Mistake (Chapter 4)

Author : Lee Hyura

Title : Mistake

Genre : Angst, Friendship, Romance

Rating : PG-13

Length : Series

Cast :

–          SNSD Jessica

–          EXO M Kris

–          SJ M Henry

–          F(x) Amber

 

=== Mistake ===

Jessica menggeliat kecil di kasurnya. Ia tidak bisa tidur. Ia terus teringat kejadian hari ini. Jessica meremas gulingnya lalu menutup wajahnya dengan gulingnya itu. Jantungnya berdebar kencang. Of course because it’s her first kiss. Oh come on! First kiss is the most important thing for everyone, rite?

Saat mendengar dering telepon dari ponselnya, dia melempar gulingnya dan meraba meja disamping kasur untuk meraih hpnya. Setelah dapat, ia segera mengangkatnya. Tanpa ia lihat siapa yang meneleponnya pun ia sudah tahu. Ia memakai ringtone khusus untuk si penelepon yang satu ini. Henry.

Hello, Lau? What’s up?” sapa Jessica malas.

“Err, apa aku mengganggu tidurmu?” sahut Henry.

Jessica mendesah dan mengubah posisi jadi duduk. “Tidak. Ada apa?”

“Bisa kau buka pintu rumahmu? Aku ada di depan rumahmu.”

Hening sesaat. Jessica mencoba mencerna kata-kata Henry.

“HYAAAA???” pekik Jessica kaget saat berhasil mencernanya.

Henry mengerang mendengarnya. “Jes..Sic..Ca.. Jung!”

Jessica terkikik geli, “Oh sorry…”

“Yea, cepat buka pintu!”

Jessica menutup telepon segera lalu melompat dari kasur dan berlari ke pintu depan. Dia sedikit panik karena tidak berhasil menemukan kunci pintu.

Oh come on…” desahnya frustasi.

Dia menghela nafas lega saat ia melihat kuncinya ada di atas meja tamu. Ia segera meraihnya dan membukakan pintu. Wajah cerah Jessica untuk menyambut Henry perlahan memudar dan menjadi suram saat melihat sosok tinggi dibelakang Henry.

“Kris…?” gumamnya tak suka.

>>>

You must be kidding me, Henry! No way! No more joke, please!” protes Jessica. Setiap kata sengaja Jessica tekan.

Henry tersenyum tipis, “But—“

No buts!” potong Jessica sambil melipat tangannya. Matanya melirik Kris tajam. “You! What game are you playing now, uh?”

“Jessie, aku hanya menginap disini semalam saja. Apa yang salah?” celetuk Kris.

Henry mengangguk cepat, “Lagipula, kau tidak tahu kalau hari ini, listrik akan dipadamkan selama 1 jam?”

Jessica terbelalak, “Eh? Kapan?”

“Hm..” Henry melirik jam tangannya. “Jam 8. Sekitar 20 menit lagi.”

Jessica merengut, “Kenapa tidak kau saja?”

“Aku ada urusan kecil setelah ini. Aku tidak bisa menemanimu. Lagipula Kris bisa menahan semua tendanganmu. He’s powerful,” jelas Henry dengan nada menyindir.

“Hei.. hei..” desis Jessica.

Henry tekekeh lalu bangkit. “Oke, aku pergi sekarang.”

“Andwae!” teriak Jessica panik.

Henry dan Kris langsung menoleh dan mengernyit bingung. Jessica mengerjap. Dengan segera, ia menggeleng cepat.

“Tidak. Aku tidak menyumpahimu atau apapun itu kok!” jelas Jessica panik. “Aku hanya melarangmu pergi…”

Henry menghela nafas. Sedangkan Kris terkekeh. Jessica mengerecutkan bibirnya kesal.

“Jess… aku diminta datang ke sanggar musik pamanku sekarang. Aku sudah terlambat. Ku mohon..” ujar Henry.

“Aku ikut?” usul Jessica.

Henry mendesis, “Aku yakin kau hanya akan tertidur disana. Aku tidak mau mengangkatmu. Kau berat!”

“Hei! Pergi kau!” pekik Jessica kesal.

Henry langsung berlari cepat keluar dari rumah Jessica. Sedangkan Jessica berkacak pinggang kesal. Matanya melirik Kris. Ia baru ingat keberadaan dan tujuan Kris disana. Jessica menghela nafas menyesal.

“Nan baboya..” gerutunya.

Sedangkan Kris tersenyum penuh kemenangan.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” sungut Jessica.

“Senyum membuat awet muda. Marah-marah membuat cepat tua. Jadi lebih baik kau tersenyum sebelum keriput muncul,” cibir Kris.

Jessica mendesis. Tangannya meremas bantal sofa. “Ya wanna die?”

“Coba saja kalau kau bisa. Ku yakin kau tidak bisa.”

“Argh!!” Jessica melemparkan bantal sofanya ke Kris. Tapi seperti biasa, Kris dapat menangkisnya. Sekali lagi, Kris mengulas senyum kemenangan.

>>>

Henry naiki tangga ke dalam bus dengan langkah malas. Kalau saja mobilnya sedang tidak masuk ke bengkel, mungkin ia tidak perlu naik angkutan umum. Benar-benar menyebalkan! Dia tidak pernah suka berdesak-desakan dengan orang-orang. Bahkan walaupun ia selalu menonton konser musikal, ia selalu mencari waktu dimana dia tidak akan masuk dengan berdesak-desakan.

Entah malam ini dia sedang beruntung atau tidak, bus itu tidak terlalu penuh. Malah terkesang lengang. Henry mengambil kursi di bagian tengan deretan kanan. Ia sibuk memandangi pemandangan diluar jendela. Tapi pikirannya tidak disana. Dia memikirkan hal lain. Sepertinya sesuatu yang berat, karena sudah beberapa kali ia menghela nafas panjang, berharap rasa sesak akan keluar bersama nafas itu.

“Bodoh. Untuk apa aku memikirkannya? Aku tidak boleh memikirkannya!” runtuknya. Tangannya terkepal sambil menundukkan kepala.

Henry mengerjap saat melihat tulisan-tulisan di bagian dibawah jendela bus itu. Tulisan dengan tinta yang berbeda-beda namun bergaya tulisan yang sama. Ia tersenyum kecil. Kalimat-kalimat itu bermakna sedih maupun senang.

NEW LIFE! YOU CAN DO IT!! YEAH!

 

What are you doing now? Hehe, I’m just curious. How is your life there?

 

TODAY! My brother’s plan succeeded! You rock, bro!

 

Dan masih banyak kalimat lainnya. Entah kenapa Henry yakin orang yang menulisnya adalah seorang gadis remaja. Tentu saja sisi playboynya tidak diam saja. Sebuah ide muncul. Henry mengeluarkan pulpen yang selalu ia simpan di saku kemejanya dan menulis sebuah kalimat.

Hey, wanna introduce yourself?

>>>

Amber menutup pintu kamarnya perlahan. Ia tersenyum tipis saat melihat sebuah note di jendela kamarnya.

Thanks, Amber. You always be my angel!

–          Your brother.

Everything,” gumamnya.

Dia menghempaskan dirinya di kasur. Matanya perlahan terpejam. Hari ini benar-benar hari yang panjang, melelahkan dan menyakitkan. Siapa sangka dia akan bertemu dengan seseorang yang selama ini berhasil ia lupakan selama beberapa tahun ini. Kris? Bahkan Kevin jauh lebih baik daripada nama itu. Kenapa harus Kris? Amber menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya dengan kasar.

“Wow.”

Hanya itu yang dapat ia katakan sekarang. Ia tahu ia akan terjebak antara masa lalu dan masa sekarang. Harinya akan berubah menjadi hari yang berat seperti di Kanada dulu. Ck, dia harus mempersiapkan mentalnya.

Tiba-tiba Amber teringat dengan gadis yang datang bersama Henry. Dia tersenyum sinis mengingat kata-kata Kris tentang gadis itu.

“Kris? Kenapa kau harus berbohong?” gumam Amber. “Mau menjadikan gadis itu sebagai korban selanjutnya? Ku kira Henry tidak akan diam saja.”

>>>

Jessica menggerutu pelan sambil memeluk kedua kakinya sambil menonton acara di televisinya. Sesekali ia melirik Kris. Ia takut laki-laki itu akan berbuat macam-macam. Bukan ‘macam-macam’ yang berarti hal yang buruk. Tapi Kris benar-benar jahil. Bagaimana jika Jessica diusili olehnya? Tidak ada Henry disini. Jessica mau mengadu ke siapa?

“Kenapa melirikku? Aku tampan?” cibir Kris.

“Bodoh!” sahut Jessica menggerutu.

“Lebih baik kita keluar rumah saja selama listrik dipadamkan,” usul Kris.

“Kenapa? Lebih baik aku tidur. Jika tidur, tidak akan sadar kalau listrik sudah dipadamkan, kan?” sahut Jessica.

Kris menggertakkan giginya, “Keras kepala! Sesukamu lah! Jika bukan karena Henry yang memohon padaku untuk menemanimu, aku tidak akan mau menemanimu.”

“Seperti aku mau ditemanimu saja!”

“Kalau begitu aku pergi!”

Sebelum Kris bangkit, Jessica sudah terlebih dahulu bangkit. Jessica menggertakkan giginya sambil menatap Kris lalu membuang muka. Ia pergi ke kamarnya. Kris terkekeh seraya menggeleng pelan. Seperti perkiraannya semula, Jessica memang ‘tidak biasa’…

“Hei, aku benar-benar pergi, ya!” teriak Kris main-main.

“Dengan senang hati, tuan!” sahut Jessica.

Kris menggelengkan kepalanya. Benar-benar membuatnya gemas. Jaman sekarang, kenapa masih ada gadis segengsi Jessica? Benar-benar langka di daerah Amerika. Akhirnya Kris menyerah. Ia bangkit dan bersiap untuk pergi. Tapi tiba-tiba gelap! Sepertinya listrik sudah dipadamkan oleh pihak pemerintah.

“Kya!! Umma!!”

Kris menoleh saat mendengar teriak Jessica. Itu bukan teriakan kaget. Itu lebih dari teriakan takut. Itu sebuah teriakan yang semakin lama terdengar pelan namun berulang-ulang seakan menekankan bahkan orang itu sedang dalam bahaya.

“Jess? Jessie?” panggil Kris.

Dengan penerangan dari hpnya, Kris pergi ke kamar Jessica. Ia melihat gadis itu sedang meringkuk di sudut kasurnya sambil terus berteriak yang diiringi isakan. Kris segera menghampirinya.

“Jessie! Jessica..”

Kris mengguncang tubuh Jessica. Tapi itu malah membuat Jessica semakin kalut dan berteriak kencang, seakan Kris adalah monster yang akan memakannya. Kris mencoba menenangkan Jessica. Tapi Jessica meronta. Benar-benar jauh lebih kuat daripada biasanya. Kini Kris mengerti apa maksud dari semua kata-kata Henry tadi. Juga mengerti kenapa Henry memohon dengan sangat pada Kris.

“Jessica! Tenanglah!” bentak Kris.

Kris menarik tangan Jessica dengan paksa lalu memeluknya erat. Bahkan ia tidak peduli dengan Jessica yang meronta seperti orang kesetanan.

Setelah beberapa lama, akhirnya Jessica berhenti meronta. Dia hanya sibuk menangis. Sedangkan Kris sibuk mengatur nafasnya. Benar-benar menguras tenaganya. Setelah benar-benar yakin Jessica sudah tenang, Kris mengeluarkan hpnya dan memberikannya pada Jessica. Cahaya yang keluar dari layarnya berhasil membuat Jessica lebih tenang. Kris tersenyum kecil sambil menolehkan kepala Jessica ke arahnya.

“Kau diam disini. Aku akan cari sesuatu. Mengerti?” kata Kris.

Jessica mengangguk pelan. Kris tersenyum. Ia mengusap wajah Jessica yang basah karena air mata lalu menepuk kepalanya sebelum ia pergi keluar kamar. Dia sempat melirik Jessica sebelum benar-benar pergi. Gadis itu diam sambil menatap layar ponsel milik Kris. Benar-benar seperti anak kecil yang baru pertama kalinya melihat barang yang hebat.

Next day.

Jessica menggeliat dan menguap kecil sebelum membuka matanya. Jessica mengerjapkan matanya saat sadar Kris tidur di sampingnya. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.

“M-mwoya..” gumamnya. “KYA!!!”

Kris langsung terlonjak dari kasur. Dia menoleh ke segala arah dengan panik. Jessica merengut. Tangannya meraih bantal lalu melemparkannya pada Kris.

“Eh? Ouch!” ringis Kris.

Jessica tersenyum bangga karena akhirnya ia berhasil mengenai Kris. Biasanya Kris selalu berhasil menangkis atau menghindari segala lemparan dari Jessica.

“Hei! Apa-apaan kau, Jess?” omel Kris.

“Kau! Apa yang kau lakukan di kasurku, eh? Pervert!” balas Jessica.

Kris terdiam sejenak sambil menatap Jessica dengan tatapan what-the-hell. Setelah itu dia mengacak rambutnya frustasi. Dia benar-benar menyesal telah melakukan semuanya semalam. Mengkhawatirkannya, menenangkannya, memeluknya, mencarikan sumber cahaya lainnya…

I’m not! Aku hanya—argh! Apa kau tidak ingat kejadian semalam?” kesal Kris.

Jessica mengerjap, “Apa?”

Kris menghela nafas kasar, “Lupakan!”

“Eh, tunggu!” seru Jessica sebelum Kris meninggalkan kamarnya. “Aku ingat. Terima kasih banyak.”

Kris menyeringai. “Bukan apa-apa. Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku.”

Mata Jessica membulat, “MWOYA?!”

>>>

Untung saja hari ini, kelas Henry dimulai pada siang hari. Semalam benar-benar melelahkan. Ia sibuk membantu pamannya melatih beberapa murid. Mereka mempersiapkan diri untuk festival musik musim panas yang sebentar lagi digelar. Mungkin sekitar seminggu lagi.

Dan karena semalam ia baru pulang hampir tengah malam, ia tidak sempat mengambil mobilnya. Alhasil, ia harus pergi dengan bus lagi. Sedikit bersyukur karena saat itu, bus itu juga lengang. Mungkin karena siang hari? Mungkin saja. Henry mengambil tempat duduk di depan.

“Oh!” serunya saat ia ingat bus itu adalah bus yang sama dengan bus semalam. Ia segera bangkit dan mencari tempat duduknya kemarin. Beberapa orang bingung melihat tingkahnya. Apalagi saat dia memohon untuk duduk dikursi semalam. Padahal kursi itu ditempat sepasang kekasih yang sedang asik berbincang ria.

Thank you so much. Sorry for distrubing you two,” kata Henry.

Sepasang kekasih itu hanya mengangguk pelan dan mencari tempat duduk lain sambil menggumam pelan. “Weirdo!”

Henry mendengarnya. Tapi ia tidak peduli. Persetan dengan mereka. Sama sekali tidak penting! Tulisan itu jauh lebih penting. Dia mencari balasan untuk pesannya semalam. Tidak ada! Dia mendesah pelan. Padahal ia pikir ini akan menyenangkan.

Saat ia ingin bangkit karena sudah hampir sampai di halte kampusnya, matanya tidak sengaja menangkap sebuah tulisan. Bukan kumpulan huruf, tapi angka. Nomor telepon! Henry segera mengeluarkan hpnya dari mengetiknya. Ia mengangkat salah satu alisnya saat sadar nomor itu persis dengan nomor seseorang.

“Amber?” gumamnya.

>>>

Henry menepuk bahu sahabat terbaiknya yang sedang membaca buku di bangku taman dengan serus itu. Tentu saja gadis itu menggeram kesal. Bukunya terlempar mengenai dada Henry. Henry mengaduh kesakitan. Tapi Jessica sama sekali tidak memperdulikannya.

“Kau kejam!” cibir Henry.

“Kembalikan bukuku, Henry Lau!” perintah Jessica.

Henry mendesah pelan. Tidak biasanya Jessica secuek itu padanya. Henry membungkuk untuk mengambil buku itu. Tapi seseorang sudah mengambilnya terlebih dulu. Dia adalah Kris. Siapa lagi? Orang itu memang suka muncul dan hilang tiba-tiba. Oh mungkin dia keluarga vampire di film twilight?

“Bagaimana semalam?” tanya Henry lalu terkekeh.

“Indah,” jawab Kris sambil mengedipkan mata pada Jessica.

Jessica memicingkan matanya, “Apanya yang indah?”

“Aku tidur denganmu. Indah, kan?” sahut Kris.

Henry terkejut mendengarnya, “Kalian.. apa?”

“I-itu.. Henry! Jangan berpikir sembarangan!” pekik Jessica panik.

“Sembarangan…” gumam Kris –menyindir.

Jessica mendesis. Tangannya terkepal. “Jangan sampai ku timpuk kau dengan tasku, Kris! Tidak bisa kah kau respect padaku? Bertingkahlah sopan!”

Alis Kris terangkat jahil, “Why? Karena kau lebih tua dariku? Hanya setahun, Jess.”

“Sshh..!” Henry segera melerai sebelum perdebatan itu semakin parah. Henry merampas buku Jessica yang masih ditangan Kris lalu menarik Jessica pergi. Jessica hanya menurut. Dia menoleh ke arah Kris dan menjulurkan lidahnya.

Wǒ de shǎ yātou,” gumam Kris lalu tertawa geli.

>>>

“Wae~~?” tanya Jessica saat Henry sudah melepaskan tangannya.

“Kau benar-benar tidur dengannya?” tanya Henry panik.

Jessica mendesah pelan, “Ku bilang, jangan berpikir sembarangan. Kami hanya tidur. Ti..dur.. tanpa melakukan hal lain. Sleep..ping Sleep..ping. Sleep..ping. Sleep..ping.”

Jessica terus-menerus mengulang kata itu untuk menekankan dia hanya tidur bersama tanpa melakukan yang lainnya. Henry membungkam mulut Jessica dengan tangannya sambil mengerang frustasi. Tapi Jessica tetap mengulangnya terus-menerus tanpa peduli kalau bibirnya sudah dibungkam.

“Baiklah.. baiklah.. aku mengerti! Berhenti mengatakan itu. Aku mengerti,” geram Henry.

Jessica terkikik. Tangannya menarik tangan Henry agar terlepas dari bibirnya. Jessica tersenyum lebar.

“Kau tidak usah berpikir macam-macam. Ku pikir Kris memang jahil dan menyebalkan. Tapi dia tidak akan mengecewakanmu,” ujar Jessica yang entah mengapa sukses membuat Henry merasa kecewa.

“Eh?” gumam Henry.

Jessica mengernyit, “Ada yang salah?”

Henry menggeleng cepat, “Tidak. Tidak ada.”

Henry menghela nafas. Jessica mengerjap mata bingung karenanya. Seperti ada yang sedang dipikirkan oleh Henry tapi tidak bisa dikatakan.

“Ada apa?” tanya Jessica.

Henry tersenyum tipis. “Nothing.”

Really?”

Henry menghela nafas kembali. “Aku sedang memikirkan tentang sesuatu.”

“Apa?”

Henry meringis. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba ia mengerjap entah karena apa. Ia segera mengeluarkan handphonenya dan membuka kontak nomor Amber. Jessica menatapnya kesal.

“Apa maksudnya?” tanya Jessica sinis.

Henry terkekeh mendengar nada sinis Jessica. Ia mulai menceritakan kasus di bus semalam dan tadi. Tapi di akhir cerita, Henry merasa sedikit kecewa karena Jessica tidak terlalu memberikan respon baik.

“Ada apa?” bingung Henry.

Jessica mendengus, “Apanya?”

“Ada apa denganmu? Apa kau masih kesal dengan Kris?”

“Tidak! Tentu saja tidak! Aku kesal denganmu! Aku kesal dengan Amber! Sejak kau kenal dengannya… sepertinya kau mulai berubah.”

“Berubah?”

“Berubah! You stopped flirting!”

Henry mengernyit, “Bukankah itu bagus?”

“Tidak bagus karena yang membuatmu seperti itu adalah Amber!” tekan Jessica gemas.

“Wae~~?” Henry sengaja mengikuti gaya Jessica.

Jessica menggigit bibirnya, “Karena.. karena..”

“Karena..?”

“Akh!” protes Jessica saat seseorang menariknya pergi. Dan lagi-lagi itu adalah Kris. Jessica menoleh dan menatap Henry lirih. Tapi Henry hanya tersenyum tipis lalu pergi. Jujur, Jessica kecewa karena sepertinya Henry benar-benar ingin melepaskan Jessica. Henry menjauhinya. Jessica tahu itu. Jessica merasakannya.

“Kris..” panggil Jessica lirih.

“Hm?” sahut Kris tanpa berhenti ataupun menoleh.

“Kenapa? Kenapa kau selalu datang di waktu yang tepat?”

Kris berhenti dan menghadap ke Jessica. “Seperti yang ku katakan tadi pagi. Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku.”

=== Mistake ===

Ini cerita udah asli buatan masa kini karena saya ga mau make lanjutan dari novel. Novel saya mau dijadiin resensi saya aja. Abis ada beberapa hal yang ga cocok dengan Kris dan Jessica. Amber apalagi. Jauh banget -_- tapi masih bagus kah ceritanya?

Jujur saya paling semangat ngebuat cerita ini. Dari segi cerita yang sedikit berbeda dari ff yang biasa saya buat, terus dari castnya, juga dari respon pembaca. Itu tuh ‘Oh lala’ banget .__.

Ayo komen supaya saya makin semangat :3

Ket:

–          Wǒ de shǎ yātou = my silly girl (dialognya Kris)

Advertisements

25 responses to “Mistake (Chapter 4)

  1. OMO! Onnie JJANG! Bisa banget bikin ketertarikan pada ff ini.

    Bener, onn! FF ini jauh berbeda dari yang onnie biasanya buat. Saya suka! Saya Suka!

    Tuh lagi, Jessica kapan berhenti jadi nenek lampirnya? Ngomel mulu. Kris juga kapa berhenti jadi vampire Twillight-nya? LOL

    Masih rada bingung sama Henry. Sebenarnya dia itu suka sama Jessi atau Amber sih? But, its okay. I love this fanfic, and..

    LANJUTKAN!!!! #teriakalaSBY

    • iya kan berbeda? tapi berbeda di segi apanya ya? -.-a apa cuma kotanya doang? /plak XD
      buahaha lol vampire vs nenek lampire XDD
      henrynya misterius soal perasaan .__. sabar aja ya /freepukpuk

  2. Kyaaaaa. .
    Aq bisa gila bneran krn baca ni ff.
    Keren bgt.
    Aq suka bgt ma ni ff.
    Critanya keren n bkin aq jg ikutan bayangin kejadian yg di ff ini. .
    Kris keren bgt,
    aq suka smuanya di ff ini.
    Sukses bkin snyum” gaje.
    Daebak.
    Next chap ditunggu. .
    #heboh.com

  3. akhirnya chap 4 nya kluar,,
    sbnarnya hbungan Amber sma Kris apa sih far??
    ksih tw dong far.. -_-
    tpi tmbah sru lo crtanya,, :3

    hrus ttap SEMANGAT ya far, ditunggu chap 5 nya..
    Hwaiting..#tmbah titip 2 jempol buat fara.. 😀

  4. Gak tau kenapa, aku nyesek banget baca part ini …
    Aku ngerasa, kalo Kris bkan cowok baik-baik ==> “Mau menjadikan gadis itu
    sebagai korban selanjutnya?” *ditimpukKris

    dan menurutku dari 4 cast ini, yg paling sakit itu, jadi Henry & Amber.. Poor to my henry 😦

    baik Jessica atau Henry, kayanya gak bisa ngelepasin satu sama lain.. dan Kris, smakin kesini, smakin trlihat bahwa dia cuma ‘tertarik’ sama mamii Jess. bukannya cinta yg bner2 cinta *bahasague xD

    Henry~ aku… baca part dia…. jadi pengen nangis 😦 dia itu, seakan cuma pngen ngeliat mamii bahagia, tp sbenernya dia gak mau ngelepasin~

    far, next part…. ditunggu! maaf kalau komenku panjang dan terkesan sok tau :p
    oh iya! I choose to love you, mamii papii-ku juga, ditungguuuuu .__.v

    • kris emang bukan cowok baik-baik.. dia itu cowok keren bukan baik :3 /didepak
      kok gitu? emang ada apa dengan henry dan amber? 😦
      err.. sungguh saya speechless.. sepertinya kau berpikir kris itu jahat banget ya? ;A; /peluk tao *eh salah
      pukpuk.. dont cry ma cousin T.T /hug
      sip ff jaesicanya nanti menunggu ya. lagi ada kendala soalnya .__.

      • -_____-

        henry kan rada-rada kasian karena kayaknya dia cuma pengen ngabulin permintaan mamii spya bisa pnya pacar. *hen: emang gue jin?!!*
        kalau amber… aku juga gak ngerti ._.v

        kalau bukan jahat, apa donk namanya? gak baik? :p

        sudah~ sudaahhhh~

        kendala apa? bentar lagi, kah? :3

  5. Yaaaakkkk… Itu adegan yang mati lampu kocak, unyu, dicampur jadi satu! Hahaha. Jessica yang gengsian tapi takut gelap -_- dan kata-kata Kris errr….. ‘…Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku.’ Itu lovely sekaliii >.<
    Ditunggu lanjutannya yaa. Fighting ^^~

  6. Wkwkwk
    Sumpah ngakak deh pas baca“Tidak. Aku tidak menyumpahimu atau apapun itu kok!” jelas Jessica panik. “Aku hanya melarangmu pergi…”
    Eon ngebayangin wajah panik sica sambil geleng2 kepala, hahaha sumpah deh lucu 😀
    Ya ampun jessica disini karakternya gokil banget si, tadi mohon2 sama henry supaya dia gak ditinggal berdua sama kris tapi begitu henry bilang dia berat, dia langsung ngusir henry? Dasar plin-plan 😛
    WOW..
    Sica serem banget ya kalau lagi ketakutan, ihh ngeri jadinya..
    Ahhh eon gak setuju henry sama amber u,u
    Eon ngerasa henry itu sebenarnya gak rela kalau kris sama sica, tapi kenapa dia masih tetep bikin kris deket sama sica..kayaknya sica udah mulai ngerasa kehilangan henry, sama yang kayak henry rasain saat awal2 dia deket sama kris..
    Penasaran banget sama kisahnya amber n kris..
    Lanjut saeng,,

  7. Daebak eon^^
    Suka sama Karakter Jessica disini 🙂
    Aish Moment KrisSica nya bikin saya senyum senyum sendiri….
    4 jempol deh buat eon^^

  8. -nari tortor- ternyata ada kisseu scenenya di part 3 xD
    yaah walau gak se-hot susica #plak
    lanjut eon! saya menunggu dengan sabar kekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s