[Series] Illa Illa (Chapter 1)

Author : Lee Hyura and Putri Wahyu Rini

Title : Illa Illa

Genre : Angst, Comedy, Romance, Friendship.

Rating : PG

Length : Series

Cast :

–          Calista Choi / Choi Minah (OC)

–          FT Island

–          Juniel

–          CN Blue

–          And another FNC family

 

=== Illa Illa ===

 

Calista memakai kacamata hitamnya saat menuruni tangga pesawat. Angin di sekitar berhembus mengenai rambut sehat yang dirawat dengan sepenuh hati oleh gadis itu. Dia tersenyum lebar karena akhirnya ia kembali menginjakkan kaki di tanah airnya. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya itu. Pasti sudah banyak hal yang terjadi.

 

Dia masuk ke area bandara untuk mengambil kopernya lalu keluar dari area halaman bandara. Dia melirik ke sekitar –berharap seseorang datang untuk menjemputnya. Tapi ternyata harapannya tidak terpenuhi. Karena kenyataannya kedua orangtuanya sibuk. Kakaknya? Calista berani menjamin kakaknya bahkan tidak tahu ia datang. Dia mendesah sambil menarik kopernya ke menuju salah satu taksi.

 

Setelah mengatakan alamat yang dituju, Calista menyandarkan tubuhnya sambil memainkan permainan di handphonenya sambil mendengarkan lagu. Tak jarang, ia berteriak kesal karena gagal mencapai targetnya. Sebenarnya ia sadar kalau beberapa kali supir taksi itu meliriknya bingung dari kaca. Tapi ia tidak peduli. Selama tidak ada yang melihatnya selain supir taksi itu, dia tidak akan peduli. Toh supir taksi itu tidak mengenalnya.

 

Gosh!! Damn it!!” teriak Calista kesal.

 

Dan sepertinya supir taksi itu mulai kehilangan kesabaran. Taksi itu dia pinggirkan. Calista terbelalak karenanya. Saat taksi itu sudah berhenti, supir taksi untuk menoleh ke arah Calista.

 

“Agassi! Bisa kah kau tenang? Kau seperti orang gila jika berteriak tiba-tiba seperti itu!” omel supir taksi itu.

 

Calista cemberut. Dia kesal karena dibentak oleh supir itu. Tapi baru saja Calista hendak membuka mulutnya, taksi itu sudah kembali melaju kencang menuju sebuah rumah di kota Seoul.

 

>>>

 

Anybody home? God, where in the world are they?” erang Calista karena sudah beberapa kali ia menekan bel dan mengetuk pintu, tapi tidak ada yang membukakan pintu.

 

Dia memainkan handphone yang ada ditangannya sambil sibuk berpikir cara untuk masuk ke dalam rumah. Tapi baru saja ia hendak membuka paksa jendelanya, orangtuanya datang bersama kakak satu-satunya.

 

“Umma! Appa! Minhwan oppa!” seru Calista senang.

 

Calista segera berlari menghampiri mereka dan memeluk mereka satu persatu. Tapi saat berhadapan dengan Minhwan, pria itu hanya menatap dingin adiknya. Calista mengurungkan niat untuk memeluk Minhwan. Dia mendengus lalu memeluk tangan ummanya.

 

“Umma, kalian darimana?” tanya Calista sambil melirik jam tangannya. Jam 9 malam. “Makan malam, kah?”

 

Ummanya tersenyum. “Kami dari—“

 

“Umma!” bentak Minhwan.

 

Ummanya menoleh lalu menghela nafas panjang. “Tidak perlu kau ketahui, Minah-ya.. kau baru sampai? Kenapa tidak bilang kau sudah sampai di Korea? Kau lapar? Akan umma buatkan makanan khusus untukmu.”

 

Calista hanya mengangguk cepat. Dia melirik Minhwan yang berjalan dibelakangnya. Calista menghela nafas lirih.

 

>>>

 

Calista memasuki dapur saat mencium wangi yang harum. Dia terlihat bersemangat untuk segera mencoba masakan ummanya yang sudah lama tidak ia coba. Tanpa ia sadari, perutnya berbunyi. Dia bersiap untuk mencoba salah satu lauk dengan sumpitnya, tapi tangannya ditepis oleh ummanya.

 

“Panggilkan oppamu dulu. Kita makan bersama,” kata ummanya.

 

Calista merengut, “Umma~~”

 

“Minah..”

 

It’s Calista!”

 

Nyonya Choi memijat keningnya pelan. Akhirnya dia mengangguk sekilas. “Calista-ya, panggilkan oppamu.”

 

“Siap!”

 

•••

 

Di sudut ruangan café yang lumayan terkenal di kalangan para remaja, terlihat sosok Calista yang sedang menyesap cappucino sambil memijat pelan tengkuknya. Dia menghela nafas berat sebelum membuka mulutnya. Di layar laptop yang diletakkan di atas meja, terlihat wajah temannya di Virginia.

 

“Yah begitulah. Sepertinya Minhwan oppa benar-benar marah padaku,” gerutu Calista.

 

Kini dia sedang berhubungan dengan temannya itu lewat aplikasi Skype di laptopnya. Temannya kebetulan juga berdarah Korea sehingga mereka memilih untuk berbicara dengan bahasa Korea agar tidak ada yang mengerti isi perbincangan mereka di sekitar temannya itu.

 

“Itu artinya kau harus berusaha lebih keras,” tanggap Jiyoung.

 

“Jiyoung-ah, mudah bagimu untuk mengatakan itu!” sungut Calista. “Tapi nyatanya untuk membuatnya berbicara padaku itu sesulit berjalan di atas tali. Sepertinya dia benar-benar marah padaku.”

 

“Kalau begitu, minta maaf. Kenapa kau tidak menggunakan caramu yang biasa untuk mendapatkan permintaan maaf?” seru Jiyoung.

 

Calista mengernyit sesaat. “Maksudnya?”

 

“Cara merengek khasmu..”

 

>>>

 

Calista menarik nafas dalam saat keluar dari café. Laptop merahnya sudah berada didalam tas ranselnya. Otaknya kini berisi banyak rencana setelah mencurahkan semua isi hatinya kepada Jiyoung tadi. Saat dia hendak menyetop sebuah taksi, matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya. Tapi siapa? Dia mencoba mengingatnya. Perlahan tapi pasti, dia mendekati orang itu dan membuka topi orang itu. Memang tidak sopan, tapi inilah sifat Calista jika sudah penasaran.

 

“Seunghyun oppa!” pekik Calista.

 

Walaupun orang itu masih memakai kacamata hitam, Calista bisa mengingat wajahnya dengan baik. Pria itu langsung panik. Dia mencoba merebut topinya kembali. Tapi Calista tidak membiarkannya dan malah tersenyum jahil. Kali ini Calista melepaskan kacamata Seunghyun.

 

“Tebakanku benar~” gumam Calista bangga.

 

“S-seunghyun oppa?”

 

“Benarkah itu?”

 

“Siapa gadis itu?”

 

“Paling-paling sasaeng seperti biasa!”

 

“Kyaaaaa, Seunghyun oppa!”

 

Calista tersentak kaget saat menyadari banyaknya orang yang mengenali Seunghyun. Calista menoleh dengan maksud untuk melototi orang-orang itu. Tapi nyatanya mata tajam orang-orang membuatnya mengidik ngeri. Para gadis itu mulai mengambil ancang-ancang untuk mengejarnya. Bukan, Seunghyun!

 

“Lari!” teriak Seunghyun.

 

Calista yang bingung harus bagaimana, ikut berlari mengikuti Seunghyun. Di Virginia, dia sering ditunjuk sebagai wakil kelas untuk lomba-lomba olahraga di sekolahnya. Tidak salah jika dia bisa mengimbangi kecepatan lari Seunghyun.

 

Mereka berlari ke gang kecil. Saat melihat tumpukan drum-drum, Seunghyun menarik tangan Calista untuk bersembunyi dibalik drum-drum itu. Mereka hampir tidak bernafas saat melihat rombongan orang-orang yang mengejar mereka—walaupun sebenarnya hanya Seunghyun—melewati mereka begitu saja. Merasa sudah aman, mereka menghela nafas lega.

 

“Seunghyun oppa, kenapa mereka mengejarmu?” tanya Calista dengan nafas tersengal-sengal.

 

Seunghyun mengernyit. “Kau tidak tahu siapa aku tapi kau tahu namaku?”

 

“Ya! Aku teman mainmu dulu! Pasti aku tahu namamu, oppa.”

 

Seunghyun terdiam sambil berusaha mengingat sesuatu. Tak lama dia menatap Calista tajam. “Sebenarnya, siapa kau?”

 

“Choi Minah, adik Choi Minhwan. Ingat?” seru Calista kesal. “Tapi ku mohon panggil aku Calista.”

 

Seunghyun terbelalak kaget. “Eh.. eoh, Minah-ssi?”

 

I said it’s Calista!” dengus Calista.

 

“M-maksudku Calista..” Seunghyun menghela nafas panjang. “Kapan kau kembali dari Amerika?”

 

“Kemarin..” jawab Calista. “Jadi, kenapa kau dikejar oleh mereka?”

 

“Kau tidak pernah menonton tv atau membuka internet?” tanya Seunghyun memastikan. “Jangan bilang, kau juga tidak tahu soal Minhwan juga?”

 

“Ada apa ini? Tv? Internet? Minhwan oppa?” Calista menggeleng frustasi. “Aku tidak mengerti.”

 

“Tanyakan saja pada oppamu. Yang pasti kau harus hati-hati. Jangan sampai ketahuan kau bersama kami, apalagi memiliki sebuah hubungan dengan kami. Bisa terjadi sesuatu padamu jika itu terjadi,” kata Seunghyun sambil merebut topi dan kacamatanya yang masih dipegang oleh Calista. “Oh, aku pergi!”

 

Setelah kepergian Seunghyun, Calista masih terdiam. Dia berusaha mencerna setiap perkataan Seunghyun.

 

TV? Internet? Hati-hati?, bingung Calista. Tiba-tiba matanya terbelalak. Jangan-jangan mereka itu buronan polisi! Atau.. teroris?! Astaga, sebegitu frustasinya kah Minhwan oppa karena ku tinggal tiba-tiba??

 

>>>

 

Calista membuka pintu rumahnya lemas. Pikiran buruk masih juga mengisi pikirannya. Kini dia takut untuk bertemu dengan Minhwan. Calista menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu lalu memeluk bantal sofa.

 

Apa aku kembali ke Virginia dan mengubah identitasku? Aku melanjutkan hidupku sebagai stylist. Aku tidak akan kembali ke Korea. Jadi orang-orang tidak akan tahu kalau aku adalah adik seorang teroris! Yap, begitu saja!

 

Calista mendesah frustasi lalu mengacak rambutnya kesal. Dia mengambil remote tv dan menyalakannya. Sebuah acara musik lah yang sedang disiarkan.

 

“Oh ya, sudah lama sekali aku tidak mengikuti perkembangan musik Korea! Apa penyanyi-penyanyi terkenal saat aku kecil dulu masih eksis?” gumam Calista pada dirinya sendiri.

 

Entah karena telinganya yang sudah terbiasa dengan lagu-lagu barat atau memang lagu-lagu para penyanyi kali itu tidak ada yang menarik. Tapi yang jelas Calista tidak menyukainya. Aneh!, itulah komentarnya. Tiba-tiba ibunya datang dan mengganti channel.

 

“Umma~!” protes Calista.

 

“Itu hanya ulangan, Calista. Membosankan,” sahut nyonya Choi.

 

“T-tapi..” Calista diam dan menggembungkan pipinya.

 

Kali ini mereka menonton sebuah acara berita. Calista kembali teringat akan Seunghyun dan Minhwan. Dia meremas tangannya gemas. Dia takut wajah kedua orang itu muncul di televisi. Tapi ummanya bersikap biasa saja. Apa dia tidak tahu? Calista menjadi semakin grogi. Akhirnya dia merebut remote dan mengganti channelnya ke channel yang tadi.

 

“Minah-ya!” bentak nyonya Choi.

 

Calista menggigit bibirnya. “A-aku tidak suka menonton berita, umma!”

 

“Terserahmu!”

 

Ibunya bangkit dan pergi dengan kesal. Sepeninggal ibunya, Calista menghela nafas panjang karena lega. Calista mencoba menenangkan diri dengan menikmati acara musik itu.

 

“Suara melelehkan hati para pendengar dan musik yang mengikat hati, siap menghibur anda. Inilah FT Island!”

 

Calista tersenyum sinis mendengar kata-kata para MC. Dari namanya saja sudah tidak menarik. Paling seperti penyanyi sebelumnya. Lebih baik aku tidur!, pikir Calista.

 

Calista bangkit dan pergi ke kamarnya. Tapi saat dia hendak membuka pintu kamar, lagu band yang bernama FT Island itu terdengar olehnya. Dia tersenyum tipis.

 

Sepertinya lagunya tidak mengecewakan. Nanti ku download deh! Sekarang tidur dulu~

 

•••

 

“Umma~”

 

Nyonya Choi menggeleng pelan. “Tidak, Calista..”

 

“Ayolah~” rajuk Calista.

 

“Choi Minah!”

 

I’m Calista Choi!”

 

“Aku memberikanmu nama Minah bukan Calista!”

 

“Artinya sama saja~ lagipula Calista lebih berseni daripada Minah!”

 

“Choi Minah!”

 

“Eh.. iya.. iya..” Calista merengut. “Ayolah biarkan aku tahu tempat biasanya Minhwan oppa berada. Memang umma tidak curiga pada Minhwan oppa yang sering pergi sampai larut malam?”

 

“Untuk apa curiga? Alasannya sudah ku ketahui dengan jelas.”

 

Omo! Umma sudah tahu anaknya seorang teroris tapi masih tenang saja?, kaget Calista dalam hati.

 

“Umma, aku tidak akan macam-macam. Aku tidak akan mengikuti jejak Minhwan oppa. Aku tidak akan terjerumus dalam lubang hitam yang sama,” rajuk Calista lagi.

 

Jejak Minhwan? Lubang hitam?, nyonya Choi mengernyit. Entah apa yang berada di otak anak bungsunya itu. Tapi mungkin akan lebih baik jika Calista mendapatkan apa yang ia inginkan.

 

“Tunggu, umma ingin ganti baju dulu. Umma akan mengantarkanmu kesana biar kau tidak tersesat,” kata nyonya Choi akhirnya.

 

Kini Calista yang terlihat bingung. Tersesat?

 

>>>

 

Calista mengerjapkan matanya. Dia semakin bingung saat ibunya malah membawanya ke sebuah gedung. Apa itu tempat persembunyian kakaknya dari kejaran polisi? Diluar gedung, ia melihat sekelompok gadis dengan kamera ditangan mereka. Calista sering melihatnya di Virginia. Itu pasti paparazzi. Paparazzi itu mungkin sudah tahu tempat persembunyian kakaknya! Calista menggigit jarinya takut.

 

Seorang satpam membiarkan mereka masuk karena mungkin sudah mengenali wajah ibunya. Padahal orang lain sampai diminta tanda pengenal mereka dan ditanya banyak hal lainnya. Mereka berjalan ke dalam gedung itu. Gedung itu lumayan ramai. Jujur, itu membuat Calista semakin pusing karena semakin lama, semua hal ini terasa semakin tidak masuk akal jika dihubungkan dengan analisisnya.

 

Akhirnya mereka sampai didepan sebuah pintu. Pintu itu dibuka perlahan oleh nyonya Choi. Terlihat 5 pria sedang terduduk di sudut ruangan sambil becanda ria. Didekat mereka terlihat beberapa set alat musik yang biasa digunakan oleh sebuah band. Calista mengerjap bingung. Analisisnya benar-benar sudah runtuh sekarang.

 

“Oppa!!” teriak Calista sambil berlari menghampiri Minhwan. “Kau bukan seorang teroris, kan?!”

 

Minhwan terbatuk mendengarnya. “Ya! Apa maksudmu?”

 

Calista langsung berhenti. Dia tidak berani mendekati Minhwan yang kini memasang tampang kesal. Dia kembali dibuat terkejut saat melihat Seunghyun disana.

 

“Seunghyun oppa! Kau ada disini juga?” pekik Calista.

 

“Dan kau akan bertanya apa dia adalah teroris atau bukan?” tebak seorang pria imut.

 

Calista mengerjap. “Kau.. Jaejin oppa?”

 

“Yep. Minah, kau kah itu?” sahut Jaejin.

 

Calista tidak menjawab. Dia melirik 2 orang lainnya. “Hongki dan Jonghun oppa?”

 

Dua orang yang disebut namanya itu mengangguk dengan wajah bingung. Sebenarnya ada apa ini?

 

>>>

 

“Ya!!”

 

Calista menggembungkan pipinya kesal saat kelima orang itu tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Calista yang mengira maksud semua petunjuk dari Seunghyun adalah teroris. Hongki dan Jaejin bahkan sampai tertawa sambil mengguling di lantai. Benar-benar puas menertawakan Calista.

 

“Geumanhae!” bentak Calista sekali lagi.

 

Tapi tetap saja tidak ada yang mau mendengarkannya. Calista ingin meminta bantuan tapi ibunya sudah pergi dari tadi dengan manager FT Island. Calista bangkit dan memukuli para member FT Island itu dengan kesal agar berhenti tertawa. Akhirnya tawaan itu berubah menjadi ringisan. Calista mendesah lega.

 

“Minhwan-ah, adikmu galak!” gerutu Jaejin.

 

Calista mendelik kesal ke arah Jaejin. Tapi Jaejin malah tertawa.

 

“Yep, dia memang galak!” timpal Minhwan.

 

Calista mengerang. “Aku tidak galak!”

 

“Kau galak!” tekan Jaejin.

 

Calista merengut mendengarnya. Jonghun langsung mengambil aksi. Dia menepuk kepala Calista.

 

“Minah baik kok. Jaejin-ah, berhenti mengatakan Minah galak!” kata Jonghun.

 

“Duh.. Panggil aku Calista! Jangan Minah.”

 

>>>

 

“Umma, neo eoddiseo?” runtuk Minhwan kesal sambil tetap berusaha menghubungi ibunya.

 

Calista yang berada di sampingnya hanya diam sambil memainkan sebuah permainan di handphonenya. Minhwan akhirnya berhenti dari aktivitasnya dan melirik Calista. Ia tahu Calista seperti itu karena sudah menyerah berusaha membuatnya berbicara pada Calista. Minhwan sebenarnya ingin. Tapi kali ini dia ingin membuat Calista benar-benar merasa menyesal. Tapi sepertinya Calista tidak terlihat seperti itu. Calista hanya sedikit menyesali perbuatannya dulu. Dia pindah ke Virginia begitu saja, meninggalkan kakak satu-satunya hanya demi sekolah kecantikan terbaik di dunia.

 

“Minah..” panggil Minhwan menggumam.

 

Calista terdiam. Tak lama dia kembali menyibukkan diri dengan handphonenya seakan dia tidak mendengar apapun.

 

“Minah!” nada suara Minhwan naik.

 

I said it’s Calista!!” sahut Calista membentak.

 

=== Illa Illa ===

 

YEY! AKHIRNYA BISA JUGA NGEPUBLISH FF INI *sujud syukur*

Abis beberapa kali gagal mulu ngeposting nih ff T_T

Terus ff ini mengalami beberapa perubahan. Ahay~ abis ceritanya aneh. Malah kayak cerita comedy -__-

Buat Rin eonni, ayo cepetan buat lanjutannya :p

Advertisements

4 responses to “[Series] Illa Illa (Chapter 1)

  1. akhirnya publish juga.. ini udah tanggal.berapa fara.. dan kenapa juga pas gue udah balik ke lubas.. tapi gapapa deh disahain bikinnya, calista nama keren tapi babo…
    gue kayaknya gak perlu komen.deh ya /plakk/

    • kan udah gue bilang gue tuh sibuk. susah ngeposting. ini juga sebenernya ga gue publish sekarang karna tau lu mau balik ke lubas lagi -..- tapi karna takut ga sempet lagi, akhirnya gue post deh. hehe
      WESH! PERLU DONG! WAH PARAH -..-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s