I Choose To Love You (Chapter 5)

Author : Lee Hyura

Title : I Choose To Love You

Genre : Romance, Angst, Comedy

Rating : PG 13

Cast :

–          SNSD Jessica

–          SNSD Sooyoung

–          JYJ Jaejoong

–          JYJ Junsu

–          2NE1 Sandara

–          BB G-Dragon

 

=== I Choose To Love You ===

 

“Yo,” sapa Jessica saat Jaejoong keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Tidak biasanya pria itu sudah rapi disaat matahari saja belum sempurna keluar dari tempat persembunyiannya.

 

Jaejoong menatap Jessica datar, “Apa seperti cara menyapa majikanmu? Sopanlah!”

 

“Eh?” Jessica mengerjap, “Ne?”

 

“Sudahlah. Lupakan!”

 

Jaejoong berjalan keluar rumah dengan sedikit membanting pintu depan. Jessica sedikit terkejut karenanya. Ia tidak tahu apa salahnya. Tapi sepertinya ada sesuatu yang membuat pria itu benar-benar marah. Tapi apa? Bukannya semalam semua baik-baik saja? Walaupun Jaejoong sempat terlihat frustasi, tapi Jessica sudah berhasil membuatnya tertawa kembali.

 

>>>

 

“Berhentilah menghubunginya. Dia sedang sibuk!” omel Sandara sambil memutuskan telepon yang masuk ke IPhone milik Jaejoong.

 

Tak lama, benda canggih itu kembali berdering namun dengan penelepon yang berbeda. Sandara kembali memarahinya. Kali ini bukan karena Sandara yang menginginkan untuk melakukan hal itu. Tapi Jaejoong sendirilah yang meminta Sandara melakukan itu sementara dirinya menyibukkan diri dengan pekerjaan. Aneh, bukan?

 

“Berhentilah menghubunginya! Dia sibuk! Mengerti?!” kali ini Sandara membentak.

 

“Dia? Siapa?” terdengar suara yang tak asing baginya.

 

Sandara mengerjap kaget, “Jiyong?!”

 

Hening sejenak. Sepertinya pacarnya itu menjauhkan teleponnya dari telinganya sejenak saat Sandara berteriak tadi. Sandara benar-benar tidak sadar kalau ternyata miliknya sendirilah yang berdering karena dari pagi, dia disibukkan dengan telepon-telepon para wanita pemburu seorang Kim Jaejoong.

 

“Ada apa? Kau kaget? Memang kau tidak melihat siapa yang meneleponmu, huh?” tanya Jiyong sarkartis.

 

Sandara mendesah pelan, “Mianhae.. banyak yang terjadi. Dari pagi aku disibukkan oleh telepon dari teman wanita Jaejoong. Makanya ku kira kau itu mereka tanpa ku lihat layarku.”

 

“Lelah?”

 

“Tentu saja!”

 

“Tunggu, bagaimana dengan Jaejoong?”

 

Sandara terdiam sejenak lalu mendengus, “Dia mengurung diri didalam ruangannya. Aku bingung apa yang terjadi dengannya.”

 

“Sejak kapan?”

 

“Sejak pagi. Saat aku datang, dia langsung memberikan IPhonenya ini lalu mengurung diri di ruangannya. Dia memang sudah aneh sejak kemarin. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi. Dia tidak mau cerita apapun padaku. Apa aku pendengar yang payah?”

 

Jiyong terkekeh lembut, “Dia hanya sedang frustasi. Pria tidak ingin terlihat lemah didepan wanita. Berikan saja dia waktu sendiri sampai dia mau cerita padamu.”

 

“Apa kau seperti itu?” cibir Sandara.

 

“Mungkin? Hei, mau makan siang bersama?”

 

Sandara menghela nafas pelan, “Kalau aku bisa membujuknya makan.”

 

“Jaejoong?”

 

“Yep. Sejak pagi sampai sekarang dia tidak makan apapun. Ku tanya Jessica, Jaejoong langsung berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu. Kalau aku cocokan jam keberangkatan Jaejoong dengan jam Jaejoong sampai di kantor, aku yakin dia belum sempat sarapan di perjalanan menuju kantor.”

 

“Yea, urus saja dahulu adik kecilmu itu!”

 

Sandara mengerjap mendengar nada bicara Jiyong yang tidak enak didengar. Ia tahu Jiyong marah. Tapi kenapa? Karena Jaejoong? Tapi..

 

“Jaejoong sahabat terbaikku, chagiya~” rajuk Sandara.

 

“Karena itu, cepat bujuk sahabatmu itu. Aku sudah lapar,” sahut Jiyong. “Annyeong~”

 

Jiyong segera memutuskan telepon. Sandara menghela nafas. Ia segera bangkit dan mengetuk pintu ruangan Jaejoong. Tapi tidak ada sahutan walaupun ia sudah mengetuknya berkali-kali. Dia menyerah. Dia membalikkan badan.

 

“Jessica-ssi?” pekik Sandara kaget karena tiba-tiba Jessica sudah ada didepannya.

 

Jessica membungkuk dan tersenyum, “Jaejoong?”

 

“Dia ada di da—“

 

Cklek.

 

Akhirnya pintu ruangan Jaejoong terbuka dan memperlihatkan tampang Jaejoong yang sedikit berantakan. Sepertinya ia baru saja bangun tidur. Sandara sedikit menyesal karena sudah mengkhawatirkan orang itu.

 

“Kau? Untuk apa kesini?” bingung Jaejoong.

 

“Aku membawa makanan untukmu. Soalnya tadi pagi kau belum makan, kan?” kata Jessica.

 

Jaejoong langsung membuka pintunya lebar-lebar. Terlihat sampah bekas kemasan makanan. Kali ini, Sandara benar-benar menyesal karena sudah khawatir. Sial!

 

“Kalau begitu, aku akan makan siang diluar. Bye!” pamit Sandara dengan sedikit menggerutu seraya mengambil tas tangannya dan pergi.

 

“Kalau begitu… Mau makan siang bersama?” tanya Jessica sambil memperlihatkan tas yang ia bawa.

 

“Tidak. Aku sudah makan,” tolak Jaejoong. “Lebih baik kau makan makanan itu dan pulang. Jangan menggangguku lagi.”

 

Jaejoong mundur sedikit lalu menutup pintu. Namun Jessica segera menahannya. Jaejoong mengerutkan keningnya bingung. Ia benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengan Jessica. Membuatnya semakin frustasi.

 

“Apa aku melakukan hal yang salah? Kenapa sepertinya kau tidak mau melihat wajahku?”

 

Baguslah jika kau sadar, batin Jaejoong. Tapi dia tidak menjawab apapun.

 

Ku kira walaupun aku pembantumu, aku adalah temanmu,” lanjut Jessica.

 

Jaejoong menatap Jessica, “Teman?”

 

Jessica mengangguk mantap, “Teman.”

 

Setidaknya dengan bermodal kejadian di taman kemarin, bolahkah Jessica berharap menjadi teman Jaejoong? Jessica menggigit bibirnya dengan pandangan penuh harap.

 

“Bermimpilah!”

 

Jaejoong menutup pintunya. Harapan Jessica hancur seketika. Jessica mengepalkan tangannya seraya menarik nafas dalam. Sakit..

 

>>>

 

“Apalagi yang terjadi dengannya?” tanya Jiyong setelah pelayan pergi dengan daftar pesanan mereka.

 

“Entahlah. Walaupun aku tahu percuma mengkhawatirkannya, tapi aku tetap tahu ada sesuatu yang salah. Tapi aku tidak tahu apa itu,” desah Sandara.

 

“Soal pekerjaan?”

 

“Mungkin. Kau tahu? Pemilik C-Jes Entertainment mengajaknya bertemu kemarin. Setelah itu, dia jadi seperti sedikit frustasi. Tapi aku tidak tahu kenapa. Apa mungkin tentang perjodohan?”

 

“Coba tanyakan baik-baik dengan Jaejoong,” ujar Jiyong.

 

Sandara meniup poninya, “Percuma!”

 

Jiyong menghela nafas, “Baiklah, kalau begitu lupakan soalnya. Jarang-jarang kita bisa menghabiskan waktu bersama. Iya, kan? Jadi manfaatkan dengan baik.”

 

“Tapi aku penasaran~”

 

“Dasar wanita!” gumam Jiyong pelan.

 

“Mwo?”

 

“Lupakan..”

 

“Tidak! Tadi kau bilang apa?” sungut Sandara kesal.

 

Jiyong terkekeh tanpa menjawab.

 

>>>

 

Lagi-lagi Sooyoung menjadi target Jessica untuk melepaskan penat. Jessica seperti tidak peduli dengan keadaan Sooyoung sedang sibuk. Ia tetap sibuk menceritakan masalahnya. Benar-benar tidak sensitif!

 

“Sepertinya pilihanmu untuk kabur dari rumah  itu adalah pilihan terburuk, Jessica Jung! Lihatlah! Setiap hari, kau selalu mendapat masalah,” gerutu Sooyoung sambil menyelesaikan berkas laporan bisnisnya.

 

Jessica mendengus sambil menyandarkan kepalanya di meja dengan lemas. “Jadi aku harus kembali ke rumah?”

 

“Menurutmu?”

 

“Tapi aku tidak mau dijodohkan, Soo~ kenapa bukan Junsu oppa saja?”

 

“Kau ingin oppamu menikah dengan lelaki lain? Kau kira oppamu itu bermasalah?”

 

Jessica menarik kepalanya dan sedikit menggebrak meja. “Babo! Maksudku yang dijodohkan dengan wanita lah! Atau denganku. Toh kami tidak ada hubungan darah, kan?”

 

“Memang kau mau? Oh tidak! Pertanyaannya adalah apakah oppamu mau denganmu?” cibir Sooyoung. “Kau tidak lebih dari orang yang merepotkan.”

 

Jessica merengut, “Hei!”

 

“Geure. Mianhae. Jadi apa maumu sekarang?”

 

“Mau pulang. Tapi tuntutanku harus dipenuhi terlebih dahulu,” jawab Jessica sambil kembali menempatkan kepalanya diatas meja.

 

How childish..”

 

“Setidaknya hanya itu cara untuk mempertahankan hak asasiku, Soo~”

 

“Tidak usah membawa kata hak, Sic. Kau tidak mengerti apapun tentang itu.”

 

“Soo~~”

 

Sooyoung menutup laptopnya dan menghela nafas. Dia sedikit merenggangkan badannya sebelum memfokuskan pandangan dan pikiran pada Jessica didepannya. Dia tahu sahabatnya itu merindukan rumah tapi dia tidak lebih dari seorang putri manja yang tidak ingin dipaksa. Setidaknya dengan semua yang terjadi, bisa membuatnya sedikit dewasa.

 

“Pulanglah, Sic. Aku bisa menggantimu dengan pekerjaku yang lain,” kata Sooyoung.

 

Jessica mengubah posisinya jadi bertopang dagu dengan kedua tangannya. Ia menatap sahabatnya malas walaupun sebenarnya ia ingin sekali menurut. Tapi untuk kali ini, ia harus kuat. Dia harus membuktikan pada keluarga angkatnya itu kalau dia kuat! Yep, I can do it!

 

“Pilihan terbaik, kan? Lagipula sepertinya Jaejoong sudah tidak suka denganmu,” kata Sooyoung lagi.

 

Jessica merasa sedikit nyeri dihatinya saat Sooyoung mengatakan itu. Tapi hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan Jaejoong sepertinya sudah mempercayai dirinya seperti seorang sahabat. Dan bahkan.. bahkan.. mereka berpelukan kemarin.. pipi Jessica memanas saat mengingat momen itu.

 

“Hei, kenapa pipimu merah? Kau sakit?”

 

Sooyoung segera mengulurkan tangannya untuk memeriksa suhu badan Jessica. Namun Jessica segera menepiskannya sambil mendengus.

 

“Nan gwencana, Soo-ya~” jawab Jessica.

 

Sooyoung mengerjap pelan lalu menatap Jessica jahil, “Kau sedang jatuh cinta, ya?”

 

Jessica segera mengambil pulpen di atas meja kerja Sooyoung dan melemparnya ke kepala Sooyoung. Meleset. Sial!

 

“Iya, kan? Jujur padaku! Marhaebwa, Sic~” mohon Sooyoung.

 

“Tidak.. tidak.. kau tidak akan mau mendengarnya!”

 

“Aku ceritakan padaku! Pasti ada hal yang belum kau ceritakan padaku. Belum!” tekan Sooyoung.

 

Jessica mendesah pelan. Dia tahu cepat atau lambat, Sooyoung akan tahu. Entah dari orang lain atau dirinya. Jadi dia memutuskan untuk menceritakannya. Bahkan sejak malam dimana Jaejoong mabuk. Itu membuat Sooyoung terbengong.

 

“Kau yakin?” tanya Sooyoung ragu saat Jessica selesai dengan ceritanya.

 

Jessica mengatup mulutnya sejenak lalu membukanya lagi, “Sepertinya.”

 

“Bagaimana kalau benar?”

 

“Sudahlah, Soo. Aku tidak mau membahasnya. Jika benar, aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak mau mencintai siapapun. Cukup sekali. Dan itu sakit,” tegas Jessica.

 

Sooyoung menatap lirih sahabatnya, “Cinta memang begitu. Selalu ditemani oleh rasa sakit. Itu resiko, Sic. Tapi itu sudah takdir manusia.”

 

Jessica menghela nafas lalu menutup wajahnya. “Molla.”

 

“Tapi—“

 

“Molla, Soo. Molla. Jangan bahas ini lagi!”

 

>>>

 

Sandara sengaja menunggu Jaejoong keluar dari ruangannya saat jam kerja sudah selesai. Tepat saat Jaejoong keluar, Sandara segera memblokir jalannya. Jaejoong menatapnya datar.

 

“Ada apa?” tanya Jaejoong.

 

Mind to tell me your problem, Jae? Please~” tanya Sandara dengan ekspresi memohon.

 

“Aku tidak punya masalah yang berarti. Hanya seperti biasa saja.”

 

“Jae~”

 

Jaejoong mendesah, “Baiklah. Di mobilku? Aku tidak mau seorang pun mendengarnya.”

 

“Disini pun tak ada,” gumam Sandara. “Atau diruanganmu?”

 

Jaejoong mendengus. Sahabatnya itu memang tidak bisa dibiarkan penasaran. Mau tak mau, dia harus menceritakannya jika tidak mau sahabatnya masuk rumah sakit karena frustasi memikirkan hal yang membuatnya penasaran. Oke, itu berlebihan. Tapi ada benarnya juga walaupun sedikit.

 

“Diruanganku? Bagaimana?”

 

Sandara mengangguk mantap, “Ne!”

 

Jaejoong menggenggam tangan Sandara dan menariknya lembut ke dalam ruangannya. Mereka duduk di sofa hitam elegan. Jaejoong segera mengatur posisi bantal sofa agar ia bisa berbaring di sana.

 

“Bagaimana jika suatu saat nanti, perusahaan ini bangkrut. Atau.. berpindah tangan?” tanya Jaejoong menggumam.

 

“Eh?” Sandara terkejut mendengarnya. “Apa maksudmu?”

 

“Jawab saja.”

 

“Aku akan tetap denganmu. Kau sahabatku. Uang bukan segalanya. Lagipula, aku bisa memenuhi semua kebutuhanku dengan mudah tanpa bekerja. Jiyong bisa membelikan hal yang ku inginkan,” jawab Sandara –polos.

 

Jaejoong langsung melempar salah satu bantal sofa ke wajah Sandara hingga Sandara berteriak kesal. Jaejoong mendesah pelan. Sahabatnya itu… polos, atau apa? Dengan mudahnya ia mengatakan itu. Jaejoong menggeleng kepala pelan, menyayangkan nasib Jiyong.

 

“Dasar wanita!” gerutu Jaejoong.

 

“Hei, itu naluri wanita. Harusnya kau hafal soal itu!” Sandara balas menggerutu.

 

“Baiklah.. aku mengerti.”

 

“Lalu?”

 

“Mwo?”

 

“Apa yang terjadi? Apa ada hubungannya dengan C-Jes Entertainment? Dengan perjodohanmu?” tebak Sandara.

 

“Begitulah. Jika perjodohan gagal, kontrak kerja sama kami dibatalkan. Tentu saja pihak kita yang dirugikan,” desah Jaejoong.

 

Sandara teringat cerita Jiyong. Ia sedih karena tidak bisa mengatakan bahwa Jessicalah yang dijodohkan dengan Jaejoong. Karena sepertinya Jessica juga tidak tahu menahu soal ini. Semua hanya sebuah kebetulan. Tapi hati kecil Sandara ingin sekali mengatakannya. Bagaimana ini…

 

“Lalu?” tanya Sandara.

 

“Apa lagi?”

 

“Kau berniat mencari calon istrimu itu?”

 

“Untuk apa? Dia selalu bersamaku,” sahut Jaejoong. “Aku yakin kau juga tahu, kan?”

 

Sandara mengerjap. “Kau tahu?!”

 

Jaejoong mengubah posisinya jadi duduk lalu mendesah kasar.

 

“Tentu saja! Apa aku begitu bodoh? Apa Jessica tidak terlalu mencurigakan sebagai seorang pembantu? Apa semua yang ada di Jessica adalah hal yang biasa? Jika pembantuku adalah anak remaja yang membutuhkan uang untuk menstalk idolanya, aku mengerti. Tapi Jessica?”

 

Sandara tidak bisa berbicara apapun mendengar nada bicara Jaejoong yang naik. Seperti Sandara dibentak oleh Jaejoong. Dia benar-benar shock karena dua hal. Jaejoong tahu soal Jessica dan Jaejoong menggunakan nada bicara tinggi padanya.

 

“Mian. Aku tidak bermaksud, Noona,” lirih Jaejoong.

 

Sandara menggeleng pelan, “Gwencana.”

 

Ruangan itu pun hening karena keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

 

“Lalu bagaimana? Kau akan mengatakan semuanya pada Jessica?” tanya Sandara akhirnya.

 

Jaejoong menggeleng pelan, “Molla. Aku tidak mau dia sakit hati karena mengira aku hanya memanfaatkannya saja. Pilihan yang sulit.”

 

“Tapi.. bagaimana dengan perusahaanmu?”

 

Jaejoong bangkit dan berjalan ke arah meja kerjanya. Ia membuka laci untuk mengambil sebuah amplop coklat. Dia memberikannya pada Sandara. Dengan ragu, wanita itu membukanya. Matanya terbelalak.

 

“Itu perjanjian antara orangtuaku dan Jessica,” kata Jaejoong.

 

“Ini keterlaluan, Jae!” pekik Sandara.

 

Isi perjanjian itu benar-benar membuat Jaejoong mengalah. Jika perjodohan itu dibatalkan, perusahaannya akan jatuh ketangan C-Jes Entertainment. Mungkin Jaejoong akan berakhir di perusahaan milik orangtuanya. Tapi perusahaannya itu ia bangun sendiri dari nol. Benar-benar menyesakkan. Tapi disisi lain, ia tidak ingin membuat Jessica berpikir yang macam-macam. Ia tidak ingin Jessica terluka. Wanita terlalu sensitif, bukan? Akan menambah masalahnya jika itu terjadi.

 

“Begitulah..” Jaejoong menghela nafas. “Aku sudah terjebak.”

 

“Tapi kan perusahaan ini milikmu bukan orangtuamu.”

 

“Kau tahu siapa orangtuaku. Mereka licik. Mereka hanya ingin memaksaku agar melepaskan perusahaan ini lalu melanjutkan perusahaan mereka. Batal atau tidaknya perjodohan ini, tetap menguntungkan bagi mereka.”

 

Sandara menatap sahabatnya kasian, “Jadi apa pilihanmu?”

 

=== I Choose To Love You ===

 

Ah mian aku telat update >.< aku lupa kalo punya ff ini ._.v /dor

Sebagai permintaan maaf, ceritanya aku panjangin. Sangat panjang~~ iya, kan? Jadi ga bisa nerima protesan kalo ceritanya pendek . hoho

Nah, udah sampe di cliff hanger nih~ artinya bentar lagi tamat. Jadi yang mulai bosen sama ff ini, bersabar sedikit lagi lah kalian.. bentar lagi juga selesai kok :3

Advertisements

28 responses to “I Choose To Love You (Chapter 5)

  1. jaenya itu knp kaya gaseneng ama si jess? jaat lu jae #ditabokyunppa
    mami jessi sabar yaa~ (⌣.⌣’)\(‘́⌣’̀ ) eon kelanjutan ane tunggu~ jan lamalama yaa X3

  2. >.<
    uugghhhh~ papii jee udah taukkk …
    haduuhh.. terus gimana? mamii jess mau berenti jadi pembantu papii, yah?._.v

    ayolah~ kawin ajaaa~ mamii jess pasti ngerti, kok… asal papii jee janji gak main wanita lain lagi -.-'

    liat daragon, gue senyam senyum sendiri // thx far~ lo udah bikin gue bener2 kembali suka sama dara :3

    udah, yah~ gue abis kata-kata buat ni ff..
    ini lo bilang panjang? ini namanya lumayan, far~ bukannya panjang *ditendang xD
    dan, baca ada kata 'TAMAT', aku jadi ngerasa males misah sama ff ini.. selalu seperti ini kalo baca ff-ffmu =='

    bener2 udah nih~
    lanjutannya segera, yaaaaaaaa 7^^v

    • soal itu, saya tidak tahu. belum memikirkannya(?) /duak
      jiah -_- main minta kawin aja nih anak -_- kawin itu sulit. nanti kalo akhirnya bercerai, gimana? *teringat kisah cinta dengan nickhun /plak
      emang tadinya sempet benci sama dara? wah, kenapa? yg soal gosip jaedara pacaran itu ya? ckck
      ini udah panjang~~ pada bilang ini panjang kok ==” emang panjang bagi kamu itu seberapa sih, sepupu? ck
      huehehe, kalo cerita ga tamat tamat, mau jadi apa nih ff -_-

      • hahaha..
        Oh iya, kau cerai yah dgn Nickhun? kassiiaaannnn~ (づ ̄ ³ ̄)づ *kick

        hu’um~ benci dara, gara-gara itu -..-v
        benci banget malah waktu itu….
        tapi sekarang enggak lagi, ahh~ *tebarkutu(?) xD
        panjang ituu,, se-novel !!*dikutukfara

        ff-ff series yg kamu buat rata2 gitu menurutku…
        setiap baca, pengeeenn banget supaya cepat clear.. tapi, pas di bilang udah mau clear, gak taunya jadi males dengernya.. gak tau kenapa!-,- pengennya sih di lanjutin lagi.. terserah gimana lanjutannya*plak
        hehehe..

  3. ne, chingu…
    kpn bikin KyuSica lgi?? #plakk
    Punya alamat web/blog yang main characternya adalah Jessica seperti blognya chingu?

  4. Makin gereget bca crita.a
    cpat buat JaeSica bersatu dong chingu… N Lanjutan.a jgn lama2 yea… JaeSica jjang

  5. Jadi jae udah tau????aigooo…gimana kelanjutannya sama sica nih?!jelimet banget masalahnya 😦 next part jangan lama2 chingu hehe

  6. MWO ?! JAE TAU ?! *zoom8x ala sinetron , sica unni nikahlah ma jae oppa , kasian jae oppa tar galau tingkat dewa bunuh diri lg :O
    nice ff thor , di tgg jaesica yg laennya u,u

  7. Huaaaaaaa
    Penasaran tingkat dewa u,u
    Eon PUAS~ dengan part ini, panjang n gak ngebosenin kok..
    Awalnya eon kira part ini akan membosankan, jujur aja part kemarin agak kurang menarik buat eon 😀
    Tapi eon salah, part ini seruuuu..
    Eon seneng kalau Jessica ngerecokin Sooyoung, eon ngerasa Sooyoung itu udah kayak kakak buat jessica..
    Ah Jae, dirimu terlalu pintar u,u
    Masa dia tahu sih kalau Sica itu yang akan ditunangin sama dia? Tahu dari mana coba? Dirimu kan bukan detektif Jae~
    Gak sabar nunggu part dimana Sica tahu kalau Jae itu orang yang ditunangin sama dia..kira-kira reaksinya kayak gimana ya? Seneng n langsung terima or kecewa n ngambek gak jelas???
    Pokoknya ditunggu part selanjutnya, Hwaiting saeng^.~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s