[Series] Calling Out (Chapter 6)

calling out 4

Author : Lee Hyura

Title : Calling Out

Genre: Angst, Family, Friendship, Romance

Rating : PG 15

Length : Series

Cast :

–          EXO Kris

–          EXO Luhan

–          EXO Xiumin

–          EXO Sehun

–          SNSD Jessica

–          SNSD Seohyun

–          SNSD Tiffany

–          Daniel Hyunoo

Note : sebenernya mau dipost pas bulan februari. Berhubung banyak yg minta untuk dipercepat, ya udah aku percepat. Sekali ini jadi hadiah perpisahanku dengan tahun 2012 ‘-‘)/
Ini ff terakhir yang dibuat di tahun 2012 dan ff pertama yang dipublish di tahun 2013. Lol~

=== Calling Out ===

Seohyun meniup cokelat panasnya sambil menatap keluar jendela. Pohon-pohon tak berdaun lah yang ia lihat. Sekarang sudah masuk musim dingin. 5 bulan lagi, Sehun akan mendapatkan gelar sarjananya. Itu lah yang diimpikan oleh Seohyun. Pria itu lulus lalu mendapatkan pekerjaan. Memikirkan itu, Seohyun menjadi sedikit takut. Bagaimana jika saat Sehun sudah bekerja nanti, Sehun akan melamarnya? Seohyun tidak yakin dia akan menerimanya saat hatinya masih takut dengan nama ‘pernikahan’. Dia takut hidupnya akan secomplicated hidupnya Jessica.

“Bukankah itu tujuan hidup? Menikah dan berkembang biak. Itu kan yang ada di buku biologi saat aku sekolah? Kenapa aku takut? Itu adalah takdir semua orang…” gumamnya pelan.

Seohyun tersentak pelan saat mendengar pintunya diketuk. Diletakkannya cangkir berisi cokelat panas di atas meja terdekat lalu pergi ke pintu depan. Dia membuka pintunya perlahan.

“Sehun-ah,” gumam Seohyun pelan.

Pria tinggi berjaket hitam itu tersenyum, membuat wajahnya semakin manis. Dia memberikan kecupan singkat di kening Seohyun lalu melewati Seohyun untuk masuk ke dalam rumah Seohyun.

“Aku tidak mengganggumu, kan?” tanya Sehun.

Seohyun menutup pintu, berbalik badan dan menggelengkan kepala. “Tidak.”

“Novelmu?”

“Sudah berada di klimaks. Tapi karena aku kehabisan ide, aku meminta perpanjangan waktu kepada Miyoung eonni. Dan sekarang aku sedang beristirahat sambil mencari ide,” jawab Seohyun. Seohyun tersenyum tipis dan menambahkannya dengan sangat pelan, “juga sedang mengobservasi.”

Sehun mengangguk puas. “Baiklah. Berarti kau punya waktu lebih untukku. Kau tahu, Noona? Kau itu hanya seorang novelis tapi kesibukanmu melebihi karyawan kantoran.”

Seohyun mengerjap. “Eh? Untukmu? Maksudnya?”

“Bermain di luar. Kebetulan aku juga sedang liburan. Ayo cepat bersiap!”

“Tunggu! Kau mengajakku keluar di sore hari yang dingin ini? Ini sudah jam setengah 5, Sehun!” protes Seohyun.

Sehun tertawa sambil menarik Seohyun ke depan kamar Seohyun lalu mendorong kekasihnya itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar.

“Aku tunggu 5 menit! Kalau kau belum siap dalam 5 menit, aku akan masuk ke dalam kamar!” ancam Sehun.

Yah!!”

>>>

Jessica menyisir rambut Daniel sambil menyanyi bersama anak satu-satunya itu. Setelah selesai menyisir rambut Daniel, Jessica menatap pantulan dirinya dan Daniel di cermin sejenak. Semakin lama, wajah Daniel semakin mirip dengan Luhan. Jessica menggigit bibirnya karena kembali teringat tentang pria itu.

Sudah beberapa hari ini, Jessica dan Luhan tidak saling berkomunikasi. Hari dimana Jessica meminta Luhan menjaga jarak dengannya adalah hari terakhir Jessica mendengar suaranya. Jessica merasa bersalah saat mendengar keadaan Luhan di kantor dari Kris. Suaminya mengutarakan kebingungannya tentang Luhan tanpa tahu bahwa itu semakin membuat Jessica merasa bersalah.

“Aku tampan, ya?” seru Daniel.

Jessica tertawa seraya mencium pipi Daniel. “Ne, anak mommy tampan sekali~”

Daniel terkikik pelan. Dia turun dari pangkuan Jessica dan berlari ke box besar berisi mainannya. Dia mengeluarkan beberapa robot dan mulai memainkannya. Suara-suara buatan Daniel pun terdengar. Sedangkan Jessica masih asik denganpikirannya. Saat sadar, dia melirik jam dinding. Sudah jam 04.30 sore. Tinggal 1 jam sebelum Kris pulang. Dia terlalu malas untuk masak makan malam.

“Daniel-ah, kau ingin makan di luar?” tanya Jessica.

“Breum~ breum~” Daniel tidak mendengarnya. Dia malah sibuk membuat suara mobil.

“Danny!”

Daniel menoleh. “Ne, Mum?”

“Mau makan diluar?”

“Burger?”

Yah! Tunggu sampai Seohyun ahjumma mendoakanmu mati muda!”

>>>

Bel bertanda jam kerja sudah selesai terdengar di ruangan itu. Sang operator mulai bercuap-cuap, menyuruh para pegawai untuk me-nonaktif-kan barang-barang di ruangan masing-masing sebelum meninggalkan ruang kerjanya.

Berbeda dengan ruangan lain yang mulai sepi karena ditinggal oleh penghuni ruangan, ruangan Kris masih berisik. Ketiga pekerja itu sibuk berdebat. Kertas-kertas yang berisi gambar itu memenuhi permukaan meja Minseok yang kali ini dijadikan meja rapat dadakan.

“Menurutku, jika bangunannya seperti ini, bangunan ini tidak akan kuat. Tumpuannya kurang baik. Bagaimana jika terjadi gempa bumi? Pasti bangunan ini akan runtuh!” komentar Kris.

Itu lah yang mereka debatkan sejak tadi. Desain bangunan apartemen yang akan dibangun, kebetulan mereka lah yang menanganinya. Minseok mendengus, sakit hati karena desainnya ditolak oleh Kris. Sedangkan Luhan mendesah kasar. Dia meraih kertas desain Minseok dan Kris lalu membandingkannya.

“Menurutku, desain milik Kris terlihat terlalu kaku dan ketinggalan jaman. Sedangkan milik Minseok memang diragukan keselamatannya, mengingat Korea lumayan sering terjadi gempa bumi dan badai walaupun tidak separah Jepang,” ujar Luhan sambil menatap kedua rekannya.

Minseok meraih kedua kertas yang dipegang oleh Luhan, menganalisisnya sebentar kemudian mengangguk setuju. “Kau memang benar. Oh ya, Luhan, bagaimana dengan punyamu? Ku lihat kau yang paling rajin menyelesaikan semuanya.”

“Oh itu..” Luhan tersenyum kecil sembari menyandarkan punggung. “Maaf, aku akan memperlihatkannya setelah aku selesai mendesain semuanya. Aku lebih suka seperti itu. Tenang saja, kalian pasti suka.”

“Tapi—“

Kris segera memotong kalimat Minseok, “sudahlah, Minseok-ah! Semua orang mempunyai cara bekerja yang berbeda. Intinya kita mengerjakan bagian kita masing-masing dengan benar, kan?”

Minseok mengangkat tangannya seakan menyerah. Mereka memutuskan untuk mengakhiri rapat itu. Kris menarik kursinya kembali ke mejanya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat layar handphonenya menyala karena sebuah pesan masuk. Dia mengetuk layar benda itu agar pesan itu terbuka.

From : Jessica

Kris, mau makan diluar? Aku malas masak. Hehe

Kris tersenyum lebar. Dia meraih handphonenya dan segera mengetik balasannya dengan cepat. Setelah selesai, dia tidak langsung mengirimnya. Dia memerhatikan kedua rekannya itu.

“Hei, bagaimana kalau kita makan malam bersama? Ajak istrimu juga, Minseok-ah. Aku yang traktir,” ajak Kris.

Luhan mendesah pelan. Dia malas ikut makan malam dengan mereka. Pasti ia akan bertemu dengan Jessica. Tapi dia terlambat untuk menolaknya karena Minseok segera menyetujuinya lalu memaksa Luhan untuk ikut juga. Luhan hanya membalasnya dengan senyum walaupun dalam hati, dia meruntuk.

Kris tersenyum senang. Dia mengetuk layar handphonenya untuk mengirim pesan itu.

To:  Jessica

Baiklah. Aku mengajak Minseok dan Luhan juga. Tidak apa, kan?

>>>

Seohyun menatap Sehun penasaran. Pemuda itu membawa Seohyun mengelilingi taman kota seakan dia tidak tahu akan membawa Seohyun kemana. Tapi senyuman percaya diri di wajahnya membuat Seohyun yakin bahwa Sehun dengan menyusun rencana di otaknya.

“Sehun-ah, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?” tanya Seohyun bingung.

“Rahasia.”

Seohyun merengut mendengar jawaban Sehun. Pria itu memang paling ahli membuatnya kesal. Jadi Seohyun menyerah untuk bertanya lebih lanjut daripada nanti moodnya hancur karena jawaban Sehun yang lain.

Sehun berhenti tiba-tiba sehingga Seohyun menabrak Sehun. Seohyun meringis pelan sambil mengelus kepalanya. Berbeda dengan Sehun yang terlihat tidak peduli. Sebuah senyuman lebar tertempel di wajahnya. Sehun kembali menarik Seohyun menuju kerumunan orang. Seohyun hanya mengangkat alisnya bingung.

Sehun melepaskan tangan Seohyun saat mereka sudah berhasil menyusup di antara kerumunan itu hingga mereka berada di barisan paling depan. Ternyata kerumunan orang itu sedang menikmati penampilan band jalanan. Sehun menghampiri salah seorang dari kelompok itu lalu membisiki sesuatu. Orang yang dibisiki oleh Sehun itu memberitahu teman-teman sekelompoknya tentang apa yang dibisiki oleh Sehun tadi. Mereka mengangguk setuju. Sehun tersenyum senang melihatnya. Dia kembali ke depan Seohyun dan menarik gadis itu untuk bergabung dengan band itu. Kelompok band itu menyingkir, membiarkan hanya Sehun dan Seohyun yang menjadi pusat perhatian para kerumunan orang itu.

“Apa-apaan ini?” tanya Seohyun.

“Kita akan berduet!” jawab Sehun sambil tersenyum polos. “Seru, kan?”

“Seru? Ini sama sekali tidak seru, Sehun-ah! Kau tahu aku pemalu di depan orang-orang, kan?” protes Seohyun.

Sehun menepuk kepala Seohyun sambil tertawa. Dia memberikan Seohyun microphone. Seohyun menerimanya bingung. Tapi Sehun terlihat tidak mau peduli dengan kebingungan Seohyun. Sehun mengambil sebuah gitar dan duduk di salah satu kursi yang tersedia. Tidak lupa, dia menarik kursi lain agar Seohyun duduk di sampingnya.

“Apa yang harus ku lakukan?” tanya Seohyun memelas.

“Nyanyikan saja lagu yang ingin kau nyanyikan,” jawab Sehun sambil mencoba gitarnya.

“Tapi—“

Sehun menoleh kesal. “Cepatlah~ atau kau akan disoraki oleh orang-orang. Kau mau itu, Noona?”

Seohyun merengut. Ini memang memalukan. Tapi kalau sampai disoraki, itu lebih memalukan lagi! Mau tidak mau, Seohyun mengikuti permainan Sehun.

“Jadi kau mau bernyanyi apa, Noona?” tanya Sehun.

“Hm, Pixie Lott – Jack. Kau bisa?”

Sehun membalasnya dengan senyum sombong.

>>>

Jessica dan Daniel turun dari taksi. Jessica menarik tangan anaknya memasuki restoran. Dalam hati, dia sibuk berdoa. Ini bukan pertama kalinya dia merasa gugup untuk bertemu dengan Luhan. Tapi rasa gugupnya kali ini terasa beda. Seakan membuat Jessica ingin memuntahkan isi perutnya agar rasa gugup yang menggelitik itu hilang. Tapi tentu saja Jessica tidak bisa.

Kris, kenapa kau harus mengajak Luhan juga sih? Harusnya aku memberitahumu soal hubunganku dan Luhan agar kau tidak akan mempertemukanku dengan Luhan!, gerutu Jessica dalam hati. Aish, jangan deh. Kalau hubungan mereka jadi canggung, juga tidak baik. Mereka kan rekan kerja. Tsk!

Mommy~” panggil Daniel sambil mengayunkan tangan Jessica agar perhatian Jessica kembali ke Daniel.

Jessica menggelengkan kepala lalu menoleh. “Yeah, Dan?”

Daddy dimana?” tanya Daniel.

“Harusnya sudah ada disini. Coba Mommy lihat,” jawab Jessica, menggumam.

Jessica melirik jam tangannya lalu mencoba melihat meja-meja di dalam restoran itu. Dia mencoba berjinjit saat tidak berhasil melihat meja yang jauh dari jangkauan pandangannya karena tertutup pengunjung lainnya. Tidak berhasil, dia mencoba melompat kecil. Salah mendarat, dia terselengkat karena dia memang sedang memakai sepatu heels. Jessica berteriak kaget. Beruntung seseorang menahan tubuhnya.

“Hump,” seru seseorang yang menolongnya. Hm, terdengar familiar. “Jessica-ya, kau itu selalu saja ceroboh,” komentar orang itu.

Jessica membulatkan matanya saat sadar siapa itu. Itu suara Kris, suaminya sendiri. Dia semakin yakin saat Daniel berteriak girang sambil memanggil nama ayahnya itu. Kris terkekeh, tangannya memegang pinggang Jessica untuk membantu Jessica berdiri dengan benar. Setelah berhasil, Jessica memukul kedua tangan Kris kemudian mutar tubuhnya.

“Kau kemana saja?” tanya Jessica kesal. “Ku kira kamu sudah sampai dari tadi.”

Kris menyengir lebar. “Maaf, tadi kami menjemput Miyoung di kantornya dulu. Kan searah.”

Jessica menilik ketiga orang yang berdiri di belakang Kris. Ada Minseok dan Miyoung yang terlihat sangat bahagia, bahkan Miyoung melambaikan tangannya dengan semangat kepada Jessica. Sedangkan Luhan sedang melihat ke arah lain agar Luhan tidak melihat Jessica. Jessica melemas melihatnya.

“Luhan ahjussi!” seru Daniel girang.

Anak kecil itu berlari menghampiri Luhan dan disambut Luhan dengan senang hati. Luhan menggendong Daniel lalu mencium pipi Daniel. Tangan Daniel melingkar di leher Luhan, memeluk Luhan erat. Hati Jessica terasa semakin berat. Kalau tidak ada Kris, mungkin Jessica sudah meninggalkan tempat itu sekarang.

“Ayo masuk. Aku sudah memesan meja untuk kita,” seru Kris sembari menghampiri Luhan untuk mengambil Daniel.

Daniel awalnya protes. Tapi akhirnya dia mau berpindah tangan ke Kris. Luhan mengacak rambut Daniel sambil terkekeh. Saat Kris berjalan melewatinya, Jessica meraih tangan Kris dan memeluknya. Kris menoleh dan tersenyum pada Jessica. Luhan menghela napas kasar sambil membuang muka. Dia sibuk mengumpat dalam hati.

“Luhan ahjussi bisa bermain sepak bola?” tanya Daniel sambil menatap Luhan excited saat mereka sudah di meja yang dipesan oleh Kris.

Mereka duduk di meja bundar. Daniel duduk diantara Kris dan Luhan. Sedangkan Jessica duduk di antara Kris dan Miyoung. Minseok duduk di antara Miyoung dan Luhan. Sehingga Jessica duduk berhadapan dengan Luhan. Keduanya menghela napas sambil meruntuki posisi duduk mereka.

Seorang pelayan memberikan 4 menu dan menu-menu itu di ambil oleh Luhan, Minseok, Kris dan Tiffany. Jessica tidak perlu melihat isi menu karena Kris sudah hapal kesukaannya dan Daniel. Setelah mereka sudah menentukan pilihan dan pelayan pergi dengan pesanan mereka, Daniel menarik lengan kemeja Luhan.

Ahjussi~”

“Oh ya, lupa!” Luhan tersenyum lebar. “Tentu saja ahjussi bisa!”

Daniel mengerjapkan matanya. “Jeongmalyo?”

Ne! Ahjussi ahli soal sepak bola. Saat sekolah dan kuliah, ahjussi selalu mengikuti klub sepak bola. Ahjussi termasuk pemain terbaik!” jelas Luhan bangga.

Kini Daniel dan Luhan seperti sepasang anak kecil yang sedang membicarakan hal kesukaan mereka. Luhan memang selalu terlihat seperti anak kecil jika sudah membicarakan hal kesukaannya. Kris dan Minseok menggeleng pelan. Miyoung tersenyum gemas melihatnya. Sedangkan Jessica menundukkan kepala dan menyandarkan kepalanya ke bahu Kris.

“Hebat! Andaikan daddy seperti Luhan ahjussi!” sahut Daniel girang. “Daddy cuma bisa basket. Membosankan!”

“Daniel~” protes Kris.

Luhan dan Daniel tertawa karenanya. Kris dan yang lainnya ikut tertawa. Yang tentu saja selain Jessica. Jessica memejamkan matanya sambil berusaha menenangkan hatinya. Malam ini adalah malam terberat baginya.

“Danny-ah, Minseok ahjussi juga suka! Besok minggu, kita bermain bola bersama. Bagaimana?” seru Minseok.

Daniel dan Luhan saling berpandangan lalu mengangguk semangat. Kris tertawa sejenak lalu menghela napas berat.

“Kenapa aku malah merasa Luhan lah ayah Daniel, bukan aku? Dia lebih mirip denganmu daripada denganku,” desah Kris.

Deg!

Jessica reflek melirik Luhan bersamaan dengan Luhan yang kini menatapnya. Mereka langsung saling membuang muka.

>>>

Tengah acara makan malam mereka, Jessica memohon diri untuk ke toilet. Kris hanya mengangguk. Luhan menatap kepergian Jessica. Sesuatu melintas di pikirannya. Akhirnya Luhan juga meminta izin ke toilet.

Luhan sebenarnya tidak ke toilet. Dia berdiri di dekat pintu kamar mandi pria dan wanita sambil menghentak-hentakkan kakinya. Dia sibuk mengolah kata di otaknya. Beberapa kali dia menjilat bibirnya saat dia memilih kalimat yang salah.

“Luhan?”

Luhan tersadar dari pikirannya saat Jessica sudah berada di hadapannya. Luhan segera menegakkan tubuhnya. Dia menekan kedua bibirnya erat lalu menjilat bibirnya. Jantungnya berdetak cepat. Begitu juga Jessica.

Ada sesuatu yang ia ingin bicarakan sepertinya… pikir Jessica.

“A-aku…”

Luhan berhenti lalu menggigit bibirnya. Dia merasa belum siap untuk mengatakannya. Dia mengibaskan tangannya frustasi kemudian pergi meninggalkan Jessica. Tapi Jessica segera menarik tangannya sehingga Luhan berhenti dan memutar kepalanya.

“Ada apa?” tanya Jessica.

Luhan melepaskan tangannya sambil berbalik badan. Dia menarik napas dalam. Ia beranikan diri untuk menatap kedua mata Jessica.

“Aku akan kembali ke Cina,” ujar Luhan.

“Hah?”

“Aku akan kembali ke Cina secepatnya. Aku akan menyelesaikan beberapa hal yang perlu aku selesaikan sekarang lalu aku akan mengirim orang untuk menggantikanku,” jelas Luhan.

Jessica menundukkan kepalanya selama berusaha mencerna kata-kata Luhan. Saat dia sudah mengerti sepenuhnya, dia mendongak. “Tapi kenapa? Karena aku?” tanya Jessica. Dalam hati, dia ketakutan. Dia takut akan berpisah dari Luhan lagi.

Luhan kembali menarik napas dalam sebelum menjawabnya, “karena ini yang terbaik untuk kita.”

“Bodoh! Apa kau pikir proyek yang sedang kalian tangani adalah proyek kecil?! Kau—“

“Jessica! Dengarkan aku!” bentak Luhan. “Proyek itu adalah proyek besar! Itu adalah proyek 5 tahun! Tapi kau ingin Kris tidak mengetahui rahasia kita, kan? Kau ingin pernikahanmu baik-baik saja, kan? Cara terbaik adalah dengan aku melepas proyek ini! Cepat atau lambat, Kris akan tahu semua ini! Dan jika aku tetap disini saat dia sudah tahu akan semuanya, kemungkinan terburuknya adalah proyek ini gagal total! Minseok juga termasuk pihak yang paling dirugikan jika proyek ini gagal! Aku memikirkan nasib semua orang, Jessica!”

Jessica menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar karena menahan tangis. Luhan menghela napas panjang. Dia tidak pernah bisa melihat Jessica selemah itu. Dia memilih untuk meninggalkan Jessica dengan segera sebelum Luhan menarik semua perkataannya.

>>>

Setelah makan malam, Sehun mengantarkan Seohyun pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, mereka saling menggenggam tangan sambil membicarakan apa saja yang mereka lakukan hari itu. Seohyun memukul bahu Sehun saat Sehun mengingatkannya dengan kejadian Seohyun menyanyi tadi.

“Sungguh, Noona! Suaramu bagus sekali. Kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja? Kenapa kau malah menjadi novelis? Menjadi penyanyi itu bisa membuatmu lebih cepat kaya daripada novelis. Iya, kan?” celetuk Sehun.

Seohyun memutar matanya dan tertawa. “Tidak… menyanyi memang hobiku. Tapi aku rasa novel adalah sahabatku, tempat aku mencurahkan isi hatiku.”

Mereka berdua berhenti saat sampai di depan pintu rumah Seohyun. Sehun mengacak poni Seohyun sambil tersenyum lebar. Seohyun sangat menikmati setiap sentuhan Sehun.

“Setidaknya aku bisa membuatmu sangat rileks hari ini. Tidak seperti kemarin-marin. Kau terlihat sangat tegang. Memikirkan deadline?” kata Sehun.

Seohyun meringis. “Begitulah.”

“Kalau begitu, kau dilarang untuk memikirkan novelmu selama beberapa hari. Mengerti?”

“Lalu bagaimana aku bisa menyelesaikan novelku secepatnya?”

Sehun mengedipkan matanya menggoda. “Aku akan membantumu~”

Seohyun tersenyum lemas. Kau bisa membantuku jika kau bisa memberikanku ide tentang kisah kita selanjutnya.

Seohyun kembali teringat dengan rencananya. Rasa sesak kembali menyelimuti hatinya. Dia tidak terbiasa berbohong kepada Sehun. Semuanya terasa sangat asing baginya. Seohyun meraih kedua tangan Sehun dan menatap dalam mata kekasihnya. Dia menarik napas dalam.

“Kau masih ingat dengan rencanaku, kan?” tanya Seohyun pelan.

Sehun tersenyum tipis. “Ya.”

“Apa semua yang kau lakukan hari ini adalah untuk membuatku melupakan mimpiku?” tanya Seohyun lagi, kali ini sambil menunduk.

Sehun tertawa mendengarnya. Dia melepaskan kedua tangan Seohyun lalu menangkup wajah Seohyun agar Seohyun kembali menatapnya. Sehun mendesah kasar.

Noona, aku tidak akan membuatmu melupakan mimpimu. Itu hal yang kejam. Karena mimpi adalah bagian penting dari hidup. Tapi yang ku lakukan hari ini sama seperti yang ku lakukan sejak pertama kali aku menjadi kekasihmu. Aku melakukan ini untuk meyakinkanmu kalau kau tidak pernah salah memilihku.”

***

Jessica memainkan sendoknya, mengacak makanannya dengan malas. Melihat itu, Daniel jadi ikut tidak berselera. Dia berpikir ibunya seperti itu karena makanannya tidak enak. Jadi dia tidak mau memakan sarapannya. Kris muncul di ruang makan, mencium kepala Jessica dan Daniel lalu duduk di samping Daniel. Dia melihat Jessica dengan bingung.

“Ada yang mengganggumu, Jess?” tanya Kris.

Jessica melirik Kris sekilas. Dia sebenarnya sedang memikirkan kata-kata Luhan. Rasanya sesak sekali memikirkan itu. Tapi Jessica tidak bisa berhenti memikirkan itu. Padahal Jessica sudah berusaha keras untuk melupakannya. Akhirnya Jessica memilih menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Kris.

Alis Kris terangkat. “Kau yakin?”

“Sebenarnya ada,” gumam Jessica. “Tentang perceraian—“

“Jessica!” bentak Kris cepat.

Jessica menutup mulutnya. Dia baru sadar ada Daniel di sana. Daniel menatap mereka berdua dengan tatapan bingung. Kris menatap Jessica tajam sambil menepuk Daniel. Kris berusaha mengalihkan pembicaraan. Sedangkan Jessica mengetuk kepalanya sambil meruntuki dirinya sendiri.

“Kenapa kau tidak memakan sarapanmu, Dan?” tanya Kris.

Daniel menatap Kris, berpindah ke piring lalu Jessica. “Soalnya mommy tidak mau makan juga. Pasti karena rasanya aneh. Makanya aku juga tidak mau makan,”  jawab Daniel polos.

“Pasti enak! Kau tidak percaya dengan masakan mommy, ya?” yakin Kris.

Daniel mengangguk. Dia menyendok sarapannya. Kris tersenyum tipis melihatnya. Dia ikut menyendokkan makanannya. Sedangkan Jessica masih tetap menatap makanannya tidak niat. Kris menyuruh Daniel kembali ke kamarnya setelah Daniel selesai dengan sarapannya.

“Jadi apa yang kau ingin bicarakan?” tanya Kris setelah Daniel masuk ke kamarnya.

Jessica meringis pelan. “Aku ingin membicarakan soal perceraian kita. Aku ingin bertanya, apa kamu sudah mengurus suratnya atau belum? Begitu…”

Kris menghela napas panjang sambil bangkit dari duduknya. Dia memindahkan piring-piring bekasnya dan Daniel sarapan ke westafel sambil berpikir. Jessica memerhatikannya penasaran.

“Belum. Dan tidak akan pernah,” jawab Kris dingin lalu pergi meninggalkan Jessica sendiri di meja makan.

Jessica tercengang mendengarnya.

>>> 

Kris menghempaskan tubuhnya di sofa. Home sweet home. Tidak ada tempat istirahat terbaik yang mengalahkan kenyamanan rumahnya. Tapi rumahnya terlalu sepi. Tidak ada Jessica yang ribut memarahi Daniel. Keheningan yang asing bagi Kris. Kris bangkit, hendak ke kamar Daniel tapi anaknya muncul dari kamar Jessica. Daniel berlari ke Kris dan meminta untuk digendong oleh Kris. Daniel melingkarkan lengannya di leher Kris. Wajahnya terlihat sedih.

Daddy, sepertinya mommy sakit,” gumam Daniel khawatir.

“Benarkah? Apa kau sudah cek suhu tubuhnya?” tanya Kris panik.

Daniel mengangguk. “Iya. Panas sekali. Tanganku seperti terbakar saat menyentuhnya.”

Kris menurunkan Daniel dan menyuruh Daniel untuk pergi ke kamarnya. Setelah melihat pintu kamar anaknya tertutup, Kris melangkah ke kamar Jessica. Selama ia tinggal bersama Jessica, bisa dihitung dengan jari jumlah kesempatan ia memasuki kamar itu.

Kris melihat Jessica yang sedang menggigil dibalik selimut. Kris melepaskan jas dan dasinya, dan meletakkannya di meja rias Jessica. Dia keluar sejenak untuk membawa baskom berisi air dingin serta kain. Kris duduk di samping Jessica lalu meletakkan kain setengah basah di keningnya Jessica. Dia menatap istrinya sejenak. Dengan gerakan perlahan, dia mendekatkan wajahnya ke Jessica dan mempertemukan kening mereka. Kain basah itu menjadi penghalang kening mereka saling bersentuhan.

“Mimpi buruk, Sica?” bisik Kris sambil mengelus pipi Jessica yang basah dengan keringat.

Tiba-tiba Jessica melingkarkan tangannya di leher Kris dan menarik pria itu mendekati. Kris bisa mendengar isakan lembut Jessica. Tubuhnya menegang saat Jessica mulai menggumam. Sebuah nama disebut oleh istrinya dengan nada penuh kesedihan. Bukan namanya. Tapi nama yang tidak pernah disangka oleh Kris.

“Luhan-ah! Jangan pergi…”

Kris tidak sanggup berkata-kata. Dalam hati, dia berpikir ada berapa banyak nama Luhan di dunia? Betapa dia berharap bukan Luhan yang ia kenal lah yang dimaksud oleh Jessica.

“Luhan-ah.. jangan tinggalkan aku lagi…” isak Jessica.

>>>

Jessica membuka matanya perlahan. Dia menyentuh keningnya karena merasakan sesuatu berada di atas keningnya. Sebuah kain yang sudah kering. Dia berusaha mengubah posisinya menjadi duduk. Tapi dia terlalu lemas. Dia melirik jam dinding kamarnya. Sudah jam 7 malam. Kris pasti sudah pulang. Bagaimana dengan Daniel? Apa anaknya sudah makan malam? Pasti Kris membelikan sesuatu kepada Daniel. Jessica menghela napas panjang.

Jessica meraba meja di samping kasurnya tanpa mengubah posisinya. Dia mengambil handphonenya. Ada satu pesan masuk. Satu pesan dari orang yang dia kira tidak akan menghubunginya lagi. Luhan.

Omo!” pekiknya kaget.

Dia segera membuka pesan dari Luhan.

From: Babo Deer

Kata Kris, kau sakit. Benarkah? Aku harap tidak parah.

Oh ya, tadi aku menelepon Kris (itu sebabnya aku bisa tahu kau sakit). Nada bicaranya aneh. Beberapa kali dia bertanya kepadaku, ada berapa orang yang mempunyai nama Luhan selainku. Apa sesuatu terjadi di antara kalian?

Jessica terbelalak membacanya. Apa Kris mulai tahu soal mereka? Seakan belum cukup membuat Jessica terkejut, seseorang merebut handphonenya dari tangannya. Jessica tidak bisa bernapas saat melihat Kris lah yang merebut handphonenya. Jessica tidak punya tenaga untuk merebutnya kembali. Dia terlalu pusing dan lemas. Wajah Kris menegang saat melihat apa yang diperlihatkan di layar handphone Jessica. Kris menatap Jessica serius.

“Apa hubunganmu dengan Luhan?” tanya Kris yang terdengar sangat berbahaya.

Jessica memejamkan matanya. Kepalanya seperti dihantam oleh palu. Sakit sekali..

“Kris, bisa kita bicarakan nanti saja? Kondisiku masih belum baik,” mohon Jessica.

Kris tidak menjawab apapun. Dia keluar dari kamar Jessica bersama handphone Jessica. Dalam hati, Jessica berdoa agar masalah yang dia takuti tidak akan terjadi secepat ini.

>>>

Hari itu, Sehun menghabiskan waktu di rumah Seohyun seharian untuk memastikan Seohyun tidak memikirkan tentang novelnya. Dia membuat Seohyun sibuk bermain games dengannya. Seohyun mengikuti setiap perintah Sehun dengan pasrah.

Aish, kan sudah aku ajarkan beberapa kali. Caranya seperti ini,” omel Sehun karena lagi-lagi Seohyun kalah bermain Digimon melawannya.

Seohyun menggertakkan giginya kesal. “Dan aku sudah bilang, aku tidak mau bermain ini! Memang kamu tidak kasihan melihat mereka saling menyakiti seperti itu?”

Sehun tertawa mendengarnya. Sebenarnya Seohyun terlalu baik atau terlalu polos? Hal seperti itu saja, Seohyun tidak tega. Sehun menggeleng gemas.

Noona, itu hanya permainan~” desah Sehun.

Seohyun mendengus. “Tetap saja! Itu kejam—“

Ting.. tong..

Mereka saling bertatapan saat mendengar bel rumah Seohyun berbunyi yang mengganggu perdebatan mereka. Seohyun kedatangan tamu di saat jam dinding menunjukkan jam… 9 malam? Seohyun mendengus kesal. Dia bangkit dan berjalan cepat menuju pintu depan. Dia menarik napas dalam sebelum membuka pintu.

“Kris oppa?” pekik Seohyun kaget.

Wajah Kris terlihat sangat menyedihkan. Seohyun menyuruh Kris masuk ke dalam rumahnya. Tapi Kris menggeleng, dia menolaknya.

“Siapa yang datang?” teriak Sehun dari dalam.

Sehun akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka. Dia mengerjap bingung saat melihat Kris lah yang datang. Sehun berdiri di samping Seohyun lalu merangkul gadisnya itu.

“Ada apa, Hyung? Kenapa datang malam-malam begini?” tanya Sehun.

Kris mengangkat wajahnya. Dia terlihat berat untuk mengatakan sesuatu.

“Katakan saja. Kau percaya pada kami, kan?” yakin Seohyun.

Kris mengangguk lemas. “Sebenarnya aku ingin bertanya, ada hubungan apa antara Jessica dan Luhan? Mereka tidak hanya teman biasa di masa lalu, kan?”

Seohyun dan Sehun saling menatap kaget. Seohyun kini gugup. Dia bingung harus menjawab apa. Sedangkan Sehun menutup bibirnya rapat-rapat. Ini bukan urusannya. Dia tidak boleh ikut campur walaupun dia tahu apa masalah sebenarnya.

“Ku mohon jujur padaku, Seohyun-ah! Aku sudah lelah dibohongi!” bentak Kris.

Seohyun terlonjak kaget karena Kris membentaknya. Matanya berair karena takut. Mengetahui itu, Sehun segera memeluk Seohyun erat.

“Ku mohon, Hyung.. tenangkan dirimu—“

“Apa hubungan antara Jessica dan Luhan sebenarnya?! ‘Babo Deer’ itu bukan Luhan, kan? Bukan Luhan yang ku kenal, kan? Bukan rekan kerjaku, kan?!” desak Kris kesal.

Seohyun menggigit bibirnya panik. “Oppa, tenanglah! Masuklah ke dalam. Di luar sangat dingin..”

Kris menjatuhkan diri hingga berlutut di depan Seohyun. “Ku mohon, Seohyun-ah. Tolong bilang Luhan tidak memiliki hubungan serius di masa lalu..”

“Sebenarnya mereka memiliki hubungan istimewa dulu. Ingat kan ceritaku tentang Jessica eonni datang ke kelab malam karena berpisah dari pacarnya. Pacarnya adalah Luhan oppa, rekan kerjamu sendiri…” jelas Seohyun.

“Hubungan mereka sudah berakhir dari dulu, kan? Mereka tidak punya hubungan lagi sekarang, kan?” tanya Kris lagi, nadanya terdengar seperti memohon.

Seohyun memejamkan matanya erat untuk meyakinkan diri. Dia lelah berbohong terus demi Jessica.

“Maaf, Oppa. Mereka mungkin tidak berpacaran lagi. Tapi mereka tetap punya hubungan. Hubungan yang tidak bisa dilepas seenaknya,” jawab Seohyun, sambil menggenggam erat tangan Sehun.

Napas Kris tercekat mendengarnya. Seohyun semakin takut melihatnya. Sehun menarik napas dalam, ia berusaha menenangkan Seohyun.

=== Calling Out ===

Gimana? Udah cliff hanget nih *o*

Sebenernya chapter 6 mau aku publish setelah aku selesain winter leaf. Tapi karena kalian… kalian… dan kalian… protes, jadi aku percepat deh -__- tapi ga papa. Setidaknya kalian udah punya gambaran kan tentang masa lalu mereka? :3

Aku juga pengennya ngepost pas sebelum pergantian tahun. Eh modem malah diminta sama papa. Ya ampun papa, tepat waktu banget sih mintanya? -____-

Say goodbye to 2012 and say hello to 2013 \(^o^/)(\^o^)/

Author : Lee Hyura

Title : Calling Out

Genre: Angst, Family, Friendship, Romance

Rating : PG 15

Length : Series

Cast :

–          EXO Kris

–          EXO Luhan

–          EXO Xiumin

–          EXO Sehun

–          SNSD Jessica

–          SNSD Seohyun

–          SNSD Tiffany

–          Daniel Hyunoo

Note : sebenernya mau dipost pas bulan februari. Berhubung banyak yg minta untuk dipercepat, ya udah aku percepat. Sekali ini jadi hadiah perpisahanku dengan tahun 2012 ‘-‘)/
Ini ff terakhir yang dibuat di tahun 2012 dan ff pertama yang dipublish di tahun 2013. Lol~

=== Calling Out ===

Seohyun meniup cokelat panasnya sambil menatap keluar jendela. Pohon-pohon tak berdaun lah yang ia lihat. Sekarang sudah masuk musim dingin. 5 bulan lagi, Sehun akan mendapatkan gelar sarjananya. Itu lah yang diimpikan oleh Seohyun. Pria itu lulus lalu mendapatkan pekerjaan. Memikirkan itu, Seohyun menjadi sedikit takut. Bagaimana jika saat Sehun sudah bekerja nanti, Sehun akan melamarnya? Seohyun tidak yakin dia akan menerimanya saat hatinya masih takut dengan nama ‘pernikahan’. Dia takut hidupnya akan secomplicated hidupnya Jessica.

“Bukankah itu tujuan hidup? Menikah dan berkembang biak. Itu kan yang ada di buku biologi saat aku sekolah? Kenapa aku takut? Itu adalah takdir semua orang…” gumamnya pelan.

Seohyun tersentak pelan saat mendengar pintunya diketuk. Diletakkannya cangkir berisi cokelat panas di atas meja terdekat lalu pergi ke pintu depan. Dia membuka pintunya perlahan.

“Sehun-ah,” gumam Seohyun pelan.

Pria tinggi berjaket hitam itu tersenyum, membuat wajahnya semakin manis. Dia memberikan kecupan singkat di kening Seohyun lalu melewati Seohyun untuk masuk ke dalam rumah Seohyun.

“Aku tidak mengganggumu, kan?” tanya Sehun.

Seohyun menutup pintu, berbalik badan dan menggelengkan kepala. “Tidak.”

“Novelmu?”

“Sudah berada di klimaks. Tapi karena aku kehabisan ide, aku meminta perpanjangan waktu kepada Miyoung eonni. Dan sekarang aku sedang beristirahat sambil mencari ide,” jawab Seohyun. Seohyun tersenyum tipis dan menambahkannya dengan sangat pelan, “juga sedang mengobservasi.”

Sehun mengangguk puas. “Baiklah. Berarti kau punya waktu lebih untukku. Kau tahu, Noona? Kau itu hanya seorang novelis tapi kesibukanmu melebihi karyawan kantoran.”

Seohyun mengerjap. “Eh? Untukmu? Maksudnya?”

“Bermain di luar. Kebetulan aku juga sedang liburan. Ayo cepat bersiap!”

“Tunggu! Kau mengajakku keluar di sore hari yang dingin ini? Ini sudah jam setengah 5, Sehun!” protes Seohyun.

Sehun tertawa sambil menarik Seohyun ke depan kamar Seohyun lalu mendorong kekasihnya itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar.

“Aku tunggu 5 menit! Kalau kau belum siap dalam 5 menit, aku akan masuk ke dalam kamar!” ancam Sehun.

Yah!!”

>>>

Jessica menyisir rambut Daniel sambil menyanyi bersama anak satu-satunya itu. Setelah selesai menyisir rambut Daniel, Jessica menatap pantulan dirinya dan Daniel di cermin sejenak. Semakin lama, wajah Daniel semakin mirip dengan Luhan. Jessica menggigit bibirnya karena kembali teringat tentang pria itu.

Sudah beberapa hari ini, Jessica dan Luhan tidak saling berkomunikasi. Hari dimana Jessica meminta Luhan menjaga jarak dengannya adalah hari terakhir Jessica mendengar suaranya. Jessica merasa bersalah saat mendengar keadaan Luhan di kantor dari Kris. Suaminya mengutarakan kebingungannya tentang Luhan tanpa tahu bahwa itu semakin membuat Jessica merasa bersalah.

“Aku tampan, ya?” seru Daniel.

Jessica tertawa seraya mencium pipi Daniel. “Ne, anak mommy tampan sekali~”

Daniel terkikik pelan. Dia turun dari pangkuan Jessica dan berlari ke box besar berisi mainannya. Dia mengeluarkan beberapa robot dan mulai memainkannya. Suara-suara buatan Daniel pun terdengar. Sedangkan Jessica masih asik denganpikirannya. Saat sadar, dia melirik jam dinding. Sudah jam 04.30 sore. Tinggal 1 jam sebelum Kris pulang. Dia terlalu malas untuk masak makan malam.

“Daniel-ah, kau ingin makan di luar?” tanya Jessica.

“Breum~ breum~” Daniel tidak mendengarnya. Dia malah sibuk membuat suara mobil.

“Danny!”

Daniel menoleh. “Ne, Mum?”

“Mau makan diluar?”

“Burger?”

Yah! Tunggu sampai Seohyun ahjumma mendoakanmu mati muda!”

>>>

Bel bertanda jam kerja sudah selesai terdengar di ruangan itu. Sang operator mulai bercuap-cuap, menyuruh para pegawai untuk me-nonaktif-kan barang-barang di ruangan masing-masing sebelum meninggalkan ruang kerjanya.

Berbeda dengan ruangan lain yang mulai sepi karena ditinggal oleh penghuni ruangan, ruangan Kris masih berisik. Ketiga pekerja itu sibuk berdebat. Kertas-kertas yang berisi gambar itu memenuhi permukaan meja Minseok yang kali ini dijadikan meja rapat dadakan.

“Menurutku, jika bangunannya seperti ini, bangunan ini tidak akan kuat. Tumpuannya kurang baik. Bagaimana jika terjadi gempa bumi? Pasti bangunan ini akan runtuh!” komentar Kris.

Itu lah yang mereka debatkan sejak tadi. Desain bangunan apartemen yang akan dibangun, kebetulan mereka lah yang menanganinya. Minseok mendengus, sakit hati karena desainnya ditolak oleh Kris. Sedangkan Luhan mendesah kasar. Dia meraih kertas desain Minseok dan Kris lalu membandingkannya.

“Menurutku, desain milik Kris terlihat terlalu kaku dan ketinggalan jaman. Sedangkan milik Minseok memang diragukan keselamatannya, mengingat Korea lumayan sering terjadi gempa bumi dan badai walaupun tidak separah Jepang,” ujar Luhan sambil menatap kedua rekannya.

Minseok meraih kedua kertas yang dipegang oleh Luhan, menganalisisnya sebentar kemudian mengangguk setuju. “Kau memang benar. Oh ya, Luhan, bagaimana dengan punyamu? Ku lihat kau yang paling rajin menyelesaikan semuanya.”

“Oh itu..” Luhan tersenyum kecil sembari menyandarkan punggung. “Maaf, aku akan memperlihatkannya setelah aku selesai mendesain semuanya. Aku lebih suka seperti itu. Tenang saja, kalian pasti suka.”

“Tapi—“

Kris segera memotong kalimat Minseok, “sudahlah, Minseok-ah! Semua orang mempunyai cara bekerja yang berbeda. Intinya kita mengerjakan bagian kita masing-masing dengan benar, kan?”

Minseok mengangkat tangannya seakan menyerah. Mereka memutuskan untuk mengakhiri rapat itu. Kris menarik kursinya kembali ke mejanya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat layar handphonenya menyala karena sebuah pesan masuk. Dia mengetuk layar benda itu agar pesan itu terbuka.

From : Jessica

Kris, mau makan diluar? Aku malas masak. Hehe

Kris tersenyum lebar. Dia meraih handphonenya dan segera mengetik balasannya dengan cepat. Setelah selesai, dia tidak langsung mengirimnya. Dia memerhatikan kedua rekannya itu.

“Hei, bagaimana kalau kita makan malam bersama? Ajak istrimu juga, Minseok-ah. Aku yang traktir,” ajak Kris.

Luhan mendesah pelan. Dia malas ikut makan malam dengan mereka. Pasti ia akan bertemu dengan Jessica. Tapi dia terlambat untuk menolaknya karena Minseok segera menyetujuinya lalu memaksa Luhan untuk ikut juga. Luhan hanya membalasnya dengan senyum walaupun dalam hati, dia meruntuk.

Kris tersenyum senang. Dia mengetuk layar handphonenya untuk mengirim pesan itu.

To:  Jessica

Baiklah. Aku mengajak Minseok dan Luhan juga. Tidak apa, kan?

>>>

Seohyun menatap Sehun penasaran. Pemuda itu membawa Seohyun mengelilingi taman kota seakan dia tidak tahu akan membawa Seohyun kemana. Tapi senyuman percaya diri di wajahnya membuat Seohyun yakin bahwa Sehun dengan menyusun rencana di otaknya.

“Sehun-ah, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?” tanya Seohyun bingung.

“Rahasia.”

Seohyun merengut mendengar jawaban Sehun. Pria itu memang paling ahli membuatnya kesal. Jadi Seohyun menyerah untuk bertanya lebih lanjut daripada nanti moodnya hancur karena jawaban Sehun yang lain.

Sehun berhenti tiba-tiba sehingga Seohyun menabrak Sehun. Seohyun meringis pelan sambil mengelus kepalanya. Berbeda dengan Sehun yang terlihat tidak peduli. Sebuah senyuman lebar tertempel di wajahnya. Sehun kembali menarik Seohyun menuju kerumunan orang. Seohyun hanya mengangkat alisnya bingung.

Sehun melepaskan tangan Seohyun saat mereka sudah berhasil menyusup di antara kerumunan itu hingga mereka berada di barisan paling depan. Ternyata kerumunan orang itu sedang menikmati penampilan band jalanan. Sehun menghampiri salah seorang dari kelompok itu lalu membisiki sesuatu. Orang yang dibisiki oleh Sehun itu memberitahu teman-teman sekelompoknya tentang apa yang dibisiki oleh Sehun tadi. Mereka mengangguk setuju. Sehun tersenyum senang melihatnya. Dia kembali ke depan Seohyun dan menarik gadis itu untuk bergabung dengan band itu. Kelompok band itu menyingkir, membiarkan hanya Sehun dan Seohyun yang menjadi pusat perhatian para kerumunan orang itu.

“Apa-apaan ini?” tanya Seohyun.

“Kita akan berduet!” jawab Sehun sambil tersenyum polos. “Seru, kan?”

“Seru? Ini sama sekali tidak seru, Sehun-ah! Kau tahu aku pemalu di depan orang-orang, kan?” protes Seohyun.

Sehun menepuk kepala Seohyun sambil tertawa. Dia memberikan Seohyun microphone. Seohyun menerimanya bingung. Tapi Sehun terlihat tidak mau peduli dengan kebingungan Seohyun. Sehun mengambil sebuah gitar dan duduk di salah satu kursi yang tersedia. Tidak lupa, dia menarik kursi lain agar Seohyun duduk di sampingnya.

“Apa yang harus ku lakukan?” tanya Seohyun memelas.

“Nyanyikan saja lagu yang ingin kau nyanyikan,” jawab Sehun sambil mencoba gitarnya.

“Tapi—“

Sehun menoleh kesal. “Cepatlah~ atau kau akan disoraki oleh orang-orang. Kau mau itu, Noona?”

Seohyun merengut. Ini memang memalukan. Tapi kalau sampai disoraki, itu lebih memalukan lagi! Mau tidak mau, Seohyun mengikuti permainan Sehun.

“Jadi kau mau bernyanyi apa, Noona?” tanya Sehun.

“Hm, Pixie Lott – Jack. Kau bisa?”

Sehun membalasnya dengan senyum sombong.

>>>

Jessica dan Daniel turun dari taksi. Jessica menarik tangan anaknya memasuki restoran. Dalam hati, dia sibuk berdoa. Ini bukan pertama kalinya dia merasa gugup untuk bertemu dengan Luhan. Tapi rasa gugupnya kali ini terasa beda. Seakan membuat Jessica ingin memuntahkan isi perutnya agar rasa gugup yang menggelitik itu hilang. Tapi tentu saja Jessica tidak bisa.

Kris, kenapa kau harus mengajak Luhan juga sih? Harusnya aku memberitahumu soal hubunganku dan Luhan agar kau tidak akan mempertemukanku dengan Luhan!, gerutu Jessica dalam hati. Aish, jangan deh. Kalau hubungan mereka jadi canggung, juga tidak baik. Mereka kan rekan kerja. Tsk!

Mommy~” panggil Daniel sambil mengayunkan tangan Jessica agar perhatian Jessica kembali ke Daniel.

Jessica menggelengkan kepala lalu menoleh. “Yeah, Dan?”

Daddy dimana?” tanya Daniel.

“Harusnya sudah ada disini. Coba Mommy lihat,” jawab Jessica, menggumam.

Jessica melirik jam tangannya lalu mencoba melihat meja-meja di dalam restoran itu. Dia mencoba berjinjit saat tidak berhasil melihat meja yang jauh dari jangkauan pandangannya karena tertutup pengunjung lainnya. Tidak berhasil, dia mencoba melompat kecil. Salah mendarat, dia terselengkat karena dia memang sedang memakai sepatu heels. Jessica berteriak kaget. Beruntung seseorang menahan tubuhnya.

“Hump,” seru seseorang yang menolongnya. Hm, terdengar familiar. “Jessica-ya, kau itu selalu saja ceroboh,” komentar orang itu.

Jessica membulatkan matanya saat sadar siapa itu. Itu suara Kris, suaminya sendiri. Dia semakin yakin saat Daniel berteriak girang sambil memanggil nama ayahnya itu. Kris terkekeh, tangannya memegang pinggang Jessica untuk membantu Jessica berdiri dengan benar. Setelah berhasil, Jessica memukul kedua tangan Kris kemudian mutar tubuhnya.

“Kau kemana saja?” tanya Jessica kesal. “Ku kira kamu sudah sampai dari tadi.”

Kris menyengir lebar. “Maaf, tadi kami menjemput Miyoung di kantornya dulu. Kan searah.”

Jessica menilik ketiga orang yang berdiri di belakang Kris. Ada Minseok dan Miyoung yang terlihat sangat bahagia, bahkan Miyoung melambaikan tangannya dengan semangat kepada Jessica. Sedangkan Luhan sedang melihat ke arah lain agar Luhan tidak melihat Jessica. Jessica melemas melihatnya.

“Luhan ahjussi!” seru Daniel girang.

Anak kecil itu berlari menghampiri Luhan dan disambut Luhan dengan senang hati. Luhan menggendong Daniel lalu mencium pipi Daniel. Tangan Daniel melingkar di leher Luhan, memeluk Luhan erat. Hati Jessica terasa semakin berat. Kalau tidak ada Kris, mungkin Jessica sudah meninggalkan tempat itu sekarang.

“Ayo masuk. Aku sudah memesan meja untuk kita,” seru Kris sembari menghampiri Luhan untuk mengambil Daniel.

Daniel awalnya protes. Tapi akhirnya dia mau berpindah tangan ke Kris. Luhan mengacak rambut Daniel sambil terkekeh. Saat Kris berjalan melewatinya, Jessica meraih tangan Kris dan memeluknya. Kris menoleh dan tersenyum pada Jessica. Luhan menghela napas kasar sambil membuang muka. Dia sibuk mengumpat dalam hati.

“Luhan ahjussi bisa bermain sepak bola?” tanya Daniel sambil menatap Luhan excited saat mereka sudah di meja yang dipesan oleh Kris.

Mereka duduk di meja bundar. Daniel duduk diantara Kris dan Luhan. Sedangkan Jessica duduk di antara Kris dan Miyoung. Minseok duduk di antara Miyoung dan Luhan. Sehingga Jessica duduk berhadapan dengan Luhan. Keduanya menghela napas sambil meruntuki posisi duduk mereka.

Seorang pelayan memberikan 4 menu dan menu-menu itu di ambil oleh Luhan, Minseok, Kris dan Tiffany. Jessica tidak perlu melihat isi menu karena Kris sudah hapal kesukaannya dan Daniel. Setelah mereka sudah menentukan pilihan dan pelayan pergi dengan pesanan mereka, Daniel menarik lengan kemeja Luhan.

Ahjussi~”

“Oh ya, lupa!” Luhan tersenyum lebar. “Tentu saja ahjussi bisa!”

Daniel mengerjapkan matanya. “Jeongmalyo?”

Ne! Ahjussi ahli soal sepak bola. Saat sekolah dan kuliah, ahjussi selalu mengikuti klub sepak bola. Ahjussi termasuk pemain terbaik!” jelas Luhan bangga.

Kini Daniel dan Luhan seperti sepasang anak kecil yang sedang membicarakan hal kesukaan mereka. Luhan memang selalu terlihat seperti anak kecil jika sudah membicarakan hal kesukaannya. Kris dan Minseok menggeleng pelan. Miyoung tersenyum gemas melihatnya. Sedangkan Jessica menundukkan kepala dan menyandarkan kepalanya ke bahu Kris.

“Hebat! Andaikan daddy seperti Luhan ahjussi!” sahut Daniel girang. “Daddy cuma bisa basket. Membosankan!”

“Daniel~” protes Kris.

Luhan dan Daniel tertawa karenanya. Kris dan yang lainnya ikut tertawa. Yang tentu saja selain Jessica. Jessica memejamkan matanya sambil berusaha menenangkan hatinya. Malam ini adalah malam terberat baginya.

“Danny-ah, Minseok ahjussi juga suka! Besok minggu, kita bermain bola bersama. Bagaimana?” seru Minseok.

Daniel dan Luhan saling berpandangan lalu mengangguk semangat. Kris tertawa sejenak lalu menghela napas berat.

“Kenapa aku malah merasa Luhan lah ayah Daniel, bukan aku? Dia lebih mirip denganmu daripada denganku,” desah Kris.

Deg!

Jessica reflek melirik Luhan bersamaan dengan Luhan yang kini menatapnya. Mereka langsung saling membuang muka.

>>>

Tengah acara makan malam mereka, Jessica memohon diri untuk ke toilet. Kris hanya mengangguk. Luhan menatap kepergian Jessica. Sesuatu melintas di pikirannya. Akhirnya Luhan juga meminta izin ke toilet.

Luhan sebenarnya tidak ke toilet. Dia berdiri di dekat pintu kamar mandi pria dan wanita sambil menghentak-hentakkan kakinya. Dia sibuk mengolah kata di otaknya. Beberapa kali dia menjilat bibirnya saat dia memilih kalimat yang salah.

“Luhan?”

Luhan tersadar dari pikirannya saat Jessica sudah berada di hadapannya. Luhan segera menegakkan tubuhnya. Dia menekan kedua bibirnya erat lalu menjilat bibirnya. Jantungnya berdetak cepat. Begitu juga Jessica.

Ada sesuatu yang ia ingin bicarakan sepertinya… pikir Jessica.

“A-aku…”

Luhan berhenti lalu menggigit bibirnya. Dia merasa belum siap untuk mengatakannya. Dia mengibaskan tangannya frustasi kemudian pergi meninggalkan Jessica. Tapi Jessica segera menarik tangannya sehingga Luhan berhenti dan memutar kepalanya.

“Ada apa?” tanya Jessica.

Luhan melepaskan tangannya sambil berbalik badan. Dia menarik napas dalam. Ia beranikan diri untuk menatap kedua mata Jessica.

“Aku akan kembali ke Cina,” ujar Luhan.

“Hah?”

“Aku akan kembali ke Cina secepatnya. Aku akan menyelesaikan beberapa hal yang perlu aku selesaikan sekarang lalu aku akan mengirim orang untuk menggantikanku,” jelas Luhan.

Jessica menundukkan kepalanya selama berusaha mencerna kata-kata Luhan. Saat dia sudah mengerti sepenuhnya, dia mendongak. “Tapi kenapa? Karena aku?” tanya Jessica. Dalam hati, dia ketakutan. Dia takut akan berpisah dari Luhan lagi.

Luhan kembali menarik napas dalam sebelum menjawabnya, “karena ini yang terbaik untuk kita.”

“Bodoh! Apa kau pikir proyek yang sedang kalian tangani adalah proyek kecil?! Kau—“

“Jessica! Dengarkan aku!” bentak Luhan. “Proyek itu adalah proyek besar! Itu adalah proyek 5 tahun! Tapi kau ingin Kris tidak mengetahui rahasia kita, kan? Kau ingin pernikahanmu baik-baik saja, kan? Cara terbaik adalah dengan aku melepas proyek ini! Cepat atau lambat, Kris akan tahu semua ini! Dan jika aku tetap disini saat dia sudah tahu akan semuanya, kemungkinan terburuknya adalah proyek ini gagal total! Minseok juga termasuk pihak yang paling dirugikan jika proyek ini gagal! Aku memikirkan nasib semua orang, Jessica!”

Jessica menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar karena menahan tangis. Luhan menghela napas panjang. Dia tidak pernah bisa melihat Jessica selemah itu. Dia memilih untuk meninggalkan Jessica dengan segera sebelum Luhan menarik semua perkataannya.

>>>

Setelah makan malam, Sehun mengantarkan Seohyun pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, mereka saling menggenggam tangan sambil membicarakan apa saja yang mereka lakukan hari itu. Seohyun memukul bahu Sehun saat Sehun mengingatkannya dengan kejadian Seohyun menyanyi tadi.

“Sungguh, Noona! Suaramu bagus sekali. Kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja? Kenapa kau malah menjadi novelis? Menjadi penyanyi itu bisa membuatmu lebih cepat kaya daripada novelis. Iya, kan?” celetuk Sehun.

Seohyun memutar matanya dan tertawa. “Tidak… menyanyi memang hobiku. Tapi aku rasa novel adalah sahabatku, tempat aku mencurahkan isi hatiku.”

Mereka berdua berhenti saat sampai di depan pintu rumah Seohyun. Sehun mengacak poni Seohyun sambil tersenyum lebar. Seohyun sangat menikmati setiap sentuhan Sehun.

“Setidaknya aku bisa membuatmu sangat rileks hari ini. Tidak seperti kemarin-marin. Kau terlihat sangat tegang. Memikirkan deadline?” kata Sehun.

Seohyun meringis. “Begitulah.”

“Kalau begitu, kau dilarang untuk memikirkan novelmu selama beberapa hari. Mengerti?”

“Lalu bagaimana aku bisa menyelesaikan novelku secepatnya?”

Sehun mengedipkan matanya menggoda. “Aku akan membantumu~”

Seohyun tersenyum lemas. Kau bisa membantuku jika kau bisa memberikanku ide tentang kisah kita selanjutnya.

Seohyun kembali teringat dengan rencananya. Rasa sesak kembali menyelimuti hatinya. Dia tidak terbiasa berbohong kepada Sehun. Semuanya terasa sangat asing baginya. Seohyun meraih kedua tangan Sehun dan menatap dalam mata kekasihnya. Dia menarik napas dalam.

“Kau masih ingat dengan rencanaku, kan?” tanya Seohyun pelan.

Sehun tersenyum tipis. “Ya.”

“Apa semua yang kau lakukan hari ini adalah untuk membuatku melupakan mimpiku?” tanya Seohyun lagi, kali ini sambil menunduk.

Sehun tertawa mendengarnya. Dia melepaskan kedua tangan Seohyun lalu menangkup wajah Seohyun agar Seohyun kembali menatapnya. Sehun mendesah kasar.

Noona, aku tidak akan membuatmu melupakan mimpimu. Itu hal yang kejam. Karena mimpi adalah bagian penting dari hidup. Tapi yang ku lakukan hari ini sama seperti yang ku lakukan sejak pertama kali aku menjadi kekasihmu. Aku melakukan ini untuk meyakinkanmu kalau kau tidak pernah salah memilihku.”

***

Jessica memainkan sendoknya, mengacak makanannya dengan malas. Melihat itu, Daniel jadi ikut tidak berselera. Dia berpikir ibunya seperti itu karena makanannya tidak enak. Jadi dia tidak mau memakan sarapannya. Kris muncul di ruang makan, mencium kepala Jessica dan Daniel lalu duduk di samping Daniel. Dia melihat Jessica dengan bingung.

“Ada yang mengganggumu, Jess?” tanya Kris.

Jessica melirik Kris sekilas. Dia sebenarnya sedang memikirkan kata-kata Luhan. Rasanya sesak sekali memikirkan itu. Tapi Jessica tidak bisa berhenti memikirkan itu. Padahal Jessica sudah berusaha keras untuk melupakannya. Akhirnya Jessica memilih menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Kris.

Alis Kris terangkat. “Kau yakin?”

“Sebenarnya ada,” gumam Jessica. “Tentang perceraian—“

“Jessica!” bentak Kris cepat.

Jessica menutup mulutnya. Dia baru sadar ada Daniel di sana. Daniel menatap mereka berdua dengan tatapan bingung. Kris menatap Jessica tajam sambil menepuk Daniel. Kris berusaha mengalihkan pembicaraan. Sedangkan Jessica mengetuk kepalanya sambil meruntuki dirinya sendiri.

“Kenapa kau tidak memakan sarapanmu, Dan?” tanya Kris.

Daniel menatap Kris, berpindah ke piring lalu Jessica. “Soalnya mommy tidak mau makan juga. Pasti karena rasanya aneh. Makanya aku juga tidak mau makan,”  jawab Daniel polos.

“Pasti enak! Kau tidak percaya dengan masakan mommy, ya?” yakin Kris.

Daniel mengangguk. Dia menyendok sarapannya. Kris tersenyum tipis melihatnya. Dia ikut menyendokkan makanannya. Sedangkan Jessica masih tetap menatap makanannya tidak niat. Kris menyuruh Daniel kembali ke kamarnya setelah Daniel selesai dengan sarapannya.

“Jadi apa yang kau ingin bicarakan?” tanya Kris setelah Daniel masuk ke kamarnya.

Jessica meringis pelan. “Aku ingin membicarakan soal perceraian kita. Aku ingin bertanya, apa kamu sudah mengurus suratnya atau belum? Begitu…”

Kris menghela napas panjang sambil bangkit dari duduknya. Dia memindahkan piring-piring bekasnya dan Daniel sarapan ke westafel sambil berpikir. Jessica memerhatikannya penasaran.

“Belum. Dan tidak akan pernah,” jawab Kris dingin lalu pergi meninggalkan Jessica sendiri di meja makan.

Jessica tercengang mendengarnya.

>>> 

Kris menghempaskan tubuhnya di sofa. Home sweet home. Tidak ada tempat istirahat terbaik yang mengalahkan kenyamanan rumahnya. Tapi rumahnya terlalu sepi. Tidak ada Jessica yang ribut memarahi Daniel. Keheningan yang asing bagi Kris. Kris bangkit, hendak ke kamar Daniel tapi anaknya muncul dari kamar Jessica. Daniel berlari ke Kris dan meminta untuk digendong oleh Kris. Daniel melingkarkan lengannya di leher Kris. Wajahnya terlihat sedih.

Daddy, sepertinya mommy sakit,” gumam Daniel khawatir.

“Benarkah? Apa kau sudah cek suhu tubuhnya?” tanya Kris panik.

Daniel mengangguk. “Iya. Panas sekali. Tanganku seperti terbakar saat menyentuhnya.”

Kris menurunkan Daniel dan menyuruh Daniel untuk pergi ke kamarnya. Setelah melihat pintu kamar anaknya tertutup, Kris melangkah ke kamar Jessica. Selama ia tinggal bersama Jessica, bisa dihitung dengan jari jumlah kesempatan ia memasuki kamar itu.

Kris melihat Jessica yang sedang menggigil dibalik selimut. Kris melepaskan jas dan dasinya, dan meletakkannya di meja rias Jessica. Dia keluar sejenak untuk membawa baskom berisi air dingin serta kain. Kris duduk di samping Jessica lalu meletakkan kain setengah basah di keningnya Jessica. Dia menatap istrinya sejenak. Dengan gerakan perlahan, dia mendekatkan wajahnya ke Jessica dan mempertemukan kening mereka. Kain basah itu menjadi penghalang kening mereka saling bersentuhan.

“Mimpi buruk, Sica?” bisik Kris sambil mengelus pipi Jessica yang basah dengan keringat.

Tiba-tiba Jessica melingkarkan tangannya di leher Kris dan menarik pria itu mendekati. Kris bisa mendengar isakan lembut Jessica. Tubuhnya menegang saat Jessica mulai menggumam. Sebuah nama disebut oleh istrinya dengan nada penuh kesedihan. Bukan namanya. Tapi nama yang tidak pernah disangka oleh Kris.

“Luhan-ah! Jangan pergi…”

Kris tidak sanggup berkata-kata. Dalam hati, dia berpikir ada berapa banyak nama Luhan di dunia? Betapa dia berharap bukan Luhan yang ia kenal lah yang dimaksud oleh Jessica.

“Luhan-ah.. jangan tinggalkan aku lagi…” isak Jessica.

>>>

Jessica membuka matanya perlahan. Dia menyentuh keningnya karena merasakan sesuatu berada di atas keningnya. Sebuah kain yang sudah kering. Dia berusaha mengubah posisinya menjadi duduk. Tapi dia terlalu lemas. Dia melirik jam dinding kamarnya. Sudah jam 7 malam. Kris pasti sudah pulang. Bagaimana dengan Daniel? Apa anaknya sudah makan malam? Pasti Kris membelikan sesuatu kepada Daniel. Jessica menghela napas panjang.

Jessica meraba meja di samping kasurnya tanpa mengubah posisinya. Dia mengambil handphonenya. Ada satu pesan masuk. Satu pesan dari orang yang dia kira tidak akan menghubunginya lagi. Luhan.

Omo!” pekiknya kaget.

Dia segera membuka pesan dari Luhan.

From: Babo Deer

Kata Kris, kau sakit. Benarkah? Aku harap tidak parah.

Oh ya, tadi aku menelepon Kris (itu sebabnya aku bisa tahu kau sakit). Nada bicaranya aneh. Beberapa kali dia bertanya kepadaku, ada berapa orang yang mempunyai nama Luhan selainku. Apa sesuatu terjadi di antara kalian?

Jessica terbelalak membacanya. Apa Kris mulai tahu soal mereka? Seakan belum cukup membuat Jessica terkejut, seseorang merebut handphonenya dari tangannya. Jessica tidak bisa bernapas saat melihat Kris lah yang merebut handphonenya. Jessica tidak punya tenaga untuk merebutnya kembali. Dia terlalu pusing dan lemas. Wajah Kris menegang saat melihat apa yang diperlihatkan di layar handphone Jessica. Kris menatap Jessica serius.

“Apa hubunganmu dengan Luhan?” tanya Kris yang terdengar sangat berbahaya.

Jessica memejamkan matanya. Kepalanya seperti dihantam oleh palu. Sakit sekali..

“Kris, bisa kita bicarakan nanti saja? Kondisiku masih belum baik,” mohon Jessica.

Kris tidak menjawab apapun. Dia keluar dari kamar Jessica bersama handphone Jessica. Dalam hati, Jessica berdoa agar masalah yang dia takuti tidak akan terjadi secepat ini.

>>>

Hari itu, Sehun menghabiskan waktu di rumah Seohyun seharian untuk memastikan Seohyun tidak memikirkan tentang novelnya. Dia membuat Seohyun sibuk bermain games dengannya. Seohyun mengikuti setiap perintah Sehun dengan pasrah.

Aish, kan sudah aku ajarkan beberapa kali. Caranya seperti ini,” omel Sehun karena lagi-lagi Seohyun kalah bermain Digimon melawannya.

Seohyun menggertakkan giginya kesal. “Dan aku sudah bilang, aku tidak mau bermain ini! Memang kamu tidak kasihan melihat mereka saling menyakiti seperti itu?”

Sehun tertawa mendengarnya. Sebenarnya Seohyun terlalu baik atau terlalu polos? Hal seperti itu saja, Seohyun tidak tega. Sehun menggeleng gemas.

Noona, itu hanya permainan~” desah Sehun.

Seohyun mendengus. “Tetap saja! Itu kejam—“

Ting.. tong..

Mereka saling bertatapan saat mendengar bel rumah Seohyun berbunyi yang mengganggu perdebatan mereka. Seohyun kedatangan tamu di saat jam dinding menunjukkan jam… 9 malam? Seohyun mendengus kesal. Dia bangkit dan berjalan cepat menuju pintu depan. Dia menarik napas dalam sebelum membuka pintu.

“Kris oppa?” pekik Seohyun kaget.

Wajah Kris terlihat sangat menyedihkan. Seohyun menyuruh Kris masuk ke dalam rumahnya. Tapi Kris menggeleng, dia menolaknya.

“Siapa yang datang?” teriak Sehun dari dalam.

Sehun akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka. Dia mengerjap bingung saat melihat Kris lah yang datang. Sehun berdiri di samping Seohyun lalu merangkul gadisnya itu.

“Ada apa, Hyung? Kenapa datang malam-malam begini?” tanya Sehun.

Kris mengangkat wajahnya. Dia terlihat berat untuk mengatakan sesuatu.

“Katakan saja. Kau percaya pada kami, kan?” yakin Seohyun.

Kris mengangguk lemas. “Sebenarnya aku ingin bertanya, ada hubungan apa antara Jessica dan Luhan? Mereka tidak hanya teman biasa di masa lalu, kan?”

Seohyun dan Sehun saling menatap kaget. Seohyun kini gugup. Dia bingung harus menjawab apa. Sedangkan Sehun menutup bibirnya rapat-rapat. Ini bukan urusannya. Dia tidak boleh ikut campur walaupun dia tahu apa masalah sebenarnya.

“Ku mohon jujur padaku, Seohyun-ah! Aku sudah lelah dibohongi!” bentak Kris.

Seohyun terlonjak kaget karena Kris membentaknya. Matanya berair karena takut. Mengetahui itu, Sehun segera memeluk Seohyun erat.

“Ku mohon, Hyung.. tenangkan dirimu—“

“Apa hubungan antara Jessica dan Luhan sebenarnya?! ‘Babo Deer’ itu bukan Luhan, kan? Bukan Luhan yang ku kenal, kan? Bukan rekan kerjaku, kan?!” desak Kris kesal.

Seohyun menggigit bibirnya panik. “Oppa, tenanglah! Masuklah ke dalam. Di luar sangat dingin..”

Kris menjatuhkan diri hingga berlutut di depan Seohyun. “Ku mohon, Seohyun-ah. Tolong bilang Luhan tidak memiliki hubungan serius di masa lalu..”

“Sebenarnya mereka memiliki hubungan istimewa dulu. Ingat kan ceritaku tentang Jessica eonni datang ke kelab malam karena berpisah dari pacarnya. Pacarnya adalah Luhan oppa, rekan kerjamu sendiri…” jelas Seohyun.

“Hubungan mereka sudah berakhir dari dulu, kan? Mereka tidak punya hubungan lagi sekarang, kan?” tanya Kris lagi, nadanya terdengar seperti memohon.

Seohyun memejamkan matanya erat untuk meyakinkan diri. Dia lelah berbohong terus demi Jessica.

“Maaf, Oppa. Mereka mungkin tidak berpacaran lagi. Tapi mereka tetap punya hubungan. Hubungan yang tidak bisa dilepas seenaknya,” jawab Seohyun, sambil menggenggam erat tangan Sehun.

Napas Kris tercekat mendengarnya. Seohyun semakin takut melihatnya. Sehun menarik napas dalam, ia berusaha menenangkan Seohyun.

=== Calling Out ===

Gimana? Udah cliff hanget nih *o*

Sebenernya chapter 6 mau aku publish setelah aku selesain winter leaf. Tapi karena kalian… kalian… dan kalian… protes, jadi aku percepat deh -__- tapi ga papa. Setidaknya kalian udah punya gambaran kan tentang masa lalu mereka? :3

Aku juga pengennya ngepost pas sebelum pergantian tahun. Eh modem malah diminta sama papa. Ya ampun papa, tepat waktu banget sih mintanya? -____-

Say goodbye to 2012 and say hello to 2013 \(^o^/)(\^o^)/

Advertisements

19 responses to “[Series] Calling Out (Chapter 6)

  1. waaa ceritanya makin complicated, semua rahasianya mulai kebongkar,dan akhirnya kris kau tersiksa juga HAHA.Selama ini menyiksa Hansica sekarang bergulir pada dirimu keke..
    kenapa di FF ini feel ku ke Hansica , kasian couple itu musti ada aja rintangannya.
    oh ya author usul,di next chapt kan seohyun jelasin ke Kris.Penjelasanya itu agak dilebih-lebihkan biar kris tersiksa /dibakar/

  2. Akhirnya masa lalu jessica n luhan sudah terungkap, berarti daniel akan terungkap klo bukan anak kandung kris. Kris pasti kecewa sama jessica n apalagi klo dannya tau klo kris bukan ayah kandung melainkan luhan, pasti fanny akan lari ke luhan n memaksa jessica kembali ke luhan. kasihan kris.
    Jd sebel sama jessica, sdh ngebohongi kris n buat kris jatuh cinta. Dtunggu ya lanjutannya.

  3. Akhirnya nongol jg part selanjutnya. Horeeee

    Kasian banget Kris dsini. Gimana ya klo Danny tau Luhan itu ternyata ayahnya, bukan Kris.
    Pengennya endingnya Krissica. Abis dia kan nikah sama Jessica mungkin gara2 rasa bertanggung jawabnya dia ke Jessica.

    Ditunngu lanjutannya ya 🙂

  4. wuaah yg part ini paling menegangkan.. si kris tau akhirnya lulu adlah ‘babo deer’
    hhhh sehun-seo, bikin enpyyy, kenapa seo harus takut sih? kayaknya sehunnya juga serius kok
    ini ff daebak bgt deeeh beneran^^

  5. i can’t stand it… I can’t stand it. Okay this is too over haha
    Kris, kasian Kris dia bener-bener sayang sama Jessica dan kalo dia tau kenyataan yang sebenarnya dia bakal tambah kasian lagi. Jess jangan minta cerai sama Kris lagi yaT.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s