[Oneshoot] May I Love You?

Author : Lee Hyura

Title : May I Love You?

Genre : Romance

Rating : PG

Length : Oneshoot

Cast :

–   EXO Luhan

–   SNSD Jessica

–   SNSD Hyoyeon

Note : Oke, ini requestan dari adik tercinta, Verina Nindya. Semoga Ve puas ya. Ff ini cukup panjang agar si Ve puas dan tidak protes lagi.

~@~@~

 “Age is just an age. It’s just a number. It doesn’t matter…
… at all.”

“Aku tidak menyukainya. Aku tidak mencintainya. Tapi saat dia menjauh dariku, sisi terdalam hatiku merasa…
… sakit.”

=== May I Love You ===

“Aku mencintaimu.”

Aku terpaku di tempatku. Sibuk dengan pikiranku sendiri setelah mendengar kalimat itu. Aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya lalu mengeluarkan kekehan pelan –kosong. Dia hanya diam sambil menatapku dalam. Aku.. aku tidak tahu harus seperti apa. Aku hanya menganggapnya teman, seorang junior. Tidak lebih.

Mungkin?

Tunggu, dia hanya anak kecil. Mungkin dia ingin mengerjaiku. Mungkin dia tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Mungkin dia hanya ingin melihat reaksi wanita yang tidak pernah berkenalan dengan yang namanya ‘cinta’ sejak lulus dan sekolahnya.

Sekali lagi, mungkin?

Tapi kenyataannya, dia berdiri tegap di depan ku dengan wajah serius. Tidak biasanya dia memasang wajah itu. Matanya menatapku dalam dan tegas. Gosh, berhasil membuatku terpaku dan menelan air ludahku sendiri. Aku… sepertinya akan terdengar sangat memaksa jika aku menekankan bahwa dia hanya main-main.

“Maaf?”

Shit! Kenapa aku malah membalas dengan kata itu? Kenapa juga aku memakai nada yang membuatku terdengar bodoh? Sungguh, aku speechless sekarang. Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Pikiranku kosong. Dan saat dia tersenyum mendengar 1 kata bodoh yang terlontar dari bibirku, aku berharap angin meniupku ke belahan dunia lainnya. Tapi.. tapi aku harus segera menyelesaikan ini.

“Maaf, Luhan. Aku tidak mencintaimu,” kataku cepat.

Senyuman manisnya itu hilang dalam sekejap. “Kenapa?”

“Kenapa?” ulangku bingung. Aku menggaruk pelipisku. “Aku lebih tua darimu. Jadi aku tidak mungkin menyukaimu. Percuma saja.”

***

Aku tersadar dari lamunanku saat seseorang menepuk pundakku dan mendengar suara Hyoyeon. Aku menoleh dan menatapnya bingung. Dia hanya tersenyum lalu memberikanku secangkir cappucino di tangan kanannya dan meneguk cappucino yang ada di tangan kirinya. Dia mengambil duduk di depanku. Aku hanya tersenyum dan meletakkan cangkir itu di samping tumpukan map di atas meja kerjaku.

“Jessie eonni, ada apa?” tanya Hyoyeon.

Aku mengerjap lalu menggeleng pelan. “Ah-ani..”

“Aku tidak melihat Luhan lagi. Tumben dia tidak muncul di waktu makan siang,” gumam Hyoyeon tiba-tiba.

Aku terdiam sambil menelan saliva. Err, perlukah kau bertanya akan hal itu padaku, Hyo? Perlukah kau bertanya tentang bocah yang selalu mengganggu waktu makan siangku yang tenang itu setelah kejadian itu? Perlukah? Perlukah?

Aku menghela nafas, mengetuk keningku pelan. Bodohnya aku. Bahkan Hyoyeon tidak tahu-menahu soal kejadian itu.

Tidak perlu kesal dengannya, kan, Jessie?, kataku dalam hati untuk menenangkan diri sendiri. Argh, aku sudah seperti orang gila saja karena berbicara pada diri sendiri. Huh!

“Eonni, kau baik-baik saja?” tanya Hyoyeon yang sukses membuatku tersentak kaget dan memasang wajah bodoh sambil membalas, “Hah?”

Hyoyeon mendengus. “Hari ini eonni terlihat asik dengan pikiranmu sendiri jika sedang tidak melakukan apapun. Sampai-sampai eonni menyibukkan diri dengan pekerjaan. Tidak biasanya,” gumam Hyoyeon lalu menyesap cappucinonya sejenak. Dia kembali menatapku. “Ada apa? Ceritakan saja padaku. Aku bisa dipercaya, kan?”

Aku menarik napas dalam lalu menghembuskannya untuk meniup poni yang menutupi mataku. “Molla. Err, bagaimana jika apa yang sedang ku pikirkan ini berhubungan dengan Luhan?”

Dia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa ku baca. Sedangkan aku menatapnya penuh harap. Dia, temanku dari aku masih remaja dahulu, masih ingusan yang bahkan tidak mengerti cinta. Hampir 10 tahun selama aku hidup, aku habiskan dengannya. Aneh jika aku masih tidak bisa membuka diriku untuk berbagi cerita dengannya. Dan kenyataannya, diriku memang berharap untuk berbagi cerita dengannya. Apalagi soal ini!

“Sebenarnya aku sudah menebaknya,” tanggapnya santai sambil meletakkan cangkirnya di meja kerjaku. “Tidak biasanya Luhan tidak datang dan mengajak kita untuk makan siang bersama. Dan eonni terlihat tegang saat aku menanyakan keberadaannya. Jadi ku pikir, masalahmu memang berkaitan dengannya.”

Oh sial.

“Tapi, aku belum tahu masalah yang sesungguhnya terjadi. Ada masalah apa?” tambahnya.

Aku menarik nafas dalam untuk memantapkan diri sebelum menceritakannya.

***

Kau tidak akan bisa mengerti seberapa leganya aku saat melihat sosok Luhan kembali muncul di kantorku menuju ruang kerja ayahnya sambil menyapa orang-orang. Dengan cepat, aku menarik sebuah map sehingga aku terlihat sedang sibuk bekerja hingga tidak menyadari kedatangannya. Tapi tetap saja aku meliriknya dari sudut mataku.

Oh come on, Luhan~!, aku mengerang dalam hati. Dia bahkan tidak melirikku sama sekali. Biasanya dia selalu menyapaku dengan senyuman bodohnya sambil melontarkan lelucon garing. Tapi sepertinya aku harus menggigit jariku kini. Dia sama sekali tidak melirikku. SE-DI-KIT-PUN! Enough! Aku tidak akan berharap lagi.

“Pfft!” aku menghela nafas panjang dengan kesal. Aku gemas. Aku sedikit menghentakkan mapku ke atas meja saat dia melewatiku begitu saja. Saat aku melirik ke belakang—ke arahnya—dia sedang bercanda dengan Hyoyeon. Wajahnya terlihat bahagia. Tapi saat dia menoleh mengikuti arah tunjuk Hyoyeon yang membuat mata kami bertemu, ekspresi bahagianya berubah dingin. Aku langsung kembali berpura-pura sibuk dengan pekerjaanku lagi.

Sialan kau, Luhan! Ada apa denganmu? Tunggu, kenapa pula aku harus kesal? Tidak peduli dia bersikap seperti apa denganku. Aku tidak akan peduli. Sebodo amat dia pernah dekat denganku hingga serasa tiada hari tanpa becanda dengannya. Aku tidak peduli. Seorang Jessica Jung tidak pernah peduli. Tidak pernah…

Tapi kenapa.. rasanya sakit? Disini, di dadaku. Rasanya… seperti ditusuk.

>>>

Aku menverifikasi pintu apartemen lalu masuk ke dalam apartemen. Aku menghempaskan tubuhku di sofa. Mata ku penjamkan sejenak sebelum mengamati sekitarku. Aku mendengus saat melihat sebuah catatan ditulis besar-besar dengan spidol bewarna biru di papan tulis kecil di samping televisi. Aku sering memakai papan itu untuk menggambar atau menulis apapun yang ku inginkan saat kecil sehingga aku tidak perlu mencoret benda lain.

I have a date tonight. 
There’s no food in fridge. You can go out for having dinner
Don’t wait for me. Have a nice dream, my diamond 😉

–      Daddy

“Appa, bukan Daddy. Harus ku bilang berapa kali sih?” gerutuku pelan.

Pria tua itu memang seperti itu. Selalu bertingkah seenaknya setelah ditinggal umma ke surga saat aku kecil. Bahkan seakan tidak ingat berapa umurnya sekarang, dia bebas berkencan dengan random women. Menikah lalu bercerai. Itu yang ia lakukan terus-menerus. Bersyukur dia mempunyai penghasilan sendiri untuk membiayai pernikahannya. Jika harus memakai uangku, sudah ku lempar dia keluar jendela. Mumpung aku tinggal di lantai 6. Hm, tempat yang cocok untuk membunuh orang. Baiklah, aku tidak akan sekejam itu..

Aku mengeluarkan handphoneku. Mengetuk layarnya beberapa kali dan memasukkan nomor. Setelah itu mengetik sesuatu. Itu pesan untuk ayahku. Aku merasa butuh seseorang untuk bercerita tentang rasa sesak di hatiku sekarang. Dan ayahku adalah orang yang pertama kali ku tuju biasanya. Tapi hari ini, aku sudah terlebih dulu menceritakannya kepada Hyoyeon. Tidak, itu kurang. Aku tetap membutuhkan kata-kata dari appa.

From : Appa

Hm, listen to your heart. Remember your motto? Follow your heart, dear.
Age is just an age. Just a number. It doesn’t matter at all.
Kekeke…
My little daughter has grown up. I’m crying in happiness now :’)

Aku memutar mataku membaca balasannya. Harusnya aku tahu apa yang akan dia katakan. Dia tidak mengerti dengan masalah yang sebenarnya terjadi. Lagipula dia memang orang tersantai yang pernah ku temui.

Umma, andai kau disini…

***

Hari ini, aku kembali harus sok sibuk dengan pekerjaanku. Karena siapa lagi kalau bukan Luhan? Dia selalu menatapku dingin. Dia terlihat seperti sakit hati denganku. Apa sih salahku? Menolaknya? Gosh, dasar anak kecil!

Dia datang dan bercanda dengan Hyoyeon seperti biasa. Tidak biasa juga sih. Karena biasa adalah mereka bercanda denganku. Tapi kini, tidak ada aku. Terasa sepi disini. Tidak hanya sepi. Rasanya kosong… dan sakit.

“Kalian munafik.”

Aku menoleh saat mendengar suara Hyoyeon. Dia sudah berada di hadapanku sekarang, tentu tanpa Luhan. Ku tolehkan kepalaku ke kiri dan kanan. Tidak ada Luhan sama sekali. Aku mendesah pelan lalu menatap Hyoyeon. Aku memasang wajah seperti tidak mengerti maksudnya. Jujur saja, tentu aku mengerti. Aku bukan gadis polos lagi sekarang. Terlihat dia memutar matanya jengah.

“Kau. Luhan. Kalian munafik. Dan aku benci harus berada di antara kalian. Benci harus merasa bingung untuk bersamamu atau dengannya di saat yang bersamaan.” Dia mendengus pelan yang terdengar lelah. “Kau tahu aku tidak suka di posisi ini, eonni…”

Aku tersenyum sinis. “Aku.. tidak mengerti.”

“Kau merindukannya. Dia merindukanmu. Kalian.. argh! Menyusahkan!” Hyoyeon mengerang.

“Tapi sepertinya dia membenciku.”

“Ya jelas dia membencimu! Kau menolaknya dengan alasan umur. Itu seperti merendahkannya.”

Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dalam. “Oh ya?”

>>>

Pulang kerja, aku pergi ke supermarket untuk mengisi kembali kulkasku yang kosong. Pria tua itu terlalu sibuk dengan kencannya hingga tidak peduli dengan kulkas yang kosong. Ku masukkan benda-benda beku ke dalam keranjang dengan seenak hati. Aku membelinya dengan uangku sendiri, kan? Jadi tidak apa.

Selesai melakukan kegiatan seperti belanja bulanan ini dan menghasilkan beberapa tas belanja yang besar, aku menggiringnya ke parkiran. Aku menyusunnya di bagasi mobil. Setelah semuanya rapi, aku menutupnya. Selesai dengan semuanya, aku masuk ke dalam mobil dan menjalankannya.

Aku harus mengecilkan volume radio saat handphoneku berbunyi. Aku mendengus dan mengambil benda tipis itu. Aku tertegun saat membaca nama yang tertera di layar itu. Itu nomor kekasih appa yang sekarang. Tidak biasanya wanita itu meneleponku, kecuali untuk mengingatkanku bahwa ada acara makan malam bersamanya. Tapi seingatku, aku tidak mempunyai acara apapun dengannya selama seminggu ini. Aku sudah bilang aku sibuk banget minggu ini. Perlu ku angkat, atau tidak? Apa dia mencari appa? Atau jangan-jangan dia memergoki appa menyelingkuhinya dan dia ingin marah-marah padaku? Okay, aku tidak mau tertarik masuk ke dalam masalah mereka.

Tapi akhirnya aku mengangkatnya setelah benda tipis itu berdering untuk ketiga kalinya. Aku menarik nafas dalam sebelum mengucapkan salam.

Hello, appa’s girlfriend!” sapaku seceria mungkin. Walaupun dalam hati, aku memaki diriku sendiri karena sudah mengatakan itu.

“Sica, that’s so sweet~” Dia terkekeh. “Maaf. Appamu tidur nyenyak sekali setelah mabuk di pesta perayakan kelulusan putraku tadi. Jadi aku terpaksa meneleponmu. Bisakah kau datang ku rumahku?”

Oh ya, dia memang mempunyai anak yang baru saja lulus. Hm, mengingatkanku pada Luhan. Aku dan Hyoyeon sampai membantunya menyelesaikan skripsinya selama dia magang di perusahaan tempat ku bekerja. Ya, begitulah caranya kami dekat. Dia magang di tempatku bekerja, menjadi rekanku dan bersamaku setiap waktu. Hingga saat dia selesai dengan magangnya pun, dia tetap datang untuk menemui ayahnya sekalian aku dan Hyoyeon. Sekarang? Namaku dicoret.

“Oh ya,” aku menyetujuinya. “Maaf karena tidak bisa datang ke pestamu. Aku sibuk sekali. Sedang mengincar proyek besar.”

“Ya, aku tahu. Dan aku bangga. Aku harap anakku bisa bekerja seprofessional dirimu.”

Hei, aku tidak seprofessional yang kau pikirkan. Tapi, yah terserah. Aku tidak berniat untuk membantahnya. Aku tidak mau terdengar seperti bisa menerimanya sebagai kekasih appa sekarang. Aku tidak mau dekat dengan semua kekasih appa kalau pada akhirnya mereka akan melihatku dengan tatapan benci akibat dibuang oleh appa. Cih, wanita yang menyedihkan.

“Terima kasih.”

Aku hanya membalasnya dengan nada sungkan lalu pamit untuk memutuskan telepon. Kemudian ku putar stir mobil untuk membelokkan mobil. Aku menuju rumah wanita yang akan menjadi korban menyedihkan selanjutnya itu.

Aku melirik ke kanan dan kiri, berharap tidak melewati belokan yang seharusnya ku lalui. Aku tidak terlalu ingat rumahnya. Hei, untuk apa pula aku mengingatnya kalau dia juga paling hanya akan menjadi masa lalu appa?

Aku kembali tertegun saat melewati tempat yang pernah ku datangi oleh Luhan. Aku ingat hari itu. Hubungan kami masih baik-baik saja. Kami disana untuk mencari data skripsi yang berakhir dengan bermain-main seharian penuh. Melakukan banyak tingkah konyol. Dan bagi orang kaku sepertiku, itu terasa… amazing.

Stupid Jessie.. you know that you miss him…

Aku segera menghapus air mataku yang menetes. Lagu Avril yang berjudul Wish You Were Here mengalun dari radio mobilku. Sial.. sial sekali.. membuat diriku lemah sekarang. Hyoyeon benar, aku merindukannya.

I can be tough
I can be strong
But with you, it’s not like that at all

There’s a girl
who gives a shit
behind this wall
You’ve just walked through it

And I remember, all those crazy things you said
You left them riding through my head
You’re always there, you’re everywhere
But right now I wish you were here.
All those crazy things we did
Didn’t think about it, just went with it
You’re always there, you’re everywhere
But right now I wish you were here

Damn, Damn, Damn,
What I’d do to have you
here, here, here
I wish you were here.
Damn, Damn, Damn
What I’d do to have you
near, near, near
I wish you were here.

I love the way you are
It’s who I am, don’t have to try hard
We always say, say like it is
And the truth is that I really miss

>>>

Aku tersenyum tipis saat pintu terbuka. Wanita itu dengan gaun malam yang memperlihatkan lekukan tubuhnya itu menyambutku hangat. Astaga, di malam yang dingin ini, masih juga memakai gaun seperti itu. Apa dia lupa kalau umurnya tidak muda lagi? Tubuhnya mudah terserang penyakit. Masih juga menantang udara dingin. Ckck..

Dia mempersilahkanku masuk. Dia menjelaskan bahwa anaknya harus segera kembali ke rumah mantan suaminya. Itu sebabnya anaknya tidak bisa mengantarkan appa pulang. Aku hanya menganggukkan kepalaku selagi mendengarkannya. Bertindak seakan aku mendengarkannya dengan baik. Padahal di otakku, aku sibuk berpikir cara terbaik untuk menggeret appa keluar dari rumah ini dengan segera lalu pulang dan dia bisa tidur secepatnya.

“Oh, Jess! Sebelum itu, kau harus bertemu dengan anakku. Kalian harus saling kenal. Kalian akan segera menjadi adik-kakak, kan?” seru wanita itu dengan semangat.

Satu alasan kenapa aku terus menerus memanggilnya dengan ‘wanita itu’ ialah aku tidak tahu namanya. Bahkan nomornya di handphoneku tersimpan dengan nama ‘wanita itu’. Lagi, aku tidak tertarik untuk mengetahui namanya. Alasannya? Aku sudah mengatakan alasannya berkali-kali, kan? Aku tidak mau dekat dan kenal dengan wanita yang akhirnya akan dicampakkan oleh appa lalu menatapku dengan benci.

“Oh boleh,” jawabku. Mungkin akan lebih baik jika aku mengiyakan saja. Yah walaupun sebenarnya percuma.

Dia menarik tanganku lembut ke tengah ruangan. Terlihat seorang pria sedang sibuk memasukkan laptop ke dalam tasnya. Hm, sepertinya aku mengenalinya. Dan tepat saat dia berbalik badan, aku terpaku di tempat.

“Luhan?” gumamku kaget.

Dan sepertinya dia tidak kalah kaget dariku. Tuhan, apa yang sebenarnya kau rencanakan?

***

Don’t give me a shit,” sungutku pelan.

Bukan bermaksud tidak sopan padanya. Tapi aku dan dia memang sudah seperti sahabat. Dia adalah teman, sahabat, musuh, ayah, ibu, kakak, adik dan segalanya bagiku. Dan kami sudah terbiasa menggunakan bahasa tidak baku seperti ini. Terlebih menggunakan bahasa kasar jika sudah marah. Tapi tetap pada batas normal.

Appa hanya terdiam di sofa sambil mengusap wajahnya gemas. Sedangkan aku di sofa lainnya, menaikkan kakiku dan menyesap tehku dengan geram. Hari minggu pagi yang biasanya indah harus terasa dingin akibat kata-kata appa. Dia bilang ingin menikah dengan wanita itu. Biasanya aku tidak akan ambil pusing dan membalas, “Whatever.”. Tapi ini beda. Setelah mengetahui dia adalah ibu dari Luhan. Itu berbeda. Itu terasa… janggal. Aku tidak mau wanita itu melihatku dengan tatapan benci saat appa menghancurkan pernikahan mereka dengan kasus selingkuhnya, seperti biasa.

“Benarkah karena alasan itu?” tanya Appa dengan nada menyindir.

Aku mengerjap bingung. Aku tidak merasa memberikan alasan apapun. “A-alasan apa?”

“Apakah alasanmu melarangku karena dia adalah ibu dari pria itu?”

Aku terkesiap. “A-aku tidak pernah bilang aku melarangmu!” aku hanya menanggapinya sinis. Aku belum sampai melarangnya. Belum.. karena hatiku memang ingin melarangnya.

“Dari nada tanggapanmu tadi pun Appa tahu kau melarangnya, kan?!” nada bicaranya naik.

Aku menyesap tehku perlahan untuk menenangkan degup jantungku. “Eh, hm.. yesI m-mean no!”

Bodoh kau, Jessica. Apa yang kau pikirkan? Melarang appa hanya karena Luhan? Hah, siapa Luhan? Tidak penting. Yeah.. tidak penting..

Aku terbengong saat appa bangkit dan menghampiriku untuk menepuk pundakku. Dia tersenyum penuh arti padaku. Kali ini, sungguh aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan olehnya. 1, 2, 3. 3 kali dia menepukku lalu pergi ke dapur.

“Jessie.. Jessie.. kenapa kau begitu munafik, uh?” cibir Appa.

Aku kembali terbengong mendengar kata-katanya. Dia meninggalkanku yang sedang memasang wajah bodoh ini begitu saja. Jadi, apa hasil diskusi kami pagi ini?

***

Hah! Wah, ada apa ini? Sudah seminggu ini, dia tidak muncul di kantor. Tahu kan siapa yang ku maksud dengan dia? Luhan. Nah, Jess. Kenapa kau mencarinya sekarang? Kau aneh. Yeah.. yeah..

Aku mengetuk kepalaku sendiri yang sibuk berpikir yang tidak-tidak. Sibuk berbicara yang tak jelas apa topiknya dalam hati. Bersyukur aku tidak benar-benar mengucapkannya atau mungkin orang-orang akan menatapku seakan aku adalah orang teraneh di dunia. Ah, cukup! Kenapa semakin hari, aku malah merasa diriku semakin aneh? Sial!

“Hyo, aku sudah membenarkan beberapa. Kau sisanya, ya?” pintaku sambil memberikan proposal yang dicoret oleh bosku dan sebuah flashdisk yang berisi file yang sudah dibenarkan.

Hyoyeon menatapku dan merengut. “Kenapa aku?”

“Karena kita adalah rekan. Tolong, ya?” rajukku. “Aku ingin pulang cepat. Tidak enak badan. Ku mohon~”

“Baiklah..”

Satu kata yang terlontar dari bibirnya itu membuat senyumku melebar. Ah, you are the best, Hyo! I love you!

>>>

Sebenarnya aku tidak benar-benar merasa sakit. Yang sakit itu hatiku. Dan aku.. tidak tahu kenapa. Yang pasti, semakin lama aku semakin sadar bahwa Luhan adalah salah satu alasannya. Dan itu membuatku ingin berteriak, “Bagaimana bisa?!”

Aku menghempaskan tubuhku di sofa, sedangkan tas ku lemparkan ke sembarang tempat. Aku ingin istirahat dari aktivitas menjenuhkanku. Aku ingin merasa bebas sebentar saja. Aku ingin.. tenang.

Saat aku merasa letih sudah terbang jauh dari tubuhku, aku melesat ke kamar mandi. Aku biarkan air hangat mengelus kulitku lembut. Busa-busa memeluk kulitku dengan sentuhan halus. Wangi shampoo yang menenangkan hati. Aku. Harus. Menyenangkan. Diriku.

>>>

Ku langkahkan kakiku ke tempat gemerlap yang menjadi tempat favorit di dunia malam kota ini. Ku goyangkan pinggulku ke kiri dan kanan mengikuti hentakkan lagu. Menari dengan orang asing dan akhirnya berhasil sampai di bar. Perjalanan yang jauh tapi mengasikkan. Sudah lama sekali aku tidak ke sini karena disibukkan oleh pekerjaanku.

Aku memesan segelas vodka lalu melirik ke sekitarku. Sebenarnya cahaya gemerlap itu sukses membuat mataku pusing. Lagunya pun membuatku ragu, apakah telingaku akan baik-baik saja saat keluar nanti? Hah, kenapa aku jadi kampungan seperti ini? Santai saja, Jess. Nikmati malammu.

“Nona, vodkamu,” kata sang barterner agak berteriak setelah mencolek bahuku.

Aku berbalik dan tersenyum. Aku mengambil gelas itu dan meneguknya. Rasa panas melewati tenggorokanku menuju lambung. Kembali ku teguk minuman itu dan merasakan efek yang sama. Sebelum aku meneguk untuk ketiga kalinya, seseorang menepuk pundakku. Aku tersenyum tipis. Dia mengajakku berbincang dan menggodaku. Ck, aku tahu apa yang akan terjadi. Tapi ku ambil akibat itu. Seperti yang ku bilang tadi. Nikmati saja, Jess.

***

Saat aku membuka mata, aku hanya bisa diam. Aku tidak berada di kamarku. Aku tidak tahu dimana aku dan kenapa aku disini. Aku tidak ingat apa yang terjadi semalam. Aku mengubah posisiku menjadi duduk lalu melihat ke sekelilingku, mencari tasku. Tasku ada di meja kecil samping kasur. Aku segera mengambilnya dan merogoh tasku. Aku mencari handphoneku. Tidak ada telepon sama sekali. Ugh, pria tua! Kau tidak khawatir saat anak perempuan satu-satumu tidak pulang semalaman?

Kini aku ingat apa yang terjadi semalam. Pria asing itu mengajakku lomba minum dan aku mabuk berat karenanya. Aku segera menyibak selimut. Sedetik kemudian, aku menghela nafas lega. Aku masih berbusana lengkap. Tidak ada yang hilang. Aku memutuskan turun dan keluar dari kamar. Aku tertegun saat melihat sosok yang duduk di sofa, memakan sereal paginya sambil menonton tv.

“Luhan?” panggilku ragu. Tunggu, kenapa ada dia disini? Ugh! Ini memusingkan!

Dia menoleh lalu kembali menonton tv. Masih sok dingin padaku, uh? Ku cekik juga kau!

“Heh, anak kecil!” panggilku geram.

Dia bangkit dan berjalan ke arahku. “Well.. well.. aku lebih bersyukur menjadi anak kecil tapi bisa melindungi diriku sendiri. Daripada menjadi orang dewasa yang bodoh.”

“Apa maksudmu?”

Dia berhenti di depanku dan menarik daguku, memaksa wajahku mendekat ke arahnya. Dia memperhatikan wajahku sejenak, berhasil membuat pipi memanas. Ku yakin pipiku merah sekarang. Puas memperhatikan setiap titik wajahku, dia mendorong wajahku menjauh. Aku menggembungkan pipiku kesal. Aku tidak mengerti maksudnya.

“Syukurlah tidak ada bekas luka,” gumamnya lalu pergi meninggalkanku kalau saja aku tidak cepat-cepat menahan tangannya.

“L-luka? Luka apa?” bingungku.

“Kau hampir saja dirampok semalam. Wanita tua yang membawa tas mahal ini sok berani mabuk-mabukan sendirian. Bodoh!”

Pletak!

“Aduh!”

Aku memukul kepalanya kesal. Wanita tua? Ah, sial! Aku bahkan hanya berbeda setahun darinya. Keterlaluan sekali dia memanggilku wanita tua! Memang dia semuda apa, hah? Lebih muda 3 tahun dariku hingga memanggilku seperti itu? 4? 5? 6? Atau 7, bahkan lebih? Sialan! Eh, tunggu. Kenapa menusuk sekali saat ini membuatku jadi menyindir umur? Hah..

“Aish, kenapa kasar sekali kepada penyelamatmu ini?” protesnya.

Aku memanyunkan bibirku. “Lagian.. wanita tua.. memang aku sudah tua?”

“Tidak. Tapi kau lebih tua dariku.”

“Hanya setahun, bukan?”

“Bukannya kau sendiri yang sangat bermasalah dengan ‘umur’?” balasnya sengit.

“Umur hanyalah sebuah umur. Itu hanya sebuah angka. Itu bukan masalah—“

Aku terdiam. Itu kata-kata appa saat aku menceritakan hal ini padanya. Aku mengerjap dengan pandangan tetap tertuju padanya. Sedangkan dia menatapku dalam. Sebuah seringaian terukir di wajahnya. Sial! Aku langsung menundukkan kepalaku.

“Nah, ternyata kau sendiri yang mengatakannya, kan? Lalu kenapa kau menolakku dengan alasan umur?” tanyanya, menyibirku tajam.

“Yeah.. aku…” baiklah, aku kehabisan kata-kata sekarang.

Dia melepaskan tanganku yang masih menggenggamnya sedari tadi lalu pergi meninggalkanku. Aku menghela nafas panjang. Hah, kenapa aku bodoh sekali? Aku meruntuk kesal. Syukurlah dia pergi. Jadi dia tidak perlu melihatku meruntuk pelan seperti ini.

Pluk !

Sebuah handuk terlempar ke kepalaku. Aku menyingkirkannya cepat dan menoleh. Aku melihat Luhan dengan senyuman khasnya—senyuman yang ku rindukan—kepadaku sambil mengisyaratkanku untuk mandi dengan bola matanya. Ku hembuskan nafas lega. Dia kembali menjadi Luhan yang dahulu.

>>>

Aku baru saja menerima telepon dari Hyoyeon yang cemas karena aku tidak masuk kerja. Aku menjelaskan semuanya dan dia merasa lega. Tentu saja alasan utama yang membuatnya lega adalah saat tahu aku ditolong oleh Luhan. Sepertinya dia berharap sekali agar hubunganku dan Luhan membaik.

Aku dipaksa untuk tetap di apartemen Luhan sampai appa datang bersama ibunya Luhan. Ini membuatku gugup. Aku hanya menghabiskan waktu di kamar. Luhan sudah beberapa kali mengajakku untuk keluar kamar. Tapi aku tetap berada di kamar. Aku sempat keluar saat baru bangun tidur dan untuk sarapan tadi. Tapi setelah itu, aku masuk lagi.

Kini aku memakai pakaian ibunya. Ibunya memang sering menginap disini sehingga ada banyak baju yang bisa ku pakai. Tidak ku sangka tubuh kami sama ukurannya. Pakaiannya pas di tubuhku. Tapi tetap saja, ku harap dia tidak berharap banyak saat melihatku memakai bajunya nanti. Ku harap..

Aku menoleh saat mendengar pintu kamar dibuka. Sosok appa bersama kekasihnya itu muncul dan masuk ke kamarku. Appa membiarkan ibunya Luhan itu menghampiriku dan mengelus kepalaku. Dia hanya berdiri di dekat pintu sambil tersenyum tipis. Dia tidak terlihat khawatir sama sekali. Tidak seperti ibunya Luhan. Argh, pria tua menyebalkan!

“Kau baik-baik saja, Jessie? Luhan sudah menceritakan semuanya. Lain kali, kau harus bersama teman jika ke kelab malam. Mengerti? Kalau perlu, kau bawa Luhan bersamamu. Setidaknya aku tidak perlu khawatir,” katanya khawatir.

Pada kenyataannya, kau tidak punya hak dan kewajiban untuk mengkhawatirkanku, nyonya. Tapi terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Setidaknya aku tahu ada yang mengkhawatirkanku selain Hyoyeon. Karena kenyataanya, ayah kandungku pun tidak khawatir sama sekali.

“Hm, yeah.. lain kali aku akan mengajak Luhan,” tanggapku pendek.

Luhan muncul dan melipat tangannya. “Tidak.. tidak.. jika ku tahu, akan ku larang kau kesana. Disana tidak aman.”

“Kau saja yang terlalu polos. Dasar anak kecil!” balasku kesal lalu menjulurkan lidahku.

“Anak kecil?” dia menghampiriku. Dia mendekatkan wajahnya padaku, membuatku memundurkan wajahku darinya. Tapi sialnya dia tetap mendekatkan wajahnya padaku hingga akhirnya posisiku sekarang adalah hampir berbaring di atas kasur. “Setidaknya aku adalah anak kecil yang berhasil membuat pipimu semerah itu,” lanjutnya sambil mengedip matanya padaku lalu menarik diri.

Aku mengerjap. Aku merengut lalu menendang kakinya, barulah kembali ke posisi duduk. Dia terlihat kesakitan karena tendanganku.

“Berhenti menggodanya, Luhannie. Kau bisa menggodanya setiap waktu nanti. Bersabarlah,” celetuk appa.

Luhan terkekeh seperti orang gila mendengarnya. “Ya.. ya.. aku menunggu saat itu.”

“Puas menggangguku…?” ulangku bingung.

“Iya, saat kita menjadi keluarga nanti,” jawab Luhan.

“Hah? Kalian jadi menikah?” tanyaku dengan nada tidak suka yang pasti.

Appa dan wanita itu tertawa mendengar pertanyaanku. Mereka menggeleng pelan.

Of course nosilly girl! Maksudku saat kalian menikah nanti,” jelas appa. “Aku sudah menceritakan semua curhatanmu kepada Luhan. Luhan harus tahu apa yang terjadi. Jadi dia tahu hatimu seperti apa.”

“Uh.. HUA?!”

Ketiga orang itu menutup telinganya mendengar teriakanku. Ah, sial! Pria tua sialan! Pria tua sialan! Umma~~ kenapa kau harus menikah pria bodoh sepertinya? Kenapa aku harus mempunyai ayah sepertinya? Ah!!

>>>

Appa dan wanita itu—aku masih belum mengetahui namanya—pergi begitu saja setelah bertemu denganku. Mereka menyuruh Luhan untuk mengantarkanku. Hah, masa saja bohong. Ku kira mereka datang untuk menjemputku. Payah sekali..

Dia mengantarkanku dengan mobilku. Tentu saja. Aku membawa mobil ke kelab malam, tidak mungkin kan dia meninggalkan mobilku begitu saja? Sesekali dia terkikik pelan selama perjalanan. Ku tebak dia senang karena mengambil kesimpulan bahwa aku menyukainya. Menyukainya? Oh tidak, aku tidak tahu. Aku hanya tahu kalau aku membutuhkannya. Argh, apa yang ku bicarakan sih?

Saat sampai di gedung apartemen, dia tidak langsung pulang. Dia mengantarkanku sampai depan pintu apartemenku. Aku mendengus pelan karena tidak bisa melarang. Percuma, dia tidak mau mendengar. Telinganya sudah ditulikan dengan cerita-cerita appa tentangku.

“Sudah sampai. Pulang sana!” usirku.

Luhan tersenyum tipis dan menggeleng. “Tidak mau.”

Aku memutar mataku. “Apa-apaan ini? Kau bertingkah seperti ini, padahal kemarin-marin kau dingin padaku.”

“Aku dingin karena ingin mengetahui reaksimu. Apa kau merasa kehilanganku atau tidak. Karena aku tidak percaya kalau kau tidak menyukaiku. Dan ternyata benar, kan?” balasnya penuh dengan percaya diri.

“T-tidak! Aku tidak menyukaimu!”

“Uh-hu.. merasa sedih karena aku menjauhimu. Lalu kecewa karena aku hanya mendatangi Hyoyeon. Belum lagi kau merasa kesal saat aku menggoda teman kerjamu. Jadi itu apa?”

Aku membuang muka. “Terserah!”

“Akui saja~” cibirnya.

“B-baiklah..”

“Baiklah.. apa?”

Aku menatapnya tajam. “Aku menyukaimu. Apalagi, hah?”

Dia tersenyum tipis. “Nah, kenapa tidak bilang dari dulu?” ujarnya sambil mendekatkan wajahnya kepada wajah. Dia mengecup bibirku sekilas. “I love you too.”

Aku terperangah. Anak kecil ini.. seenaknya saja menciumku! Aku mendengus pelan. Tiba-tiba aku terpikir tentang appa dan wanita ituWell, kini aku senang memanggilnya dengan panggilan ‘wanita itu’. Haha..

“Lalu bagaimana dengan orangtua kita?” tanyaku.

“Ayolah, Jess. Kita tidak punya hubungan darah. Itu tidak ada masalahnya dengan kita. Lagipula mereka berhubungan hanya untuk memuaskan nafsu. Jadi mereka sudah berpisah karena kita. Mereka sama sekali tidak saling mencintai,” jelasnya.

Aku mengangkat alisku bingung. “Tapi mereka sampai merencanakan pernikahan, kan?”

“Itu hanya untuk melihat reaksimu setelah tahu apa yang terjadi pada kita. Itu semua idenya ayahmu.”

Kan.. dasar pria tua itu.. huh!

“Dan lagi, kalau pun ada pernikahan yang mereka rencanakan, itu adalah pernikahan kita di masa depan,” lanjutnya.

Aku mengerjap. “Uh.. oh? M-menikah?”

=== May I Love You ===

So? Bagaimana? Seru.. atau garing? Atau ga nyambung? Hahaha
Ayo komen \(^o^)/

Advertisements

25 responses to “[Oneshoot] May I Love You?

  1. Annyeong..
    Aku reader baru disini.. Salam kenal ^^

    Wah, fanfic mu bagus-bagus.. 🙂
    Aku udah baca fanfic2 disini, dan aku suka semuanya, terutama yang ‘Calling Out’..
    Karena biasku juga Jessica eonni.. 😀

    Awalnya aku ngerasa aneh sama Couple Jessica-Luhan, kan biasanya Kris_Sica..
    Tapi setelah baca bnyk Fanfic ttg LuhanSica disini , aku jadi suka couple satu ini..
    Hihi 😀

    Sumpah, aku ngefans bgt sama bahasa penulisannya, kerennnn.. 😉
    Buat Fanfic LuhanSica lagi ne?? #SiapaGue??#Plakk 😀
    Aku mendukungmu.. ^^

    Ok deh.. Sekian.. 🙂

    #NarikLuhanTutupPintu..

    • salam kenal juga ^^
      wah kita sama-sama gorjess spazzer 😀 tos dulu dong ~

      iya aku juga aneh. luhan itu kan anaknya krissica. masa iya anak ngerebut emaknya sendiri? emang kucing gitu yang bisa nikahin emak sendiri -_- tapi terpaksa karna ada yang request. haha

      ngefans kok sama bahasa penulisannya? sama orangnya dong ._. /plak

      luhansica lagi… duh liat aja deh nanti ._.v

  2. ahahahaha luhan bandel .___. ditabok ama kris nanti wakakaka.
    bytheway itu bapake jessica kok seneng bener ngerjain anaknya ya? hm~ dan ibunya luhan itu misterius ya, sampe ga tau namanya ._.
    bagus koooook… buat lagi yaaaa hehe. fighting!! ^-^

  3. Ciyee yg skrg suka bikin ff Hansica. Eh gak taunya request-an si ve -,-”
    Kayaknya skrg ve jadi Hansica shipper, ya ketimbang jadi Kyusica shipper..

    Overall, bagus. Feel-nya kerasa, dan enak aja di baca. Bahasanya santai dan nyaman, gak bikin sakit kepala..

  4. hyaaaa,,,, hemh, anyeong!
    nama kita hampir sama, aku farah, aku suka tulisan kamu, jadi tiap ada waktu aku suka kunjungi blog kamu, bagus bahasanya juga bagus, cheonsa teamnya dong aku nunggu lama nich….
    aku suka main ke blog kamu karna castnya jessica, dan Luhan hahahaha
    Hwaiting chingu

  5. kya kece kakkkkkkkk >.< seneng banget aku bacanya ! aih aih sumpah deh
    aku harus promosiin kakak ke kakak kelasku yg lusica shipper juga 😛 hahahaha
    itu papa jail deh sama mami. kalo dijailin lagi mami aku kasihin ke papi kyu loh! biarin papa luhan nangis nangis juga ga akan aku kasih xP
    ayo nikah! ayo nikah! lanjut kak sampe ke pernikahan mereka! pas mereka lagi bersumpah janji tuh nanti papi kyu muncul dan bawa kabur mami. hahahaha XDD

  6. Ceritanya simple ^^
    gak ada konflik yg terlalu panjang.. jadi bikin rilex bacanya *loh?* :3

    suka banget pas bagian si Luhan mulai nyuekin Jessi..
    habisnya……. aku susah ngebayangin sih /plaks/ :p

    entah knpa belakangan jadi suka LuSica juga -_-
    kapel mommy ke’3 yg aku suka :3
    hahaha..

    and last,..
    mian ya cousin aku baru komen.. kemaren” aku sybuk ._.v
    kkk

    • kalo ga bisa ngebayangin kok malah disuka sih? wirdo cousin :p /plak
      emang lu suka couple apa aja? O_O tenang, temen lu banyak kok. banyak yg jadi shippernya lusica. dan banyak lusica shipper yg ngerubungi gue -__-
      iya maaf juga belum sempet main ke blog mu ._.v lagi ga ada waktu mulu. nanti kalo ada waktu, gue mau lanjutin baca double date. hoho

  7. jessica selalu aja ga nurutin perkataan dalam hatinya.. huuft, tp syukurlah dia sadar di saat yg tepat… untungnya luhan tau isi hati jessica kepadanya.. ckckckkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s