Mistake (Chapter 6)

Author : Lee Hyura

Title : Mistake

Genre : Angst, Friendship, Romance

Rating : PG-13

Length : Series

Cast :

–          SNSD Jessica

–          EXO M Kris

–          SJ M Henry

–          F(x) Amber

–          F(x) Krystal

–          SJ Kibum

 

=== Mistake ===

Jessica menghempaskan tubuhnya di kursi taman kampusnya. Ia benar-benar merasa seperti di atas awan. Tubuhnya benar-benar terasa ringan. Semua tugas sudah selesai dan diterima dengan senyuman puas para dosen. Tidak semua dengan senyuman puas sih. Ada beberapa dosen yang berusaha munafik sampai menyembunyikan senyuman puas itu dan memaksa Jessica untuk merapikannya lagi. Padahal semua juga tahu dosen itu hanya ingin sebuah hasil yang sempurna, yang bisa menginspirasinya untuk menghasilkan karya yang mendunia. Tapi seluruh dosen memang licik, kan?

“Yo!” sapa Henry sambil melempas sekaleng kola kepada Jessica.

Jessica menangkapnya dengan sempurna. Henry tersenyum tipis karenanya. Jessica mendesis. Ia tahu apa maksud senyuman Henry. Dia memilih untuk diam dan membuka kalengnya. Tapi tidak ia teguk. Jessica hanya menatap dalam kola yang berada di dalam kaleng itu.

“Kau sungguh-sungguh tidak akan menemaniku pulang? Krystal—“

“Jessie, aku tidak bisa melepaskan diri dari festival itu. Itu festival yang besar dan kau tahu itu. Tenaga pengajar di sanggar tidaklah banyak karena Jasmine mengambil cuti untuk kehamilan pertamanya,” sergah Henry cepat.

“Jasmine.. oh that slut?” desis Jessica. “Tidak aneh jika dia hamil diluar nikah.”

“Jess..”

“Aku tidak suka dengannya. Dia suka sekali menggoda pria lain. Kau juga sering digoda, kan? Aneh, kau tidak pernah terjebak olehnya. Padahal kau itu player,” cibir Jessica.

Henry mengacak rambut Jessica gemas. Jessica mengerang kesal karenanya. Dia menarik tangan Henry dari rambutnya lalu menggigitnya.

“Ouch. Jessie! Oh sial!” rintih Henry sambil menarik tangannya lalu mengibas-ngibaskannya.

Jessica hanya tersenyum penuh kemenangan. Tapi senyumannya memudar saat melihat sebuah sosok.

Amber..

>>>

“Krystal, kapan Jessica akan datang?” tanya Bryan, guru les Krystal.

Krystal terdiam sejenak lalu menatap gurunya itu, “Kibum sangsaenim. Apa itu penting untuk kau ketahui?”

Bryan Kim tersenyum tipis. Krystal memang selalu memanggil guru les privatnya itu dengan nama Koreanya. Kibum mengetuk meja dengan jari-jarinya sambil mencari jawaban yang tepat.

“Hanya untuk memastikan kapan saatnya kau akan mulai tidak fokus karena memikirkan kepulangan kakakmu,” jawab Kibum.

Krystal melepaskan pensilnya dan merenggangkan tangannya. Kekehan pelan terdengar dari mulutnya. Tatapan Krystal menerawang. Sebuah senyuman terukir indah di bibirnya.

“Secepatnya. Aku berharap itu secepatnya. Karena aku sudah tidak sabar untuk melihat pacarnya. Aku sudah meminta Henry oppa agar membuat eonni pulang dengan pacarnya itu,” ujar Krystal. “Kau harus berkenalan dengannya, oppa.”

“Oh ya?” alis Kibum terangkat. “Tentu. Aku akan bersenang hati berkenalan dengannya.”

“Liburan eonni kali ini pasti seru!”

“Krystal, kau tidak merencanakan hal yang aneh lagi, kan?”

Krystal melirik Kibum sambil menyeringai, “Mungkin. Dan ku minta oppa mau menjadi penonton setia mereka.”

Kibum memicingkan matanya lalu menggeleng.

>>>

Kali ini lapangan kembali diramaikan oleh para mahasiswa yang bermain basket. Tidak ada Kris disana. Kris hanya menonton dari jauh sambil mendribble bolanya sesekali. Cedera kakinya memang belum sembuh benar. Padahal sore ini, dia sudah punya janji untuk bermain streetball. Kalau menang kan lumayan. Uangnya bisa dia gunakan untuk menonton pertandingan basket professional. Yah walaupun bukan NBA pun tak apa.

“Hei.”

Kris menoleh saat merasa ada yang menyapanya. Matanya melebar saat melihat sosok yang menyapanya. Dia menyeringai lebar. Ini bisa dikatakan sebuah keajaiban. Tidak ada hujan, badai atau angin topan sekalipun, Jessica datang dan menyapanya. Wanita itu langsung mengambil duduk disamping Kris lagi. Benar-benar ajaib. Apa kata-kata Kris malam itu benar-benar berhasil membuat Jessica menerimanya?

“Hei,” balas Kris.

Jessica tersenyum tipis lalu menatap lapangan yang tertutupi oleh para manusia yang ingin menonton pertandingan basket. Jessica menghela nafas lalu melirik kaki Kris.

“Belum sembuh?” tanya Jessica.

“Sudah. Hanya saja, aku lebih memilih untuk tidak ikut daripada berdampak lebih besar pada kakiku,” jelas Kris.

Jessica membulatkan bibirnya, “Oh..”

“Tapi tenang saja, aku tetap akan menemanimu,” kata Kris cepat.

Jessica mendengus, “Tidak usah repot-repot karenaku!”

“Bukan karenamu. Tapi adikmu.”

“Eh?”

Kris melirik Jessica, “Oh Krystal tidak cerita jika dia meneleponku dan memohonku untuk ikut?”

“Eh what?” kaget Jessica. Dia mendengus kesal. Lagi-lagi Soojung!

“Sepertinya dia memang tidak cerita.” Kris mengulum bibirnya tipis. “Tumben kau mendatangiku. Ada apa?”

“Tadinya, aku bersama Henry sampai akhirnya Amber datang. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting. Jadi lebih baik aku pergi. Lagipula aku memang tidak diperbolehkan untuk mendengarnya. Lalu aku lihat kau sendirian disini sambil memainkan bolamu. Seperti anak autis yang kehilangan temannya. Makanya aku berinisiatif untuk menemanimu,” jelas Jessica panjang lebar.

Kris sebenarnya agak kaget saat mendengar Henry dan Amber. Tapi ia tersenyum tipis mendengar kelanjutannya. Jessica benar-benar menekankan kalimat-kalimatnya saat sudah memasuki scene ia melihat Kris.

“Akui saja kalau kau merindukanku,” cibir Kris.

“Aku.. merindukanmu? Oh astaga! Berhentilah berharap!”

Kris memutar matanya. Jessica benar-benar tipe orang yang gengsi tingkat tinggi. Tidak salah jika Henry pernah hampir menyerah saat mendekati Jessica. Ngomong-ngomong soal itu, Kris penasaran dengan cerita pertemuan mereka.

“Bagaimana kau bisa dekat dengan Henry?” tanya Kris tiba-tiba.

Jessica menggumam pelan lalu menatap Kris, “Dia mendekatiku dan memintaku menjadi pacarnya. Aku menolaknya. Tapi dia tetap bersikeras untuk membuatku menjadi pacarnya. Akhirnya aku mengaku kalau aku tidak pernah pacaran dan tidak tahu cinta itu apa—“ Jessica melototi Kris. “Baiklah, sekarang kau berhasil membuatku terlihat polos!”

Kris menggeleng cepat, “ Tidak.. tidak.. ayo lanjutkan!”

“Tidak mau!”

“Jessie~ please?”

Jessica mendesah pelan. “Setelah pengakuanku, Henry bersedia memberikanku ‘pelajaran’ selama aku menjadi pacarnya. Aku setuju. Dan asal kau tahu, akulah wanita yang berpacaran dengannya paling lama! Tapi akhirnya kami putus karena dia menyerah.”

Jessica tersenyum bangga lalu menolehkan kepalanya ke arah lapangan. Kris mengangguk mengerti sambil mencerna kata-kata Jessica.

Jessica.. his ex?, pikirnya. Henry memang pernah cerita soal itu padanya. Tapi Henry tidak pernah bilang kalau Jessicalah yang dimaksud. Dan Kris berani menjamin teman-teman klub basketnya juga tahu akan itu. Artinya hanya dia yang tidak tahu.

“Jess,” panggil Kris menggumam.

“Hm?” sahut Jessica.

“Adikmu mengenalku sebagai pacarmu,” cibir Kris.

Jessica terbatuk. “O-oh ya? Itu semua karena Henry! Aku sudah menjelaskannya pada Krystal tapi Krystal tidak percaya. Bantu aku meyakinkan dia kalau tidak ada apapun di antara kita, ya?”

Kris mendesah sinis. Dia menolehkan kepala Jessica ke arahnya lalu menatap Jessica dalam. Jessica menjadi kelabakan karenanya.

“Kau lupa kalau kau itu milikku, ya?” gumam Kris.

N-no.. not—“

“Akan ku buat kau mengingatnya!”

Jessica terbelalak mendengarnya. Dia langsung bangkit dan berlari menjauh dari Kris. Sejauh-jauhnya. Sedangkan Kris tergelak melihatnya. Sekali lagi, ia berhasil menggoda Jessica. Bisa dia bayangkan seberapa merahnya wajah Jessica tadi.

>>>

Henry mengangkat alisnya, “Jadi kau akan kembali ke Kanada?”

“Yeah~” tekan Amber.

“Untuk?”

“Ada sedikit urusan. Jadi aku minta maaf karena tidak bisa membantumu untuk meluruskan semua ini kepada Kris,” ujar Amber.

“Tapi—“

“Kalau aku punya waktu, aku pasti akan membantumu,” potong Amber.

“Masalahnya, akan percuma jika aku yang menjelaskannya. Dia hanya berpikir bahwa aku terlalu ikut campur tapi sebenarnya aku tidak tah apapun. Dia akan berpikir aku berpihak padamu,” desah Henry.

Actually, you are,” sahut Amber main-main.

Henry mendesis. “Aku bersungguh-sungguh..”

“Baiklah..”

“Henry!” pekik Jessica sambil berlari ke arahnya.

Henry mengernyit melihat Jessica seperti itu. Tapi dia tahu salah satu penyebab yang paling mungkin membuat Jessica seperti itu. Kris..

“Temanmu benar-benar berbahaya, Henry..” gerutu Jessica.

“Kris?” tebak Amber.

Jessica mengacungkan telunjuknya sebagai tanda ia setuju. “Benar! Eh, tunggu. Kau mengenalnya?”

“Tentu aku tahu. Aku dari kota yang sama dengan Kris,” jawab Amber.

Jessica mengernyit. Kini.. ia tahu kenapa Henry dan Amber begitu akrab. Tapi ada apa dengan Kris yang sepertinya tidak suka melihat Amber? Pasti ada sesuatu diantara mereka bertiga. Tapi sayang untuk soal ini, Jessica adalah orang luar. Dan Jessica cukup tahu diri akan itu.

“Memang apa yang ia lakukan?” tanya Henry.

“Dia..” Jessica terdiam. Dia mencoba mengingat kejadian tadi. Tak lama, dia mengangkat bahunya sekilas. “Aku lupa.”

Kaleng kola yang sudah kosong di tangan Henry terlempar ke kepala Jessica. Jessica merintih kencang karenanya. Wanita itu menatap sahabatnya tajam.

“Teganya!” protes Jessica.

“Itu agar otakmu bisa bekerja maksimal,” tanggap Henry asal.

>>>

Jessica melirik jam tangannya untuk keberapa kalinya. Sosok pria jangkung itu belum juga muncul di bandara Seattle-Tacoma Airport. Jam tangan putih yang melingkar di tangan kirinya kini seakan sebuah televisi yang sedang menampilkan acara yang menarik hingga Jessica terus-menerus melirik benda itu.

“Hei,” sapa Kris sambil menepuk bahu Jessica yang sedang tidak menghadapnya.

Jessica terlonjak kaget karenanya. Dia memukul tangan Kris kesal sebagai luapan amarahnya. Kris hanya meringis kecil. Jessica menatap penampilan Kris dari atas ke bawah lalu atas lagi. Kris hanya memakai kaos tipis yang dibalut dengan hoodie dan dipasangkan dengan celana jeans. Sederhana, tapi Jessica tidak bisa mengelak bahwa pria itu benar-benar berkharisma walaupun hanya berpakaian seperti itu.

“Maaf. Kau tahu sendiri kalau pusat kota Seattle itu ramai. Beberapa kali taksiku terjebak macet. Maafkan aku,” kata Kris.

Jessica menggeleng pelan, “Terserahlah. Ayo jalan!”

“Tunggu!”

Jessica berhenti melangkah lalu berbalik badan. Jessica mengangkat alisnya seakan bertanya ada-apa-Kris-?

“Kau manis dengan pakaian itu,” gumam Kris lalu berjalan mendahului Jessica.

Jessica melirik kemeja putih berlengan pendek yang dimasukkan ke dalam skirt berwarna pink lembut berpita dibagian pinggang. Bibirnya mencibir pelan dengan pipi bersemu tipis.

“Apanya yang manis? Bodoh.”

>>>

Setelah sampai di bandara Oakland lalu menaiki bus, akhirnya Jessica dan Kris sampai juga di depan rumah papi Jessica. Jessica menarik nafas dalam sebelum memasuki area halaman rumahnya. Rumah itu selalu terlihat sepi seperti biasa. Mungkin papinya masih di tempat latihan dan Krystal di rumah temannya. Jessica memang sengaja tidak memberitahukan mereka bahwa ia pulang hari itu. Biarkan menjadi sebuah kejutan.

Jessica mengeluarkan kunci rumahnya. Dia, Krystal dan papi memang mempunyai kunci rumah itu masing-masing. Rumah itu memang benar-benar sepi. Hanya papi dan Krystal yang tinggal di rumah itu. Sedangkan maminya sudah meninggal sejak Krystal berumur 2 tahun. Pembantu hanya datang saat pagi hari.

“Masuk, Kris,” ajak Jessica saat melihat Kris hanya diam didepan pintu.

“Oh? Ya..” gumam Kris sambil memasuki ruangan itu.

Terlihat beberapa sabuk emas dan foto-foto saat kejayaan papi Jessica dulu. Itu membuat Kris menggigit bibirnya kuat-kuat. Kata-kata Krystal beberapa malam yang lalu berhasil membuatnya parno. Tapi entah mengapa, dia merasa optimis tentang ini.

“Ayahku adalah pelatih boxing,” kata Jessica karena sedari tadi Kris menatap foto-foto papinya.

Kris menoleh, “Uh?”

“Dan mamiku adalah pelatih fitness. Mereka bertemu ditempat fitness,” lanjut Jessica.

“Pantas anak mereka seperti kau,” cibir Kris.

“Memang ada apa denganku?”

“Pukulanmu menyakitkan..”

>>>

Krystal merengut saat melihat sosok papinya datang untuk menjemputnya. Papinya terlambat 15 menit. Itu yang membuat Krystal kesal. Papinya hanya tersenyum tipis.

Sorry..” rajuk papinya.

“15 minutes, papi.. gosh! Why are you always like this?” gerutu Krystal.

Krystal menggerutu sambil berjalan menuju mobil dan masuk. Papinya mengikutinya. Mobil itu mulai berjalan di atas aspal kota San Francisco dengan perlahan. Krystal hanya menatap ke arah luar jendela tanda dia masih sangat marah.

“Mau membeli ice cream?” tawar tuan Jung.

Krystal tetap diam.

“Ku anggap kau mengiyakannya,” kata tuan Jung akhirnya.

Dia tahu anaknya sangat menyukai ice cream. Kedua anaknya menyukai itu. Walaupun Krystal sedang marah kepadanya, Krystal akan melupakannya dengan sogokan ice cream. Hanya saja Krystal masih tetap ingin membuktikan dirinya benar-benar marah. Jika tuan Jung malah tidak jadi membelinya, sama saja membuat Krystal menutup bibirnya selama seminggu terhadapnya.

Tuan Jung berhenti di sebuah kedai kesukaan anak bungsunya itu dan membeli 1 pack ice cream serta 2 cup ice cream. Ia meletakkannya di jok belakang sedangkan 2 cup itu ia berikan kepada Krystal. Dan benar saja, senyuman terukir diwajah Krystal.

“Kau tahu kapan kakakmu pulang?” tanya tuan Jung setelah kembali menjalankan mobilnya.

“Tidak. Eonni hanya bilang secepatnya. Tapi aku tidak tahu kapan,” jawab Krystal.

Tuan Jung mengangguk mengerti. Tak lama, mobil mewah itu sudah memasuki halaman rumahnya. Krystal segera turun sambil memakan ice creamnya dengan riang. Tapi baru saja memasuki ruang tamu, seseorang merebut ice creamnya. Krystal terbelalak.

“Eonni?!”

>>>

“Jadi dia lah yang bernama Kris? Pacarmu?” tanya tuan Jung yang seakan mengintrogasi anak sulungnya dan pria disampingnya.

Jessica hendak menggeleng. Tapi Kris malah meremas tangannya. Jessica mendelik kaget karenanya. Kris hanya tersenyum tipis kepadanya.

“Yea, benar,” jawab Kris.

Jessica mendesis, “Tapi—“

“Sudah ku bilang! Pacar eonni itu tampan,” celetuk Krystal.

Jessica melirik Krystal tajam karena gadis itu sudah memotong kata-katanya. Tapi Krystal malah membalasnya dan lirikkan seakan merendahkan Jessica. 1-0 untuk Krystal dan Kris.

“Krys.. Kris.. tidak ada bedanya,” gerutu Jessica pelan.

“Sejak kapan?” tanya tuan Jung lagi.

“Papi—“ ucapan Jessica kembali terpotong.

“Kira-kira 3 minggu yang lalu,” jawab Kris.

Jessica mengerutkan keningnya. Oh.. tepat 3 minggu yang lalu, Kris bertemu dengan Amber. Jessica semakin curiga akan Kris dan Amber. Henry juga.

“Baru?” gumam tuan Jung mencibir.

“Begitulah. Tapi aku mencintainya,” sahut Kris.

Jessica bersiap untuk mengeluarkan isi perutnya jika papinya tidak ada didepannya. Jessica hanya memutarkan mata sebagai gantinya.

“Ku kira Henry tidak mudah percaya kepada orang lain. Jadi, ku rasa kau lulus,” kata tuan Jung yang dihiasi senyuman penuh kemenangan bagi Kris dan Krystal.

Ini 2-0 bagi Kris dan Krystal. Tapi serasa selisih angka mereka adalah 100 bagi Jessica. Dia kalah telak dari 2 makhluk itu saat mendengar kata-kata papinya. Henry memang benar-benar berhasil meyakinkan papinya.

=== Mistake ===

Bagaimana? Pendek, kah? Maaf deh. Saya lagi buru-buru selesaiin semua updatean saya sebelum hiatus. Karena selama puasa, saya akan hiatus :3 jadi sampai bertemu lagi abis lebaran ^o^/

Advertisements

28 responses to “Mistake (Chapter 6)

  1. huaaaa~~! penutup yang manis sebelum eonni hiatus huhu
    keren eon! apalagi pas papinya sica setuju. huahaha, i love you papinya sica! mumumu (?)
    oh iya, happy fasting eon :3

  2. Iyya ini pendek ..
    Tapii bagus kok ..

    Aku penasaran , sebenarnya Kris-Henry-Amber itu ada hubungan apa sih?
    Jadi makin penasaran setiap baca kelanjutannya .

    Hahahaha …
    Sica sica sica ..
    Kau mau saja dipermainkan sama adik sendiri..
    Hahaha
    Ga nyangka ternyata Krystal licik juga!!
    Nikmati liburanmu Sica Onnie …
    Ku yakin kau akan menyukai liburanmu disana bersama 2 orang itu..

    Ditunggu kelanjutannya yya …
    Fighting ..

    • hehe berarti ga boleh protes ya *3*
      sabar ya yg penasaran :3
      krystal licik karna partnernya adalah kris. huahaha
      ga yakin sica bakal suka liburannya. wk

  3. Haha. Dasar Kris! Krys.. dan Kris.. Iya, sama. Sama-sama jahil. Poor Jessie.

    Asyik. Mereka udah dapet restu dong dari sang ayah. Tapi Jessie nya mah kayak gitu. GGG! Gengsi Gede Gedean XD

    Dan.. Jessica udah mulai curiga soal Kris-Amber-Henry. Semoga di chapter selanjutnya akan terungkap.

    Lanjut, onnie.. #puppy eyes

  4. wuaaah jess kalah telak sudaaah hahaha. nice scene itu terakhirnya sukaa deeeh.. untung kamu update fanfic yang ini dulu sebelum hiatus, kalo enggak, kamu kuteror terus ah *senyum jahat* haha ngga ding becandaaa.
    suka chapter ini! sekalian makin penasaran ama kris, henry, amber -_- mereka bertiga kenapa sih? mereka bukan agen mata-mata kan -_-
    haha. okedeh ditunggu lanjutannya yaaaa. fighting! ^_^

  5. kependekan dan kurang panjang…#sama aja x
    kris bener2 deh,,,! tapi chapt ni bagus apa lagi pas terakhirnya..
    cepetan dilanjutin yah…
    hwaiting…..*_*

  6. Yach,
    telat baca nih. .
    *nangs di pinggir rel.

    Seperti biasa,
    ni FF bgus bgt ceritanya.
    Ngalir n imajinasi ny dpt bgt.
    Scene yg paling aq suka dari mulai jessica yg ngehampiri kris dipinggr lapangan sampe bgian henry ngelempar kaleng ke jessica.
    Itu bner” kren bgt.
    #gakadaygtanya.
    Setju ama comment diatas,
    agk kpendkan.
    #disambit sepatu.
    Tp gpp dh,
    untng udah di post dluan sblum hiatus.
    Q tnggu come back mu di mubank (?) chingu. .
    Hwaiting.

  7. masih pengen jessica sama henry,jangan sam kris!!! 😦
    tiap scene adegan jessica sama henry konyol tapi manis
    ditunggu part selanjutnya….

  8. maaf saeng baru komen sekarang..
    sebenernya makin kesini makin seru, tapi…semakin kurang setuju Kris-Sica T.T
    eon pengennya Henry-Sica, lebih cocok dan lebih gimana gitu,,kayaknya yang tahu Sica luar dalam itu Henry dan menurut pemikiran eon*cie bisa mikir* Sica itu membutuhkan Henry disampingnya cuma sekarang ini dia belum terlalu sadar karena ada Kris..
    tapi terserah kamu saeng mau buat Sica sama Kris or sama Henry, eon mah ikut aja..
    ahh kenapa banyak yang dukung Kris-Sica semakin susah aja buat Henry-Sica bersatu u,u
    saeng, lanjut dong ff ini, tanggung kalau sampe berhenti ditengah jalan..

  9. Annyeong chingu~ aku reader baru yang nyasar ke blog chingu. Hehe, waktu baca ff ini pertama kali di ExoShidaefanfic aku langsung suka banget! Kenapa(?) Karena ceritanya beda dari yang lain. Mulai settingnya di Seattle -aku suka kota ini, yey!. Terus, kalo dari fanfic-fanfic kebanyakan yang pernah aku baca, kalau author pake negara lain selain korea, pasti mereka adaptasi dari novel-novel yg udh pernah ada -jadinya kurang wah gitu. Tapi buat ff chingu yg ini aku suka banget karena beda dari yg lain! Alasan lain adalah, main Cast nya bias saya (wohoho Kevin Wu :* )
    Alur, tokoh, setting, dialog semuanya bagus! Mulai penjabaran kota Seattle, macem-macem gerakan di permainan basket (fast break, lay up, guard) -karena saya gak ngerti tentang permainan basket hehe, dan lain-lainnya yg bikin reader ngerasa kalo authornya sangat menjiwai banget.

    Tapi waktu sampai chapter 6 ini kenapa mesti gak ada lanjutannya lagi, chingu~ 😦

    Padahal saya penasaran bangettttttttt.

    Mianhae, jeongmal mianhae saya cerewet (apalagi sebagai reader baru), saya harap author gak benci sama saya karena saya kelewat cerewet hehe 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s