Mistake (Chapter 1)

Author : Lee Hyura

Title : Please, Stop The Time

Genre : Angst, Friendship, Romance

Rating : PG-13

Length : Series

Cast :

–          SNSD Jessica

–          EXO M Kris

–          SJ M Henry

=== Please, Stop The Time ===

Henry mengerutkan keningnya tanda dirinya sedang bingung. Dihadapannya, Jessica memasang ekspresi mantap akan permintaannya yang konyol itu. Henry menggeleng hafas. Ia tidak mungkin bisa menolak permintaan gadis yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak 2 tahun ini. Tapi dia tidak yakin bisa melakukannya.

“Henry~” rajuk Jessica.

You want me to do it?” tanya Henry datar.

Jessica mengerjap, “Why? You don’t want to?”

Henry segera menggeleng cepat, “Bukan begitu, Jess. Hanya saja… untuk apa? Kau ingin mengulangi cerita kita dulu?”

Jessica merengut. Ia teringat hubungan mereka sebelum menjadi sepasang sahabat. Henry menembaknya. Dengan jujur, Jessica mengatakan ingin mencoba merasa yang namanya pacaran walaupun ia tidak menyukai Henry. Tentu saja Henry merasa tertantang dan menyetujuinya. Tapi percuma, Jessica tidak bisa menyukai Henry lebih dari seorang teman. Padahal Jessica berhasil mendapat rekor karena Henry paling lama menjalani hubungan dengannya.

N-no! It’s not what I mean, Hen. Aku.. aku hanya bosan selalu single. Sedangkan sahabatku bisa berganti pacar 2 kali dalam seminggu,” gerutu Jessica, menyindir kelakuan playboy sahabatnya.

“Hanya itu alasan kau memintaku mencarikanmu teman kencan? Kenapa tidak ikut biro jodoh saja?”

Jessica mendengus. Sebenarnya tak diketahui Henry, ia sudah pernah mengikuti biro jodoh. Tapi rata-rata berumur 27 lebih dan menginginkan hubungan yang serius. Jessica tertawa sinis saat memikirkan ia menikah dengan pria yang berumur jauh diatasnya. Pasti mengerikan! Jessica pernah mencoba mengikuti kencan-kencan yang disiapkan oleh sang biro jodoh itu dan hasilnya gagal total. Pria dewasa di Amerika memang mengerikan. Bisa-bisa Jessica kehilangan keperawanannya dengan paksa.

“Hei!” sentak Henry saat Jessica sibuk dengan pikirannya.

Jessica menoleh, “Yea?”

“Bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

Henry mendengus, “Kau benar-benar mau ku jodohkan?”

Jessica menggigit bibirnya lalu mengangguk pelan. Henry terkekeh. Ia mengangkat tangannya dan mengacak poni Jessica lembut.

“Baiklah. Aku ada kelas setelah ini. Bye,” pamit Henry. “Oh ya, aku pasti carikan calon yang tidak akan membuatmu kehilangan muka di depan Krystal.”

Jessica terbelalak. “Hei! Bagaimana kau tahu?” pekik Jessica frustasi. Henry segera berlari sambil tertawa bangga.

Ia tidak menyangka Henry tahu alasan utamanya, yaitu Krystal. Krystal selalu menyindirnya yang tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Ia hanya pernah melakukannya dengan Henry yang bahkan bukan karena cinta. Dan akhir-akhir ini Krystal mulai kelewatan batas. Dia bahkan sampai mencarikan calon-calonnya sendiri untuk Jessica dan Jessica wajib untuk mengikuti permainannya.

>>>

Henry menarik tangan Jessica memasuki sebuah stadion di bagian utara kota Seattle. Tempat duduk sudah dipadati penonton. Sepertinya pertandingan basket antar klub kampus benar-benar diminati. Henry dan Jessica menempati kursi yang bisa dibilang paling strategis. Di sana sudah ada seorang gadis menunggu mereka. Mungkin pacar Henry yang baru? Entahlah. Jessica tidak tertarik untuk tahu. Henry mengambil duduk diantara Jessica dan gadis itu. Gadis tersenyum pada Henry dan Jessica. Wajahnya memancarkan aura keramahan. Oke, Jessica sedikit tertarik dengan gadis itu.

“Hei, babe,” sapa Henry seraya memberikan kecupan ringan di bibirnya.

“Pacar barumu?” tanya Jessica berbisik.

Henry menoleh dan terkekeh, “Bukan. Hanya selingan.”

Jessica meringis. Kenapa sepertinya Henry mudah sekali mendapatkan kekasih? Berbeda jauh dengan sahabatnya. Tapi, bukannya didunia ini semua hal memang harus seimbang? Ck, malang nasib Jessica berteman dengan Henry.

Pertandingan akhirnya dimulai. Kedua tim memasuki lapangan indoor itu. Setelah wasit mengatakan peraturan-peraturannya, bola itu dilambungkan ke atas dan peluit dibunyikan. Sorak-sorai para penonton langsung membahana.

Para pemain itu terdiri bangsa Amerika Latin, penduduk asli dan bangsa Asia. Ada wajah melayu dan wajah khas asia timur. Skor mereka ikut saling berlomba. Benar-benar terlihat seimbang. Tim yang didominasi oleh bangsa Asia itu memimpin.

“Aku tertarik dengan salah satu dari mereka?” goda Henry saat melihat Jessica menonton pertandingan dengan serius.

“Tidak juga.” Kekehan pelan keluar dari mulut Jessica. “Mereka semua keren. Pantas saja banyak yang menonton pertandingan ini.”

“Yep. Kemampuan mereka seimbang. Tapi biasanya tim yang sekarang skornya tertinggi itu lah yang selalu menang,” jelas Henry.

Jessica mengerjap, “Kau sering menonton pertandingan mereka? Aku baru tahu kalau kau juga tertarik dengan basket. Ku kira kau hanya tertarik dengan musik.”

Henry mendesah, “Tidak juga. Aku suka menonton pertandingan basket saat mereka lah yang main. Ini semua akibat aku berpacaran dengan pemain basket.”

“Kenapa tidak pernah mengajakku sebelumnya?”

“Aku takut kalau aku mengajakmu lalu bertemu dengan mantanku itu, kau dikira yang perebutku darinya. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa. Jika sesuatu terjadi padamu, aku habis ditangan papimu. Aku pasti dijadikan pengganti alat latihan tinjunya. Hih~ menyeramkan!”

Jessica tertawa. Pekerjaan papinya sebagai pelatih petinju memang selalu berhasil menakuti para lelaki disekitarnya. Mungkin itu salah satu alasan tidak ada laki-laki selain Henry yang berani menembaknya.

>>>

Pertandingan berakhir dengan hasil yang sama dengan apa yang diramalkan Henry. Tim yang didominasi oleh bangsa Asia itulah yang menang. Dan satu lagi yang mengejutkan Jessica. Pertandingan itu adalah pertandingan final. Bisa dikatakan tim itu memenangi pertandingan basket sekota Seattle. Henry menarik tangan Jessica ke tengah lapangan. Sedangkan gadis yang menunggu mereka berdua tadi sudah pulang sejak quarter kedua berakhir.

“Hei! Mau ngapain ke lapangan?” bingung Jessica.

“Sudah! Menurut saja lah,” sahut Henry sambil terus menuntun Jessica menuju lapangan.

Melihat kedatangan Henry, tim yang menang itu sedang menghambur ke arah Henry dan menyapanya. Tidak lupa beberapa memberikan kedipan jahil pada Jessica. Jessica jadi tidak nyaman karenanya.

“Tenang saja. Mereka hanya becanda,” kata Henry.

Jessica tersenyum tipis. Henry selalu mengerti dirinya.

Who’s she? Your new girlfriend?” tanya seseorang berwajah melayu.

Sorry for disappoint you, but she’s my ex and bestfriend,” bantah Henry lalu tertawa.

“Berteman dengan mantan? Tidak mungkin. Biasanya mantan-mantanmu tidak ada yang sudi melihat wajahmu lagi,” cibir si cowok berwajah oriental.

“Tapi itu kenyataannya,” sungut Henry. “Lagipula kami putus dengan baik-baik kok.”

Okay… okay… mind to intoduce her?” pinta sang kapten berwajah khas orang Amerika.

Jessica segera mengulurkan tangannya, “Jessica.”

5 cowok itu berusaha untuk menjabat tangan Jessica terlebih dahulu dan memperkenalkan dirinya. Jessica hanya tertawa melihatnya.

“Akan ku traktir sebagai ucapan selamat dariku!” seru Henry.

Semuanya langsung bersorak. Henry melirik Jessica seakan mengisyaratkan Jessica harus ikut. Jessica hanya mengangguk pelan.

“Tapi tunggu. Dia belum datang. Padahal harusnya dia sudah sampai sekitar 10 menit yang lalu,” tahan sang kapten.

“Siapa? Kevin?”

“Yap.”

>>>

Henry merayakannya di sebuah kelab mewah di kota Seattle. Semuanya bersorak senang dan mulai melakukan kemauan mereka masing-masing. Jessica hanya menunggu di salah satu meja di sudut kelab sambil sesekali menyesap cocktailnya. Dia tidak benar-benar ingin berpesta malam itu. Dia hanya ingin makan sesuatu yang mengenyangkan karena dia memang belum makan dari siang. Kasian sekali perut kosongnya harus bertemu dengan alkohol.

Jessica mendesah. Ia bosan. Henry sibuk menari dengan random girl. Jessica hanya memainkan ponselnya. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Jessica tersentak kaget.

“Kau tidak bergabung dengan mereka?” tanya laki-laki itu.

Jessica mengernyit, “Err.. siapa namamu? Aku lupa.”

“Teman-temanku di Kanada biasa memanggilku Kevin. Tapi disini kau bisa memanggilku Kris,” jawab laki-laki itu sambil tersenyum.

Kris mempunyai senyuman yang menggoda dan bisa melelehkan hati para wanita. Jessica berani jamin bahwa Kris sama saja dengan Henry. Itu sebabnya ia memilih untuk menjaga jarak dengan Kris.

“Oh ya, Kris! Tidak, aku tidak tertarik. Aku kurang suka melakukan itu,” kata Jessica.

“Oh?” Kris terkekeh. “Lalu kenapa kau mau ikut kami ke sini?”

“Henry akan menjadi pria cengeng jika aku tidak mengikuti permintaannya,” jawab Jessica dengan nada datar.

Kris terlihat kaget, “His girlfriend?”

I’m not!” bantah Jessica seraya menggeleng kuat. “Aku adalah sahabatnya.”

“Oh, ku kira. Aku tidak menyangka akhirnya dia bisa bergantung pada seorang wanita.”

“Aku bukan ‘seorang wanita’. Aku sahabatnya.”

Kris tertawa, “Kau orang yang kurang ramah.”

“Oh ya?”

Kris mengangguk, “Uh-hu. Menggunakan nada dingin kepada orang yang baru kau kenal itu tidak baik.”

“Artinya aku tida nyaman denganmu,” sahut Jessica.

Kris mengambil nafas dalam-dalam. Sepertinya Jessica benar-benar tidak ingin beramah-tamah dengannya. Padahal ia kira mungkin dia bisa berteman dengan Jessica saat bertemu dengannya di stadion tadi. Jessica dengan Henry sangat berbeda dengan Jessica tanpa Henry. Sepertinya mereka saling bergantung satu sama lain.

“Kalau begitu, aku akan kembali kesana,” kata Kris sambil bangkit.

Go ahead.”

Sepeninggal Kris, Jessica kembali sibuk dengan ponselnya. Tapi lama-lama, bosan juga. Akhirnya Jessica menghampiri Henry lalu menariknya keluar dari kelab itu. Bau alkohol yang menyengat dari mulut Henry membuat Jessica mual. Jessica harus menyelamatkan Henry secepatnya atau ia lah yang harus mengendarai mobil Henry saat pulang nanti.

What’s wrong, Jessie?” protes Henry.

“Kau harus segera diselamatkan sebelum kau benar-benar mabuk!” dengus Jessica.

“Hei, aku belum mabuk, Jessie..” elak Henry.

Jessica mendengus lagi, “You’re drunk! Dan aku hanya ingin pulang dengan selamat! Mengerti?”

“Kau terlalu kolot!” cibir Henry.

“Hei!” Jessica menoyor kepala Henry. “Setidaknya aku tahu yang terbaik untukku.”

“Oh ya~ whatever. Lagipula aku belum membayar semuanya.”

“Kalau begitu, bayar sekarang,” sahut Jessica.

“Tidak mau! Aku masih mau bersenang-senang. Ayo masuk!” ajak Henry sambil melepaskan cengkraman tangan Jessica lalu melangkah masuk.

“Henry Lau!”

Henry berhenti dan menolehkan kepalanya. “Apa?”

“Aku ingin pulang,” rengek Jessica.

“Akan ku suruh temanku yang belum mabuk untuk mengantarkanmu,” sahut Henry.

Jessica tersenyum senang sambil menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk ‘O’ kepada Henry. Henry membalas senyumannya dan masuk ke dalam klub itu. Sedangkan Jessica memilih menunggu diluar. Ia tidak terlalu menyukai keadaan didalam. Dipenuhi orang-orang mabuk dan tangan-tangan nakal. Makanya dia ingin cepat-cepat pulang tanpa harus jadi supir dalam semalam. Setidaknya malam itu terasa hangat karena sudah memasuki akhir musim semi.

Jessica melirik jam tangannya. Sudah 5 menit ia menunggu, tapi tidak ada sosok yang ia kenal keluar. Jessica menghela nafas panjang. 10 menit, masih belum ada. Saat hampir 15 menit ia menunggu, Jessica menghentakkan kakinya dan berniat untuk kembali masuk. Tapi akhirnya ada sosok yang tidak asing keluar. Kris! Kris segera berlari ke tempat Jessica.

“Sudah lama?” tanya Kris.

“Sepertinya. Ayo pulang!”

Next day.

Jessica mendongak saat merasa ada seseorang yang berdiri disampingnya. Dia menutup bukunya saat melihat Henry lah yang disampingnya. Henry hanya tersenyum tipis dan menarik kursi di depan Jessica lalu duduk.

“Pusing?” tanya Jessica.

“Tadi pagi, benar-benar pusing. Sekarang sudah lebih baik,” jawab Henry.

“Rasakan! Sudah ku bilang jangan sampai terlalu mabuk tapi kau tidak mendengarkanku,” sungut Jessica.

Henry terkekeh, “Okay, sorry…

Jessica membalasnya dan gerutuan dalam bahasa Korea. Tawa Henry pecah mendengarnya. Jessica memang selalu begitu jika ia sedang benar-benar marah pada Henry. Setidaknya Henry tidak mengerti. Jadi Henry tidak akan sakit hati jika Jessica tidak sengaja mengatakan sesuatu yang sensitif.

Henry mengetuk kepala Jessica dengan sendok jus Jessica. “Berhenti memakiku, Jessica Jung!”

“Aish! Baboya!” omel Jessica kesal sambil mengelus kepalanya.

“Aku tahu artinya, nona Jung! Dan aku tidak bodoh,” sahut Henry menyibir.

Jessica kembali menggerutu dalam bahasa Korea sambil menatap Henry tajam. Henry tergelak melihatnya. Sepertinya ada sesuatu yang membuat Jessica benar-benar marah padanya. Tapi apa?

“Terjadi sesuatu semalam, nona Jung?” tanya Henry akhirnya.

Jessica menghela nafas, “Sebenarnya siapa Kris itu?”

“Temanku saat di Kanada. Kenapa?”

“Sepertinya dia sangat mengenalmu,” gerutu Jessica.

“Lalu? Kau cemburu padanya?” tebak Henry lalu kembali tergelak.

Jessica mendengus sambil menoyor kepala Henry, “Bukan!”

“Lalu?”

“Dia berpikir aku dan kau ini pacaran. Dia tidak percaya kalau kita sahabat. Bahkan dia sampai mengarang sebuah cerita yang menjijikan.”

“Cerita apa?”

“Iya, cerita kalau kita berpacaran tapi karena sesuatu, kita harus merahasiakan hubungan kita. Dasar otak drama!” runtuk Jessica.

Henry kembali tertawa, “Berarti dia orang yang lucu!”

“Lucu?” Jessica menggertakkan giginya. “Dia berhasil membuatku tidak bisa tidur dan terus merinding ngeri memikirkannya. Bagaimanapun juga, kita adalah sahabat dan selamanya tetap sahabat. Iya, kan?”

Henry berhenti tertawa. Dia menggigit bibirnya sebelum akhirnya mengulaskan senyum tipis.

Of course.”

“Oh ya, apa hubunganmu dengan Kris?” tanya Jessica dengan wajah penasaran.

Henry menggigit bibirnya untuk menahan tawa, “Kau tertarik dengannya?”

Jessica langsung membuang muka. “Tentu saja tidak!”

“Oke.. oke.. berhenti merajuk, Jess. Dia adalah adik kelasku di Kanada. Dan aku tidak tahu bagaimana caranya bisa dekat dengannya. Sudah lupa lebih tepatnya.”

>>>

Henry menginjakkan kakinya di lapangan basket kampus mereka dan memperhatikan Kris yang sibuk memasukkan bolanya ke dalam keranjang. Sadar akan kehadiran Henry, Kris menoleh dan tersenyum. Ia mendribble bolanya ke arah Henry. Henry segera merebutnya saat Kris sudah sampai didepannya.

What’s up?” tanya Kris.

Henry menahan tawanya, “Hanya ingin bertanya tentang hari pertamamu di kampus ini.”

Alis Kris terangkat, “Biasa saja. Kenapa? Pasti ada hal yang lain, kan?”

Henry mendribble bola ke arah daerah shooting dan melempar bola itu ke arah keranjang. Masuk. Henry memungut bola itu dan menleh ke arah Kris.

“Apa yang terjadi semalam? Sepertinya Jessica benar-benar marah padamu,” tanya Henry.

Just make fun of her,” jawab Kris lalu tertawa kecil. “She’s funny!”

“Yep, that’s my girl,” sahut Henry sambil mendribble.

Kris berlari menghampiri Henry, merebut bola lalu menembakkannya ke dalam keranjang. Masuk dengan mulus. Henry mendesah sambil berusaha mengambil bola yang sekarang sudah ditangan Kris lagi. Tapi Kris tidak memberikannya begitu saja. Henry harus merebutnya selama bola itu didribble oleh Kris.

“Hei! Kau tahu sendiri aku tidak bisa bermain basket. Jadi berhentilah mempermainkanku,” desis Henry.

Kris tertawa sambil melempar bolanya ke arah Henry. Henry segera menangkapnya dengan helaan berat. Dia tanpa sengaja berhasil mempermalukan dirinya sendiri pada Kris. Mengingat Kris yang bisa saja jahil sewaktu-waktu, Henry benar-benar menyesal karena sudah merendahkan dirinya.

“Kau tertarik dengan Jessica?” tanya Henry tiba-tiba.

Kris terdiam lalu mengangkat bahunya, “Dunno. Mungkin iya. Dia lucu. Kenapa?”

“Aku sedang dalam proyek menjodohkannya dengan seseorang. Tapi sampai sekarang aku belum dapat calon yang cocok. Sepertinya kau cocok,” jelas Henry sambil memainkan bola basket di tangannya.

“Memang tidak apa-apa jika ia tahu ia dijodohkan olehmu?” bingung Kris.

“Dia yang meminta.”

Kris tersenyum tipis. Sebenarnya ia penasaran dengan Jessica. Ia ingin mencari tahu alasan yang membuat Henry seperti bergantung padanya. Benar-benar sesuatu yang langka jika seniornya itu bisa bergantung kepada seorang wanita. Yah walaupun dia adalah ‘sahabat’ Henry.

“Aku mau,” kata Kris.

“Tapi sebelum itu, berjanjilah untuk melakukannya dengan sungguh-sungguh. Jika terjadi sesuatu dengannya karenamu, kau tidak akan selamat.”

Kris kembali menyunggingkan senyum tipis. Sepertinya Jessica memang benar-benar berarti bagi Henry. Membuat dirinya menjadi lebih penasaran. Kris hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Tapi jika proyekmu gagal, bagaimana?” celetuk Kris seraya merebut bolanya dan mendribblenya keluar daerah bersyarat lalu melemparkannya ke dalam keranjang. Kembali masuk dengan mulus.

Henry menghela nafas panjang, “Itu lah yang aku pikirkan. Jadi ku mohon buatlah dia jatuh cinta padamu.”

“Itu mudah.”

“Tidak. Itu tidak mudah! Ku yakin kau menyukainya itu lebih mudah daripada dia menyukaimu,” bantah Henry cepat dengan nada frustasi sambil mengambil bola.

Kris menggigit bibirnya dan menyeringai lebar. Jessica benar-benar membuatnya penasaran sampai jantungnya berdetak cepat. Sepertinya Jessica bukan gadis biasa. Dia menghampiri Henry dan merebut bola dengan sedikit kasar.

“Satu pertanyaan, Henry. Kau rela Jessica dengan orang lain?” tanya Kris.

=== Please, Stop The Time ===

Bagaimana? Seru ga? Maaf aja kalo kurang seru. Soalnya entah kenapa ngetik dengan niat buat novel itu berbeda dengan buat ff -.-

Yang pasti ff ini bakal jadi ff terpanjangku dan konflik bejibun. Itu akibatnya kalo novel dijadiin ff :3

Chapter 1 ini aku publish karena kebetulan ada kesempatan. Soalnya modem aku balik. Jadi bisa ngepost. Intinya waktu terakhir post ff ya besok lah.

Yang pasti ff ini bakal jadi ff terpanjangku dan konflik bejibun. Itu akibatnya kalo novel dijadiin ff :3

Advertisements

35 responses to “Mistake (Chapter 1)

  1. YAH! TBC! Ditunggu deh chapter selanjutnya. Aku paling suka sama pertanyaan Kris yang terakhir. Entah kenapa aku ada firasat kalo Henry itu sebenarnya masih sayang banget sama Jessi. YEY! Banyak yang sayang Jessi. Kk~

    Aku dah baca prolognya. Agak bingung kalo ku bandingin yg ini. Apa ini adalah flash back nya, onn?

    Lanjutkan yah! Dan satu lagi, jangan lama-lama. Onnie dah bikin aku kecewa gegara Rainbow Cafe gak jd di post ToT

    • sip, lanjutannya akhir bulan ya. soalnya saya mau hiatus dulu XD
      henry kan sahabatnya jessie . jadi sayang dong sama jessie :3
      dhyna pernah baca novel ga? kan biasanya kalo prolog-prolog dinovel ga kayak prolog ff kan? prolog novel itu semacam petikan scene ditengah cerita. nah ini juga sama karna sebenernya ini tuh novelku yg aku rubah halauan(?) jadi ff ._.

  2. OMG!! What happen to you.. maaf ini kok aku pas baca awal awal feelnya berantakan yah.. susah masuk(?) kedalam cerita..
    kayaknya mood lu pas bikin ini beda sama pas lu bikin teaser u.u #sotoy
    Ini kok gak kayak tulisan yg fara bikin akhir2 ini.. I’m sorry for critic u.u Part2 ditunggu.

    • sepertinya begitu u,u kan pertama kali buat ini tuh buat novel. jadi emang beda banget sama tulisanku yg biasanya. kan ini dibuat sejak beberapa bulan yg lalu. nanti semakin lama, semakin balik kok. jadi kalo baca ff ini tuh semacam flashback soal gaya tulisanku :3
      kalo teaser, itu aku baru buat jadi emang beda XD

      • nah kan.. pantesan beda.. gue kan udah biasa sama tulisan lu yg akhir2 ini ya.. yaa bisa dibilang kece banget *please jangan kegeeran haha* eh tiba2 dikasih tulisan lama lagi.. ya jadinya gue kritik ._.v
        tapi. bukan berarti ya. tulisan lalma lu jelek.. lu ngerti kan maksudnya haha.. kalo gak ngerti yasudahlah xD

  3. Mskipun ini ff,
    tp entah knp aq baca ny dpt bgt feel novel ny y,
    dari mulai gaya bahasa ny n penulisan nya jg,
    intinya keren deh,
    ff yg feel ny berasa novel. .
    Jarang nemu ff seperti ini,
    next chap ditunggu chingu,
    🙂

  4. Sebenernya nih eon, aku nemu ff ini di FFindo, dan aku iseng buka2 dan baca kok ternyata BAGUS. Dan gara2 ff ini juga aku suka sama pairing KrisSica kekeke. Sepertinya si Henry kok masih sayang ya sama Sica? dan dari pertanyaannya Kris yang terakhir itu agak jleb gimana gitu kalo aku jadi Henry (?) wkwk. lanjut eon. update soon ya^^

  5. Wow, daebak ya !! 😀
    karna aku mirip sica *gledek* jd aku bayanginny malu2 sendiri 😀
    keep writing thor 😀

  6. TBC ganggu TBC ganggu!!
    aih sumpah aku kebawa suasana.. eh tiba” udah TBC lagi -_-
    haha Kris manis (?) deh..
    Sica sampai kaya gitu banget sama kamuu..

    itu si Henry suka sama Jessie??
    yah KrisSica Jjang!!!
    wkwk lanjut eon..

    eh yang 천사 Team kapan dilanjutinnya?? aku gereget ingin baca.

  7. lanjut unn? aku kok kaya lebih srek klo jessica sama henry ya? soalnya klo muka henry aku bisa bayangin,klo kris kurang bisa, hehehe

  8. kyaa, apakah ini pairing KrisSica??
    pertama bca prolognya agak membingungkan lho, tpi stlah bca ampe hbis lgsung dpat feelnya,,
    lnjut lgi ya.. 😀

  9. aku suka ceritanya …
    menarik…
    cast nya juga yang kusuka..
    emm apa Kris akan berhasil ya? aku harap sih berhasil.
    bingung harus comment apa ..
    well, ditunggu kelanjutannya chingu.
    buat yang banyak ya ff KrisIca nya …

  10. Ok deh. Jujur, aku bingung knpa kamu sepertinya lagi gila KrisSica ._.v
    aku udh baca prolog, dan gak mau nanya apa-apa. pertanyaan di otakku udah pada ditanyain readers lain dan udah kau jawab ^^v ehehe
    comment yg bner di part 2 aja yauuwwwwww *kabur 😛

  11. Wow baru awalnya aja udah menarik banget *.*
    Baru pertama kalinya eon baca ff Jessica sama henry, sepeetinya menarik juga nih couple 😀
    Wkwkwk eon sangat suka kalimat Sica “Artinya aku tida nyaman denganmu,” sumpah tuh kalimat jujur banget 😀
    Kris mati gaya deh 😛 *lempar gopean*
    Agak bingung sama perasaan henry yang kamu jabarin, sebenarnya dia itu cinta gak sama sica? tapi malah mau deketin sica sama kris? Nanti kalau patah hati gimana ??
    Seperti biasa, eon selalu suka ff buatanmu 😀

  12. Annyeong Readers Baru … Hyera imnida^^
    FF nya bagus , apalagi pairingnya KrisSica ^^
    4 jempol deh buat eonie 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s