[Series] You and I (Chapter 8)

 

Author : Lee Hyura

Title : You and I

Genre : Fantasy, Romance

Rating : PG

Cast :

  • Kang Minhyun (OC)
  • EXO Baekhyun
  • EXO Kai
  • EXO Sehun
  • F(x) Sulli
  • Lee Hana (OC)
  • Yoon Aerin (OC)

Note : ya aku kembali ^^ ga kembali secara utuh sih. Aku bisa comeback sekarang ya karena sekolahku libur dan hari kamis sampai minggu karena ada workshop dari pihak Bandung katanya. Ah bodo deh itu maksudnya apa. Yang penting.. LIBUR \^o^/

 

=== You and I ===

 

Baekhyun mendesah kesal. Pintu apartemennya diketuk berkali-kali bersamaan dengan bel yang ditekan terus-menerus. Sepertinya tamunya benar-benar tidak sabar. Dia berlari dan membuka pintu. Alisnya terangkat saat melihat sosok Minhyun di depan apartemennya. Wajahnya terlihat sangat geram. Sebelum Baekhyun sempat berkata sesuatu, Minhyun sudah terlebih dahulu membuka mulutnya.

 

“Kembalikan kameraku!” pinta Minhyun.

 

“Kamera?” Baekhyun menyeringai. “Kenapa meminta kameramu padaku?”

 

Minhyun memicingkan matanya. “Aku tahu kameraku ada padamu, sunbae. Cepat kembalikan!”

 

“Tidak ada padaku.”

 

“HAH?!” pekik Minhyun. “Berhenti becanda dan kembalikan kameraku! Ayolah~”

 

Baekhyun berdecak. “Hei! Sudah ku bilang tidak ada padaku. Apa kau menuduhku mencurinya? Aku bisa membelikan kamera seperti itu sebanyak yang kau mau. Bahkan kamera terbaik dunia pun akan ku belikan!”

 

“Sunbae, tapi—“

 

“Minhyun-ssi. Sudah malam. Bisakah aku mendapatkan waktu istirahatku?” potong Baekhyun cepat.

 

Minhyun mendesah pelan. Pandangannya lirih. Dia membungkukkan badan pada Baekhyun lalu menverifikasi password pintu apartemennya. Baekhyun mengusap tengkuknya sambil menggigit bibir. Minhyun benar-benar terlihat kehilangan semangat hidupnya. Apa kali ini dia kelewatan?

 

>>>

 

Minhyun melemparkan tasnya sembarang seraya menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia menghembuskan nafas panjang dan berat. Dia benar-benar pusing sekarang. Syukurlah Sulli tidak ada disini. Saat sudah sampai di halaman parkir apartemen, tiba-tiba Sulli ditelpon dan membuatnya harus pergi sebelum sempat mampir ke apartemen Minhyun.

 

Sekarang yang ia pikirkan hanya lah keberadaan kameranya sebenarnya. Dia cukup yakin kameranya berada di Baekhyun. Tapi Baekhyun malah bersikeras bahwa kamera Minhyun tidak ada padanya. Jadi kamera Minhyun ada dimana?

 

“Argh! Molla! Molla! Mol—“

 

Minhyun terdiam saat mendengar bunyi yang mengetuk jendela balkonnya. Dia segera bangkit dan mencoba meniliknya. Dia menyembulkan kepalanya dari balik pintu kaca.

 

“Baekhyun sunbae!” pekik Minhyun kaget.

 

Baru kali ini Minhyun menyadari kalau balkon apartemennya dan Baekhyun berdekatan sehingga Baekhyun bisa mengetuk dari balkonnya sendiri. Disana, Baekhyun dengan nyaman duduk bersandar pada pintu kaca sambil mengelus anak kucingnya.

 

“Ah, Minhyun-ah, apa kau kedinginan?” tanya Baekhyun.

 

Minhyun hendak menggeleng. Tapi dia segera sadar ‘Minhyun’ mana yang dimaksud oleh Baekhyun. Dia merengut sambil menghela nafas pelan. Baekhyun berhasil membuatnya kesal kembali. Menyadari itu, Baekhyun terkekeh. Baekhyun memasukka anak kucingnya ke dalam lalu menoleh ke arah Minhyun.

 

“Duduklah, Minhyun-ssi. Aku hanya becanda,” kata Baekhyun dengan senyuman tipis.

 

Minhyun menggaruk kepalanya sekilas. Dia tidak mengerti dengan Baekhyun. Tadi dia bersikap kasar, lalu menyebalkan dan sekarang baik? Sebenarnya apa maunya Baekhyun?

 

Minhyun tidak mengatakan apapun tentang pikirannya. Dia hanya diam dan menurut. Dia mengambil duduk di sudut yang dekat dengan Baekhyun. Baekhyun meliriknya sekilas.

 

“Ada apa?” tanya Minhyun.

 

Tangan Baekhyun bergerak ke arah belakang Baekhyun untuk mengambil sesuatu lalu memperlihatkannya kepada Minhyun. Minhyun terbelalak lalu berusaha meraihnya. Tapi Baekhyun malah menjauhkannya dari jangkauan Minhyun.

 

“Kameraku! Sunbae, kembalikan kameraku!” pekik Minhyun memohon.

 

Baekhyun menjilat bibir lalu menggigit bibirnya membentuk seringaian jahil. “Kau harus mengambilnya sendiri kalau mau kameramu kembali.”

 

Minhyun memutar matanya. Dia bangkit lalu berusaha untuk berpindah ke balkon Baekhyun. Dia tidak peduli jika ada orang yang melihat atau apa pendapat Baekhyun. Yang pasti kameranya harus kembali sekarang!

 

Baekhyun tersentak akan sikap Minhyun. Dia ikut bangkit. Tapi terlambat, Minhyun sudah berada di balkonnya. Dia menjunjungkan kamera itu tinggi. Sebisa mungkin agar Minhyun tidak berhasil mengambilnya. Dia menjinjing saat Minhyun ikut menjinjing.

 

Minhyun geram tentu saja. Dia tidak ada niat untuk dikerjai oleh baekhyun terlalu lama. Masih banyak tugas yang menunggunya. Akhirnya Minhyun menginjak kaki Baekhyun sambil tetap berusaha merebutnya. Baekhyun menjadi kehilangan keseimbangan. Refleks, Baekhyun berpegangan kepada Minhyun. Tapi sayang Minhyun tidak sedang dalam posisi yang bagus. Mereka berdua jatuh.

 

Minhyun dan Baekhyun menutup mata mereka. Bukan rasa sakit yang mereka pikirkan sekarang. Sesuatu yang lebih penting. Dan mereka sadar apa yang terjadi. Tubuh Minhyun menindih Baekhyun dan bibir mereka bersentuhan.

 

Astaga!

 

•••

 

“Omomo~ ada apa dengan wajahmu, Minhyun-ah? Lesu sekali. Kurang tidur?” celetuk Sulli saat melihat sahabatnya akhirnya muncul di lobby gedung apartemen itu.

 

Minhyun hanya tersenyum tipis dengan paksa tanpa membalas apapun. Kejadian semalam membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Akhirnya Minhyun memutuskan untuk mengerjakan semua tugasnya. Bahkan tugas yang tidak harus dikumpulkan hari ini. Setidaknya dia harus melakukan sesuatu. Kalau tidak, dia akan terpikir kejadiannya dengan Baekhyun semalam. Dan Minhyun tidak mau itu terjadi.

 

“Kau tidur semalam?” tanya Sulli khawatir.

 

Minhyun menggeleng pelan. “Aku tidak tidur semalaman.”

 

“Wae~?”

 

Minhyun mengacak rambutnya. “Molla! Molla! Molla!”

 

Sulli menghela nafas pelan. Dia mengerti Minhyun tidak mau menceritakan itu padanya. Yah biarkan Minhyun selesaika masalahnya sendiri kalau begitu.

 

“Akan ku antarkan ke sekolah. Jadi kau bisa tidur selama perjalanan. Mengerti?”

 

Minhyun tersenyum haru. Dia melangkah menghampiri Sulli dan memeluk sahabatnya itu. “Sunbae, gomawo~~”

 

“Ya! Lepaskan aku!”

 

>>>

 

Minhyun tidak terlalu bisa mencerna segala yang dijelaskan oleh dosennya. Pandangannya seperti berputar-putar. Pundaknya terasa berat. Mungkin itu efek dia tidak tidur selama 2 malam terakhir ini. Tapi anehnya, dia tidak merasa mengantuk sama sekali. Dia menghela nafas panjang. Minhyun hanya berharap kelasnya bisa selesai secepatnya.

 

Minhyun segera merapikan barang-barangnya saat dosennya keluar. Setelah selesai merapikan barangnya, dia bangkit. Minhyun sedikit tersentak saat Yookyung sudah berada di hadapannya. Gadis manis itu tersenyum tipis.

 

“Minhyun-ssi, gwencana? Wajahmu pucat,” tanya Yookyung khawatir.

 

Minhyun menggeleng pelan. “Nan gwencanayo.”

 

Yookyung mengerjap. “Baiklah.. oh ya, lebih baik kau minum air yang banyak agar bibirmu tidak kering. Jika kering, bibirmu bisa berdarah lagi.”

 

“Oh, hah? Eung, ya.. arassoyo,” balas Minhyun. “Aku pergi dulu.”

 

Yookyung hanya menjawabnya dengan senyuman dan anggukan.

 

Minhyun membungkukkan badan sedikit—tidak sampai 30 derajat—lalu pergi keluar kelas. Saat kepalanya terasa seperti dihantam palu, dia segera mencari sesuatu yang bisa menjadi tumpuannya. Digenggamnya kusen pintu dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan memijat keningnya lembut.

 

Sebuah suara yang seperti tidak asing baginya memanggilnya. Dia ingin menolehkan kepala namun kepalanya benar-benar berat. Dia bisa merasakan seseorang menahan tubuhnya yang hampir jatuh sebelum pandangannya menggelap.

 

>>>

 

Baekhyun menggigit pensilnya. Selembar kertas berada di atas mejanya. Ada kuis dadakan yang diadakan oleh professor Shin. Dia harus menguras otaknya untuk menemukan jawaban. Beberapa orang mulai meninggalkan kursi mereka dan mengumpulkan kertas itu. Tinggal satu pertanyaan lagi yang belum dia jawab. Dia tidak tahu jawabannya.

 

Dia mengalihkan pandangannya sejenak dari kertas itu untuk menjernihkan otaknya yang mulai berkedut. Matanya membulat saat melihat beberapa orang membopong sosok Minhyun. Dia segera mengisi kertas itu dengan jawaban asal, merapikan barang-barangnya dan secepatnya mengumpulkan kertas itu lalu mengejar orang-orang itu.

 

Baekhyun berlari mengejar orang-orang itu. Dia melihat orang-orang itu memasukkan Minhyun ke dalam taksi. Seorang pria tampak sedang berterima kasih kepada orang-orang yang ikut menggendong Minhyun tadi lalu masuk ke dalam taksi. Baekhyun masuk ke dalam taksi di belakang taksi yang ditumpangi Minhyun dan menyuruh supir itu mengejar taksi Minhyun.

 

“Sial! Apa yang terjadi padanya?” gumam Baekhyun panik.

 

Sesaat kemudian, dia mengacak rambutnya gemas. “Untuk apa aku peduli dengan Minhyun? Ah, apa yang terjadi padamu, Byun Baekhyun?!”

 

>>>

 

Minhyun membuka matanya perlahan sambil berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya di sekitarnya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum kemudian dia melirik sekitarnya untuk mencari tahu tempatnya ia berada kini. Dari bau dan beberapa aksen yang khas, ia tahu dia berada di rumah sakit. Tepatnya di ruang rawat.

 

Tiba-tiba pintunya terbuka. Minhyun terbelalak melihat siapa yang datang.

 

“Baekhyun sunbae?” kaget Minhyun.

 

Baekhyun sama kagetnya dengan Minhyun. Dia mengira Minhyun masih tidak sadarkan diri. Dan harusnya, pria yang mengantarkan Minhyun tadi ada bersama Minhyun, kan?

 

“Kenapa aku berada disini?” tanya Minhyun akhirnya karena Baekhyun mau berbicara apapun.

 

Baekhyun mengangkat bahunya seakan acuh tak acuh. “Mana ku tahu? Kenapa kau bertanya padaku? Kan yang dirawat itu kau bukan aku, Minhyun-ssi.”

 

“Iya aku tahu. Tapi—“

 

Minhyun terdiam. Dia ingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Sebuah suara yang tidak asing baginya. Tapi siapa..

 

Sebuah sosok muncul di belakang Baekhyun. “Oh Minhyun-ah, kau sudah sadar?”

 

“Sehun sunbae?”

 

>>>

 

Pintu itu dibuka dengan kasar. Tentu saja orang yang membuka pintu itu adalah Sulli. Siapa lagi yang akan seheboh itu jika bukan Sulli? Sulli berlari menghampiri Minhyun lalu mencoba meraba-raba kulit Minhyun dengan panik. Syukur Minhyun adalah pasien satu-satunya di kamar rawat kelas 2 itu.

 

“Apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja? Kenapa bisa pingsan? Benar apa yang ku kira! Kau memang sakit. Kenapa masih berangkat kuliah, uh? Kau tidak sayang pada dirimu sendiri, hah? Hei, jawab aku, Kang Minhyun!” serbu Sulli.

 

Baekhyun yang sedari tadi bersandar di dinding itu hanya memutar matanya. Sedangkan Sehun terkekeh. Ini lah yang ia rindukan dari Sulli dan Minhyun. Benar-benar mengingatkannya dengan masa-masa mereka dulu. Minhyun? Dia hanya mengikuti arah goncangan tangan Sulli dengan wajah seakan tidak ada harapan.

 

“Sulli-ya, bertanya lah satu persatu. Kasihan Minhyun menjadi semakin pusing,” kata Sehun.

 

Sulli menoleh dan terbelalak. Dia menunjuk Sehun dan menatap Sehun seakan Sehun adalah hantu. “Hua! Kenapa kau ada disini?”

 

“Aku ada disini karena aku lah yang bersama Minhyun saat Minhyun pingsan,” jawab Sehun santai.

 

Sulli terlihat berpikir sejenak. “Uh-oh.. hm.. jadi.. KAU KE KAMPUS MINHYUN?!”

 

“Sulli-ya! Ini di rumah sakit! Apa kau bisa mengecilkan suaramu sedikit?” sungut Baekhyun. Dia tidak habis pikir, ternyata sosok Sulli yang manis berubah menjadi seheboh ini setelah 4 tahun dia tidak bertemu dengan Sulli. Apa Minhyun yang mengubah Sulli menjadi seperti ini?

 

Sulli menyengir. “Ehehe, maaf. Aku hanya terlalu khawa—“ Sulli memicingkan matanya saat menyadari kehadiran Baekhyun. “Oppa, kenapa kau ada disini?”

 

Sehun mengernyit. Oppa? Sejak kapan Sulli memanggil Baekhyun dengan sebutan itu?

 

Well, pantas jika hanya Sehun yang kebingungan soal semua ini. Dia tidak mengetahui semua misteri yang sudah terkuak itu.

 

Baekhyun langsung menegakkan badannya. Ia terlihat panik. “A-aku—“

 

“Katanya dia ingin mengunjungi temannya yang dirawat. Tapi malah tersasar ke sini. Dan dia sudah malas untuk mencari kamar temannya itu. Jadi dia diam disini,” jelas Minhyun.

 

“Uh.. oh, itu dia! Itu jawabannya,” timpal Baekhyun cepat.

 

“Oh ya, tadi seperti itu lah kata-katanya,” Sehun ikut menimpalinya.

 

Sulli menggigitnya bibirnya. Dia menarik tangan Baekhyun keluar dari kamar rawat Minhyun. Baekhyun mendesah pelan. Ia mengerti maksud Sulli.

 

“Oppa, apa yang sebenarnya kau lakukan disini?” tanya Sulli menyelidik.

 

Baekhyun mendengus. “Tenang saja. Aku tidak bermaksud yang macam-macam. Aku.. ya, yang seperti Minhyun jelaskan tadi.”

 

Sulli memicingkan matanya. “Bagaimana kau bisa kenal dengan Minhyun?”

 

“Aku tinggal di samping Minhyun. Kau tidak tahu itu?”

 

Sulli terhenyak. Tatapan matanya menjadi sendu. Sulli menarik nafas lalu melangkah melewati Baekhyun. Tapi ditahan oleh Baekhyun.

 

“Tenang saja, Sulli-ya. Aku tidak menyalahkanmu. Sungguh. Mari bersikap seperti dulu. Bisa?” bisik Baekhyun.

 

Sulli hanya menutup matanya sambil menggigit bibir. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jujur mungkin Sulli sudah bergemetar ketakutan jika Sulli tidak berusaha menenangkan dirinya.

 

“Bagaimana pun kau adalah adikku. Dan aku menyayangimu. Aku tidak suka hubungan kita seperti ini,” lanjut Baekhyun.

 

Sulli memeluk Baekhyun. “Oppa~”

 

>>>

 

Sehun dan Minhyun menoleh saat—lagi-lagi—pintu kamar rawat Minhyun dibuka dengan kasar. Siapa lagi kalau bukan Sulli? Sepertinya kalau terlalu tenang, bukan Sulli namanya. Sulli dengan wajah tidak bersalah, menghampiri kedua orang yang tadinya sedang sibuk mendiskusikan sesuatu.

 

“Aku membawakan kalian makanan,” seru Sulli sambil memperlihatkan tas plastik yang dia bawa. “Oh ya, kalian sedang apa?”

 

“Sedang mendiskusikan tema galeri teman-teman Sehun sunbae yang akan diadakan di sini. Sehun sunbae meminta pendapatku karena salah satu hasil potretanku juga akan dipajang disana,” jelas Minhyun.

 

Sulli membulatkan bibirnya. “Jinjjae? Syukurlah aku berada disini selama sebulan. Jadi aku juga bisa membantu.”

 

Sehun menggeleng. “Tidak, Sulli-ya. Aku tidak mau. Adanya kau malah mengganggu.”

 

“Sehun-ah~ kau jahat sekali!” rajuk Sulli. “Eh tunggu, jadi itu alasanmu datang ke kampus Minhyun?”

 

“Tentu saja. Memang kau kira apa?” desis Sehun.

 

Sulli memainkan alisnya jahil. “Untuk mendekati Minhyun lagi?

 

Minhyun hanya bisa mengerang. Sedangkan Sehun yang berad didekat Sulli pun menoyor kepala Sulli. Sulli menyibir pelan sambil mengelus daerah yang ditoyor oleh Sehun.

 

“Kau benar-benar kejam, Sehun-ah~” gerutu Sulli.

 

Sehun hanya memutar bola matanya.

 

“Oh iya, kenapa kau dirawat disini? Memang tidak bisa langsung pulang?” tanya Sulli.

 

Minhyun menggeleng. “Kata dokter, aku harus menginap disini. Setidaknya sampai kondisiku stabil lagi.”

 

“Memang kau kenapa?” tanya Sulli lagi.

 

“Dia hanya kecapekan dan dehidrasi. Juga terlalu banyak pikiran. Tapi dokter curiga ada sebuah penyakit di dalam tubuh Minhyun. Jadi Minhyun akan dicek besok,” jawab Sehun.

 

“Ah, Minhyun-ah~ bagaimana sih? Makanya jaga dirimu baik-baik! Dulu saat ada aku, kau baik-baik saja. Kenapa sekarang tidak? Apa perlu aku pindah kesini?” lirih Sulli.

 

“Andwae! Bisa-bisa Minhyun menjadi babysittermu lagi, Sulli,” desis Sehun.

 

Sulli mendelik kesal mendengarnya.

 

Next day.

 

Baekhyun menatap dalam sebuah amplop yang beberapa menit yang lalu ia letakkan di atas meja. Dia belum berani membuka benda itu. Entah apa yang terjadi. Tapi yang pasti dia tidak berani.

 

Anak buah ayahnya lah yang mengirimkan itu pagi ini. Tepatnya orang yang disuruh Baekhyun untuk mencari tahu semua tentang Minhyun secara lengkap. Dan juga orang itu diminta untuk menganalisis foto saat Baekhyun memainkan piano untuk mengiringi sekelompak gadis yang sedang bernyanyi itu.

 

Semua itu ada di dalam amplop itu. Tapi Baekhyun tidak berani membukanya. Apa haknya untuk mengetahui semua hal tentang Minhyun? Apa dia pantas melakukan ini?

 

>>>

 

“Ah jadi kau sudah ada di Seoul sejak 3 hari yang lalu, uh? Kenapa tidak bilang padaku?” gerutu Sulli.

 

Sehun merangkulnya. “Hei, mana ku tahu kalau kau juga ada di Seoul. Sepertinya kita jodoh. Haha..”

 

Sulli mendesis seraya melepaskan rangkulan Sehun. Sehun hanya terkekeh pelan. Mereka berdua bersama-sama mengunjungi Minhyun. Mau tidak mau, mereka harus mengunjungi Minhyun. Karena keluarga Minhyun tidak berada di kota itu.

 

“Memang kau tidak ada urusan di Jepang, uh? Seenaknya saja meninggalkan Jepang,” cibir Sulli.

 

Sehun mendesah. “Itu yang sedang ku pikirkan. Harusnya aku sudah berada di Jepang sejak 2 hari yang lalu. Tapi temanku malah menyuruhku untuk tetap disini dan mengurus semua yang ada disini. Mereka juga ingin aku meminta izin kepada pemilik foto saat Baekhyun mengiringi klub vokal dengan permainan pianonya untuk memajang foto itu. Teman-temanku benar-benar tertarik dengan foto itu.”

 

Sulli membulatkan bibirnya, “Wow.” Sulli mendesah pelan. Bukan kah itu foto kakaknya?

 

Sehun dan Sulli kini sudah sampai di depan pintu kamar rawat Minhyun. Saat pintu terbuka, terlihat sosok Kai, Aerin dan Hana. Hana dan Kai segera menyapa mereka dengan akrab. Sedangkan Aerin hanya membungkukkan badan. Bagaimana pun juga, Aerin tidak terlalu dekat dengan kedua orang yang pernah memimpin klubnya itu. Pantas jika Hana dan Aerin berada di sana di pagi hari. Hari itu adalah hari sabtu. Sekolah libur.

 

“Bagaimana keadaan klub?” tanya Sehun.

 

Hana mengibaskan rambutnya angkuh. “Tentu saja klub sedang di puncak kesuksesannya. Semua berkat aku memimpin klub dengan baik.”

 

“Dan tentunya atas bantuan Aerin. Iya, kan, Hana-ya?” sahut Sulli sarkartis.

 

Hana memicingkan matanya lalu mendengus. “Payah! Tidak ada kah yang percaya semua ini murni hasil kerja kerasku tanpa bantuan Aerin?”

 

“Tidak karena mereka tahu itu bohong,” sergah Aerin cepat.

 

Kai tertawa. “Ne, majayo! Wah ternyata Aerin bisa juga melawan Hana~”

 

Kai merangkul Aerin dan menariknya mendekat. Sulli, Sehun, Hana dan Minhyun menggeleng kepala. Sedangkan pipi Aerin merona tipis.

 

“Berhenti bemesraan di sini! Jangan sampai aku memanggil satpam untuk mengusir kalian, ya!” ancam Minhyun.

 

Kai melepaskan rangkulannya lalu menoyor kepala Minhyun. “Dasar junior kurang ajar!”

 

>>>

 

“Tunggu, apa? Sekolah Ahyang?”

 

Alis Baekhyun bertautan mendengarnya. Nama sekolah itu benar-benar asing di telinganya. Dia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.

 

“Tapi nona Sulli sempat sekolah disana,” tambah orang itu.

 

Baekhyun mendesah. “Baiklah. Lalu kapan foto itu diambil?”

 

“Dari kemungkinan, foto itu diambil 1-2 tahun yang lalu. Saat festival sekolah. Saat saya menanyakan tentang foto itu kepada klub vokal disana, mereka tidak ada yang ingat. Jadi mungkin 2 tahun yang lalu,” jelas anak buah ayahnya itu panjang lebar.

 

2 tahun yang lalu. Tapi 2 tahun yang lalu, Baekhyun masih dalam keadaan koma, kan? Lalu artinya memang bukan dia lah di foto itu. Baekhyun mengepalkan tangannya. Bukan dia yang berada di foto itu. Bukan dia, orang yang dicari oleh Minhyun selama ini. Bukan dia, orang yang dianggap spesial oleh Minhyun selama ini. Harusnya dia lega. Tapi kenapa rasanya sakit di dadanya?

 

“Lalu siapa pria ini?” tanya Baekhyun saat melihat foto Minhyun bersama seorang pria yang kemarin menolong Minhyun.

 

“Oh itu Oh Sehun. Kalau tidak salah, Minhyun menyukai pria itu saat sekolah dulu.”

 

Baiklah, hatinya semakin sakit sekarang. Ada apa ini?

 

>>>

 

“Kau yakin? Tidak ada yang serius dengan tubuhmu itu?” tanya Sulli untuk keberapa kalinya. Tangan Sulli meremas pundak Minhyun sembari matanya menatap Minhyun dalam dan tajam.

 

Beruntung di ruangan itu hanya ada Minhyun dan Sulli. Kai, Hana, Aerin dan Sehun sudah kembali sebelum Minhyun pergi untuk dicek secara menyeluruh. Hanya Sulli lah yang menungguinya.

 

Minhyun meringis. “Sungguh. Tidak ada. Hanya saja, kata dokter, aku terkena anemia ringan. Itu saja. Tidak ada yang serius.”

 

Sulli menarik dirinya lalu melipat tangannya di dada. “Lalu untuk apa kau melakukan semua pemeriksaan ini kalau hasilnya cuma itu?”

 

“Itu adalah prosedur, sunbae. Tentu saja aku harus melakukan semua itu,” desah Minhyun.

 

Sulli mendengus. “Baiklah aku menerima alasan itu.”

 

Minhyun memutar matanya setelah mendengar itu. Tangannya kembali merapikan pakaiannya. Pakaian itu dibawakan oleh Sulli kemarin malam, diantarkan oleh Baekhyun. Tapi hari ini sudah boleh pulang. Artinya percuma membawa baju sebanyak itu.

 

“Apa administrasinya sudah lunas?” tanya Sulli.

 

Minhyun mengangguk. “Ya, sudah. Tadi aku sudah melunasinya. Memang kenapa?”

 

“Loh, kenapa tidak menungguku?”

 

“Dan membiarkan kau yang membayarnya? Ayolah, keluargaku masih sanggup membayarnya,” sahut Minhyun sarkartis.

 

Sulli mendesis. Ya terserah dirimu lah!

 

>>>

 

Minhyun dan Sulli mengobrol dengan asiknya sambil berjalan menuju apartemen Minhyun. Saat Minhyun ingin menverifikasi pintunya, terdengar suara anak kucing. Tentu saja Minhyun sudah tidak asing dengan suara itu. Siapa lagi kalau bukan Minhyun? Minhyun berjongkok lalu menggendongnya. Dia melirik Baekhyun yang kini berdiri di sampingnya.

 

“Ku harap kau tidak lupa dengan perjanjian kita,” kata Baekhyun.

 

Minhyun mengangguk mengerti. “Aku tahu kok.”

 

“Bukan bermaksud tidak peduli dengan kondisimu yang baru saja sembuh. Tapi—“

 

“Aku tahu. Perjanjian tetap perjanjian, kan? Aku tahu,” potong Minhyun lalu menverifikasi pintunya.

 

Minhyun dan Sulli masuk ke dalam apartemen Minhyun. Sulli hanya menatap Minhyun bingung. Dia bisa merasakan Minhyun begitu dekat dengan kakaknya. Bagaimana bisa? Apa karena ‘kejadian sebelumnya’?

 

“Aku diminta mengurusi kucing ini saat Baekhyun sunbae sedang ada urusan. Sebagai gantinya, suatu saat nanti, dia akan memberitahuku alasan kenapa dia menjauhi piano,” jelas Minhyun yang seakan mengerti tentang kebingungan yang melanda Sulli.

 

Sulli hanya membulatkan bibirnya. Menjauhi piano? Ayolah, piano adalah hidupnya.., pikir Sulli. Dia ingin memikirkannya lebih lanjut namun ia putuskan untuk tidak memikirkannya. Itu urusan kakaknya, bukan dia.

 

Sulli berjalan mengelilingi apartemen itu dan menganalisis setiap sudutnya. Dia sampai di balkon. Dia melihat balkon apartemen Minhyun dan Baekhyun tidak terlalu jauh. Dia menghampiri Minhyun yang asik bermain dengan anak kucing itu.

 

“Minhyun-ah, apa balkon itu.. berdekatan dengan balkon Baekhyun oppa?” tanya Sulli.

 

Minhyun mendongak. Pipinya merona tipis karena mengingatkannya dengan kejadian malam itu. Dia hanya mengangguk sebagai jawabannya.

 

Sulli segera kembali ke balkon itu setelah mendapat jawaban dari Minhyun. Sesungguh dia penasaran dengan tempat tinggal Baekhyun selama ini. Mumpung Baekhyun sedang berada di luar, kan?

 

Sulli melompat ke balkon Baekhyun dan menyelinap masuk. Dia menatap ke segala arah. Ruangan itu di design minimalis, tidak jauh berbeda dengan milik Minhyun. Sesuatu mengambil perhatiannya. Foto minhyun di atas sebuah amplop coklat itu berada di atas meja. Benar-benar tempat yang strategis. Sulli mendekat dan mengambil semua itu. Dia terbelalak saat menyadari semua isi amplop itu tentang Minhyun. Baekhyun sedang mencari tahu tentang Minhyun untuk apa? Tentu bukan untuk hal yang kecil, kan?

 

Cklek..

 

Suara pintu terbuka. Sulli tersentak kaget. Tidak ada waktu baginya untuk mencari tempat bersembunyi. Lagipula dia ingin menyelesaikan semua ini dengan Baekhyun. Baekhyun terbelalak melihat kehadiran adik tirinya disana.

 

“Sulli?” gumam Baekhyun tak percaya.

 

“Ya, ini aku. Sahabat dari gadis yang sedang kau korek identitasnya,” sahut Sulli dingin. “Sudah ku kira kau memang merencanakan sesuatu dengannya. Apa kau ingin balas dendam padaku melalui Minhyun?”

 

Baekhyun menggeleng cepat. “Aku sudah memaafkanmu soal kecelakaanku, Sulli-ya. Ini tidak seperti yang kau pikirkan!”

 

“Lalu biarkan aku memikirkan seperti yang kau pikiran..”

 

=== You and I ===

 

Mian kalo ceritanya jadi aneh. Aku buru-buru untuk selesain chapter ini. Mungkin ff ini bakal selesai sekitar 2 chapteran lagi. Atau malah selesai di chapter 9? :O ga tau deh. Huehehe~

Setelah ini aku hiatus lagi. Doain aku supaya UTSku lancar ya ^^ UTSku selesai akhir september. Jadi aku kembali melakukan comeback pas akhir september. Oke? :3

Greatest hug and kiss from Lee Hyura to you :****

Advertisements

6 responses to “[Series] You and I (Chapter 8)

  1. Tuh kan makin ribet deh ya, hm, Sulli udah baikan perasaan ama Baekki, eh dingin lagi. Waaaa gatau mau komen apa malah ngelantur jadinyaaa… Ditunggu next chapternya deh yaaa. Fighting buat UTSnya yaaaaa ^-^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s