Calling Out (Chapter 1)

Author : Lee Hyura

Title : Playing Our Heart

Genre: Angst, Family, Friendship, Romance

Rating : PG 13

Length : Series

Cast :

–          EXO Kris

–          EXO Luhan

–          SNSD Jessica

–          SNSD Seohyun

–          Daniel Hyunoo

Note : Yo! Yo! Kembali dengan author kesayangan kalian, Lee Hyura (^o^) /ditimpuk tomat/

ff ini bisa dibilang untuk ngegantiin ff mistake. Itu ff kan novel saya yang diubah jadi ff. Nah novel saya juga sedikit lagi rampung. Pas saya baca ulang, saya mual sendiri sama jalan ceritanya. Jadi ga mau saya lanjut deh -____-“

Dan pas kapan tau juga saya udah bilang kalau saya itu mau hiatus selama puasa. Eh ternyata.. saya malah sibuk dengan banyak hal sampe megang laptop cuma untuk ngerjain tugas. Saking frustasinya, pas ada waktu untuk ‘pacaran’ sama laptop langsung deh ngetik banyak ff. Ternyata eh ternyata kebanyakan ff yg disimpen. Jadi dipublish sekarang aja deh. Ga jadi hiatus -_-

 

•••

 

Kami terikat dalam hubungan pernikahan.

Bukan karena perjodohan atau cinta.

Hanya sebuah kecelakaan yang membuat semuanya runyam.

Kami bertemu di sebuah kelab malam dan berakhir di hotel.

Dan pernikahan lah satu-satunya jawaban dari semua ini.

Kami hanya orang yang tidak saling kenal dan berakhir di pernikahan bodoh.

 

=== Calling Out ===

 

“Nanana~~~”

 

Mum~~~”

 

“Tidak, Danny!”

 

Please~”

 

Kris terusik dari tidurnya yang indahnya karena mendengar rengekan dua orang diluar kamar. Dia melirik jam di atas meja. Ia baru tidur 3 jam. Padahal hari itu adalah hari Minggu. Tapi sepertinya ia memang tidak dibiarkan untuk tidur dengan tenang. Dia mengerang. Saat dia bangkit, kepalanya sedikit pusing karena akhir-akhir ini dia selalu lembur.

 

Dad!”

 

Bocah laki-laki yang berumur 4 tahun itu melompat girang saat melihat Kris keluar dari kamarnya. Kris tersenyum dan membuka tangannya seakan menunggu pelukan selamat-pagi dari anaknya itu. Daniel segera berlari dan memeluk Kris. Setelah Daniel berada di pelukannya, Kris baru menghampiri istrinya, Jessica.

 

“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu,” sesal Jessica.

 

Kris menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. Sedangkan Jessica masih tersenyum meringis.

 

“Ada apa?” tanya Kris dengan suara parau khas baru bangun.

 

“Aku meminta Mom membelikanku mainan terbaru. Semua teman-temanku sudah punya. Hanya aku yang tidak. Tapi Mom tidak mau membelikanku itu. Dad, belikan untukku, ya?” rajuk Daniel.

 

Kris terkekeh lalu menurunkan Daniel. Tangan besarnya mengelus kepala Daniel lembut. “Daniel.. kau harus tahu apa yang benar-benar kau perlukan. Kau sudah besar, kan? Lagipula mainanmu sudah banyak. Sampai kami kehabisan tempat untuk menyimpannya. Kau masih mau beli yang baru?”

 

Daniel merengut, “Dad~”

 

Kris mendesah kasar, “Sisihkan mainanmu yang sudah tidak kau suka. Biar ku sumbangkan. Setelah itu kita beli yang baru. Mengerti?”

 

Daniel mengangguk mantap dengan senyuman lebar. Dia menjulurkan lidah pada Jessica lalu mencium pipi Kris dengan cepat sebelum ia berlari ke kamarnya.

 

“Wow, hanya kau yang selalu berhasil mengambil hatinya,” gerutu Jessica.

 

“Karena hanya aku yang berpikir dewasa,” sahut Kris.

 

Jessica langsung menoleh dan menatap Kris tajam. Kris tertawa melihatnya. Jessica menjadi semakin kesal. Ia menendang kaki Kris lalu masuk ke dalam kamarnya.

 

Kamarnya..

Bukan kamar mereka..

 

>>>

 

“Bagaimana weekendmu, Wu Fan-ie?~” celetuk Minseok.

 

“Minseok-ssi~” Kris terkekeh. “Kau tahu weekendku tidak akan berubah damai.”

 

Minseok terkekeh sambil merapikan data-data di mejanya lalu menyalakan laptopnya. Dia mengambil salah satu map dan membukanya. Sambil menganalisis isi laporan, dia melirik Kris yang sedang menyesap minuman yang disiapkan oleh OB.

 

“Kris, apa kau tidak berpikir kalau kau terlalu sibuk dengan pekerjaan?” tanya Minseok.

 

Kris mendesah sambil mengangkat bahunya. “Setidaknya aku bisa memfokuskan diri pada suatu hal. Tidak melakukan apapun itu menyiksaku.”

 

“Tapi dulu kau bukan orang yang sibuk menyibukkan diri.”

 

“Mungkin karena aku sudah terbiasa melakukannya saat aku masih berpikiran untuk menghindari Jessica?” sahut Kris.

 

“Sekarang kau masih menjauhinya?”

 

Kris terkekeh, “Bodoh, tentu saja tidak. Aku tidak sebodoh dulu.”

 

“Tapi kenapa kau tidak mengambil cutimu? Apa kau benar-benar membutuhkan uang hingga mengganti cutimu dengan honor?” selidik Minseok.

 

Kris terdiam untuk berpikir. Selanjutnya, ia hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.

 

>>>

 

Jessica mendesah gemas sambil menarik tangan Daniel. Dia menggendong Daniel dan meletakkannya di sofa. Tapi Daniel berusaha kabur. Akhirnya Jessica memeluknya erat supaya Daniel tidak lepas.

 

MUM!! Lepaskan aku~~”

 

Daniel meronta ingin dilepaskan tapi tidak didengarkan oleh Jessica.

 

“Tidak sebelum kau habiskan makananmu,” tegas Jessica.

 

“Mana bisa aku makan kalau aku masih dipeluk oleh Mom?” gerutu Daniel.

 

“Makanya berjanjilah kalau kau mau menghabiskan makananmu!”

 

“Iya, aku janji~”

 

Jessica tersenyum tipis. Akhirnya dia melepaskan pelukannya. Tapi Daniel malah berlari ke arah pintu luar. Dia memang ingin main ke rumah tetangga. Jessica berteriak kaget. Dia segera mengejar Daniel. Tapi baru saja Daniel menghilang dari balik pintu, sosok Daniel kembali muncul. Kali ini di dekapan Kris. Jessica terbelalak.

 

“Kau sudah pulang? Kau bolos?” tanya Jessica bingung.

 

Kris terkekeh, “Tidak. Aku tidak bolos. Aku memang sengaja pulang cepat.”

 

“Tumben,” gumam Jessica.

 

“Kau tidak suka?”

 

Jessica menggeleng cepat, “Bukan begitu~”

 

“Kali ini apa lagi?” tanya Kris.

 

“Dia sudah berjanji untuk menghabiskan makanannya. Tapi dia malah kabur,” adu Jessica lalu menggembungkan pipinya kesal.

 

Mum~” protes Daniel.

 

Kris menurunkan Daniel lalu berlutut didepan anaknya agar tinggi mereka setara. Tangannya terangkat untuk menepuk lembut kepala jagoan kecilnya. Sedangkan Daniel mengerjap sambil menggembungkan pipinya.

 

“Sebagai laki-laki yang baik, kau harus memegang janjimu. Jika kau mengingkarinya, kau bukan laki-laki. Dad kecewa padamu,” kata Kris pelan dan dalam.

 

Daniel merengut, “Tapi aku ingin cepat-cepat bermain dengan temanku.”

 

“Habiskan makananmu baru pergi bermain.”

 

“Lama, Dad!”

 

“Danny~ jangan membuatku kecewa. Jagoan kecil Daddy tidak boleh seperti ini,” tegas Kris.

 

Perlahan, rengutan itu berubah menjadi senyuman mengerti. Daniel berlari menuju meja makan dan mulai menghabiskan makanannya.

 

“Hei! Hei! Itu tidak adil! Kenapa dia lebih menurut padamu? Padahal dia lebih sering menghabiskan waktu denganku! Aku yang melahirkannya!” protes Jessica yang diakhiri dengan dengusan.

 

Kris lagi-lagi terkekeh. Menertawakan kebiasaan Jessica yang iri padanya hanya karena Daniel. Ya memang bukan salah Jessica juga. Karena memang Jessica pantas merasa iri. Kris jarang sekali bisa menghabiskan waktu dengan Daniel. Tapi Daniel malah lebih terlihat sayang dan menurut padanya.

 

“Yang penting, dia mau menghabiskan makanannya, kan?” sahut Kris.

 

“Kau benar.” Jessica terdiam lalu tersenyum. “Berikan tas dan jasmu. Biarku rapi.”

 

Kris melirik benda yang diminta oleh Jessica. Dia segera menurut. Setelah Kris memberikan jas dan tasnya, Jessica segera membawanya ke dalam kamar Kris.

 

Daddy~”

 

Kris menoleh saat mendengar teriakan Daniel. Ia segera menghampiri Daniel. Daniel menariknya masuk ke dalam kamarnya tepat saat Jessica keluar dari kamar Kris. Jessica mengintip karena penasaran. Daniel memberikan Kris sebuah surat dari sekolahnya.

 

“Ini apa? Kau membuat masalah di sekolahmu?” tanya Kris sambil memainkan alisnya –becanda.

 

Daniel menggembungkan pipinya. Kris berani bertaruh Daniel benar-benar menuruni kebiasaan Jessica. Selain cara Daniel tertawa, berjalan dan berbicara yang seperti Kris, yang lain adalah dari Jessica. Cara merajuk, merengut, kesal, dan lainnya terlalu mirip dengan Jessica.

 

“Lihatlah, Dad!” Daniel merebut surat itu dan memperlihatkan isinya di depan wajah Kris. “Ini acara keluarga di sekolah. Aku ingin Daddy datang menemani Mommy untuk kali ini saja. Aku bosan datang dengan Mom saja.”

 

Kris tersenyum, “Bersyukurlah karena aku mengambil cuti seminggu penuh.”

 

“M-maksudnya selama seminggu ini, Dad tidak bekerja? Kalau begitu aku tidur dengan Dad, ya?” seru Daniel.

 

Kris mengangguk. “Kenapa tidak?”

 

>>>

 

Jessica memekik kesal, “Hei~”

 

Tapi Kris dan Daniel tidak memperdulikannya. Daniel tetap asik dengan rubiknya sedangkan Kris memperhatikannya. Terkadang Daniel bertanya pada Kris saat ia tidak tahu harus berbuat apa pada rubik itu karena tidak mau rapi. Dan Kris mengajarinya dengan sabar. Mereka benar-benar membuat dunia sendiri, meninggalkan Jessica sendiri dan tercengang bingung.

 

“Jangan menghiraukan aku~” rengek Jessica.

 

Kris terkekeh dan menarik Jessica mendekat. “Kau juga mau belajar bermain rubik?”

 

Jessica mendengus angkuh, “Tidak usah belajar! Aku bisa~”

 

“Jinjja? Mom tidak pernah bilang padaku,” protes Daniel.

 

Jessica mengerjap gemas, “Kau yang tidak bertanya!”

 

“Kalau begitu, Mom harus membuktikannya!” cetus Daniel sambil memberikan rubiknya pada Jessica.

 

Jessica mendesah pelan. Dia menyesal karena sudah berkata seperti itu. Padahal sesungguhnya ia tidak terlalu mahir soal rubik. Dia berpura-pura menganalisis rubik itu sambil merengut. Tak lama, rubik itu ia kembalikan pada Daniel.

 

“Aku tidak mau mengganggumu belajar rubik. Mommymu ini bukan tipe orang yang suka pamer keahlian seperti Daddymu.” Jessica menyibir.

 

Kris mengangkat alisnya bingung, “Pamer? Aku hanya mengajarinya. Jujur saja, Jessica Jung! Kau memang tidak bisa.”

 

Jantung Jessica serasa berhenti saat mendengar namanya disebut oleh Kris. Dia menarik nafas dalam sambil memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak. Kris dan Daniel menatapnya bingung.

 

“Oh, akan ku ambilkan cemilan untuk kalian. Tunggu!” seru Jessica cepat.

 

Jessica segera bangkit dan berlari ke dapur. Daniel dan Kris memperhatikan gerak-gerik Jessica lalu saling menatap bingung.

 

Dad, ada apa dengan Mom?” tanya Daniel. Kris hanya mengangkat bahunya.

 

Dad, kenapa kalian tidur terpisah? Semua orangtua temenku tidur di ruangan yang sama. Kenapa kalian tidak?” tanya Daniel dengan tatapan penasaran.

 

Kris terlihat bingung. Sejenak, ia menarik nafas dalam. Tangannya mengelus rambut Daniel lembut.

 

“Terkadang ada hal yang tidak perlu kau tahu, Danny..”

 

>>>

 

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 11 malam. Tapi Jessica masih asik didepan televisi sambil membaca novel. Susu hangat tersaji di meja. Dia menoleh saat merasa seseorang duduk disampingnya.

 

“Kau belum tidur?” tanya Jessica bingung.

 

Kris tersenyum tipis, “Bagaimana denganmu?”

 

“Belum ngantuk. Kau? Ayo, jawab!”

 

So am i.”

 

Jessica menjilat bibirnya lalu mengangguk mengerti. Dia kembali sibuk dengan bukunya. Sedangkan kini Kris lah yang mengambil alih televisi. Kondisi hening menemani mereka. Hanya suara tv dan halaman yang dibalik lah yang terdengar. Kris berdeham gugup, membuat Jessica menoleh. Kris hanya tersenyum tipis. Ia memang sering becanda dengan Jessica. Tapi selalu ada Daniel diantara mereka. Hanya berdua seperti itu benar-benar terasa asing.

 

“Hari yang melelahkan, ya?” seru Kris untuk memulai perbincangan.

 

“Tidak juga. Hanya kau yang lelah karena bermain dengan Daniel seharian. Sedangkan aku hanya diam di kamar sambil membaca novel,” sahut Jessica datar.

 

Kris mengernyit, “Kau iri? Tapi kan biasanya kau—“

 

Jessica menggeleng cepat. Kris mengatup bibirnya. Dia menunggu Jessica menjelaskan semuanya.

 

“Aku senang kau menghabiskan waktu dengannya. Aku senang dia lebih dekat denganmu dibandingkan aku. Ku mohon, sering-seringlah seperti ini.”

 

“Tapi.. kenapa?”

 

“Karena jika suatu hari nanti kita bercerai, hak asuh Daniel akan jatuh padamu. Akan lebih baik jika seperti ini,” ujar Jessica tenang.

 

Kris terbelalak, “Apa?”

 

Jessica menutup novelnya, menarik nafas dalam dan menatap Kris. “Suatu hari nanti, kita pasti akan bercerai. Pernikahan ini bukan berdasarkan cinta. Pernikahan ini hanya karena kau merasa harus bertanggung jawab soal Daniel, kan? Ku kira ini harus berakhir secepatnya. Kita akan menemukan jodoh sejati kita dan menjalani hidup dengan semestinya. Bukannya terikat dengan orang asing.”

 

“Sica-ya—“

 

“Dan entahlah sejak kapan kau memanggilku seenaknya seperti itu. Aku lebih tua darimu. Panggil aku Jessica noona,” potong Jessica cepat sebelum Kris menanggapi kata-katanya. Jessica benar-benar tidak mau mendengar tanggapan Kris.

 

Suasana disekitar mereka kembali hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Saat melihat Kris akan membuka mulutnya, Jessica segera bangkit dan pergi ke kamarnya.

 

Next day.

 

Dad, antarkan aku ke sekolah~” rengek Daniel.

 

Kris yang sedari tadi asik menonton liputan tentang olahraga pun menoleh dan mengangguk malas. Daniel langsung melompat riang. Kris hanya tersenyum tipis. Dia mengambil kunci mobilnya dan menarik tangan Daniel menuju mobil. Tapi Daniel melepaskan tangannya.

 

“Ada apa?” bingung Kris.

 

Daniel menyengir lebar, “Ada yang tertinggal. Daddy duluan saja.”

 

Kris hanya mengangguk ragu. Dia langsung menuju mobilnya saat Daniel berlari ke dalam rumah. Setelah menyalakan mobil, Kris kembali masuk untuk memanggil Daniel. Daniel muncul sambil menarik tangan Jessica.

 

“Bukannya kau ingin berangkat bersamaku?” tanya Kris bingung.

 

Daniel mengangguk, “Bersama orangtuaku.”

 

>>>

 

Suasana di dalam mobil terasa canggung. Kris dan Jessica hanya diam sepanjang perjalanan. Sedangkan Daniel asik memainkan pesawat mininya di pangkuan Jessica. Anak kecil itu melirik ayah dan ibunya bergantian, lalu mengangkat bahunya tak peduli.

 

“Hei, Mom baru pertama kali melihat mainan itu. Kapan kau membelinya?” tanya Jessica, memecahkan keheningan.

 

Daniel tersenyum bangga, “Daddy yang membuatkannya.”

 

“Tidak, kau dan aku yang membuatnya,” ralat Kris.

 

“Oh ya, aku membantu Dad menyiapkan bahannya. Ini keren, kan?” seru Daniel.

 

Jessica mempererat pelukannya dan bersendagu diatas kepala Daniel. Terkulas senyum manis di bibirnya selagi matanya menatap pesawat mini yang terbuat dari kayu itu. Dia menghela nafas panjang. Matanya melirik sekilas Kris yang sedang tersenyum lebar.

 

Mom tidak menjawabnya! Keren, kan?” gerutu Daniel.

 

Jessica terkekeh, “Yep, keren. Kalau seperti ini terus, aku tidak perlu keluar uang untuk membeli mainan lagi.”

 

Mom!!”

 

>>>

 

“Daniel-ah, jangan nakal ya di sekolah. Jangan buat masalah di sekolah,” pesan Jessica.

 

Daniel mengangguk, “Aku tahu, Mom. Mommy selalu bilang seperti itu setiap hari. Aku sudah hafal.”

 

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Ya sudah. Sana masuk.”

 

“Antarkan aku ke kelas,” pinta Daniel.

 

Jessica mengernyit, “Tapi—“

 

“Semua temanku seperti itu!” desak Daniel.

 

Jessica menghela nafas, “Baiklah..”

 

Mommy dan Daddy..” tambah Daniel.

 

Kris terkekeh, “Daniel~ sejak kapan kau manja?”

 

“Memang kenapa? Ayolah~” rengek Daniel.

 

“Baiklah..” jawab Jessica dan Kris bersamaan.

 

>>>

 

Keheningan kembali terjadi di antara mereka selama perjalanan pulang ke rumah. Jessica memilih untuk sibuk dengan handphonenya. Sedangkan Kris sibuk menyetir. Saat mobil sedang melaju cepat, sesekali Jessica melirik Kris. Sedangkan saat mobil itu terjebak lampu merah, Kris lah yang melirik Jessica. Benar-benar suasana canggung.

 

Akhirnya mobil itu sampai juga di halaman rumah mereka. Rumah yang tidak terlalu mewah namun cukup luas dengan halaman rumah yang tertata rapi. Semua adalah hasil kerja keras Jessica. Jessica memang bukan tipe wanita yang suka dengan kegiatan yang kontras dengan ibu rumah tangga. Namun sejak pernikahan mereka, Jessica mulai terbiasa karena dia melakukan itu untuk menghabiskan waktu kosongnya. Karena sejak menikah, Jessica tidak diperbolehkan untuk hidup selayaknya remaja normal yang bebas oleh kedua orangtuanya.

 

“Jamkanman!” teriak Kris saat Jessica keluar dari mobil dan hendak berlari masuk ke dalam rumah.

 

Jessica menoleh, “Ne?”

 

“Aku..” Kris mengepalkan tangannya. Dengan perlahan, Kris menghampiri Jessica. Dia memeluk istrinya lembut. Entah sudah berapa tahun yang lalu ia tidak melakukannya. Oh mungkin terakhir kali saat kelahiran Daniel.

 

“Kris.. mwoyeyo?” tanya Jessica dengan suara bergetar. Dia gugup dengan posisi seperti itu.

 

“Aku sudah memikirkan semua kata-katamu semalam. Dan ku putuskan untuk membuktikan kalau kau adalah jodoh sejatiku. Tidak akan ku biarkan kau pergi dariku,” bisik Kris sambil mempererat pelukannya.

 

“Tapi—“

 

“Sshh.. beri aku kesempatan..”

 

Jessica menggigit bibirnya. Matanya memanas. Tangannya terkepal kuat. Hatinya sakit saat mendengar perkataan Kris. Perlahan, Jessica melepaskan diri dari Kris saat ia bisa mengontrol dirinya dengan baik. Kris menatapnya lirih, membuatnya semakin sakit.

 

“Mianhae.. cepat atau lambat, kau harus menceraikanku. Aku tidak mau Daniel merasa dirinya hanya dijadikan alasan kita untuk tetap mempertahankan pernikahan ini,” lirih Jessica.

 

Jessica menarik nafas dalam lalu berbalik badan. Sedangkan Kris terdiam. Otaknya kosong saat mendengar jawaban Jessica. Sesaat kemudian, dia tersadar. Dia segera berlari ke dalam rumah. Kris melihat Jessica yang sedang terburu-buru ke kamarnya. Kris berlari dan menarik tangan Jessica.

 

“Wae?” tanya Kris dalam. “Kita bisa mencari alasan lainnya untuk tetap bersama. Lagipula setiap pernikahan memang bertahan demi anak.”

 

Jessica hanya diam.

 

Kris menggeram, “Wae?!”

 

Jessica menatapnya tajam, “Kenapa kau menjadi emosi seperti ini? Bukannya kau sendiri yang menginginkan kita tidak pernah bersama? Kau lupa dengan perilakumu dulu?”

 

Tatapan Kris melembut, “Karena itu.. karena itu, aku mau menebusnya. Ku mohon beri aku kesempatan.”

 

Jessica menutup matanya sejenak untuk menstabilkan emosinya. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Jessica langsung menatap layarnya. Kini ia benar-benar merasa lemas. Dengan segera dia berbalik badan dan berlari masuk ke kamarnya.

 

>>>

 

Aku sudah berada di café. Cepat kesini! Kau pasti akan terpukau dengan hangulku sekarang :p

 

Jessica tersenyum tipis lalu menatap dirinya di cermin. Setelah dia kira penampilannya sempurna, dia meraih tas tangannya dan keluar dari kamar. Beruntung Jessica tidak melihat sosok Kris sampai dia keluar dari halaman rumahnya dan naik taksi. Sesekali ia melirik ke belakang untuk memastikan Kris tidak mengikutinya.

 

Hey! Jawab pesan, nona Jung!

 

Jessica tertawa membaca pesannya. Dia benar-benar sudah tidak sabar bertemu dengan orang itu.

 

Sorry. Aku sedang sibuk hingga tidak sempat membalas pesanmu. Aku sedang dalam perjalanan menuju café. Oh dan panggil aku nyonya Wu 😀

 

Tidak lama setelah balasan dari Jessica terkirim, pesan baru datang.

 

Sok sibuk! Aku ingin tahu seberapa sibuknya seorang ibu rumah tangga. Jangan pernah bermimpi aku akan memanggilmu dengan nama itu -_- Oh, bawa anakmu! Aku ingin melihatnya 🙂

 

Jantung Jessica langsung berdebar kencang. Hatinya mencelos saat membacanya. Dengan mata yang memanas, dia membalasnya segera.

 

Ku mohon jangan menyindirku. Tunggu semuanya selesai, Luhan.

 

Meanwhile.

 

Sosok pria di sudut ruang itu terlihat disinari matahari pagi. Beberapa gadis di café itu sibuk berbisik tentangnya. Sedangkan pria itu tidak merasa terusik sedikitpun. Dia hanya sibuk tersenyum pada handphonenya sambil sesekali menyesap lattenya. Tak jarang, tatapannya terlihat menerawang.

 

Terlihat dari bawaannya, sudah dipastikan pria itu langsung menuju café itu dari bandara. Atau sebaliknya? Entahlah. Tapi adanya koper besar disampingnya juga ikut membuat dirinya terlihat mencolok dibandingkan para pengunjung yang lain. Dia sudah habis 2 cangkir latte sejak kedatangannya di café itu.

 

“Luhan-ssi,” sapa seorang gadis.

 

Pria itu sedikit tersentak mendengar seseorang memanggil namanya. Tapi dia yakin suara itu bukanlah suara gadis yang ia tunggu. Dia menoleh saat namanya dipanggil untuk kedua kalinya. Dia tersenyum lebar.

 

“Annyeong, Seohyun-ssi,” balas Luhan.

 

Gadis anggun itu menarik kursi didepan Luhan dan duduk. Tangannya diangkat ke atas meja untuk bersendagu lalu matanya terlihat sedang menganalisis Luhan. Tatapan dan senyuman yang lembut membuat Luhan ikut tersenyum.

 

Seohyun. Dia adalah teman Luhan walaupun tidak terlalu dekat. Mereka berkenal karena Jessica. Yep, Seohyun adalah sahabat Jessica. Sama seperti Luhan. Dulu mereka bertiga sempat terlibat dalam satu proyek. Proyek film pelajar yang akan dikirim untuk mengikuti lomba se-Asia Timur.

 

“Sudah lama tidak bertemu,” ujar Luhan berbasa-basi.

 

“Ne. Kau langsung ke café ini? Kenapa tidak menaruh kopermu dulu?” tanya Seohyun.

 

“Hm, entahlah. Aku ingin segera ke café ini mungkin.”

 

Seohyun mengangguk pelan tanpa membalas apapun. Matanya melirik ke arah lain selagi ia berpikir sesuatu. Sedangkan Luhan hanya diam saja sambil tersenyum lebar layaknya orang bodoh.

 

“Jika kau tidak dipaksa kembali ke China karena ibumu sakit, mungkin semuanya berbeda sekarang. Kau sudah kehilangannya,” gumam Seohyun.

 

Luhan terkekeh, “Tatapanmu masih sepolos dulu, Seo. Tapi ucapanmu cukup tajam seperti Jessica.”

 

“Ani..” Seohyun menggeleng. “Dari dulu aku bisa setajam Jessica. Bahkan lebih jika kau mau. Aku hanya akan seperti ini jika kepada orang-orang yang ku pikir akan membahayakan kehidupan sahabatku.”

 

“Seohyun-ssi..” Luhan menyeringai. “Aku kembali bukan untuk menghancurkan kehidupan sahabatmu.”

 

“Mungkin tidak. Dan ku harap memang tidak. Karena jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, sampai ke ujung dunia pun kau akan ku kejar,” desis Seohyun.

 

“Huo, aku tidak kau juga mengundang Seohyun, Luhan,” celetuk Jessica dari arah datangnya pelanggan.

 

Luhan dan Seohyun menoleh dan tersenyum lebar. Tapi dari kilat mata mereka, Jessica yakin ada yang aneh. Dia menggaruk kepalanya bingung. Tapi Jessica tidak mau ambil pusing. Dia segera mengambil tempat duduk dan mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Setelah mengorder pesanan, dia menatap jenaka kedua orang yang cukup berarti di sejarah hidupnya. Jessica meninju lengan Luhan pelan.

 

“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau juga mengundang Seohyun?” protes Jessica main-main.

 

Luhan terkekeh, “Tidak. Aku tidak mengundangnya.”

 

“Yap, aku datang sendiri ke sini mengikuti instingku,” timpal Seohyun dengan lirikan tajam pada Luhan. Luhan hanya membalasnya dengan senyuman.

 

“Oh kebetulan. Kalau begitu, aku tidak usah repot-repot meneleponmu karena sebenarnya aku juga ingin mengundangmu,” seru Jessica.

 

“Oh ya?” Seohyun mengernyit. “Jika begitu, eonni bisa meneleponku dari tadi, kan?”

 

“Apa gunanya telepon kalau handphonemu mati, Seo?” desis Jessica.

 

Seohyun langsung mengeluarkan handphonenya. Tak lama, ia meringis. “Hehe, baterainya habis.”

 

>>>

 

Seohyun mencharge handphone begitu tiba di rumahnya. Setelah ia tunggu beberapa menit, ia menyalakannya. Matanya membulat saat melihat ada pesan dari nomor yang tidak terduga.

 

Kris?

 

Seohyun segera membuka pesan itu dan membacanya. Seulas senyuman terukir. Seohyun tidak membalasnya. Dia malah memilih untuk menelepon Kris. Saat mendengar bunyi telepon diangkat, Seohyun mendeham pelan.

 

“Tenang saja, oppa. Aku akan membantumu,” kata Seohyun.

 

=== Playing Our Heart ===

 

Eotteo? Bagus, ga? Atau bagusan ff mistake? :O

ff ini untuk salah satu reader saya yg bernama Dhyna request ff bercast ini. Sumpah ini nyesek banget buatnya. Padahal di buku takdir(?) Luhan itu sudah ditetapkan jadi anak KrisSica. Eh tau-taunya.. yah gini deh. Ah~~ keluarga kasurku(?) T.T

Pasti pada mikir keras nih kenapa saya ngeluncurin banyak ff Krissica padahal ngaku orangtuanya itu TeukSica. Enggak, saya ga menduakan TeukSica kok. Ini emang penyakit saya. Kalau terlalu suka dengan sebuah couple pasti banyak ide cerita tapi susah banget bangetan untuk diungkapkan T_T

Advertisements

47 responses to “Calling Out (Chapter 1)

  1. FF mistake ny g dilanjut ya?
    😦
    gpp dh,
    toh di ff itu kris udh dpt restu dari appany sica.
    #apalah ini.
    Kembali ke laptop.
    KrisSica again?
    Yuhuiii. .
    #dance gaje
    Itu sica ma kris nikah krn telah trjadi sesuatu ya,
    pnsaran.
    Keep writing ching,
    hwaiting. .

  2. Hey! Kenapa ff mistake tidak di lanjut? Itu kan ff favoritku! ToT

    Akhirnya ff request-an ku jadi meskipun belum sepenuhnya. Kayaknya bulan ini banyak banget yang baik sama aku ya. Mungkin karena sebentar lagi aku mau pergi. Hehehe~

    Duh.. ceritanya galau banget! Jadi penasaran sama kelanjutannya. Juga penasaran sama kejadian sebelumnya. Kalo bisa bikin epilog biar lebih rinci ya, onnie. Hehe

    KRISSICA sekarang lagi BOOMING! YEY! *teriak pake toa*
    Luhan? Sabar yah. Kamu tuh anak Krissica, kata si anak Teuksica. *ngegaje*

    • karena ceritanya aneh, dhyn…

      buahaha berarti bulan ini adalah bulan eberuntunganmu. puasamu bener kali makanya beruntung o_o
      eh mau pergi kemana? 😦

      epilog atau prolog tuh yg dimaksud? ckck

      iya sepertinya begitu. tumben-tumbenan ff krissica saya laku keras di ffindo o__o beneran booming kayaknya

  3. anyyeong!numpang baca aku dapet link nya dari fb dyna unnie!daebak ff nya author!kenapa aku jadi dilema ya antar hansica ma krissica !aku gak ernah dilema seperti ini kalau baca ff!ff ni benar-benar bagus!LANJUTKAN!!!!!gomawo!

  4. AAAAKKKKK kenapa mistake ngga dilanjut aaaaaa *lompat keluar gedung*
    huhuhu… padahal itu ff pertama yang bikin aku jatuh cintaaaaa banget ama krissica.
    eh ini ceritanya baguuus. unik. bentar-bentar jadi itu kris ama seo ngadain perjanjian apaan? kayanya seru, seruu aaaaa.. dilanjut yaaa.
    aku tunggu :3

    • JA~~NGAN~~~ LOM~~PAT~~ *slowmotion*
      heh masa? hebat cerita bisa bikin orang jatuh cinta =.=a
      ya semacam perjanjian gitu deh. kayak perjanjian antara golongan muda dan golongan tua di rengasdengklok *kebawa pelajaran -_-*

      • huahahaha iya bisa kok bisa banget malah hahaha…
        yak yekali rengasdengklok dibawa-bawa-_- okelah kalau begitchu, aku ngikut authornya ajaa. setidaknya ff ini bisa mengobati rasa sakit hati *hiks*
        okeeh lanjutannya ditunggu. fighting to the maxxxx!!! ^-^

  5. Thor, ff yang ini keren kok…
    tapi yang Mistake jangan diberhentiin 😦
    Sayang thor, udah chapter berapa tuh .____.

    oia, yang you and i kapan di publish lanjutannya? he-he-he .___.v

  6. seru chingu…..jangan sampe mereka cerai yah,jebal…….
    baru kali ini liat seo bicara tegas gitu hehe….
    lanjutannya nggak pake lama ya chingu,oh ya salam buat daniel 😀

  7. FF ini bagus banget ..
    suka suka suka. tp kenapa Kris malah ngejauhin Jessica dulunya? apa gara2 gak cinta?
    Aiihhh.. lanjutkan ya thor. Penasaran tingkat dewa nih #lebay

  8. seperti biasa, ff-ff mu bagus-bagus :3
    ga tau mau ngomong apa nih..
    Mereka cerai juga gapapa sih *smirk*/digebukin XD

    iiihhhh~~ ada Luhan *cubit pipi luhan* :3
    Luhan! ayo! rebut mom gue dari Kris! biar elu direstuin papa gue sama gue *plak <= minta dihajar XD

    oh… dan…. Mistake! beneran ga di lanjut?-_-
    sayang lu far~~~ kasian reader yg cinta mate ama tu ff ^,~

    • eluuuuu~~~~ astaga beneran deh -_-
      kalo luhan berhasil ngerebut sica, adanya luhan bakal perang sama jaejoong kan ya? kok jadi ngerestuin lu sama luhan? -_-a
      siapa yg cinta mati sama tuh ff aneh sih? haha
      hei daniel itu keponakan lu tau. daniel itu anak gue cuma lagi dipinjem ma mami jess(?)

  9. ya ampunnn.. aku juga pengen jadi anaknya krissica ;A; .
    eon, siksa si krisnya ya? pokoknya mami Jess bahagia-bahagiain dulu sama Luhan.
    ntah kenapa saya ingin cerita ini berakhir menjadi Lusica *ditabok Kris dan krissica shipper*
    dan saya kok seneng ya kalo misalkan Kris tersiksa di sini. *ditendang kris*

  10. maksudnya, luhan ngerebut mommy jess dari tgan kris, terus dikasih(?) ke pappa aku :3
    tanda terima kasihnya, luhan boleh nikah sama aku :’3 *plakkk
    hehe..

    banyak kok far yg cinta ff itu. kau ini ~,~ aku juga cinta! soalnya aku masih berharap liat HenSica moments :3

    0.0 iya? anak lu sama sapa far? cie,, sepupuku udah punya anak. … ^,~

  11. waaaaaaaaaaaaaaaaah,,, daebak unnie suka banget sica ceritany ad skandal sama luhan ya, okok aja tapi hnya skdar buat kris cmbru selebihnya sica sma kris aja ksihan dany,,,

  12. Ff mistake di stop? Yaaaaaah pdhal suka bgt ama critanya.. Tp gpp deh ada penggantinya,..
    Huwaa ff yg ini kaya’a bkal lbih seru, lbh byk konfliknya..
    Cerai?! Duh syg jgn cerai dunk, tp gpp jg (lho?) biar tmbah seru, haha.. Smakin sulit perjuangan cinta krissica, smakin manis rasanya nti (klo happy ending sih)..
    Ga sabar tgu lnjutan’a.. Semangat ya saeng, brkarya trus dgn ff mu.. Ditunggu lnjutan’a..

  13. penyakit kita sama -_-tapi ga sampe bikin ff..hanya berimajinasi saja..keke
    nah..soal ff-nya bagus kok! tapi otakku masih mencerna ceritanya (?)
    itu luhan dan seohyun kenapa sih?? bikin penasaran..dan couple sica untuk exo itu kris ya?? aku ketinggalan jaman..paling cuma tau sugen, dbsoshi, shinee generation, dan shinee f(x) hehe..kalo hyo itu pairing exo-nya ada ga?
    semangat! 🙂

  14. sica, berasa selingkuh gimana gituuu-__-
    kris nya kasian, sica nya sebenernya gimana yaa perasaannya? lbh ke kris atau ke lulu o.o
    danny, kasian juga kalau masih kecil gitu tau ttg keadaan orangtuanya
    aaahh ff ini kereeen

  15. Author u know what? I find this fanfict so late. But anyway di chapter pertama ini aja udah bagus, aku langsung ngerti apa masalah yang mereka alami disini

  16. aaaaa…. seru banget. ok let’s go to next chapter. and btw apa aku ketinggalan jaman karena baru membaca ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s