[Series] Hard To Say I Love You (Chapter 2)

hard to say i love you

Author : Lee Hyura

Title : Hard To Say I Love You

Genre : Angst, Family, Friendship, Romance

Rating : PG 13

Length : Series

Cast :

–        SNSD Jessica

–        EXO Baekhyun

–        EXO Suho

–        SNSD Hyoyeon

–        SJ Kangin

–        DBSK Yunho

–        SNSD Yuri

=== Hard To Say I Love You ===

Baekhyun mengikuti ayahnya ke ruang kerja yang berukuran sebesar kamar tidur yang di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah patung kecil. Patung kesayangan tuan Byun. Baekhyun duduk di sofa yang biasa ia duduki. Dia tidak pernah mau duduk di kursi depan meja kerja. Dia tidak pernah mau terlalu dekat dengan ayahnya.

“Kenapa memanggilku larut malam begini? Tumben sekali,” kata Baekhyun sedikit mengerang.

Ayahnya membuka laci meja kerjanya, mengambil sebuah dokumen lalu menghampiri Baekhyun dan menghempaskan dokumen itu di atas meja. Baekhyun menatap ayahnya bingung. Tapi tuan Byun menatapnya tajam seakan menyuruhnya membuka dokumen itu. Baekhyun segera menurutinya sebelum ayahnya kehabisan kesabaran.

“Itu identitas Sooyeon yang berhasil dikumpulkan oleh anak buah perusahaan Jung. Mereka tahu keberadaan Sooyeon yang sebenarnya hingga akhirnya mereka kehilangan jejak Sooyeon sejak 2 tahun yang lalu. Itu foto-foto Sooyeon dan beberapa fakta tentang Sooyeon. Dia—tuan Jung—menyuruhku mencari Sooyeon dengan bantuan dokumen-dokumen itu. Dan semua itu cocok dengan gadis itu,” jelas tuan Byun panjang lebar.

Baekhyun mengangguk mengerti sambil menganalisis dokumen-dokumen itu. Pantas saja ayahnya menuntut Jessica agar bisa melakukan beberapa hal. Itu bertujuan untuk menyatukan kepribadian Jessica dengan ‘Sooyeon’.

“Aku tahu kau mendapatkan Sooyeon dengan bantuan Joonmyeon,” kata tuan Byun tiba-tiba.

Rahang Baekhyun mengeras saat mendengarnya. Dia hanya bisa menggertakkan gigi tanpa bisa menanggapi apapun. Untuk sekedar membantahnya pun tidak bisa. Dia hanya diam sambil tetap membaca lembar-lembar itu, menunggu apa yang akan dilakukan oleh ayahnya itu.

“Tapi aku senang. Sepertinya kau sangat dipercaya oleh Joonmyeon. Kita bisa memanfaatkannya,” lanjut tuan Byun.

Baekhyun menoleh. “Aboeji ingin aku mengkhianati Joonmyeon?”

“Ini bukan pengkhianatan. Ini hanya.. pemanfaatan. Kau mengerti?”

“Aku tidak mau.”

“Tentu kau mau. Karena kau tahu kau tidak mempunyai pilihan.” Tuan Byun menyeringai tipis. “Sekarang pastikan Sooyeon mendapatkan waktu istirahat yang cukup sebelum waktunya ku kirim dia ke keluarga Jung.”

>>>

Baekhyun mengetuk pintu kamar Jessica. Karena tidak mendapatkan tanggapan setelah mengetuknya beberapa kali, Baekhyun memutuskan untuk memutar kenop pintu. Dilihatnya Jessica sudah tertidur di kasurnya. Dia melangkah masuk, menghampiri Jessica dan berhenti saat jarak mereka sudah tidak terlalu jauh. Baekhyun mengusap wajahnya frustasi.

“Maaf. Maaf, Jessica. Maaf, aku sudah memaksamu memasuki permainan gila ini. Maafkan aku. Maaf,” gumam Baekhyun pelan.

***

“Ah!!”

“Bisakah kau diam?”

“Kenapa tidak kau saja yang diam?”

“Kenapa kau sangat menyusahkan?”

“Kenapa kau sangat menyebalkan?”

“Berhenti membalas kata-kataku!”

“Kalau begitu, diamlah!”

Han ahjumma mengurut keningnya pelan. Pagi hari yang biasanya selalu hening, kini menjadi sangat ramai. Jessica dan Baekhyun tidak henti-hentinya berdebat. Berdebat tentang apapun yang bisa didebatkan. Bahkan hal kecil pun didebatkan oleh mereka. Sebenarnya ia senang dengan keributan itu. Itu membuat rumah serasa sudah mati sejak beberapa tahun yang lalu, menjadi kembali hidup. Tapi jika keramaian ini karena suara perdebatan bodoh, Han ahjumma lebih memilih keheningan yang sudah seperti di kuburan saja yang biasa ia dapatkan di rumah itu.

“Hei, kalian! Apa tidak bisa berhenti? Habiskan saja sarapan kalian masing-masing. Jangan berdebat lagi. Kalian sudah dewasa, kan?” protes Han ahjumma akhirnya.

“Aku sudah dewasa. Dia? Tidak!” sahut Jessica.

Baekhyun mendelik tajam. “Siapa yang kau bilang tidak dewasa? Kau jauh lebih tidak dewasa dibandingkan aku.”

“Ahaha! Semua orang juga setuju kalau aku sudah dewasa,” balas Jessica lalu menjulurkan lidahnya.

“Kau—“

Geumanhae! Kalian berdua sama saja! Berhenti berdebat!” bentak Han ahjumma. Wanita lanjut usia itu sudah kehabisan kesabarannya.

Baekhyun bangkit dari kursinya, mengacak rambutnya sejenak lalu bergegas pergi meninggalkan meja makan. Padahal makanannya belum habis. Mata Jessica memperhatikan gerakan Baekhyun tanpa niat. Han ahjumma segera menahan Baekhyun.

“Kau mau kemana, tuan muda?” tanya Han ahjumma.

Baekhyun melepaskan tangan Han ahjumma. “Aku ada janji dengan Joonmyeon hyung.”

“Tidak mau menghabiskan sarapanmu dulu? Nanti tubuhmu semakin kurus,” cibir Jessica.

“Setidaknya kau jauh lebih kurus dariku,” sahut Baekhyun tak niat seraya pergi.

Ya~!” protes Jessica. Jessica terdiam sambil memegang pergelangan tangannya. “Apa aku sekurus itu? Hah..”

>>>

Baekhyun melipat tangannya. Matanya menatap tajam Joonmyeon yang sedang tergelak puas mendengar cerita Baekhyun soal Jessica. Baekhyun menyesal telah menceritakan itu kepada Joonmyeon. Palingan Joonmyeon akan menggodanya.

“Kalian benar-benar bodoh,” komentar Joonmyeon saat berhasil mengontrol tawanya.

Baekhyun tertawa sinis. “Dia yang bodoh. Bukan aku.”

“Kau juga. Kau kan sering mengawali perdebatan itu.”

“Dia yang memulainya. Bukan aku.”

Joonmyeon memutar matanya. “Baiklah, terserah.”

“Aku bingung. Kenapa dia suka sekali berdebat denganku? Apa aku adalah lawan debat yang paling asik?” runtuk Baekhyun.

“Tidak, Baekhyun-ah. Itu bukan salahnya..” Suho tersenyum tipis. Tangannya meraih cangkir berisi Capuccino dan menyesapnya. “Itu karena kau yang memulai. Sifatmu yang selalu takut orang lain akan dekat denganmu. Hatimu sendiri yang belum siap menerima orang baru di hidupmu. Makanya pikiranmu berusaha mencari cara agar Jessica tetap jauh darimu.”

Baekhyun menatap Joonmyeon bingung. “Jeongmal? Aku bukan orang yang seperti itu, setahuku.”

“Aku lulusan jurusan psikologi dan aku bertemanmu selama 3 tahun ini. Aku mengenalimu dengan baik,” gumam Joonmyeon yang kini dihiasi dengan seringaian tipis.

“Tetap saja. Aku merasa Jessica memang senang membuat masalah denganku,” tegas Baekhyun.

Joonmyeon terkekeh pelan. Ia tidak tertarik untuk membalas kata-kata Baekhyun. Baekhyun terlalu keras kepala. Apa yang sudah ia tetapkan maka hal itu akan bersifat tetap. Dia meneguk habis capuccinonya yang sudah tinggal setengah dengan mata tertuju kepada Baekhyun. Mata pria itu selalu menerawang jika tidak sedang ada hal yang dikerjakan olehnya.

“Baekhyun-ah,” panggil Joonmyeon pelan.

Baekhyun melirik Joonmyeon. “Ne?”

“Aku ingin bertemu dengan Jessica. Bisa?”

***

Jessica menggulingkan tubuhnya dari sisi kanan kasur ke sisi kiri kasur. Dia sudah tidur seharian. Jika tidak, dia menonton tv. Atau apalah. Serasa ia sudah melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk membunuh rasa bosan. Sudah hari ketiga ia tinggal di rumah itu. Tapi Jessica hanya diminta untuk menjadi anak baik. Huh, memang kemarin-marin dia berlaku tidak baik?

Jessica mengubah posisinya menjadi duduk saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Dia segera berteriak, mengizinkan si pengetuk untuk masuk. Saat melihat Baekhyunlah yang membuka pintunya, Jessica cemberut. Kalau tahu itu adalah Baekhyun, mungkin dia akan berpura-pura tidur.

“Hei, cepat bersiap!” perintah Baekhyun.

Alis Jessica terangkat. “Untuk?”

Baekhyun mendengus. “Ikut aku. Memang tidak bosan hanya di rumah saja?”

Jessica segera bangkit dengan mata berbinar. “Jinjjayo?”

Ne!”

>>>

Tuan Jung menatap dokumen yang diberikan oleh rekan kerjanya itu. Dia mengambil amplop coklat itu dan membukanya. Dia membaca semua isi amplop itu. Sebuah senyuman lega terukir di wajahnya. Rekan kerjanya—tuan Byun—menyeringai tipis.

“Bagaimana, Yunho-ssi?” tanya tuan Byun.

Tuan Jung Yunho tersenyum lebar. “Syukurlah kau berhasil menemukannya, Kangin-ah. Modalnya akan ku kirim dalam beberapa hari. Dari perusahaanmu lah yang akan menjadikan tender itu.”

Byun Youngwoon yang dipanggil Kangin oleh Yunho pun tersenyum tipis. “Baguslah kalau begitu.”

“Kapan aku bisa bertemu dengan Sooyeon?” tanya Yunho dengan nada penuh pengharapan di kalimatnya.

“Secepatnya.”

“Kangin-ah, bagaimana bisa kau mendapatkan Sooyeon dengan cepat? Bahkan orang-orangku pun kalah cepat,” bingung Yunho.

Kangin menjilat bibirnya sekilas sambil menyandarkan punggung. “Kau sudah memberikanku ciri-ciri anakmu itu. Jadi aku bisa mencarinya dengan cepat.”

Yunho tertawa hambar. “Ya.. tetap saja..”

“Yang penting, kau berhasil menemukannya lagi, kan?”

Pandangan Yunho melirih. “Aku bersyukur sekali bisa bertemu dengannya lagi. Aku sangat frustasi saat mengetahui Sooyeon dan orangtua angkatnya menghilang tiba-tiba. Orang-orangku kehilangan jejaknya.”

“Harusnya kau mengambil Sooyeon dari orangtua angkatnya itu secepatnya. Untung saja aku bisa menemukannya. Bagaimana kalau tidak?” tanggap Kangin, berusaha terdengar cemas dan perhatian.

Yunho tersenyum tipis. “Kau tahu kan bagaimana sifat Soojung? Aku takut Soojung tidak bisa menerima kehadiran Sooyeon. Itu lah yang ku sesalkan. Beruntung kau menemukannya. Jika tidak, mungkin aku tidak akan fokus bekerja.”

Jadi Jessica benar-benar Sooyeon?, pikir Kangin tidak percaya. Dia benar-benar tidak percaya kebetulan itu datang kepadanya seakan sebuah keajaiban. Tetap saja, Jessica tidak boleh mengetahui ini. Atau rencanaku akan gagal.

“Oh ya. Tidakkah kau tahu, anak kita mempunyai hubungan yang spesial? Itu sebabnya aku bisa dengan mudah mendapatkannya,” ujar Kangin. That’s it!

Yunho terkejut. “Benarkah? Aku tidak pernah tahu Sooyeon menjalani hubungan dengan pria manapun, termasuk anakmu, Baekhyun.”

“Ya begitulah. Mereka memang berhubungan diam-diam karena Baekhyun tahu dia akan dijodohkan dengan Soojung. Apalagi Soojung berkata bahwa dia menyukai Baekhyun.”

“Sebuah kebetulan. Baekhyun direbut oleh adik Sooyeon…” gumam Yunho.

“Yeah. Maafkan aku, Yunho-ssi. Tapi aku bersyukur perjodohan itu dibatalkan. Aku tidak mau mengorbankan perasaan Baekhyun. Tapi aku tetap sedih karena begitulah cara tuhan membatalkan perjodohan ini. Aku masih tidak percaya—“

“Sudahlah, Kangin-ah. Tidak usah dibahas. Mungkin Soojung tidak terima orang yang ia cintai dari kecil, adalah kekasih kakaknya sendiri. Tapi kini aku ingin terfokus dengan kebahagiaan Sooyeon.” Yunho tersenyum tipis. “Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk menjadi besan.”

Kangin terbelalak. Sedetik kemudian, dia tersenyum, mengerti maksud kata-kata Yunho. “Syukurlah kau mengerti apa yang ku maksud.”

>>>

Jessica melirik Baekhyun bingung. Baekhyun membawanya ke sebuah kafe yang bertema pedesaan. Sangat asri dan indah. Dinding-dindingnya seperti dibuat dari tumpukan kayu. Mereka memilih meja paling pojok. Dan pemandangannya langsung menuju taman bunga di pekarangan kafe itu. Seakan Baekhyun sudah mengenali tempat itu dengan baik. Sayang sekali mereka datang di awal musim dingin. Tidak ada bunga yang bermekaran. Jessica menatap Baekhyun takjub. Berbeda dengan Baekhyun yang malah menatap Jessica kesal dan bingung.

“Ada apa?” tanya Baekhyun, dengan nada tidak suka di kata-katanya.

Jessica memposisikan tangannya di atas meja sambil menangkup wajahnya. “Darimana kau mengetahui tempat ini?”

Baekhyun tersenyum tipis. “Aku mengetahui tempat ini dari orang yang sangat suka menghabiskan waktunya disini.”

Nuguya?”

“Namanya—“

“Baekhyun-ah!”

Jessica dan Baekhyun menoleh saat mendengar seorang gadis meneriakkan nama Baekhyun. Baekhyun tersenyum tipis. Kali ini terlihat bahagia dan tulus, tidak seperti biasanya yang terlihat kesal dan dipaksakan. Jessica memicingkan matanya. Dia menyadari sesuatu akan pria yang duduk di depannya.

Jwoisonghae, aku terlambat. Aku harus mengejar si Yoo tua itu!” kata Hyoyeon sambil meruntuki salah satu dosennya.

Baekhyun tertawa. “Arasso.”

Jessica bersikap seakan ia sedang mengedus suatu bau. Dia menyeringai tipis. Dia yakin dengan tebakannya. Baekhyun tersenyum bahagia dan tulus… Baekhyun tertawa lepas…

“Baekhyun-ssi, kau menyukai gadis ini, ya?” seru Jessica tiba-tiba.

Baekhyun dan Hyoyeon menoleh kaget. Baekhyun terlihat malu dan marah. Sedangkan Hyoyeon terlihat bingung.

“Menyukai siapa?” bingung Hyoyeon.

Jessica menyeringai tipis. “Siapa lagi kalau bukan k—aw, sakit!”

Jessica mengelus daerah kakinya yang ditendang oleh Baekhyun. Sebenarnya tidak kencang sih. Tapi tetap saja menyakitkan. Jessica menggembungkan pipinya kesal. Dia melirik Hyoyeon yang terlihat semakin bingung hingga tidak bisa berbicara apapun.

“Aa.. kau baik-baik saja?” tanya Hyoyeon akhirnya.

Jessica mengangguk pelan sambil melirik Baekhyun. Tatapan laki-laki itu benar-benar menusuk. Bagaimana bisa Baekhyun bersikap berbeda 180 derajat dengannya dibandingkan dengan Hyoyeon? Dasar pilih kasih!

Hyoyeon tersenyum tipis. “Oh ya, siapa namamu? Benar-benar keajaiban Baekhyun bersama seseorang selain aku dan Joonmyeon oppa.”

“Aku—“

“Kakaknya Soojung. Namanya Sooyeon. Kami dekat selama persiapan pertunangan antara aku dan Soojung.” potong Baekhyun. “Sooyeon-ah. Ini Hyoyeon.”

Jessica menganggukkan kepalanya sopan kepada Hyoyeon dengan mata sesekali melirik Baekhyun. Rasanya aneh jika Baekhyun memanggilnya akrab. Hyoyeon membalasnya dengan senyuman tipis.

“Oh.” Hyoyeon mengangguk mengerti. “Lalu kenapa kau tidak dijodohkan dengan Sooyeon, eh? Ku kira kau lebih pantas dengan Sooyeon. Kalian seumuran, kan?”

Jessica hanya diam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya diam sambil menatap Baekhyun seakan berharap pria itu lah yang akan menjelaskan semuanya kepada temannya yang seperti wartawan itu.

“Karena Soojung lah yang menyukaiku. Aku tidak mungkin memilih orang yang tidak menyukaiku. Aku tidak bisa memaksakan Sooyeon untuk menyukaiku, kan? Dan lagi Sooyeon lebih tua setahun dariku. Dia seumuran dengan Joonmyeon hyung,” jawab Baekhyun. “Ah.. kemana Joonmyeon hyung? Kenapa dia belum datang?”

Jessica menghela nafas lega. Akhirnya Baekhyun mengalihkan topik pembicaraan juga.

“Sudah kok! Tapi dia mendapatkan telepon penting. Jadi dia terpaksa berteleponan di luar. Sebentar lagi juga datang,” jawab Hyoyeon.

“Oh ya?”

Hyoyeon mengangguk cepat. “Datangi saja. Dia ada di dekat mobilnya di parkiran.”

Baekhyun mengangguk. Dia segera bangkit dan meninggalkan kedua gadis itu sebelum Hyoyeon bertanya lebih tentang hubungannya dengan Jessica. Dia biarkan Jessica untuk menghadapi Hyoyeon. Sekalian memberikan pelajaran untuk Jessica. Tapi bagaimana jika Jessica kembali membicarakan perasaannya kepada Hyoyeon? Ah, masa bodo. Hyoyeon tidak akan mendengarkannya. Hyoyeon sudah terbiasa mendengar orang-orang mengatakan Baekhyun menyukai Hyoyeon hanya karena Baekhyun hanya dekat dengan Hyoyeon. Tidak ada yang perlu Baekhyun khawatirkan.

Sialan kau, Baekhyun!, maki Jessica dalam hati sambil menatap kepergian Baekhyun. Akan ku buka kartumu!

“Hyo—“

“Sooyeon-ssi!” seru Hyoyeon sambil menatap Jessica mantap. Jessica segera mengatup mulutnya, membatalkan niat untuk berbicara.

Ne?”

“Ku rasa kau cocok dengan Baekhyun! Kenapa kau tidak menggantikan posisi Soojung saja?” lanjut Hyoyeon dengan mata menatap Jessica mantap.

Jessica mengerjap. “Ne~?”

Ah.. cinta yang bertepuk sebelah tangan rupanya…, batin Jessica.

Hyoyeon mengibas tangannya lemas. “Ah, lupakan. Aku lupa kalau kau adalah kakaknya Soojung. Pasti kau tidak akan tega menggantikan posisi Soojung. Pasti kau akan merasa bersalah. Maafkan aku yang sudah berbicara asal.”

Jessica tertawa gugup. “Ggwencanayo…”

Jessica kembali bisa menghela nafas lega saat melihat kedatangan Baekhyun bersama pria lain. Berbeda dengan Baekhyun, pria itu beraura cerah, ramah dan lembut. Sepertinya Jessica tidak memerlukan waktu lama untuk mengakrabkan diri dengan pria itu. Tapi sepertinya Jessica pernah melihat pria itu sebelumnya. Tapi dimana?

Annyeong, Sooyeon-ssi. Kita bertemu lagi,” sapa pria itu.

Jessica merasa sedikit pusing. Dia pernah mendengar suara itu. Suara itu… oh, malam perlelangan itu! Pria yang membelinya bersama Baekhyun! Dengan kata lain, pria itu juga majikannya.

“KAU!!” pekik Jessica kaget.

>>>

Baekhyun dan Jessica saling diam di perjalanan dari halte menuju rumah Baekhyun. Mereka ditawari untuk diantarkan oleh Joonmyeon. Tapi ditolak oleh Baekhyun. Baekhyun memang tidak pernah mau menumpangi mobil jenis apapun kecuali bus. Apalagi mobil kecil. Ia trauma dengan mobil karena kematian ibunya. Bahkan saat malam perlelangan itu, Baekhyun dan Joonmyeon sengaja janji bertemu di depan tempat itu karena Joonmyeon tidak mungkin menjemput Baekhyun dan ikut pergi ke tempatnya dengan menggunakan bus. Dia membawa uang yang banyak. Kemungkinan besar Joonmyeon akan dirampok.

“Hm,” Baekhyun menggumam ragu. “Jessica-ssi..”

Jessica berhenti dan menoleh. Dalam hati, dia bersyukur masih ada yang memanggilnya dengan nama aslinya. “Ya?”

“Bisakah mulai sekarang kau memakai bahasa informal kepadaku? Kau tahu, orang-orang berpikir kita itu dekat. Aneh sekali jika kau menggunakan bahasa informal,” ujar Baekhyun.

Jessica mengangguk cepat. “Ah, kau benar! Aku kan kakaknya Soojung. Pasti aku dekat denganmu! Aneh sekali jika aku memakai bahasa informal. Baiklah.. ayo, Baekhyun-ah! Aku lapar~”

Baekhyun memicingkan matanya lalu memutar matanya. Jessica bahkan tidak ragu-ragu untuk sok akrab dengannya. Biasanya gadis lain akan canggung di awal. Sepertinya Jessica memang tidak pernah memikirkan akan hal itu.

“Oh ya, Baekhyun-ah..”

Baekhyun menoleh. “Ne?”

Jessica berhenti dan berbalik. “Apa hubunganmu dengan Hyoyeon?”

Baekhyun ikut berhenti. Wajahnya memerah. Dia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Dia membuang muka. “Tidak ada hubungannya denganmu!”

“Aha, kau menyukainya, kan? Aku tahu itu! Terukir terlalu jelas di wajahmu!” seru Jessica girang.

Jessica melompat senang karena firasatnya benar. Dia segera menghampiri Baekhyun dan menariknya agar berlari menuju rumah. Tentu saja senyumannya masih tetap terukir di bibirnya.

Baekhyun memutar matanya. Gadis ini! Terlalu mudah akrab. Menyebalkan!

***

Acara sarapan hari itu berlangsung dengan tenang. Tanpa perdebatan Baekhyun dan Jessica. Tanpa teriakan Han ahjumma untuk melerai pertengkaran Baekhyun dan Jessica. Tenang… damai… kenapa? Itu karena tuan Byun ikut sarapan bersama mereka. Jessica boleh saja berlega hati. Tapi bagi Baekhyun yang mengenali ayahnya dengan baik? Dia bahkan tidak bisa sarapan dengan nyaman.

“Sooyeon-ah?” panggil Kangin lembut.

Jessica mengangguk. “Ne, Appa. Ada apa?”

“Aku akan mengantarkanmu kepada orangtua angkatmu yang baru. Ingat baik-baik! Kau harus meyakinkan mereka bahwa kau adalah anak kandung mereka,” tekan Kangin. “Sekarang kau boleh merapikan barang-barangmu.”

Dalam hati, Jessica tertawa sinis. Barang? Bahkan satu-satunya barang yang dibawa Jessica masuk ke rumah ini, sudah berada di tempat pembuangan akhir. Ya, gaun malam itu. Dia tidak mempunyai barang apapun.

“Dan sebelum pergi, ada yang perlu kita bicarakan, Sooyeon-ah. Tentu saja tanpa Baekhyun,” tambah Kangin.

Tubuh Baekhyun menegang. Firasatnya sungguh buruk. Dia hanya bisa berdoa agar Jessica akan baik-baik saja. Yah walaupun Jessica menyebalkan. Tapi tetap saja Jessica pantas dikasihani karena terjebak di rencana ayahnya.

Melihat wajah tegang Baekhyun, Jessica menggigit bibirnya. Tapi dia akhirnya mengangguk. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi rasanya… ini tidak akan berjalan mulus.

“Baiklah kalau begitu. Artinya aku bisa pergi ke kampus, kan, hari ini?” cetus Baekhyun untuk menyembunyikan kekhawatirannya.

Tuan Byun tersenyum. “Belajar yang rajin, Baekkieah~”

Sedetik, tubuh Baekhyun serasa disetrum listrik. Dia segera mengambil langkah meninggalkan ruangan itu.

>>>

“Sooyeon-ah, duduklah,” kata tuan Byun.

Jessica mengangguk, tangannya menarik kursi dan duduk di depan meja kerja tuan Byun. Sedangkan pria itu duduk di kursi kerjanya. Tuan Byun mengeluarkan dokumen yang kemarin diperlihatkan kepada Baekhyun. Kali itu hanya beberapa lembar saja untuk mencegah fakta lain tentang Jessica terkuak.

“Ini adalah beberapa hal tentang Sooyeon. Ini sangat cocok denganmu. Semuanya. Jadi yang perlu kau lakukan adalah anggap orangtua angkatmu yang baru adalah orangtua kandungmu. Tapi.. jangan lupa kita mempunyai rencana dalam hal ini.”

Jessica mengangguk gugup. Tuan Byun tersenyum tipis. Dia menarik napas sebelum melanjutkannya.

“Kau akan membuat Jung Yunho—ayahmu—mempercayaimu sebagai anak kandungnya. Buat dia berpikir dia dapat mewariskan perusahaannya kepadamu. Dan saat itu terjadi, katakan padanya agar dia jangan mewariskannya kepadamu karena kau mengerti. Berikan perusahaannya kepada Baekhyun. Kau mengerti?”

Jessica kembali mengangguk mengerti.

“Bagus. Sekarang kau kembali ke kamarmu. Malam ini, kita akan makan malam di rumah keluarga Jung untuk merayakan kepindahanmu ke sana. Appa akan menjemputmu pada jam 6 sore,” kata tuan Byun sambil merapikan kembali dokumen itu.

Jessica menggigit bibirnya. “B-bagaimana dengan Baekhyun?”

“Bocah itu?” tuan Byun mendengus. “Biarkan dia pergi sendiri. Dia tidak bisa naik mobil, kan?”

>>>

“HUO! Lihat siapa yang datang!” seru Chanyeol heboh saat melihat kedatangan Baekhyun.

Baekhyun hanya memutar matanya. Dia mengambil tempat di samping Hyoyeon yang sedang asik mengisi teka-teki silang. Hyoyeon menoleh untuk sekedar menyapa Baekhyun lalu kembali asik mengisi buku itu. Baekhyun ikut membantu Hyoyeon. Chanyeol yang tadinya berniat untuk meninggalkan kelas, segera menghempaskan pantatnya di kursi samping Baekhyun. Baekhyun menoleh geram.

“Apa yang kau mau, Park Chanyeol?!” geram Baekhyun.

“Hei, calm down, dude!” seru Chanyeol. “Aku tidak akan mengganggumu dan pacarmu kok.”

Baekhyun memutar matanya. “Hyoyeon bukan—“

“Jangan pedulikan orang yang tidak jelas itu, Baek,” cetus Hyoyeon tanpa menoleh.

Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Hyoyeon memang selalu tenang apapun yang terjadi. Dan Baekhyun pasti akan menuruti kata-kata Hyoyeon. Artinya dia tidak bisa mengganggu Baekhyun lagi.

“Pedulikan aku~ aku bisa mati jika tidak diperdulikan,” rajuk Chanyeol.

“Kurasa aku akan muntah,” bisik Baekhyun kepada Hyoyeon.

Hyoyeon tertawa lalu menjulurkan kepalanya ke arah Chanyeol. “Chanyeol-ah, kau berhasil membuatnya mual!”

“Kau kejam sekali, Baekhyun-ah..” lirih Chanyeol.

Baekhyun mendesis. “Menjijikan.”

Baekhyun memutuskan untuk meraih tas Hyoyeon dan mengeluarkan catatan gadis itu. Baekhyun dan Hyoyeon memang terbiasa menganggap barang mereka adalah milik bersama. Baekhyun membaca semua materi-materi yang ia lewatkan.

“Wow, aku sudah kelewatan banyak hal,” gumam Baekhyun. “Hyo, ajarkan aku..”

Hyoyeon memutar matanya. “Ayolah, Baek. Kau hanya perlu membaca dan kau akan mengerti. Tidak seorang pun meragukan otakmu.”

Baekhyun mendesah pelan. Dia gagal mengambil perhatian Hyoyeon. Selalu begitu. Hyoyeon sulit sekali memerhatikan sekelilingnya kalau sudah asik dengan suatu hal.

“Aku bisa mengajarkanmu,” seru Chanyeol.

“Oh ya..” Baekhyun mendesis. “Tidak seorang meragukan otakmu, Park Chanyeol..”

Chanyeol merengut. Dia tahu maksud buruk dibalik kalimat Baekhyun. “So mean..”

Baekhyun mengeluarkan handphonenya saat benda tipis itu berdering. Dia melirik layarnya. Telepon dari ayahnya. Dia segera mengangkatnya.

Yoboseyo,” salamnya.

“Malam ini makan malam di rumah keluarga Jung,” kata ayahnya.

Hubungan telepon pun terputus. Baekhyun menghela nafas panjang.

>>>

Jessica dan tuan Byun sampai di kediaman keluarga Jung lebih cepat dari Baekhyun walaupun Baekhyun lebih dulu berangkat. Tentu saja, Baekhyun menggunakan bus umum sedangkan Jessica dan tuan Byun menggunakan mobil pribadi.

Beberapa pembantu menyambut mereka. Mereka memberikan mantel mereka kepada pembantu itu lalu menghampiri sepasang suami-istri yang menyambut kedatangan mereka. Tuan Byun berjabat tangan dengan mereka, sedangkan Jessica hanya diam di tempatnya. Tuan Jung menatap Jessica dalam. Perlahan tapi pasti, tuan Jung menghampiri Jessica dan menariknya ke dalam pelukan hangat seorang ayah. Sedangkan nyonya Jung hanya menatapnya nanar.

“Yuri-ya, kau tidak mau memberikan pelukan selamat datang kepada Jessica?” tanya Yunho.

Yuri—istri Yunho—tersenyum tipis. Dia segera menghampiri Jessica dan memeluknya Jessica erat. Yuri sempat mencium pipi Jessica. Tapi Jessica tahu, semua perilaku Yuri terkesan dingin. Jessica hanya diam sambil menggigit bibirnya.

>>>

Baekhyun sudah terbiasa menggunakan bus dengan pakaian resmi. Inilah kerugiannya kalau trauma dengan mobil pribadi. Dia menghela nafas panjang. Bahkan motor pun, dia juga takut. How come?

Dia sedikit berlari dari halte menuju kediaman keluarga Jung karena sebentar lagi, dia bisa dinyatakan terlambat. Beruntung Jessica sudah berangkat lebih dulu bersama ayahnya sehingga tidak mungkin terlambat. Tapi syukurlah dia berhasil sampai tepat waktu. Beruntung suhu rendah di musim dingin mencegah keringatnya mengalir.

Kehadirannya di sambut oleh para pekerja di rumah itu. Berbeda dengan rumah Baekhyun yang hanya ada 5 pekerja—Han ahjumma yang berjabatan sebagai kepala pembantu, supir, tukang kebun dan 2 pembantu lainnya—di rumah ini ada lebih dari 10 pembantu, termasuk 3 supir dan 2 tukang kebun. Baekhyun memberikan mantelnya kepada seorang pembantu lalu mengikuti seorang pembantu lainnya menuju ruang makan.

Disana sudah ada tuan Jung dan istrinya, Jessica dan ayahnya sendiri. Dia tersenyum sungkan dan mengambil tempat duduk dekat ayahnya –di depan Jessica. Baekhyun terkejut saat menyadari Jessica duduk di hadapannya. Dia segera menyembunyikan ekspresi terkejutnya dengan senyum lembut.

Jwoisonghamnida. Tadi busnya sempat ada masalah kecil,” kata Baekhyun.

Tuan Jung dan istrinya hanya tersenyum mengerti. Mereka tahu phobia Baekhyun terhadap transportasi pribadi seperti mobil dan motor. Mereka segera memulai acara makan malam itu. Dalam hati, Baekhyun takut Jessica berlaku sesuatu yang tidak terduga seperti biasa. Tapi syukurlah sisi liar Jessica selalu tenggelam saat ayahnya berada di sekitar Jessica.

“Sebenarnya kami mengundang kalian makan malam bukan hanya karena merayakan kembalinya Sooyeon di keluarga ini, tapi juga karena untuk membahas kelanjutan acara perjodohan,” kata tuan Jung, membuka perbincangan.

Baekhyun tersedak mendengarnya. Dia segera meraih gelas berisi air putih dan meneguknya habis. Berbeda dengan Jessica yang terlihat biasa saja karena tidak mengerti.

“Kau baik-baik saja, Nak?” tanya tuan Byun.

Baekhyun tersenyum sinis dalam hati saat mendengar nada lembut ayahnya. Dia menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit kaget. Maaf.”

“Baiklah..” tuan Jung tersenyum tipis. “Kau pasti sudah mengerti, kan, Baekhyun-ah?”

Baekhyun menggigit bibirnya sekilas. “Ya, aku mengerti. Aku akan dijodohkan dengan Jes—eung, Sooyeon, kan?”

Kini Jessica yang tersedak. Baekhyun tersenyum sinis melihatnya.

“Ada apa dengan kalian, eh?” bingung tuan Jung.

“H-hanya kaget..” jawab Jessica sebisanya.

“Kaget karena senang?” goda tuan Byun.

Jessica dan Baekhyun bertukar pandangan –bingung. Tapi mereka hanya diam.

“Kami semua sudah tahu hubungan kalian. Sooyeon adalah kekasihmu, kan? Kali ini pasti Baekhyun tidak akan merasa terpaksa untuk menikahi Sooyeon, kan?” jelas tuan Byun.

Baekhyun mengerti sekarang. Ayahnya kembali menjadikannya bonekanya. Sialan kau, pria tua sialan!

>>>

Baekhyun dan Jessica diminta untuk berjalan-jalan mengelilingi rumah yang mewah itu selagi orangtua mereka sibuk membicarakan tentang perjodohan mereka. Jessica tidak habis pikir dengan nasibnya. Kenapa bisa nasibnya seaneh ini? Dijual oleh kedua orangtuanya, bertemu dengan orang semenyebalkan Baekhyun, terjebak ke dalam rencana licik dan… entahlah. Jessica tidak mau memikirkannya.

“Akh!” pekik Jessica kaget.

Baekhyun menarik tangannya ke dalam sebuah ruangan kosong. Tidak lupa, pintu itu dikunci oleh Baekhyun. Tubuh Jessica kembali bergemetar. Dia teringat di malam pertama dimana tuan Byun menyuruh Baekhyun menemani Jessica.

“M-mau apa kau?” tanya Jessica terbata-bata.

Baekhyun memutar matanya. “Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tidak tertarik dengan tubuhmu. Aku ingin membuat perjanjian denganmu.”

Jessica menghela nafas lega. Dia menegakkan tubuhnya. “Perjanjian apa?”

“Aku ingin kita bersikap mesra di depan keluarga kita. Tapi anggap kita tidak saling kenal di lingkungan luar,” kata Baekhyun.

Jessica mengangguk. “Itu juga yang ku pikirkan! Senang jika pikiranmu sama denganku. Jadi.. deal.”

Baekhyun menyeringai. Dia mengeluarkan botol kecil berisi air putih dan meneguknya. Jessica melihatnya bingung. Dia baru saja jika ada botol itu di saku jas Baekhyun. Tiba-tiba Baekhyun melempar botol itu kepada Jessica. Jessica menangkapnya susah payah.

“Minum air itu dan pastikan bibirmu basah,” perintah Baekhyun.

“Hah?”

“Atau kau ingin aku menciummu supaya bibirmu basah?” desis Baekhyun kesal.

Jessica terbelalak. “A-andwae!”

“Cepat basahi supaya kita bisa keluar dari sini secepatnya.”

Jessica mengangguk. Dia mengerti maksud Baekhyun sebenarnya. Ini untuk memberikan efek seakan mereka habis berciuman. Dia segera meminum air itu dan memastikan bibirnya memang basah. Melihat itu, Baekhyun berbalik badan dan membuka pintu. Tapi Jessica segera menarik tangannya.

“Kau memang menyebalkan. Tapi, terima kasih sudah datang ke kehidupanku,” bisik Jessica di telinga Baekhyun.

Jessica melewati Baekhyun dan membuka pintu. Sedangkan Baekhyun masih terpaku di tempatnya. Baru kali ini ada yang berterima kasih kepadanya karena sudah masuk ke kehidupan orang lain. Dia kira, tidak seorang pun senang jika ia memasuki kehidupan seseorang. Dia serasa dianggap. Hatinya terasa hangat.

“Baekhyun-ah, kenapa diam saja? Mau ku beri ciuman lainnya?” goda Jessica.

Baiklah, gadis ini cukup pintar berakting, gerutu Baekhyun.

***

“AHA! Sudah ku kira kau akan dijodohkan dengan Sooyeon!” seru Hyoyeon girang.

Saat itu Baekhyun, Hyoyeon dan Joonmyeon sedang berkumpul di kafe biasanya. Kafe yang sama dengan kafe yang didatangi Jessica kemarin. Itu sudah sebuah kebiasaan bagi mereka bertiga.

Baekhyun memijat keningnya pelan. Dia kesal. Tentu saja kesal. Gadis yang dicintai malah terlihat sangat bahagia mendengar kalau dia akan dijodohkan dengan Jessica. Tidak ada rasa cemburu?

“Ikuti saja rencana ayahmu, Baekhyun-ah. Jessica tidak seburuk itu kok,” timpal Joonmyeon.

Hyoyeon menoleh bingung. “Jessica?”

“Jessica itu panggilan khusus dari Baekhyun untuk Sooyeon. Aku hanya mengikuti Baekhyun saja,” jelas Joonmyeon cepat yang terdengar tenang. Tidak terdengar seperti orang yang sedang berbohong.

Baekhyun hanya ikut mengangguk. “Ne, maja.”

So cute~ aku tidak tahu kau bisa memberikan nama panggilan untuk orang lain,” komentar Hyoyeon.

“Jessica yang memintanya,” jawab Baekhyun asal.

Hyoyeon tersenyum. “Nah! Ku yakin ‘Jessica’ pasti menyukaimu. Mana mungkin dia menyuruh seseorang memanggilnya dengan nama khusus kalau orang itu bukan orang yang penting baginya?”

“Terserahlah.”

“Oh ya, kalian ada kelas lagi kan 30 menit lagi? Kalau tidak kembali sekarang, kalian akan terlambat,” kata Joonmyeon.

“Oh iya!” Hyoyeon segera merapikan barang-barangnya dan bangkit. “Kau ikut, Baek?”

“Tidak. Aku bolos saja,” balas Baekhyun.

“Baiklah.”

Joonmyeon mengulum bibirnya geli. Baekhyun menatapnya tajam.

“Dan kini, kau menertawakanku, kan?” desis Baekhyun.

Joonmyeon mengangkat bahunya. “Entahlah. Tapi sepertinya kau memang harus menyerah soal Hyoyeon. Dia hanya menganggapmu sebagai sahabatnya. Tidak lebih. Lagipula, sekarang kau sudah mempunyai Jessica.”

Baekhyun memutar matanya. “Ya.. ya.. ya.. terserahlah.”

“Baekhyun-ah!”

Baekhyun menoleh malas. “Apa?”

“Kau tidak keberatan, kan, kalau aku ikut andil dalam kisah ini?” tanya Joonmyeon, menggoda.

Baekhyun memicingkan matanya. “Apa maksudmu?”

Joonmyeon menjilat bibirnya. “Jessica adalah orang yang unik. Menarik. Kau mengerti maksudku.”

“Terserah. Kau boleh merebutnya kalau kau mau. Bagaimana pun, kau lah yang membeli Jessica,” sungut Baekhyun.

Joonmyeon tertawa. Sepertinya kondisi hati Baekhyun memang buruk. Sudah lama sekali dia tidak menggoda Baekhyun. Puas rasanya.

=== Hard To Say I Love You ===

Puas, kan? Kan udah panjang .__.

Lanjutannya… kapan ya? Mungkin akhir tahun. Karena bulan November dan Desember, aku beneran padat u.u

Ingat! Komentar sedikit = ff dibatalkan

Advertisements

7 responses to “[Series] Hard To Say I Love You (Chapter 2)

  1. brsa sinetron ya . wkwkwk , itu suho pasti cool banget . ada beberapa penulisan salah , kyk pucat pasi jdnya pucat basi -_- .
    alurnya udh oke , penulisan bisa dimengerti . oke ditgg next chap

  2. brsa sinetron ya . wkwkwk , itu suho pasti cool banget . ada beberapa penulisan salah , kyk pucat pasi jdnya pucat basi -_- .
    alurnya udh oke , penulisan bisa dimengerti . oke ditgg next chap .

  3. Aaah, keren
    Dari sini kerasa aura ramahnya Suho! * -__-
    *sniff-sniff* mencium bau perebutan kekuasaan *sok, ngelantur lagi
    Ahaaa!
    pokokny ini keren banget dan harus dilanjut!
    🙂
    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s