[3Shoots] Pinnochio Mannequin (1st Shoot)

Title : Pinocchio Mannequin

Subtitle : End of Our Fairytale (Jessica Ver.)

Author : Lee Hyura

Genre : Angst, Comedy, Fluff, Romance

Rating : PG-13

Length : Oneshoot

Cast :

–          SNSD Jessica

–          EXO Luhan

Note : niatnya sih mau ngepublish yang Yoona dulu. Tapi ternyata yang selesai duluan tuh yang Jessica ver. Maklum ya.. aku kan bukan sone tapi gorjess spazzer -_-v

Setting ff ini di Paris. Sebenernya ga pede sih pake Paris karena ga terlalu kenal Paris. Kalau Berlin, Tokyo, Seattle baru pede. Huehehe.. beruntung temen ada yang berotak isi Paris. Saking cintanya sama dunia fashion tuh.

Pokoknya ff ini terinspirasi dari temenku itu lah. Dari Paris sampe fashionnya. Soalnya aku emang dodol banget soal fashion. Muahaha..

 

=== Pinnochio Mannequin ===

 

“Ah, sudah selesai!” seru gadis itu sembari menatap kagum hasil desainnya.

 

Dia adalah Jessica Jung, mahasiswi jurusan fashion design di PAA (Paris American Academy) yang sedang magang di sebuah butik kecil. Butik itu berada dekat dengan Pasteur Institute. Sehingga tidaklah sulit menemukan mahasiswa dari institute itu di butik yang kecil ini.

 

Sebenarnya selain butik itu berada di tempat strategis, Jessica memilih butik itu juga karena butik itu dekat dengan stasiun metro Pasteur, stasiun yang menjadi penghubung antara jalur 6 dan jalur 12. Sehingga Jessica tidak perlu harus berganti bus atau metro untuk pulang ke rumahnya yang dekat stasiun Saint-Jacques di jalur 6 atau PAA yang dekat dengan stasiun Abbesses di jalur 12. Benar-benar tempat strategis di berbagai alasan.

 

“Ah, coba kau lihat ini, Madame!” seru Jessica kepada pemilik butik itu.

 

Marie Leroy—pemilik butik—tersenyum tipis seraya mengambil kertas yang ditunjukkan oleh Jessica. Dia menatap gambar desain itu dengan senyuman tipis. Wajah ramahnya terlihat lembut karena senyuman itu.

 

“Dress yang lembut dan santai, Jess. Tapi apa dress ini tidak terlalu sederhana?” komentar Marie.

 

Jessica menepuk tangannya atraktif. “Madame.. kau tahu sendiri bagaimana seleraku. Aku tidak terlalu suka dengan unsur glamor. Aku lebih suka hal yang sederhana namun ‘wah’!”

 

“Ya, aku tahu. Itulah yang ku suka darimu, Jess..”

 

“Jadi?” Jessica menilik mata biru pemilik butik itu.

 

Marie tersenyum tipis. “Kau mau membuatnya sendiri?”

 

Jessica menatap Marie tidak percaya. Akhirnya Marie membiarkan orang lain selain pegawai khususnya untuk menjahit sendiri pakaian yang akan dipajang di butiknya. Butik itu memang bukan butik biasa. Butik itu adalah butik yang lumayan terkenal di Prancis tapi hanya saja Marie tidak mau melebarkan bisnisnya. Jessica mengangguk cepat. Ia tidak berkata apapun.

 

***

 

Jessica tidak membuang-buang waktu. Dari pagi saat matahari masih malu-malu memancarkan sinarnya, dia sudah berada di ruang menjahit. Beberapa pegawai membantunya mengukur dan lain-lain. Walaupun begitu, tetap saja waktu untuk menjahit tidak bisa selesai dalam beberapa jam saja. Beberapa pegawai mulai pulang meninggalkan dirinya. Tapi Jessica tidak peduli. Ia tenggelam dalam kegiatannya. Malam ini, dia menghabiskan waktu sampai larut malam sendirian.

 

“Ah..”

 

Jessica mendesah pelan sambil menarik tangannya dari mesin jahit. Dia bangkit dan melihat gaunnya. Dia memakaikannya kepada mannequin yang berada di dekatnya. Dia mengambil beberapa hiasan, jarum dan benang. Ia mulai menjahitnya dengan perlahan, memastikan ia melakukannya dengan benar.

 

Setelah semuanya selesai, dia menghempaskan dirinya di lantainya. Rasa kantuk dan lelah menyergapnya dengan sangat cepat saat ia sadar kerjaannya sudah selesai. Sebuah pakaian pertama yang ia buat diluar sekolah. Dia menatap dress itu dengan rasa puas. Sedetik kemudian, dia sudah terlelap pulas di lantai yang dingin itu.

 

>>>

 

Srek..

 

“Eung..”

 

Suara aneh yang ditangkap oleh telinga Jessica membuat gadis itu terbangun. Biasanya suara nyaring jam weker pun tidak pernah berhasil membuatnya bangun. Tapi suara ini berbeda. Suara yang membuat Jessica merasa was-was.

 

Srek..

 

Kembali suara itu yang didengar oleh Jessica. Dengan berat hati, Jessica membuka matanya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk lalu mengucek matanya lembut dan menguap. Bolanya menyelusuri sekitarnya dengan malas. Saat melihat hal yang aneh, matanya membulat.

 

“Hua!!” ia berteriak nyaring.

 

“Akh,” sebuah suara meringis pun terdengar.

 

Jessica merangkak ke sudut ruangan untuk menjauhi orang itu. Orang itu memakai pakaian yang baru saja selesai dijahit oleh Olivier tadi siang. Dia terlihat bingung. Dia berjalan perlahan menuju Jessica. Langkahnya yang sangat kaku, mengingatkan Jessica akan film horor yang kemarin ia tonton bersama sahabatnya.

 

Mademoiselle,” panggil orang itu.

 

Tubuh Jessica berkeringat dingin. Dia tidak bisa berkata apapun.

 

Mademoiselle, jangan takut..” kata orang itu.

 

“B-berhenti!” pekik Jessica.

 

Orang itu akhirnya berhenti. Dia menatap Jessica lirih. Padahal ia pikir Jessica bisa membantunya. Tapi sepertinya dia salah. Bahkan Jessica takut dengannya. Sejenak, ia merasa sedih dan menyesal.

 

“Siapa kau?” tanya Jessica dengan suara parau.

 

“Aku pangeran dari planet EXO.”

 

“JANGAN BERCANDA!”

 

“Aku tidak bercanda…”

 

Jessica menarik nafas dalam. Wajah polos orang itu membuatnya sedikit tenang. Dia mencoba mengatur kecepatan nafas dan detak jantungnya. Dia bersyukur karena orang itu tetap di posisinya, tidak lagi berusaha mendekati Jessica.

 

“Baiklah. Pertanyaanku ganti. Kenapa kau ada disini?” tanya Jessica.

 

Orang itu mengerjap. “Karena aku dibawa kesini.”

 

“Apa?!”

 

“Loh? Kenapa kaget? Kita sudah bertemu sejak tadi siang. Bahkan kau melihat Olivier memasangkan baju di tubuhku, kan?”

 

“HAH??”

 

>>>

 

Jessica mengeratkan mantelnya. Jam tangannya menunjukkan waktu setengah 2 dini hari. Dia terpaksa menggunakan bus karena metro sudah tutup. Dia turun di halte dan mempercepat langkahnya. Seseorang yang sedari tadi terus berada di belakangnya pun ikut mempercepat langkahnya.

 

Jessica menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 3. Itu hanya sebuah asrama yang tidak mewah. Berbeda dengan teman-teman sekelasnya yang lain. Tentu saja, jika kau bisa bersekolah di PAA, berarti kau bukanlah dari kalangan biasa. PAA memang mengadakan beasiswa. Tapi tetap saja itu tidak membuat bayaran sekolah itu menjadi murah. Tapi Jessica memang sengaja menyewa kamar itu karena pemandangannya.

 

Jessica mengeluarkan kuncinya dan memutar kunci di lubang pintu. Setelah terdengar suara ‘klik’, Jessica memutar kenop. Dia tidak langsung masuk. Dia berbalik badan untuk mengecek keberadaan orang yang mengikutinya tadi. Melihat orang itu baru saja muncul dari tangga, Jessica segera berlari ke arahnya dan menariknya paksa ke dalam kamarnya.

 

Jessica mendorong orang itu agar duduk di sofa kecil namun nyamannya itu kemudian mengunci pintu kamarnya. Dia duduk di sofa yang lain, yang berjarak cukup jauh dari orang itu.

 

“Jadi.. kenapa kau bisa ada disini?” tanya Jessica.

 

Pria itu menarik napas. “Aku disini untuk mencari seseorang. Dia sahabatku. Sahabatku kabur dari planetku ke bumi.”

 

“Lalu kau pergi ke bumi ini dan menjadi mannequin?” cibir Jessica sinis.

 

Pria itu menggeleng. “A-aku tidak tahu. Err, tidak mengerti tepatnya. Aku tidak mengerti kenapa aku menjadi sebuah boneka.”

 

Jessica memijat keningnya pelan. Tubuhnya terasa sakit karena seharian mengurusi gaunnya. Rasa kantuknya pun masih belum hilang.

 

“Namamu.. siapa namamu? Kau mempunyai nama, kan?” gumam Jessica.

 

Pria itu menggeleng. “Tidak. Kami tidak mempunyai nama. Untuk apa nama jika kita bisa mengenali satu sama lan tanpa nama?”

 

God, help me, erang Jessica.

 

***

 

Jessica meminta izin kepada Marie kalau dia tidak bisa datang ke butiknya hari ini. Marie tidak keberatan karena dia tahu Jessica sudah bekerja keras untuk menyelesaikan gaunnya. Yah walaupun belum sepenuhnya selesai karena hiasan-hiasannya masih dijahit tangan oleh Jessica. Tapi Marie sudah menyuruh orang lain untuk menyelesaikan gaun itu.

 

Jessica menyandarkan punggungnya di sofa lalu membuka majalahnya. Dia tidak berhasil mendapatkan tidur yang nyenyak hari ini. Dia terbangun saat jam 6 dan tidak bisa tidur lagi. Padahal Jessica bukanlah morning person. Dia membalik halaman majalah sambil sesekali menyesap kopinya.

 

“Hei!”

 

Jessica mengangkat wajahnya saat mendengar ada yang menyapanya. Dia hampir lupa dengan keberadaan pria itu. Jessica menggigit bibirnya, ragu untuk membalas sapaannya atau tidak.

 

“Hei,” balas Jessica akhirnya.

 

“Kau sedang apa?” tanya orang itu. Hm, ya.. orang itu.. orang itu.. dan orang itu.. Jessica pun bingung harus memanggilnya apa. Dia tidak mengerti cara bangsa orang itu untuk saling berkomunikasi tanpa mengetahui nama.

 

“Membaca majalah? Hm, ya..” jawab Jessica seadaanya. “Mau ku buatkan kopi?”

 

“Kopi?”

 

Jessica mengangguk. “Ya. Kopi… ya seperti ini,” jawab Jessica sambil mengangkat cangkir berisi kopinya.

 

Orang itu mengambil cangkir itu dan meneguknya. Jessica tersentak kaget karena tingkah orang itu yang spontan.

 

“Ini saja..” kata orang itu.

 

Terserahlah.., gerutu Jessica. “Oh, bagaimana kalau kita mencari nama untukmu? Kau tahu, disini berbeda dengan planetmu. Kami membutuhkan nama untuk saling mengenal.”

 

Orang itu mengerjap bingung. Akhirnya dia mengangguk. Dia sedikit mendekat kepada Jessica saat melihat gambar di halaman majalah yang dipegang oleh Jessica.

 

“Lu..”

 

“Hah? Lu? Oh, kau pasti sedang melihat majalah itu, ya?” Jessica memainkan jemarinya di dagu. “Bagaimana dengan Hans? Aku suka sekali dengan nama itu sejak aku berkunjung ke Jerman! Sebenarnya nama itu untuk anak masa depanku. Tapi—“

 

“Lu..” ulang pria itu.

 

Jessica merengut. “Kau lebih menyukai ‘Lu’ daripada ‘Hans’?”

 

“Lu…” gumam pria itu lagi sambil mengelus majalah yang sedang dibaca oleh Jessica.

 

Jessica mendengus. “Baiklah. Supaya adil, bagaimana dengan Luhans?”

 

Pria itu menatap mata Jessica. Jessica menelan air liurnya. Seumur-umur baru kali ini dia ditatap sedekat itu dan dengan tatapan sepolos itu. Jika dia tidak berusaha untuk mengontrol diri, mungkin dia sudah hanyut akan tatapan itu.

 

“Luhan?” bingung pria.

 

“Hm, ya.. Luhan.”

 

***

 

Jessica mengajarkan banyak hal yang menjadi kebiasaan para penghuni bumi kepada Luhan. Dari cara bersikap hingga berbicara. Aksen Luhan yang aneh itu pun sedikit demi sedikit berubah menjadi aksen para orang Prancis. Tidak hanya mengajarkan hal-hal itu, Jessica juga terpaksa membawa Luhan berbelanja pakaian baru karena Luhan tidak mungkin memakai pakaian milik Olivier terus-menerus. Selain Olivier pasti mencari karyanya itu, baju itu juga akan kotor.

 

Jessica memilih pakaian yang cocok dan pas bagi Luhan lalu menggiring Luhan ke kamar ganti. Dia menyusun semua pakaian itu di tempat yang disediakan lalu mendorong Luhan masuk.

 

“Ganti satu persatu dan perlihatkan kepadaku. Mengerti?” perintah Jessica. “Jangan lupa tutup pintunya.”

 

Luhan mengangguk. Dia menutup pintu. Tapi pintu itu terbuka sedikit. Dia mencoba menutup pintu lagi, tapi pintu itu terbuka lagi.

 

“Jessica~” panggil Luhan.

 

Jessica yang baru saja hendak duduk pun menoleh kesal. “Apa?”

 

“Pintunya tidak mau ditutup.”

 

Astaga!, geram Jessica.

 

Jessica kembali menghampiri Luhan. Dia masuk ke dalam kamar itu bersama Luhan. Sebelum memulai kegiatan mengajarnya, Jessica menarik nafas dalam.

 

“Perhatikan aku baik-baik!” pesan Jessica.

 

Luhan hanya mengangguk. Jessica mengajarkannya perlahan. Setelah mengajarkannya, ia menyuruh Luhan untuk mengulanginya. Setelah berhasil, Jessica keluar dan duduk di kursi yang disediakan.

 

“Aku akan mengarang alasan yang masuk akal kepada Olivier nanti,” runtuk Jessica pelan.

 

Jessica bersenandung pelan untuk menghilangkan rasa bosan. Luhan masih juga belum keluar dari ruang ganti. Jessica mengetukkan kakinya kesal. Apa Luhan mencoba semua baju? Bukannya Jessica sudah menyuruhnya untuk mencoba satu persatu dan perlihatkan kepada Jessica? Kehabisan kesabaran, Jessica bangkit dan mengetuk pintu kamar yang digunakan oleh Luhan.

 

“Luhan! Belum selesai?” tanya Jessica kesal.

 

Hening.

 

“Luhan?”

 

“Hm, Jessica!” seru Luhan yang terdengar frustasi. “Aku tidak mengerti cara memakai ini semua.. kau bisa membantuku?”

 

Jessica mematung di tempatnya. Dia hanya bisa menelan air liurnya. Apa dia harus masuk dan membantu Luhan? Bagaimana jika orang-orang berpikir yang macam-macam?

 

“Jessica~” Luhan merajuk.

 

“B-baiklah..”

 

Luhan membuka pintunya dan menarik Jessica masuk. Jessica menimbang-nimbang apa yang seharusnya ia lakukan. Dia tidak pernah berhadapan langsung dengan pria manapun dalam hal ini. Dia terbiasa dengan di lingkungan wanita. Dia besar dengan ayahnya sebagai satu-satu pria di hidupnya.

 

“P-pertama.. buka kancing kemejamu,” kata Jessica.

 

Jessica membuka kancing itu perlahan. Tangannya bergetar saat merasakan nafas Luhan mengelus wajahnya lembut. Setelah kemaja itu sudah terlepas, Jessica melepaskan t-shirt hijau yang dikenakan Luhan di dalam kemeja. Kini dia sudah berhadapan dengan topless Luhan. Sambil memaki dan berdoa di waktu bersamaan dalam hati, dia menarik nafas dalam.

 

“Sekarang kau tinggal membuka celanamu. T-tapi, tunggu aku keluar dulu. Mengerti?” kata Jessica.

 

Luhan menggeleng. “Aku kan juga tidak tahu cara membuka celana ini.”

 

What the.. Jessica berdecak. Dia tidak sanggup berkata apapun. Dia mencoba memutar otaknya untuk mencari cara terbaik. Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa harus dia yang berada di posisi ini? Ingin rasanya berteriak.

 

“Caranya.. yang pertama, bukan kancingnya. Lalu turunkan resletingnya. Sangat mudah. Kau bisa melakukannya sendiri. Tidak perlu aku yang harusnya melakukan itu, kan?” ujar Jessica, sedikit berharap.

 

Luhan menggeleng. “Aku tidak mengerti.”

 

“Apa kau tidak pernah memakai baju di planetmu?!” kesal Jessica.

 

“Tidak. Kami mempunyai pakaian abadi. Tapi pakaian itu tidak berfungsi saat aku berada di luar planet kami,” jawab Luhan.

 

Jessica mengetukkan tangannya di kening. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Jantung berdetak sangat kencang. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena gugup. Udara di sekitar mereka juga terasa meningkat.

 

Tuhan, maafkan aku… maafkan aku… berhenti menyiksaku… Kau tahu aku tidak pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, kan? Tidakkah Kau berpikir ini terlalu kejam untukku? Aku adalah hambaMu yang baik, kan? Kenapa harus diberikan cobaan sekejam ini??

 

Jessica sibuk meracau dalam hati. Dia menjulurkan tangannya ke celana Luhan sambil memejamkan matanya erat-erat. Tiba-tiba terdengar suara erangan dan desahan dari kamar pas di samping mereka. Jessica tahu Paris memang kota yang bebas. Bukan hal yang aneh jika ada yang make out di kamar pas. Tapi apa harus sekarang?

 

“Aku tidak sanggup!” erang Jessica sambil menarik tangannya. “Kalau begitu, ganti baju saja. Celanamu tidak usah diganti. Mengerti?”

 

Luhan mengangguk. “Baiklah..”

 

Jessica segera membuka pintu. Tapi tangannya ditahan oleh Luhan. Jessica menoleh kesal.

 

“Apa lagi?”

 

“Wajahmu, Jess.. wajahmu merah. Ada apa?” tanya Luhan polos.

 

It’s because of you, Luhan! Why are you so clueless and innocent? I can’t even mad at you, you know?!

 

Jessica segera melepaskan tangannya dan menjauh dari Luhan secepat yang ia bisa. Dia benar-benar frustasi berhadapan dengan makhluk seperti Luhan.

 

=== Pinnochio Mannequin ===

 

Gimana first shootnya? ._.

Tadinya sih mau aku buat oneshoot. Tapi ternyata kurang ‘ngena’ kalo misalnya oneshoot. Semua ceritanya pada ribet. Aneh kalo oneshoot doang. Jadi aku buat 3shoots semua ‘-‘)b

Sepertinya aku semi hiatus deh. Soalnya aku ga sanggup ninggalin dunia ff terlalu lama. Tapi karena kesibukanku ini, maaf ya kalo komentarnya pada lama ku bales. Tapi jangan mentang-mentang aku lama balesnya, jadi pada ga bales.

Pokoknya aturan tetapku yang sekarang, komentar sedikit = ff dibatalkan! -__-v

Advertisements

16 responses to “[3Shoots] Pinnochio Mannequin (1st Shoot)

  1. ngakak pas bagian kamar pas xD luhan,, luhan.. polos banget sih aw. jess onnie juga xD
    lanjut eon! saya tunggu ‘-‘)9

  2. Berasa Luhan banget deh kalo ada kata innocent, lucu banget pas lagi di kamar pas.. “̮•ωk•”̮•ωk•”̮•ωk•”̮•ωk•”̮•ωk•”̮
    Lanjutin ya thor, fighting! Hiatusnya jangan lama2 😀

  3. Luhan ❤ ❤
    Ceritanya unyu banget, suka sama karakter Luhan yang polos ^^ Pengen jadi Jessica nya (?) *plak!*
    Nice thor, buruan lanjut yaa~ Aku suka ceritanya ^^ two thumbs up for you~ d^^b

  4. hahahah..kenapa luhan polosnya overdosis bgt yaa?
    lucu..jadi gemes sendiri >.<
    aku bacanya jadi senyum2 gaje deh..wkwkwk xD

  5. kkk waktu liat judulnya udh ngerasa aneh,aku penasaran,eh gk taunya ternyata ffnya daebak banget xD luhan polosnya gk ketulungan rasanya pengen dicifok!!-_- btw aku suka banget sampe ngehayal gimana lanjutannya,pokoknya harus lanjut thor!!*maksa-_-* wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s