[Prolog] When The Book Closes

Author : Lee Hyura

Title : When The Book Closes

Genre : Romance, Friendship, Fantasy, Adventure.

Rating : PG-13

Length : Series

Cast :

–          Girls Day Yura

–          Hello Venus Yoonjo

–          B1A4 Baro

–          SHINee Minho

–          EXO K Chanyeol

Disclaimer: the casts belong to god. The plot belongs to me. No plagiarizing. Don’t re-post without my permission.

Note: just please enjoy. If you’re not in mood, don’t read then. I want you to have good mood. So you can understand the story ^^

Summary: Sekelompok remaja tidak sengaja menemukan sebuah pintu rahasia. Dibalik pintu hanyalah ruangan kosong. Hanya ada sebuah buku di tengah ruangan. Buku itu menghisap kelima remaja itu ke dalamnya. Mereka terhempas ke sebuah tempat asing. Mereka harus mengisi buku itu dengan kisah mereka agar mereka bisa keluar dari buku itu. Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan sebuah kekuatan special.

=== When The Book Closes ===

Yura menghempaskan lembaran tugas itu ke atas mejanya. Dia menggaruk kepalanya gemas. Sedangkan teman-teman sekelompoknya yang lain menelungkupkan wajah mereka di atas meja dengan lemas.

“Hanya proposal kita yang ditolak. kita diminta untuk mencari ide lain dan dikumpulkan minggu depan. Setidaknya seminggu lagi proposal penelitian ilmiah kita harus selesai,” gerutu Yura.

“Kalau begitu, kita harus mencari ide baru lagi dan menyelesaikannya mulai sekarang,” timpal Yoonjo.

“Tapi hari ini, kita harus mengikuti kontes street dance,” sahut Baro.

Semuanya langsung mendelik tajam ke arah Baro. Baro hanya menyengir karenanya. Sedangkan Yura mengangkat tangannya karena dia tidak bisa membantu Baro. Padahal Baro, Yura, Chanyeol dan Yoonjo adalah dancer utama di kelompok street dance mereka.

“Aku akan telepon Jay untuk beritahu kalau kita tidak bisa ikut kompetisi itu,” kata Yura akhirnya.

“Jadi kita kerjakan di rumah siapa?” tanya Chanyeol.

“Err, di rumah yang paling mewah supaya makanannya banyak!” celetuk Yura.

Yoonjo mengetuk kepala Yura, “Dasar tukang makan. Berhenti memikirkan soal makanan, Ahyoung-ah!”

Yura mendelik kesal, “Panggil aku Yura!”

•••

Yoonjo mendesah pelan saat memasuki kelasnya. Dia segera duduk di kursinya –diantara Yura dan Chanyeol. Yura, Chanyeol dan Baro segera mengerubunginya. Ia baru saja dipanggil Goo sangsaenim. Pasti sesuatu terjadi. Dan kemungkinan besar tentang proposal ilmiah mereka.

“Goo sangsaenim menyuruhku untuk mengajak anak baru itu masuk ke kelompok kita,” gerutu Yoonjo.

Yura mengerutkan keningnya, “Err.. yang namanya Choi Minho itu, kan?”

“Kenapa kelompok kita?” timpal Baro.

“Dia itu sombong. Sepertinya tipe orang yang susah diajak bekerja sama,” tambah Chanyeol.

“Hei, ayolah~ kita belum mencobanya! Lagipula kan kita memang kekurangan orang. Dia juga cerdas. Dan diantara kita, tidak ada orang yang berotak cerdas. Disini hanya ada otak dance dan musik,” seru Yoonjo.

“Jadi maksudnya kita memanfaatkannya?” cibir Chanyeol.

Yoonjo menyengir tipis, “Mungkin?”

•••

Keempat orang itu tersenyum lebar saat ternyata tidak susah mengajak seorang Choi Minho. Minho langsung setuju saat diajak bergabung dengan kelompok mereka. Padahal Yura sudah bilang kalau mereka adalah kumpulan orang-orang yang bodoh. Jadi kemungkinan besar, Minho lah yang melakukan sebagian besar tugas mereka. Tapi Minho tetap menyetujuinya.

Pulang sekolah, mereka langsung meluncur ke rumah Minho. Minho sendiri yang meminta mereka untuk mengerjakannya di rumahnya. Semuanya setuju saja karena sebenarnya diantara mereka tidak ada yang rela rumahnya dijadikan tempat belajar bersama kecuali Minho.

Jantung ke empat orang yang bersahabat sejak kecil itu berdebar saat mereka turun dari bis. Tentu saja, mereka turun di halte dekat komplek perumahan mewah. Dan benar saja, mereka memang masuk ke lingkungan perumahan mewah itu. Rumah Minho tidak terlalu jauh dari gerbang utama.

Mulut keempat orang itu ternganga lebar saat melihat rumah Minho. Rumah yang sangat mewah. Mereka benar-benar bersyukur karena langsung mengiyakan tawaran Minho untuk mengerjakan tugas itu di rumah Minho.

“Ini benar-benar rumahmu, Minho-ssi?” tanya Yura.

Minho menoleh, “Tentu saja. Ayo masuk.”

•••

“Jadi apa tema penelitian ilmiah kita kali ini?” tanya Minho sambil mengetik di laptopnya.

4 orang lainnya menggeleng serentak. Mereka memang tidak tahu dan malas berpikir. Tidak aneh jika mereka berempat selalu masuk rangking 10 besar dari bawah. Minho terkekeh pelan.

“Hua, kau bisa tertawa juga?” celetuk Yoonjo polos.

“Memang kau pikir aku tidak bisa tertawa?”  sahut Minho.

“Wajahmu itu benar-benar dingin. Ku kira kau itu tipe orang yang tidak bisa bersosialisasi,” jawab Chanyeol.

“Aku memang seperti itu sebenarnya. Tapi aku berusaha untuk bisa karena berhadapan dengan kalian,” gumam Minho.

“Memang ada apa dengan kami?” desis Baro tajam.

Minho tersenyum, “Kalian adalah orang pertama yang mengajakku berbicara di sekolah ini.”

“Kalau begitu, anggap kami sahabatmu,” kata Yura.

“Yura!” bentak Baro.

Yura melirik Baro, “Apa? Sahabat bukan tentang jangka waktu berteman. Tapi dari hati dan kebiasaan. Dan tidak ada salahnya di kelompok kita ada orang pintar, kan?”

“Baiklah.. mari kembali ke proposal!” lerai Minho. “Bagaimana kita cari barang-barang yang dipakai di gudangku?”

“Gudang? Kenapa gudang?” bingung Chanyeol.

“Karya ilmiah tidak selalu harus memakai barang yang sulit ditemukan. Barang bekas atau yang tidak dipakai lagi pun bisa,” jelas Yoonjo yang diangguki oleh Minho. Memang tidak salah Yoonjo menjadi orang terpintar diantara mereka.

•••

Kini keempat orang itu kembali dibuat tercengang. Bahkan gudang itu jauh lebih rapi dan bersih dibandingkan kamar mereka. Gudang itu juga sangat luas. Minho tertawa melihatnya.

“Sungguh, Minho-ssi. Kau orang kaya. Kenapa sekolah di sekolah biasa seperti sekolah kami?” tanya Yura.

“Karena aku bosan dengan orang-orang ‘berkuasa’,” jawab Minho.

“Oh..”

Semua mengangguk serentak.

“Lebih baik kita menyebar..” kata Minho.

Semua langsung menyebar. Yura menarik tangan Yoonjo berlari ke bagian paling dalam. Sedangkan Baro dan Chanyeol hanya menyusuri bagian gudang di dekat pintu keluar. Minho mengikuti para gadis pergi. Baro melirik tumpukan kardus. Dia menyeringai jahil.

“Chanyeol-ya! Kemarilah,” panggilnya.

Chanyeol langsung berlari menghampirinya. Baro menunjuk tumpukan kardus itu dengan lirikan mata. Dengan cepat, mereka menarik kardus yang paling atas dan melihat isi kardus itu. Kosong. Mereka kembali mengambil kardus lainnya. Juga kosong. Mereka menurunkan banyak kardus. Semuanya kosong. Saat ingin kembali menurunkan kardus, mereka tersadar bahwa ada pintu dibelakang tumpukan kardus itu.

“Ada ruangan lain?” gumam Baro.

Chanyeol langsung berlari keluar gudang untuk mencari tahu apakah ada ruangan atau pintu itu hanya sebuah hiasan. Tapi saat menyusuri luar gudang itu, ia tidak menemukan apapun. Jangankan ruangan lain, pintu lain pun tidak ada. Chanyeol kembali ke tempat Baro tadi dan mengatakan analisisnya.

“Tapi aneh jika hanya hiasan tapi malah disembunyi dibalik tumpukan kardus, kan?” celetuk Baro.

“Kalau begitu coba saja,” kata Chanyeol akhirnya.

“Panggilkan yang lain. Perasaanku buruk soal ini,” pinta Baro.

Chanyeol langsung menurutinya. Dia memanggil Yura, Yoonjo dan Minho. Minho terlihat kaget melihat pintu itu. Dia tidak tahu kalau ada pintu disana sebelumnya.

“Jangan! Kembalikan kardus itu ke tempat semula!” larang Minho.

“Wae? Kau penasaran juga, kan?” selidik Yura.

“Iya, tapi—“

“Bilang saja kau takut!” cibir Baro.

“Baro! Jaga etikamu! Ini rumahnya!” bentak Yoonjo.

Baro mendesah, “Mianhae..”

•••

Ruang makan kali itu terdengar sedikit berisik akibat beradunya piring dan sendok serta sumpit. Kali itu keluarga itu lengkap. Jarang itu terjadi. Biasanya kedua orangtua Minho sibuk dengan pekerjaan mereka. Dan entah kenapa, pikiran Minho kembali ke tentang pintu itu. Setelah makan, dia membulatkan tekadnya untuk bertanya.

“Sebenarnya pintu apa yang ada didalam gudang? Kenapa selama 15 tahun aku tinggal disini, aku tidak pernah tahu soal itu?” tanya Minho akhirnya.

“Pintu yang mana?” sahut tuan Choi.

“Yang dibalik tumpukan kardus kosong,” jawab Minho.

Wajah kedua orangtuanya menegang.

“Bukan apa-apa. Hanya hiasan gagal. Makanya ayahmu menyembunyikannya,” jelas ibunya.

Minho tahu mereka berbohong. Ada sesuatu dibalik pintu itu. Jika tidak, tidak mungkin wajah orangtuanya setegang itu.

=== When The Book Closes ===

Ini ff terbaruku. Kalau nanya kapan chapter 1nya, aku bakal jawab.. HABIS LEBARAN ^o^

Kenapa aku ngeluncurin ff ini? Biar nanti pas balik dari hiatus, ga kebanyakan ff yang aku publish. Masa iya dalam seminggu, aku setiap hari harus ngeposting ff di ffindo? -_-a sekalian nyicil lah. Wk~

Advertisements

2 responses to “[Prolog] When The Book Closes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s