[Series] Calling Out (Chapter 5)

Author : Lee Hyura

Title : Calling Out

Genre: Angst, Family, Friendship, Romance

Rating : PG 15

Length : Series

Cast :

–          EXO Kris

–          EXO Luhan

–          EXO Xiumin

–          EXO Sehun

–          SNSD Jessica

–          SNSD Seohyun

–          SNSD Tiffany

–          Daniel Hyunoo

=== Calling Out ===

Jessica meneguk teh hijau pesanannya. Sesekali ia menilik jam tangannya. Tidak, orang yang ditunggu olehnya tidaklah terlambat. Tapi memang dia yang datang terlalu cepat. Dia mengusap wajahnya. Tepat saat orang yang ditunggu olehnya datang, jantungnya berdetak dengan cepat.

Annyeong. Apa aku terlambat?” seru Luhan saat dia sudah duduk di kursi di hadapan Jessica.

Jessica tersenyum sambil memperlihatkan jam tangannya. “Tentu saja tidak. Kau malah lebih cepat 5 menit. Lihat?”

“Oh!” Luhan mengerjap kaget melihatnya. Bukan karena dia sadar bahwa dia tidak terlambat. Tapi dia sadar kalau Jessica memakai jam tangan yang ia belikan. Luhan tersenyum manis melihatnya. Apa artinya Jessica—

“Jangan terlalu berharap, Luhan. Aku memakai ini bukan untuk memberikanmu harapan. Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku masih ingat dengan janji kita. Dan aku berusaha untuk menghargai janji itu. Tidak lebih,” kata Jessica.

Sorot mata bahagia Luhan berubah menjadi lirih. Dia kembali membalasnya singkat, “oh…”

Jessica meneguk kembali tehnya. Matanya melirik handphone yang berdering pelan karena Jessica sengaja mensettingnya seperti itu agar tidak akan terlalu mengganggu saat ada yang meneleponnya. Nama Kris tertera di layar handphonenya. Jessica segera mengangkatnya. Dia bisa melihat ekspresi Luhan yang tidak rela ia menerima telepon Kris di saat dia sedang bersama Luhan.

“Yoboseyo,” salam Jessica.

“Yobosey—Danny!” tiba-tiba suara Kris berubah menjadi suara Daniel. “Mommy ada dimana? Aku lapar! Aku tidak mau memakan masakan daddy! Lagipula daddy sibuk dengan laptopnya. Tidak asik. Aku kesepian. Mommy, cepat pulang!”

Jessica menghela napas pendek. “Danny, Mommy sedang ada urusan. Maaf, ya? Jadilah anak yang baik. Bye.”

Jessica segera menutup telepon. Kali ini handphonenya tidak dibiarkan berada di atas meja lagi melainkan dimasukkan ke dalam tas karena takut mengganggu pembicaraannya dengan Luhan. Jessica tersenyum kepada Luhan.

“Daniel?” tanya Luhan.

Jessica mengangguk sekilas. “Pesanlah sesuatu. Memang kau tidak lapar? Aku yakin kau pasti baru bangun. Belum sempat sarapan, kan?” gurau Jessica.

Luhan berdecak pelan. “Hei, Jessica. Aku ini morning person, oke? Tidak mungkin aku—ups…”

Jessica tertawa karena ia mendengar suara dari perut Luhan di saat Luhan ingin menekankan dirinya sudah tidak suka bangun terlambat di setiap akhir pekan. Sedangkan Luhan meruntuk dalam hati. Perutnya memang tidak bisa diajak kompromi. Jessica mendorong piring berisi sepotong cheesecake mendekat ke Luhan.

“Makan saja itu karena aku tidak bisa menemanimu sarapan terlalu lama,” kata Jessica sambil tersenyum.

Luhan mengernyit. “Maksudnya? Lalu kenapa kau mengajakku bertemu?”

“Aku hanya ingin memintamu untuk menjaga jarak denganku. Aku sudah mempunyai keluarga sekarang. Ku mohon.. jangan ganggu kami. Jika kau ingin bertemu Daniel, itu mudah. Tapi jangan mengganggu keluargaku,” jelas Jessica, berusaha tenang.

Yah walaupun sebentar lagi kami bercerai, aku ingin kami berpisah tanpa masalah berarti. Dan aku tidak mau ada masalah besar di antara kalian. Kasian Minseok kalau kalian berseteru. Bagaimana dengan proyek kalian?, batin Jessica.

“Selalu saja Kris. Semua Kris,” kesal Luhan pelan sambil menyendok kuenya dengan geram.

“A-aku hanya berusaha adil,” bela Jessica.

“Dengan selalu memihak kepada Kris?”

“Karena Kris yang selama ini selalu ada untukku. Harusnya aku juga seperti itu. Kau ingin aku memihak kepadamu? Dimana kamu saat aku mengalami morning sick? Dimana kamu saat aku mengalami sindrom ngidam? Dimana kamu saat aku merasakan kehadiran Daniel di perutku? Dimana kamu saat aku melahirkan Daniel? Dimana? Apa kamu ada di sampingku? Tidak. Kris? Iya.”

Luhan mengerjap sambil tersenyum miris mendengarnya. Speechless. Ya, dia speechless sekarang. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tentu Jessica tahu keberadaannya dimana saat Jessica mengalami itu semua. Luhan berada di Cina. Tapi bukan itu yang dimaksud oleh Jessica. Maksud Jessica adalah Luhan tidak pernah ada di samping Jessica saat Jessica mengalami itu semua. Kris lah yang berada di samping Jessica. Dia terdiam beberapa detik lalu menggenggam tangan Jessica yang berada di atas meja.

“Tapi… biarkan aku bersamamu untuk beberapa waktu hari ini. Aku janji aku akan mengabulkannya mulai besok. Aku janji.”

Jessica mengangguk pelan sambil menarik tangannya yang digenggam oleh Luhan.. “Tentu. Tapi aku tidak bisa terlalu lama. Daniel memintaku untuk segera pulang,” jawab Jessica.

Sebenarnya Jessica merasa bersalah. Dia bohong. Bahkan Kris pun tidak berada di sampingnya saat semua itu terjadi. Kris menjauhinya. Seohyun lah yang selalu bersamanya. Tapi saat ia melahirkan Daniel, Kris memang berada di sampingnya. Tapi Luhan tahu apa? Biarkan saja Luhan menganggap apa yang dipikirkannya adalah sebuah fakta.

>>>

Saat mendengar suara ibunya, Daniel segera meninggalkan mainannya dan berlari mendatangi ibunya sambil bersorak senang. Jessica menyambutnya dengan merentangkan tangannya. Saat Daniel berada di hadapannya, Jessica menggendongnya.

“Hmph, kau sudah berat sekarang. Sepertinya Mom sudah tidak sanggup menggendongmu terlalu lama, Danny-ah,” goda Jessica.

Daniel menggembungkan pipinya. “Hua~ aku tidak berat, Mom!”

Jessica tertawa mendengarnya, sedangkan matanya menyelusuri keadaan ruang tengah rumahnya. Tidak ada Kris disana. Dia menoleh kesana-kemari, tetap tidak bisa menemukan Kris.

“Dimana daddymu?” tanya Jessica.

Daniel menunjuk kamar Kris. “Daddy ada—“

“Aku disini. Merindukanku?” sahut Kris sambil memunculkan kepalanya dari kamarnya.

Jessica mendesis. “In your dream, mister Wu!”

“Ah, aku lapar!” rengek Daniel.

Jessica dan Kris tertawa mendengarnya. Jessica menurunkan Daniel lalu menggenggam tangan anaknya dan membawanya ke kamar Jessica. Setelah meletakkan tas dan jaketnya di lemari, Jessica dan Daniel pergi ke dapur.

“Sekarang kamu bantu Mommy, ya, chef cilik?” seru Jessica.

Daniel mengangkat tangannya seakan sedang memberi hormat kepada atasan militernya. “Siap!”

>>>

“Kris, besok kembali kerja?” tanya Jessica sambil memindahkan piring-piring kotor bekas makan keluarganya dari atas meja makan ke westafel.

Kris yang sedang minum pun mengangguk walaupun ia tahu Jessica tidak akan melihat reaksinya karena wanita itu itu terlalu sibuk dengan piring-piring kotor itu. “Ne. Aku tidak mungkin terlalu meninggalkan pekerjaan. Kasian Minseok dan Luhan,” jawab Kris seraya ikut membantu Jessica.

Jessica meringis mendengar nama Luhan. “Oh..”

“Ada apa?”

Jessica mendongak. “Apanya yang ‘ada apa’?”

Kris menarik kursi dan duduk di dekat Jessica kini mulai membuang sisa makanan di piring ke tempat sampah. Dia menatap wajah mulus istrinya sembari tersenyum tipis. Dia tahu dia memang mencintai Jessica sekarang. Kata-katanya beberapa hari yang lalu adalah kata-kata yang tulus dari hatinya. Tapi sepertinya Jessica tidak peduli dengan kata-kata itu.

Jessica yang menyadari itu, dia berhenti sejenak dari kegiatannya lalu menatap Kris bingung. Antara menagih maksud pertanyaan Kris tadi serta bertanya akan maksud pandangan Kris kini. Senyuman Kris malah melebar, membuat Jessica mengangkat alisnya.

“Jessica-ya, bagaimana jika saat itu kau sedang subur? Apa ada kemungkinan Daniel akan mempunyai adik?” celetuk Kris tiba-tiba.

Jessica meletakkan piringnya kembali ke westafel lalu memukul lengan Kris gemas. Kris meringis sambil mengelus lengannya kesakitan. Pukulan Jessica itu keras dan menyakitkan. Tapi Kris tidak terlalu memikirkannya saat melihat wajah merah Jessica. Dia menyeringai.

“Kalau itu tidak berhasil, mungkin kita perlu mencobanya lagi. Ku yakin Daniel pasti senang mendapatkan adik baru,” tambah Kris.

Jessica diam. Tidak, Jessica sedang berusaha untuk mengontrol emosinya.

“Bagaimana kalau kita melakukannya malam ini?” lanjut Kris. “Aku merasa bergairah sekarang. Aku akan membuatmu meneriakan namaku. Bagaimana kedengarannya? Menyenangkan?”

Ya, Kris! Pergi atau piring ini akan mengenai kepalamu sebentar lagi!!” pekik Jessica kesal.

Kris segera bangkit dari kursinya dan berlari keluar secepatnya. Sedangkan Jessica menjatuhkan diri dengan perlahan. Kakinya benar-benar lemas. Dia mengusap wajahnya frustasi.

“Apa-apaan ini?” runtuknya pelan.

“Daniel, apa kau mau mempunyai adik bayi?”

Jessica menoleh saat mendengar suara Kris. Kini wajahnya sangat merah.

“MATI KAU, KRIS WU YI FAN!” teriak Jessica.

“Tidak akan, Jessica Wu Sooyeon!” sahut Kris.

Next day.

Pagi ini, Jessica kembali dengan kesibukan biasanya. Dia harus mengurusi 2 laki-laki di rumahnya. Harus ke kamar Kris lalu ke kamar Daniel hanya untuk memastikan keduanya tidak kekurangan atau kelupaan apapun. Tidak lupa dia harus mengurusi dapur, atau suami dan anaknya tidak akan mempunyai apapun untuk sarapan dan bekal.

“Ah, kenapa kau harus kembali kerja lagi, Kris? Padahal lebih asik jika kau tidak berangkat kerja,” rengek Jessica sambil meletakkan piring-piring berisi makanan di atas meja.

Kris tertawa. “Kau tidak mau jauh dariku, eh?”

Jessica mengerang mendengarnya. Dia memberikan susu coklat kepada Daniel dan jus apel kepada Kris. Setelah itu, baru lah dia duduk di kursi dan membalas, “berhenti bercanda! Aku sudah terlanjur terbiasa tidak terlalu sibuk di pagi hari karena dibantu olehmu. Eh sekarang malah membuat pagiku tambah sibuk seperti minggu-minggu sebelum kau cuti. Hua~”

Mommy, jangan suka mengeluh. Nanti cepat tua,” komentar Daniel polos lalu menggigit roti bakarnya.

Kris menutup mulutnya sebagai pencegah tawanya meledak. Sedangkan Jessica mendelik tajam ke arah Kris.

Ya, Kris Wu! Apalagi yang ajarkan kepada anakmu!?”

>>>

Minseok bersiul pelan selama perjalanan menuju ruang kerjanya. Dia mengerjap saat melihat Luhan sudah ada mejanya sambil berkutat dengan kertas, penggaris dan pensil, serta laptopnya. Minseok membulatkan bibirnya lalu melirik jam tangannya. Masih ada 1 jam sebelum jam kerja dimulai. Tapi Luhan sudah sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya juga Luhan sudah cukup lama melakukannya karena penampilannya berantakan. Atau memang penampilan Luhan yang sedang kacau?

“Luhan-ssi?” panggil Minseok ragu.

Luhan menoleh dan membalas panggilan Minseok dengan senyuman tipis yang memancarkan kelelahan. Luhan terlihat lelah. Senyumannya, pandangannya, penampilannya. Dia terlihat menyedihkan.

Minseok meletakkan tasnya di atas meja kemudian menarik kursi ke meja Luhan. Dia memaksa Luhan untuk duduk. Dia menghela napas berat setelah dia dan Luhan sudah duduk.

“Kau menyedihkan sekali. Apa kau tidur semalam?” kata Minseok.

Luhan meraih gelas berisi air putih yang tinggal sedikit sambil menggeleng. Dia meneguk air itu cepat lalu bangkit. Tapi dengan cepat Minseok menahannya, mendorong bahunya agar kembali duduk.

“Aku belum selesai, Luhan-ssi!” kesal Minseok.

“Minumku habis, Minseok-ssi! Apa pembicaraan kita tidak bisa dilanjut setelah aku mengambil air?” balas Luhan cepat, sedikit mengerang.

Minseok menarik napas. “Begini.. aku mungkin memang hanya rekan kerjamu. Tapi sudah pernah ku bilang, kan, kalau kau bisa mengandalkanku? Kau bisa menceritakan masalahmu kepadaku? Karena aku juga menganggapmu begitu.”

“Apa maksudmu? Aku hanya sedang bersemangat mengerjakan pekerjaanku. Sekarang, apa boleh aku mengambil minum?”

Minseok menjilat bibirnya. “For heaven’s sake, Luhan, kau itu terlihat menyedihkan! Tidak terlihat bersemangat sedikitpun. Masih mau berbohong?”

Luhan mengacak rambutnya geram. Dia menarik napas dalam. Dengan gerakan tiba-tiba, dia bangkit dan keluar dari ruangan. Tak lama dia kembali dengan gelas berisi penuh air putih. Dia kembali duduk di kursinya lalu meneguk habis airnya.

“Luhan-ssi…” desak Minseok.

Luhan menggigit lidahnya sekilas. “Ini tentang teman lamaku yang pernah ku ceritakan.”

“Ya?”

“Dia—“

“Pagi semuanya!” sapa Kris.

Minseok menoleh sejenak ke Kris lalu kembali ke Luhan tanpa membalas sapaan Kris. Wajah Minseok pun mendatar saat menyadari Luhan tidak jadi bercerita kepadanya. Luhan hanya tersenyum kepada Kris sembari meraih pensil dan penggarisnya kembali.

“Minseok-ah! Kenapa kau tidak membalas sapaanku?” protes Kris.

Minseok mendelik geram. Demi tuhan, Kris! Kau datang di waktu yang tidak tepat!

Luhan kembali tersenyum melihat Minseok bangkit dan menoyor Kris yang clueless. Tentu saja Kris protes. Tapi Minseok tidak berkata apapun seraya menarik kursinya kembali ke tempat dan duduk di kursinya.

“Apa aku mengganggu?” tanya Kris kepada Luhan dan Luhan mengangkat bahunya menandakan dia tidak tahu.

“Minseok-ah, aku tahu! Pasti itu caramu menyambutku kembali ke kantor setelah seminggu cuti, kan?” canda Kris.

Minseok mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Terserahmu mau berpikir apa.”

Luhan lagi-lagi hanya tersenyum melihat itu. Tapi sebenarnya ia sama sekali tidak mau tersenyum. Terlebih setelah kejadian kemarin. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus bersikap profesional. Tidak boleh terpengaruh oleh masalah pribadi. Terkadang ada kalanya dia ingin kembali menjadi pelajar. Benar, itu pasti indah. Tidak ada masalah, bercanda dengan teman, berdebat dengan Seohyun, dan tentu saja Jessica tetap menjadi miliknya.

***

Seohyun kembali melirik penampilannya dari pantulan kaca jendela mobilnya. Tangannya merapikan rambut untuk ke sekian kalinya. Merasa sudah rapi, dia berbalik badan dan pergi ke tempat tujuannya. Lapangan basket. Disana pasti ada Sehun bersama teman-temannya.

Seohyun tersenyum tipis saat di sudah berada di pinggir lapangan. Dugaannya benar. Sehun memang berada di lapangan basket fakultasnya bersama teman-temannya. Sehun sedang berlari mengejar lawan lalu memblokir lawan sehingga bola berpindah ke teman setimnya. Teman setimnya yang mendapat bola itu segera melakukan lay up cantik dan… masuk. Tim mereka kembali mendapatkan poin.

“Sehun-ah!” panggil Seohyun sambil melambai.

Sehun menoleh cepat mendengar suara yang menjadi sebuah kebutuhan yang harus ia dengar setiap hari. Melihat Seohyun disana, dia segera berlari menghampiri Seohyun. Bahkan dia lupa untuk meminta izin dengan teman-temannya. Seohyun ada di kampusnya. Di dalam wilayah fakultasnya. Langka!

“Kenapa Noona kesini? Ada masalah? Soal Jessica noona lagi?” tanya Sehun bingung.

Seohyun menggeleng pelan. “Tidak ada hubungannya dengan Jessica eonni, Sehun-ah. Ini tentang masa depanku.”

>>>

“Jam 12 siang! Mau makan apa kita?” seru Jessica semangat.

Jessica dan Daniel baru saja pulang dari sekolah Daniel. Mereka memutuskan untuk makan siang sebelum ke rumah sakit untuk check up rutin Daniel. Bukan check up untuk penyakit tapi check up sederhana yang diperuntukkan untuk para anak kecil setiap 6 bulan sekali. Kesehatan gigi, mata, telinga, dan lainnya.

“Burger!” sahut Daniel tidak kalah semangat.

Jessica berhenti berjalan dan menoleh. “Ya, Danny! Kau mau disumpahi mati muda oleh Seohyun ahjumma? Kita tidak boleh memakan makanan yang tidak sehat seperti itu…”

“Tapi aku dan daddy memakan itu sepulang bermain golf,” bela Daniel polos.

Jessica menggeleng pelan sambil kembali berjalan. Lagi-lagi Kris. Memang seharusnya Jessica memberikan kuliah singkat tentang apa yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada Daniel.

“Kita makan makanan Jepang saja sekarang. Sudah lama tidak makan sushi. Kau mau?” usul Jessica.

Daniel menggeleng. “Aku tidak suka makanan mentah, Mom!”

“Oke.. oke.. aku ikuti kemauanmu!”

Jessica menghela napas berat. Dia memilih menuruti keinginan anaknya karena dia sendiri tidak tahu ingin memakan apa. Sudah lama dia tidak makan di luar rumah. Dia sudah terbiasa membuat sendiri menu makan keluarga. Tahu tempat dengan makanan terenak saja dia tidak tahu.

Selesai makan, dia dan Daniel segera menuju rumah sakit karena sebenar lagi jam praktek dokter anak akan dimulai. Daniel mendapatkan nomor urut pertama. Jadi mereka tidak boleh terlambat. Untung saja dari restoran cepat saji tempat mereka makan tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Hanya membutuh 10 menit dengan mobil.

“Ayo, Danny. Ppaliwa~ kita hampir terlambat,” panik Jessica sambil menarik Daniel agar berlari lebih cepat.

Beruntung mereka datang tepat waktu. Saat mereka baru saja duduk setelah daftar ulang, nama Daniel dipanggil. Daniel hanya melakukan cek biasa seperti pengukuran berat badan, tinggi dan lainnya. Lalu Jessica dan Daniel pergi ke dokter gigi untuk mengecek kesehatan gigi Daniel.

Akhirnya semua pengecekan selesai. Jessica dan Daniel keluar dari ruang praktek dokter gigi. Jessica sudah berjanji membelikan Daniel eskrim kalau Daniel bersikap baik selama pengecekan. Tapi sepertinya rencana itu diundur saat Jessica bertemu dengan Miyoung.

“Miyoung-ssi!” sapa Jessica.

>>>

Mmwo?”

Sehun menggaruk kepalanya sekilas. Ia berharap ia salah dengar. Dia meminta Seohyun mengucapkannya lagi.

Seohyun kembali menjelaskan, “aku ingin menjadi duta besar sejak kecil, Sehun-ah. Tidak hanya aku. Keluargaku juga. Ayahku ingin aku mengikuti jejaknya. Karena itu, aku akan mengikuti penyisihan dan wajib militer. Tepat saat kontrakku sebagai novelis dengan penerbitku selesai, aku akan fokus untuk menggapai cita-citaku. Kau cuma punya waktu 3 bulan untuk membuatku membatalkan niatku.”

“Itu artinya kau masih ragu dengan keputusanmu?” tebak Sehun.

Seohyun menutup wajahnya dan mulai terisak. “Iya, aku ragu. Aku ingin mendapatkan cita-citaku dan keluargaku ini. Tapi tidak mau jauh darimu. Aku tidak tahu harus memilih yang mana. Bantu aku…”

Sehun memeluk Seohyun dan mengecup rambut gadisnya. Dia juga bingung harus bagaimana.

“Aku janji. Dalam waktu kurang dari 3 bulan, aku pasti berhasil membatalkan niatmu,” bisik Sehun.

>>>

Luhan menutup filenya seraya bangkit. “Mau makan siang dimana kita?” tanya Luhan.

Minseok mendongak sambil berseru kaget. Dia melirik jam tangannya. Memang sudah waktunya makan siang. Minseok melirik Kris yang masih asik berkutat dengan map-mapnya dan laptop. Si workaholic itu memang tidak bisa diganggu jika sudah bekerja. Dia tenggelam dalam pekerjaannya.

“Maaf, Luhan. Istriku membawakanku bekal,” kata Minseok sambil menyatukan kedua tangannya  dan memasang wajah memelasnya bertanda ia merasa sangat bersalah.

Gwenchana. Bagaimana dengan Kris?” tanya Luhan.

“Dia juga pasti membawa bekal. Jessica selalu membawakannya bekal sejak mereka menikah. Tidak seperti Miyoung yang baru hobi memberikanku bekal sejak dia hamil,” jawab Minseok, sedikit merengut. “Apa kehamilan membuat wanita semakin rajin dan perhatian?”

“Tidak juga.” Kris menyahut, “istriku tidak. Dia malah menjadi semakin malas. Itulah kata Seohyun. Aku sih tidak terlalu sadar apa dia memang menjadi pemalas atau tidak.”

“Karena kalian menikah saat dia sudah hamil. Tentu saja kau tidak sadar. Apalagi kamu menghindari Jessica saat Jessica hamil. Mana mungkin kau sadar?” sungut Minseok. Ada apa dengan Kris? Tumben sekali bisa nyambung dengan pembicaraan orang lain saat dia sedang asik dengan pekerjaannya, lanjut Minseok dalam pikirannya.

Apa? Kris menghindari Jessica?, batin Luhan bingung.

Ya, Minseok-ah! Jangan membuatku buruk di depan Luhan!” protes Kris.

Minseok membalasnya dengan cibiran. Dia melirik Luhan yang kini memasang wajah aneh.

Ada apa lagi dengan Luhan? Aish, aku bingung dengannya, pikir Minseok.

>>>

Miyoung sedang menyunting ulang novel dari penulis amatir di ruangannya. Tapi suara decitan pintu yang dibuka mengganggunya. Dia mendongak dan melihat wajah lemas Seohyun. Dia tahu dia mempunyai janji dengan Seohyun hari ini. Tapi masih ada 4 jam sebelum waktu perjanjian. Kenapa Seohyun sudah datang?

Annyeong, Seo,” sapa Miyoung sambil menutup berkasnya.

Seohyun membalasnya dengan senyuman tipis sambil menarik kursi. Dia tidak berkata apapun bahkan sampai semenit setelah ia duduk. Miyoung menatapnya bingung.

“Ada masalah lagi, Seo? Kok sepertinya akhir-akhir ini, hidupmu itu tidak bisa damai, ya?” cibir Miyoung.

Seohyun menutup wajahnya, membuat Miyoung semakin bingung. Tidak mendengar jawaban dari Seohyun, Miyoung menjadi panik.

“A-ada apa, Seohyun-ah? Ada masalah apa? Ayo dong cerita!” desak Miyoung.

“Aku berbohong kepada Sehun..” jawab Seohyun akhirnya.

Wajah Miyoung menjadi kosong dalam sekejap. “Eh?”

Seohyun menghela napas panjang. “Aku berbohong, Eonni. Aku berbohong!”

“Tentang?”

“Cita-citaku. Aku bilang aku akan menjadi duta besar dan mengikuti wajib militer 3 bulan lagi.”

“Kenapa?”

“Karena aku kehabisan ide untuk novelku..”

Miyoung memutar otaknya. Oh, benar juga. Ini mirip dengan kisah yang ada di novel Seohyun. Seohyun… Seohyun… tidak pernah berubah. Selalu saja menjadikan Sehun sebagai inspirasi novelnya.

“Bagaimana ini?” tanya Seohyun, merengut.

Do it! Sudah terlanjur terjadi,” jawab Miyoung santai.

“Ah, Eonni~~”

Miyoung mengangkat tangannya sambil kembali mengerjakan tugasnya. Dia baru kembali dari dokter kandungan dan menyempatkan diri untuk makan eskrim bersama Jessica dan Daniel sehingga waktunya terbuang cukup banyak. Sedangkan atasannya meminta novel itu harus selesai besok. Artinya Miyoung harus sangat teliti agar tidak ada typo yang terlewat oleh matanya sehingga ia tidak perlu bulak-balik ke tempat percetakan.

“Aku akan membantumu asal kamu membantuku menyunting novel ini. Cepat!” kata Miyoung sambil memberikan berkas itu kepada Seohyun.

Seohyun merengut. “Kenapa jadi aku?”

“Mau dibantu, gak?” sahut Miyoung sinis. “Lagian aku capek. Aku kan tidak boleh terlalu lelah.”

“Alasan!” sungut Seohyun.

Mwo?”

Animnida, Eonniya~”

Miyoung tersenyum senang melihat Seohyun mulai membaca novel itu.

“Lagian kau perlu membaca novel-novel orang lain untuk meningkatkan gaya bahasamu. Kau perlu belajar lebih banyak agar menjadi novelis terkenal,” tambah Miyoung.

“Aku sudah terkenal,” sahut Seohyun cepat.

Miyoung menatap Seohyun datar. Sedangkan Seohyun hanya menyengir lebar. Sepertinya dia lupa dengan masalahnya. Siapa peduli? Miyoung tidak peduli. Yang penting Seohyun tidak selemas tadi. Itu sudah cukup bagi Miyoung.

=== Calling Out ===

Akhirnya chapter 5 datang ‘-‘)/ gimana? Ga ngecewain kan? Panjang kan? Fufufu

Oh iya. Chapter 6 bakal lama deh kayaknya. Kenapa? Karena aku mau fokus ke before story alias prekuelnya ff ini biar pada ga bingung sama masa lalunya Luhan-Jessica-Kris. Siap untuk membaca masa lalu mereka? ^^

Advertisements

19 responses to “[Series] Calling Out (Chapter 5)

  1. hampir jamuran nunggunya -.-
    tpi puas akhirnya ini ff dilanjut

    suka KrisSica, tpi sebenernya lebih suka sama LuSica..
    Kasiah luhan.., pasti pengen bgt bisa terus sama sica apalagi daniel
    bner2 nggak tega ma luhan T.T

    LANJUT ! 🙂

  2. Kyaaaa~ sekali lagi saya mau ngasih tau kalo saya nge-fans berat sama ff ini…. saya bilang sekali lagi karena saya udah komen d blog lain-exoshidaefanfic.wordpress.com-. tp saking sukanya sama ff ini͵ saya komen lagi!!! ^^ *reader alay* hehehe… 😀
    pokoknya saya suka semua yg ada di ff ini! saya tunggu terus kelanjutannya ya͵ thor… 🙂

  3. Mauuuuu!
    Masa lalunya Luhan-Jessica-Kris ,kan?
    Uwaaah, keren hlo waktu Jessica sama Kris adu argumen…
    Iya, Daniel buatin adek baru aja o.0
    Lama nggak papa, asal nanti kalo keluar lagi panjang chapternya….
    🙂
    Prequel-prequel…
    Ditunggu
    Itu Jessica bohong tapi dibocorin sama Minseok
    *jitak minseok*
    Kasihan Luhan…
    😦

  4. Akhirnya nongol juga nih ff. yeeeiiyy
    Kris uda mulqai agresif kataknya, udah berani ngajak Jessica utk bikin adek buat Danny
    Hahaaa.. Jessica sama Kris aja ya ^^
    Sama pengennya sih partnya banyakin tntg Krissica,, makin banyak lg.
    Klo perlu dari awal sampe akhir ngomonginnya Krissica aja #ReaderMaruk

    Ditunggu part lanjutannya. Klo bisa jangan lama2 ya thor.
    Semangaaaat yaa ^^9

  5. ngakak gaje pas bagian daniel minta fast food , itu minseok ma kris bkin keki . ngapain ngomongin gtuan di dpn luhan . jd nya bgini dah -..-

  6. fufuf
    akhir ny publish
    yeyeue**jingkrak2 ala hyuk
    kris msih blm tau kbenaran ny kalo luhan n jes ada hub d masa lalu
    aq mnunggu lanjutan ny
    semoga kris n jes happy ending

  7. bakal lama tapi jangan lama2 banget chingu,penasaran tingkat tinggi ini 😦
    itu Kris tau jess udah hamil pas mereka nikah?
    kris konyol juga pas ngegodain jess biar danny punya adik 😀
    Ke tkp selanjutnya ah

  8. Setuju bgt tuch klo kilas balik masa lalunya dijelaskan… Sebenarnya perasaan jessica ke kris spt apa sich, kris skrg dh mulai mencintai jessica. Penasaran juga gmn respon kris klo danny bukan anak kandung n dannya jg mengetahui klo kris bukan ayah kandungnya melainkan luhan…lanjut ya part 6 nya

  9. Jessica bener-bener tetep keukeuh mau cerai dari Kris fufu-___-. Tapi setelah cerai dia gak akan balik ke Luhan kan? Please bilang enggak. Dan ini kenapa Minseok ngerusak cerita yang udah Jessica buat untuk ngebohongin Luhan sih….

  10. Ini keren author kkkk~ krissica cocok banget jadi mommy daddy,ngebayanginnya manis lucu romantiiss Danniel Wu~ beruntung kamu naakk punya orang tua kece2 semuaaaa..haha
    Kasian Lulu,tapi aku tetap Royal Ices :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s