[Series] Calling Out (Chapter 2)

Author : Lee Hyura

Title : Calling Out

Genre: Angst, Family, Friendship, Romance

Rating : PG 13

Length : Series

Cast :

–          EXO Jessica

–          EXO Luhan

–          EXO Sehun

–          SNSD Jessica

–          SNSD Seohyun

–          Daniel Hyunoo

Note: Nah aku kembali lagi dengan chapter 2 dari ff ini. Disini mulai sedikit menceritakan kisah-kisah masa lalunya Jessica dan Luhan nih. Disini juga ada kisah romancenya Seohyun. Uhuy~ uhuy~ (?) dan maaf jika ada typo. Hehe ._.v

WARNING! WAJIB BACA! [Calling Out] Chapter 1

=== Calling Out ===

Seperti hari sebelumnya, Daniel tetap merengek untuk diantarkan ke sekolah oleh Kris dan Jessica. Mereka berdua tentu saja menyetujuinya. Melihat senyuman lebar anaknya, Jessica dan Kris sama sekali tidak keberatan untuk melakukannya. Tapi saat Daniel sudah tidak berada di antara mereka, suasana kembali hening di antara mereka.

Terkadang, Jessica menyesali kata-katanya. Andai malam itu Jessica tidak mengatakan apapun dan bertingkah seakan semuanya baik-baik saja, mungkin hubungan mereka tidak seperti ini. Jessica sudah berhasil bersahabat dengann Kris dalam urusan membesarkan Daniel. Jessica merasa mereka adalah tim yang kompak. Tapi kenapa mereka jadi seperti ini?

Tidak. Semua sudah benar. Semua memang harus seperti ini, Jessica membatin.

>>>

Seohyun tersenyum tipis lalu membungkuk kepada Kris. Kris balas membungkuk. Setelah berpamitan, Kris kembali masuk ke dalam mobil dan menggas mobilnya menuju rumah. Kris ke rumah Seohyun hanya untuk mengantarkan Jessica.

Setelah kepergian Kris, Jessica memeluk tangan Seohyun dan menariknya ke dalam rumah. Kedatangan Jessica yang mendadak membuat Seohyun tercengang bingung. Tidak biasanya Jessica datang tanpa kabar. Seohyun mengecek handphonenya. Nyala. Berarti alasannya bukan karena handphone Seohyun mati lagi, kan?

“Wae, eonni?” akhirnya Seohyun bertanya.

Jessica menoleh. “Uh?”

“Kenapa tiba-tiba datang ke rumahku?”

“Memang kenapa? Apa aku mengganggumu?”

Seohyun menggeleng cepat. “Bukan begitu. Tapi, sepertinya aneh sekali jika eonni datang ke rumahku tanpa pemberitahuan dahulu.”

“Molla.” Jessica mengangkat bahunya. “Lagian aku datang ke sini untuk menemanimu. Aku tahu kau pasti kesepian, kan?”

Seohyun mengerutkan keningnya. “Eonni, sepertinya aku sudah bilang kalau hari ini aku ingin fokus menyelesaikan novelku selanjutnya? Jadi aku meminta semuanya untuk tidak menggangguku.”

Jessica mengerjapkan matanya. “Jeongmal?”

>>>

Jessica mendesah pelan sambil menatap Seohyun yang sibuk mengetik di laptopnya. Pekerjaan Seohyun sebagai novelis memang sering mengganggunya. Terkadang ia tidak bisa mengajak Seohyun keluar dan menikmati hari. Sesekali juga, Jessica berdoa agar Seohyun segera menikah dengan pacarnya. Mungkin Seohyun akan berhenti menjadi novelis dan akan memiliki waktu luang sebanyak Jessica?

Oh, omong-omong soal pacar Seohyun, Jessica tidak mendengar kabar tentangnya hari ini. Biasanya Seohyun memiliki sejuta cerita tentang pacarnya itu. Pacar Seohyun yang berumur lebih muda dari Seohyun dan juga childish, tentu saja menghasilkan banyak cerita. Dan sepertinya setiap perilaku pacarnya itu dijadikan inspirasi Seohyun.

“Seohyun-ah~” panggil Jessica akhirnya.

Seohyun berhenti mengetik dan menoleh. “Ne?”

“Bagaimana kabar Sehun?” tanya Jessica.

Alis kanan Seohyun terangkat. “Baik-baik saja. Wae?”

“Tidak ada kisah spesial darinya?”

“Kisah spesial?” Seohyun mendengus pelan. “Bagaimana bisa ada jika dia belum menghubungiku dari kemarin?”

Jessica membulatkan bibirnya. Oh, pantas saja…

>>>

Jessica tidak berlama-lama di rumah Seohyun. Dia segera mengambil seribu langkah dari rumah Seohyun saat menerima pesan dari Luhan. Luhan memintanya untuk menemaninya berkeliling di sekitar Seoul. Antara memang bosan dicueki oleh Seohyun dan merindukan saat-saat berdua dengan Luhan, Jessica dengan semangat menuju tempat mereka berjanji bertemu.

Seohyun tidak tahu apa-apa. Jessica sengaja menutup mulut dari mencari alasan lainnya. Itu semua di karenakan sikap Seohyun kepada Luhan yang terasa aneh oleh Jessica. Jessica tidak yakin apa Seohyun membenci Luhan atau tidak. Ditambah mood Seohyun yang sepertinya sedang tidak baik, lebih baik Jessica menutup mulut soal ini.

Luhan dan Jessica berkeliling di tempat-tempat umum biasa. Ke museum, perpustakaan dan taman untuk hari ini. Tentu saja mereka kesana tidak hanya karena alasan berjalan-jalan atau melihat-lihat. Tapi juga mengingat kenangan mereka 6 tahun yang lalu. Kini mereka sedang beristirahat di taman.

“Jessica, apa kau mendengarkanku?”

Jessica menoleh kaget. Dia mengerjapkan mata dan menatap Luhan bingung. Dan baru ingat kalau dia sedang bersama Luhan. Tapi pikirkannya melayang jauh entah kemana. Hanya Jessica yang tahu. Tak lama, dia meringis pelan. Kekehan pelan keluar dari bibirnya.

“Mianhae. Ada yang sedang ku pikirkan,” ujar Jessica pelan.

Luhan mengangkat alisnya. “Tentang?”

“Lupakan..” Jessica tersenyum tipis. “Apa yang kau katakan tadi?”

“Apa kau ingat akan kenangan kita di taman ini?” ulang Luhan.

Jessica terdiam. Dia melirik ke sekitarnya. Ya, mereka sedang berada di sebuah taman yang penuh dengan kenangan. Di taman itu, Jessica dan Luhan pertama kali bertemu. Dan di taman itu juga, Jessica dan Luhan berpisah. Jessica menggigit bibirnya.

“Tidak.” Akhirnya sebuah jawaban keluar dari mulutnya setelah beberapa waktu Jessica terdiam.

“Sungguh?”

“Ne..”

Jessica memilih untuk mengelaknya. Dia tidak mau Luhan membahas topik yang dihindari oleh Jessica. Luhan melirik Jessica bingung. Tak lama dia mengangkat bahunya. Dia tahu Jessica ingat. Tapi biarkan Jessica mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Oh iya, kau ke sini karena proyek kerja, kan? Mulai kapan kau akan bekerja? Juga dimana kau tinggal selama bekerja disini?” seru Jessica.

“Aku tinggal di apartemen di sekitar sini. Dan sepertinya besok, aku sudah dipanggil ke kantor. Makanya aku memintamu menemaniku hari ini karena mulai besok, aku sudah disibukkan dengan pekerjaan. Apalagi katanya salah satu rekan satu proyekku sedang mengambil cuti seminggu. Jadi aku harus bekerja ekstra keras agar proyek ini cepat selesai,” jawab Luhan. “Mau main ke apartemenku.”

“Oh, hm..” Jessica melirik jam tangannya. “Sepertinya tidak. Sebentar lagi waktunya Daniel pulang. Aku harus menjemputnya.”

Luhan melirik jam tangan Jessica penuh arti. Tak lama dia mendesah berat. “Kalau begitu, biar aku akan menemanimu menjemput Daniel.”

“Gwencana. Biar aku saja!” tolak Jessica cepat.

“Wae? Kau masih menyembunyikan Daniel dariku?”

Jessica menggigit bibirnya. “Ku mohon, jangan..”

“Terserahmu. Lebih baik aku pulang sekarang. Mau ke halte bersama?” tawar Luhan sambil bangkit dan berjalan menuju halte tanpa melihat ke Jessica sedikit pun.

Jessica segera mengejar Luhan. “Kau marah padaku? Hanya karena aku tidak membolehkanmu menemaniku?”

Luhan berhenti melangkah tiba-tiba, menyebabkan Jessica tidak sengaja menabrak Luhan. Jessica langsung mundur beberapa langkah untuk menyesuaikan jarak mereka. Luhan menarik nafas dalam sebelum berbalik badan.

“Sica, apa kau tidak sadar? Aku tidak marah karena itu. Aku marah karena jam tanganmu!” kesal Luhan.

Jessica melirik jam tangannya lalu mengangkat tangannya hingga jam tangannya sejajar dengan wajahnya. “Ini? Apa yang salah dengan ini?”

Luhan memutar matanya.

>>>

“Yo, Danny!”

Jessica menangkap Daniel yang berlari ke arahnya lalu menggendongnya. Ia tidak lupa berhigh five dengan Daniel. Jessica mengecup pipi anaknya saat anaknya mulai menceritakan harinya di sekolah.

Mom, apa Daddy datang?” tanya Daniel tiba-tiba.

“Eh?” Jessica mengerjap. “Aniya. Waeyo?”

Daniel menggeleng. “Animnida. Ku kira Daddy akan menjemputku. Daddy sudah berjanji akan menjemputku hari ini.”

Jessica mengulum bibirnya. Perasaannya mulai tidak enak setelah mendengar kata-kata Daniel. Kris.. berjanji menjemput Daniel?

Seseorang menepuk bahu Jessica. “Hei.”

Dad~” pekik Daniel senang.

Jessica menepuk keningnya. Bersyukurlah aku tidak membiarkanmu datang, Luhannie..

>>>

Luhan menghempas tubuhnya ke kasur. Dia memejamkan matanya sesaat lalu menatap lengan tangannya. Tidak, tepatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan itu. Sebuah jam tangan yang sudah tua lama namun tetap berfungsi baik karena dirawat dengan baik oleh Luhan.

“Hei, kenapa kau membawaku ke sini?” bingung Luhan saat Jessica membawanya ke toko jam sepulang sekolah.

“Supaya kau ingat waktu!” jawab Jessica yang sedang meneliti setiap jam tangan di lemari kaca itu.

“Heh??” Luhan memicingkan matanya. “Loh bukannya kamu yang harusnya ingat waktu? Kan kalau kau tidur, kau tidak akan ingat waktu.”

Jessica merengut dan menoleh. “Kita sesama pecinta kasur, kan? Tidak usah menghinaku!”

“Siapa yang menghina? Babo~”

“Hei, tuan yang ulangan bahasa Koreanya 30 lebih baik diam! Seenaknya saja mengatakanku bodoh. Padahal kau lebih bodoh. Katanya pintar? Tapi kok ulangannya mendapat nilai 30?” cibir Jessica.

Luhan menoyor kepala Jessica. “Hei! Aku bukan orang Korea. Pantas jika aku mendapat nilai jelek, kan?”

“Alasan~”

“Aku pulang!”

Jessica segera menangkap tangan Luhan. “Eh, aish! Jangan dulu! Ku belikan jam tangan dulu baru kita pulang.”

“Kau belikan?”

“Iya, appa memberikanku uang lebih karena mendapat nilai sempurna pada ulangan matematika. Sebagai tanda terima kasih juga karena sudah mengajariku matematika. Hehe..”

Luhan berjalan ke samping Jessica dan menilik deretan jam tangan itu. “Bagaimana jika kau membelikanku jam tangan dan aku membelikanmu jam tangan.”

Jessica mengangguk cepat. “Ide bagus! Tapi harus dipakai terus, ya?”

Luhan menghela nafas panjang. “Dan lihat siapa yang mengingkarinya, Jessica Jung? Bahkan sepertinya kau melupakan janji kita.”

Luhan kembali memperhatikan jam tangannya. Tak lama dia menghela nafas lagi. “Tidak. Aku tidak bisa ikut mengingkarinya.”

>>>

Seohyun kembali melangkah ke dapurnya untuk mengisi tekonya dengan air hangat sebagai peneman dirinya menyelesaikan bab-bab novel terbarunya. Editornya sudah menanggih bab-bab selanjutnya. Editornya memang mengawasi langsung berkembangan cerita yang sedang dibuat oleh Seohyun. Tapi sayang, tidak terlalu banyak inspirasi di otak Seohyun.

Sambil menunggu tekonya terisi penuh, dia mengeluarkan handphonenya. Pikiran yang sama kembali muncul di otaknya.

Handphoneku tidak mati, kan? Kenapa tidak ada pesan atau telepon darinya?, pikir Seohyun bingung.

Seohyun mengembalikan tuas dispensernya dan membawa teko itu kembali ke atas meja yang biasa digunakan untuk mengetik cerita. Meja di samping jendela. Pemandangan diluar jendela itu menyejukkan matanya saat matanya mulai lelah. Halaman penuh dengan bunga memang tidak pernah gagal membuat matanya kembali cerah.

Tepat saat teko itu diletakkan di atas meja, handphonenya berdering. Seohyun segera mengangkatnya. Hatinya terus berharap telepon itu dari orang yang ia tunggu sepanjang hari ini.

“Yoboseyo..” salamnya.

Suara kekehan lembut khas Sehun menggelitik telinga Seohyun. Seohyun menggigit bibirnya.

“Kenapa tertawa? Apa yang lucu? Kenapa kau tidak menghubungiku sejak kemarin? Lagi sibuk kah? Sibuk apa?” berondong Seohyun.

“Noona, jangan salahkan aku kalau aku tidak menghubungimu. Kau sendiri yang kemarin memintaku untuk tidak mengganggumu, kan?” desah Sehun. “Oh ya, sudah makan?”

“Eh? Memang sekarang jam berapa?”

“Jam 3 sore. Jangan bilang kau belum makan siang!”

Seohyun meringis pelan. “Memang belum.”

“Tunggu! Aku akan segera kesana!”

>>>

Sehun sedikit mendorong mangkuk berisi nasi agar mangkuk itu semakin dekat dengan Seohyun. Sedangkan Seohyun menatap makanan itu ragu. Sehun menghela nafas panjang.

“Tenang saja. Itu semua makanan sehat. Mukan makan cepat saji atau makanan yang mengandung zat-zat pengawet buatan. Ibuku sendiri yang memasaknya,” kata Sehun.

Seohyun menyengir. Tangannya bergerak untuk memegang sendok. “Selamat makan!”

Sehun bersendagu dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya terlipar di atas meja. Dia tersenyum tipis sambil memperhatikan Seohyun menyantap semua makanan yang ia bawa. Pekerjaan Seohyun sebagai novelis terkadang membuat Seohyun lupa waktu. Terkadang Seohyun lupa memasak untuk makannya tapi Seohyun tidak suka makan cepat saji. Memang merepotkan.

Sehun mengerjap bingung saat Seohyun menyuapkan sup daging kepadanya. Seohyun hanya membalasnya dengan senyuman lebar. Sehun mengunyahnya perlahan. Senyuman tidak bisa ia tahan. Kenapa dia harus tergila-gila dengan gadis yang lebih tua darinya? Yang bahkan walaupun mandiri, tetap saja selalu berhasil membuatnya khawatir.

“Ibumu datang ke apartemenmu atau mengirim makanan?” tanya Seohyun disela aktivitas makannya.

“Mengirimnya. Wae?” jawab Sehun.

“Kalau misalnya ibumu datang ke apartemenmu dan memasak untukmu, ku bunuh kau karena tidak memberitahuku!” gerutu Seohyun lalu menyuap nasinya.

Sehun terkekeh. “Tenang saja. Aku pasti akan beritahumu. Karena kedatangan orangtuaku adalah harga mati bagimu, kan? Ya.. ya.. aku tahu kok.”

Seohyun terkekeh pelan. Sehun kembali diam sambil memperhatikan Seohyun. Oh sudah berapa hari mereka tidak bertemu? Sehun sibuk dengan kuliahnya akhir-akhir ini sehingga tidak sempat menemui Seohyun. Saat bebas, malah Seohyun yang sibuk. Sepertinya sudah lama sekali tidak mengerjai Seohyun. Sehun menyeringai jahil.

“Noona~” panggil Sehun untuk memulai rencananya.

Seohyun berhenti dari aktivitasnya dan menatap Sehun. “Ne?”

“Ada nasi di bibirmu,” kata Sehun dengan wajah meyakinkan.

“Ne?” Seohyun mengambil tissue dan mengelap sekitar bibirnya. “Sudah hilang?”

“Belum.”

Seohyun kembali mengelap sekitarnya bibirnya. Tapi Sehun masih juga bilang belum. Seohyun menjilat bibirnya kesal. Ia mulai merasa rencana jahil Sehun. Sehun memang suka mengerjainya, kan?

“Kau bohong, ya?” desis Seohyun kesal.

Sehun menggeleng dengan wajah polos. “Aku jujur.”

“Bohong! Buktinya sudah ku bersihkan tapi kau bilang masih belum hilang, kan?”

Sehun mendesah. “Biar aku yang bersihkan kalau begitu jika kau tidak percaya.”

Sehun bangkit dari kursinya dan mencoba menyentuh bibir Seohyun. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik kembali. Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Seohyun. Benar-benar dekat hingga membuat Seohyun kehabisan oksigennya. Sehun yakin wajah Seohyun pasti sudah merah sekarang. Soal umur, Seohyun boleh lebih tua dari Sehun. Tapi soal urusan percintaan, Seohyun jauh lebih polos darinya.

Melihat Sehun terkekeh, Seohyun mendengus kesal. Dia tahu Sehun hanya ingin menggodanya. Hanya ini? Siapa takut? Seohyun berani mengikuti permainan Sehun. Dia semakin mendekat wajahnya ke arah Sehun dengan harapan membuat Sehun kelabakan. Tapi Sehun malah menekan bibir Seohyun dengan bibirnya.

Seohyun langsung menarik wajah. “S-sehun… Sehun-ah!”

“Salahmu sendiri yang sok berani,” sahut Sehun sambil menutup sebagian wajah dengan tangan. Siapa yang tahu kalau wajah Sehun juga memerah?

•••

Dad, ppaliwa~” teriak Daniel.

Rumah itu benar-benar ramai pagi itu. Daniel berlari kesana kemari. Tas di punggung berayun, membuat anak kecil itu semakin terlihat menggemaskan. Setelah ia kira semuanya sudah lengkap, Daniel berlari ke kamar ayahnya itu. Ia bisa melihat ayahnya yang sedang menelepon seseorang.

“Oh, Minseok-ah, aku harus segera pergi. Sampaikan salamku kepada orang itu,” kata Kris saat Daniel memeluk kaki panjangnya.

Kris menggendong Daniel dan membawanya ke halaman rumah. Di sana, Jessica sudah menunggu mereka dengan posisi bersandar di mobil sambil melipat tangannya di dada. Seperti Jessica dan Daniel sudah menunggu Kris sedari tadi. Tapi Kris malah sibuk berbicara dengan Minseok. Tunggu, bukankah Kris sudah bilang di cuti dari segala urusan kantor selama seminggu? Tidak seharusnya Kris berbicara tentang kantor dengan Minseok di pagi hari.

“Iya.. mian. Ada urusan penting tadi. Maaf sudah membuatmu menunggu, nyonya Wu,” kata Kris dengan cengiran khasnya.

Jessica hanya memutar matanya. Dia menghampiri Kris dan mengambil tas Daniel.

“Kau tidak lupa, kan, kalau hari ada acara keluarga di sekolah Daniel?” tanya Jessica mewanti-wanti.

“Aku ingat. Daniel tidak berhenti membicarakannys sejak semalam, Sic,” sahut Kris sambil menekan tombol untuk membukan kunci otomatis mobilnya lalu membuka pintu mobil.

Daniel hanya tertawa sambil menepuk tangannya bangga. Terlihat sekali kalau Daniel benar-benar bersemangat. Jessica tersenyum tipis melihat. Dia hanya berdoa agar hari ini tidak dihancurkan oleh siapapun. Karena Jessica yakin, hari ini akan menjadi salah satu hari bersejarah bagi Daniel.

>>>

Luhan mulai merapikan barang-barang di meja barunya itu. Mulai hari ini, Luhan resmi bertugas di kantor itu dan menempati meja itu. Salah satu teman seproyeknya dari perusahaan itu—Minseok—menghampirinya dan menjabat tangannya.

“Selamat datang di perusahaan kami,” kata Minseok.

Luhan tersenyum lebar. “Ne. Mohon bantuannya. Oh, perkenalkan namaku Luhan.”

“Ya, aku tahu. Aku ada saat kau mempresentasikan konsep proyek kita,” balas Minseok. Ia melirik benda yang ada ditangan Luhan. “Kamus? Padahal ku pikir hangulmu itu benar-benar baik loh.”

“Oh ini?” Luhan mengangkat kamusnya sekilas. “Aku tidak benar-benar memakainya. Hanya saja ini sudah seperti benda keberuntunganku dalam hal berkomunikasi dengan bahasa Korea. Ya begitulah.”

“Pasti kamus itu bermakna cukup dalam bagimu, ya?” tebak Minseok.

Luhan terkekeh. “Ya begitulah.”

“Jeongmal?”

“Aku akan berbagi sedikit cerita denganmu. Dulu aku sempat tinggal dan bersekolah di sini. Aku belum sefasih sekarang. Sahabatku lah yang memberikannya kepadaku. Sejak itu, ini adalah salah satu benda terpenting bagiku.”

“Sahabat? Ku rasa hubungan kali lebih dari sahabat,” goda Minseok.

Luhan hanya tertawa mendengarnya. Dia menatap kamus itu. Kamus itu mengingatkannya akan kenangannya dulu.

“Luhan-ssi! Lihat apa yang ku bawa~ aku membelikanmu kamus!” seru Jessica.

Luhan merengut. “Tapi kau kan tahu aku tidak terlalu bisa bahasa inggris.”

Jessica mengetuk kepala Luhan dari kamus itu. “Ini bukan kamus Inggris-Korea tapi Cina-Korea. Lihat baik-baik!”

“Hei, jangan melamun! Pasti melamunkan orang yang memberikan kamus itu, kan?” seru Minseok.

Luhan terkekeh. “Mungkin?”

=== Calling Out ===

 

Gimana kisahnya? Semakin aneh atau semakin jelas nih? Ayo komen~ .__.

Advertisements

21 responses to “[Series] Calling Out (Chapter 2)

  1. Daebak,
    nggak tau knp pas baca ni ff,
    feelny dpt bgt,
    kisah masa lalu jessica jg udah mulai trungkap.
    Tp msh ada misteri yg terselubung (?),
    next chapter ditunggu bgt nih,
    krissica m0ment ny kalo bisa ditambahin y,
    #ditabok author

  2. Akhirnya keluar juga nih ff.
    Aku suka banget momment2 Krissica, tp di part ini cuma dikit ya
    Koq masi belum ada perkembangan ya hubungan antara Kris-Sica?
    Apa author gak menakdirkan mereka bersama? #ReaderSokTau
    Ditunggu deh next partnya ^^

    • hehe sabar aja lah~ kalo moment krissica langsung seabrek malah aneh nanti ceritanya .__.v
      takdirin ga ya? ga deh. kan…. tuhan yg tahu ku cinta kris~~ *nyanyi*

  3. Sebenarnya hubungan Luhan dan Sica masih belum terlihat jelas, onn. Ciyee.. Magnae couple- Seohyun dan Sehun to twitt banget. Seohyun sok berani sih XD

    Di chapter ini Krissica-nya kurang ya? Sepertinya Luhan cinta banget sama Sica. Duh- mana Luhan kerja satu kantor tuh sama Kris. Bisa berabe XD

    Ngakak pas baca ‘Pecinta Kasur’. LOL! Ketahuan banget ya Kris-Sica-Luhan itu pecinta kasur XD

    Segera di lanjut, onnie..

    • tapi kan setidaknya agak jelasan kan? :3
      huahaha pas scene magnae couple, dapet kan feelnya? :3
      karna selanjutnya krissica yg akan mendominasi. makanya yg disini didikitin dulu .-.
      iya bener. kan jadi serem tuh kalo kris dan luhan ketemu ;A;
      itu karna saya juga kasur family shipper XDDD

  4. Aa… SeoHun Couple :3 ..
    Luhan cinta sama jessie ya? au ah..
    Feelnya dapet kok walaupun ada typo tapi wajar sih bikin FF tuh gak gampang..
    Lanjut ya thor ^^

  5. ahkhirmya dipublish juga *sujud syukur*
    wah,kayak nya part selanjutnya ribet ya karena Luhan jadi partner kerjannya kris?
    Luhan suka ama jess?
    waa author daebak membuat alur + penasaran readers..
    SeoHun moment romantis amat u,u KrisSica sekali-sekali buat moment romantis dong..
    FF ini FF yang aku sukaa,oh iya. FF mistake nya kapan dipublish?

  6. Waaaaaakkkk akhirnya chapter ini keluar jugaaa, ditungguin loooh haha. Anyway, aku suka deh relationship antara luhan ama jessie, gatau kenapa, sejenak ngelupain kalo aku krissica shipper *eh
    tapi mereka berdua cocok bgt kalo sahabatan aaaaa….dan aku masih ngga ngerti sama perjanjian seo kris kemaren hmmmmm
    dilanjut yaaaaaaaa…aku tunggu looooh
    fighting!

  7. fara~~~ gue suka Luhan-Jessica :3
    entahlah~ gue malah ngedoain kris-jessica End! *ditabok KriSica ship*
    seohyun sepertinya mendukung kris, ya? Gapapa lah luhan…. I’m yours (?) XD

    luhan kris 1 kantor yah? -,-
    wuhuuuuuu kayaknya bakal seru nih! XP

    ditunggu next chap yaaa~~ :3
    wait for luhan-jessica :p

    oh iya, i choose to love you kapan? T^T

  8. moment SeoHun nya lucu ^^
    banyakin KriSica moment dong! *maksa
    jadi luhan suka ya sama jess?
    ceritanya..? semakin JELAS keke..tapi aku masih adaptasi (?) dengan ff exoshidae, maklum belum terbiasa..

  9. eeh kirain ngga tbc,keasyikan bacanya taunya bersambung!
    scene seo sama sehun lucu,maknae dapet brondong hehe…
    luhan jangan sampe ngeberantakin hub jess sama kris ah 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s