The Doorway — Chapter 1

Author : Lee Hyura

Title : The Doorway

Genre : Angst, Friendship, Horror, Mystery, Romance

Rating : PG

Length : Chapter

Cast :

–          SNSD Jessica

–          EXO Xiumin

–          EXO Kris

–          EXO Chanyeol

Note : Ada beberapa kata kasar. Jadi maaf banget ya. terus ff ini terinspirasi dari film jadul amerika yang berjudul Switch Board 2 😀

Previous : Teaser

Lee Hyura © 2012

Ini adalah hal terlarang. Mainan terlarang. Jika kau sudah menyentuhkan tanganmu pada bendaku, maka tak ada jalan keluar untukmu.

=== The Doorway ===

Jessica merapikan berkas-berkasnya seakan ia tidak mendengar Kris yang sedang sibuk mengoceh. Dia sudah sangat jengkel hari ini. Pertemuannya dengan Kris malah memperburuk suasana hatinya. Pria itu mengomel tentang apa saja yang terjadi hari ini. Dalam hati, Jessica membalas, “please, Kris. I don’t wanna give you a damn now! Leave me alone!”. Tapi Jessica tidak akan pernah berani mengatakan itu. Terlebih kepada Kris.

“Jess, I’m talking to you now!” bentak Kris saat sadar kalau Jessica tidak memberikan perhatian sedikit pun dengan segala ceritanya. Sepasang kekasih itu memang terbiasa berbicara dengan bahasa inggris jika sedang berdua saja.

Jessica memutar matanya sambil duduk di sofa lalu membuka laptopnya. “So whatDon’t waste my time with all of your crappleaseI’m too lazy to give a fuck,” sahut Jessica kesal. Dalam hati, Jessica menangis terharu karena ternyata dia bisa mengatakan itu tanpa ia sadari.

“Jess?” Kris menatap Jessica bingung.

Jessica yang selalu bersikap manis bisa berbicara seperti itu? Bagaimana bisa? Kris tidak habis pikir bagaimana bisa Jessica bisa mengatakan itu. Tapi yang pasti itu membuat Kris semakin emosi.

“Jess! What happened to you, eh? Where’s my sweet Jessie?” tanya Kris sambil menahan emosi.

“Begini, Kris… aku lelah hari ini. Jadi apa tidak bisakah kau sehari ini saja tidak—“

“Apa yang terjadi? Kau tidak biasanya sekasar ini!” potong Kris emosi.

Jessica menatap Kris tidak percaya. Kasar? Seperti ini kasar? Lalu apa yang biasanya Kris lakukan kepada Jessica? Itu semua jauh dari lebih parah dengan kata-kata Jessica tadi. Jessica mengatup bibirnya. Dia tidak mau melanjutkannya. Pasti itu akhirnya mereka akan bertengkar jika Jessica melanjutkannya.

“Jessica Jung! Jawab aku!” bentak Kris.

Jessica menatap Kris tajam. Dan peperangan pun tak terelakkan di malam itu.

***

Jessica membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat berat dan sakit. Itu pasti akibat dia minum alkohol melebihi batas kemampuannya. Dia mendesah kasar, menyerah untuk mencoba menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya juga terasa sangat sakit. Kejadian semalam membuatnya ingin menangis. Semalam, dia dan Kris resmi memutuskan hubungan mereka. Kris lah yang mengatakannya.

One, two, my mind, three, four, my breathe, five, six, my whole body

Jessica mengerang pelan mendengar handphonenya berdering. Dia melirik ke sekitarnya. Dia baru sadar kalau dia tertidur di sofa ruang tamu. Dia meraba meja untuk mencari benda tipis itu. Jessica menghela napas lega saat berhasil menemukannya.

Hello~ Jessica’s speaking,” kata Jessica parau.

“Sica-ya, kau tidak datang ke kantor hari ini?”

Jessica mengerjap. Dia menjauhkan handphonenya dan menatap layarnya. Ternyata bosnya yang meneleponnya. Jessica menepuk wajahnya karena malu.

“Oh, Minseok-ah!” seru Jessica, memaksakan ceria. “Aku baru bangun. Memang sekarang jam berapa, ya?”

It’s fucking 11.00!” Minseok mendesah kasar. “Ada apa denganmu? Kau terdengar seperti orang yang sedang depresi.”

Jessica menghela napas panjang. “I am.”

“Karena Kris?”

Yeah.”

“Baiklah. Hari ini kau boleh off.”

Jessica mengerjapkan matanya. Reflek, dia mengubah posisinya menjadi duduk karena terkejut tapi senang. Akibatnya, otaknya serasa dipukul dengan palu besar. Dia mengerang kesakitan.

Aigogwencana?” tanya Minseok khawatir.

Jessica tersenyum kecil. “Anigwencana. Jangan khawatir. Terima kasih, Minseok-ah! Kau adalah bos sekaligus sahabat terbaik di dunia!”

“Tidak cukup baik untuk meluluskanmu menjadi manager selanjutnya,” balas Minseok cepat.

Jessica mendengus pelan. “Ya.. ya.. aku tahu. Aku masih harus membuktikan aku lebih baik dari Sooyoung.”

“Kau bisa jika kau tidak mabuk-mabukan.”

“Baru kali ini aku minum hingga mabuk!”

Minseok terkekeh. “Iya, aku mengerti. Pasti masalah yang berat, ya? Aku tunggu si ceria Jessica besok. Tenangkan dirimu hari ini, mengerti?”

“Ya.”

“Baiklah, aku tutup—“

Jessica segera menahannya, “jamkan!”

Ne?”

Jessica terbatuk pelan. Dia tidak yakin untuk mengatakan ini. Sebenarnya dia tidak ingin ada yang tahu. Tapi bagaimanapun Minseok adalah sahabatnya. Dia tidak bisa menyembunyikan hal ini dari Minseok.

“Aku putus dengan Kris,” kata Jessica, hampir berbisik.

“Syukurlah! Apa aku harus membuat pesta malam ini? Di kelab yang biasa, bagaimana?” tanggap Minseok penuh duka cita. “Eh tidak perlu. Pada akhirnya kau akan kembali dengannya. Ini sudah terjadi berpuluh-puluh kali. Kapan kau sadar?”

Jessica merengut. “Min—“

“Jess, tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu. Tapi dari awal, aku sudah tidak suka dengan Kris yang sangat membatasi dan mengaturmu. Who is heYour mother hen? Aku pikir dia sudah tidak waras. Makanya aku sangat senang saat tahu kau sudah putus darinya. Dan aku tekankan untuk jangan pernah kembali kepadanya. Told ya!” jelas Minseok kesal.

Jessica tertawa kosong. Minseok memang benar. Jessica juga menyadari itu. Awalnya Jessica hanya berpikir kelakukan Kris adalah dampak dari hormon Kris. Jessica berpikir dia harus mengalah dan bersikap dewasa karena dia lebih tua setahun dari Kris. Tapi nyatanya semakin lama, Kris malah semakin parah.

Arraseo…”

Hening.

“Oh ya, Minseok…”

“Hm?”

“Aku berpikir untuk pindah tempat. Aku tidak berpikir untuk tetap di apartemen ini. Akses Kris sangatlah bebas. Aku tidak mau—“

Minseok mendesah, “aku tahu. Aku akan membantumu. Pindahlah ke rumahku sampai kau menemukan tempat tinggal baru.”

GomawoI love you so muchBunny!”

Yah!! Stop calling me that!”

***

Sudah beberapa hari Jessica tinggal di rumah Minseok. Jessica meminta cuti beberapa hari ini mencari tempat tinggal yang baru. Dia tidak mau tinggal di tempat yang sepi karena takut akan diganggu oleh Kris. Itu semua karena selama beberapa hari ini juga Kris sering menghubungi Jessica dan memaksa untuk masuk ke rumah Minseok. Terima kasih untuk para satpam rumah Minseok, Kris tidak pernah berhasil menyelusup masuk.

Sebenarnya Jessica ingin tinggal bersama adiknya, Krystal. Toh mereka sama-sama tinggal di kota Seoul. Tapi Jessica takkan mungkin membiarkan Krystal berhadapan dengan Kris. Keduanya mempunyai sifat yang hampir sama. Bisa-bisa sesuatu terjadi kepada Krystal.

Setelah beberapa hari mencari, akhirnya Jessica mendapatkannya. Tepat saat Minseok sampai di rumah, Jessica segera memberitahu Minseok tentang itu.

“Kau yakin ingin tinggal di tempat lain? Bukankah rumahku lebih aman? Bagaimana jika Kris berhasil menemukanmu?” tanya Minseok khawatir saat Jessica menceritakan bahwa dia sudah berhasil menemukan tempat yang cocok untuknya.

Jessica tersenyum tipis. “Aku yakin Kris tidak akan bisa menggangguku. Disana ada seorang ahjussi yang sangat baik dan gentlemen. Aku yakin dia bisa diandalkan untuk mengusir Kris. Badannya lebih besar dari Kris.”

Minseok menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi jika tidak aman, kembali lah ke sini. Aku tidak mau disalahkan oleh ibumu dan Krystal.”

“Tenang saja. Soojung tidak akan memakanmu jika sesuatu terjadi padaku~”

Minseok menggembungkan pipinya. “She will! Dia akan memakan pipiku ini~”

***

Jessica mengeluarkan 2 koper besar dari bagasi taksi. Dia kini berada di depan rumah yang akan ia tempati mulai hari ini. Setelah membayar kepada sang supir taksi, Jessica menarik kedua kopernya ke depan pintu utama rumah itu. Dia menekan bel. Tidak sampai semenit, pintu itu terbuka. Sepasang suami-istri yang menyambutnya dengan senyuman cerah.

“Selamat datang, Jessica~” seru mereka.

Jessica tersenyum tipis lalu membungkukkan badan.

>>>

Kamar Jessica berada di paling atas. Kamarnya sangat luas yang bahkan lebih luas dari apartemen mewah yang sebelumnya ia tempati. Siapa yang sangka jika isi dari rumah yang terlihat tertutup dari depan, sangat indah di dalam? Sebagian dari langit kamar itu berupa kaca tembus pandang sehingga pemandangan malam bisa dinikmati oleh Jessica dari kasurnya. Pemandangan yang disajikan jika Jessica berdiri balkon pun tidak kalah menarik. Tempat yang sangat cocok dikunjungi jika sedang frustasi.

Selain itu, kamar itu mempunyai kamar mandi sendiri. Dan karena kamar itu sangat luas, Jessica membuat dapur kecil di sudut ruangan. Hanya terdiri dari kulkas kecil, mesin pembuat kopi dan lemari piring yang juga kecil. Jessica sengaja membuat itu sehingga jika dia perlu mengerjakan pekerjaannya sampai malam, dia tidak perlu keluar masuk kamar hanya untuk membuat kopi dan makanan instan peneman lembur.

Jessica menghempaskan tubuhnya di sofa sudut kamarnya setelah merapikan barang-barangnya. Kasur itu pun nyaman. Jessica sangat bersyukur bisa mendapatkan tempat yang sangat nyaman dengan harga murah. Ini adalah tempat yang hebat baginya. Cocok untuk dipromosikan kepada teman-teman kerjanya.

Knock.. knock..

Jessica bangkit setelah mendengar pintu kamarnya diketuk. Dia membuka pintu kamarnya perlahan. Dia mengerjap melihat pria tinggi dengan senyuman lebar di depan kamarnya. Senyumannya terlalu ceria, membuat Jessica berpikir mungkin saja pria itu gila.

“A-ada apa, ya?” tanya Jessica takut. Bahkan ia tidak membuka pintu dengan lebar.

Pria itu melambaikan tangan kepada Jessica. “Hai, aku Park Chanyeol. Aku adik dari pemilik rumah ini.”

Jessica menatapnya sebentar. Jessica yakin Chanyeol adalah adiknya Inyoung. Mengingat perilaku antik Park Inyoung, dia tidak kaget jika adiknya juga ‘antik’. Akhirnya Jessica membuka pintu kamarnya lebar-lebar.

“Oh, hai! Aku Jessica Jung,” balas Jessica sambil tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.

Chanyeol menjabat tangan Jessica dengan semangat. “Oh, Jessica! Uhm, dari amerika?”

Yeah…” Jessica tertawa pelan. “Aku lahir dan besar di Amerika. Saat ayahku meninggal, aku pergi ke Korea.”

“Kalau begitu, jangan bicara inggris kepadaku. Aku tidak terlalu mengerti,” katanya lalu menyengir polos.

Jessica hanya tertawa mendengarnya.

“Mau ku ajak keliling rumah ini? Rumah ini lumayan besar loh!” seru Chanyeol.

“Boleh!”

***

Hari minggu. Hari libur. Hari bersih-bersih. Itulah bagi Jessica. Sejak ia tinggal di Korea, dia terbiasa hidup mandiri karena dia tidak mempunyai keluarga di Korea. Semuanya tinggal di luar negeri.

Jessica mengumpulkan segala pakaian kotornya dan membawanya ke ruang mencuci. Terima kasih kepada Chanyeol yang sudah mau mengajaknya ‘tur’ di rumah yang sangat besar untuk ditempati 4 orang saja, sehingga Jessica tidak tersesat di rumah itu dan tahu dimana kalau ingin mencuci baju.

“Hei, Sooyeon-ssi!” sapa Chanyeol saat Jessica mau memasuki ruang memncuci.

Jessica menoleh dan memasang ‘icy-glare’nya ke Chanyeol. Chanyeol memang memanggilnya begitu sejak Jessica memberitahu nama koreanya kepada Chanyeol. Walaupun sudah memprotes berkali-kali, Chanyeol tetap memanggilnya begitu. Jessica kembali melanjutkannya langkahnya tanpa membalas sapaan Chanyeol.

Chanyeol segera mengejar Jessica masuk ke dalam ruang mencuci. Dia bersandar di dinding sembari memperhatikan Jessica yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam mesin cuci. Jessica terlihat tidak nyaman karenanya.

“Oke.. oke.. aku tutup mataku. Aku juga tidak tertarik melihat underwaremu kok, Noona,” celetuk Chanyeol seraya menutup matanya dengan kedua tangannya.

Jessica hanya mendengus dan memutar matanya sambil tetap memasukkan pakaiannya ke dalam mesin cuci. Setelah urusannya selesai, Jessica berbalik badan dan pergi ke dalam ruangan itu tanpa berbicara apapun. Chanyeol kembali mengejarnya.

“Apa maumu, Chanyeol-ssi? Memanggilku Sooyeon sepanjang waktu, eh?” desis Jessica.

Chanyeol tertawa. “AniNoona. Aku hanya becanda. Aku hanya ingin mengajakmu ke studio fotoku kalau kau mempunyai waktu senggang. Kau tahu? Kau itu cantik. Cocok menjadi model. Dan aku ingin aku lah yang menjadi photographer pertamamu.”

“Sayang sekali kau tidak bisa menjadi photographer pertamaku karena aku tidak tertarik menjadi seorang model. Dengar? Jadi sekarang berhenti mengikutiku karena itu hanya membuang waktumu. Aku tidak bisa menemanimu. Aku masih punya banyak hal yang perlu dikerjakan,” sahut Jessica.

“Tapi, Noona—“

Chanyeol terpaksa mengatup bibirnya saat Jessica berbalik badan. Mereka sudah berada di depan pintu kamar Jessica.

“Tidak! Dan jawabanku tidak akan berubah.”

“Baiklah~”

Chanyeol berbalik badan dan pergi dari hadapan Jessica. Jessica kembali mendengus saat handphonenya berdering. Jessica melihat layarnya. Dari Minseok. Jessica menepuk keningnya. Dia baru ingat kalau dia belum menelepon Minseok dari sejak ia pindah. Minseok pasti marah.

Yoboseyo, Minseok-ah~” sapa Jessica semanis mungkin sambil memasuk ke kamarnya.

“Aha, kau sedang berusaha manis, nona? Kau tahu kesalahanmu, kan?” balas Minseok tajam.

Jessica menghempaskan tubuhnya di kasur. “Aigo~ jangan marah, Bos. Aku lupa meneleponmu karena banyak sekali yang perlu aku urus disini. Aku mengurus kepindahanku sendiri, Minseok. Tidak seorang pun membantuku selain tukang jasa kepindahan. Kau tahu kan itu menyusahkan sekali?”

“Itu salahmu karena pindah secara mendadak sehingga aku tidak bisa membantumu!”

“Tidak perlu membantu. Cukup mengerti posisiku sekarang, teman~”

“Tapi—“

Knock.. knock..

“Aku kedatangan tamu. Ku telepon kau nanti,” potong Jessica cepat lalu menutup telepon.

Itu pasti Chanyeol lagi. Kali ini, aku perlu berterima kasih kepadanya karena sudah menyelamatkanku dari Minseok, batin Jessica.

Jessica bangkit dan berlari kecil ke pintu kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya perlahan.

“Chanyeol, kau datang di—Kris?”

Rahang Jessica mengeras saat melihat sosok Kris di depan pintu kamarnya. Kris tersenyum penuh kemenangan. Jessica tahu ini pasti terjadi. Berkali-kali mereka putus, pada akhirnya mereka akan kembali lagi karena Kris memaksanya. Jessica kembali menutup pintunya saat sadar. Di saat yang sama, Kris berusaha untuk masuk ke kamar Jessica. Karena kekuatan Kris lebih besar dari Jessica, Kris lah yang menang.

Kris kembali melempar senyum kemenangannya lalu melirik ke sekitarnya. Perlahan tapi pasti, pandangannya mulai memancarkan rasa jijik.

“Ewww, Jess? Kau yakin tinggal di tempat yang seperti ini? Bahkan gudangku lebih baik dari tempat barumu ini. Lihat saja lantai kayu reot ini. Suatu hari nanti, kau bisa terjeblos jatuh ke lantai bawah saat menginjakkan kakimu di lantai kayu reot ini,” komentar Kris.

Jessica memutar matanya jengah. “Berhenti berkomentar layaknya ibu-ibu arisan, Kris.”

Kris menoleh dan menatap tajam Jessica. Jessica baru saja mencemoohnya? Benarkah? Sejak kapan Jessica berani?

Jessica menggeleng pelan. “Aku tidak takut lagi padamu. Berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu. Itu menjijikan.”

Kris berdecak. “Are you really Jessica?”

I really am!”

Kris hendak membalas sesuatu, tapi dia tahan saat melihat 2 koper Jessica yang masih berada di samping kasur Jessica. Kris mengangkat salah satu koper itu dan menghempaskannya di atas kasur Jessica. Kris membuka koper itu.

“Kris! What are you doing?!” panik Jessica.

Jessica segera menahan tangan Kris saat Kris hendak membuka pintu lemari pakaian Jessica lalu menghempaskannya kasar.

You gotta be kidding meright?! WhatAreYouDoing. Kris!” geram Jessica.

“Tentu saja membawamu pergi dari tempat ini!” jawab Kris.

“Aku tidak mau! Lagipula, siapa kau, Kris? Beraninya menentukan dimana aku tinggal! Who are youMy mother?!”

YesI amHell, Jess! Aku hanya ingin yang terbaik untukmu!”

“Dengan mengatur hidupku? Wake up, Kris! You are nothing but my past!”

Plak!

Kris menampar Jessica lumayan keras. Kris menarik rahang Jessica kasar agar Jessica menatapku. Tiba-tiba seseorang datang dan memisahkan mereka dengan paksa.

“Ho-oh~ ada apa ini? Kenapa sepertinya panas sekali?” seru Chanyeol.

Jessica melangkah mundur sambil mengatur napasnya. Rasanya Jessica ingin memeluk Chanyeol sudah menjadi pahlawannya. Sedangkan Kris menggeram kesal.

“Siapa dia, Jess?” tanya Kris.

Jessica melirik Chanyeol dan Kris bergantian. Dia bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengikutsertakan Chanyeol dalam masalahnya. Chanyeol tidak ada urusan dengan masalahnya dan Kris. Sedangkan Chanyeol tersenyum lebar. Dia mengulurkan tangannya.

“Kenalkan, namaku Chanyeol. Park Chanyeol. Adik pemilik rumah ini,” kata Chanyeol ramah.

Kris menatap Chanyeol tajam lalu kembali menatap Jessica. “Who is he, Jess?”

Well, kau dengarkan katanya tadi? Dia adalah Park Chanyeol. Kau tidak tuli, kan?” tanggap Jessica santai.

Bugh!

Kris mengarahkan tinjunya ke perut Chanyeol hingga Jessica mengeluarkan teriakan lumba-lumbanya. Jessica segera menarik Chanyeol menjauh dari Kris.

“Pergi, Kris! Pergi!” teriak Jessica. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya menandakan emosinya sudah berada di puncak.

Kris masih diam. Tatapan tajamnya masih tertuju kepada 2 orang itu.

“Kris!” pekik Jessica gemas.

Chanyeol ikut membuka mulut, “kau mendengarnya, kan? Lebih baik kau pergi sebelum aku menelepon polisi.”

Kris menyeringai tipis sambil merogoh kantong celana jeansnya. Dia mengeluarkan plakat polisi yang entah milik siapa. Jessica mengernyitkan keningnya. Darimana Kris mendapatkan itu?

“Aku polisi. Kalau kau mau polisi, aku ada disini untukmu,” balas Kris angkuh.

“1320..” gumam Chanyeol.

Kris tercengang mendengarnya. “Apa?”

“Nomormu adalah 1320. Aku bisa mengatakannya kepada atasanmu tentang kejadian hari ini,” jelas Chanyeol sambil tersenyum ramah.

Jessica tertawa dalam hati. Ekspresi Kris kini sangat priceless. Rasanya Jessica ingin mengeluarkan handphonenya dan memotret ekspresi Kris saat itu. Tapi dengan suasana yang mencekam saat itu, Jessica terpaksa memendam keinginannya.

Sedangkan Kris sibuk berperang dalam hati. Plakat itu adalah milik temannya. Jika Chanyeol bersungguh-sungguh dengan kata-katanya, maka posisi temannya sedang terancam. Dan jika temannya dipecat hanya karena kejadian ini, Kris yakin dia tidak akan selamat. Dia menelan air liurnya sambil menatap Chanyeol dan Jessica gugup. Tanpa mengucapkan apapun, Kris keluar dari kamar Jessica.

Melihat kepergian Kris, Chanyeol melepaskan genggaman tangan Jessica dan berlari mengejar Kris. “Kris-ssi! Jangan pernah datang lagi atau aku akan melaporkan hal ini kepada atasanmu! Mengerti?” teriak Chanyeol.

“Babo Chanyeol~” celetuk Jessica yang kini sudah berada di belakang Chanyeol sambil tertawa. “Dia bukan polisi. Dia itu model dari Cina. Mana mungkin Korea mempekerjakan warga asing sebagai polisi Korea?”

Chanyeol memutar kepalanya dan mengerjap matanya. “Astaga aku salah! Tapi yang penting dia pergi~”

>>>

Jessica merenggangkan tubuhnya. Semua pekerjaannya hampir selesai. Hampir. Tinggal merapikan barang-barang yang berserakan dan membuang barang yang tidak diperlukan. Setelah itu, selesai lah semuanya.

Jessica menyambungkan handphonenya dengan earphone lalu menelepon Minseok. Ia perlu menceritakan kejadian tadi siang kepada Minseok. Minseok pasti kaget mendengar kedatangan Kris.

Yoboseyo, nona~” sapa Minseok datar. Pasti dia masih kesal karena Jessica seenaknya menutup telepon tadi.

Jessica terkikik pelan sambil bangkit dari kasur. Dia berteleponan dengan Minseok sambil melakukan kerjaannya. Jessica bercerita tentang semua orang yang ada di rumah itu dan barulah cerita tentang kedatangan Kris.

“HUO! Bagaimana Kris bisa tahu tempat tinggalmu sekarang?” seru Minseok tak percaya.

Jessica mengangkat bahunya. “Molla. Untung ada Chanyeol.”

“Sepertinya Chanyeol cukup cerdik. Mungkin dia bisa ku pekerjakan di bank ini,” tanggap Minseok, becanda.

“Oh no! Jangan, ku tekan.. jangan!” Jessica memutar matanya.

“Oke.. aku hanya becanda. Tapi seperti Kris tidak akan berani datang lagi. Kau tahu kan seberapa kerasnya Kris membangun imagenya? Dia pasti tidak akan membiarkan apapun menghancurkan imagenya.”

“Hm. Setuju.”

Jessica meraih tumpukan majalah dan koran, lalu membuangkan di tempat sampah sambil mendengarkan sahabatnya mengoceh tentang apa yang terjadi di kantor hari itu. Dia menggertakkan giginya saat mendengar lagi-lagi Minseok memuji hasil pekerjaan Sooyoung. Jika bukan karena masalahnya dengan Kris, Jessica juga tidak akan mengambil cutinya sekarang.

“Iya, aku mengerti,” balas Jessica malas.

Jessica sudah tidak menaruh perhatian sejak topik pembicaraan mereka adalah hasil pekerjaan Sooyoung yang cemerlang. Dia memfokuskan dirinya kepada kerjaan yang dia lakukan. Matanya membulat saat menemukan sebuah kotak yang terkunci di sudut kamar. Ia berani bersumpah itu bukan punyanya.

“Mau tahu hal yang lebih menarik daripada Sooyoung?” desis Jessica.

“Oh, boleh,” tanggap Minseok singkat.

“Aku menemukan kotak misterius di kamar ini,” kata Jessica.

“Kotak harta karun!”

“Oh, ayolah~ aku serius!”

Minseok terkikik pelan. “Oke aku becanda.”

“Kotak ini terkunci..”

“Itu kotak harta karun! Told ya!” yakin Minseok.

Jessica kembali memutar matanya seraya melepaskan aerphone dari telinganya dan memutuskan hubungan telepon seenaknya. Mungkin Minseok akan mengomel karena Jessica sudah melakukan itu 2 kali hari ini. Tapi Jessica lebih kesal. Jessica menatap kotak itu.

“Bagaimana jika Minseok benar?” gumam Jessica. “Ah masa bodo! Bukan punyaku ini. Lebih baik aku buang.”

Jessica pun berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.

>>>

Jessica memutar tubuhnya ke sisi kanan kasurnya. Dia tidak bisa tidur. Dia penasaran dengan isi kotak tersebut. Dia menyerah. Akhirnya dia mengambil kotak itu dan mencoba membuka gembok kecil yang mengunci kotak itu. Mungkin karena gembok itu adalah gembok tua yang karatan, Jessica bisa membukanya tanpa bantuan apapun. Jessica membukanya perlahan. Dia mengerjap pelan saat melihat isi kotak itu.

“Papan ouija?” gumam Jessica bingung.

Jessica sering mendengar cerita tentang benda itu saat di Amerika. Papan itu lumayan terkenal. Tapi dia dilarang oleh ayahnya untuk bermain papan itu. Jadi dia tidak tahu cara memainkan papan itu. Dia segera meraih handphonenya dan mencari cara memainkan papan itu di google.

“Minimal 2 orang? Tapi aku hanya sendiri,” gerutu Jessica. “Apa harus aku mengajak Chanyeol? Tapi sekarang sudah hampir tengah malam. Dia pasti sudah tidur. Sendiri tidak apa, kan? Hm, aku tidak akan tahu jika aku belum mencoba.”

Jessica membawa papan itu dan meletakkannya di atas meja lipatnya. Tidak lupa, dia mengeluarkan lilin dan menyalakannya di samping meja. Dia meletakkan kayu penunjuk di permukaan papan ouija. Dalam hati, dia berusaha menenangkan diri.

“Apakah ada roh-roh baik di sekitarku yang dapat ku ajak berbicara? Aku hanya ingin berkomunikasi lewat papan ini,” kata Jessica agak berteriak sambil memutar kayu penunjuk di sekitar permukaan papan ouija.

“Adakah?” teriak Jessica lagi.

Jessica sibuk berdoa dalam hati. Di artikel yang dibaca tadi, dia tidak boleh memaksakan kehendak dan harus tetap tenang. Dia tinggal menunggu sebuah roh yang menggerakkan kayu penunjuknya. Jika selama 30 menit, tidak ada roh yang berniat berbicara dengannya. Dia harus tutup papan itu dan menyimpannya dengan baik agar tidak ‘dimainkan’ oleh sebuah roh tak diundang.

Jessica hampir berteriak saat kayu penunjuk yang ia pegang, bergerak sendiri. Dia sudah tidak bisa mundur.

“Aku hanya ingin berkomunikasi dengan papan ini. Tidak lebih!” tegas Jessica.

Kayu penunjuk itu mengarah ke kata ‘yes’ selama beberapa detik lalu kembali berputar-putar sendiri.

“Kau roh yang baik, kan? Maaf, tapi aku tidak mau berbicara dengan roh yang membawa dampak negatif,” tanya Jessica sungkan.

Kayu penunjuk itu kembali mengarah ke tulisan ‘ya’.

“Kau tidak akan melakukan hal lain selain menjawab pertanyaanku, kan?” tanya Jessica lagi.

Kayu penunjuk itu kembali ke tulisan ‘yes’.

Jessica menelan air liurnya. “Siapa namamu?”

Kayu penunjuk itu bergerak ke huruf T, lalu I, F, berputar-putar sejenak dan kembali ke huruf F, A, N.

“Tiffan?” bingung Jessica.

Kayu penunjuk itu malah mengarah ke huruf Y.

“Oh! Tiffany?”

Kayu penunjuk mengarah ke tulisan ‘yes’.

“Nama yang cantik. Namaku Jessica. Kau dari Amerika? Soalnya nama Tiff—“

Kayu penunjuk kembali ke tulisan ‘yes’ sebelum Jessica menyelesaikan kata-katanya.

“Aku juga! Wah, kita sama! Hm, ku yakin kau roh yang baik. Mau berteman denganku?”

Kayu penunjuk itu diam. Tidak ada reaksi dari roh itu. Jessica menggigit bibirnya. Dia takut jika dia sudah mengatakan sesuatu yang sensitif. Dirinya juga mulai lelah. Demi apapun, bermain papan ini lebih melelahkan daripada bertengkar dengan Sooyoung. Jessica hendak membuka mulutnya, tapi ia memutuskan untuk membungkam bibirnya saat kayu penunjuk kembali bergerak ke tulisan ‘yes’.

“Terima kasih, Tiffany-ah~ ku rasa perbincangan kita cukup. Aku harus kerja besok. Jadi kau boleh pergi sekarang,” kata Jessica.

Kayu penunjuk itu pun mengarah ke tulisan ‘bye’.

=== The Doorway ===

Chapter 1 emang maksa banget -_- maaf banget ya. Soalnya aku harus cepet-cepet ke inti cerita supaya ga buang-buang waktu. Hehe~

Ga usah berpikiran buruk pas tau nama hantunya itu Tiffany, ya? Jangan bashing. Kalian ga tau isi pikiranku. Fufufu *sok oke* /dibakar/

Sekali lagi aku tekankan. Semua ffku akan aku lanjut di bulan Februari. Tepatnya saat ff The Doorway selesai. Januari itu khusus ff The Doorway. Tapi karena banyak reader yg udah mendesak ff yg lain, terpaksa the doorway aku keluarin sebelum waktunya supaya the doorway cepet selesai dan langsung dilanjut dengan ff lain :3

Ayo komen. Kalo komennya dikit, aku ngambek nih 😐 wkwkwk

Oh ya, jangan lupa baca kumpulan drabbleku ya ^^

Advertisements

6 responses to “The Doorway — Chapter 1

  1. waa,kris pemaksa,keras kepala image nya disini jadi pegel nih ama kris -_-v *peace*
    haha ngakak waktu ‘Senyumannya terlalu ceria, membuat Jessica berpikir mungkin saja pria itu gila.’,bener juga sih,abis senyumnya chanyeol lebaaar banget.
    hantunya tiffany? wa keren dong! /dihantam/
    di ff ini ada pairingnya minsica ya? apa ga ada pairing?

    oke,saya setia menunggu FF author..tapi untuk FF di publish february aku ga yakin T.T
    habis aku suka banget FF yang lainnya,terutama thorn love kangen ama image nya kai sama jessica ,mage psikopat..haha /dibakargorjess/

    • wkwk jangan begitulah. Nanti aku kena rajam kris karna udah buat imagenya jelek ㅠㅠ
      Semacam senyuman chanyeol emang menakutkan. Aku aja takut. Lol
      walah maaf ya. Kamu harus nunggu buat liat kisah selanjutnya si pasangan psikopat. Haha

  2. Mian banget saya baru bisa baca sekarang…. seperti komen saya di ‘gorjess drabble collection‘͵ saya memang baru sempet internet-an….
    Kya!!!!! Awalnya pas baca treasernya FF ini bikin saya penasaran banget banget banget!!! Dan ternyata emang ff ini DAEBAK! Dan saya g sabar ingin cepet2 bulan januari! Ingin baca kelanjutannua nih… heheh 🙂
    Saya tunggu chap 2 nya ya….^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s