You and I (Chapter 3)

 

Author : Lee Hyura

Title : You and I

Genre : Fantasy, Romance

Rating : PG

Cast :

  • Kang Minhyun (OC)
  • EXO Baekhyun
  • EXO Sehun
  • F(x) Sulli

 

Pacar impian.
Semua orang punya bayangan akan pacar impian, bukan?
Tak apa kan jika aku bermimpi bertemu pacar impian?
Bagaimana jika aku berhasil mendapatkan pacar impian itu?
Bagaimana jika caranya tidak masuk akal?
Tidak waras kah aku?

 

=== You and I ===

 

Minhyun pov.

 

“A-apa yang kau lakukan disini, Sehun-ssi?” tanyaku –berusaha mengalihkan pembicaraan.

 

Dia segera membuka tasnya lalu memberikanku kamera yang selalu ku bawa di dalam tasku. Aku menepuk keningku. Aku baru ingat kalau tadi siang, temanku ada yang meminjam kameraku. Aku segera mengambilnya dengan hati-hati agar tidak menyentuh kulitnya lalu membungkuk.

 

“Gamsahae, Sehun-ssi..” kataku.

 

“Tidak usah sekaku itu, Minhyun. Cukup lupakan hari itu. Bisa?” Ia terkekeh. “Oh ya. Kau belum jawab pertanyaanku tadi.”

 

Aku menggigit bibirku kuat. Apa yang harus ku lakukan?

 

Sehun menatapku intens, membuatku semakin gugup. Aku tidak berani melirik ke atas. Aku hanya menunduk. Mungkin aku harus mengatakan ini padanya juga. Tapi jangan disini! Aku harus membawanya ke tempat lain.

 

“Sehun-ssi.. bisa ikut aku?” mohonku. “Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Tapi jangan disini.”

 

Alisnya terangkat bingung, “Lalu dimana?”

 

“Dimana saja! Di tempat yang aman! Kau mengerti?” gemasku sambil tetap menjaga volume suaraku. Bisa gawat jika suaraku terdengar oleh orangtuaku!

 

“Sebegitu rahasianya?”

 

Aku mengerang frustasi, “Oh Sehun!!”

 

Aku segera menarik tangan keluar halaman rumahku. Benar kata Baekhyun. Aku merasa sengatan itu. Semakin lama semakin kuat. Aku berlari menjauh dari rumah sambil menahan rasa perih akibat sengatan itu. Sungguh, sakit sekali rasanya..

 

“Ah..” ringisku pelan saat aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit. Aku langsung melepaskan tangan Sehun dan meniup telapak tanganku. Jika ini bukan karena Sehun berada di depanku, pasti aku sudah menangis.

 

“Minhyun-ah, gwencana?” paniknya sambil berusaha meraih tanganku yang tersengat.

 

Aku langsung menjauhkan tanganku. Dia terlihat sedikit sakit hati karenanya. Permainan ini mulai tidak menyenangkan. Aku benar-benar mau menangis! Karena tanganku, karena Sehun, karena hidupku yang kini terbatas dan karena Baekhyun. Andai aku tidak mengisi semuanya di situs itu, hidupku tidak akan seperti ini.

 

“Minhyun-ah, kau benci padaku?”

 

Aku mendongak kaget. Aku menggeleng pelan. Ini terasa semakin berat dan menyakitkan.

 

“Bukan begitu. Ada sesuatu yang.. mungkin tidak akan kau percaya,” lirihku.

 

Sehun menarik nafas dalam, “Tentang?”

 

Aku menggigit bibirku. Aku bingung harus menjawab apa. Dan akhirnya aku menjawab, “Maaf aku tidak bisa memberitahumu. Suatu hari nanti. Saat semua ini selesai.. aku akan menjelaskannya.”

 

“Apa ada hubungannya dengan laki-laki itu?” tebak Sehun.

 

Aku menatapnya dan mengerjap, lalu kembali menunduk. “Begitulah.”

 

“Apa yang terjadi? Katakan saja pada—“

 

“Ouch!” aku berteriak kesakitan saat Sehun menyentuh kedua bahuku. Dia terlihat kaget.

 

“Apa aku menyakitimu?” panik Sehun.

 

Aku menggeleng pelan, “Cukup.. jangan menyentuhku.. ku mohon..”

 

Sehun menyeringai tipis, “Kau memang membenciku. Apa karena aku menolakmu?”

 

Aku menggeleng pelan.

 

“Karena itu, kan?” desaknya.

 

Aku kembali menggeleng. Aku menggigit bibirku agar tidak menangis.

 

“Minhyun-ah..”

 

Aku mengangkat tanganku agar dia berhenti berbicara. Aku menatapnya tajam. “Kau tidak mengerti dan tidak akan mengerti! Dan berhentilah bersikap seakan kau peduli denganku! Karena itu hanya membuatku berharap!!”

 

“Minhyun..”

 

“Kau selalu begitu. Kau selalu membantuku disaat aku sedang kesulitan. Kau selalu memperlihatkan bahwa kau peduli padaku. Kau membuatku merasa seperti orang yang spesial bagimu. Kau membuatku… kau membuatku..

 

Aku tidak bisa melanjutkannya. Emosiku benar-benar berantakan. Aku harus menenangkan diri sebelum aku mendapatkan bencana baru.

 

“Kau orang yang spesial. Percayalah. Terutama bagiku. Aku memang peduli denganmu. Aku memang memperlakukanmu berbeda karena kau berbeda. Kau spesial. Tapi aku tidak bisa. Maafkan aku..” gumam Sehun.

 

>>>

 

Aku menghabiskan waktu dipinggir sungai Han. Matahari mulai terbenam. Benar-benar indah. Aku mengeluarkan kameraku dan memfotonya. Ku rasa tidak cukup sekali. Aku memfotonya berulang kali. Saat ku rasa cukup, aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Ada anak kecil yang sedang bermain air di pinggir sungai. Aku memfotonya. Aku menghabiskan waktu dengan memfoto pemandangan di sekitarku.

 

Aku tersenyum kecil saat melihat hasilnya. Beberapa foto aku hapus karena kurang memuaskan. Aku memang tidak sepintar Sulli sunbae dan Sehun dalam soal photography. Tapi aku selalu menikmati saat-saat aku bisa mendokumentasikan kenangan berarti orang lain walaupun dengan kamera sederhanaku. Mungkin lain kali, aku akan membeli kamera untuk professional. Suatu hari nanti. Saat keahlianku meningkat. Dan saat aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Aku tidak mau membebani orangtuaku.

 

Saat aku sadar hari sudah benar-benar gelap, aku segera merapikan barang-barangku dan bergegas pulang. Semua terasa biasa saja. Orangtuaku menyambutku saat aku pulang dan menyuruhku untuk makan. Saat itu aku teringat kalau Baekhyun memintaku untuk membuatkannya makanan.

 

“Boleh aku membawanya ke kamar?” tanyaku ragu.

 

Orangtuaku saling menatap lalu tersenyum bingung.

 

“Tentu saja,” jawab appa.

 

“Tapi kenapa akhir-akhir ini, kau suka sekali makan di kamarmu?” tanya umma.

 

“Aku banyak tugas. Aku makan sambil mengerjakan tugas,” jawabku sambil tersenyum paksa.

 

Umma menatapku curiga. Tapi sepertinya ia tidak mau menanyakannya lebih lanjut. Dia mengambil nampan dan meletakkan nasi, lauk-pauk, sendok dan sumpit diatasnya. Aku segera mengambilnya dan membawanya ke kamarku setelah membungkuk pada kedua orangtuaku.

 

“Makanan datang, Baekhyunnie~” seruku pelan.

 

Baekhyun yang sedang bersantai di atas kasurku, langsung berlari dan membantuku membawa nampan. Kami meletakkannya di atas kasur. Dia segera mengambil mangkuk berisi nasi dan sendok. Matanya berbinar melihat semua masakan ummaku dan mulai menyuap. Tapi mata berbinarnya itu menghilang.

 

“Ada apa?” tanyaku bingung.

 

“Bukan kau yang masak?” tanya Baekhyun lalu cemburut.

 

“Eh?”

 

“Aku memintamu untuk masak untukku, kan?” protesnya.

 

Aku menatapnya lirih, “Baekhyun-ah..”

 

“Tapi siapa peduli? Ini juga enak. Ayo, kau harus ikut makan denganku!” serunya.

 

Dia mengambil sumpit untuk mengambil daging ikan dan menyuapinya kepadaku. Setelah itu sup kimchi dan nasi. Aku hanya menurut sambil tersenyum kecil. Aku sedikit terkejut dengan sisi manisnya itu.

 

“Kau habis menangis?” tanya Baekhyun tiba-tiba sambil menyuapiku nasi.

 

Aku menggeleng cepat sebelum menerima suapannya itu. Dia menatapku tajam. Sejak kapan dia bisa jadi peramal? Tak lama dia menghela nafas.

 

“Terserahmu lah. Ku kira aku tidak perlu tahu masalahmu,” katanya.

 

Aku tersenyum lebar, “Baekhyun oppa~~”

 

Dia melirikku tajam, “Jangan menggunakan nada imut seperti itu!”

 

Aku menggeleng, “Baekhyun oppa~ Chagiya~ Nae sarangeun Baekhyun oppa~”

 

“Yaa—“

 

Aku langsung menutup mulutnya sebelum dia berteriak. Aku terkikik pelan saat dia melayangkan satu toyoran ke kepalaku. Entahlah, aku merasa beruntung bertemu makhluk aneh sepertinya. Terlalu ajaib!

 

Setelah yakin dia tidak akan berteriak, aku melepaskan tanganku. Ku lihat dia menggerutu kesal tanpa suara. Tapi aku tidak peduli. Aku mengambil alih sendok dan sumpit lalu mulai memakan semua masakan umma ini.

 

“Minhyun-ah~” panggil Baekhyun.

 

Aku meliriknya, “Hm?”

 

“Apa dia yang bernama Sehun?” tanyanya.

 

Aku menarik nafas dalam saat mendengar nama itu. “Siapa yang kau maksud?”

 

“Laki-laki yang menemuimu tadi saat kau turun dari kamar. Namanya Sehun, kan?”

 

Jadi Baekhyun melihat Sehun?

 

“N-ne..”

 

“Sulli bilang kau menyukai seseorang bernama Sehun. Artinya aku harus menjauhi orang itu,” gumam Baekhyun sambil tersenyum padaku lalu merebut sendok dan kembali menyuap makanannya.

 

Aku meringis, “Wae?”

 

“Tentu saja agar aku tidak mendengarmu menyatakan cinta padanya! Babo~” desisnya.

 

Aku menyengir tipis. “Tenang saja. Itu tidak akan terjadi! Aku janji!”

 

“Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Tidak usah berjanji seperti itu,” balasnya.

 

Aku mengatup bibirku. Dia benar.

 

Next day.

 

Di pagi hari yang indah ini, aku menyelonong masuk ke dalam kelas Sulli dan memukuli kepalanya pelan dengan buku yang ku pegang. Dia meringis, melirikku tajam dan kesal. Lirikkannya memang menakutkan. Tapi lirikkan seorang Kang Minhyun tidak kalah menakutkan darinya!

 

“Baiklah, aku kalah! Ada apa, Minhyunnie?” gerutunya.

 

Aku mendengus pelan, “Bagaimana kau bisa menceritakan tentang Sehun padanya?”

 

Dia terkekeh pelan, “Saat kita mencari sepatu untuk Baekhyun kemarin. Kau berpisah dariku dan Baekhyun, kan? Saat itu aku menceritakan Sehun padanya. Dia harus tahu karena dia pacarmu dan agar kau tidak akan selingkuh!”

 

“Aku tidak akan selingkuh!”

 

“Siapa yang tahu tentang masa depan?”

 

Aku meneguk air ludahku. Kata-katanya sama seperti Baekhyun..

 

“Sunbae—“

 

“Ajak Baekhyun ke rumahku nanti. Dia pasti bosan harus diam di kamarmu seharian,” potong Sulli.

 

Aku memicingkan mataku, “Sunbae—“

 

“Ku bilang ajak dia. Menurutlah! Dan soal rapat, hari ini tidak ada rapat. Kemarin sudah fix. Kau dan aku masuk tim dokumentasi,” potongnya lagi.

 

Aku terbelalak, “Eh, apa?!”

 

“Jangan membantah dan kembali ke kelasmu sebelum guruku masuk,” tegasnya.

 

“Sunbae—“

 

“Hei, Park sangsaenim datang! Pergi kau!!”

 

Aku menggaruk kepalaku frustasi. Dia benar-benar tidak membiarkanku berbicara!

 

>>>

 

Baekhyun menghela nafas panjang dan menatapku seakan dia sedang protes keras. Aku tahu dia tidak suka dengan Sulli yang selalu bertindak sesukanya. Tapi aku suka melihatnya. Setidaknya biar dia merasakan apa yang aku rasakan! Dia harus merasakan bagaimana rasanya saat dia bertindak seenaknya padaku. Walaupun aku yang paling menyedihkan karena dikelilingi 2 orang yang keras kepala dan egois.

 

“Sulli sunbae memaksaku. Aku tidak bisa menolaknya, Baekhyun-ah,” alibiku.

 

Dia menyipitkan matanya. Benar-benar lucu! “Gotjimal~”

 

“Aish, aku jujur! Seperti tidak tahu Sulli sunbae saja,” gerutuku lalu mengerucutkan bibirku kesal.

 

Baekhyun mendengus, “Baiklah aku percaya.”

 

Aku tertawa mendengarnya. Aku menariknya memasuki rumah megah dan mewah di tengah kota Seoul. Sulli sudah menunggu kami di ruang tamunya sambil membaca majalah. T-shirt berwarna baby blue dengan celana bahan di atas lutut berwarna putih terlihat bagus dikenakan olehnya. Dia tersenyum lebar melihatnya.

 

“Kalian lama sekali! Aku sampai bosan menunggunya,” sungut Sulli.

 

“Jangan salahkan kami. Salahkan supir bus yang menyetir seperti seorang kakek-kakek yang takut mati,” balas Baekhyun.

 

Aku terkekeh. Terkadang Baekhyun menggunakan pribahasa atau perumpaan yang membuatnya seperti manusia serba tahu. Padahal dia tidak lebih dari makhluk buatan situs itu untuk menjadi pacarku. Situs itu benar-benar ajaib!

 

“Minhyun-ah~ pacarmu menyebalkan! Mulutnya ingin ku lakban! Boleh?” kesal Sulli.

 

“Boleh. Silahkan,” sahutku.

 

“Minhyun-ah!” protes Baekhyun.

 

Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku. Kenapa dua orang itu senang sekali meneriakkan namaku? Seberapa baguskah namaku hingga selalu diteriakkan? Ugh!

 

“Aku hanya bercanda, Baekhyun. Berhenti merajuk!” sahutku gemas.

 

“Jadi aku tidak boleh melakbannya? Minhyun-ah~” rengek Sulli.

 

Oke, hari ini akan menjadi hari yang melelahkan lagi. Payah!

 

>>>

 

Entah apa maksud Sulli kali ini. Dia memaksa kami masuk ke dalam ruang musiknya dan menyuruh kami menunggu dia sampai selesai dengan kursus musiknya. Orang kaya memang tidak bisa jauh dari musik. Ck.

 

Selama dia bermain piano yang didampingi oleh guru musiknya itu, dia sesekali melirik kami dan tersenyum lebar. Aku tidak tahu kenapa. Tapi yang pasti ada sesuatu dengan Baekhyun. Ia menatap piano itu dengan tatapan penuh rindu.

 

“Wae?” tanyaku berbisik.

 

Baekhyun menoleh dan menggeleng gugup, “A-ani..”

 

Aku merengut kesal. Aku tahu ada yang aneh. Dan melihat piano, aku merasa tidak asing. Tapi apa? Aku berusaha untuk mengingatnya. Tunggu, piano? Situs? OH! Aku tahu! Aku kan meminta pacar yang pintar bernyanyi dan bermain piano. Pasti itu penyebabnya!

 

“Kau ingin bermain piano?” tebakku dengan senyum jahil.

 

Dia menoleh kaget, “Minhyun-ah, bagaimana—“

 

“Aha! Sudah ku tebak~ haha, Kang Minhyun memang yang terbaik!” seruku bangga.

 

Tiba-tiba sebuah toyoran mendapat di kepalaku. Ouch.. Aku meringis lumayan keras. Aish, kenapa Baekhyun begitu kasar? Aku kan pacarnya!

 

“Wae~?!” tanyaku tidak terima.

 

“Itu hadiah karena kau seenaknya saja membanggakan dirimu!” gerutunya.

 

Aku menatap wajahnya kesal. Senyumanku mengembang saat aku melihat betapa manis wajahnya. Omo, dia benar-benar manis..

 

“Hei.. hei.. jangan pacaran di rumahku!”

 

Aku dan Baekhyun langsung menoleh saat mendengar protesan itu. Ternyata Sulli sudah ada didepan kami sambil berkacak pinggang. Kami menyengir lebar, tidak berani membalas protesan Sulli.

 

“Kau sudah selesai?” tanyaku.

 

“Tentu saja. Hari ini kami hanya sebentar karena dia ada urusan.”

 

Sulli hanya meniup poninya gemas lalu melirik Baekhyun. Seulas senyum jahil terukir di wajahnya. O-ow~ ini tidak baik!

 

“Kau, Baekhyun-ssi~ kau terpesona denganku, ya? Sejak tadi kau menatapku terus,” seru Sulli.

 

Baekhyun memicingkan matanya kesal. Tapi sebelum ia membuka mulutnya, aku sudah terlebih dulu berbicara.

 

“Jangan asal bicara! Dia itu melihat pianomu bukan dirimu, sunbae!” protesku.

 

Senyuman jahilnya melebar, “Baekhyun-ssi~ pacarmu cemburu! Omo, neomu kyeowo~”

 

Baekhyun merangkulku, “Karena dia pacarku. Pantas jika dia cemburu.”

 

Ku rasa pipiku memanas.. pasti..

 

“Hei, sunbae! Boleh Baekhyun pinjam pianomu?” tanyaku sebelum mereka membicarakan hal ini semakin dalam.

 

Sulli melirik pianonya lalu mengangguk, “Tentu. Kenapa tidak? Itu juga kalau pacarmu ini bisa bermain piano.”

 

Baekhyun berdecak, “Akan ku buktikan padamu seberapa hebatnya aku.”

 

Baekhyun langsung berlari ke arah piano itu dan duduk di kursi. Tak lama kemudian, tangannya menekan beberapa tuts untuk menciptakan nada yang indah. Benar-benar indah. Aku tidak tahu lagu apa itu. Tapi sungguh, lagu itu benar-benar indah. Baekhyun juga terlihat menikmatinya. Matanya tertutup sebagai tanda ia menikmatinya.

 

Aku melirik Sulli dengan tatapan menyibir karena Baekhyun bisa bermain piano yang bahkan jauh lebih baik darinya. Tapi aku kaget saat melihat ekspresi lirih di wajah Sulli. Dia terlihat seperti menahan tangis. Dia melari ke arah Baekhyun dan menarik tangannya agar berhenti bermain piano.

 

“Baekhyun, lebih baik kau pulang. Biar supirku yang mengantarkanmu,” kata Sulli dengan suara parau karena menahan tangis. Dia menoleh ke arahku. “Kau juga, Minhyun-ah.”

 

“Tapi, kenapa?” tanyaku yang terdengar kosong.

 

“A-aku..” Sulli menggigit bibirnya. “Aku baru ingat kalau malam ini aku harus datang ke pesta teman bisnis appa. Aku harus segera bersiap. Mianhae..”

 

Aku tahu pasti ada sesuatu yang aneh. Tapi aku tidak tahu apa.

 

>>>

 

Saat mobil Sulli sampai di depan rumahku, aku turun duluan untuk melihat kondisi rumah. Ternyata orangtuaku belum pulang. Aku segera menarik Baekhyun ke kamar setelah berterima kasih pada supir itu. Kami menghempaskan tubuh kami di atas kasurku lalu menghela nafas kasar bersama.

 

“Minhyun-ah,” panggilnya menggumam.

 

“Hm?” aku membalasnya dengan gumaman tanpa menoleh.

 

“Ada yang aneh dengan Sulli,” gumamnya.

 

“Hm!” aku menggumam sebagai tanpa setuju.

 

“Ada apa, ya?”

 

Kini aku menggeleng, “Molla. Saat kau bermain piano, dia terlihat seperti ingin menangis. Mungkin karena lagunya yang mengingatkan dia pada kenangan yang menyedihkan?”

 

“Jeongmal?”

 

“Aku tidak tahu pasti.. tapi mungkin saja, kan? Memang lagu apa itu?”

 

Sleep Away milik Bob Acri. Entah kenapa aku benar-benar ingin memainkan lagu itu dan merasa sangat dekat dengan lagu itu. Padahal aku tidak pernah mendengarnya sebelumnya.”

 

“Aneh..”

 

“Memang..”

 

Aku memutar badanku agar bisa menatap Baekhyun. Kenyataannya kini wajahku ada di atasnya. Aku tersenyum lebar.

 

“Itu lagu yang indah. Mau memainkannya lagi untukku?” seruku.

 

Dia tersenyum tipis. Tangannya menyelipkan beberapa rambutku ke belakang telingaku. Pipiku memanas karenanya.

 

“Kenapa tidak?” katanya. “Dan.. hei, aku baru sadar kalau kau cantik!”

 

Aku mendesis kesal. Aku mengetuk keningnya lalu mengubah posisi menjadi duduk. Sedangkan dia malah tertawa. Dia benar-benar menyebalkan! Kemana saja dia sampai baru sadar kalau aku ini cantik? Menyebalkan!!

 

=== You and I ===

 

Eotteo? Dapet ga feelnya?

Maaf ya kalau ga dapet feelnya. Soalnya saya juga bukan Baekhyun biased. Saya juga bingung kenapa bisa buat ff bercast Baekhyun. Haha..

Sorry for typo. Aku malah ngedit ulang XD /ditimpukin

Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya /tebar kissue

Advertisements

7 responses to “You and I (Chapter 3)

  1. Bingung mau komen apa duh.. otak gue kayaknya lagi gaberes nih..
    hanya saja gue bingung sama perasaanya minhyun.. jadi dia suka baekhyun tapi cinta sehun(?)

  2. aku dapet kook feel-nya hahaha, tenang sajaa. makinseru, makinseru. penasaran ama sulli kenapa dia bisa tiba-tiba mau nangis gitu? ada sesuatu nih pasti, trustrus minhyun masih dilemma yak kayanya antara sehun ama baekhyun,, hayoloh, hayolooh.
    aku tunggu part selanjutnya yaaakk. fighting ^-^

    • hehe kan kirain gitu ga dapet feelnya kayak chapter sebelumnya. hehe
      iya pasti ada sesuatu. kan tumben sulli galau (?) u.u
      iya minhyun dilema karna sering dengerin lagu cherrybelle (?) /ditabok XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s