You and I (Chapter 4)

Author : Lee Hyura

Title : You and I

Genre : Fantasy, Romance

Rating : PG

Cast :

  • Kang Minhyun (OC)
  • EXO Baekhyun
  • EXO Sehun
  • F(x) Sulli

Note: Hoho saya kembali lagi dengan ff ini :3 merindukan saya?
oh ya ucapkan hai pada poster baru ^o^/ ini buatan saengku~ bagus ya? yg mau request, silah main ke blognya

Pacar impian.
Semua orang punya bayangan akan pacar impian, bukan?
Tak apa kan jika aku bermimpi bertemu pacar impian?
Bagaimana jika aku berhasil mendapatkan pacar impian itu?
Bagaimana jika caranya tidak masuk akal?
Tidak waras kah aku?

 

=== You and I ===

Hari ini adalah yang hari yang penting bagi Minhyun. Sudah dari tanda-tanda matahari akan muncul pun Minhyun sudah rapi dengan seragam dan atribut sekolahnya. Kamera digitalnya yang selalu tersimpan di tasnya pun ia genggam. Tapi Minhyun masih tetap juga heboh memikirkan hal yang terlupakan olehnya. Itu menyebabkan Baekhyun terbangun dari tidurnya. Baekhyun menguap. Matanya mengikuti sosok Minhyun yang berlari dari sudut ke sudut tanpa menyadari Baekhyun yang sudah bangun.

“Tumben kau sudah bangun,” gumam Baekhyun.

Minhyun berhenti lalu menoleh takut-takut ke arah Baekhyun. Dia hanya menyengir lebar karena rasa bersalah sudah membuat Baekhyun terbangun.

“Annyeong,” sapa Minhyun.

“Tumben kau sudah bangun. Ada apa?” ulang Baekhyun, menghiraukan sapaan Minhyun.

“Akan ada festival di sekolah. Jadi sebelum festival dimulai, klubku mengadakan rapat. Aku kan wakil ketua klub. Jadi harus datang lebih pagi untuk menjaga citra baikku,” jelas Minhyun dengan bangga.

“Wakil ketua? Tapi bukannya kau bukan senior di sekolahmu? Kau kelas 2, kan?” bingung Baekhyun.

Minhyun mengernyit. Dia bingung karena merasa sepertinya Baekhyun mengerti soal organisasi. Tapi bagaimana bisa? Baekhyun memang benar-benar ajaib. Minhyun menggelengkan kepala untuk membuang semua pikiran aneh tentang Baekhyun lalu menghela nafas panjang.

“Jadi.. memang klubku seperti itu. Dimana ketua adalah senior, wakil ketua adalah junior, sekertaris dan bendara diisi senior dan junior. Intinya senior dan junior harus mengisi posisi penting di organisasi,” jelas Minhyun. Dia sulit memilih kata yang tepat untuk menjelaskannya. Semua pelajaran tentang bahasa memang kelemahannya.

Baekhyun mengangguk mengerti. Tentu saja itu sebuah kelegaan bagi Minhyun. Tak lama, dia menepuk keningnya dan mulai mengingat apa saja yang belum ia masukkan ke dalam tas.

“Kau mau ikut, Baekhyun-ah?” tanya Minhyun setelah yakin semuanya sudah lengkap.

Baekhyun terlihat kaget. Matanya terlihat berbinar. Sepertinya memang itu lah yang tunggu-tunggu keluar dari bibr Minhyun sejak dulu. Dengan segera, Baekhyun memilih baju dan mandi. Untung saja Baekhyun tidak usah menuruni tangga untuk mandi karena sudah ada kamar mandi di samping kamar Minhyun. Jika turun tangga, kemungkinan besar akan ketahuan oleh kedua orangtua Minhyun.

>>>

Minhyun menarik tangan Baekhyun menuju ruangan klub fotografi. Beberapa orang sudah berada di ruangan itu. Minhyun menyapa semuanya lalu mengenalkan Baekhyun kepada mereka. Minhyun mulai kelabakan saat seseorang menanyakan status Baekhyun terhadap dirinya.

“Baekhyun—“

Kata-kata Minhyun yang terdengar ragu itu terpotong oleh celetuk seorang temannya.

“Tidak mungkin pacarmu, kan, Minhyun-ssi? Kami semua tahu kalau kau itu menyukai Sehun,” cibir Jongin.

Minhyun langsung melototi Jongin lalu memeluk tangan Baekhyun. Bibirnya merengut dengan mata berapi-api. Dia ingin buktikan kalau dia bukanlah pengemis cinta Sehun sekarang. Dia sudah mempunyai Baekhyun.

“Enak saja! Dia pacarku!” bantah Minhyun. “Iya, kan?” Minhyun meminta Baekhyun untuk membenarkannya.

“Yep, dia memang pacarku..” jawab Baekhyun. “Tunggu, Sehun? Sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu!”

“Dia adalah orang yang disukai oleh Minhyun,” seru Chaerin, sang bendahara.

“Chaerin-ssi!” kesal Minhyun.

“Oh itu.. Minhyun-ah, kau tidak boleh dekat-dekat dengan orang itu!” peringat Baekhyun.

Minhyun meniup poninya kesal. “Aku keluar dulu!” kata Minhyun yang disahut dengan sorakan teman-teman di klub fotografinya.

Minhyun berbalik badan dan menarik tangan Baekhyun keluar. Tepat saat sampai didepan pintu, Sehun muncul dengan nafas tersengal-sengal. Sepertinya ia berlari untuk sampai di klub secepatnya. Sehun menatap Minhyun kaget sedangkan Minhyun menahan nafasnya. Genggaman tangannya terhadap tangan Baekhyun mengerat. Tiba-tiba Baekhyun menarik Minhyun ke arahnya. Sehun terlihat semakin kaget karenanya. Dia menatap intens Baekhyun yang sedang menatapnya tajam.

“Kau mau lewat atau tidak?” tanya Baekhyun dingin.

“Oh!”

Sehun mengalihkan pandangannya lalu masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan, dia disambut dengan wajah-wajah yang sedang menyindirnya.

“Ada apa?” tanya Sehun sok tidak tahu apapun.

“Minhyun sudah berpindah hati,” celetuk Jongin.

Sehun mengernyit, “Apa?”

“Pria tadi adalah pacarnya Minhyun,” jelas Chaerin.

Sehun menoleh ke belakang, ke tempat Minhyun dan Baekhyun berdiri tadi. Tapi mereka sudah menghilang. Sehun hanya tersenyum tipis.

“Apa hubungannya denganku?” sahut Sehun.

“Jangan sok tenang, Sehun-ssi. Aku tahu perasaanmu sesungguhnya,” seru Sulli dari belakang Sehun.

“Sejak kapan kau disana?” Sehun balas bertanya.

Sulli mengangkat bahunya asal, “Baru saja ku rasa.”

>>>

“Tadi yang namanya Sehun?” kini sudah kelima kalinya Baekhyun menanyakan hal yang sama. Tapi Minhyun tidak menjawab apapun dan tetap menarik Baekhyun menjauh dari ruang klubnya.

“Minhyun-ah!” bentak Baekhyun sambil menarik tangannya agar Minhyun berhenti berjalan.

Itu berhasil. Minhyun berhenti lalu berbalik badan. Minhyun tersenyum tipis diikuti anggukan.

“Dia memang Sehun. Wae? Tenang saja, aku tidak menyukainya lagi,” jawab Minhyun.

“Gotjimal!”

Minhyun tersentak. Dia menarik nafas dalam. Dia bingung harus berkata apa. Bahasa kembali menjadi masalah. Dia sibuk meruntuki dirinya yang tidak kaya akan kosa kata.

“Jadi.. intinya tidak usah pedulikan tentangnya! Apa masalahnya jika aku me—” Minhyun terdiam. Dia hampir saja kelepasan melanggar larangan itu.

“Dia tidak ada disini. Jadi ku rasa tidak apa-apa jika kau mengatakan kau menyukainya,” kata Baekhyun yang sepertinya mengerti maksud Minhyun.

“Intinya seperti itu!” tekan Minhyun frustasi.

“Apa yang seperti itu?” balas Baekhyun.

“Ya.. itu lah!” erang Minhyun kesal. Dia benar-benar bingung harus berkata apa.

“Lebih baik kau berkeliling sekolahku saja. Kalau lelah, kau pergi saja ke ruang klub fotografi. Kau bisa bertanya kepada semua orang,” seru Minhyun. Minhyun mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya lalu memberikannya pada Baekhyun. “Pakai ini untuk membeli hal-hal yang kau mau.”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau masih punya uang?” tanya Baekhyun.

“Tentu saja. Aku sudah mengambil sebagian tabunganku untuk hari ini. Aku memang ingin mengajakmu keliling sekolahku hari ini. Tapi sepertinya tidak bisa. Mian~”

Baekhyun mengangguk.

“Oh ya, jangan sampai tersesat. Festival ini ramai karena orang luar sekolah pun datang. Hati-hati!” peringat Minhyun.

“Kalau begitu, kenapa kau tidak menemaniku?” balas Baekhyun.

“Aku orang sibuk! Makanya tidak bisa menemanimu,” jawab Minhyun mencibir.

Baekhyun terkekeh lalu mengacak rambut Minhyun pelan.

>>>

Kelompok klub yang sudah dibuat dari jauh hari pun sudah berkumpul sekarang. Minhyun sekelompok dengan Jongin dan memegang gedung seni. Disana tempat para kelas menampilkan karya-karya mereka. Dari musik sampai drama. Adapula yang menampilkan sulap ataupun melawak. Ada 2 kelompok yang ditugaskan untuk memegang gedung seni. Ada yang bertugas merekam dan juga ada pula yang memotret. Jongin dan Minhyun mendapat tugas memotret. Ini semua permintaan dari pihak sekolah.

“Oh ya, Minhyun-ah~ kau pakai ini,” seru Sulli sambil memberikan Minhyun sebuah kamera SLR.

Minhyun mengerjap, “Eh tapi aku sudah membawa kameraku.”

“Hei, hasilnya kan jauh lebih bagus jika kau memakai ini,” balas Sulli.

“Baiklah. Tapi—“

“Minhyun..”

Minhyun menghela nafas. Lagi-lagi dia kalah dari Sulli. Selalu kalah. Minhyun menerimanya lalu menarik kerah Jongin keluar dari ruangan klub.

“Aku denganmu, kan?” tanya Sulli pada Sehun.

“Eh? Aku juga mendapat tugas?” sahut Sehun.

“Tentu saja kau dapat. Babo!” sungut Sulli.

Sulli mengambil kameranya lalu menarik tangan Sehun menuju kelas-kelas para siswa tahun pertama yang sudah dihias menjadi tempat kunjungan orang penghuni kelas.

>>>

Kini mereka berdua ada di salah satu kelas para siswa tahun pertama. Kelas itu membuka café bernuansa Victoria. Pakaian para pelayan adalah gaun Gothic Lolita atau yang sering didengar Gothic-Loli. Tapi berbeda dengan penampilan Gothic-Loli biasanya, make up para pelayan dibuat manis. Hanya pakaian mereka yang bertema Gothic-Loli.

“Ah, Sehun-ah~ temani aku beli pakaian seperti itu! Lucu sekali,” pekik Sulli sambil menggoyangkan bahu Sehun.

Sehun mendesah kasar, “Diamlah! Aku tidak bisa mendapat angle yang bagus nih!”

Sulli merengut, “Tapi gaun mereka lucu..”

“Kau bisa mengajak Minhyun, bukan aku! Sekarang diam,” sahut Sehun sambil memainkan fokus dan zoom.

“Sehun~~” rajuk Sulli sambil menarik-narik lengan seragam Sehun.

Sehun langsung melirik Sulli tajam. Itu malah membuat Sulli terkekeh. Sulli kembali memfoto beberapa kali keadaan café itu. Setelah mereka rasa cukup, mereka menuju kelas selanjutnya.

“Aku tahu kau pasti marah karena Baekhyun,” gumam Sulli.

Sehun tersentak mendengar nama itu. Tapi dia pura-pura sibuk melihat hasil fotonya dan menghapus foto-foto yang tidak ia sukai. Berbeda dengan Sulli yang tidak peduli dengan hasil fotonya.

“Sehunnie~” gerutu Sulli.

Sehun menghela nafas panjang, “Apa itu penting untuk kau ketahui?”

I’m Minhyun’s bestie after all.”

“Ayo masuk!” seru Sehun tanpa membalas kata-kata Sulli sambil menarik tangan Sulli masuk ke kelas selanjutnya.

Kini kelas itu diubah menjadi galeri. Ada banyak lukisan dan karya seni lainnya di dalam kelas itu. Kelas itu memang kelas seni. Sulli dan Sehun kembali bermain dengan kamera mereka.

“Oh shit! Baterainya habis,” gerutu Sulli.

“Kenapa tidak kau charge sebelumnya?” sahut Sehun sambil tetap sibuk membidik segala angle.

“Mana ku tahu? Aku hanya asal mengambil kamera,” jawab Sulli, merengut.

“Lalu?”

“Aku kembali ke ruangan, ya? Sebentar saja. Hanya untuk mengganti kamera!” mohon Sulli.

Sehun menurunkan kameranya lalu melirik Sulli. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengizinkan.

“Ku tunggu di depan kelas ini.”

Sulli mencubit pipi Sehun lalu berlari ke ruangan klub. Sehun hanya mendengus pelan. Dia melirik pintu untuk memastikan Sulli memang sudah pergi. Matanya terbelalak saat melihat sosok Baekhyun yang berjalan sendirian.

>>>

Baekhyun mendesah pelan. Ia tidak tahu harus kemana. Apa lebih baik dia kembali ke ruangan klub fotografi? Dia mendesah pelan. Akhirnya ia memilih untuk pergi ke ruangan klub. Dengan berbekal informasi dari siswa-siswi yang berlalu lalang, akhirnya dia sampai di ruangan klub itu.

Baekhyun sedikit bingung saat melihat keadaan ruangan yang kosong. Di dalam ruangan itu hanya ada Sulli yang sedang sibuk membokar tasnya untuk mencari kunci lemari tempat disimpannya kamera-kamera milik klub. Klub itu memang mempunyai kamera yang lumayan banyak karena sering berhasil memenangkan kompetisi fotografi.

“Hei, nenek sihir!” sapa Baekhyun main-main.

Sulli tersentak lalu menoleh, “B-baekhyun? Kenapa kau ada disini?”

Baekhyun mengernyit. Tidak biasanya Sulli menggunakan nada lembut saat berbicara padanya. Apalagi suaranya juga terdengar gugup. Sulli pun tidak marah saat Baekhyun memanggilnya nenek sihir.

“Mencari Minhyun,” jawab Baekhyun akhirnya.

“Minhyun? Dia di gedung seni,” kata Sulli cepat.

“Gedung seni?”

“N-ne..”

“Bisa kau antarkan aku?”

“Maaf, aku ditunggu oleh Sehun.”

Bibir Baekhyun langsung melengkung ke bawah saat mendengar nama itu. Dia mendengus lalu berbalik badan –hendak keluar. Tapi Sulli menghentikannya.

“Baekhyun-ssi!”

“Ne?” sahut Baekhyun.

“Apa kau benar-benar makhluk yang dibuat oleh ‘situs’ itu?” tanya Sulli takut-takut.

Baekhyun berbalik dan menatap Sulli bingung. Dia mengangguk ragu. “Ne.. wae?”

Sulli menggeleng cepat, “Ani..”

>>>

Baekhyun berjalan tanpa arah. Dia sudah malas bertanya kepada orang-orang. Dia berjalan entah kemana sambil bersenandung kecil. Langkah kakinya berhenti saat mendengar suara ribut dari sebuah ruangan. Dia melongokkan kepala untuk melihat isi ruangan itu. Beberapa orang ribut entah karena apa. Tapi dari yang Baekhyun dengar, sepertinya mereka kehilangan pianist andalan mereka karena orang itu sedang sakit.

Dengan langkah ragu, Baekhyun masuk ke dalam ruangan itu dan menyapa orang-orang itu. Semua orang menatapnya aneh. Baekhyun menelan air liurnya. Sudah tidak mungkin ia mundur. Ini tentang harga diri!

“Boleh ku liat liriknya?” tanya Baekhyun. “Maksudku, mungkin aku bisa menjadi pengganti pianis itu.”

>>>

“Jongin-ssi~! Kau mau kemana?” pekik Minhyun kesal saat melihat Jongin hendak meninggalkannya.

“Terlalu banyak orang, Minhyun-ssi. Pengap! Aku ingin mencari udara segar,” jawab Jongin lalu berlari ke ara pintu.

Minhyun mendesis. Padahal ia tahu kalau Jongin malas bertugas. Apalagi sebenatar lagi klub dancenya akan tampil dan ia termasuk anggota yang akan tampil itu. Mau tak mau, Jongin harus berlatih. Bukannya memotret hal yang membosankan –bagi Jongin.

Tapi Minhyun memilih untuk tidak memikirkannya. Toh setelah klub dancenya selesai tampil, Jongin akan membantunya lagi. Dia cukup percaya pada Jongin. Minhyun berjalan untuk mencari tempat yang cocok baginya mengambil gambar. Pertunjukkan sulap yang membosankan itu pun akhirnya selesai. Kini klub vokal lah yang naik ke atas panggung. Setelah klub seni, klub dance.

“Aish, berat..” gerutu Minhyun.

Kamera itu memang berat bagi orang yang sudah terbiasa memakai kamera digital yang kecil dan ringan seperti Minhyun. Minhyun mendesah pelan. Dia mengangkat kameranya saat mendengar dentingan piano. Dia bersiap mengambil gambar kembali.

Grup vokal itu memakai gaun berwarna putih dan rambutnya digulung ke atas. Barisannya mengingatkan Minhyun dengan upacara setiap awal tahun pelajaran. Setelah puas memotret barisan penyanyi itu, Minhyun mengalihkan kameranya ke arah pemain piano. Matanya melebar saat melihat sosok yang familiar.

“Baekhyun?!” pekiknya kaget.

>>>

Setelah klub seni vokal selesai dan Baekhyun turun dari panggung, Minhyun segera menarik Baekhyun keluar gedung. Beberapa orang klub seni vokal itu awalnya menahan Baekhyun. Tapi setelah tahu bahwa Minhyun adalah pacar Baekhyun, mereka tidak berani untuk ikut campur. Apalagi Minhyun yang bernotabene sebagai sahabat Sulli, salah satu murid ‘berkuasa’ di sekolah itu.

“Tapi seharusnya kau meminta izin padaku, Baekhyun-ah! Kau tahu itu ilegal karena memakai pemain dari luar sekolah! Kau bisa memberikan masalah pada grup vokal!” omel Minhyun.

“Tapi aku hanya membantu mereka,” bela Baekhyun.

“Tetap saja harusnya kau—“

“Aku tidak kau dimana! Kau meninggalkanku begitu saja. Kau menyuruhku ke ruangan klubmu saat aku bosan. Tapi kau tidak ada di ruanganmu. Aku malah bertemu dengan Sulli. Dia bilang kau ada di gedung seni tapi aku tidak tahu gedung seni. Kau tahu? Aku tersesat!” Baekhyun balas memarahi Minhyun.

Minhyun terdiam. Dia mengakui bahwa dirinya juga salah. Dia menjilat bibirnya gemas.

“Mianhae. Aku tidak bermaksud—“

“Minhyun-ssi!” teriak Jongin sambil berlari ke arah mereka berdua.

Minhyun menatap Jongin bingung, “Ne?”

“Kenapa kau tidak memfotoku saat aku tampil? Tadi itu kharismaku terpancar tingkat maksimal!” protes Jongin.

“Maaf, Jongin.. aku—“

Kini ucapan Minhyun kembali terpotong.

“Siapa dia?” tanya Baekhyun. “Untuk apa kau memfotonya? Apa dia begitu penting bagimu, Minhyun-ah?”

Jongin mengernyit bingung mendengarnya. Sedangkan Minhyun menepuk keningnya. Dia menyesali keputusannya untuk membawa Baekhyun ke sekolahnya. Dia sudah cukup disibukkan dengan tugas klubnya. Dan kini ditambah Baekhyun. Dia ingin berteriak frustasi karenanya.

“Huo~ tenang saja. Aku teman klubnya. Kami ditugasi untuk memfoto setiap pertunjukkan di gedung seni. Kebetulan aku salah satu orang yang tampil tadi. Jadi Minhyun harus memfotoku,” jelas Jongin.

Baekhyun mengerjap, “Oh?”

“Ne~” timpal Minhyun lemas.

“Oh ya, kalian sedang apa disini?” tanya Jongin.

“Menurutmu apa?” balas Minhyun geram.

Jongin menyengir lebar. “Mian. Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku.. aku pergi sekarang!”

Jongin segera berlari pergi.

>>>

Minhyun dan Baekhyun sampai di depan pintu ruangan klub fotografi. Minhyun mengeluarkan kunci pintu. Ruangan itu memang dikunci karena klub itu mengerahkan semua anggota untuk event ini. Dan yang memegang kunci hanya Minhyun dan Sulli. Setelah terbuka, Minhyun menarik Baekhyun masuk. Minhyun membuka tasnya dan mengeluarkan bekal yang ia buatkan khusus untuk Baekhyun.

“Kau lapar, kan? Makan ini,” kata Minhyun.

Baekhyun hanya mengangguk dan menerimanya. Minhyun duduk di atas meja lalu menghela nafas panjang. Matanya melirik Baekhyun yang sedang mematahkan sumpitnya lalu membuka tempat makan itu.

“Kau tidak makan?” tanya Baekhyun.

“Aku menunggu Sulli sunbae kembali. Kalau aku makan sekarang, dia akan marah,” jawab Minhyun.

“Oh..” Baekhyun mengangguk.

“Maaf untuk hari ini,” gumam Minhyun.

“Tidak. Harusnya aku berterima kasih padamu,” elak Baekhyun.

Minhyun tersenyum tipis. Dia melirik jam tangannya. Sudah waktunya istirahat. Harusnya anggota klub yang lain sudah dalam perjalanan kembali ke ruangan. Benar saja. Baru saja Minhyun memikirkan itu, suara riuh anggotanya sudah terdengar.

“Hei, Minhyun~” sapa Chaerin yang diikuti dengan anggota lainnya.

“Hei!” balas Minhyun.

“Baekhyun-ah~” pekik Sulli saat melihat Baekhyun sedang asik memakan makanannya. “Itu milik Minhyun, kan? Ah~ itu milikku!!”

“Tenang saja, sunbae. Aku membuat 2 bekal. 1 untuknya. 1 untuk kita,” sahut Minhyun cepat.

“Manisnya~” cibir anggota lainnya yang sukses membuat pipi Minhyun bersemu merah.

“Hei, kemana Sehun? Bukannya dia denganmu, Sulli-ssi?” tanya Jongin.

“Eh?” Sulli melirik ke sekitarnya lalu mengangkat bahunya asal. “Mana ku tahu.”

“Tapi kan dia di tugaskan denganmu,” kata Hana.

“Sudah ku bilang, aku tidak tahu! Dia memang suka seenaknya,” kesal Sulli.

Sulli berjalan menghampiri Minhyun lalu menagih bekalnya. Minhyun mendesah. Dia membuka tasnya kembali dan memberikannya pada Sulli. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Minhyun segera membukanya. Matanya melebar.

“Oh, kau makan duluan saja! Sisakan untukku, ya. Dan jangan mengganggu Baekhyun!” pesan Minhyun sebelum berlari keluar ruangan.

“Mengganggu Baekhyun?” ulang Chaerin bingung.

“Dia memang suka menggangguku. Dasar nenek sihir!” sahut Baekhyun.

Sulli langsung melototi Baekhyun. Baekhyun terkekeh. Setidaknya kini Sulli menjadi Sulli yang ia tahu. Bukan Sulli yang ia temui tadi. Baekhyun berteriak kesal saat Sulli mengambil telur gulungnya lalu menjulurkan lidahkan pada Baekhyun.

Sekali nenek sihir, tetap nenek sihir!, desis Baekhyun dalam hati.

>>>

“Sehun-ssi!!” teriak Minhyun sambil berlari mengitari taman belakang sekolah yang sepi. Taman itu selalu sepi hingga selalu dijadikan tempat pembullyan atau pernyataan cinta.

“Sehun-ssi~~” teriak Minhyun lagi.

Minhyun akhirnya melihat sosok Sehun yang terduduk di salah satu kursi. Minhyun mendekatinya perlahan. Minhyun duduk disampingnya. Minhyun tergesa-gesa meninggalkan ruangan klub saat membawa pesan dari Sehun. Isinya Sehun meminta Minhyun ke taman belakang karena Sehun tidak bisa berjalan karena ia dipukuli oleh murid sekolah lain. Tapi yang membuat Minhyun bingung adalah Minhyun tidak melihat adanya luka dibagian yang bisa ia lihat, kecuali muka karena Sehun menunduk.

“Kau tidak apa-apa? Tidak ada yang luka, kan?” tanya Minhyun pelan.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Sehun.

“Kau bohong, kan?” tebak Minhyun.

Sehun mengangguk, “Hanya dengan cara ini aku bisa berdua saja denganmu.”

“Memang apa maumu?” tanya Minhyun datar.

Tangan Sehun bergerak menyentuh tangan Minhyun. Minhyun meringis saat merasakan sengatan listrik. Minhyun segera menarik tangannya. Sehun terkekeh pelan.

“Kau memang menjauhiku,” gumam Sehun. “Wae?”

“Aku terpaksa.”

“Karena Baekhyun?”

Minhyun terdiam. Iya!!, ingin rasanya Minhyun menjawab itu dengan lantang. Tapi ia tahu ia mengatakan hal-hal rahasia tentang hubungannya dengan Baekhyun.

“Baekhyun itu.. lelaki yang ada di kamarmu saat itu, kan?” tebak Sehun.

Nafas Minhyun tercekat. Dia tidak tahu harus berkata apa.

“Ku tebak. Dia adalah sepupumu. Lalu kau memintanya untuk pura-pura menjadi pacarmu agar kau bisa menghindariku?” lanjut Sehun.

Sok tahu!, gerutu Minhyun dalam hati. Minhyun hanya mengerucutkan bibirnya tanpa menjawab.

“Aish! Jawab aku!” erang Sehun.

“Apa untungnya kau tahu?” sahut Minhyun.

Sehun mendesah pelan. Dia bingung mau berkata apa lagi. Bukan karena kosa katanya yang terbatas seperti Minhyun. Tapi karena memang tidak tahu harus berkata apa.

“Apa saat itu kau benar-benar menyukaiku?” tanya Sehun.

Argh! Kenapa kau membuatku teringat itu lagi? Duh…, pekik Minhyun dalam hati.

“Minhyun-ah..”

“Iya. Aku memang menyukaimu. Tapi dulu. Sekarang.. sekarang tidak..” jawab Minhyun ragu. Ia meringis. Mungkin, tambahnya.

“Sebenarnya apa maksudmu menyuruhku kesini sih?” tanya Minhyun kesal.

“Hanya memastikan..” jawab Sehun dengan senyum lebar.

Astaga, aku baru tahu dia orang yang narsistic!, gerutu Minhyun. Dia mendesis.

“Sepertinya urusan kita sudah selesai. Ayo ke ruangan,” ajak Sehun.

Minhyun mengernyit. Hanya itu saja? Minhyun menyesal sudah mempercayai pesan itu!

Di perjalanan menuju ruangan klub, mereka bertemu dengan Sulli. Sulli terlihat panik.

“Minhyun-ah! Baekhyun.. Baekhyun.. pingsan!” kata Sulli.

“Pingsan? Kok bisa?” panik Minhyun.

“Molla~ tidak lama setelah kau keluar, dia mengejarmu. Tapi belum lama, dia sudah kembali dengan wajah pucat lalu pingsan!” jelas Sulli.

Minhyun melirik Sehun tajam, “Kau tahu, kan? Kau tahu Baekhyun ada disana, kan?! Makanya kau bertanya seperti itu?”

Sehun tersenyum tipis, “Jangan menuduh seenaknya, Minhyunnie.. aku tidak tahu apa-apa.”

Minhyun mendengus. Dia segera menarik Sulli pergi.

Bagaimana jika Baekhyun mendengar itu?

Bagaimana jika Baekhyun menghilang?

Bagaimana jika Baekhyun …

Air mata Minhyun mengalir.

=== You and I ===

Annyeong~ annyeong~ saya kembali \^o^/

Yah bagaimana kali ini? Panjang kan? :3

Pasti dong panjang~ soalnya saya mau hiatus selama puasa. Kita bertemu lagi pas lebaran. Atau mungkin pas kalian dalam perjalanan pulang mudik? ._.

Aku tahu chapter ini tuh maksaaaaaa banget ceritanya. Saya emang ga ngefans sama EXO K sih u.u jadi susah buat ff bercast mereka. Ga ngefans = ga ngefeel T.Tv

Tapi please tetep komen ya ceman-ceman ~

Advertisements

10 responses to “You and I (Chapter 4)

  1. pas nemu ff ini aku loncat-loncat. pas selesai baca ff ini, aku loncat-loncat juga. geregetan ama sehun -_- ama minhyun juga deh. baekhyun pasti ada disitu yak pas minhyun bilang suka ama sehun aaaaaaaaaa…gamau tauuu mau baca lanjutannyaaa *ditendang keluar blog
    ngomong-ngomong lucu deh, minhyun kaya ngajak adeknya ke sekolah, daripada ngajak pacar. hahaha apalagi pas bagian dia ngasih uang ke baekhyun.
    ditunggu lanjutannya yaaaaa.
    fighting ^_^

    • itu loncat-loncatnya kenapa? =.=a
      udah semuanya aja digeregetin supaya adil =) /plak *ngarep*
      lanjutannya abis lebaran oke? deal? DEAL! /ditimpuk
      TAH ITU! saya juga aneh pas baca ulang. merinding mamen begitu deh. tapi biarin deh. saya ga mau ngedit ulang ㅋㅋㅋ /plak

      • huehehe pertama, loncat-loncat karna seneng, keduanya geregetan ama sehun ama minhyun -_-
        iyedah abis lebaran, deal hahaha, daripada bonyok *ditendang keluar blog*
        iya jangan diedit lucuan gini. hahaha.
        sip abis lebaran ditunggu ^_^

  2. yaaaaaaa baboya minhyun… arghh babo babo! dri pas pertama udah ngira kalo minhyun bakal ngomong kayak gitu di depan baekhyun..
    arrgghhh tapi apapun bisa terjadi.. mungkin saja baekhyun pingsan bukan karena itu.. hehe
    *asli komen gue aneh bgt -_-*

    • heh jangan menghina adek saya u.u minhyun pinter tau. lebih pinter daripada gue lagi. huahaha
      iya emang komen lo aneh =.= syukur deh kalo eonni nyadar /plak

  3. ff nya keren …
    Huah… aku mau nyari tuh situs Pacar Impian*emang ada?
    Cowo nya harus kaya Kai ! Kaya Minho juga boleh*ngarep
    Aku bakal nunggu kelanjutannya eon^^

  4. thehun mau diubah jadi evil ya disini? omooo awas ya jangan bikin baekhyun hilang. nanti gaada klanjutan ceritanya. oke, gue penasaran ada hubungan apa baek sama sulli 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s