You and I (Chapter 2)

Author : Lee Hyura

Title : You and I

Genre : Fantasy, Romance

Rating : PG

Cast :

  • Kang Minhyun (OC)
  • EXO Baekhyun
  • EXO Sehun
  • F(x) Sulli

 

Pacar impian.
Semua orang punya bayangan akan pacar impian, bukan?
Tak apa kan jika aku bermimpi bertemu pacar impian?
Bagaimana jika aku berhasil mendapatkan pacar impian itu?
Bagaimana jika caranya tidak masuk akal?
Tidak waras kah aku?

 

=== You and I ===

 

Minhyun pov.

 

“Bangun, Minhyun-ah~”

 

Aku menggeliat kecil saat mendengar sebuah suara. Suara yang pelan dan lembut. Tiba-tiba aku merasakan sebuah jari menekan pipiku. Saat itu aku benar-benar tersadar. Itu pasti Baekhyun! Suka sekali menekan pipiku dengan telunjuk. Aish..

 

“Ne~” gumamku sambil membuka mataku perlahan.

 

Tapi saat membuka mata, aku baru sadar wajah Baekhyun di depanku, hanya berjarak sekitar 10 senti. Reflek, aku mundur ke belakang untuk menjauhinya. Tapi sial, aku malah terjatuh dari kasur. Ouch! Aku meringis tanpa suara.

 

“Minhyun-ah!” seru Baekhyun kaget.

 

Aku langsung meletakkan telunjukku di bibirku dengan panik. “Ssshh!! Diam!”

 

“Minhyun-ah? Ada sesuatu di dalam? Ada penguntit masuk kamarmu?” teriak appaku panik.

 

Aku menepuk keningku gemas. Aku menghela nafas, bangkit dan duduk di kasur. Aku mengatur nafasku terlebih dahulu dan berusaha tidak memperdulikan rasa sakit di pantatku. Tapi sungguh, ini benar-benar sakit!

 

“Minhyun-ah!”

 

Kembali terdengar suara panik appa yang diikuti suara panik umma. Pintuku pun ikut diketuk. Aku langsung menyuruh Baekhyun bersembunyi di bawah kasur.

 

“Gwencana, Umma, Appa~ aku hanya terjatuh dari kasur!” kataku.

 

“Tapi tadi ada suara—“

 

“Itu suara alarmku,” sahutku cepat.

 

“Suara alarm? Itu suara orang yang kau suka, ya?” cibir umma.

 

Aku terdiam. Orang yang aku suka? Sehun? Tidak, itu suara Baekhyun, umma! Tapi aku tidak bisa berkata apapun. Ini menyebalkan!!

 

“N-ne~~” sahutku terbata-bata.

 

“Dia malu!”

 

“Anak kita sudah besar!”

 

“Dia sedang kasmaran~”

 

“Umma! Appa!” teriakku kesal.

 

Terdengar suara kaki berlari menjauh dari depan kamarku. Aku.. selamat..

 

“Mereka sudah pergi?” tanya Baekhyun.

 

Aku menghela nafas lalu menoleh, “Begitulah.”

 

“Sekarang kau mandi!” perintahnya.

 

Aku merengut, “Masih terlalu pagi~”

 

Dia menatapku tajam. Aigo~ aura silumannya keluar lagi! Kyaaa~~~

 

“Geurom.. geurom.. aku akan mandi!” kataku cepat sambil bangkit menuju lemari dan mengambil pakaian.

 

>>>

 

Hari ini aku kembali menghabiskan bekalku di atap sekolah. Bukan karena aku ingin berpikir keras soal Baekhyun dan takutnya akan berteriak tiba-tiba seperti kemarin. Tapi karena aku ingin selamat. Aku harus mengikuti peraturan permainan ini. Dan sedikit bersyukur karena mungkin tuhan ikut membantuku. Karena sejak kedatangan Baekhyun, aku tidak pernah bersentuhan dengan lelaki mana pun. Aku memang orang beruntung!

 

“Minhyun-ah!”

 

Aku tersentak kaget saat mendengar suara itu tiba-tiba. Suara nyering itu sudah pasti milik Sulli. Dia memang suka sekali mengagetkanku.. ck!

 

“Wae?” sahutku.

 

Sulli terdiam sejenak sambil menatapku, “Mau bercerita tentang sesuatu padaku?”

 

Aku mengerjap, “Tentang apa?”

 

“Sesuatu.. aku tahu pasti ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku benar, kan?” serunya sambil merebut bekalku. Dia memang suka mengambil bekalku seenaknya karena dia tidak membawa bekal. Tapi dia kaya raya. Uang jajannya pasti banyak! Tidak seharusnya dia merebut bekalku! Huh~

 

“Banyak yang terjadi,” jawabku sambil berusaha merebut bekalku lagi. Tapi dia tidak membiarkannya. Aku merengut.

 

“Aku lapar, Minhyun-ah! Dan aku tahu pasti ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang penting.”

 

Aku mendesah. Apa aku perlu memberitahunya soal Baekhyun? Mungkin dia bisa membantuku? Walaupun dia selalu merepotkanku dan bertingkah seenaknya, terkadang dia memang berguna. Kenapa tidak ku coba?

 

“Memang ada.”

 

“NAH!” soraknya.

 

“Tapi aku yakin kau tidak akan percaya.”

 

“Sehun juga menyukaimu tapi dia tidak bisa bersamamu karena dia sudah dijodohkan dengan orang lain?” tebaknya asal. “Jika iya, kau benar. Aku tidak percaya dan tidak akan.”

 

Aku mendesis, “Tentu saja bukan! Tidak ada hubungannya dengan Sehun! Dan berhenti menyebut namanya!!”

 

“Huo, chill, girl.. aku hanya becanda,” gerutunya lalu menyuap nasi. Aku menghela nafas panjang.

 

“Kau mendengarkanku, tidak?”

 

“Tentu saja..”

 

Aku menarik nafas dalam sebelum membuka bibirku untuk bercerita tentang Baekhyun. Semuanya. Dari situs sampai peraturan itu. Mulutnya terbuka, matanya terpancar jelas kalau dia tidak bisa percaya ceritaku. Aku terkekeh lalu merebut bekalku. Bekalku berkurang setengah. Dia benar-benar tidak tahu diri! Seenaknya memakan bekalku. Ugh!

 

“Hei!” protesnya. Tapi dia tidak berusaha merebut bekalku. Dia menatapku dalam. “Kau tidak bohong, kan?”

 

“Tentu saja tidak..” sahutku sambil menyuap telur gulungku. Dia menatapku seakan menginginkan telur itu. Aish.. mau tak mau aku menyuapinya telur gulung terakhirku karena kasihan. Orang kaya yang kasihan..

 

“Apa Baekhyun itu tampan?” tanyanya disela-sela mengunyah telur gulung ter..akhir..ku.. benar-benar tidak rela..

 

“Hm, tampan.. tapi wajahnya lebih ke tipe manis dan imut. Benar-benar manis..”

 

“Apa lebih tampan dari Sehun?”

 

Aku langsung meliriknya tajam. Sedangkan dia menyengir polos.

 

Cool your head, girl just kidding, you know?” sungutnya sambil mengetuk kepalaku dengan jarinya.

 

Aku mendengus, “Terserah.”

 

“Oh ya. Jadi kau tidak boleh bersentuhan dengan laki-laki, kan?” tanyanya. Aku mengangguk.

 

Dia menyeringai, “Poor you. Kau sudah tidak punya harapan lagi tentang Sehun..”

 

“Sunbae!!”

 

>>>

 

Saat bel pulang berbunyi, aku segera merapikan barang-barangku dan keluar dari kelas. Setelah ini akan ada rapat klub lagi. Aku sedikit takut jika aku akan melanggar peraturan nomor 1 jika aku mengikuti rapat itu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku menempati posisi yang lumayan penting di klub itu. Aku adalah wakil ketua klub. Sedangkan Sulli mengambil posisi sekertaris. Jadi tidak aneh jika dia tidak suka aku melewati rapat.

 

“Hei, Minhyun!” teriak Sulli dari arah depan kelasnya. Jalan menuju ruang klub memang melewati kelasnya.

 

“Ya, aku tahu. Aku tidak akan melewati rapat,” sungutku.

 

Sulli terkekeh, “Tidak.. tidak.. aku malah mengajakmu untuk bolos. Kita punya urusan lebih penting di rumahmu.”

 

Aku terbelalak, “Jangan bilang—“

 

“Tenang saja. Aku tidak akan merebut dia darimu,” potongnya dengan nada sinis. Aku terkekeh.

 

>>>

 

Aku dan Sulli berjalan dengan perlahan menuju kamar. Rumahku benar-benar sunyi karena memang orangtuaku sedang bekerja. Kakakku sudah menikah dan tinggal diluar kota. Aku benar-benar sendiri disini.

 

Aku membuka pintu kamarku perlahan. Terlihat sosok Baekhyun yang sedang tertidur di kasurku. Wajahnya benar-benar tenang. Aku menghela nafas panjang lalu melirik Sulli. Dia malah tersenyum lebar sambil berlari menghampiri Baekhyun. Dia mengguncang tubuh Baekhyun hingga membuat Baekhyun bangun. Saat terbangun, Baekhyun menatapnya tajam. Tentu saja Sulli balas menatapnya tajam. Lebih tajam! WOHOO!! Kau yang terbaik, sunbae!

 

“Minhyun-ah! Siapa dia?” tanya Baekhyun kesal.

 

Aku mengusap tengkukku, “D-dia adalah kakak kelasku. Dia ingin bertemu denganmu.”

 

“Bertemu denganku?” Baekhyun memicingkan matanya pada Sulli.

 

Sulli menyeringai, “Aku hanya ingin berbaik hati dengan calon adik iparku. Jadi, kau mau ikut aku dan Minhyun pergi?”

 

Tunggu, apa katanya? Calon adik ipar? Astaga!

 

Baekhyun mengubah posisinya jadi duduk dipinggir kasur. Dia mengacak rambutnya asal lalu melirikku. Aku terlonjak kaget. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sungguh.. tapi dia malah tersenyum padaku.

 

“Jika Minhyun ikut, kenapa tidak?” kata Baekhyun yang sukses membuat kupu-kupu berterbangan di dalam perutku.

 

>>>

 

Aku dan Baekhyun menghela nafas panjang. Sulli terkekeh. Sepertinya dia tidak peduli walaupun kami protes sekalipun. Dia tetap sibuk memilih pakaian untuk Baekhyun.

 

“Bagaimana dengan ini? Sepertinya cocok untuk Baekhyun,” ocehnya. “Iya, kan, Minhyun-ah?”

 

“Tanyakan pada Baekhyun,” sahutku.

 

“Aku tidak tahu,” timpal Baekhyun.

 

“Aish, pacar macam apa kau, Minhyun?” runtuk Sulli.

 

“Pacar yang cocok jadi chef,” tanggap Baekhyun.

 

“Chef?” ku lihat kening Sulli mengerut. “Oh, masakannya memang enak. Kau sudah pernah mencobanya rupanya.”

 

Baekhyun terbaruk pelan, “Kau juga?”

 

“Ne, setiap hari Minhyun membawakanku bekal.”

 

“Membawakanmu? Kau yang merebutnya!” sungutku.

 

Sulli meniup poninya, “Kau membuatku terdengar jahat, Minhyunnie..”

 

Aku membalasnya dengan tawaan sinis. Aku melirik Baekhyun yang sedang melihat pakaian-pakaian yang dipajang itu lalu kembali menatap Sulli. Ditangannya sudah ada beberapa pasang pakaian.

 

“Apa yang kau lakukan, sunbae?” tanyaku.

 

Sulli melirikku, “Aku tahu Baekhyun pasti tidak punya pakaian. Pakaian yang ia pakai pasti milik ayahmu, kan? Jadi aku berbaik hati membelikannya pakaian. Setidaknya aku harap ini bisa dikatakan bantuan dariku.”

 

Aku mengerjap, “T-tapi kau tak usah melakukannya..”

 

“Anggap saja ini untuk membayar semua bekalmu yang ku habiskan.”

 

“G-geundae, sunbae..”

 

“Baekhyun! Kau coba semua pakaian ini di ruang ganti!” seru Sulli sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Dia keras kepala. Percuma aku melarangnya..

 

“Sebanyak ini?” bingung Baekhyun.

 

Sulli mengangguk, “Ne. Wae?”

 

Baekhyun melirikku bingung. Aku hanya mengangguk, mengambil semua pakaian ditangan Sulli lalu menarik Baekhyun menuju ruang ganti. Aku menggantung semua pakaian itu setelah itu mendorong Baekhyun masuk.

 

“Jangan lupa menguncinya. Kau bisa?” kataku.

 

“Tidak. Bagaimana?” sahutnya.

 

Aku menghela nafas panjang. Aku melirik Sulli. Dia malah menyemangatiku untuk membantunya. Entah apa maksud Sulli melakukan semua ini. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk dan mengajarinya.

 

“Kau perhatikan tanganku baik-baik,” peringatku.

 

Baekhyun mengangguk mantap, “Ne..”

 

Aku mulai memegang kunci pintu dan menggerakkannya ke samping agar pintu terkunci. Setelah pintu terkunci, aku sedikit mendorong pintu untuk memastikan pintu itu memang benar-benar terkunci.

 

“Sudah terkunci. Saat kau selesai mengganti pakaian, kau harus membuka kuncinya dulu baru pintu ini bisa terbuka. Caranya seperti ini,” jelasku sambil mempraktekkannya. “Kau mengerti?”

 

“Aku mengerti. Kalau mau menguncinya, harus seperti ini, kan?” balasnya sambil mencoba mempratekkannya. Tangannya menyentuh tanganku yang masih memegang kunci.

 

Deg..

 

“Lalu untuk membukanya, seperti ini..” lanjutnya.

 

Aku segera menarik tanganku. “Nah kau sudah mengerti. Setelah aku keluar, kau baru mengganti pakaianmu. Mengerti?”

 

“Arasso.. kau boleh keluar sekarang,” tanggapnya.

 

Aku segera membuka pintu dan keluar. Sadar aku sudah keluar, Sulli mendongak. Terkulas seringaian khasnya.

 

“Apa yang terjadi didalam? Wajahmu merah sekali, Minhyunnie..” sindirnya.

 

Sial!

 

>>>

 

Setelah membeli banyak sekali pakaian baru untuk Baekhyun, kami berbelok memasuki sebuah restoran. Dibelakang kami, Baekhyun sibuk mengeluh.

 

“Berhenti mengeluh atau akan ku tendang kau pulang!” ancam Sulli.

 

“Coba saja kalau bisa! Lagipula kenapa semuanya aku yang bawa?” balas Baekhyun.

 

“Cerewet! Itu semua milikmu. Lagipula kau laki-laki. Jangan cerewet seperti itu.. seperti perempuan saja!” sungut Sulli lalu merangkulku, menggiringku menuju meja yang berada di sudut.

 

Aku menarik kursi dan duduk lalu memperhatikan Baekhyun yang sibuk mengatur belanjaan itu lalu duduk disampingku. Aku bersendagu sambil memperhatikannya. Wajahnya benar-benar aneh. Diantara senang dan kesal. Dia kesal, aku tahu alasannya. Dia senang?

 

“Ada apa?” tanyanya.

 

“Wajahmu aneh,” jawabku yang dilanjut dengan tawa dari Sulli. Aku langsung menendang kakinya agar berhenti tertawa. Tidak ada yang lucu!

 

“Aneh? Apa yang aneh?” tanyanya kesal.

 

“Ekspresimu antara senang dan kesal. Aku tahu kenapa kau kesal. Tapi senang? Mollayo..”

 

“Eh, kau benar!” timpal Sulli.

 

Baekhyun menyentuh wajahnya lalu terkekeh, “Aku senang karena akhirnya bisa bersenang-senang denganmu, Minhyun-ah..”

 

“Uh~ so sweet,” cibir Sulli.

 

Aku segera menendang kakinya lagi. Dia mendesis tidak terima padaku. Tapi siapa yang peduli? Memang dia yang salah! Kata-katanya selalu berhasil membuatku salah tingkah. Payah..

 

“Oke.. oke.. maafkan aku. Jadi kau mau memesan apa? Aku yang akan membayarnya,” gerutu Sulli.

 

>>>

 

Aku dan Baekhyun menghempaskan diri di kasurku. Hari ini benar-benar melelahkan. Sulli benar-benar semangat menghabiskan uangnya untuk orang lain. Tidak hanya Baekhyun, tapi ia juga membelikanku pakaian dan sepatu. Dasar orang kaya! Boros sekali~

 

“Semua pakaian itu kau letakkan di dalam lemariku saja. Biar ku cuci besok,” kataku.

 

Baekhyun menurut. Ia segera bangkit dan memasukkannya ke dalam lemari baju. Tak lama, aku mendengar ia memanggilku.

 

“Minhyun-ah~”

 

“Hm?” tanggapku.

 

“Ini.. apa?”

 

Aku menoleh. Wajahku langsung memanas. Ia sedang memegang dalamanku. Kya!! Kalau bukan karena aku tahu siapa kau, kau sudah akan ku cincang! Aku segera berlari, merebutnya dan memasukkannya ke dalam tempatnya. Sedangkan Baekhyun menatapku bingung.

 

“Itu..” aku menggigit bibirku. Aku bingung harus mengatakan apa. “Itu barang pribadiku. Jangan menyentuhnya lagi atau kau akan mati. Mengerti?”

 

Awalnya Baekhyun masih bingung. Tapi setelah itu dia tersenyum. “Arasso~ Minhyun-ah, aku lapar. Buatkan aku makanan~”

 

“Eh? Tapi kita baru saja—“

 

“Aku ingin makan masakanmu.. aku lapar!” rengeknya.

 

Hah, muncul lagi sifat childishnya. Payah..

 

Tapi baru saja aku ingin keluar dari kamar, aku sudah mendengar teriakan appa, “Minhyun-ah, kami pulang!”

 

“Minhyun, apa yang kau tunggu? Aku lapar,” sungut Baekhyun.

 

Aku mendesis dan menyuruhnya diam. Dia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

 

“Minhyun-ah~ lihatlah apa yang ku bawa,” teriak appaku lagi. Terdengar suara kaki yang mendekat ke arah kamaraku.

 

Aku panik. Aku bingung harus menyembunyikan Baekhyun dimana. Tanpa berpikir, aku menarik pintu lemariku dan mendorong Baekhyun masuk. Tapi dia malah menarik tanganku. Aku mau keluar. Tapi suara kaki appa sudah benar-benar dekat. Aku segera menutup pintu lemari.

 

“Kenapa kau ikut bersembunyi?” tanya Baekhyun berbisik.

 

“Kan kau yang menarikku!” desisku.

 

Dia terkekeh, “Oh ya maaf..”

 

Kami hanya diam sambil memastikan keadaan diluar aman atau tidak. Saat terdengar suara pintu kamarku dibuka, jantungku berdebar kencang karena 2 hal. Karena takut persembunyian ini ketahuan oleh appa dan karena wajah Baekhyun benar-benar dekat denganku. Sangat dekat! Omona~

 

“Minhyun-ah? Oh ternyata dia belum pulang. Mungkin sibuk dengan klubnya.”

 

Aku mendengar suara appa sebelum pintu kamarku tertutup. Setelah menunggu beberapa saat, barulah kami keluar. Kalau sudah seperti ini, tidak mungkin aku tiba-tiba keluar dari kamarku. Terlalu aneh.

 

“Kau bisa membantuku keluar lewat jendela?” tanyaku.

 

Baekhyun menoleh kaget, “Tapi kamarmu di lantai 2, Minhyun! Sadar!”

 

“Tidak apa-apa. Kau hanya perlu membantuku sedikit. Sejak kecil aku sering keluar dari rumah lewat jendela saat aku dikurung tidak boleh keluar rumah oleh orangtuaku,” jelasku.

 

“Kau yakin?”

 

“Yakin!”

 

“Jadi apa yang perlu aku lakukan?”

 

Aku terdiam sejenak. “Kau pegang tas sekolahku lalu lemparkan padaku saat aku sudah sampai dibawah. Mengerti?”

 

“Arasso~”

 

Aku segera mengambil tas sekolahku dan memberikannya pada Baekhyun. Aku menarik nafas dalam sebelum naik ke jendela lalu berusaha meraih ranting pohon di halaman rumahku. Setelah berhasil turun, Baekhyun melemparkan tasku. Sekarang sudah selesai. Tinggal masuk ke dalam rumah dan bertingkah seperti aku baru saja pulang.

 

“Minhyun? Kenapa kau turun dari kamarmu lewat pohon?”

 

Aku menoleh saat mendengar suara yang tidak asing itu. Sehun! Mati aku!

 

“Dan siapa laki-laki itu?” tanya Sehun sambil melirik ke arah kamarku.

 

Skakmat..

 

“A-apa yang kau lakukan disini, Sehun-ssi?” tanyaku –berusaha mengalihkan pembicaraan.

 

Dia segera membuka tasnya lalu memberikanku kamera yang selalu ku bawa di dalam tasku. Aku menepuk keningku. Aku baru ingat kalau tadi siang, temanku ada yang meminjam kameraku. Aku segera mengambilnya dengan hati-hati agar tidak menyentuh kulitnya lalu membungkuk.

 

“Gamsahae, Sehun-ssi..” kataku.

 

“Tidak usah sekaku itu, Minhyun. Cukup lupakan hari itu. Bisa?” Ia terkekeh. “Oh ya. Kau belum jawab pertanyaanku tadi.”

 

Aku menggigit bibirku kuat. Apa yang harus ku lakukan?

 

=== You and I ===

 

Bagaimana lanjutannya? Ngebosenin ga? Ayo komen :3

Advertisements

4 responses to “You and I (Chapter 2)

  1. Kyah, akhirnyaaaaa…..
    Suka sama sifatnya Sulli hahaha, udah seenaknya ndiri, cerewet sukasukaaa. Sama pas adegan tarik-tarikan mau masuk lemari :3
    Eaaak, mau ada problem sepertinyaaa
    Next part ditunggu yaa. Fighting! ^^~

  2. LMAO Sulli.. kau orang kaya tapi tukang palak makanan Minhyun.. aumpah gue penasaran sama ‘Hari itu’ yg dibilang sehun.. hari dimana Minhyun menyatakan perasaannya pada tehun.. eh bener kan… aaa ayo lanjut :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s