Mistake (Chapter 3)

Author : Lee Hyura

Title : Mistake

Genre : Angst, Friendship, Romance

Rating : PG-13

Length : Series

Cast :

–          SNSD Jessica

–          EXO M Kris

–          SJ M Henry

–          F(x) Amber

 

=== Mistake ===

Henry melepaskan tangan yang menutup matanya dari belakang dengan paksa. Ia benar-benar sedang tidak berniat untuk becanda. Dia melirik ke belakang, melihat wajah Jessica yang dihiasi senyuman lebar.

“Oh lihat siapa yang datang,” cibir Henry.

Jessica merengut. Dia berlari kecil memutari meja dan duduk didepan Henry. Jessica sedikit menyentakkan gelas berisi milkshake ke atas meja. Ia kesal karena reaksi Henry yang kurang bersahabat.

What’s wrong with you?” tanya Jessica menggerutu.

Henry menggeleng. Tangannya sibuk dengan ponselnya. “Nothing.”

“Henry Lau~”

“Berhenti memanggilku seperti itu!” bentak Henry.

Jessica memicingkan matanya, “Aku tahu ada yang salah denganmu! Katakan!”

“Sudahlah, kenapa kau tidak dengan Kris saja? Mana dia, uh? Tidak usah pikirkan aku lagi,” sungut Henry.

Jessica mengerjap, “Henry.. jangan bilang… kau cemburu pada Kris—“

Yep, I’m jealous,” potong Henry. “Tidak ada jam kuliah, kau bersamanya. Pulang, kau pergi bersamanya. Kau tidak ingat padaku lagi, Jess.”

Jessica membulatkan bibirnya tanda mengerti, “Allright. Aku minta maaf. Bukannya ini yang kau mau, kan?”

“Mau… apa?”

“Kris sudah bilang padaku. Dia adalah calonmu. Yeah, kau menjodohkanku dengannya, maksudku. Iya, kan? Harus kau senang kami dekat. Itu artinya rencanamu berjalan mulus.”

“Oh yeah?”

Jessica mengangguk semangat, “Of course!”

“T-tapi.. apa perlu kalian bersama setiap waktu?”

“Ayolah, Hen~ tidak setiap waktu! Buktinya sekarang aku bersamamu, kan?”

Henry menyesap minumannya sambil mengetik beberapa angka lalu menelponnya. Jessica merengus kesal karena Henry sama sekali tidak menanggapi kata-katanya.

“Henry! Iya, kan?” desak Jessica.

Henry mengerutkan keningnya, “What?”

Jessica melempar buku yang dipegang sedari tadi ke kepala Henry sambil menggerutu kesal dalam bahasa Korea. Henry mengaduh kencang seraya mengelus kepalanya.

“Baboneun Jessie!” umpat Henry.

“Mwo? Henry! Wanna die?!” omel Jessica. Henry membalasnya dengan kikikan pelan.

“Huo, calm down..”

Jessica meniup poninya sambil mengambil milkshake lalu menyeruputnya. Matanya tertuju pada tangan Henry yang masih sibuk dengan hpnya. Cukup mengundang rasa penasaran sekaligus curiga Jessica muncul.

“Kau punya target selanjutnya?” tanya Jessica datar.

“Tidak juga.” Henry tersenyum. “Oh iya, kemarin aku bertemu dengan seorang gadis!”

Jessica sudah menebaknya. Dia memutar matanya sambil mecibir pelan.

Henry berdecak, “Hei, jangan berpikir yang tidak-tidak. Dia gadis yang istimewa.”

“Semua wanita kau bilang istimewa.”

“Ini berbeda.”

“Semuanya kau bilang berbeda.”

“Dia tampan.”

“Semuanya juga—apa?”

Jessica terbatuk mendengarnya. Henry tergelak melihatnya. Ia tidak menyangka Jessica akan sekaget itu. Benar-benar lucu.

“Hei!” protes Jessica.

Henry berhenti tertawa dan berdeham, “Sorry. Hanya saja, tadi itu lucu!”

“Henry Lau!”

“Huo~” Henry mengangkat tangannya. “Baiklah~ tenang, oke? Mau mendengar ceritaku?”

Jessica menarik nafas sambil membuka penutup milkshakenya lalu meneguknya dengan geram. Henry tersenyum tipis melihatnya.

“Kemarin aku tidak sengaja menabraknya. Dia memakai topi dan pakaiannya benar-benar seperti laki-laki. Potongan rambutnya juga! Benar-benar terlihat seperti laki-laki sampai ku kira dia adalah seorang pria. Saat aku bertemu dengannya lagi di toko coklat langgananmu itu, aku baru sadar kalau dia adalah wanita.”

“Lalu kau mau mendekatinya?” tebak Jessica malas.

Henry mendesis, “Dengarkan ceritaku dulu! Uangnya jatuh entah dimana. Karena aku tidak tega, aku bayarkan dia. Tapi dia tidak terima. Dia berjanji akan membayarnya.”

“Lalu?”

“Jadi dia meminta nomorku dan bilang akan menemuiku di kampus ini.”

“Lalu? Kau mau aku bertemu dengannya?”

Henry mengerang kesal, “Nona Jung! Otakmu terbuat dari apa, uh? Kenapa kau tidak bisa mengambil pointnya saja? Intinya aku bertemu dengan orang yang unik!”

“Uh-hu~” gumam Jessica sambil mengangguk asal. “Aku mengerti.”

Henry mendesis melihatnya.

>>>

Kali ini Kris hanya membawa Jessica ke lapangan basket di kampus mereka. Tidak banyak orang karena memang tidak ada yang mau berolahraga saat matahari serasa di atas kepala. Jessica melempar bola basket ke wajah Kris dengan kesal. Tapi dengan mudah, Kris menghindar. Bola itu menggelinding keluar lapangan. Jessica berkacak pinggang.

“Kau gila, Kris! Cuaca sedang ekstrim seperti ini, kau malah memaksaku untuk bermain basket? Apa kau begitu tergila-gila pada basket? Jika iya, silahkan bermain sendiri. Aku mau pulang!” geram Jessica sambil meraih tasnya lalu berjalan melewati Kris. “Bye!”

Kris terkekeh sambil berbalik dan mengejar Jessica. Tangannya dengan usil, melingkar di pundak Jessica. Jessica langsung memukulnya geram. Tapi tangan itu tetap melingkar di bahunya. Akhirnya Jessica menarik tangan Kris dan menggigitnya. Kris reflek menariknya, meringis kesakitan sambil mengibaskan tangannya. Jessica melanjutkan langkahnya seakan tidak peduli. Kris terkekeh melihatnya. Ia kembali mengejar Jessica.

“Kau itu wanita atau monster sih?” gerutu Kris.

“Monster musuhnya power ranger!” sahut Jessica.

“Kalau begitu, aku juga musuh mereka. Kita bisa bekerja sama. Lalu kita menikah dan mempunyai anak yang jahat,” celetuk Kris lalu menyeringai lebar.

Jessica berhenti melangkah, “Hah?” Jessica berbalik badan. Reflek, Kris ikut berhenti. Pria itu menyeringai saat Jessica menghampiri.

“Rencana yang indah, kan? Oh, jangan malu-malu seperti itu, Jess. Aku sudah tahu apa yang ada dipikiranmu,” cibir Kris saat Jessica sudah dihadapannya.

“Kris.. kau itu..” Jessica menggantung nada bicaranya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kris. Kaki kanannya terangkat sebelum akhirnya menginjak kaki Kris dengan sekuat-kuatnya. “Mau mati, ya?”

Jessica segera berbalik badan dan berlari menuju parkiran. Dia berdoa agar Henry belum pulang. Sedangkan Kris sibuk meringis kesakitan.

“Ck, benar-benar sensitif. Kenapa semua orang sensitif hari yang panas seperti ini?” gerutu Kris.

Kris menarik nafas dalam lalu menghembuskannya kasar lalu berbalik. Tiba-tiba tubuhnya seperti tersengat listrik saat melihat seseorang yang tidak asing baginya. Orang itu juga terbelalak melihat Kris.

“Amber..” gumamnya.

Orang itu—Amber—meremas tangannya, matanya menatap kemana saja asal tidak ke Kris. Setelah menghela nafas berat, ia berani menatap Kris dan tersenyum. Dengan lambaian, dia menyapa Kris dari jauh.

“Kau ada disini, Kev? Ku kira kau di Kanada,” tanya Amber –berbasa-basi.

Kris menatapnya datar sambil menghampiri Amber. “Aku kuliah disini,” jawabnya. Ternyata Kris melewati Amber. Saat beberapa langkah di belakang Amber, Kris berhenti. “Dan jangan panggil aku Kevin. Panggil aku Kris.”

>>>

“Aigo~ hari pasti ada sesuatu! Tidak biasanya Seattle sepanas ini,” gumam Jessica sambil mengipas dengan tangannya. Dia sedang berdiri dibawah pohon besar didekat mobil Henry terparkir manis.

Tak lama, sang empunya mobil pun datang sambil bersiul, kunci mobil dimainkan oleh tangannya. Langkah Henry terhenti saat melihat sosok Jessica. Kekehan lembut terdengar dari bibirnya. Melihat itu, Jessica menjadi kesal. Panas membuat orang-orang sensitif, itu benar.

“Ada apa, nona Jung?” seru Henry.

“Aku pulang denganmu~” sahut Jessica.

“Tidak dengan Kris?”

Astaga!, Jessica menggerutu dalam hati. Sepertinya Henry benar-benar marah karena beberapa hari terakhir ini, Jessica selalu pulang bersama Kris. Itu bukan salah Jessica, kan? Salahkan Kris si pemaksa dan rasa penasaran Jessica.

“Memang kenapa denganmu?” Jessica memasang tatapan puppy eyesnya.

Henry terkekeh, “Baiklah. Masuk ke mobil.” Henry membuka autolock mobilnya. Jessica menepuk tangannya senang.

Jessica berlari menuju mobil dan membuka pintu. Sebelum masuk, ia melirik Henry yang masih di posisinya, belum beranjak kemana pun. Sahabatnya itu sibuk menatap layar ponselnya dengan alis yang bertautan. Sepertinya dia bingung. Jessica mendesah sambil mengangkat bahu tak peduli. Baru saja ia masuk ke dalam mobil, Henry berbalik badan dan pergi meninggalkan Jessica. Jessica langsung mengejar Henry.

“Henry! Henry Lau! Mau kemana?” teriak Jessica sambil berusaha mengejar Henry.

Henry berhenti dan menoleh. Dia menyeringai tipis, “Gadis tampan itu datang. Dia mau menemuiku, Jess.”

Langkah Jessica memelan dan akhirnya berhenti. “Hah?” dia hanya bisa melempar pertanyaan dengan nada kosong yang terkesan ketus. Antara bingung dan kesal. “Untuk apa?”

“Untuk mengembalikan uangku. Memang kau kira untuk apa lagi?” sahut Henry, bingung.

“A~ni~” Jessica menjawab dengan memainkan nadanya untuk menyembunyikan kekesalannya.

Henri menyipitkan matanya, “Kau marah?”

No!”

You are!”

Yes, I am! So what?”

Why?”

Jessica terdiam. Dia bahkan tidak tahu kenapa dia marah. Yang pasti, dia sudah terbiasa merasa kesal saat Henry bersama wanita lain. Tapi biasanya Jessica bisa mengontrolnya. Apa karena udara panas? Oh, lagi-lagi menyalahkan cuaca…

“Lupakan. Berikan aku kunci mobilmu. Panas sekali diluar,” alih Jessica.

“Kenapa tidak ikut denganku? Aku ingin memperkenalkanmu padanya. Jika Kris tidak berhasil, mungkin saja dia bisa jadi calon selanjutnya?” canda Henry.

Jessica tertawa sinis, “Lucu sekali, Henry Lau! Just gimme your key!”

Henry menyeringai jahil, “Tidak mau! Kau harus ikut denganku.”

“Wae~~?” gerutu Jessica malas.

Henry menghampiri Jessica dan menariknya. Jessica hanya mendesah pelan sambil menatap tangan yang digenggam oleh Henry. Wae?, gumam Jessica dalam hati.

>>>

Henry menarik Jessica ke arah sosok Amber yang duduk di bangku taman. Henry menepuk bahunya karena Amber terlihat sibuk dengan pikirannya sampai tidak menyadari kehadiran Henry dan Jessica.

“Oh, kau!” seru Amber.

Jessica mengerjap. Betul kata Henry. Amber benar-benar terlihat seperti seorang pria yang tampan. Pasti banyak wanita yang terjebak, mengira Amber adalah seorang pria lalu jatuh cinta pada Amber. Jessica terkikik sendiri memikirkannya.

“Ada apa? Kau gila, Jess? Apa udara panas membuat otakmu bermasalah?” bisik Henry yang dibalas oleh sikutan tajam dari Jessica.

“Pacarmu?” tanya Amber.

Henry melirik Jessica lalu merangkulnya, “Apa aku terlihat seperti pacarnya?”

“Tidak!” jawab Jessica datar.

Tiba-tiba seseorang melepaskan rangkulan Henry dengan paksa lalu menarik Jessica. Jessica mengerucutkan bibirnya saat sadar itu adalah Kris.

“Mau apa lagi kau?” sungut Jessica.

“Aku—“ Kris menyadari kehadiran Amber. Sekali lagi, ia terbelalak karena Amber. Dengan paksa, Kris mengulas senyum tipis. “Aku mencarimu, hun.”

Jessica langsung menatap Kris takut sekaligus jijik, “Jangan memanggilku begitu!”

“Kenapa? Kenyataan, kan?”

Jessica mengerjap bingung. Sedangkan Henry dan Amber terbelalak kaget. Henry menatap Jessica dan Kris seolah meminta penjelasan, karena memang tak ada seorang pun diantara mereka yang cerita pada Henry sebelumnya. Bahkan tadi pagi Jessica hanya bilang dia dekat karena mengikuti rencana Henry.

“Tidak usah malu-malu. Semua orang juga tahu,” tambah Kris sambil menarik pinggang Jessica agar mendekat. Matanya sesekali melirik ke arah Amber yang tersenyum tipis.

But—“

No buts, babe! Come on,  we go. I bet Henry wont be happy if we’re here,” potong Kris sambil mengedipkan matanya pada Henry sebelum menarik tangan Jessica pergi.

Jessica tidak meronta. Dia sibuk dengan pikirannya karena belum berhasil mencerna semua kata-kata dan perilaku Kris tadi. Mereka… dating? Sejak kapan? Itu lah yang dipikirkan oleh Jessica. Apa hanya karena Kris sering mengajarkan Jessica bermain basket, mereka bisa dikatakan seperti itu? Entahlah. Jessica juga tidak mengerti.

Setelah kepergian Kris dan Jessica, Henry dan Amber menarik nafas dalam lalu saling melirik. Henry mengangkat tangannya sambil terkekeh kosong.

“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi,” gumam Henry.

Amber tertawa, “Kalau begitu, jangan dipikirkan.”

“Hm!” Henry tersenyum. “Mau ikut denganku?”

“Eh? A-aku hanya ingin mengembalikan uangmu. Setelah itu—“

Please, jangan menolakku,” mohon Henry sambil tersenyum.

Amber ikut tersenyum. Dia menyetujuinya. Apa salahnya menolak permintaan Henry? Toh, Amber yakin Henry adalah orang yang baik.

>>>

Jessica akhirnya tersadar dari pemikirannya yang tidak ada hasil itu. Dia melirik sosok yang sedang menarik tangannya dengan tajam. Lagi-lagi pria itu dengan seenaknya menarik Jessica pergi. Jessica menghela nafas. Kemungkinan besar, Henry akan menginterogasinya dan tidak akan bersikap bersahabat lagi seperti tadi pagi. Bahkan lebih!

“Hei!” protes Jessica. Namun Kris tidak memperdulikannya.

“Hei, Kris!! Kau dengar aku? Lepaskan tanganku!” teriak Jessica sambil meronta.

Akhirnya Kris berhenti dan berbalik. Ia menatap Jessica tajam. Jessica menjadi ciut karenanya. Entah kenapa ada perasaan takut saat Kris menatapnya tajam. Mungkin karena sebelumnya Kris selalu menatapnya dengan tatapan lembut dan hangat? Mungkin.

W-what?” tanya Jessica terbata-bata.

Tiba-tiba wajah Kris mendekat. Bibirnya menyapu permukaan bibir Jessica. Jessica kembali dibuat kaget oleh perlakuan Kris yang tiba-tiba.

“Dengar, nona Jung. Kau milikku,” bisik Kris yang berhasil membuat Jessica seperti disengat listrik.

Fuck!, runtuk Jessica dalam hati.

=== Mistake ===

 

Hoho, saya kembali. Ada yang menunggu ff ini? Maaf lama, soalnya saya lagi males ngedit. Biasa, lagi liburan di rumah saudara soalnya .__.

Ayo komen supaya saya semangat ngeditnya .-.

Advertisements

29 responses to “Mistake (Chapter 3)

  1. whaaa bagus min…
    Hehe, saya suka wktu kris nyium bibirnya jessica… soalnya saya suka krissica min. *gg tnya*…

    Lanjutannya yang cepet ya? jangan lama-lama… hoho ^^

  2. sudah dilanjut! Yeayyy~ *nari-nari XD

    paling suka moment pertama dan terakhir~ HenSica kemudian KrisSica ^,^
    henry cemburunya jujur.. aigo~ selingkuhanku ini~ づ ̄ ³ ̄)づ~~♥ *dipelototinTaemin+Chunji xD

    konflik rumit? fine! kita lihat, siapa yg akan menang.. gue atau eloh!(?)*ngelantur-,-

    far~ lanjutannya yg cepet~ *narik-narik baju fara

      • Sialan lo!
        Tau aja yg aku maksud yg mana~ u,u

        ngadu apa ke papii aku? Ngadu kalau putrinya yg satu ini, *tunjukdirisendiri* punya calon suami lagi? :3

  3. Wah! They’re kissed! #teriakpaketoa

    Onnie, seneng sama chapter ini. Tapi yg aku belum mengerti tentang Kris-Amber. Mereka dulu teman, atau…(?) Well, onnie pasti mengerti maksudku.

    Lanjutkan onnie! Jangan lama-lama 😉

  4. wahhh seru seru seru….
    tp terlalu pendek ceritanya…tp gpp lah tetep d tunggu chapt selanjutnya yaw..,,
    please jangan lama-lama udah penasaran bgt nieh

  5. Wkwkwwk sumpah eon ngakak baca sica ngomong “Monster musuhnya power ranger!”..
    Kamu dapet ide darimana nulis kalimat itu? Sumpah lucu banget 😀
    Ini lagi si kris edan banget, aduh eon sakit perut ah baca-nya huhu~
    Sumpah nih couple edan banget kayaknya kalau dikasih nama crazy couple cocok juga 😀
    Nah loh ada apa tuh sama kris n amber? Mantan pacar kah? Jangan bilang iya..
    Jujur aja part ini gak semenarik part kemarin, tapi part ini penuh dengan keganjilan *nahloh”
    Setelah ada amber eon ngerasa Kris gak cocok buat Sica, dan Kris juga gak cocok buat amber, entahlah pemikiran macam apa itu..
    Menurut eon karakter Sica di part ini jadi lemah, eon ngerasa Kris sama sica Cuma maksain diirnya aja. Beda loh penasara, suka n cinta itu..
    FF ini kalau endingnya Henry sica itu lebih menarik, tapi kalau mau buat Kris sica juga gpp, asal nanti penjabaran di tengahnya harus lebih detail dan menggamnarkan perasaan mereka masing2..
    Sepertinya eon harus agak sabar baca ff ini, coz firasat eon mengatakan eon akan dibuat geregetan sama ffmu ini..
    Hwaiting pokoknya saeng^.^

  6. Saya tunggu updatenya chinguu..
    Sama ff sica yg belom kelar laennya juga di tunggu kelanjutan ceritanya. Hiks! Jangan lama-lama yaaa yaa yaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s