[Series] When The Book Closes (Chapter 1)

Author : Lee Hyura

Title : When The Boos Closes

Genre : Adventure, Fantasy, Friendship, Romance.

Rating : PG-13

Length : Series

Cast :

–          B1A4 Baro

–          EXO K Chanyeol

–          Girls Day Yura

–          Hello Venus Yoonjo

–          SHINee Minho

Disclaimer: the casts belong to god. The plot belongs to me. No plagiarizing. Don’t re-post without my permission.

Note: just please enjoy. If you’re not in mood, don’t read then. I want you to have good mood. So you can understand the story ^^

Summary: Sekelompok remaja tidak sengaja menemukan sebuah pintu rahasia. Dibalik pintu hanyalah ruangan kosong. Hanya ada sebuah buku di tengah ruangan. Buku itu menghisap kelima remaja itu ke dalamnya. Mereka terhempas ke sebuah tempat asing. Mereka harus mengisi buku itu dengan kisah mereka agar mereka bisa keluar dari buku itu. Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan sebuah kekuatan spesial.

 

=== When The Book Closes ===

 

Di meja taman sekolah, kelompok itu berkumpul sambil menghabiskan makan siangnya. Dan dengan baik hati, Minho membelikan makanan ringan lainnya dan minuman kaleng. Selama Yoonjo, Minho dan Yura serius menyelesaikan tugas itu, Chanyeol dan Baro malah sibuk bercanda ria. Yoonjo mendesah kesal.

 

“Chanyeol-ah.. Sunwoo-ya..” desis Yoonjo penuh penekanan.

 

Chanyeol dan Baro langsung berhenti dan melipat tangan mereka di atas meja. Jika Yoonjo sudah memanggil nama dengan penuh penekanan seperti itu, itu bertanda tidak baik. Minho tertawa melihatnya.

 

“Kami memang sangat menurut pada Yoonjo. Dia seperti umma kami,” jelas Yura.

 

“Lalu apa perlu aku memanggilnya Yoonjo umma?” tanya Minho menyindir.

 

“Ku bunuh kau kalau kau memanggilku seperti itu,” sungut Yoonjo. “Lagipula aku cantik dan imut seperti ini, mana pantas dipanggil umma?”

 

Chanyeol dan Baro mengambil kacang dan menimpukkannya kepada Yoonjo. Yoonjo mengerang kesal dan membuat yang lain tertawa. Tapi suara bel mengganggu tawa mereka.

 

“Aish, padahal sedikit lagi,” gerutu Yoonjo.

 

“Kerjakan di rumahku saja,” kata Minho.

 

Baro dan Chanyeol langsung tersenyum jahil. Yoonjo melototi mereka.

 

“Tidak.. ku yakin 2 iblis itu akan berbuat sesuatu lagi,” tolak Yoonjo yang diangguki oleh Yura.

 

“Yoonjo umma~~” protes Baro dan Chanyeol.

 

Yoonjo mengerang, “Mau mati, ya?!”

 

Baro dan Chanyeol langsung menggeleng serentak. Benar-benar seperti anak kembar yang selalu kompak.

 

“Tidak apa. Lagipula aku membutuhkan mereka untuk sesuatu,” kata Minho.

 

“Apa?”

 

•••

 

Proposal itu akhirnya pun selesai. Yah walaupun hanya Minho, Yoonjo dan Yura yang mengerjakannya. Chanyeol dan Baro hanya mengangguk dan menggeleng dengan sesekali mengangkat bahu saja. Sudah ditebak, mereka memang orang terbodoh di kelas mereka.

 

Setelah mengerjakan tugas, Minho membawa mereka ke dalam gudangnya lagi. Tentu saja Chanyeol dan Baro bersorak gembira karena mengira Minho memperbolehkan mereka untuk mencari tahu tentang pintu itu. Dan ternyata memang benar, Minho memang memperbolehkannya.

 

“Kau bersungguh-sungguh?” tanya Yura. “Jangan pikirkan Chanyeol dan Baro. Mereka memang mudah penasaran!”

 

“Tidak. Aku juga penasaran. Apalagi orangtuaku terlihat tegang saat ku tanya soal pintu itu,” sergah Minho.

 

“Artinya orangtuamu tidak mau kau tahu soal pintu itu. Mungkin pintu itu berbahaya!” seru Yoonjo. Sejenak ia teringat film hantu. Di film itu, karena sekelompok remaja sengaja membongkar sebuah pintu terlarang. Akibatnya hantu yang tersegel di dalam pintu itu bebas dan meneror orang-orang. Yoonjo mengidik ngeri karenanya.

 

“Yoonjo-ya, harusnya kita turuti saja kemauan tuan rumah,” celetuk Chanyeol yang diangguki oleh Baro.

 

“Bilang saja kau juga ingin tahu tentang pintu itu, kan?!” sungut Yoonjo kesal.

 

“Hei, sudahlah..” lerai Minho. “Lebih baik kita mulai memindahkan kardus-kardus itu.”

 

Yoonjo merengut, “Tapi—“

 

“Sudahlah, Yoonjo-ya.. memang kau tidak penasaran?” cibir Yura.

 

“Penasaran sih.. tapi—hei, kau juga setuju, Yura-ya?!”

 

•••

 

Mereka berlima memandang pintu itu. Pintu tua yang berdesain ala eropa. Benar-benar sudah tua sepertinya. Pintu itu terkunci. Itu sebabnya Chanyeol menggenggam 2 kawat. Dengan anggukan kepala para teman-temannya, Chanyeol mulai mencoba membuka pintu itu. Dan.. terbuka! Tidak hanya kuncinya, pintu itu memang benar-benar bisa dibuka. Artinya bukan hiasan. Dan ada ruangan rahasia. Mungkin itu hanya permainan ruangan hingga mereka berpikir tidak ada ruangan lainnya.

 

“Yey!”

 

Chanyeol yang berdiri di depan pintu itu pun membuka pintu itu perlahan untuk membuat teman-temannya yang lain semakin berkeringat dingin. Dalam hati, dia tersenyum geli melihat wajah ingin tahu keempat temannya. Apalagi Yoonjo. Wajahnya benar-benar pucat. Dia takut kalau film horor itu benar-benar terjadi.

 

“Lama sekali!” kesal Baro.

 

Baro maju dan mendorong tubuh Chanyeol hingga tubuh Chanyeol menabrak pintu dan terhempas ke dalam ruangan. Mereka semua tercengang saat melihat isi ruangan itu. Hanya ruang kosong dengan buku ditengahnya.

 

“Hanya itu?” desis Yura.

 

“Itu pasti buku yang dibaca oleh hantu itu selama dia disegel didalam ruangan itu!” teriak Yoonjo.

 

Baro melirik Yoonjo sinis, “Yoonjo-ya.. itu hanya sebuah film. Film itu hanya membodoh-bodohi orang polos sepertimu!”

 

“Tapi bisa saja itu benar!” sungut Yoonjo sambil memeluk tangan Yura erat.

 

“Tapi—“ Ucapan Baro terpotong oleh ucapan Chanyeol. “Pasti ada apa-apa dengan buku ini!”

 

“Itu yang ingin ku bilang tadi,” cetus Baro.

 

“Oh ya? Aku tidak lihat kau ingin bilang seperti itu. Melihat buku itu pun tidak,” desis Minho.

 

Chanyeol mendengus, “Hei! Kemarilah~ bukunya tidak bisa dibuka.”

 

“Andwae, Yura-ya~” rengek Yoonjo sambil menahan Yura.

 

Yura menggeram, “Yoonjo-ya.. kalau kau takut, kau bisa pergi sekarang!”

 

Yoonjo merengut, “Shireo! Di film, orang yang sendiri yang dibunuh.”

 

“Kalau begitu, ayo masuk! Daripada disini hanya berdua lalu dibunuh, lebih baik berlima, kan?”

 

Merasa Yura sudah kesal, Yoonjo akhirnya menurut. Apalagi saat Baro menariknya paksa ke dalam ruangan itu. Yoonjo tidak bisa berlari keluar lagi.

 

“Cepat buka!” seru Yura.

 

“Jamkanman, aku sedang berusaha. Ini tingg—yesseu!” Chanyeol bersorak saat merasa kunci buku itu terbuka.

 

Mereka berlima langsung mengerubungi buku itu. Bahkan Yoonjo menjadi orang pertama yang berlari. Mereka berlima membuka buku itu tak sabaran. Saat buku itu terbuka sempurna, sebuah cahaya yang sangat terang keluar dan menarik mereka berlima masuk ke dalam buku itu.

 

Saat cahaya menghilang, mereka berlima sudah lenyap. Buku itu tertutup perlahan dan kembali ke posisinya. Diikuti dengan pintu yang tertutup dengan sendirinya dan tumpukan kardus yang kembali tempatnya. Perlahan, pintu itu menghilang. Setelah pintu itu menghilang, sebuah angin yang cukup kencang, menerpa pintu gudang hingga pintu itu menutup dengan sendirinya. Bunyi dobrakan pintu gudang tidak terdengar karena semua pekerja rumah sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

 

•••

 

“Selamat datang kembali di dunia kami.”

 

Satu per satu dari kelima remaja itu membuka matanya saat mendengar suara itu. Mereka mengerjap beberapa kali sebelum memfokuskan pandangan mereka. Mereka saling melempar pandangan bingung satu sama lain dan mempertanyakan keberadaan mereka. Tapi tak satu pun yang berani mengeluarkan suara mereka. Mereka hanya berbicara dengan pandangan mereka.

 

“Ini adalah sebuah dunia yang membutuhkan kalian.”

 

Yoonjo mengidik ngeri. Baro yang berada disampingnya langsung dipeluk olehnya. Sedangkan Baro segera mendekapnya erat seakan berusaha untuk mengurangi ketakutan Yoonjo. Minho mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya. Ada sesuatu yang aneh dengan pikirannya. Chanyeol menggenggam tangan Yura erat. Sedangkan Yura hanya diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa.

 

“Jalani dan sadari lah takdir kalian.”

 

Yura bangkit lalu menarik Chanyeol menuju Yoonjo dan Baro. Dia memaksa Yoonjo melepaskan pelukannya dan menatapnya. Yura hanya tersenyum tipis lalu mencari sumber suara. Tapi entah dimana orang yang berbicara. Hanya ada pepohonan di sekitar mereka.

 

“Siapa kau?!” teriak Yura.

 

“ARGH!” pekik Minho.

 

Semua langsung menoleh ke arah Minho yang masih kesakitan memegangi kepalanya. Dengan langkah gontai, mereka menghampiri Minho.

 

“Seseorang akan menjadi kunang-kunang perjalanan kalian. Sampai jumpa.

 

“Hei! Siapa kau?!” teriak Chanyeol.

 

Tapi tidak ada yang menjawabnya. Minho kembali berteriak sebelum ia kehilangan kesadarannya.

 

“Minho-ssi!”

 

•••

 

Minho membuka matanya perlahan. Wajah Yoonjo yang sedang tertidurlah yang ia lihat pertama kali. Minho tersentak bangkit saat sadar ia tidur dengan kaki Yoonjo sebagai bantalnya. Yoonjo ikut terbangun karenanya. Yoonjo menguap kecil lalu mengerjapkan matanya. Dia tersenyum tipis. Minho melirik ke sekitarnya. Ia rasa mereka berada didalam hutan sekarang. Minho langsung mengidik saat angin malam menerpa kulit mereka.

 

“Akhirnya kau sadar juga, Minho-ssi,” gumam Yoonjo.

 

Minho mengangguk gugup. “Ah.. ne. Terima kasih.”

 

“Sebenarnya ada apa denganmu tadi?” tanya Yoonjo pelan.

 

“Entahlah.” Minho menghela nafas. “Tiba-tiba aku merasa kenal dengan… tunggu! Apa kita benar-benar masuk ke dalam buku?”

 

Yoonjo merengut sambil mengangguk pelan. “Begitulah..”

 

“Kemana yang lain?”

 

“Sedang pergi mencari kayu bakar dan apapun yang bisa dimakan. Kita hidup di dunia primitif sekarang!” seru Yoonjo lalu tertawa. Dia sama sekali tidak terlihat menderita dengan nasib mereka sekarang.

 

Minho mengernyit. “Kenapa masih bisa tertawa? Kau tidak takut atau sedih?”

 

“Karena aku masuk ke dunia ini bersama para sahabatku. Mereka hidupku. Selama aku bersama mereka, ku kira aku akan baik-baik saja,” jelas Yoonjo dengan senyuman manis sambil menerawang ke langit malam yang gelap.

 

“Aku iri dengan kalian..” gumam Minho pelan.

 

Yoonjo menoleh. “Wae?”

 

“Karena kalian bersahabat dengan hati.”

 

Yoonjo tertawa lalu menepuk bahu Minho. “Kau juga bagian dari kami sekarang! Karena kau juga ikut terjebak ke dalam buku bersama kami.”

 

Minho tersenyum tipis.

 

“Aku duluan yang sampai! Yey!” seru Yura sambil berlari menghampiri Yoonjo lalu menghempaskan kayu bakar yang ia dapatkan.

 

“Aku kedua!” sahut Chanyeol yang kemudian muncul dibelakang Yura.

 

“Baiklah, aku terakhir!” gerutu Baro.

 

“Artinya kau harus memijatku sekarang, Baro~” celetuk Yura lalu menoleh ke arah Minho. “Oh baguslah kalau kau sudah sadar. Ayo kita buat api unggun sekarang!”

 

3 orang lainnya langsung bersorak. Minho mengangkat alisnya bingung lalu tertawa pelan. 4 orang itu benar-benar seperti tidak sedang berada di masalah yang berat. Padahal mereka masuk ke dalam buku! Dan mereka tidak tahu cara kembali.

 

“Biar aku yang menyalakannya,” kata Baro sambil menyatukan beberapa kayu bakar.

 

“Memang kau bisa?” cibir Yoonjo.

 

“Dengan batu atau kayu bakar, uh?” sahut Baro dengan nada angkuh. “Tentu saja aku tidak bisa kalau dengan itu semua.”

 

“Jadi?” bingung 4 orang lainnya.

 

“Dengan ini!” Baro mengeluarkan sebuah korek.

 

“Hei, kenapa kau punya itu?” selidik Chanyeol.

 

“Punya ayahku. Aku mengambilnya supaya dia berhenti merokok. Hahaha!”

 

Yoonjo, Chanyeol, Yura dan Minho langsung mendesah pelan. Sedangkan Baro tidak mau ambil pusing. Dia menyalakan korek apinya dan mendekatkan ke arah kayu bakar. Tapi percuma. Angin yang menghembus melewati mereka membuat api itu mati. Baro mencobanya kembali. Tapi hasilnya tetap sama.

 

“Kalau begini, mana bisa nyala?” desis Baro kesal.

 

Chanyeol tertawa menyindir. “Aku membantu dengan kekuatan tenaga dalamku, ya!”

 

“Bodoh! Mana mungkin?” sungut Baro.

 

“Bisa!”

 

Chanyeol langsung merentangkan tangannya ke arah tumpukan kayu itu dan menutup matanya. Dia bertingkah seakan dia bisa mengeluarkan tenaga dalamnya. Tak lama, dia mendengar suara teriakan para sahabatnya disertain rasa panas dari arah depannya. Ia membuka matanya perlahan. Api unggun itu menyala!

 

“Aku.. bisa…” gumam Chanyeol tak percaya.

 

“Apa yang kau lakukan, Chanyeol-ah?” tanya Baro geram sambil memegangi tangannya. Ternyata ada bagian jarinya yang terbakar.

 

Yoonjo langsung menghampiri Baro dan menggenggam tangan Baro. Yoonjo menoleh, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membasuh luka bakar itu. Tapi tidak ada. Akhirnya Yoonjo meniup jari-jari Baro.

 

“Hua, dingin!!” pekik Baro.

 

Kini luka bakar itu dilapisi es tipis. Yoonjo terbelalak melihatnya. Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Sedangkan yang lain menatapnya bingung.

 

“Aku tidak tahu apa-apa!” kata Yoonjo cepat.

 

“A-aku juga tidak mengerti bagaimana bisa kayu-kayu itu terbakar..” sahut Chanyeol.

 

“Jangan-jangan.. kita semua mempunyai kekuatan spesial?” celetuk Minho.

 

“Apa kekuatanku?” seru Yura.

 

“Bagaimana denganku?” timpal Baro.

 

Minho menggigit bibirnya. “Aku…?”

 

•••

 

Sinar matahari menerpa wajah Yura dan membuatnya terbangun dari tidur nyenyak mereka. Yura membuka matanya dan menyadari bahwa hanya tinggal dia dan Baro lah yang masih berada disana. Sedangkan Chanyeol, Yoonjo dan Minho tidak diketahui keberadaannya. Yura langsung membangunkan Baro.

 

“Wae~?” gumam Baro yang masih setengah sadar.

 

“Aku lapar! Ayo cari makanan,” ajak Yura.

 

“Kau memang selalu lapar! Ajak Yoonjo atau Chanyeol saja. Jangan menggangguku!” sungut Baro lalu kembali tertidur.

 

Yura merengut. Kini bagaimana caranya ia mencari makanan? Sedangkan 3 temannya yang lain tidak diketahui keberadaannya. Yura meniup poninya gemas lalu bangkit dan kembali menjelajahi hutan itu. Tentu saja dia juga ikut mengingat-ingat jalannya pergi agar bisa kembali ke tempat tadi.

 

Setelah beberapa lama berjalan, ia melihat sebuah pohon yang sedang berbuah. Tapi pohon itu terlalu tinggi. Walaupun Yura bisa memanjat pohon, tapi pohon itu memiliki batang yang licin. Yura menggaruk kepalanya frustasi. Bagaimana ini? Yura berharap dia bisa terbang. Perlahan, ia bisa merasa sensasi terbang. Ia kira dia hanya berkhayal. Namun dia memang benar-benar melayang!

 

“Kya!!”

 

Yura berteriak histeris. Pikirannya langsung kosong. Tiba-tiba tubuhnya terhempas jatuh. Yura menutup matanya dan menunggu tubuhnya menghantam tanah dengan kasar. Tapi dia malah merasakan sepasang tangan yang menangkapnya. Dia membuka matanya. Reflek, dia memeluk sang penolongnya itu.

 

“Minho-ssi~~ gomawo!”

 

•••

 

Minho dan Chanyeol ditugasi oleh Yoonjo untuk mencari apapun yang dapat dimakan di dalam hutan itu selama Yoonjo merenungkan tentang kekuatannya itu. Tapi sudah sejauh ini, mereka masih belum menemukan buah-buahan atau apapun itu. Tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan.

 

“Yura! Itu pasti Yura!” pekik Chanyeol kalap sambil berlari ke arah asal teriakan itu.

 

Minho segera menyusulnya. Dia berharap tidak terjadi apapun dengan Yura dan dapat segera ke tempatnya secepatnya. Entah kenapa, ia merasa lari Chanyeol melambat. Sangat lambat. Tapi dia berfokus pada Yura. Akhirnya dia menemukan Yura terjatuh dari atas dengan perlahan. Namun sedetik kemudian, kecepatan jatuh Yura menjadi cepat. Minho langsung menangkapnya sigap. Minho mengernyit bingung. Bagaimana bisa?

 

“Minho-ssi~~ gomawo!” seru Yura sambil memeluk Minho erat.

 

Dari arah belakang, Chanyeol muncul dan menghampiri mereka. Minho menghela nafas panjang sebelum menurunkan Yura. Tangannya terasa sedikit nyeri karena menangkap Yura tiba-tiba. Apalagi tubuh Yura yang agak berat. Tapi Minho tidak berani mengatakannya. Yura pasti marah jika mendengarnya.

 

“Gwencana?” tanya Chanyeol panik.

 

Yura menggeleng pelan, “Gwencana.. Minho menyelamatkanku.”

 

“Memang apa yang terjadi?” tanya Minho.

 

“Aku tidak tahu. Tiba-tiba aku terbang begitu saja. Saat pikiranku kosong, aku jatuh,” jelas Yura.

 

“Mungkin.. ini kekuatanmu?” tebak Chanyeol.

 

“Mungkin.. artinya aku sudah mengetahui kekuatanku!” seru Yura. Dia meniup poni lalu terkekeh bangga.

 

Minho tersenyum. “Dan sepertinya aku pun juga tahu apa kekuatanku.”

 

Chanyeol dan Yura langsung menoleh.

 

“Sepertinya aku dapat mengontrol waktu,” gumam Minho ragu.

 

=== When The Book Closes ===

 

Eotteo? Ceritanya.. aneh ya? Maksa ya? Haha maaf.. saya buatnya di waktu senggang yang sempit(?) -,-

Tapi tetep komen yaw~

Advertisements

9 responses to “[Series] When The Book Closes (Chapter 1)

  1. FARA!!! OMO OMO :”) *nangis bahagia*
    Doh, akhirnya nemu juga ff yang ada YeolRa moment nya *sungkem orang tua*
    Suka banget genre nya, bahasanya juga ❤
    Apalagi YeolRa moment nya :")
    Suka deh pas yang Chanyeol menggenggam erat tangan Yura XD :*
    Lanjut ah, semoga banyak moment YeolRa amin~ ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s