[Series] You and I (Chapter 5)

Author : Lee Hyura

Title : You and I

Genre : Fantasy, Romance

Rating : PG

Cast :

  • Kang Minhyun (OC)
  • EXO Baekhyun
  • EXO Sehun
  • F(x) Sulli

Note: tadinya sih mau dipublish abis lebaran. Tapi saya di demo mulu soal nih ff -_- jadi saya publish sekarang deh. Lanjutannya baru pas abis lebaran. Oke? Anggap aja para cast ff ini lagi mudik ya.

Semoga semuanya puas sama chapter ini. Dan saya tidak terima kata ‘kurang panjang, thor!’ -__-

WARNING! WAJIB BACA! GA BACA? GA AKAN NGERTI! à [You and I] Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 — [Wind on The Way] Oneshoot

Aku tahu aku bodoh. Aku tahu aku salah.

Aku harus keluar dari dunia fantasi ini.

Kau tidak nyata. Aku tahu.

Aku harus melepaskanmu.

Maafkan aku untuk segalanya.

 

 Previous.

 

Minhyun mengajak Baekhyun ke sekolahnya yang sedang mengadakan festival besar. Ternyata semua tidak semulus yang Minhyun pikir. Dari mulai pertemuan Baekhyun dengan Sehun hingga Baekhyun yang tiba-tiba muncul di atas panggung sambil bermain piano sebagai pengiring grup vokal. Padahal saat itu Minhyun sedang sibuk dengan tugasnya untuk mendokumentasikan acara di gedung seni.

Hari Minhyun memburuk saat Sehun memanggilnya ke halaman belakang sekolah. Sehun membuat Minhyun menyatakan cintanya. Tanpa mereka ketahui, Baekhyun mendengarnya. Kini Baekhyun kehilangan kesadaran.

Di satu sisi, perilaku Sulli semakin aneh dan mengundang rasa curiga Baekhyun. Sebenarnya ada apa dengan Sulli?

 

=== You and I ===

 

Minhyun menghela nafas panjang. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah. Tidak mungkin dia meninggalkan Baekhyun di ruang kesehatan begitu saja. Tapi dia harus membantu Jongin. Tapi satu masalah lagi. Tidak mungkin dia berani menatap teman-teman seklubnya setelah mereka melihat Minhyun menangis. Mereka tidak tahu dan tidak akan mengerti posisi Minhyun sekarang.

 

“Baekhyun-ah.. ireona! Apa kau seperti ini karena mendengar pembicaraan kami? Ah, mianhae.. jeongmal mianhae. Aku tidak mengira kau ada disana. Apa rasanya sakit? Apa rasanya sakit sehingga kau pingsan?” gumam Minhyun sambil menggenggam erat tangan Baekhyun.

 

“Apa setelah ini.. kau akan pergi? Apa kepergianmu akan terasa sakit? Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu nanti. Bagaimana pun juga kau sudah berjasa besar padaku. Kau membuatku merasa mempunyai adik!” Minhyun terdiam sejenak lalu menggeleng pelan. “Aduh, aku lupa kalau kau itu pacarku. Soalnya tingkahmu itu seperti anak kecil sih! Kalau kau sadar nanti, kau harus bersikap lebih dewasa supaya bisa menjadi pacar impianku yang sesungguhnya, ya?”

 

Minhyun menarik nafas dalam. Dia mengetuk kepalanya beberapa kali sambil meruntuk kesal. Kini dia merasa seperti orang bodoh yang berbicara sendiri. Sedetik kemudian, dia tersenyum geli. Minhyun membayangkan saat Baekhyun mendengar kata-katanya tadi secara langsung. Pasti Baekhyun sudah marah-marah tidak jelas padanya. Tapi sayang, kini Baekhyun hanya terbaring tak sadarkan diri didepannya.

 

“Minhyun-ah..”

 

Minhyun menoleh dan tersenyum tipis. “Sulli sunbae~ waeyo?”

 

“A-aku..” Sulli menarik nafas dalam. “Aku hanya ingin melihat keadaan Baekhyun. Walaupun kami selalu bertengkar, ternyata aku juga bisa merasa khawatir tentangnya. Aneh, ya?”

 

Minhyun mengernyit sejenak. Tak lama wajahnya menjadi datar. Minhyun menggertakkan giginya.

 

“Sunbae, bisa bantu aku?” tanya Minhyun.

 

“Apa?”

 

“Jaga Baekhyun sebentar. Aku harus menemui Oh Sehun secepatnya!”

 

>>>

 

Sehun yang sedang menyetel kamera di gedung seni pun menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Dia mendesah pelan. Ia tahu Minhyun akan menemuinya cepat atau lambat. Tapi setidaknya ia tahu apa yang ia lakukan itu adalah yang terbaik. Tidak seharusnya Minhyun hidup di dalam dunia fantasinya. Seberapa nyata pun hal itu, tetap saja itu tidak masuk logika. Yap, Sehun sudah tahu soal Baekhyun.

 

“Wae, Minhyun-ah?” desah Sehun pelan saat mereka sudah sampai di samping gedung seni yang sepi.

 

Minhyun menggigit bibirnya. “Kau menggantikanku, Sehun-ssi?”

 

“Tentu saja. Tidak mungkin Jongin melakukan semuanya sendiri, kan? Aku yakin Aerin tidak terlalu banyak membantu,” jawab Sehun. “Langsung saja, Minhyunnie. Kau kesini karena Baekhyun, kan?”

 

Minhyun mengangguk pelan. Dia mengerjapkan matanya bingung.

 

“Sulli yang menceritakannya padaku..” ujar Sehun.

 

Minhyun terbelalak mendengarnya. Kalau dipikirkan kembali, memang hanya Sulli yang pantas dicurigakan soal semua ini. Minhyun bukannya tidak terpikir soal Sulli. Hanya saja dia takut untuk mencurigai Sulli. Walaupun sedikit, tetap saja menakutkan baginya.

 

“Dan aku melakukan ini agar kau sadar. Dia tidak nyata. Dia hanya hidup di dunia fantasimu. Dia akan pergi cepat atau lambat. Kau harus menerima kenyataan itu,” lanjut Sehun.

 

Minhyun menjilat bibirnya. “Aku ingin kau juga jujur soal sesuatu..”

 

“Apa?”

 

“Bagaimana perasaanmu kepadaku? Apa aku boleh berharap?”

 

“Harus jujur, kan?” Sehun menghela nafas panjang. “Aku menyukaimu. Tapi aku tidak bisa. Sebentar lagi aku lulus. Sekarang aku sedang fokus mengejar beasiswa ke Tokyo University. Aku hanya akan menelantarkanmu nantinya. Itulah alasanku menolakmu. Maaf kan aku..”

 

“Sehun-ah! Kau niat membantuku, tidak sih?” teriak Jongin geram dari kejauhan.

 

“Jamkan, Jongin-ah!” sahut Sehun lalu menepuk kepala Minhyun. “Aku pergi dulu. Dan maaf soal tanganmu itu. Andai kau cerita dari awal, mungkin aku tidak akan berani membiarkanmu menyentuhku atau pria lainnya.”

 

Minhyun hanya diam. Tidak sibuk mencerna semuanya. Saat yakin Sehun sudah pergi jauh, Minhyun menoleh. Ia melihat Jongin yang sedang tersenyum lebar padanya.

 

“Dan seperti biasa, Jongin sunbae selalu mengganggu,” gumam Minhyun pelan lalu menggeleng lemas.

 

>>>

 

“Minhyun-ah~” panggil Sulli ragu.

 

Minhyun melirik Sulli sekilas lalu kembali memperhatikan Baekhyun. Dia belum bilang kepada Sulli kalau dia sudah tahu alasan dibalik kejadian ini. Dia tidak ingin memiliki masalah dengan Sulli. Minhyun biarkan Sulli sendiri yang mengatakannya.

 

“A-aku.. aku pulang dulu. Sudah jam 5 sore. Dan nanti malam akan ada pesta di rumah teman bisnis appa. Mianhae,” ujar Sulli pelan. Terdengar sedikit bergetar.

 

Minhyun mengangguk pelan. “Ne.. terima kasih sudah menemaniku, sunbae..”

 

Sulli mengambil tasnya dan berlari keluar. Sebelum menutup pintu ruang kesehatan, ia menatap Baekhyun pelan.

 

Mianhae, Minhyun-ah. Hanya saja aku tidak sanggup melihat wajahnya. Aku.. aku hanya belum bisa memaafkan diriku sendiri. Ini benar-benar menyakitkan, lirih Sulli dalam hati.

 

>>>

 

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sekolah itu belum sepi karena masih ada beberapa khusus yang belum selesai. Kelas khusus yang bahkan tetap diadakan saat festival sekolah berakhir. Sekolah-sekolah di Asia Timur memang sangatlah kejam.

 

Minhyun tertidur di sisi kasur. Sedangkan Baekhyun sudah mulai membuka matanya. Pandangannya berbayang. Beberapa potongan gambar bergerak melesat di otaknya, membuatnya serasa ditusuk oleh beberapa paku di bagian kepala.baekhyun meremas tangannya sambil berusaha untuk tidak membuat kebisingan atau gerakan lain yang dapat mengganggu tidur Minhyun.

 

“Sulli..” gumamnya pelan saat ia bisa mengenali sebuah gambar bergerak itu.

 

“Eoh..” Minhyun menggumam.

 

Baekhyun langsung menutup matanya kembali secara reflek. Minhyun merenggangkan tulangnya lalu menatap Baekhyun. Tak lama, dia mendorong badan Baekhyun hingga Baekhyun terjatuh.

 

“Berhenti berpura-pura! Sampai kapan kau mau tidur? Kalau tidur terlalu lama, kau tidak bisa masuk ke kamarku!” omel Minhyun.

 

Baekhyun hanya meringis pelan. “Kenapa kau jadi galak seperti ini?”

 

“Karena..” Minhyun berpikir sejenak. “Entahlah. Ayo pulang! Kita beli eskrim dijalan.”

 

Baekhyun mengangguk pelan. Minhyun tersenyum girang. Tumben sekali Baekhyun tidak marah-marah dan menurut dengan cepat. Setidaknya Baekhyun sadar kalau Minhyun sedang tidak bermood bagus malam ini.

 

>>>

 

“Kau baik-baik saja?” tanya Minhyun pelan.

 

“Tidak! Ku rasa beberapa tulangku patah karena jatuh tadi,” sungut Baekhyun sambil menjilat eskrim yang dibelikan oleh Minhyun tadi.

 

Minhyun terkekeh pelan. “Mianhae.. soalnya aku tahu kau sudah sadar tapi kau malah tetap berpura-pura tidur. Itu kan menyebalkan!”

 

“H-habisnya..”

 

Baekhyun terdiam dan memilih untuk menjilat eskrimnya kembali. Minhyun ikut diam. Mereka berjalan menuju rumah Minhyun tanpa salah satunya berbicara dan malah sibuk dengan eskrim masing-masing.

 

“Baekhyun-ah~” panggil Minhyun akhirnya.

 

“Ne?”

 

“Apa.. apa peraturan ketiga itu hanya buatanmu?” tanya Minhyun. “M-maksudku—“

 

“Aku tahu maksudmu. Aku memang mendengarnya. Tapi aku tidak tahu kenapa aku tetap ada disini. Harusnya aku sudah menghilang. Itulah peraturan yang tertanam dipikiranku sejak aku muncul di dunia ini. A-aku.. aku hanya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi,” gumam Baekhyun. “Tapi bukankah lebih baik seperti ini? Kalau aku menghilang, kau pasti aku menangis seharian! Iya, kan?”

 

“Huh! Dasar besar kepala!”

 

“Tapi aku benar, kan?”

 

Minhyun memutar matanya. Dia menghela nafas panjang tanpa menjawab.

 

“Tapi jika aku benar-benar menghilang, aku janji aku akan kembali,” kata Baekhyun tiba-tiba.

 

Minhyun tidak berani memegang janji Baekhyun. Dia hanya diam tanpa menanggapinya.

 

•••

 

Seperti biasa, suara ketukan pintu lah yang membangunkan Minhyun. Tidak! Kali ini terasa berbeda. Benar-benar berbeda. Minhyun membuka matanya perlahan lalu mengerjapkannya pelan. Otaknya terus berputar untuk mencari jawabannya.

 

Baekhyun…

 

Kini Minhyun tersadar sepenuhnya. Baekhyun tidak ada! Dimana? Tidak mungkin dia ada diluar kamar, kan? Minhyun langsung melompat dari kasurnya dan mencari Baekhyun ke sekitar kamarnya. Tapi nihil.

 

“Minhyun-ah~! Kau sudah bangun?” teriak ummanya kembali.

 

Minhyun menjatuhkan dirinya di sudut kamar tanpa menyahut. Dia hanya mengubur wajahnya di antara lutut. Suara dering handphone memaksanya untuk bangkit. Dia mengangkatnya tanpa melihat siapa penelepon yang mengganggu paginya itu.

 

“Yoboseyo..” salam Minhyun.

 

“Minhyun-ah.. Minhyun-ah..”

 

Terdengar isakan Sulli sambil memanggil nama Minhyun.

 

>>>

 

Bersyukurlah hari ini, sekolah diliburkan karena para pekerja sekolah sibuk membersihkan lingkungan sekolah setelah diadakannya festival.

 

Minhyun dengan kaus putih bergambar kucing dan celana denim diatas lutut serta jaket abu-abu memasuki rumah mewah kediaman keluarga Sulli. Seorang pembantu di rumah itu membawa Minhyun ke kamar Sulli. Pembantu itu bilang bahwa Sulli tidak keluar dari kamarnya seharian ini. Itu membuat Minhyun semakin bingung.

 

“Hei,” sapa Minhyun saat melihat sahabatnya mengubur wajahnya di bantal. “Sulli sunbae, gwencana?”

 

Sulli mengangkat wajahnya. “Aku akan pindah keluar negeri secepatnya.”

 

Minhyun terbelalak mendengarnya. Dia sudah kehilangan Baekhyun sekarang. Lalu dia juga akan kehilangan Sulli? Lalu siapa selanjutnya? Sehun? Hana? Teman-temannya yang lain? Atau orangtuanya?

 

Minhyun hanya menghela nafas berat sebagai balasannya.

 

“A-aku tidak sanggup untuk tetap disini..” tambah Sulli.

 

“Wae?” Minhyun menjilat bibirnya. “Berikan alasan yang masuk akal. Ku mohon..”

 

Yah walaupun Sulli adalah dalang dibalik kepergian Baekhyun, tapi tetap saja Sulli adalah sahabat terbaiknya. Sehun benar. Baekhyun hanya ada di dunia fantasinya. Tidak mungkin selamanya Baekhyun akan bersamanya. Akan lebih baik jika seperti ini, sebelum Minhyun jatuh cinta kepada Baekhyun. Jika itu terjadi, akan terasa semakin berat bagi Minhyun.

 

“Aku.. hanya tidak sanggup untuk tetap disini. Aku tertekan. Dan akan semakin tertekan jika aku tetap disini,” lirih Sulli.

 

Minhyun bisa mendengar getaran nada bicara Sulli. Wajah Sulli yang pucat, tubuh yang bergetar.. Minhyun tahu Sulli ketakutan. Dan Minhyun tahu, Sulli tidak sanggup untuk menceritakannya kepada Minhyun.

 

Minhyun hanya tersenyum masam. “Aku sudah kehilangan Baekhyun. Lalu aku akan kehilanganmu. Tahun yang cukup berat bagiku. Tapi.. semangat! Aku pasti akan sangat merindukanmu, sunbae!”

 

Sulli menjilat bibirnya. “Dan, oh soal Baekhyun—“

 

“Aku tahu. Dan aku mengerti.”

 

>>>

 

Minhyun memasukkan semua pakaian Baekhyun ke dalam sebuah kardus. Setelah itu, ia lekatkan penutupnya dengan selotip. Kardus itu ia kirim langsung ke sebuah organisasi khusus yang sering membantu para rakyat miskin korea.

 

Sesampainya di kantor organisasi itu, Minhyun langsung menyerahkan kardus itu dan mengisi semua data dirinya. Setelah semua selesai, dia kembali ke rumahnya. Dia sengaja memilih untuk naik bus di halte berikutnya untuk menikmati pemandangan kota Seoul yang ramai di sekitarnya. Kakinya melangkah bebas kemanapun ia mau. Tanpa ia sadari, kakinya membawanya ke sebuah taman tempat pertemuannya dengan Sulli. Ia duduk di kursi tepat dimana ia dan Sulli berkenalan. Setahun yang lalu, ia menemukan Sulli sedang menangis sendirian di kursi itu. Dengan polosnya, ia menghampiri Sulli dan berusaha menenangkannya. Dia berhasil! Bahkan lebih. Sulli malah menceritakan masalahnya pada Minhyun.

 

“Aku takut kakakku akan menyalahkanku. Aku takut orangtuaku akan membenciku. Aku lelah menjadi yang kedua,” isak Sulli.

 

Minhyun menggeleng. “Tidak ada yang kedua di dunia ini. Semua orang adalah yang pertama.”

 

“Tapi aku memang selalu yang kedua. Sesulit apapun aku berusaha untuk merebut perhatian kedua orangtuaku, kakakku selalu merebutnya lebih dulu dengan mudah. Aku benci!”

 

Minhyun tersenyum tipis. Ia baru sadar kalau Sulli memiliki seorang kakak. Yah walaupun Minhyun tidak pernah menemui kakaknya. Mungkin Sulli pergi untuk menyusul kakaknya itu. Minhyun hanya bisa berdoa yang terbaik.

 

Minhyun memutar kepalanya. Dia tersenyum tipis saat teringat sesuatu. Sebuah kotak yang dikubur oleh Sulli di bawah pohon yang paling dekat dengan kursi itu. Minhyun bangkit dan menghampiri pohon itu. Minhyun mulai menggalinya. Jujur, sampai saat ini, ia belum tahu apa isinya. Saat tahu bahwa kotak itu masih ada, air mata Minhyun mengalir. Tanpa menghapus air matanya, Minhyun meraih kotak itu dan membukanya. Isinya adalah foto saat pertama kali mereka bertemu. Foto itu diambil oleh seorang pelayan Sulli. Minhyun terisak karenanya.

 

“Siapa namamu?” tanya Sulli.

 

“Aku? Namaku Kang Minhyun! Tapi kau boleh memanggilku Minhyun. Atau yang lain? Terserahmu. Asalkan namanya yang bagus, ya!” seru Minhyun. “Kau?”

 

“Choi Jinri. Tapi kakakku bilang panggilanku adalah Sulli. Oh ya, kau sekolah dimana?”

 

“Di Ahyang High School. Kau tahu?”

 

Sulli menggeleng pelan. “Aku akan mencari tahu soal itu!”

 

Minhyun tersenyum tipis mengingat kenangan mereka di taman itu. Dia membalik foto itu. ‘My first bestfriend for real!!!’ lah yang tertulis disana. Dia ingat. Sangat ingat, bahwa keesokan harinya setelah hari itu, Sulli pindah ke sekolahnya dan hampir tak pernah mau berpisah darinya. Minhyun menutup wajah dengan kedua tangannya.

 

2 years later.

 

Untuk pertama kalinya, Minhyun menginjakkan kaki di lantai Seoul National University sebagai seorang mahasiswi. Seoul National University bukanlah universitas sembarangan. Universitas itu berada di urutan pertama di Korea dan urutan 42 di dunia. Dia tersenyum lebar. Jantungnya berdegup kencang.

 

“Salam kenal, Seoul National University. Perkenalkan, aku adalah keluarga barumu. Namaku Kang Minhyun. Kau boleh memanggilku Minhyun. Aku akan berusaha keras untuk menjaga nama besarmu,” gumam Minhyun sambil memeluk salah satu tiang fondasi.

 

“Minhyun-ah!” seseorang menarik kerah bajunya. “Jangan mempermalukanku!”

 

Minhyun melepaskan pelukannya itu dan berbalik. “Jongin sunbae!” sorak Minhyun girang.

 

“Ssshh.. sejak kapan kau jadi berisik seperti ini, Minhyun-ah?” desis Jongin. “Dan panggil aku Kai disini! Mengerti?”

 

“Oh, semua orang lebih memilih untuk dipanggil dengan nama aneh, ya, sekarang? Apa itu sangat populer disini?” tanggap Minhyun polos.

 

“B-bukan..” Kai mengibas tangannya. “Tapi beberapa orang memang perlu nama panggung yang keren! Aku salah satunya.”

 

Minhyun memicingkan matanya. “Babo…”

 

“Mwo?!”

 

>>>

 

“Sepertinya kau jadi tidak terpisahkan dengan kamera ya?” tanya Kai.

 

“Ne. Apa itu salah?” jawab Minhyun santai.

 

Kai menggeleng pelan. “Ani.. hanya saja.. sepertinya kau benar-benar jatuh cinta dengan dunia photography. Harusnya kau kuliah di tempat Sehun saja. Di Tokyo University. Ku dengan klub photography mereka sangat bagus! Sehun benar-benar menikmati dunianya disana.”

 

Minhyun meniup poninya gemas. “Tidak. Aku masih cinta dan percaya dengan negaraku sendiri. Aku yakin klub disini tidak kalah bagus!”

 

“Memang tidak. Tapi, akan lebih baik jika kau disana, kan?” goda Kai.

 

Minhyun mengetuk kepala Kai kesal saat mengerti maksud Kai sebenarnya. “Sudah ku bilang berapa kali, sih? Aku sudah tidak ada perasaan apapun dengannya! Babo sunbae!”

 

“Ya! Aish, kemana perginya Minhyun yang lembut dan baik hati, sih?” rengut Kai sambil mengelus kepalanya.

 

Minhyun hanya terkekeh pelan. Bahkan sampai sekarang, dia masih belum bisa terima kenyataan bahwa hanya Kai lah, seniornya yang berhasil memasuki universitas itu selain dirinya. Nama sekolahnya memang tidak terlalu besar. Mungkin itu penyebab sulitnya murid-murid dari sekolahnya untuk masuk ke universitas yang beken semacam Seoul National University.

 

“Oh ya!” seru Kai dengan mata membulat.

 

Minhyun hanya mengangkat alisnya bingung.

 

“Percaya, tidak? Aku menemui sosok yang mirip dengan Baekhyun di universitas ini! Bahkan dia adalah senior kita, Minhyun-ah! Baekhyun itu mantan pacarmu itu, kan?” lanjut Kai.

 

Nafas Minhyun tercekat setelah mendengarnya.

 

Apa? Baekhyun?

 

>>>

 

Kini kamera berkualitas tinggi itu dimainkan dengan indah oleh Minhyun, seakan tangan Minhyun dan kamera itu sudah bersatu. Minhyun mengambil gambar asal. Tapi entah kenapa itu terlihat bagus oleh orang lain. Apa mungkin itu hasil selama setahun Minhyun tidak pernah lepas dari kamera klub? Jadi saat lulus, Minhyun harus membeli kameranya sendiri. Kamera digital lamanya kini hanya pajangan di kamarnya.

 

Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah alunan lagu yang tidak asing baginya. Dia melangkah ke arah asal alunan musik itu. Dari ruang musik rupanya. Dengan ragu, dia membuka pintu itu. Seseorang berada di balik grand piano di sudut ruang besar itu. Minhyun menghampirinya perlahan.

 

“Eoh, Baekhyun-ah!” pekiknya kaget.

 

Pria yang sedang bermain piano itu tersentak kaget karenanya.

 

“Nuguseyo?” sahut pria itu.

 

>>>

 

“Bukankah sudah ku bilang untuk berhati-hati? Orang yang mirip dengan Baekhyun itu bukan orang sembarangan! Aku sudah mengatakannya dari awal! Kau bisa terkena masalah jika bertindak seenaknya seperti tadi!” omel Kai.

 

Saat mendengar orang-orang membicarakan seorang gadis berciri-ciri sama dengan Minhyun, Kai langsung berlari ke tempatnya. Perasaannya sudah buruk jika tahu Minhyun bertemu dengan orang itu. Pasalnya, Kai pun tidak yakin kalau itu adalah ‘Baekhyun’nya Minhyun.

 

“Iya.. iya.. maaf.. tadi itu aku tidak sengaja masuk karena mendengar permainan piano yang ku kenal,” lirih Minhyun.

 

Minhyun tidak bohong. Dia memang sangat mengenali lagu itu. Lagu itu adalah lagu yang sering dimainkan oleh Baekhyun dulu. Bahkan Baekhyun pernah memainkannya tanpa melihat. Lagu itu seperti benar-benar sudah menyatu dengan Baekhyun. Tidak salah jika Minhyun tergoda untuk mengetahui siapa yang memainkan lagu itu.

 

“Tetap saja kau harus berhati-hati! Yang ku dengar, orang itu benar-benar sensitif. Dia tidak terlalu menyukai orang asing. Apalagi orang asing yang tiba-tiba masuk ke ruang musik dan meneriakan nama orang lain,” cibir Kai.

 

Minhyun mengerucutkan bibirnya. “Aish, bukankah aku sudah meminta maaf? Lebih baik kita lupakan saja apa yang sudah terjadi. Lagipula, kau yakin namanya bukan Baekhyun?”

 

Kai mengangkat bahunya. “Mana ku tahu? Aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal seperti itu! Aku ini orang sibuk~”

 

Minhyun mendesis lalu menggerutu pelan.

 

>>>

 

Kali ini Minhyun kembali mendengar alunan lagu itu. Kini berasal dari ruangan yang isinya adalah tempat pertunjukkan musik. Minhyun memilih kursi yang dibagian tengah agak ke atas. Dia mengarahkan kameranya ke tengah panggung. Laki-laki itu lagi. Seseorang yang mengingatkan Minhyun akan Baekhyun kembali. Permainan piano itu, senyuman itu, aura itu, wajah itu… semuanya…

 

Pria itu kembali Minhyun buat tersentak saat sadar bahwa Minhyun memperhatikannya –tidak, memotretnya berulang kali. Pria itu menggertakkan giginya kesal. Dengan segera, ia meraih tasnya dan pergi keluar dari ruangan itu. Tapi dengan cepat, Minhyun mengejarnya dan menarik tangannya.

 

“Jwoisonghamnida, sunbae. Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu..” ujar Minhyun.

 

Minhyun menelan ludahnya. Pria itu terlalu mirip dengan Baekhyun. Pria itu menatapnya tajam. Tatapan tajam khas Baekhyun. Pria itu melirik kamera milik Minhyun.

 

“Berikan film kamera itu..” pinta orang itu.

 

Minhyun menahan nafasnya. Suara itu.. suara Baekhyun! Seakan tersihir, Minhyun menurutinya. Pria itu merebut film itu kasar dan langsung merusaknya. Minhyun terhenyak melihatnya.

 

“Y-ya…” protes Minhyun lemas. Minhyun menahan tangisnya dengan menggigit bibirnya.

 

“Lain kali, jangan seenaknya saja mengambil fotoku!” omel pria itu. Pria itu segera mengambil langkah untuk meninggalkan Minhyun.

 

“Baekhyun-ah..” isak Minhyun.

 

Pria itu berbalik. “Kau mengenalku? Kenapa memanggilku seakrab itu?”

 

Minhyun dibuat terhenyak dua kali. Dia tidak bisa berpikir apapun.

 

>>>

 

“Tunggu, aku tidak percaya kau pindah ke apartemen yang mewah seperti ini, Minhyun-ah!” seru Kai sambil membawa kardus berisi barang-barang Minhyun ke dalam apartemen baru Minhyun.

 

“Yah begitulah. Aku juga tidak percaya. Tapi karena orangtuaku pindah keluar kota, mereka ingin aku benar-benar aman. Jadi mereka memakai tabungan mereka untuk membelikanku apartemen ini deh,” sahut Minhyun sambil menghempaskan kardus dan koper yang ia bawa.

 

Minhyun mulai membuka kardusnya. Kai meletakkan kardus yang ia bawa di samping Minhyun.

 

“Aku akan mengambil satu kardusmu yang masih di mobilku, ya!” kata Kai sebelum berlari keluar apartemen Minhyun.

 

“Cepat atau kau tidak akan ku gaji!” sahut Minhyun berteriak.

 

Kai melongokkan kepalanya. “Kau bahkan tidak menggajiku, Minhyun-ah!”

 

>>>

 

“Ku dengar dari teman-temanku, kau sudah mempunyai pacar, ya?” celetuk Minhyun.

 

Kai yang sedang meneguk sirup yang disiapkan oleh Minhyun itu pun tersedak mendengarnya. Minhyun tergelak melihatnya. Itu membuat Kai kesal. Kai mendengus lalu menendang kaki Minhyun.

 

“Apheo!” ringis Minhyun. “Apa salahku?”

 

Kai menggeleng sambil menunduk. “Eobseo..”

 

“Kau malu, ya?” goda Minhyun.

 

“Ani!”

 

“Hei, siapa namanya?”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Pacarmu itu! Ah, sunbae~ kenapa kau tidak pernah cerita padaku?”

 

Kai mendeham pelan. “Namanya Aerin. Yoon Aerin. Nama yang bagus, kan?”

 

Minhyun terbelalak. “Yoon Aerin… junior kita?!”

 

Kai tersentak kaget karenanya. “N-ne..”

 

“Sejak kapan?”

 

“Sejak.. hampir 2 tahun yang lalu. Beberapa bulan lagi, hubungan kami genap 2 tahun.”

 

“Kenapa tidak pernah cerita?”

 

“Karena dia sendiri yang tidak membolehkannya! Dia takut aku dibunuh oleh orangtuanya jika orangtuanya tahu dia menjalin hubungan sebelum lulus sekolah,” jelas Kai menggerutu.

 

Minhyun terkekeh pelan saat sadar kini wajah Kai benar-benar merah. Dia tidak pernah tahu kalau seniornya yang selalu penuh dengan kepercayaan diri itu dapat tersipu malu karena seorang gadis.

 

“Bagaimana caranya kau kenal dengannya?” tanya Minhyun dengan mata berbinar.

 

“Karena.. angin?”

 

>>>

 

Minhyun baru saja kembali setelah mengantarkan Kai ke parkiran. Saat hendak menverifikasi password pintunya, seekor kucing kecil menghampirinya dan bergelayut manja padanya. Minhyun menggendongnya dan mengelusnya dengan gemas.

 

“Rabella! Neo eoddiseo?” teriak seseorang.

 

Tubuh Minhyun kembali membeku. Sudah beberapa kali hal ini terjadi hari ini? Terlalu sering! Ini tidak lain karena seseorang yang semuanya terlalu mirip dengan ‘Baekhyun’nya. Semuanya!

 

“Rabella! Ternyata kau disana!” pekik pria yang bernama Baekhyun juga itu.

 

Baekhyun merebut kucing yang digendong oleh Minhyun seenaknya. Saat sadar, Baekhyun terbelalak. Tak lama, Baekhyun memasang wajah datar.

 

“Kau lagi.. kau lagi.. kau mengikutiku, ya?” desis Baekhyun.

 

Minhyun mengerjap. “M-mwo?! Siapa yang mengikutimu? Aku memang tinggal disini! Ini apartemenku!”

 

Minhyun mendesis kesal sambil menverifikasi password pintunya lalu membuka pintu untuk menunjukkan dia memang pemilik apartemen itu. Baekhyun membulatkan bibirnya.

 

“Oh, artinya kita sebelahan, ya?” gumam Baekhyun.

 

“Eh apa?”

 

“Apartemenku tepat disampingmu..”

 

Minhyun terdiam. Saat sadar, dia langsung berlari masuk ke dalam apartemennya.

 

“Rabella-ya.. sudah ku bilang, gadis itu memang aneh!” gerutu Baekhyun pada kucing itu.

 

“Aneh?”  gumam Minhyun kesal di balik pintu. “Kau yang aneh, Baekhyun sunbae! Kucing saja diberi nama sebagus itu! Bodoh!!”

 

=== You and I ===

 

Gimana? Aneh ga ceritanya?

Hayo siapa hayo yang ngira dengan hilangnya Baekhyun, cerita ini berakhir? Enggaklah~ soalnya ini malah baru masuk ke cerita yang ‘sesungguhnya’ :3 sebelumnya anggap aja sebuah ‘prolog yang kepanjangan’ (?) .___.

Chapter ini juga panjang, kan? Puas? :3 Ini beneran buat bayaran karena aku baru update ff ini abis lebaran.

Ff ini juga dilengkapi ‘previous’ sekarang. Ini semua usul kakakku yang minta semua ffku di kasih previous. Tapi karena males, biarin deh ff ini aja yg dikasih previous XD /dilempar meja/

Advertisements

3 responses to “[Series] You and I (Chapter 5)

  1. AAAAAKKKKKKKK AKHIRNYA KELUAR
    Aku udah loncat-loncat level kesenengan liat lanjutan ff ini aaaa….. Tapi itu ya sumpah sedih banget pas baekhyun ilang, gapake salam, surat, apa kek-_-
    aaaa lanjut ya lanjut yaaa ditunggu loooj :333

  2. Holaaaaa lama banget gye gabaca you and I *lebe* tapi bener deh.. gue ketinggalan beberapa chapter kkk .. tumben bgt deh lu bikin ff panjang satu chapter… haha amanat(?) gue dikerjain juga akhirnya, klo ga gitu reader bakal bingung, ini cerita sampe mana kemaren. .
    mau komen ffnya tapi apa ya?? duh bingung /plakk/
    Jadi Nae Baekki kakaknya sulli.. terus kenapa bisa muncul jadi hayalan dan terus ngilang.. gue pikir kakak sulli itu udah mati :3
    udah ya mau baca next part :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s