You and I (Chapter 1)

Author : Lee Hyura

Title : You and I

Genre : Fantasy, Romance

Rating : PG

Cast :

  • Kang Minhyun (OC)
  • EXO Baekhyun
  • EXO Sehun
  • F(x) Sulli

please baca prolognya dulu ya sebelum baca ini.

Pacar impian.

Semua orang punya bayangan akan pacar impian, bukan?

Tak apa kan jika aku bermimpi bertemu pacar impian?

Bagaimana jika aku berhasil mendapatkan pacar impian itu?

Bagaimana jika caranya tidak masuk akal?

Tidak waras kah aku?

 

===You and I===

 

Minhyun pov.

 

Suara nyaring jam bekerku benar-benar merusak mimpi indahku. Mimpi aneh sebenarnya. Mimpi itu benar-benar aneh tapi aku anggap itu juga indah. Aku mengakses sebuah situs aneh untuk memesan ‘pacar impian’. Aku tertawa dengan mata tertutup saat memikirkan ulang mimpiku. Sepertinya aku benar-benar bosan dengan status lajangku ini. Micheosseo!

 

“Hei, Minhyun-ah~ kau gila ya?”

 

Aku tersentak saat mendengar sebuah suara lelaki asing dan merasa sebuah jari menekan pipiku. Aku langsung membuat mataku. Aku terbelalak, menatap sebuah sosok didepanku dengan horor. Argh, gila! Ini tidak mungkin terjadi! Mana mungkin mimpi bisa menjadi kenyataan? Umma~~~!!!!!

 

“Ada yang aneh denganku?” tanyanya.

 

Aku terkekeh kosong, “E-eobseoyo.. err.. Baek..Hyun..ah…”

 

Baekhyun mengernyit, “Terserahlah. Cepat mandi! Ummamu sudah berteriak menyuruhmu mandi dari tadi.”

 

“Uh, oh? N-ne.. kau boleh keluar sekarang,” tanggapku. Aku masih benar-benar kaget. Otakku belum masih bisa mencerna semuanya. Please, kalau ini mimpi, bangunkan aku… ini mulai menjadi mimpi yang mengerikan. Hikseu.

 

“Semalam kau bilang jangan keluar dari kamar. Sekarang kau suruh aku keluar? Kau bodoh sekali,” sungutnya.

 

Aku menepuk wajahku, “Aigo! Aku lupa! Mianhae~”

 

“Minhyun-ah, kau sudah bangun?” teriak umma dari luar.

 

Aku menoleh ke arah pintu, “Ne~” lalu menatap Baekhyun. “Kau tetap disini. Kau mengerti?”

 

“Ye~” sahutnya sambil bangkit, memutar kasurku dan menghempaskan tubuhnya di area kasurku yang kosong.

 

>>>

 

Dengan perlahan, aku membawa nampan berisi makanan ke dalam kamarku saat kedua orangtuaku sudah pergi bekerja. Aku melihat Baekhyun sedang bersantai di atas kasurku sambil memainkan barang-barang yang dapat ia raih.

 

“B-baekhyun-ah.. kau mau makan?” tanyaku dengan nada bergetar. Aku benar-benar takut!

 

“Tidak,” sahutnya tanpa menoleh.

 

“Sungguh?”

 

“Yep.”

 

“K-kalau begitu, aku yang akan—“

 

Aku terdiam saat Baekhyun menoleh padaku dan tersenyum. Astaga, jantungku yang sudah berdetak dengan cepat karena takut, menjadi berdetak lebih cepat lagi setelah melihat senyumannya. Dia benar-benar terlihat seperti anak kecil. Astaga…

 

“Kau bisa meletakkannya di meja. Aku akan memakannya nanti,” katanya.

 

“Oh ya!” aku tersenyum tipis sambil menuruti kata-katanya lalu meraih tas. “Aku pergi ke sekolah dulu. Kau tetap di kamarku apapun yang terjadi. Mengerti?”

 

“Hm.” Dia hanya menjawabnya dengan gumaman pelan tanpa menoleh. Setidaknya jika begini, aku bisa sedikit tenang.

 

>>>

 

Mungkin efek dari kekhawatiran yang berlebihan kepada makhluk yang entah apa itu—Baekhyun, aku jadi tidak bisa berkonsentrasi. Sungguh. Aku tidak bisa mencerna pelajaran dan hanya memikirkan Baekhyun. Bukan apa-apa, hanya saja semua orang pasti khawatir jika berada di posisiku. Takut Baekhyun melakukan sesuatu yang merepotkan atau ketahuan oleh orang lain.

 

Saat keluar dari kelas, aku memilih untuk pergi ke atap sekolah dan memakan bekalku disana. Setidaknya tidak akan ada orang yang melihatku terlamun sendiri dan teriak tiba-tiba tanpa sebab. Jadi aku tidak akan dikatakan orang gila, kan?

 

Aku terlonjak kaget saat seseorang menepuk bahuku tiba-tiba. Aku menoleh dan menatap tajam orang itu yang ternyata adalah Jinri, kakak kelas sekaligus sahabatku. Tapi dia lebih suka dipanggil Sulli. Entahlah aku tidak tahu alasannya.

 

Dia meniup poninya gemas, “Akhirnya ketemu juga kau!”

 

“Kenapa bisa tahu aku disini?” tanyaku.

 

“Dari teman-temanmu.”

 

Aku membulatkan bibirku dan mengangguk mengerti. Aku kembali menyuap makananku.

 

“Minhyun-ah, sepulang sekolah nanti ada rapat klub. Jangan lupa untuk datang, ya!” serunya.

 

“Rapat? Rapat apa?” tanyaku.

 

“Rapat demo klub. Sebentar lagi kan ada festival sekolah. Kita bisa memanfaatkannya untuk menambah anggota klub photografi.”

 

Aku menatapnya ragu, “Err, Sehun.. datang?”

 

“Kenapa bertanya seperti itu?” Sulli mengerutkan keningnya. “Kau sedang menjauhinya, ya?”

 

Aku menggeleng cepat, “A-aniya! Aku hanya bertanya saja. Apa tidak boleh?”

 

Dia memicingkan matanya, “Gotjimal!”

 

Aku menghela nafas panjang. Apa pikiranku benar-benar mudah terbaca? Aku mengangguk pelan. Mataku tertuju pada bekalku.

 

“Wae?”

 

“Eh?” aku mendongak. “Mwo?”

 

“Kenapa kau menghindarinya? Ada yang salah dengannya? Padahal ku kira hubungan kalian kan baik-baik saja,” gumamnya.

 

Aku mendongak, menatap langit. Bibirku menyeringai tipis. Saat aku tidak berhasil menemukan kata-kata yang tepat, aku mengangkat bahuku. Aku takut bertemu dengannya. Sulli menepuk bahuku.

 

“Yea, itu urusanmu. Aku tidak mau ikut campur. Aku juga tidak tahu dia akan datang atau tidak. Tapi setidaknya ku mohon kau datang. Tidak ada gunanya juga kan pulang ke rumah lebih cepat?” katanya.

 

Aku mengerjap. Tidak, ada gunanya! Setidaknya sekarang ada! Baekhyun! Omona~ bagaimana ini?

 

“Apa boleh aku tidak ikut?” tanyaku takut.

 

Sulli mendelik kesal padaku. Aku mengerti maksudnya. Aku hanya menghela nafas panjang.

 

>>>

 

Sepulang sekolah, aku memutuskan untuk menuruti perintah Sulli. Atau tidak, habislah aku! Dan sialnya, orang yang sedang aku hindari itu datang. Sehun datang! Argh, menyebalkan! Dia duduk didepanku. Apa ada hal lain yang lebih buruk dari ini? Aku benar-benar malu.. Tuhan…

 

“Annyeong, Minhyun-ah,” sapanya dengan nada seperti biasa. Seperti kejadian saat aku menyatakan cintaku padanya tapi ia tolak itu tak pernah terjadi. Sesak..

 

“A-annyeong, Sehun-ssi..” balasku dengan senyum terpaksa.

 

Tiba-tiba bahuku ditepuk dengan kasar yang diikuti suara menyebalkan milik Sulli sunbae, “Hei, Minhyun-ah~ kenapa suaramu bergetar seperti itu?”

 

Oh.. My.. God.. Choi Jinri? Kau mau mati, ya? Aish!

 

“M-mwo? Aku biasa saja..” elakku lalu melirik Sehun. “Benar, kan?”

 

Sehun mengerutkan keningnya, “Hm, yea? Suaramu memang terdengar gugup. Ada yang membuatmu gugup, Hyun-ah?”

 

Aku mendesis, “Tidak ada dan ku mohon lupakan jika kau pikir ada!”

 

Sulli sunbae terkekeh, “Babo..”

 

Aku meliriknya tajam. “Watch out, girl..”

 

Sehun tersenyum, “Bukankah lebih baik seperti ini?”

 

“Kau ingat!” seruku tak percaya, membuat beberapa orang diruangan itu menatapku. Aku tersenyum malu karenanya.

 

Sehun tertawa, “Tentu saja. Aku bukan orangtua, Minhyun-ah..”

 

Ku rasa mukaku semakin memerah sekarang..

 

>>>

 

Aku membuka pintu rumah dengan perlahan. Setelah mengganti sepatu sekolah dengan sandal rumah, aku menghempaskan tubuhku di sofa. Hari ini benar-benar berat! Bahkan aku sampai penasaran, berapa lama lagi hari ini akan berakhir?

 

“Minhyun-ah? Kau kah itu?”

 

Aku terlonjak kaget saat mendengar suara itu. Baekhyun! Oh astaga aku lupa akan Baekhyun! Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah makan? Apa keberadaannya tidak terbongkar? Apa—hei! Kenapa aku begitu panik? Tenang, Minhyun-ah… tenang..

 

“Ne, ini aku,” sahutku sambil meraih tasku dan membawanya menuju kamar.

 

Baekhyun keluar dari kamar dengan tampang acak-acakan. Sepertinya dia kesal karena sudah ku tinggal seharian? Mungkin. Aku hanya terkikik pelan.

 

“Hei, apa yang kau tertawakan, eh?” desisnya.

 

Aku menggeleng cepat. “Eobseo. Oh ya, kau sudah makan?”

 

“Tentu saja belum. Aku tidak mengerti apa-apa, kau tahu? Kau benar-benar berhasil membuatku menderita!” sahutnya geram.

 

Aku merengut. Kenapa dia seperti itu? Cerewet sekali dia! Bukannya aku meminta pacar yang cuek? Bukannya sinis, judes, galak, menyebalkan seperti dia! Situs itu sudah salah paham rupanya. Huh!

 

Aku mendesah, “Baiklah… baiklah.. aku akan memasak untukmu. Kau mau apa? Daging? Sayur? Telur? Huh?”

 

“Apa saja asalkan enak.”

 

Aku tersenyum bangga dan mengacungkan kedua ibu jariku, “Chef Minhyun siap beraksi!”

 

Baekhyun terkekeh. Dia menghampiriku dan mengacak rambutku lembut. “Chef Minhyun.. pacarku.. berikan aku karya terbaikmu.”

 

Sekejap jantungku berdebar kencang. Aku memang sering melakukan skinship dengan banyak laki-laki. Tapi kali ini berbeda… pipiku pun panas. Argh, Baekhyun! Apa yang kau lakukan?

 

>>>

 

Baekhyun menyuap makanannya dengan lahap. Aku tersenyum tipis, tentu saja sambil ikut menyuapkan makanan ke dalam mulutku. Tanpa ia katakan, aku juga sudah tahu kalau dia menyukai masakanku. Tentu saja, aku sudah terbiasa masak. Sebagai anak bungsu yang ditinggal orangtuanya bekerja setiap hari tanpa bantuan dari pembantu, aku sudah terbiasa melakukan semua mandiri. Masak salah satu keahlianku~

 

“Ku rasa masakanku akan menjadi favoritmu,” celetukku.

 

Baekhyun berhenti menyuap dan menatapku, “Mwo?”

 

“Kau menyukai masakanku, kan? Enak, kan?” cibirku. “Bersyukurlah mempunyai pacar sepertiku~”

 

“Oh yeah~ terserahmu,” sahutnya.

 

Aku mengerucutkan bibirku. Dia benar-benar tidak tahu caranya berterima kasih? Jangan sampai seorang Kang Minhyun lah yang akan mengajarkannya. Ugh!

 

“Katakan terima kasih padaku,” cibirku lagi.

 

“Ne~” sahutnya malas.

 

“Yang benar!”

 

“Tidak bisa menungguku selesai makan dahulu?” balasnya membentak.

 

Aku langsung mengatup bibirku. Dia benar-benar menyebalkan, judes, sinis, cuek, galak dan menakutkan! Salah apa aku mendapatkan pacar sepertinya? Aigo~

 

“Minhyun-ah..” panggilnya memelas. Mungkin karena bersalah sudah membentakku?

 

Aku tidak membalas, tetap asik menghabiskan makananku. Biar tahu rasa dia!

 

“Minhyun-ah..” panggilnya lagi.

 

“Apa? Habiskan makananmu dulu baru bicara!” bentakku.

 

“Kau marah..” gumamnya.

 

“Ne!”

 

“Mianhae..”

 

“Ne!”

 

“Gamsahae?”

 

“Ne!”

 

“Minhyun-ah~~ maafkan aku, chagiya,” mohonnya dengan nada lucu. Dia merajuk padaku! Benar-benar sukses membuatku terpana! Dia—makhluk judes, sinis, galak, menakutkan dan menyebalkan—ternyata bisa bertingkah seperti itu! Omona~ oke, tahan! Kau pasti bisa, Minhyun!

 

“Jangan seperti itu! Bukannya kau tidak suka dengan panggilan itu?” sahutku sinis.

 

“Minhyun-ah~” dia kembali merajuk.

 

Aku merengut, “Habiskan makananmu lalu kembali ke kamar. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu.”

 

Dia tersenyum lebar sambil melanjutkan makannya. Sedangkan aku melanjutkan makanku dengan gugup. Jantungku benar-benar tidak bisa di ajak kompromi! Astaga..

 

>>>

 

Aku menutup pintu kamarku perlahan dan menatap Baekhyun yang sedang bersantai di kasurku. Aku baru selesai dengan segala tugasku. Dengan begitu, aku tidak akan diganggu oleh kedua orangtuaku. Merasa kehadiranku, dia menoleh dan tersenyum. Dia menepuk area kasurku yang kosong. Aku mengerti maksudnya. Aku segera berbaring disampingnya.

 

“Oh ya, aku lupa memberitahumu sesuatu,” serunya.

 

Aku mengerjap, “Apa?”

 

Dia mengubah posisinya menjadi duduk menghadapku. Aku mengikutinya. Dia menatapku dalam. Sepertinya hal yang sangat penting.

 

“Kau harus berjanji untuk tidak melarang hal-hal yang dilarang,” ujarnya.

 

Aku memiringkan kepalaku bingung, “Maksudnya?”

 

“Ada beberapa peraturan dalam permainan ini. Dan jika kau melanggarnya, akan ada ganjarannya. Yang terfatal adalah aku akan ditarik kembali,” jelasnya.

 

“Bagus! Aku akan melakukan hal terfatal itu!” seruku asal yang berhadiah toyoran menyakitkan darinya. Aku langsung merengut sambil mengelus kepalaku.

 

“Minhyun-ah..”

 

Aku mendengus, “Aku hanya becanda! Kau ini tidak bisa di ajak becanda, ya?”

 

Baekhyun menghela nafas panjang, “Tapi aku serius. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu.”

 

Aku mengerjap. Senyuman lebar terkulas. “Tenang. Aku bisa menjaga diri. Jadi apa peraturannya?”

 

Baekhyun tersenyum tipis. “Pertama, kau tidak boleh bersentuhan dengan laki-laki lain. Atau kau akan terkena setruman ringan.”

 

Aku mengangguk, “Oke!”

 

“Kedua, setidaknya aku harus melihatmu 2 jam perhari. Atau aku akan melemah.”

 

“Eh? Aku janji kita akan bertemu sesering mungkin!”

 

Baekhyun tersenyum lebar. “Ketiga, ku mohon.. secinta apapun kau dengan seorang lelaki.. jangan mengutarakannya didepanku. Atau aku akan menghilang.”

 

Aku mengerjap sejenak lalu tersenyum lirih, “Aku janji.. aku janji tidak akan melakukan itu..”

 

Ya, aku pasti bisa melakukan itu.. pasti..

 

===You and I===

 

Aku datang \^o^/ puas atau malah kecewa sama chapter 1 ini? Maaf saya kelupaan cerita tiba-tiba *bow

Maaf pendek. Soalnya ga kepikiran lanjutannya sih.

Ayo komen supaya saya makin semangat buat lanjutan ff ini ._.

Advertisements

8 responses to “You and I (Chapter 1)

  1. Aku udah baca di ffindo, tapi ga afdol kalo ga komen disini hahaha.
    Makin complicated pasti, ditambah ada Sehun. Jujur, aku paling tertarik sama peraturan kalo Minhyun bersentuhan sama laki2 lain dia bakal kena setruman ringan haha. Oiya, harus ketemu 2 jam perhari. Apa nanti Baekhyun bakal satu sekolah sama Minhyun??? Hyaaaa penasaran.
    Ditunggu lanjutannyaaaa ^^~

    • kok bisa ga afdol .__.
      haha otak saya suka sama yg comlicated soalnya tuh XD /plok
      kok gitu ._. kan kasian minhyun harus jaga-jaga. nanti hidupnya udah kayak dipesantren lagi u.u /dor

  2. Ih Wow.. gue pikir pas bangun tidur minhyun beneran cuman mimpi…
    aigoo gue membayangkan senyumnya Baekhyun.. OMG!!! dan juga membayangkan Te maksudnya Sehun yang pake baju anak SMA Indonesia hahaha… keren deh.. *Ok komen gue ngawur karena gue enjoy bacanya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s