[Series] You and I (Chapter 7)

Author : Lee Hyura

Title : You and I

Genre : Fantasy, Romance

Rating : PG

Cast :

  • Kang Minhyun (OC)
  • EXO Baekhyun
  • EXO Kai

Previous : [You and I] Teaser | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 — [Wind on The Way] Oneshoot

Note : Ini jadi chapter terakhir yang aku post bulan ini. Hehe.. soalnya pas masuk nanti, aku bakal langsung persiapan UTS ;___; jadi ga bisa buat ff dulu. Mian ya~

 

Previous chapter.

Sepertinya bukan hanya Minhyun yang penasaran dengan Baekhyun. Karena ternyata Kai juga ikut penasaran dengan Baekhyun. Apalagi saat temannya berkata Baekhyun menjauhi piano. Padahal Minhyun pernah memergokinya memainkan piano dengan lagu yang sering dimainkan oleh ‘Baekhyun’ buatan situs aneh itu.

Sosok Baekhyun yang tiba-tiba baik walaupun tetap menyebalkan membuat Minhyun semakin bingung. Apalagi saat Baekhyun menjahilinya.

Kini Minhyun diminta menjadi seorang babysitter dari kucing Baekhyun yang juga diberi nama Minhyun. Bagaimana cara Minhyun (manusia) mengurusi Minhyun (kucing)?

=== You and I ===

From : kangminhyun@yahoo.com

Cc : –

Subject : Hari-hariku di kampus

Hari ini hari pertama aku kuliah. Tidak terlalu buruk. Tubuhku terasa di atas awan. SNU, sunbae! SNU! Seindah namanya 🙂 Aku benar-benar bangga bisa kuliah disini. Ups, aku tidak bermaksud untuk sombong. Hanya berbagi cerita. Lagipula kampusmu jauh lebih baik dariku. Kekeke

Tau, tidak? Aku bertemu Jongin sunbae! Huh, dia sok sekali~ dia memintaku untuk dipanggil Kai. Duh.. payah. Namanya aneh sekali. Haha, tapi jangan kasih tahu dia, ya 😀

Jongin.. maksudku, Kai.. haha.. Kai membantuku pindah ke apartemen baruku. Ingat, kan? Aku pernah cerita kalau orangtuaku pindah keluar kota karena pekerjaan, kan? Mereka membelikanku sebuah apartemen di dekat SNU. Kai dan aku tercengang karena ternyata orangtuaku membelikanku apartemen mewah. Aduh mereka terlalu berlebihan -_-

Bagaimana denganmu? Sudah lama sunbae tidak membalas emailku. Apa ada masalah? Atau kau sangat sibuk? Ayolah berbagi cerita denganku. Aku merindukanmu 😦

Sulli tersenyum tipis –geli. Tangannya ingin sekali mengetik balasan. Tapi dia tahan dirinya untuk melakukan itu. Tidak. Dia tidak bisa melakukannya. Atau rencananya akan hancur begitu saja.

Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Sulli menoleh dan mendesah pelan. Dengan langkah malas, ia menuju pintu kamarnya dan membukanya. Teman dekatnya selama di New York lah yang mengetuk pintu kamarnya. Jennifer tersenyum tipis saat Sulli menatap tubuhnya yang terbalut dengan gaun pendek dan ketat.

Let’s go clubing, babe,” ajak Jennifer.

Sulli mengeluarkan kekehan pelan. “Sorry, Jennie. I can’t. Tomorrow I’m going to go Korea. I cant go with headache, can i?”

Jennifer menyibak rambutnya. “Enjoy yourself then.”

You too,” balas Sulli dengan kedipan mata untuk menyindir temannya itu.

•••

Perjalanan jauh dari Amerika menuju Korea cukup membuat tubuhnya sedikit terasa kaku. Dia hanya diam di kursinya sepanjang waktu sambil menonton film atau membaca buku. Dia bangkit dari duduknya hanya untuk ke toilet. Tapi tak apa. Karena akhirnya dia bisa sampai di Korea. Supirnya sudah menunggu di pintu terminal tempat ia keluar. Supir itu membawakan koper Sulli dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil sedangkan Sulli sudah mengambil posisi nyaman di mobil.

“Nona, ayahmu ingin kau pergi ke perusahaan dulu sebelum pulang,” kata sang supir.

Sulli menoleh. Dia terlihat menimbang-nimbang sesuatu. Akhirnya dia mengangguk. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali segera menuju apartemen Minhyun, tapi ayahnya lebih penting. Apapun yang berhubungan dengan ayahnya penting. Itu lah yang diajarkan oleh pria itu kepadanya sejak kecil.

Saat Sulli ingin melanjutkan membaca bukunya, ia teringat sesuatu.

“Hm, memang untuk apa aku diminta ke perusahaan? Ada acara penting?” tanya Sulli ragu.

“Ya begitulah. Banyak relasi penting tuan yang diundang juga,” jawab supir itu.

Pesta bisnis? Jangan bilang aku akan dijodohkan? Pria tua sialan!, Sulli menyibir dalam hati.

“Oh ya, tahu apartemen mewah dengan Seoul Nation University?” tanya Sulli lagi.

Supir itu mengangguk sambil membelokkan mobilnya. “Tentu saja. Tidak mungkin aku tidak tahu.”

>>>

Tepat saat ia sampai di depan kantor pusat, dia segera masuk ke dalam sedangkan supirnya menunggu di sana. Dia masuk ke dalam lift dan menekan tombol ke lantai 13. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Saat pintu lift terbuka, kakinya melangkah dengan berat menuju ruangan ayahnya. Semakin lama, semakin berat hingga Sulli merasa perlu menyeret kakinya.

Benar saja. Saat dia mengetuk pintu ruangan ayahnya, pintu itu dibuka oleh seseorang yang tidak asing baginya. Orang yang selama ini dia hindari. Jantung Sulli berdetak cepat. Terlalu cepat hingga Sulli merasa jantungnya sama sekali tidak berdetak. Nafasnya tidak beraturan.

“Oppa?” Sulli berusaha untuk mengeluarkan suaranya tapi tidak keluar.

Kakaknya itu melipat tangannya. “Hai, Sulli. Akhirnya kau pulang juga.”

Sulli menundukkan kepalanya –tak berani melihat orang itu. Sedangkan ayahnya duduk di kursinya sambil bersendagu di atas meja. Matanya tertuju kepada putri bungsunya.

“Jinri-ya, duduklah,” kata tuan Choi.

Sulli mengangguk. Ia mencoba untuk melangkahkan kakinya menuju kursi didepan ayahnya tapi kakinya sama sekali tidak mau digerakan.

Fuck! Fuck! Fuck! You idiot! Take a step! Come on! Fuck! Why you can’t?!

Dia memaki dalam hati. Dia berusaha untuk mengangkat kakinya. Akhirnya dia berhasil dengan perlahan sampai di depan ayahnya dan duduk. Sang kakak mengambil tempat duduk disamping Sulli.

“Bagaimana dengan sekolahmu disana?” tanya tuan Choi.

“Baik,” Sulli menjawabnya singkat.

“Bagaimana hidupmu disana?”

“Baik.”

“Apa fasilitasmu memenuhi?”

“Ya.”

Tuan Choi mengangkat alisnya bingung. Sulli sepertinya sedang tidak ingin berbicara. Wajahnya pun pucat.

“kau baik-baik saja? Jet lag?” tanya kakaknya.

“Tidak, Baekhyun!” Sulli menjawabnya dengan nada tinggi. Dia benar-benar merasa gugup sekarang. “Tidak.. ku mohon. Diamlah. Biarkan semua ini cepat selesai.”

•••

“Jinri-ya, ayo ikut kami ke rumah sakit!” ajak ibunya saat Sulli baru saja menginjakkan kakinya di lantai rumahnya.

 

Sulli menggeleng pelan. Dia masih merasa lemas. Hatinya merasa sangat bersalah kepada Minhyun karena secara tidak langsung, ia lah yang membuat Baekhyun pingsan yang bahkan belum sadar juga sampai ia meminta izin untuk pulang.

 

“Ayolah! Baekhyun dalam keadaan sekarat!” tekan ibunya.

 

Sulli terhenyak. “Apa? Baekhyun?”

 

“Kau lupa dengan kakakmu sendiri?”

 

Sulli menggeleng cepat. Dia biarkan tangannya ditarik oleh ibunya. Tidak, ibu tirinya.

>>> 

Sulli tertidur di kursi ruang tunggu. Dia terbangun saat mendengar suara langkah berlari beberapa orang. Dia langsung menatap ke arah tujuan para orang-orang itu. Kamar kakaknya. Kakak tirinya yang selama ini selalu membuatnya menjadi yang kedua. Dengan langkah gontai, dia bangkit dan berjalan ke pintu kamar itu. Dia melirik dari kaca pintu. Dia bisa melihat wajah kelegaan dokter dan mata Baekhyun yang terbuka.

 

Sulli melangkah mundur sambil menutup mulutnya tak percaya. Air matanya mengalir deras. Kakaknya yang selama ini koma selama 1 tahun karena terjatuh dari tebing curam karena menolongnya akhirnya sadar. Entah ia harus senang atau sedih. Karena alasan Baekhyun jatuh saat itu adalah bagian dari rencananya untuk mengenyahkan Baekhyun. Ia terlalu iri kepada Baekhyun yang selalu di-nomor-satu-kan oleh kedua orangtuanya. Walaupun perilaku Baekhyun yang terlihat tidak sudi ibunya menikah dengan ayah Sulli. Bahkan Baekhyun tidak mau mengganti marganya menjadi Choi. Sulli membencinya. Juga menyayanginya.

•••

Minhyun menggerak-gerakan benang wol pendek untuk mengambil perhatian si kucing ‘Minhyun’. Anak kucing itu terlihat asik mengejar benang itu. Melompat untuk menangkap lalu menggigitnya. Tapi setelah itu ia tendang. Minhyun terkikik melihat kelakuan anak kucing itu.

“Minhyun-ah, kenapa kucing selucumu bisa mempunyai majikan menyebalkan seperti Baekhyun sunbae?” gumam Minhyun meniup poninya gemas.

Anak kucing itu tidak memperdulikan kata-kata Minhyun dan terus asik memainkan benang yang gerakan oleh Minhyun. Minhyun mendesah pelan. Ia rasa ia sudah bermain seharian dengan kucing itu. Dia harus mengerjakan tugas kuliahnya sekarang. Tapi sepertinya Baekhyun belum pulang.

“Sudah jam 9?” gumamnya sambil menatap jam dindingnya. “Hei, kenapa kau belum pulang juga, tuan Byun Baekhyun?”

Baru saja Minhyun mengatakan itu, seseorang menekan bel apartemennya. Minhyun segera bangkit dan menggendong kucing itu. Dia segera membuka pintunya. Wajah kesal yang sudah dipasangnya untuk Baekhyun berubah menjadi terkejut.

“Sehun sunbae?”

>>>

Baekhyun mendesah pelan sambil memperhatikan kalung tidak berbandul. Dia menggeram pelan. Baekhyun tidak menyangka Sulli akan bersikap dingin padanya setelah beberapa tahun ini tidak bertemu dengannya. Bahkan tadi adalah pertemuan pertama kalinya dengan Sulli setelah ia sadar dari komanya. Ya, Sulli pindah ke New York sebelum sempat bertemu dengan Baekhyun.

“Entahlah. Mungkin sedang PMS atau Jet Lag,” gumam Baekhyun.

Dia mempercepat langkahnya saat sadar sudah 15 menit sebelum jam 10 malam. Dia sedikit tidak enak dengan gadis itu. Sudah dipastikan awal semester adalah saat-saat yang berat bagi pada mahasiswa SNU. Begitu banyak tugas. Tapi Baekhyun malah menyusahkan gadis itu dengan kucingnya. Bagaimana Minhyun mengerjakan tugasnya?

Baekhyun bersiap untuk menekan bel apartemen Minhyun saat pintu itu terbuka. Minhyun (kucing) di tangan Kang Minhyun mengeong saat melihat Baekhyun. Disamping gadis itu ada seorang pria asing. Baekhyun tidak pernah melihat orang itu tapi orang itu terlihat sangat terkejut saat melihat Baekhyun.

“Maaf mengganggu. Aku hanya ingin mengambil Minhyun,” kata Baekhyun.

Minhyun langsung panik. “M-maksudnya kucing ini. Kucing ini adalah miliknya. Namanya Minhyun. Bukan aku.”

Pria itu mengangguk sambil menjilat bibirnya. Sedangkan Baekhyun tertawa geli. Minhyun dan pria itu menatap Baekhyun kaget.

“Jadi namamu juga Minhyun?” tanya Baekhyun.

Pria itu menatap Minhyun bingung. “Minhyun-ah, apa maksudnya ini?”

“Akan ku jelaskan besok, Sehun sunbae. Lebih baik kau pulang sekarang,” kata Minhyun cepat sambil mendorong Sehun ke arah lift berada.

Setelah Sehun pergi, Minhyun menatap Baekhyun tajam. Sedangkan Baekhyun hanya memasang wajah datar.

“Jadi selama ini kau tidak namaku adalah Minhyun?” tanya Minhyun akhirnya.

“Ku kira namamu gadis aneh. Karena kau sangat aneh,” jawab Baekhyun asal.

Minhyun mendesah. “Terserahlah! Ini kucingmu. Dan jangan ganggu aku lagi karena aku ingin mengerjakan tugas. Mengerti?”

“Mau ku bantu?”

“Sejak kapan kau jadi baik padaku?”

“Tsk, lebih baik aku pulang!”

Minhyun membelalakkan matanya. “Eh, andwae!”

“Terlambat! Aku sudah malas!”

•••

Kali ini Minhyun merasakan perih di bibirnya. Ternyata bibirnya terluka. Ia segera menyekanya dengan tissue. Mungkin luka itu akibat ia menggigit bibirnya terlalu kuat untuk mencegah ia menguap. Jika dia menguap, kartu merah dari professor Yoon.

“Minhyun-ssi, gwencana?” tanya Yookyung.

Minhyun menggeleng. “Gwencanayo.”

“Nona Kang, nona Nam, ada sesuatu yang seru di tempat dudukmu?” teriak professor Yoon.

Nam Yookyung menggeleng. “Ini tidak seru, prof. Ini menyakitkan. Bibir Minhyun berdarah.”

Professor Yoon memperhatikan tissue yang tertempel di bibir Minhyun. Tissue itu mulai basah oleh darah. Professor Yoon mendesah.

“Kang Minhyun, kau boleh pergi ke ruang kesehatan,” kata professor Yoon akhirnya.

Minhyun mengangguk. Dengan tangan kiri yang tetap menekan bibirnya dengan tissue, ia merapikan barang-barangnya dengan tangan kanannya. Setelah itu, ia bangkit dan membungkuk kepada professor Yoon sebelum pergi keluar dari kelas.

Bagaimana bisa dosen itu ingat namaku tanpa melihat daftar absen? Dia hafal semua nama muridnya. Keren!, batin Minhyun.

Sekarang kemana dia pergi? Ke ruang kesehatan? Bahkan dia tidak tahu itu dimana. Oh lebih baik berkeliling saja. Atau kantin?

Minhyun mengganti tissue yang mulai basah itu dengan tissue baru. Bibirnya mati rasa jadi ia tidak merasa sakit. Tapi rasa kantuk masih juga menyerangnya. Ini semua akibat dia mengerjakan tugas-tugasnya dan tidur tidak sampai 2 jam. Tidak hanya tugas sih yang dia pikirkan. Tapi juga alasan Sehun datang ke apartemennya semalam.

“Kapan sampai di Korea, sunbae?” tanya Minhyun berbasa-basi.

 

Sehun tersenyum kecil sambil menatap anak kucing dipelukan Minhyun. “Tadi pagi dan akan kembali besok. Aku kesini untuk mengurus sesuatu. Jadi tidak lama. Lagipula masih banyak urusan di Jepang yang tidak bisa ku tinggal seenaknya.”

 

“Oh..” Minhyun mengangguk. “Bagaimana sunbae bisa tahu alamatku?” bingung Minhyun sambil meletakkan cangkit berisi teh di meja dekat Sehun.

 

“Aku bertanya kepada Kai. Maaf jika aku mengganggumu,” jawab Sehun.

 

“Tidak sama sekali.” Minhyun tersenyum tipis. “Ada apa?”

 

“Aku datang kesini untuk memberikan film ini. Maaf sudah menyimpannya terlalu lama.”

 

Sehun memberikan Minhyun sebuah memori. Minhyun menerimanya lalu memasukkannya ke dalam kameranya sendiri. Matanya terbelalak.

 

“Ini—“

 

“Itu Baekhyun saat mengiringi grup vokal.”

Minhyun tidak sadar kalau didepannya ada seseorang yang sedang membaca diktatnya karena sibuk dengan pikirannya. Akhirnya dia menabrak orang itu.

“Aduh!” ringis Minhyun. Sedangkan orang itu hanya mendesah pelan.

“Hati-hati, gadis aneh! Seenaknya saja menabrakku,” sungut Baekhyun.

Minhyun merengut. “Kenapa kau lagi?”

“Memang kenapa kalau aku lagi?”

Minhyun menggeleng pelan. Dia baru sadar tissuenya jatuh. Dia menyerahkan kameranya yang terselempang dibahunya juga beberapa diktat kepada Baekhyun lalu mengambil tissue baru. Setelah itu, baru lah ia mengambil kembali barang-barangnya.

“Gamsahamnida, sunbae. Aku pergi dulu,” kata Minhyun.

“Kau! Eesh..” Baekhyun berdecak sambil mengikuti Minhyun lalu menarik tangan Minhyun. “Bagaimana bisa bibirmu berdarah? Bodoh..”

“Bukan urusanmu, sunbae. Lepaskan tanganku!” desis Minhyun sengit.

“Aish, kau itu..”

Baekhyun menarik tangan Minhyun berbelok ke lorong gedung lainnya. Minhyun terkejut karenanya. Tapi seperti biasa, Minhyun hanya menerimanya. Entah kenapa, ia selalu kalah jika sudah ditarik oleh orang lain. Kebiasaan saat ia bersama Sulli dulu. Duh, bagaimana kalau ia ditarik penculik?

Minhyun mengerjap saat Baekhyun membawanya ke kantin kampus. Baekhyun menyuruhnya duduk lalu pergi ke salah satu kios. Tunggu, Baekhyun ingin menjajankan Minhyun? Dia kembali dengan sebuah kain yang membalut beberapa potongan es. Oh ternyata tebakan Minhyun salah. Baekhyun menarik tangan Minhyun yang menekan bibirnya dan menggantinya dengan kain itu.

“Pegang sendiri!” ketus Baekhyun.

Minhyun menurut. Dia mengangkat tangannya dan menggantikan tangan Baekhyun. Baekhyun mendesah sambil menghempaskan dirinya disamping Minhyun.

“Payah,” desah Baekhyun. Dia mengambil kamera milik Minhyun dan melihat hasil foto-foto Minhyun.

Minhyun menoleh. “Apa?”

“Jangan banyak bicara dulu, babo!” omel Baekhyun. “Payah. Karena aku selalu bertemu denganmu saat aku sedang frustasi.”

“Mungkin aku diutus untuk jadi tempat curahan hatimu?”

“Ku bilang jangan bicara dulu..”

Minhyun mengatup mulutnya erat-erat. Baekhyun menghela nafas pelan.

“Apa kau mempunyai adik atau kakak?” tanya Baekhyun.

Minhyun mengangguk.

“Bagaimana jika kakak atau adikmu melakukan kesalahan fatal padamu? Apa kau akan marah?”

Minhyun mengangkat bahunya.

Baekhyun menatap Minhyun bingung. “Hah?”

Minhyun memutar matanya kesal. Apa ini artinya Baekhyun memintanya menjawab dengan kata-kata bukan isyarat?

“Oh ya, aku lupa. Lupakan saja.” Baekhyun terkekeh sambil menepuk keningnya. “Aku pergi dulu.”

Minhyun terdiam sambil memperhatikan sosok Baekhyun yang mulai menjauh. Seperti ada yang aneh dengan Baekhyun. Sesuatu yang sepertinya… kenapa dia jadi memikirkan kameranya?

Pemikirannya terganggu oleh suara berisik dan membuatnya menoleh ke arah yang lain. Beberapa orang sibuk berbisik saat seseorang memasuki area kantin. Mata Minhyun membulat. Sulli!

Sulli menolehkan kepalanya ke segala arah sambil mencari sosok adik kelas kesayangannya itu. Akhirnya dia melihat sosok yang familiar itu sedang duduk sambil mengompres bibirnya. Sulli berlari ke sosok itu.

“Minhyun-ah~~” teriak Sulli.

Sulli memeluk Minhyun erat. Sangat erat hingga Minhyun tidak tahu apa dia bisa bernafas atau tidak.

“S-Sulli…” protes Minhyun berbisik.

Sulli melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Minhyun dengan senyum lebar di wajahnya. Tak lama senyum itu menghilang dan berganti cemberut saat melihat luka di bibir Minhyun.

“Siapa yang melakukan ini padamu? Katakan padaku!” geram Sulli.

Minhyun mendengus. “Aku.”

“Hah?”

“Aku yang melukai bibirku sendiri.”

>>>

“Aku kembali kemarin. Tapi karena ada urusan, aku tidak bisa langsung menemuimu,” jelas Sulli.

“Lalu kenapa kau bisa tahu aku ada di kantin?” tanya Minhyun lagi.

Sulli menyengir. “Aku bertanya kepada orang-orang. Mereka bilang kau ditarik oleh seseorang ke kantin. Siapa itu? Kai?”

Minhyun menjawabnya dengan gelengan lalu diam. Tidak mungkin dia menjawab bahwa Baekhyunlah orangnya. Bukan Kai. Tapi Sulli pasti akan terus bertanya sampai ia mendapatkan jawabannya. Minhyun mengerang pelan sambil menggaruk kepalanya gemas. Aduh..

“Pacarmu?” tebak Sulli ragu.

Seakan ada yang meninjunya tepat di perut, Minhyun terbatuk pelan. “Eng, hah?”

“Jadi benar itu pacarmu?”

Minhyun menggeleng cepat. “Bukan!!”

“Lalu siapa? Siapa orang itu? Apa dia orang yang spesial? Ayo ceritakan padaku! Aku sahabatmu, kan? Ayolah~ ku mohon. Ku mohon. Ku mohon!”

“Itu.. dia adalah—“

“Oh kau disini, Minhyun-ssi. Bukumu ada yang tertinggal,” seru Baekhyun. Baekhyun terbelalak saat melihat Sulli duduk disamping Minhyun. “Sulli-ya?”

Minhyun menggigit bibirnya sambil menatap kedua orangtua bergantian. Tidak berbeda dengan Baekhyun, Sulli pun membelalakkan matanya saat melihat sosok kakak tirinya disana. Dan kenal dengan Minhyun.

>>>

Kini Minhyun di mobil Sulli dalam perjalanan pulang menuju apartemen Minhyun. Minhyun meremas tangannya selama Sulli menceritakan semuanya. Hubungannya dengan Baekhyun. Dan juga kejadian dia mencelakakan Baekhyun hingga akhirnya Baekhyun koma di rumah sakit. Kini Minhyun mengerti maksud pertanyaan Baekhyun di kantin tadi.

“Jadi itu alasan sesungguhnya reaksi anehmu saat mendengar permainan piano Baekhyun? Itu alasan kau meminta Sehun untuk melakukan itu dulu?” tanya Minhyun.

Sulli menarik tangan kanannya dan menggigitnya sekilas lalu kembali menggenggam stir. Dia menghela nafas panjang. “Aku merasa sangat takut dan bersalah dulu. Makanya aku melakukan itu. Mianhae~”

“Aku tidak marah karena itu. Aku marah karena kau tidak pernah cerita tentang itu sebelumnya. Andai aku tahu, sejak awal, aku akan melanggar peraturan nomor 3.”

Minhyun mendesah pelan. Dia kembali memikirkan cerita Sulli. Semuanya…… mata Minhyun membulat.

“Sulli sunbae!” pekik Minhyun.

Kaget, Sulli langsung menginjak rem. Mereka akan terpental ke depan jika tidak memakai sabuk pengaman. Dan beruntung tidak ada kendaraan di belakang mereka. Jalanan itu tidak terlalu ramai. Sulli menatap Minhyun bingung. Sedang Minhyun terlihat shock karena rem mendadak itu.

“Ada apa?” tanya Sulli tidak sabar.

“Bagaimana jika ‘Baekhyun’ku adalah ‘Baekhyun’mu?” tebak Minhyun pelan dan ragu.

Sulli terdiam. “Mungkin..” gumam Sulli lirih. Sedetik kemudian, matanya menatap Minhyun jahil “Tunggu, apa? ‘Baekhyun’mu?”

Minhyun memutar matanya seraya mendengus. Dia membuka tasnya sementara Sulli kembali menjalankan mobilnya.

“Sunbae!” pekik Minhyun lagi.

“Aku sedang menyetir, Minhyun-ah. Berhenti membuatku kaget! Kau mau kecelakaan, ya?” sahut Sulli kesal.

“M-mian.. tapi kameraku hilang. Sepertinya ketinggalan di kampus. Boleh putar balik?”

Sulli mengernyit. “Tapi kau memang tidak membawa kamera, Minhyun-ah. Sejak aku bertemu denganmu. Aku sempat membongkar tasmu tadi, kan? Tidak ada..”

Minhyun terdiam sambil berpikir keras. Saat keluar dari kelas professor Yoon, dia masih membawanya di bahu. Sampai di bertemu Baekhyun. Lalu.. lalu…

Minhyun mengerang pelan. “Byun Baekhyun! Kameraku berada padanya! Aduh…”

>>>

Baekhyun menyandarkan punggung di jok mobil selama supirnya mengantarkannya menuju apartemennya. Matanya tertuju pada foto-foto di kamera itu. Ya, itu kamera Minhyun. Sepertinya Minhyun tidak sadar kalau sejak di kantin, kamera itu sudah berpindah tangan ke Baekhyun. Saat Baekhyun ingin mengembalikannya bersama buku itu pun, Baekhyun lupa karena pikirannya terpusat kepada Sulli. Baekhyun hanya menatap beberapa foto itu berkali-kali.

“Foto ini… dimana dia mengambil foto ini.. siapa orang-orang yang berbaris di dekatku? Aku tidak ingat pernah mengiringi nyanyian kecuali saat aku kecil…” gumam Baekhyun.

“Tidak, aku tidak mengenalnya. Dia hanya mirip dengan seseorang yang ku kenal.”

Baekhyun teringat kata-kata Minhyun saat temannya menanyakan tentangnya karena seenaknya masuk ke ruang musik dan mengganggu Baekhyun.

“Seseorang yang dia kenal…” Baekhyun mengernyit. “Dia juga mirip dengan seseorang yang ku kenal. Sepertinya dia tidak asing… Minhyun… nama itu yang selalu muncul di mimpiku sebelum aku bertemu dengan gadis itu, kan?”

Baekhyun menggigit bibirnya sambil menggaruk kepalanya bingung.

“Kenapa aku tidak bisa bersikap kasar padanya seperti saat pertama kali kita bertemu? Kenapa aku takut… menyakitinya? Dan apa hubungannya dengan Sulli? Aku tidak pernah tahu dia adalah teman Sulli. Kenapa dia sangat misterius sih?”

Baekhyun menggeram kesal. Dia bersumpah akan mengutus orang untuk mencari tahu soal Minhyun secara jelas. Dia terlalu penasaran dengan Minhyun. Dan dia harus mendapatkan jawabannya segera. Secepatnya! Harus.

Baekhyun mengeluarkan handphonenya dan menelepon salah satu anak buah ayahnya. Setelah memberikan perintah. Dia memutuskan hubungan telepon begitu saja dan kembali memperhatikan foto-foto itu.

=== You and I ===

Bagaimana? Panjang, kan? :p maaf kalo ada typo ya. hehe.. males ngedit. fufufu

Advertisements

7 responses to “[Series] You and I (Chapter 7)

  1. aq coment d sini aja. ..
    wahhh…udah mulai terungkap sdikit misteri tentang baekhyun..
    ternyata dy kakak tiri sulli…
    lanjuttt chingu….
    walaupun agak lama tpy jngan terlalu lama y…

  2. WAAA MIANHAE AKU BARU BACAAA *agak santai*
    Ternyata eh, ternyata Baekhyun itu kakak tirinya Sulli, hmm…. Trus Baekhyun bener juga sih, gamau ganti nama keluarganya jadi Choi, emg bakal aneh sih, Choi Baekhyun err-__-
    Tapi bagian Sulli nyamperin Minhyun ke kampus aku paling suka deh, akhirnyaaaa mereka ketemu, abisan Sulli sempet misterius sih,tiba-tiba ngilang gitu aja, haha…
    Nice chapter, ditunggu lanjutannya yaaaa. Fighting ^-^

  3. Keyyyeeeen!!!

    Aku mau lanjutannya, kapan?
    Eh, ini jadi waktu BaekHyun koman, arwahnya pergi terus menemui MinHyun sebagai makhluk jelmaan situs gitu? Bisa dibilang rohnya mengembara doong!!!

    Waah.
    Penasaraaannn >,<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s