[Series] When The Book Closes (Chapter 2)

Author : Lee Hyura

Title : When The Boos Closes

Genre : Adventure, Fantasy, Friendship, Romance.

Rating : PG-13

Length : Series

Cast :

–          B1A4 Baro

–          EXO K Chanyeol

–          Girls Day Yura

–          Hello Venus Yoonjo

–          SHINee Minho

Disclaimer: the casts belong to god. The plot belongs to me. No plagiarizing. Don’t re-post without my permission.

Note: just please enjoy. If you’re not in mood, don’t read then. I want you to have good mood. So you can understand the story ^^

Summary: Sekelompok remaja tidak sengaja menemukan sebuah pintu rahasia. Dibalik pintu hanyalah ruangan kosong. Hanya ada sebuah buku di tengah ruangan. Buku itu menghisap kelima remaja itu ke dalamnya. Mereka terhempas ke sebuah tempat asing. Mereka harus mengisi buku itu dengan kisah mereka agar mereka bisa keluar dari buku itu. Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan sebuah kekuatan spesial.

=== When The Book Closes ===

Yoonjo hanya terdiam di pinggir sungai sambil memainkan kakinya di dalam air. Sudah beberapa kali ini mencoba membekukan rumput-rumput yang ia cabut. Dan semuanya memang membeku. Yoonjo menghela nafas berat.

“Ige mwoya?” gumamnya frustasi.

Dia menatap pantulan dirinya di permukaan air sungai yang bening itu. Sebuah ide konyol melesat di pikirannya. Dia membuat berbagai ekspresi dan menertawakan dirinya sendiri. Karena terlalu asik dengan kegiatannya, tubuh Yoonjo tergeser sedikit demi sedikit ke arah sungai dan..

“Aaa!!” pekik Yoonjo kaget.

Dia menutup matanya kuat-kuat sebagai pencegahan agar air tidak mengenai matanya. Tapi ada yang aneh. Dia tidak merasakan tubuhnya basah. Dia membuka matanya perlahan. Air tetap mengalir seperti biasa melewati tubuhnya. Tubuhnya seakan transparan. Tidak! Tubuhnya seperti menyatu dengan air.

Tangannya terangkat. Gumpalan air mengikuti arah gerakan tangannya. Dibekukannya gumpalan air itu. Dengan ragu karena sebelumnya ia tidak pernah melakukan ini, dia mencoba berpikir untuk membuat gumpalan air yang membeku itu kembali menjadi air. Berhasil!

Yoonjo membulatkan matanya. Dia kembali menemukan bagian dari kekuatannya.

>>>

Chanyeol, Yura dan Baro asik becanda akan hal yang mereka lihat. Sedangkan Yoonjo hanya diam sambil menatap tangannya. Minho menariknya saat dia hampir menabrak pohon di depannya. Mereka sedang dalam perjalanan mencari jalan keluar dari hutan itu.

Yura melirik Yoonjo yang dirangkul oleh Minho. Yura menggertakkan giginya. Tangannya menyambar tangan Yoonjo agar Yoonjo agak mendekat dengannya.

“Ada apa, Yoonjo-ya? Ada hal lain yang kau ketahui tentang kekuatanmu?” tanya Yura.

Yoonjo mengangkat kepalanya, menatap Yura dengan pandangan kosong. Dia menggeleng lemas. Tidak, dia belum siap mengutarakan seberapa jauh dia mengetahui tentang kekuatannya. Dia baru mengetahuinya saat menyendiri di pinggir sungai tadi. Dia masih harus menyelidikinya. Apakah itu hanyalah kebetulan, atau memang kekuatannya?

“Kau bohong,” cetus Chanyeol.

Yoonjo kembali menggeleng. “Tidak..”

“Kami bisa membacamu seperti sebuah buku,” timpal Baro.

Yoonjo mendesah pelan. Dengan berat, dia membalasnya. “Biarkan ini menjadi urusanku sendiri hingga aku mendapatkan kepastiannya.”

>>>

“Kekuatan Yoonjo adalah es. Kekuatan Minho adalah mengontrol waktu. Kekuatanku adalah api. Dan Yura.. hm, terbang?” gumam Chanyeol bingung. “Nah, apa kekuatanmu, Baro-ya?”

Baro mendengus. “Kekuatanku adalah otak cerdikku!”

“Tapi kau itu bodoh,” cibir Yoonjo.

Baro mengetuk kepala Yoonjo gemas. “Huh! Sebenarnya aku ini pintar! Tapi aku tidak mau sombong.”

Minho terkekeh sinis mendengarnya. Dia sibuk menyusun kayu dan daun kering bersama dengan Yura. Sedangkan Chanyeol, Baro dan Yoonjo sibuk menjadikan jamur-jamur temuan mereka menjadi sebuah sate.

“Oh, aku lupa!” seru Yura.

Minho menoleh. “Lupa?”

“Aku lupa memberitahu kalian sesuatu. Begini, aku selalu mengantongi handphoneku. Jadi tentu saja handphoneku terbawa kesini. Dan ku lihat, handphonenya tetap bisa berfungsi walaupun tak ada sinyal sama sekali,” kata Yura. “Tapi! Kita bisa memanfaatkannya untuk berfoto ria, kan? Ini kan kesempatan langka. Kita masuk ke dalam buku! Keren, kan? Jadi kita harus memfotonya untuk dijadikan bukti kepada teman-teman yang lain di sekolah!”

“Ide bagus! Aku ingin memamerkannya kepada Jay! Pasti dia iri padaku~” celetuk Baro.

Cowok itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Yura. Baro benar-benar terlihat bersemangat mendengar hal itu.

“Hei, jangan mendekat! Handphoneku akan rusak kalau kau pegang. Uh!” Yura langsung menjauh dari Baro dan tak sengaja menabrak Minho. Mereka berdua tersungkur di tanah.

“Aduh!”

“Hei, berhenti bercanda!” omel Yoonjo tanpa bangkit dari duduknya.

Baro menoleh sambil tertawa. Tapi sesaat kemudian, seluruh sudut yang bisa ia lihat hanya tempat gelap. Perlahan, muncul sebuah cahaya. Sebuah kunang-kunang mendekatinya. Tidak! Itu bukan kunang-kunang. Itu seorang peri yang sangat mungil. Dia terbang ke depan wajah Baro. Baro ingin menjauh tapi kakinya tak bisa bergerak. Peri itu tersenyum kecil.

“Maaf, aku datang terlambat,” ujar peri itu sambil membungkukkan badan. “Aku lah kunang-kunang yang akan menerangi jalan kalian menuju tempat yang seharusnya kalian berada.”

Baro mengernyit. “K-kunang-kunang?”

Baro teringat akan saat-saat pertama ia sadar setelah masuk ke dalam buku. Suara itu.. ya, suara itu mengatakan akan ada kunang-kunang untuk mereka. Kunang-kunang itu adalah seorang peri? Omong-omong, kemana perginya teman-temannya yang lain? Kenapa Baro hanya melihat kegelapan di sekitarnya.

“Oh, teman-temanmu sedang menunggumu,” tambah peri itu.

Baro menoleh. “Ap—akh!”

Baro mengerang saat sebuah cahaya yang sangat terang muncul dari belakang peri itu. Sangat silau hingga Baro harus menutup matanya dengan sangat rapat.

>>>

“Baro-ya! Bangun!”

Baro membuka matanya perlahan. Dia kembali menutup matanya saat ia merasa kelopak matanya terlalu lemas untuk terbuka. Tapi sesuatu mengelitik tengkuknya, membuatnya tersadar dengan sempurna. Tangannya bergerak untuk menepuk tengkuknya. Tapi sesuatu menahan tangannya.

“Aduh! Kamu mau menyakiti aku, ya, Baro?” kesal sebuah suara.

Bukan suara Yoonjo. Bukan suara Yura. Bukan suara Chanyeol. Dan bukan pula suara Minho. Jadi suara siapa? Baro mengerutkan keningnya bertanda ia sedang berpikir keras.

“Peri!” pekiknya kaget.

“Peri?” sahut Chanyeol yang kebetulan berada tidak jauh darinya. “Kau mengigau, ya?”

Baro menoleh ke arah Chanyeol. Tangannya mengambil peri itu. Peri itu berteriak kesal akan perlakuan kasar Baro terhadapnya. Baro memperlihatkan peri itu kepada Chanyeol.

“Chanyeol-ah! Lihat ini!” seru Baro.

Chanyeol menggaruk kepalanya. “Lihat apa? Apa yang bagus dari telapak tanganmu yang kasar itu?”

“Bukan telapak tanganku! Tapi perinya!”

Chanyeol menatap sahabatnya aneh. Jelas-jelas dia tidak melihat apapun di tangan Baro. Tapi Baro tetap ngotot ada peri di tangannya. Chanyeol menepuk pundak Baro sambil menggeleng lirih.

“Apa karena kita masuk ke dalam buku, kau menjadi gila? Tadi pingsan tiba-tiba. Sekarang? Baru saja sadar, sudah mengingau ada peri ditanganmu. Sabarlah, Baro! Secepatnya kita keluar dari hutan ini dan mencari rumah sakit jiwa terdekat,” seru Chanyeol.

Pletak!

Baro menjitak kepala Chanyeol dengan sekuat tenaga. Seenaknya saja mengatakan dirinya sudah gila. Padahal memang ada peri di tangannya. Eh tunggu, apa maksudnya Chanyeol tidak bisa melihat peri itu? Baro menatap peri itu tak percaya. Sedangkan peri itu melipat tangannya di dada sambil memasang ekspresi geram.

“Aduh, maaf~ maksudku, otakmu mungkin agak konslet karena belum makan,” ralat Chanyeol. “Mau makan? Yoonjo sudah menyisihkan jamur untukmu.”

Baro menggeleng pelan. “Tidak, terima kasih. Kemana yang lain?”

“Sibuk mencari tahu tentang kekuatan mereka di tempat berbeda.”

“Bagaimana denganmu?”

“Duh, aku sudah cukup bersyukur dengan kekuatanku ini. Aku tidak ingin lebih!”

>>>

Baro menguap untuk sekian kalinya. Bagaimana tidak? Dia tidak bisa tidur semalaman. Baru saja tidur, sudah dibangunkan. Teman-temannya kembali memulai perjalanan dari pagi. Baro kira kejadian semalam hanyalah mimpinya. Tapi ternyata peri itu benar-benar ada. Peri itu tertidur di bahunya. Dia memutuskan untuk tidak memberitahu teman-temannya tentang peri itu. Toh kata peri itu, hanya Baro lah yang bisa melihatnya.

“Hei, mungil!” panggil Baro berbisik.

Peri mengetuk kepala Baro kesal. “Jangan panggil aku seperti itu!”

Baro mendengus. “Oke.. baiklah.. sekarang karena kau adalah penunjuk jalan kami, kau harus beritahu aku cara keluar dari hutan ini! Mengerti?”

“Lurus saja. Jangan berbelok. Di langkah ke 100, kalian akan keluar. Pastikan kalian tidak berbelok sedikit pun. Karena jika kalian berbelok sedikit saja, kalian tidak akan bisa keluar dari hutan ini,” jelas peri itu.

Baro membulatkan bibirnya. “Semacam sihir, ya?”

“Begitulah.”

“Oh ya, jadi aku harus memanggilmu apa?” tanya Baro.

Peri yang kini berada di 1 meter di depan wajah Baro itu berpikir sejenak. “Sebenarnya namaku adalah Lee Tae Eun. Tapi kau bisa memanggilku Tae. Peri Tae! Lucu, kan?”

Baro mendesis. “Lucu? Itu aneh! Baik—aduh, Tae! Berhenti memukuli kepalaku!”

“Baro, kau baik-baik saja?” tanya Yoonjo yang kini berada di sampingnya.

Baro sedikit tersentak karena kaget. Dia tidak menyadari keberadaan Yoonjo. Baro menggaruk kepalanya bingung sambil melirik Tae seakan meminta ide untuk menjawab pertanyaan Yoonjo.

“Aku baik-baik saja, Yoonjo-ya~” jawab Baro mantap.

“Sepertinya ada yang mengusikmu, ya?” tanya Yoonjo menyelidik.

Baro mendengus. “Kalau aku menjawab bahwa aku diganggu seorang peri yang hanya bisa ku lihat, apa kau percaya?”

“Aku tahu kapan aku bisa percaya padamu, dan kapan tidak. Dan karena dunia ini memang aneh, aku tidak bisa memungkiri kemungkinan hal itu bisa terjadi.” Yoonjo tersenyum tipis. “Jadi kau sedang berbicara dengan peri itu?”

Baro mendesah lega. “Syukurlah kalau kau percaya.. dan, ya! Aku sedang berbicara dengannya. Katanya, kita harus berjalan lurus tanpa belok sedikit pun. Di langkah ke 100, kita akan keluar dari hutan ini. Kau percaya itu?”

Yoonjo mengangguk mantap. “Ya, aku percaya!”

>>>

“Hua! Akhirnya kita keluar juga dari hutan!” sorak kelima remaja itu.

Tae ikut bersorak gembira. Dia terbang memutari Baro seakan dia juga ikut senang karenanya. Baro berhigh five dengan Tae lalu Yoonjo dan diikuti oleh 3 orang lainnya.

“Sekarang kita harus kemana?” seru Yoonjo kepada Baro.

“Kesana!” seru Chanyeol penuh semangat sambil menunjuk sebuah perkampungan.

“Andwae! Itu sangat berbahaya!” teriak Tae panik.

Baro segera mengikuti Tae. “Andwae! Jangan kesana! Perkampungan itu sangat berbahaya!”

Minho mengernyit. “Tahu darimana?”

“Tae yang mengatakannya. Iya, kan, Baro-ya?” celetuk Yoonjo dengan senyum lebar.

Yura memicingkan matanya. “Tae?”

“Peri yang ku ceritakan kepada Chanyeol semalam. Tapi Chanyeol tidak percaya,” jawab Baro. “Peri yang hanya aku yang bisa melihatnya.”

“Yap, itu benar,” timpal Yoonjo.

Minho mengernyit. “Kau yakin?”

“Tentu saja! Dia juga yang memberitahuku cara keluar dari hutan. Masih kurang bukti?” sahut Baro sengit.

Chanyeol tertawa. “Baiklah, kami percaya. Apa Tae cantik seperti peri yang ada di film-film?”

Baro melirik Tae yang sibuk menganggukkan kepala, berharap Baro akan menjawab ‘ya’. Baro tersenyum geli melihatnya.

“Tidak. Dia jelek. Sangat jelek! Dia juga galak. Dia suka sekali memukuli kepalaku!” cetus Baro.

Tae terbelalak mendengarnya. “Ah, Baro—“

“Bagus, Tae! Aku mendukungmu! Ayo pukuli Baro!” seru Yura. Seakan percikan api muncul di mata Yura.

Tae menyeringai. Mata Baro membulat melihatnya. Baro segera berlari menjauh dari Tae sebelum kepalanya menjadi korban pukulan dari Tae.

“Ah, Yura~~ sialan kau!!” pekik Baro.

Sedangkan yang lain hanya tertawa melihatnya. Mungkin akan lebih seru jika keempatnya juga bisa melihat dan berbicara dengan Tae. Tapi sayang hanya Baro yang mendapatkan kesempatan itu. Baro lah satu-satunya yang bisa menjadi penghubung antara Tae dan mereka.

>>>

Mereka beristirahat di bawah pohon besar di samping sungai yang sangat jernih. Mereka tidak tahu harus berjalan kemana. Peri Tae hanya berkata agar mereka terus berjalan. Jangan pernah bersinggah di sebuah rumah kecuali memang dibolehkan oleh Tae. Dan mereka hanya bisa menuruti perkataan Tae.

“Aduh sebentar lagi sampai~ kenapa berhenti?” protes peri Tae.

Baro mendelik kesal. “Kita sudah berjalan seharian, Tae. Tentu saja kita lelah. Memang tidak kalau istirahat sebentar?”

“Boleh~” Tae menarik nafas sebelum melanjutkan. “Tapi saat kita sudah sampai. Kalau disini, bahaya—Baro!!“

Tae membulatkan matanya. Sesuatu yang tidak dia inginkan kini terjadi. Sekelompok orang menyergap kelima remaja itu dengan membiuskan. Beruntung tidak seorang pun bisa melihatnya kecuali Baro.

=== When The Book Closes ===

Pada ngerti ga jalan ceritanya? Aduh mian ya kalo ga ngerti atau malah ga seru >.< aku berusaha supaya lebih bisa dimengerti. Tapi yah gitu deh

Advertisements

3 responses to “[Series] When The Book Closes (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s