Mistake (Chapter 5)

Author : Lee Hyura

Title : Mistake

Genre : Angst, Friendship, Romance

Rating : PG-13

Length : Series

Cast :

–          SNSD Jessica

–          EXO M Kris

–          SJ M Henry

–          F(x) Amber

Cameo :

–          SNSD Tiffany

 

=== Mistake ===

Kris yang sedang asik memainkan bolanya pun menoleh saat mendengar suara derap kaki yang memasuki lapangan basket di pinggir kota Seattle. Kris menyeringai melihat kehadiran Henry disana. Henry hanya mendesis. Ia tidak suka disana. Matahari benar-benar sedang bersemangat menyinari kota Seattle.

“Ada apa kau memanggilku kesini, Kris?” tanya Henri.

Kris menyeringai lebar, “Jawab pertanyaanku.”

“Tentang?”

“Jessica dan kau.”

Henri mengernyit. Jessica dan aku?, bingungnya. Dia benar-benar tidak mengerti maksud Kris.

“Kau mau memintaku mendekatinya agar kau bisa menjauhinya?” tanya Kris.

Henri mendesis, “Of course not! Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Kau menjauhi. Jessica merasakannya. Aku merasakannya. Kau merasakannya.”

I didn’t!”

Yes, you did!”

Henri mendesah, “Penjelasan yang panjang.”

“Apa kau rela Jessica dengan pria lain?” tanya Kris.

Henri terbelalak. “Kau sudah pernah bertanya soal itu, Kris! Harusnya kau sudah tahu jawabannya.”

“Aku ingin kau menjawabnya lagi.”

“Aku rela. Aku rela jika kau orangnya.”

“Kau bersungguh-sungguh?”

“Aku bersungguh-sungguh!”

“Kenapa aku?”

“Karena aku percaya padamu.”

Kris melempar basketnya ke Henri. Henri menangkapnya kaget. Henri hanya mendesis pada Kris.

“Dan yang ku dengar, kau sedang ingin mendekati Amber. Berhati-hatilah dengannya. Jessica tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu padamu,” kata Kris.

Henri mengernyit. Apa maksud Kris?

>>>

Jessica menghempaskan tubuhnya di kasur lalu memejamkan matanya. Entah mengapa matanya terasa berat. Tiba-tiba proses menuju dunia mimpinya terganggu oleh suara dering teleponnya. Tangannya segera meraba, mencari tasnya. Saat mendapatkan tasnya, Jessica mengubek isi tasnya dan mengambil handphonenya.

Hello~” sapanya.

“Eonni~!” seru sang penelepon.

Mata Jessica langsung terbuka, “Krystal?”

Yes, I am. Kau lupa dengan suaraku?”

Jessica terkekeh, “Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya sedang tidak konsentrasi.”

“Oh oke. Aku mengerti. Hei, eonni! Kapan kau ke SF? Aku merindukanmu..”

“Saat aku ada waktu.”

“Kapan?”

“Mana ku tahu? Yang pasti bukan sekarang. Aku sedang sibuk.”

“Sibuk dengan pacarmu?”

Jessica terbelalak, “Mwo?”

“Aish, jinjja! Tidak usah berbohong, Eonni. Henri oppa sudah memberitahuku. Namanya Kris, kan? Henri oppa mengirimiku fotonya. Dia tampan!” seru Krystal.

Jessica mendesis, “Dia bukan pacarku..”

“Gotjimal! Papi pun sudah tahu, Eonni. Dia memintamu untuk mengajaknya ke rumah saat liburan nanti.”

“Mwo??” Jessica terlonjak bangun. “Papi tahu? Bagaimana bisa? Henri yang memberitahunya?”

“Tentu saja tidak. Aku yang memberitahunya, Eonni…”

“Krystal! Ku bunuh kau!!”

>>>

“Amber, tidak biasanya kau pendiam seperti itu. Ada masalah?” tanya Tiffany, teman sefakultas Amber.

Amber menoleh lalu terkekeh pelan, “Aku baik-baik saja, Tiff. Cuma—“

Kata-kata Amber terhenti saat handphonenya bergetar tanda ada pesan yang masuk. Amber segera mengeceknya. Henri? Amber mengernyit bingung.

<Henri>

Tunggu aku di gerbang kampusmu. Ada yang ingin ku katakan.

<Amber>

Baiklah. Kelasku selesai sekitar 3 jam lagi.

 

<Henri>

Oke. Terima kasih

“Siapa itu? Pacarmu?” tanya Tiffany.

Amber terkekeh, “Mana mungkin..”

>>>

“Hei!” sapa Amber sambil berlari menghampiri Henri.

“Hei,” balas Henri.

“Ada apa datang menemuiku?” tanya Amber.

“Karena sesuatu.. kita bicara di mobilku. Bagaimana?”

“Apa benar-benar penting?”

Henri tertawa, “Tidak. Hanya saja aku juga ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Benarkah?”

“Sungguh!”

Amber menggaruk kepalanya bingung. Tak lama, ia mangangguk ragu. Amber dan Henry masuk ke dalam mobil. Suasana gugup menemani mereka. Henry berdeham sambil menyalakan mesin mobilnya.

“Jadi?” tagih Amber.

Henry menjilat bibirnya, “Apa?”

“Mau kemana kita?”

“Berhenti bertanya, Amber. Aku tidak akan mencelakaimu. Percaya padaku,” sahut Henry.

Amber berdeham pelan sambil melirik Henry takut. “I do trust you. Aku tahu kau orang baik. Tapi.. apa aku tidak boleh tahu?”

Henry tidak menjawab. Dia hanya diam sambil fokus menyetir. Mobil itu berjalan di jalan raya menuju jalan kecil. Perasaan Amber mulai tidak enak.

“Kita mau kemana? Jawab aku, Henry!” desak Amber.

“Ke suatu tempat.”

“Apa? Dimana?”

Mobil Henry direm mendadak. Amber mungkin saja akan terpental kasar jika ia tidak memakai sabuk pengaman. Amber menggigit bibirnya.

“Apa.. apa kau lah orang yang menulis semua itu di bus?” tanya Henry pelan.

Amber mengerjap, “Menulis.. apa?”

Henry mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto pada Amber. Amber terbelalak. Henry memfoto semua tulisan itu. Dia menatap Henry tidak percaya. Tak lama, Amber terkekeh geli.

“Aku tidak menyangka kalau itu kau,” ujar Amber.

Henry menatap Amber, “Ya itu aku. Dan aku tahu itu kau. Aku juga tahu siapa saja yang kau maksud di tulisan-tulisanmu. Kau mengenal Kris sebelumnya, kan? Kau dari Kanada, kan?”

Amber mengangguk perlahan. “Yea, itu aku..”

“J-jadi kau Amber Josephine? Sahabat—“

“Tunggu!” sentak Amber cepat. “Kau mengenalku? Bagaimana?”

“Amber, aku adalah sahabat Kris. Dari kami kecil. Dan kami besar di Kanada.”

Wajah Amber memucat. “Jadi kau.. pantas aku merasa kenal denganmu.”

Henry menarik nafas sambil kembali menjalankan mobilnya lagi. Dia bingung harus berkata apa. Banyak kata yang berputar di otaknya. Tidak biasanya dia seperti ini. Dia selalu bisa mendapatkan kata-kata yang tepat. Kali ini, dia gagal.

“Aku tahu..” gumam Amber.

Henry menoleh sekilas, “About?”

Amber menjilat bibirnya, “Kris and I. Kau penasaran dengan kami, kan? Dengan apa yang terjadi setelah kepindahanmu ke kota ini?”

Henry menghela nafas lega namun sinis. Dia bersyukur Amber tahu pokok masalah yang ingin ia tanyakan. Jadi dia tidak usah mencari kata-kata lagi.

“Banyak yang terjadi. Sungguh! Dan itu sukses menjadikan hariku seperti neraka sebelum aku pindah dan tinggal dengan kakakku,” desah Amber. Terdengar jelas kalau dia tidak mau membahasnya.

>>>

Sebenarnya tujuan Henry membawa Amber hanya untuk menanyakan itu. Dia mengemudikan mobilnya tanpa arah. Intinya ia tidak mau seorangpun mendengar perbincangan mereka berdua. Dia juga tidak mau membawa Amber ke suatu tempat dan membicarakan hal itu di tempat itu. Dia takut seseorang melihat mereka berdua dan bukan tidak mungkin Jessica atau Kris akan curiga. Itu sebabnya membawa Amber berkeliling kota itu sambil membahas soal itu.

Setelah semuanya jelas, Henry mengantarkan Amber pulang karena Amber menolak untuk makan. Lagi-lagi, Henry bersyukur. Bukan karena dia jadi tidak usah mengeluarkan uang. Tapi karena ia ingin mencocokan cerita Amber dengan Kris. Ia berusaha untuk netral. Karena Henry merasa masalah ini akan memberi pengaruh pada Kris juga. Apalagi saat Amber mengatakan hal yang sama dengan Kris.

“Kau yakin menjodohkan sahabatmu dengan Kris? Maaf, aku tahu Kris adalah sahabatmu. Tapi aku yakin kau tidak mengenal siapa Kris yang sekarang. Kau harus hati-hati. Aku yakin kau tidak akan diam jika sesuatu terjadi pada Jessica, kan?”

Henry menyandarkan punggungnya di dinding selagi menunggu pintu rumah bibinya Kris itu terbuka. Kris memang tinggal di rumah bibinya selama kuliah di Seattle. Mungkin karena terlalu asik dengan pikirannya, Henry tidak sadar kalau Kris sudah muncul. Kris ikut bersandar disampingnya lalu menyikut Henry. Henry terlonjak kaget. Henry mendesis sambil menatap Kris tajam.

Kris terkekeh, “Huo~ chill. What’s up?”

“Aku ingin tahu apa yang terjadi setelah aku pindah ke kota ini. Apa yang terjadi padamu, Amber dan dia,” jawab Henry dengan penekanan di akhir kata.

“Ku kira kau tidak akan ingat dengan Amber,” sahut Kris.

“Kris!”

“Untuk apa kau menanyakannya?”

“Karena aku ingin berpikir ulang tentang semua ini. Tentang kau, aku, Jessica dan Amber. Aku tidak mau Jessica ikut terseret dalam masalah ini karena dia tidak tahu apapun,” tekan Henry.

Kris menjilat bibirnya lalu menggigitnya. Dia terlihat ragu. Setelah diam beberapa detik, dia berlari masuk ke rumahnya setelah menyuruh Henry untuk menunggunya. Henry hanya mengerutkan keningnya bingung. Entah apa yang akan Kris lakukan. Dari dulu, Kris memang tidak pernah bisa ditebak.

>>>

“Jadi..”

Kris menoleh, “Jadi.. apa?”

“Untuk apa kau membawaku kesini? Ini sudah malam dan aku tidak tertarik dengan bola pantul itu,” kesal Henry.

Kris yang sedari tadi sibuk dengan kegiatan tembak-tangkap-bola itu pun terdiam setelah menangkap bola basketnya yang memantul. Dia menatap bola basketnya lalu tertawa. Henry memutar matanya.

“Bola pantul? Apa maksudmu? Seenaknya saja memberikan nama pada bolaku!” sahut Kris main-main.

“Kris! Jelaskan padaku!” bentak Henry kesal.

“Lawan aku. Jika kau memang, kau mendapatkan jawabannya. Jika aku yang menang, kau yang harus menjawab pertanyaanku.”

>>>

Jessica yang sedari tadi asik dengan laptopnya untuk menyelesaikan ringkasan salah satu bab di textbooknya sebagai perbaikan nilainya, pun melirik handphonenya. Hari ini, dia sama sekali belum mengetahui keadaan Henry atau Kris. 2 pria yang selalu meramaikan harinya itu seolah hilang ditelan bumi. Jessica sudah menelepon Henry beberapa kali. Tapi tidak diangkat. Sedangkan Kris? Hanya keajaiban yang membuat Jessica mau menelepon makhluk pengganggu hidupnya itu. Yah, walaupun Jessica sedikit merindukan kejahilan dan tingkah tak terduganya Kris. Tapi hanya sedikit. Perlu ditebalkan, miringkan, dan garis bawahi.

Merasa tidak fokus lagi, ia memutuskan untuk membuka internet. Padahal 1 bab yang tebalnya kira-kira setebal laptopnya itu belum selesai ia ringkas. Masih sekitar seperempat lagi. Baiklah, sepertiga. Sedikit lagi. Yah walaupun harus dikumpulkan besok. Jika terlambat sedikit saja, professor Winchest tidak akan menerimanya. Tapi memang sudah tidak mood lagi, mau bagaimana lagi?

Tiba-tiba handphonenya bergetar tanda ada pesan singkat masuk. Ia segera membukanya. Dari nomor yang tidak dikenal. Tapi isinya cukup membuat Jessica mendengus. Tangannya meraih jaketnya lalu keluar dari rumahnya.

>>>

“Sudah ku tebak aku pasti kalah,” dengus Henry.

Kris terkekeh, “Baiklah kau akan tetap mendapatkan penjelasanku.”

It’s okay, Kris.. kau bisa menjelaskannya saat perjalanan pulang ke rumah bibimu. Aku ingin merasakan pienya lagi. Aku mencium baunya saat sebelum pergi,” sahut Henry cepat lalu tertawa.

Kris melempar bolanya ke arah Henry gemas, “Pie itu milikku!”

“Milikmu?” Henry mendengus. “Kalau begitu harusnya aku bisa dapat bagian yang lebih sebagai sahabatmu.”

Kris terkekeh. Dia mengelap keringat yang mengalir di wajahnya. Matanya menatap Henry yang masih sibuk mengatur nafasnya.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Henry akhirnya.

“Kenapa kau memilihku?” tanya Kris.

Henry menghela nafas kasar, “Kenapa kau masih bertanya seperti itu? Kau tidak suka dengan Jessica?”

Kris mendesah, “Bukan. Kau tahu aku penasaran dengannya. Jadi tidak mungkin kalau aku tidak suka dengan Jessica. Baiklah, bukan suka dalam artinya..”

“Yeah, aku mengerti,” tanggap Henry. “Aku memilihmu karena aku tahu kau penasaran dengannya.”

“Eh?”

“Kau itu.. sosok yang menyenangkan dan keras kepala. Kau pasti akan berusaha keras untuk mendapatkan apa yang kau mau. Begitu juga soal Jessica. Jessica bukan tipe orang yang terbuka dengan orang yang baru ia kenal. Bahkan dia cenderung ‘anti’. Saat aku mendekatinya untuk pertama kali, aku pernah hampir menyerah. Sampai akhirnya dia datang dan meminjamkan sapu tangannya padaku. Dan akhirnya aku menjadi orang satu-satunya yang ia percaya selain keluarganya.”

Kris membuka mulutnya. Tapi tidak ada suara yang keluar. Dia tidak tahu harus berkata apa. Kris merasakannya. Tapi mendengar cerita Henry sambil menatap ekspresinya, Kris tahu perjuangan Henry benar-benar berat. Sedangkan Kris bisa masuk dengan mudah ke dalam kehidupan Jessica karena ia mempunya kartu emasnya, Henry.

“Jadi aku ingin orang yang ku percayai menjadi orang yang ia percayai juga. Karena itu, ku mohon.. jangan kecewakan aku,” lanjut Henry.

“Sebegitu percayanya.. kau padaku?” ragu Kris.

Henry menggumam pelan lalu melemparkan bola dan ditangkap dengan sempurna oleh Kris. Henry tersenyum tipis.

“Sangat.”

“Hei!”

Kris dan Henri menoleh saat mendengar suara nyaring dari luar lapangan. Kris terbelalak saat tahu itu adalah Jessica. Sedangkan Henri tersenyum tipis. Memang dia yang meminta Jessica datang tepat setelah ia menyerah dalam pertandingannya melawan Kris.

Jessica menghampiri mereka lalu melemparkan 2 botol air mineral pada Henri dan Kris. Mereka berdua segera meneguknya sampai habis. Jessica terkekeh pelan, menertawakan kebodohan 2 pria didepannya yang tidak membawa minum ke lapangan.

“Aku tidak tahu kalau dia akan menantangku bertanding,” kata Henry yang seakan mengerti maksud kekehan Jessica.

“Terima saja kenyataan kalau kalian itu memang bodoh!” desis Jessica.

Henry langsung berlari menghampiri Jessica lalu memeluk Jessica. Sedangkan Jessica berteriak histeris.

“Henry!! Keringatmu!!” histeris Jessica.

“Rasakan!” sahut Henry.

Kris hanya tersenyum kecil melihatnya. Matanya tertuju pada Henry yang sepertinya sedang membisikan sesuatu pada Jessica lalu berlari pergi. Jessica hendak mengejar Henry tapi ditahan oleh Kris.

“Ku tebak, Henry menyuruhmu bersamaku?” goda Kris dengan senyum jahil.

Jessica berdecak bingung. Dia melirik Kris tajam lalu menoleh ke arah Henry berlari.

“Henry! YOU DIE!!” teriak Jessica.

Kris tersenyum kecil. Lalu merangkul Jessica.

“Senior, bagaimana dengan pergi ke kota?” bisik Kris.

“Bersihkan dulu keringatmu. Ini menjijikan,” desis Jessica.

Kris terkekeh, “Kenapa? Aku terlihat lebih seksi saat seperti ini.”

“Seksi? Sudah ku bilang kau menjijikan kalau seperti itu!” sungut Jessica. “Dan lagi, kenapa Henry benar-benar bersemangat menjodohkanku denganmu?”

“Karena aku adalah orang yang ia percayai. Dan aku bersumpah akan jadi orang yang kau percayai..”

>>>

Sejak malam itu, Jessica tidak lagi menemui Kris. Dia hanya menghabiskan waktu dengan Henry di perpustakaan karena tugasnya yang semakin banyak. Dia mengerjakan tugasnya sambil mengutuki para dosen dalam hati. Tapi dia harus bersabar. Tinggal 2 semester lagi lalu dia terbebas dari kampus itu.

“Bagaimana dengan ringkasanmu?” tanya Henry, memecahkan keheningan di antara mereka.

“Memuaskan. Nilaiku benar-benar terkatrol oleh ringkasan itu.” Jessica menjilat bibirnya. “Henry, menurutmu, bagaimana dengan pembukaan ini?” seru Jessica sambil memperlihatkan layar laptopnya pada Henry yang sedang asik membongkar isi buku.

Henry menarik laptop itu mendekati ke arahnya. Menscrollnya ke bawah dan keatas beberapa kali lalu mengangguk setuju. Jessica mengulum bibirnya senang.

“Oh setelah tugas ini selesai, aku akan langsung terbang ke San Francisco. Kau mau ikut?” kata Jessica sambil membaca ulang bahan-bahan tugasnya.

“Akan ada Festival Musim Panas. Sanggar pamanku yang ditunjuk sebagai pengisi acara. Sampaikan salam pada keluargamu. Terutama pada Stella autie,” jawab Henry.

“Oh, really?” gumam Jessica kecewa. “Krystal merindukanmu.”

Sorry. Kau bisa mengajak Kris. Krystal benar-benar penasaran dengan pacarmu itu.”

Jessica menarik tangannya yang tadinya asik mengetik. Ekspressi wajahnya menjadi aneh. Antara kesal dan bingung. Jessica menjilat bibirnya lalu kemudian kembali mengerjakan tugasnya tanpa menanggapi usul Henry.

“Jessie~”

“Kau pasti sudah gila,” sahut Jessica.

“Tidak..”

“Tidak mau..”

“Jessie..”

“Aku bisa pergi sendiri.”

“Jessie. Papimu akan memarahiku!”

“Aku sudah besar. Aku sudah dewasa dan sebentar lagi akan bekerja dan melanjutkan ke tingkat S2.”

“Jessie..”

Jessica melirik Henry tajam. “Kau ingin Kris mati? Papiku tidak suka dengan pria manapun yang mendekatiku kecuali kau!”

Henry menghela nafas panjang. “Tidak jika orang itu adalah orang yang ku percaya.”

“Baiklah aku menyerah. Sekarang bantu aku dengan sungguh-sungguh, Henry Lau!”

>>>

Di lapangan basket kampus itu terlihat ramai. Banyak orang yang asik menonton permainan basket 3 on 3. Mereka semua berkumpul disana seakan tidak peduli dengan sengatan matahari. Para gadis tetap sibuk berteriak walaupun beberapa mengeluh karena panas.

Kris melemparkan bola basket arah teman setimnya. Timnya sedang melakukan fast break. Tim Kris menusuk ke arah ring. Teman setim Kris yang menguasai bola itu langsung menshoot ke arah ring. Tapi bola itu menabrak ring. Beruntung bola itu jatuh ke tangan Kris. Kris mendekat dan melakukan lay up cantik. Masuk.

Tim Kris langsung saling berhigh five satu sama lain dan bersiap untuk permainan selanjutnya dengan bola di tangan lawan. Tim itu bermain cepat. Kris yang diposisikan menjadi guard, segera berlari ke arah ring timnya. Tapi beruntung seorang teman setimnya yang lain berhasil merebut bola. Mereka kembali menyerang ring lawan. Kali ini terasa mudah karena tim lawan hanya mengerahkan 2 orang untuk menjaga ring sedangkan seorang lainnya malah tetap di tengah lapangan. Tapi tetap saja bola itu berhasil diblock dan terlempar ke arah orang yang diam di tengah lapangan itu.

Semua tim Kris terlambat mundur karena semuanya maju. Kris berlari secepat mungkin dan berhasil melemparkan bola yang hendak ditembak itu. Mungkin karena terlalu cepat berlari, ia sedikit sulit berhenti dan menabrak beberapa orang yang menonton. Dia jatuh diposisi yang salah. Kini kaki kirinya terasa sakit. Tapi dia tidak meringis. Ia mencoba menahannya.

“Harusnya kau tidak usah seperti tadi! Ini hanya permainan. Tidak sungguhan,” omel seorang temannya.

“Maaf, aku kebawa suasana hingga merasa ini benar-benar bertanding,” sahut Kris.

Ia berusaha untuk bangkit. Tapi tidak berhasil rasa sakit itu malah semakin lama semakin sakit hingga Kris berteriak sekuat-kuatnya. Semuanya langsung mengerubungi Kris dan berusaha membawa Kris ke ruangan kesehatan.

>>>

“Kau baik-baik saja?” tanya Henry.

Kris menggeleng, “Sudah diberi krim pereda rasa sakit. Sudah tidak apa-apa,” jawabnya. Matanya tertuju pada Jessica yang menyentuh kakinya yang cedera dengan takut-takut.

“Apa ini sakit?” tanya Jessica sambil menekan betis kiri Kris.

“Tidak. Aku baik-baik saja,” jawab Kris sambil tersenyum.

“Sungguh?” tanya Jessica sekali lagi.

“Kau mengkhawatirkanku?” sahut Kris.

Jessica mendengus, “Aku hanya ingin meyakinkan Henry kalau kau baik-baik saja. Jadi dia bisa fokus membantuku menyelesaikan tugas-tugasku lagi.”

Alis Kris terangkat, “Tugas?”

“Yep. Jessica akan mengambil liburan lebih cepat. Itu sebabnya ia diberi tugas. Kau tahu sendiri kalau dosen-dosen di kampus ini pelit nilai,” jelas Henry.

“Untuk?”

“Aku akan pulang ke rumah keluargaku,” jawab Jessica datar.

“Kau mau ikut? Papinya menegaskan Jessica harus ditemani tapi aku tidak bisa karena ada Festival Musim Panas,” tambah Henry cepat. Jessica langsung meliriknya tajam.

Kris menyeringai, “Kenapa tidak?”

“Tidak usah! Kau sedang cedera. Tidak usah memaksakan diri,” sergah Jessica cepat.

“Aku baik-baik saja! Perlu ku katakan berapa kali sih?” desis Kris.

“Oh benarkah?”

Jessica mengerjap sambil tersenyum jahil. Tangannya terangkat. Perasaan Kris mulai tidak enak. Dan akhirnya..

“AAA!! Jessie! Apa yang kau lakukan?” teriak Kris kesakitan saat Jessica memukul kaki kiri Kris dengan sekuat tenaganya.

Henry hanya meringis ngeri.

=== Mistake ===

Saya kembali membawa lanjutan Mistake~ \^o^/

Bagaimana lanjutannya? Bagus atau mengecewakan? Ayo komen! Wk~

Advertisements

22 responses to “Mistake (Chapter 5)

  1. aku liat ff ini di home-nya ffindo dan akhirnya aku langsung terjun kesini. kyaaaa. kris ga berenti ngusilin jessica dan sekarang gantian mwahahahaha.
    tanggung jawab. makin penasaran nih sama cerita amber. apa hubungan amber, kris, ama henry. sumpah penasaraaaan.
    daebaaaak. aku tunggu yaa part selanjutnyaa. fighting! ^-^

    • anda liatnya di ffindo tapi komen tetap disini ._. lol gomawo~ :**
      gantian diusilin jessica XD balas dendamlah ya. wk
      aduh tanggung jawab apanya sih? (–.)a tanya langsung ke ambernya deh *sodorin amber(?)

      • ahahaha miaaan abisan dari dulu tuh aku mikirnya lebih afdol kalo baca dan komen di blog pribadi authornya ahaha, kebiasaan daridulu sih 😀
        abisan tadinya aku kira amber yg ada apa-apanya, sekarang kayanya mereka semua deh yg ada apa-apanya (re: rahasia yg gimana gituuh) ^-^

      • haha saya seneng kok. malah pengennya gitu sih. biar blog saya makin rame. yg di ffindo biarkan untuk orang yg asal baca aja. reader tetap di blog saya aja. gitu pengennya. wk XD
        yang pasti rahasia mereka berhubungan dengan Kanada .__. hehe

  2. heh?! kau pandai yah bikin perkiraan-perkiraanku kemaren berantakan -,-
    sekarang aku malah berpikir amber yg jahat *plak xD
    gak deh! itu sebenernya ada apa sih? Henry-Kris-Amber-? .<

    aku sebel kenapa henry gak berusaha ngerebut mommy jess dri Kris! _._
    apasih Kris ituu… asdfghjklasdfghjkl *%[@!?

    • siapa yg pandai? kau aja yg asal tebak u.u /dor
      itu mereka adalah teman di Kanada. udah baca sendiri kan mereka saling kenal. jadi artinya mereka adalah teman ._. wk
      henry udah saya ancam biar ga gangguin krissica. fufufu /duak

  3. Sumpah! Ngakak bacanya!

    Aku benar-benar masih penasaran soal Amber-Kris-Henry. Aduh~ kapan di ubek2 sih soal mereka onn?

    Jangan lama-lama ya lanjutnya! Ini bener-bener ff yang keren! 100 jempol aku kasih deh kalo bisa.

  4. Waaaahhhhhhh seru bangett !!!!
    Krissica moment-nya aku suka …

    Aku bingung sama masalah Kris-amber?
    Sebenarnya ada masalah apa siih mereka ??
    Ditunggu kelanjutannya yya …

  5. annyeong 🙂
    reader baru disini 🙂
    bagus banget chingu
    sukkaaa sama couple kris jessica
    banyakin ff tentang mereka yaa
    ceritanya menarik banget
    suka sama katakter jessie di sini
    kkk~
    amber ada apa sih sama kris ?
    lanjuuuutt

  6. AADC nih,
    Ada Apa Dengan Chris?
    (kris.red)
    masa lalu nya bnar” bkin pnasaran.
    N sprti biasa,
    ff nya bgus bgt.
    Apalagi bagian akhrnya itu,
    lucu bgt.
    *bayangin kris triak” . .
    Daebak dh ni ff

  7. YAK!!! sudah kubilang kalau bikin lanjutannya lama kasih potongan ff chapt kemaren biar reader nyambungnya lebih cepet..
    hahai akhirnya otak gue kembali.. gak ada yg bakal dikomen.. enjoy dri atas sampe bawah dan cerita ini pun tergolong yg ga umum.. reader mulai bingung dan menerka2 siapa sebenernya yg couple disini.. ditunggu next part fighting (งˆ▽ˆ)ง

  8. keren keren…..
    tapi penasaran nih sebenernya ada apa antara kris henry n amber???
    dilanjutin yah chinguuuu..
    jangan lama-lama,,,,,*_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s