[3Shoots] Winter Leaf (1st Shoot)

Author : Lee Hyura

Title : Winter Leaf

Genre: Angst, Romance

Rating : PG 15

Length : Series

Cast :

–          EXO Luhan

–          SNSD Jessica

–          SNSD Seohyun

–          F(x) Krystal

Note : inilah prekuel yang aku janjiin. Ini dibuat 3shoots. First shoot pas Luhan pergi. Second shoot pas Jessica ketemu sama Kris dan begitulah. Last shoot pas Jessica ngelahirin dan Luhan kembali ke Korea ^^ karena aku ga bisa buat NC, yang nyenggol dikit ga papa kali ya? -,-

2012 © Lee Hyura

 “Masih hangat dipikiranku tentang bisikanmu, sentuhanmu, ciumanmu, dan semua tentangmu. Bahkan aku masih tidak percaya ini terjadi padaku.”

=== Winter Leaf ===

Pagi di musim dingin itu dibuat ramai oleh kedua remaja itu. Jessica sibuk mengetukkan kakinya di lantai sambil menunggu Luhan selesai mengikat tali sepatu. Tepat saat Luhan selesai mengikat tali sepatunya, Jessica menarik Luhan keluar dari apartemennya. Mereka berlari menuju lift. Beruntung lift itu terbuka bersamaan dengan mereka sampai di depan lift.

“Luhannie, ppaliwa!”

“Ne—akh, sabar! Pelan-pelan, Sic!”

“Kau lelet sekali. Kau itu perempuan atau laki-laki?”

“Hei, Babo Sica! Jangan merendahkanku!”

“Merendahkan bagaimana sih, Babo Lu?”

Seperti biasa, mereka asik bersenda gurau. Setiap penghuni di gedung apartemen itu sudah terbiasa dengan kelakuan dua remaja itu. Para penghuni di sekitar apartemen Luhan mengenali Jessica karena keributan yang mereka buat setiap paginya. Jessica dan Luhan begitu dekat, tidak.. terlalu dekat. Sampai sekarang, hubungan mereka bagaimana misteri bagi ibu-ibu tukang gosip di sekitar tempat tinggal mereka. Apakah mereka bersahabat, atau berpacaran? Tidak ada yang tahu pasti.

Saat lift itu sampai di lantai dasar, mereka bersepakat untuk berlomba yang tercepat sampai di pintu utama. Beberapa orang menilik kelakuan mereka sambil terkikik pelan. Setiap perbuatan mereka adalah sebuah hiburan tersendiri bagi orang-orang di sekitar mereka.

“Ah, aku yang sampai lebih dulu!” seru Luhan sambil berlompat girang.

“Psh..” Jessica mendesis pelan. “Jangan berlebihan. Hanya menang lomba lari tercepat saja kok!”

Luhan tersenyum jahil seraya mencolek dagu Jessica. “Setidaknya aku menang, kan?”

Jessica tidak membalas. Dia membuang muka sebagai tanda ia sedang kesal terhadap Luhan. Luhan hanya tertawa sambil mengacak rambut Jessica gemas.

“YA! AKU MENGHABISKAN SEJAM BERHARGAKU UNTUK MENATA RAMBUTKU! JANGAN SEENAKNYA DIACAK!!” pekik Jessica geram.

Luhan menutup telinganya. Teriakan Jessica benar-benar nyaring. Luhan yakin teriakan gadis itu pasti mampu memecahkan kaca. Akh, telinga Luhan yang malang…

***

A few years later.

Jessica pov.

Aku bercanda dengan Luhan sambil menunggu pesanan kami datang. Siapa yang sangka kalau kami akan menjadi sepasang kekasih sekarang? Baiklah, semua orang sudah menyangka ini terjadi. Tapi tidak dengan kami. Bahkan hubungan ini terjadi karena sebuah permainan bernama Truth or Dare.

 

“Aha! Sekarang giliran Luhan!” seruku girang saat kami bermain bersama teman sekelas setelah upacara kelulusan kami selesai. “Truth or Dare?”

Luhan menggigit bibirnya. “Jika aku memilih truth, apa pertanyaannya? Dan jika aku memilih dare, apa tantangannya?”

“Itu rahasia!” cetus Taeyeon.

“Ayolah, biarkan aku memilih..” mohon Luhan sambil memasang wajah memelasnya. Ah benar-benar menggemaskan!

Taeyeon dan beberapa teman-teman sekelasku segera berunding. Mereka melarangku dan Luhan untuk mendengar. Kenapa aku dilarang? Aneh sekali! Perasaanku jadi tidak enak sekarang.

Taeyeon berdeham saat selesai merundingkan pertanyaan dan tantangan untuk Luhan. “Pertanyaannya adalah siapa yang kau sukai sekarang. Dan tantangannya adalah kau harus menyatakan cinta kepada orang kau cintai.”

Seringai terlukis di wajah Luhan. Matanya melirikku, membuatku tersentak. Aku hanya bisa mengerjap pelan.

“Aku pilih keduanya. Aku mencintai Jessica. Jadi apa Jessica mau menjadi pacarku?” katanya tenang yang sukses membuatku tidak bisa bernafas.

“Perkiraanku tepat!” seru Taeyeon girang yang ku balas dengan senyuman kecut. “Jadi apa jawabanmu, Sica-ya?”

 

“Hei! Melamun?” serunya sambil menyenggol bahuku.

Aku tersenyum tipis. Aku tidak mau dia tahu kalau aku sedang memikirkan kejadian itu. Ah, aku malu~

“Ani—“

Suara dering handphone Luhan menginstrupsi kalimatku. Aku memilih untuk menyantap makananku karena ternyata pesananku sudah tersaji di atas meja. Mungkin makanan itu datang saat aku sedang melamun tadi. Entahlah.

“Papa!”

Aku menghentikan laju sendok menuju mulutku saat mendengar pria di sampingku membentak seseorang yang sedang berteleponan dengannya. Dia bangkit dan pergi menjauh dariku. Wajahnya terlihat sangat tegang, emosi, kecewa dan sedih. Aku memutuskan untuk berusaha tidak peduli.

“Ada apa?” tanyaku saat merasa dia kembali duduk di sampingku.

“Uh?”

“Ada apa, Luhan?” Aku menghela nafas panjang. “Aku tahu kau sering berdebat dengan ayahmu. Tapi ku rasa kali ini adalah masalah yang lebih berat.”

Luhan menggeleng pelan sambil memaksakan senyum. “Tidak ada apa-apa. Hanya hal biasa. Tidak ada yang berat.”

“Gotjimal!”

Luhan tertawa. “Aigo. Kau tidak mempercayaiku, Jagi-ya?”

Aku mengerucutkan bibirku. Kenapa dia suka sekali memakai kata manis setiap di saat terdesak? Menyebalkan! Dia tahu itu kelemahanku!

Stop whining or I kiss you,” ancamnya.

Then, do it!” balasku menantang.

Sedetik kemudian, tangannya sudah menekan tengkuk dan menarikku mendekat ke wajahnya. Tidak ada waktu untuk memberontak karena selanjutnya bibirku sudah dibekap oleh bibirnya. Kini aku menyesal karena berani menantangnya. Pria yang satu ini memang gila. Di tempat umum pun tetap berani melakukan ini. Membuatku malu saja! Sialan kau, Luhan!

***

Alisku terangkat karena bingung saat mendengar suara parau kekasihku di telepon. Aku sangat mengenali suaranya. Suaranya saat gembira, sedih, marah, sakit, berbohong. Aku kenal. Aku tidak mungkin salah.

“Kau sakit?” tanyaku akhirnya.

Seohyun yang berada di sampingku, terlihat bingung. Seakan dia tidak percaya kalau orang super aktif seperti Luhan bisa sakit. Ayolah, dengan suhu sedingin ini, pasti orang-orang mudah terserang penyakit. Bagaimana pun ini adalah musim dingin. Tapi sepertinya itu tetap aneh bagi Seohyun.

“Uh? Ah, sepertinya begitu. Tenggorokan dan mataku sakit sekali. Kau bisa datang ke apartemenku?” ujarnya.

Aku mendesah pelan. “Baiklah. Kau ingin ku belikan apa?”

“Sampai dengan selamat di apartemenku pun sudah lebih dari cukup, Jessica Jung. Cepat, atau aku akan mati!”

Aku berdecak pelan. “Tidak mungkin, bodoh! Tidak mungkin kau akan mati kalau aku tidak secepatnya sampai di apartemenmu. Aku akan membawa beberapa obat. Sudah makan?”

Kini terdengar dia tertawa. Dia tidak menjawabku. Dia sibuk tertawa. Aku menggembungkan pipiku kesal. Apa yang lucu sih?

“Luhan~”

“Ah, haha.. sorry, Sic. H-hanya saja, aku senang karena ternyata kau bisa secemas itu,” katanya.

Aku mendengus pelan. “Tentu saja aku cemas. Aku kekasihmu, ingat?”

“Selalu ingat~ cepat datang! Jangan sampai aku mati karena terlalu merindukanmu!”

“Hei, pangeran pujangga! Kau tidak akan mati walaupun tidak bertemuku dalam sehari!”

Seohyun tertawa puas saat aku menutup telepon. Aku tahu wajahku pasti sangat aneh sekarang. Wajahku merah akibat kesal dan malu. Ah, sial!

“Sampaikan salamku untuk Luhan oppa, ya, eonni. Maaf aku tidak bisa menjenguknya. Aku sudah di tahun terakhir. Aku harus bersiap untuk ujian akhir sekolah dan ujian seleksi kuliah,” kata Seohyun.

Aku mengangguk pelan. “Ya. Belajar saja yang benar. Jangan peduli kan pria abstrak itu!”

“Seabstrak apapun dia, kau tetap mencintainya, kan?” goda Seohyun.

Ku rasa Seohyun berhasil membuat pipiku semerah tomat sekarang. Argh!!

***

Aku terpaksa menginap di apartemennya karena dia memohon padaku untuk tetap di sana seperti anak kecil yang meminta mainan favoritnya. Aku tidur di kamar samping kamarnya. Apartemen itu memang mempunyai 2 kamar. Dulu, Luhan tinggal dengan sahabatnya. Tapi sejak sahabatnya pindah, dia tinggal sendiri. Kini kamar sahabatnya sering ku tempati saat menginap di apartemennya. Entah karena untuk mengerjapkan tugas, atau memang ingin menginap.

Aku selalu bangun tepat waktu setiap aku menginap di tempat ini. Biasanya aku akan bangun sekitar jam 10 jika tidur di rumah. Setelah mandi dan mengganti pakaian, aku pergi ke kamar Luhan untuk mengecek keadaannya. Dia masih tidur. Sekujur tubuhnya basah karena keringat. Baguslah, itu artinya dia akan sembuh secepatnya. Karena jujur saja, demamnya sangat tinggi semalam. Itu salah satu alasan aku memilih untuk menurutinya. Aku takut sesuatu terjadi padanya.

Aku mengambil kain yang ada di kening Luhan. Kain itu sudah sangat kering karena panas tubuh Luhan. Aku membasahi kain itu dan mengembalikan kain itu ke atas kening Luhan. Luhan terlihat seperti sedang bermimpi buruk. Bibirnya menggumamkan sesuatu yang tidak bisa ku dengar. Aku memilih untuk menggenggam tangannya erat seakan meyakinkan dirinya kalau aku selalu berada di sampingnya.

“Sica.. mianhae,” gumamnya yang kali dengan nada yang cukup bisa ku dengar.

Aku terbelalak mendengar. Maaf untuk apa? Ah, kau membuatku cemas saja, Luhan…

>>>

Aku terlonjak pelan saat merasa ada yang memelukku dari belakang. Instingku mengatakan itu adalah Luhan. Tubuhku sangat mengenali auranya. Aku berhenti sejenak dari kegiatan memasakku untuk melepaskan pelukan itu. Tapi Luhan enggan melepaskannya. Aku hanya bisa menghela nafas panjang.

“Lepaskan!” pintaku dingin.

Luhan menggeleng. “Tidak mau.”

“Bajuku bisa basah karena keringatmu!”

“Seperti aku peduli saja.”

Aish, pria ini!!

“Apa yang kau lakukan, Luhan?” tanyaku sedikit kesal. “Harusnya kau tetap di kamar, kan?”

“Bosan. Lagipula, memang kenapa jika aku disini?” jawabnya seraya mencium rambutku.

“Tapi kau masih sakit, kan? Pusing?”

Ku rasa dia mengangkat bahunya. “Iya, pusing sedikit. Tapi tidak parah. Memang kenapa sih? Kau tidak suka ku peluk?”

Aku menjilat bibirku gugup. “Suka sih..”

“Kalau begitu, biarkan aku memelukmu beberapa saat.”

Aku hanya mengangguk kaku sambil kembali melanjutkan kegiatanku. Aku memang tidak terlalu ahli soal memasak. Tapi hanya untuk membuat bubur, aku pun bisa. Aku sering membuat bubur dengan ibuku saat Soojung sakit.

Aku menahan nafasku saat Luhan mempererat pelukannya seakan ia takut kehilanganku. Aku terlena hingga akhirnya menyadarkan kepalaku di dadanya. Ini adalah salah satu keuntungan jika mempunyai kekasih yang jauh lebih tinggi dariku. Aku bisa bersandar di dadanya tanpa harus memendekkan tubuh.

“Kau masak apa?” tanyanya akhirnya.

“Bubur,” jawabku singkat.

“Untukku?”

Aku mengangguk.

“Kau tidak berencana meracuniku, kan?” tanya dengan nada ragu dan takut.

Aku menginjak kakinya kesal. “Apa maksudmu?”

Aku tahu dia kesakitan karena dia mengangkat kakinya tepat saat aku menginjaknya sambil merintih lumayan kencang. Tapi dia tidak melepaskan pelukannya.

“Aku hanya becanda, oke? Kenapa kau buas sekali?” runtuknya.

Aku membalasnya dengan tawa. Dia mencium rambutku sekali lagi selama aku tertawa.

“Boleh aku mencobanya?” tanya Luhan.

Aku tersenyum tipis. “Nanti. Saat aku menyajikannya di mangkuk. Kalau kau ingin mencobanya secepatnya, lepaskan pelukanmu dan duduk manis!”

Dia segera menuruti kata-kataku. Dia melepaskan pelukannya dan duduk di kursi. Tangannya terlipat rapi di atas meja makan. Aku tertawa melihatnya. Aku mengeluarkan mangkuk dan menyendokkan bubur ke dalam mangkuk itu. Ku berikan beberapa pelengkap dan akhirnya ku sajikan di depan Luhan.

“Silahkan menikmati sarapanmu, tuan. Saya mohon diri untuk mencuci peralatan masak yang kotor,” kataku dengan sangat sopan seakan Luhan adalah tuan besar.

Luhan hanya tersenyum tipis. Ku balas senyumannya lalu berbalik dan bersiap untuk mencuci semua barang itu. Tepat saat barang terakhir ku bilas sampai bersih, mangkuk yang berisi bubur tadi sudah berada di samping tanganku.

“Kau sudah selesai? Cepat sekali,” komentarku tanpa menoleh. Aku menyabunkan mangkuk itu.

“Iya. Aku harus cepat-cepat menyelesaikannya sebelum aku muntah,” sahutnya tepat di dekat telingaku.

Aku menggembungkan pipiku sekilas. “Apa masakanku sepayah itu?”

“Tidak. Hanya saja kurang sesuatu.”

“Apa?”

“Ini.”

Tiba-tiba telunjuknya mendorong pipi kananku agar aku menoleh ke kiri. Sedetik kemudian, aku merasakan sesuatu yang lembut di bibirku. Aku hanya menutup mataku dan menikmati sentuhannya.

“Kau sudah tahu apa kekurangannya?” tanyanya setelah itu dengan seringaian menggoda.

Aku tersenyum dan mengangguk. “Aku tahu. Karena itu, aku tidak akan membuatkan ini untukmu lagi.”

“Hei, Jessica Jung!!”

>>>

Luhan duduk di sampingku setelah dia mandi dan mengganti bajunya yang basah karena keringat. Aku menyandarkan kepalaku ke sofa di samping Luhan dengan mata tetap tertuju kepada acara di tv.

“Kau tidak pergi ke kampus?” tanya Luhan.

Why should i?” balasku pelan.

“Kau bolos?”

Aku mendengus. “Kau ingin aku kuliah dan meninggalkan pacarku yang sedang sakit? Apa aku sekejam itu? Lagipula diluar benar-benar dingin. Sepertinya akan ada hujan salju hari ini.”

Luhan tertawa. “Baik.. baik.. aku mengerti. Terima kasih.”

“Ne~”

Suasana di sekitar kami menjadi hening. Kami hanya diam sambil menikmati acara di televisi. Entah kenapa, aku merasa aura yang tidak enak di hatiku. Ada yang aneh dengannya. Aku tidak tahu pasti. Aku merasa Luhan seperti sedang menutupi sesuatu. Instingku sangat sensitif soal Luhan dan jarang sekali salah.

“Huo, lihat! Pohon itu besar sekali!” seru Luhan sambil menunjuk layar televisi. “Sayang kita tidak bisa melihat pohon sebesar itu disini.”

Aku mengangkat alisku. “Kenapa tidak bisa?”

“Sekarang sedang musim salju. Tidak ada pohon yang berdaun lebat dan terlihat segar seperti itu. Membosankan.”

“Tapi kau ingin melihat pohon sebesar itu, kan? Bukan pohon yang berdaun lebat,” tanggapku sewot. Kenapa dia tidak nyambung?

Luhan tertawa. “Entahlah. Melihat itu, aku menjadi ingin melihat sebuah keajaiban. Keajaiban yang mungkin membuat pohon-pohon tidak membiarkan daunnya berguguran walaupun musim gugur dan musim dingin datang. Keajaiban yang membuat pohon-pohon berusaha keras untuk mempertahankan bagian darinya. Tapi sepertinya mustahil, ya?”

Aku terdiam saat mendengar nada bicara Luhan yang seakan menerawang. Seakan ada maksud lain dibalik kalimatnya itu. Aku menoleh dan menatapnya dalam. Instingku semakin kuat kali ini.

“Ada yang ingin kau bicarakan kepadaku?” tanyaku akhirnya.

Dia menarik nafas dalam. “Apa itu terlalu jelas?”

“Tentu. Aku ini hati keduamu. Kau ingat?”

“Kau bahkan jauh lebih mengenali diriku daripada diriku sendiri.”

Aku mengangguk setuju. “Jadi ada apa?”

“Aku akan kembali ke Cina sebentar lagi,” kata Luhan.

“Oh.”

“Dan aku tidak tahu akan sampai kapan.”

Aku terdiam mendengarnya. Mataku memanas mendengarnya. Aku tahu ayahnya Luhan memang tidak pernah setuju Luhan sekolah dan kuliah disini. Tapi Luhan tetap bersikeras untuk tinggal disini agar bisa bersama dengan ibunya. Tapi kenyataannya ibunya meminta Luhan untuk tidak tinggal bersamanya. Ibunya tidak mau suami barunya merasa terganggu dengan kehadiran Luhan. Tapi apa peduli Luhan? Alasan Luhan tetap berada di Korea Selatan bukanlah karena ibunya lagi. Tapi karena gadis yang berada di sampingnya sekarang. Itu aku.

“Mungkin.. ada kemungkinan kau hanya sebentar disana?” tanyaku pelan. Aku takut suaraku menjadi serak.

“Aku.. tidak tahu,” jawabnya singkat.

Aku menutup mataku sambil memeluk lututku erat. Aku benci jika harus berada di posisi ini. Saat aku merasa tangannya mengelus pipiku lembut, air mataku mengalir. Aku tahu pasti ayahnya tidak mungkin membiarkan Luhan kembali dekat dengan mantan istrinya itu. Walaupun ayahnya tahu Luhan tidak tinggal bersama ibunya, bahkan tidak menyentuh kisah hidup ibunya lagi kini. Kemungkinan Luhan kembali ke Korea Selatan sangatlah kecil.

***

“Jung Sooyeon! Mau kemana kau keluar dari rumahmu malam-malam begini?” teriak ibuku.

Aku tetap berlari keluar rumah. Mungkin jika ku jawab kalau aku akan ke apartemen Luhan, ibuku akan berhenti berteriak lalu berdoa untuk keselamatanku. Ibuku memang sangat percaya dengan Luhan. Tapi hanya bibirku tidak bisa berkata itu. Bagaimana jika ibuku menelepon Luhan untuk menanyakan kebenarannya? Aku tidak mungkin membuat Luhan kehilangan kepercayaan ibuku begitu saja.

“Oh tuhan! Jung Sooyeon!”

Ibuku masih berusaha mengejarku sampai ke depan gerbang rumah. Tapi aku berhasil kabur lebih cepat. Aku merapatkan mantelku. Malam di musim dingin benar-benar menusuk.

“Aku akan pergi besok. Kau mau ikut mengantarkanku, kan?”

Rasanya hatiku dicabik berkali-kali karena kalimat itu. Rasa dingin di sekitarku serasa menebus tebalnya mantal dan kulitku untuk menyentuh hatiku. Ini benar-benar menyebalkan. Aku tidak mau matahari cepat-cepat muncul. Aku rasa, aku membenci matahari mulai malam ini.

>>>

Aku mengenal tempat ini dari teman-teman sekelasku saat SMA. Beberapa kali mereka mengajakku ke tempat ini. Biasanya selalu ada Luhan di sampingku yang akan selalu melarangku untuk menyentuh alkohol. Sikap protektifnya sering membuat teman-temanku kesal. Aku tidak punya pilihan dan hanya menuruti apa kata Luhan. Tapi kini dia tidak ada disini.

Aku kembali memesan vodka walaupun aku mulai kehilangan kendali tubuhku. Tatapanku mulai sedikit buram dan tubuhku seakan di udara. Berbeda dengan perutku yang terasa sedikit panas. Aku tersentak saat tanganku ditarik oleh seseorang. Seseorang yang berwajah tidak asing berekspresi geram. Tapi ada sebesit rasa sedih dan kecewa di matanya. Aku menggigit bibirku kuat.

“Cukup, Jess. Cukup..”

Dia sedikit berteriak agar suaranya tidak kalah dari suara lagu yang membahana. Aku hanya bisa tersenyum lirih.

>>>

“Ne, ahjumma. Dia ada di apartemenku. Katanya dia bertengkar dengan Seohyun. Dia sangat sedih dan marah. Karena itu dia segera ke apartemenku… Ne… Dia tidak pamit karena takut membuat ahjumma khawatir. Hahaha, Jessica memang bodoh!”

Aku membuang wajahku saat mendengar ia menghinaku. Dia membopongku ke depan pintu apartemennya. Dia memutuskan telepon setelah pamit lalu membuka pintu apartemennya. Aku memang tidak terlalu mabuk. Tapi tetap saja rasa mual dan pusing membuatku lemas. Dia menidurkanku di kasur yang biasa ku tempati.

“Aku akan membuatkanmu teh. Tunggu sebentar!” kata Luhan.

Aku menarik tangannya sebelum dia beranjak dari tempatnya. Rasa takut yang luar biasa menekan hati yang membuatku tidak ingin dia pergi meninggalkanku. Bahkan walaupun hanya sedetik saja. Aku rasa air mataku mengalir. Luhan tersenyum tipis sambil berjongkok di sampingku. Dia menghapus air mataku dengan jarinya.

“Ku pikir kau sudah berjanji untuk tidak menangisi rencanaku untuk pulang ke Cina. Aku kan sudah berjanji akan kembali secepatnya,” gumam Luhan sambil mengelus rambutku lembut.

Aku hanya diam sambil menggigit bibirku kuat.

“Kau membuat semua ini semakin berat. Belum tentu ayahku akan menahanku di Cina, kan?” tambahnya.

Aku menutup wajahku dan terisak. Berat bagiku untuk tidak menangis. Aku benar-benar ingin menangis. Berharap rasa takut dan sesak ini keluar bersama air mata itu.

“Kau berjanji, kan?” tanyaku pelan saat merasa sedikit tenang.

Dia mengangguk pelan. “Selama kau tetap menungguku.”

Aku menjilat bibirku yang terasa sangat kering. Rasa takut dan sesak itu masih berada di hatiku ternyata. Ah, betapa menyebalkannya.

“Ku rasa kau membutuhkan—pfft”

Aku menarik wajah Luhan mendekat dan mempertemukan bibir kami. Sepertinya dia sangat terkejut karena pertama kalinya aku lah yang menciumnya. Aku tetap memainkan bibirku. Melumat dan menghisap bibirnya. Tidak butuh waktu lama untuk membuatnya merespon ciumanku. Semakin lama, semakin dalam. Dia mulai menggunakan lidahnya untuk menjilat permukaan bibirku. Aku tersentak pelan saat sadar lidahnya kini sudah berada di dalam mulutku.

Next day.

“Hump!”

Aku menggumam pelan saat merasa nyawa-nyawaku yang berkeliaran semalam, kini kembali bersatu di tubuhku. Kepalaku terasa sakit. Mungkin efek dari alkohol. Aku tidak tahu pasti. Aku berusaha mengubah posisiku. Tapi aku sadar, aku tidur di dalam pelukan seseorang. Tanpa ku cari tahu, aku sudah tahu siapa. Pasti Luhan. Aku memutuskan untuk berbalik badan menghadap Luhan agar bisa menatap wajah Luhan.

Aku mengeluskan tanganku di pipinya sambil tersenyum tipis. Sebentar lagi aku akan kehilangan pemandangan ini. Aku sedikit mengerang karena Luhan mempererat pelukannya. Aku tidak begitu memikirkannya. Aku cukup senang dengan keadaan ini. Ini membuatku semakin benci dengan matahari. Ah, apakah matahari sudah terbit? Dia sudah tahu kalau aku membencinya tapi dia tetap muncul? Apa dia tidak tahu malu?

Aku menghela nafas pendek seraya berusaha untuk mengecup bibir Luhan. “Pagi.”

“Pagi,” balas Luhan dengan mata tertutup.

“Ah! Kau sudah bangun?” kagetku.

Matanya terbuka dengan malas. Dia mengangguk pelan. “Uhm! Tapi aku masih ngantuk.”

“Memang kapan kau tidak merasa mengantuk?” cibirku.

“Entahlah. Sejak kenal dengan Sleeping Beauty, aku jadi selalu merasa mengantuk,” gumamnya. “Ketularan, eh?”

“Siapa Sleeping Beauty itu?”

“Jessica Jung. Siapa lagi?”

“Hei!!”

“Diam! Aku mau tidur lagi!”

Aku mengatup mulutku kesal. Bahkan dia tidak membuka matanya untuk sekedar melihat wajahku. Aku berusaha melepaskan tangan Luhan. Tapi semakin aku berusaha, semakin erat pelukannya.

“Lepaskan, Luhan! Aku tidak bisa bernafas!” protesku.

Tapi yang ku dapatkan hanya suaranya menahan tawa. Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Aku melirik ke arah kakiku. Sial, aku tidak memakai apapun! Apa yang terjadi semalam?

>>>

“Kamu tidak menangis?”

Aku mengangkat wajahku sembari menyipitkan mata. Aku melihat Luhan menggembungkan pipinya main-main. “Kenapa menangis?” sahutku sedikit sinis.

“Aigo, aku akan pergi sebentar lagi. Tapi kau tetap dingin kepadaku? Kau masih marah soal semal—pfft!”

Aku membekap bibir Luhan secepatnya sebelum Soojung dan Seohyun serta beberapa orang lainnya yang ikut mengantarkan kepergian Luhan menyadari apa yang terjadi. Mereka menatapku kami bingung, membuat pipiku benar-benar panas. Aku bisa merasakan dengan telapak tanganku kalau Luhan sedang menyeringai lebar sekarang. Aku hanya bisa melototinya. Akhirnya aku baru melepaskan tanganku saat Luhan menariknya.

“Kasar seperti biasa. Aku masih tidak menyangka kau bisa selembut itu semalam,” gerutunya.

Aku membulatkan mataku saat mendengarnya. Aku tidak bisa memukul kepalanya karena tanganku masih ditahan olehnya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi apa tidak sebaiknya Luhan oppa pergi sekarang? Sudah tinggal 15 menit lagi,” kata Seohyun sambil sesekali melirik jam tangannya.

Luhan menoleh kesal. “Ya, Seohyunnie. Aku tahu kau tidak menyukaiku karena sering menculik Jessica darimu. Tapi tidak bisakah kau tidak mengganggu momenku bersama Jessica kali ini?”

Seohyun memutar matanya. “Jangan berlebihan, oppa. Aku malah sedang berbaik hati karena mengingatkanmu sebelum kau ketinggalan pesawat walaupun kita sudah berada di bandara sekarang.”

Aku mengangguk setuju mendengarnya sambil berusaha melepaskan tanganku. Tapi dia tetap tidak mau melepaskannya. Padahal aku masih ingin memukul kepalanya. Saat Luhan menghela nafas berat, niatku untuk memukul kepalanya pun lenyap. Aku hanya menatapnya kosong. Dia melepaskan tanganku seraya mengecup keningku.

Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada kami, dia pun pergi menjauh. Aku menatap punggungnya yang menjauh dengan nanar. Kenapa harus semua ini terjadi kepadaku? Di saat aku yakin dialah satu-satunya bagiku? Kenapa aku harus kehilangannya? Semua ini tidak bisa ku terima. Terlebih dengan alasan seperti itu. He used to be mine! Only mine! Tapi kini… tuhan, apa yang kau rencanakan?

Aku menoleh saat merasa pundakku ditepuk lembut. Soojung menatapku lirih seakan mengajakku untuk pulang.

“Sudahlah, eonni. Luhan oppa sudah berjanji dia akan kembali secepatnya, kan? Percaya saja dengannya,” kata Seohyun.

Entah kenapa di kepalaku selalu terngiang tentang pohon di musim salju yang dibicarakan Luhan malam itu. Kemustahilan, uh? Perlahan, aku menarik tubuh sahabat terbaikku dan adik kesayanganku yang sering ku panggil dengan nama koreanya.

“Eonniku yang mungil, setidaknya aku bersyukur karena tidak ada yang akan membuatku pergi jauh dariku. Siapa lagi yang akan ku peluk di pagi hari kalau bukan kau?” runtuk Soojung.

“Ya, Krystal-ah! Jinjjayo…” gerutu Seohyun.

Aku melepaskan pelukanku dan tertawa. “Astaga, Soojungie. Kau masih memikirkan itu?”

Ku lirikkan mata ke arah Luhan pergi. Dia berada di ujung pandangku. Dia melambai kepadaku dan menghilang di balik sebuah pintu. Aku hanya tersenyum miris. Aku terpaksa harus melepaskannya untuk kemungkinan terburuk.

=== Winter Leaf ===

 

Selanjutnya bersiap untuk pertemuan Jessica dan Kris \(^.^\) \(^o^)/ (/^-^)/

Jangan lupa komentarnya 😀

Advertisements

16 responses to “[3Shoots] Winter Leaf (1st Shoot)

  1. manis bangett!!!!,,,kirain pas jessica di suruh ke apartemen luhan bakal terjadi “itu”,,eh nggak,,pas di dapur waktu luhan genit2 gaje nggak juga,,pas di sofa nggak juga,,,tapi pas di sofa itu gak tau kenapa aku ngrasa romantis banget mereka walaupun antara nyesek sih,,,,n then jreng-jreng*gaje suka banget pas luhan bilang “cukup jess,,cukup”feelnya kaya robert yang sakit banget kalau stewart ngrasa sakit*ahhhh,,,,dan akhirnya terjadilah juga dan ternyata jess lah yang mulai duluan,,,jadi gak sabar cerita yang krissica siapa yang mulai duluan ya(?)XD,,kekeke n beudd,,,komenku panjang sekali!mian^^ dan satu lagi suka penampilan baru bognya,,heheheh*bow

  2. Daebak! Bagus banget ff nya! ini prequelnya ff calling out kan? yg shoot ini feelnya dapet banget! ada beberapa moment yg membuat saya berkaca2͵ malah sampai nangis… pokoknya feelnya dapet banget. Terutama pas sica ada di apatermen luhan͵ semuanya dapet banget banget banget feelnya….
    next shootnya krissica y? ceritanya happy atau sad? yg ini kan sad*banget͵ walaupun ada beberapa moment komedinya*͵ kalo krissica apa? g sabar nih͵ ingin baca 2shoot nya. cepet dipost ya͵ thor. saya tunggu…. 😀

  3. makin ngerti sama ff nya thor !!!
    danny anak ?? sepertinya mulai terkuak……. #lebayy

    lanjut thor, publish jngn lama yh thor 😀

  4. Uwaw!
    Itu NC nya kepotong
    :3
    Tapi aku nggak suka NC sih…
    Apalagi kalo yang meranin Sica
    Nggak rela aja…
    😦
    Pertemuan Kris dengan Sica?
    Asyiiik!

  5. aa!!! LUSICA~ keren abisss
    T.T ga rela luhan ninggalin jessica,pas lagi sweet sweet nya luhan pergi~
    ternyata begini toh ceritanya awal mulanya..
    daebakkk nice FF (y)

  6. hiks..hiks..!!
    jangan biarkan sica jatuh cinta sama siapa pun selain luhan!!
    ahh..bapaknya luhan ngeselin nih!! masa dia mau misahin luhan ma sica sih?
    gk relaaaaaaaa…
    tp ff nya aku suka bgt.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s