pemilik toko itu hanya memberikan Sooyeon 1-4 kali kesempatan. Tidak lebih. Sooyeon sudah menyusuri seluruh tempat di prefektur itu. Tapi kenyataannya tetap sama.

 

“Alasan! Kau saja yang tolol!” bentak appanya sambil melayangkan tamparan sekali lagi. Kali itu lebih keras hingga tubuh Sooyeon terhuyung jatuh dan menabrak dinding.

 

Pipinya sudah merah. Ujung bibirnya robek. Rasanya tulangnya pun sudah retak.

 

Appanya menarik rambut Sooyeon dan menatap anak sulungnya itu tajam.

 

“Dapatkan aku soju. Atau..”

 

Sooyeon tidak mau mendengar lanjutannya. Sungguh! Dia tidak mau! Tapi bibirnya tidak bisa bergerak selain untuk bergetar.

 

“Soojung lah yang melakukannya!” lanjut appanya itu.

 

“Demi tuhan! Jangan lakukan itu, appa!” teriak Sooyeon memohon.

 

Tuan Jung menarik rambut Sooyeon dengan paksa agar gadis itu bangkit lalu mendorongnya keluar rumah.

 

“Kalau begitu, berusahalah untuk dapatkan soju untukku!” teriak tuan Jung.

 

Sooyeon bangkit dengan kaki bergemetar. Dia mengangguk lemas. Dalam hati, dia tetap bersyukur karena adiknya masih berada di rumah tetangga mereka. Sooyeon memang selalu menyuruh Soojung untuk tetap dirumah itu setiap appa mereka pulang. Biarkan semuanya ditangani olehnya seorang tanpa bantuan Soojung sedikitpun. Selama adiknya selamat, dia juga merasa selamat.

 

“Appamu itu keterlaluan sekali, Sooyeon-ah~ kenapa tidak kabur saja? Aku akan membantumu untuk kabur dari pria biadab itu!” komentar penjaga kasir di salah satu toko soju di kota Busan itu.

 

Sooyeon menggeleng, “Appa tidak biadab. Dia hanya butuh pelampiasan karena kematian umma. Saat umma hidup, appa sangat menyayangiku. Dia.. dia.. selalu mengajakku bermain baseball bersama di hari minggu. Bahkan seluruh orang berkata.. mereka.. berkata..”

 

Sooyeon menutup mulutnya untuk menahan isakannya. Ini terlalu menyesakkan. Setelah mengambil nafas beberapa kali, ia melanjutkan. “Mereka mengatakan appa sangat menyayangiku. Mereka iri padaku karena punya appa sehebat dirinya. Soojung pun iri padaku karena appa lebih perhatian padaku. Jadi aku yakin. Saat appa tenang nanti, appa akan kembali seperti dulu. Kami akan jadi keluarga paling bahagia walaupun tanpa kehadiran umma.”

 

Tapi kapan? Hati Sooyeon pun meragu.

 

Penjaga kasir itu mendecak lirih dan memberikan 3 botol soju pada Sooyeon.

 

>>>

 

“Kau! Sialan! Sialan! Mana uangmu, sialan? Berikan padaku!” teriak tuan Jung sambil menendang anak sulungnya itu seperti orang kesetanan.

 

“Appa!” teriak Soojung.

 

Sooyeon ingin berteriak agar Soojung pergi jauh dari sana. Tapi ia benar-benar kehilangan tenaga akibat tendang bertubi-tubi.

 

Appanya menghampiri Soojung dengan langkah goyah akibat mabuk. Soojung mengepalkan tangannya. Dia takut. Tapi dia benci melihat kakaknya selalu terluka tiap hari.

 

“Kau punya uang, kan, sayang? Berikan padaku… pasti kakakmu yang sialan itu memberikan uangnya padamu, kan? Iya, kan?” desak appanya lalu mencengkram bahu Soojung. “Iya, kan?! Katakan padaku! Dimana uangnya?!”

 

Soojung menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia melirik Sooyeon yang sedang berusaha bangkit. Jessie.. mianhae… aku tidak bisa menuruti permintaanmu, kakak. Untuk malam ini saja. Biarkan aku menolongmu…

 

“Uang? Aku tidak punya. Tapi jika kau ingin uang, kau harus bekerja, pria tua! Jangan hanya mengandalkan Jessie!” bentak Soojung.

 

Soojung-ah!, Sooyeon berteriak histeris saat mendengar adiknya itu berani mengatakan itu. Tapi suaranya tidak mau keluar.

 

“Kau…” suara appanya terdengan pelan dan dalam. “Sialan!!”

 

Detik selanjutnya sukses membuat Sooyeon seakan kehilangan jiwanya. Ia melihat adiknya terkena hantaman dari tuan Jung. Tinjuan, tendangan, lemparan dan lain-lainnya. Bahkan Sooyeon merasa ditempat yang tidak ada oksigen sama sekali.

 

Setelah beberapa menit kemudian, tepat saat tongkat pemukul baseball menghantam kepalanya, Soojung kehilangan kesadaran. Darah segar mengalir dari seluruh tubuhnya, terutama bagian yang terkena hantaman pemukul baseball.

 

“Cih! Membosankan!” desis tuan Jung sambil membuang pemukul baseball itu lalu pergi keluar dari rumah.

 

Sooyeon merangkak perlahan menghampiri adiknya itu. Dia mengguncang lembut Soojung sambil memanggil namanya, berharap adiknya hanya tertidur sebentar saja lalu ia terbangun dan memanggilnya ‘Jessie’ lagi. Tapi harapannya hancur saat dia tidak bisa merasakan detak jantung Soojung sedikitpun.

 

“Soojung-ah~ bangun! Panggil aku Jessie! Jessie is here, dear! WAKE UP!!”

 

>>>

 

Malam ini, malam terburuk yang bahkan tidak pernah Sooyeon harapkan sebelumnya. Malam ini, ia kehilangan hidupnya. Ia bahkan sudah tidak tahu apa yang bisa ia lakukan selanjutnya. Seluruh tubuhnya sudah mati rasa. Ia hanya diam sambil menatap pantulan pemandangan kota di permukaan air sungai Han.

 

Otaknya menolak untuk berpikir. Tubuhnya menolak untuk bekerja. Matanya kering. Air matanya sudah terkuras habis. Ia tidak lebih dari sebuah mayat hidup yang memeluk sebuah boneka beruang berwarna coklat milik Soojung. Bahkan ia tidak tahu sejak kapan ia ada di sana. Yang pasti ia sudah duduk disana selama berjam-jam hingga kini matahari bersinar sangat terik seakan mengejek gadis itu.

 

Dan akhirnya, untuk mungkin pertama kalinya di dunia barunya, ia menarik nafas dalam keadaan sadar. Dia bangkit dan berjalan tertatih menjauhi kawasan pinggir sungai itu. Dalam hatinya, ia sibuk berdoa bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Ia akan segera terbangun. Pasti! Itu pasti!

 

Tapi harapan hanyalah harapan. Tuhan sudah tidak peduli dengannya. Tuhan sudah membuangnya. Tuhan tidak membutuhkannya lagi. Itulah yang ia pikirkan. Tapi jika ia masih bisa berharap, ia akan menggantungkan seluruh harapannya pada doa itu.

 

Gadis berumur 12 tahun menyusuri jalanan di kota yang baru saja ia tapaki semalam. Ia kabur dari rumah dan menumpang di truk bak terbuka. Kini dia berada di Seoul, ibu kota negara Korea. Ia terus berjalan hingga matahari kembali menghilang. Ia tertidur begitu saja di depan sebuah gerbang. Tertidur dengan pulasnya sebagai balas dendam karena hampir 40 jam ia tidak tidur.

 

>>>

 

Sooyeon terbangun dikasur yang nyaman dan ruangan yang asing. Dia bahkan tidak ingat apa-apa. Dia tidak bisa mengingat apapun. Dia tidak mengerti akan apa yang terjadi dengannya. Bahkan saat seorang wanita berwajah keibuan—membuat Sooyeon merindukan seseorang yang tidak bisa ia ingat—bertanya tentang identitasnya, Sooyeon tidak bisa menjawab apapun.

 

Akhirnya wanita itu meninggalkan Sooyeon sendiri. Dia hanya diam sambil memeluk boneka beruang coklat itu. Seperti ada sesuatu yang membuat dirinya tidak bisa melepaskan pelukannya dari boneka itu. Sesuatu yang membuat dirinya kehilangan setengah jiwanya jika ia melepaskan boneka itu.

 

Seorang gadis sepantarnya menghampirinya dan duduk disampingnya. “Hei, are you okay? Oh I know you wouldn’t understand my words. But—“

 

Sooyeon mengangkat tangannya agar gadis itu berhenti berbicara. Tidak, gadis itu salah paham! Sooyeon mengerti bahasanya. Tapi Sooyeon tidak tahu kenapa bisa ia mengerti bahasa gadis itu.

 

I understand your words as well. Seriously,” yakin Sooyeon.

 

Really? Ah, that’s a relief!” soraknya. “Oh, I’m Stephanie. You?”

 

Sooyeon menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu, tidak ingat.

 

Oh, okay.. no problem,” gumam Stephanie sambil melirik boneka yang dipeluk Sooyeon. “Urm, cute doll.”

 

Thanks.”

 

Stephanie melirik kalung dileher Sooyeon. Kalung itu tertulis ‘Jessie’. Itu adalah hadiah dari Soojung, hasil rengekan semalam pada ummanya. Bertuliskan nama panggilan Soojung untuk Sooyeon. Sesuai dengan nama asli Sooyeon sebelum tinggal di Korea dan orang-orang mengatakan nama Jessica dan Krystal adalah nama yang aneh.

 

“Jessie? Cute name! I call you Jessie. Have a problem?” kata Stephanie ragu.

 

Sooyeon menggeleng cepat, “Nope. Go ahead. And I call you Ppani. Problem?” Stephanie menggeleng girang.

 

3 years later.

 

Kini, seorang Jessie tumbuh menjadi gadis yang tegar yang selalu berada disamping Stephanie. Tidak ada seorang pun yang berani mengganggu Stephanie jika tidak mau berhadapan dengan Jessie.

 

Jessie merentangkan tangannya dan menarik nafas dalam-dalam. Ia menikmati udara pagi yang segar sekaligus menganalisisnya.

 

“Angin bergerak sekitar 50 meter per jam dari tenggara menuju barat laut. Suhu sekitar 23 celcius. Mau jalan-jalan?” seru Jessie.

 

Sampai saat ini, Stephanie masih belum mengerti kenapa Jessie bisa menganalisis semua itu dengan mudahnya. Tapi menyenangkan saat mendengar analisis yang tak terduga dari mulut Jessie. Gadis itu mengangguk setuju.

 

Mereka melewati jalanan yang lumayan sepi. Damai. Tapi seorang pria mengacau semuanya. Dia berlari dengan tergesa-gesa. Dibelakangnya, sekitar 30 meter, 2 orang berpakaian resmi mengejarnya. Tak jauh dari kaki Jessie, ada batu yang berukuran sedang.

 

Jessie memungut batu itu. Ia yakin orang itu adalah orang jahat. Dia menganalisis keadaan sekitar sesaat. Jarak, kecepatan angin, arah angin, suhu dan kelembaban mempengaruhi lemparannya. Setelah yakin, ia melempar batu itu. KENA! Tepat di kepalanya! Tepat di daerah yang diprediksi oleh Jessie.

 

2 orang yang mengejar orang itu terlihat bingung dan menatap Jessie dan Stephanie bingung. Jarak Jessie dan orang itu cukup jauh. Tapi Jessie berhasil mengenai kepala orang itu. Bahkan hingga pingsan!

 

2 orang itu melupakan masalah Jessie sejenak dan sibuk dengan target itu. Jessie dan Stephanie menghampiri mereka.

 

“Apa dia sudah mati?” tanya salah seorang dari mereka, sepertinya yang paling tua namun berwajah cukup cantik.

 

Stephanie berlutut disamping orang itu dan mulai memeriksa orang itu. Dia tersenyum tipis.

 

“Sepertinya dia berpura-pura pingsan,” ujar Stephanie.

 

Terlihat sekali kalau nafas orang itu tercekat.

 

>>>

 

“Terima kasih atas bantuan kalian,” kata agen spesial, Yesung.

 

“Sama-sama,” jawab Stephanie. Sedang Jessie tidak peduli dan memilih untuk melempar batu ke dalam danau.

 

“Kau ingat rencana kita?” bisik Heechul.

 

Yesung mengerutkan kening, “Maksudmu..”

 

“Mereka cocok,” seru Heechul berbisik. Dia berdeham dan tersenyum pada Stephanie. “Kalian mau bergabung dengan kami? Tentu saja tidak seenaknya. Kalian akan mengikuti training singkat. Tenang saja. Itu gratis! Lalu kalian bekerja untuk KCIA. Gajinya sangat besar.”

 

Jessie terdiam sedangkan Stephanie bersiap untuk menggeleng.

 

“Aku terima,” kata Jessie tiba-tiba.

 

“Eh?” Stephanie menoleh. “Apa?”

 

“Hong ahjumma dan Park ahjumma sedang pusing mencari dana untuk membiayai anak-anak panti yang semakin lama semakin banyak. Mungkin kita bisa membalas budi dengan memberikan mereka uang,” jelas Jessie.

 

Stephanie terdiam sesaat lalu mengangguk, “Kami setuju.”

 

Heechul dan Yesung tersenyum.

 

===========================================================

 

Yang penasaran kenapa Jessica bisa amnesia, nanti bakal dijelasin di cheonsa team chapter 4 😀

Selanjutnya adalah kisah Victoria.

 

Preview :

 

Dia tidak menyangka akan seperti ini. Dia tidak menyangka takdir benar-benar mempermainkannya. Kenyataan benar-benar sakit.

Malam itu, dia memutuskan untuk pergi. Agak melelahkan karena menghipnotis banyak anak buah papanya agar aksi kaburnya berjalan dengan sempurna.

Tapi kini semuanya terbayarkan. Semua indah di negara ini. Semua memang indah, sebelum sebuah kasus terjadi.

Advertisements

6 responses to “Before Story of 천사 Team (Jessica-Tiffany’s Story)

  1. oahhh.. OMG!! kau.. aish gue males bilang tapi harus bilang kalau lu Jenius.. ya Jenius banget kalau urusan beginian…

    anjirrr bapaknya Jessie abis bunuh krystal seenaknya bilang “cih membosankan” anjirrr gue ketawa pas baca itu ㅋㅋㅋㅋ

    next Vic yah.. berarti si kyuyun juga ada dong yah :3

    • weh~ gue emang jenius tau. ga usah malu-malu untuk ngakuinya lah :3 tapi urusan apaan? ambigu -_-
      eh masa ya? *penyakit kambuh* ga inget kalo ada dialog itu -_-
      iya cuma tim intinya doang. bakal berhenti di kyuhyun lah :3

  2. oh my god….cerita sooyeon bikin nyesek banget!!!ok,kembali penasaran tingkat tinggi nunggu penjelasan sooyeon bisa amnesia!!!part 4 lanjutkan!!! hehehe

  3. jessie keren abis sumpah omooo
    kok bisa ngitung ngitung angin sih?? waw keren

    tiffany u.u
    miris banget nasibmu

    penasaran sekelam apa masa lalu kyu dan vict.
    apa lebih kelam dari jetiyechul??

    update soon yah hehe

  4. DAEBAKKKKK!!!i
    ibu nya tiffany sama ja kyk bapaknya jessica jahat
    unnie pokoknya unnie haus cepet update yang vict ma kyu aku penasaran banget soalnya

    update soon

  5. jalan cerita Tiffany agak mirip Heechul ya? emaknya pada sadis gitu..
    enak banget jadi Tiffany, naik pesawat ke korea gak bayar eon juga mau *.* #komen ngaco

    satu kata buat part-nya Sica, NYESEK!!
    apalagi pas Sica nyeritain tentang keluarganya sebelum ditinggal eommanya, eon nangis T.T
    gila banget tuh tua ban*ka, jahat banget, ingetlah mereka tuh anak loe *emosi*
    punya bapak kayak gitu matiin aja Sica eonni*bawain golok*
    eon pernah baca ff saudara eon, kalau terlalu shock bisa menyebabkan amnesia sesaat. gak tahu itu bener atau cuma ngarang aja..

    pokoknya ffmu keren banget saeng..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s