The Doorway — Chapter 2

ouija-board-pictures-101

Author : Lee Hyura

Title : The Doorway

Genre : Horror, Mystery, Romance

Rating : PG

Length : Chapter

Cast :

–          SNSD Jessica

–          SNSD Sooyoung

–          EXO Xiumin

–          EXO Luhan

–          EXO Kris

–          EXO Baekhyun

–          EXO Chanyeol

Note : ff ini terinspirasi dari film jadul amerika yang berjudul Switch Board 2 :D wajib baca teaser ya ^^ nanti ga ngerti loh.

Previous : Teaser | Chapter 1

***

Ini adalah hal terlarang. Mainan terlarang. Jika kau sudah menyentuhkan tanganmu pada bendaku, maka tak ada jalan keluar untukmu.

=== The Doorway ===

Hari pertama bekerja setelah beberapa hari ia cuti, Jessica hampir terlambat sampai di kantornya. Kalau saja Chanyeol tidak mengetuk pintu kamarnya dengan heboh, mungkin Jessica masih tertidur pulas sekarang. Kedatangannya juga disambut hangat oleh teman-teman kerjanya. Itu sedikit memperbaikimoodnya yang sedang buruk.

Bruk!

Jessica hampir saja lompat dari kursinya saat Minseok menghempaskan tumpukan kertas dan map di mejanya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Jessica mengusap wajahnya gemas. Walaupun tumpukannya hanya setinggi 6 cm-an, tetap saja mengagetkan. Jika sudah bekerja, dia tidak bisa seenaknya protes pada Minseok yang menjabat sebagai bosnya.

“Sepertinya kau harus lembur hari ini dan besok untuk menyelesaikan semua ini,” cibir Minseok.

Jessica mengangguk lemas. “Baik, Bos.”

“Jangan terlalu lemas~ aku melakukan ini untuk menutup kekuranganmu selama kau cuti. Aku baik, kan?”

“Ya.. ya..” Jessica memutar matanya. “Kau boleh tinggalkan aku dengan pekerjaanku sekarang.”

“Bagus! Selesaikan dengan baik.”

“Iya!”

>>>

Luhan memasuki ruangan yang kali ini akan menjadi setting syuting music video untuk single terbarunya sambil bersiul senang. Kesenangannya berlipat ganda saat melihat sahabat sekaligus modelnya baru saja keluar dari ruang rias.

“Yo, Kris!” sapa Luhan.

Kris membalasnya dengan senyuman tipis. “Hei~”

“Lemas sekali,” goda Luhan saat sudah berada di samping Kris dan mensejajarkan langkah mereka. “Karena Jessica?”

“Begitulah.”

“Kan sudah ku bilang untuk tidak terlalu agresif. Wanita tidak terlalu suka pacar yang agresif. Mereka membutuhkan pacar yang lucu dan ceria sepertiku!”

Kris berhenti lalu menoleh. Perbedaan tinggi mereka membuat Kris harus sedikit menunduk agar bisa melihat senyuman bodoh Luhan.

“Jangan terlalu sok tahu, Luhan. Urusi saja kisah percintaanmu yang tidak kalah menyedihkannya dariku. Setidaknya aku masih bisa berpacaran. Sedangkan kau? Baru dekat dengan wanita lain saja, langsung diteror oleh penggemar,” sungut Kris.

Luhan mengangkat bahunya acuh. “Setidaknya aku menikmati hidupku.”

Kris menepuk kepala Luhan dari belakang sambil terkekeh kemudian meninggalkan Luhan sendiri. Luhan mengelus kepalanya sambil menggerutu kesal.

“Padahal aku lebih tua darinya. Tapi kenapa dia tidak pernah menghormatiku?” runtuknya pelan.

Tiba-tiba dia mengidik. Sensasi yang sama saat merasa kehadiran arwah yang asing. Ya, dia mempunyai indra keenam. Dia bisa merasakan kehadiran makhluk gaib serta bertelepati dengan mereka. Tapi dia tidak bisa melihat makhluk itu. Tapi semakin lama, kemampuannya meningkat hingga bisa mendeteksi tempat makhluk itu berada.

“Kris, awas!” teriaknya saat melihat vas kecil yang berada di atas lemari samping tempat Kris berdiri itu goyah.

Prang!

Beruntung Luhan berhasil menarik Kris menjauh tepat waktu. Beberapa kru segera merapikan pecahan vas itu. Luhan mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mencari tahu dimana keberadaan makhluk gaib itu. Luhan yakin hantu itu lah penyebabnya. Tapi sensasi itu sudah tidak dirasakan oleh Luhan yang berarti hantu itu sudah tidak berada di sana.

“Kris, kau tidak punya masalah dengan orang yang sudah meninggal, kan?” tanya Luhan menyelidik.

Kris mengernyit bingung. “Jangan bilang kejadian tadi itu ulah hantu…”

“Aku cukup yakin itu adalah ulah hantu yang asing di ruangan ini. Aku sudah cukup kenal dengan hantu penunggu ruangan ini. Tapi hantu yang ingin mencelakaimu itu terasa asing,” jelas Luhan.

Kris mengeluh kesal, “jangan becanda. Itu hanya kecelakaan kecil.”

“Ya terserahmu mau percaya atau tidak. Yang pasti, kau harus hati-hati. Aku akan coba cari tahu soal hantu itu. Karena sepertinya dia akan mendatangimu lagi.”

Kris mengusap tengkuknya ngeri. Kata-kata Luhan cukup membuatnya takut. Tapi dia menggelengkan kepala cepat, membuang pikiran itu. Dia tidak mau menjadi penakut hanya karena kata-kata Luhan. Toh Luhan juga sering mengerjainya dengan cara itu.

Luhan hanya becanda. Tadi hanya kebetulan, batinnya.

>>>

Chanyeol memainkan lensa kameranya. Seperti biasa, kamera itu selalu terkalung di lehernya setiap Chanyeol keluar dari rumah. Dia senang memotret apapun yang menurutnya menarik. Semua yang menarik baginya, langsung ia foto. Semua… kecuali Jessica. Dia tidak pernah bisa mempotret Jessica. Gadis itu selalu tahu dan tanggap setiap kali Chanyeol mencuri kesempatan untuk memotretnya.

“Yeol-ah,” sapa Baekhyun sambil menepuk bahu Chanyeol hingga pemuda itu menoleh dan tersenyum.

“Mau ikut ke studioku?” tebak Chanyeol.

Baekhyun menggeleng. “Anio. Aku cuma mau bilang kalau professor Han menunggu Bab 2 darimu.”

Chanyeol mendengus pelan sambil kembali memotret taman kampusnya. Dia selalu melakukan itu untuk menenangkan pikirannya.

“Orang tua itu mengganggu kesenanganku saja!” gerutu Chanyeol.

“Hei, supaya kau cepat lulus juga. Kau mau ku tinggal sendirian di kampus ini?” balas Baekhyun cepat.

“Andwae! Byun Baekhyun adalah alasan kenapa aku mau pergi ke kampus. Tanpa Byun Baekhyun, bagaimana aku bisa semangat?” rayu Chanyeol.

Baekhyun memalingkan wajahnya sambil pura-pura muntah. Chanyeol tertawa geli melihat itu.

“Oh ya, apa aku sudah cerita kalau ada seorang wanita menyewa kamar di rumahku?” celetuk Chanyeol sambil memasang penutup lensanya.

Baekhyun menoleh kaget. “Kau yakin? Memang ada yang betah di rumah angkermu itu? Aku saja ngeri lama-lama di rumah itu. Apalagi dia yang tinggal disana?”

Chanyeol mengetuk kepala Baekhyun kesal. “Jangan seenaknya menghina rumah itu, ya! Bagaimana pun juga, aku tinggal disana. Dan aku baik-baik saja disana!”

Baekhyun hanya menyengir sambil mengelus kepalanya. Walaupun Chanyeol mengetuk kepalanya pelan, tetap saja rasanya sakit. Tangan Chanyeol itu besar tapi kurus. Itu sebabnya sendi jari Chanyeol tajam dan menyakitkan jika digunakan untuk menyakiti kepala Baekhyun.

“Maaf.. maaf.. tapi rumahmu itu auranya memang aneh. Apa kau pernah coba membawa dukun atau semacamnya ke rumahmu untuk mengecek itu? Aku yakin pasti ada hantu di rumahmu!” yakin Baekhyun.

Chanyeol menghela napas panjang. “Lupakan.”

“Oh ya, bagaimana orang yang menyewa kamar di rumahmu itu? Cantik?” tanya Baekhyun heboh.

Wajah Chanyeol melirih seketika. Dengan senyuman tipis, dia menjawab, “cantik. Sangat cantik. Tapi dia seperti terkekang oleh sebuah peraturan yang baginya abadi. Membuatnya terlihat sangat menyedihkan.”

>>>

Waktunya makan siang! Ya, istirahat tengah hari. Tapi sepertinya tidak bagi Jessica yang lupa waktu karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya Minseok mau mengajak Jessica makan bersama. Tapi karena melihat Jessica yang tenggelam dalam pekerjaannya, dia membatalkan niatnya.

“Kim Sajangnim,” sapa salah satu anak buahnya sekaligus saingan terberat Jessica, Choi Sooyoung.

Minseok membalasnya dengan senyum. Dia suka dengan Sooyoung. Bukannya cinta, tapi hanya sekedar perasaan kagum. Gadis itu senang bermain-main tapi serius dengan pekerjaannya. Seperti Jessica, pekerjaannya tidak pernah mengecewakan. Jika dipikir-pikir, Jessica dan Sooyoung pasti cocok satu sama lain. Tapi anehnya perang dingin terjadi diantara mereka.

“Tidak pergi makan siang?” tanya Minseok.

Sooyoung tersenyum tipis. “Aku baru saja selesai dengan pekerjaanku dan berniat pergi sekarang. Mau pergi bersama?”

“Ah tidak perlu,” tolak Minseok lalu melirik Jessica sekilas.

Sooyoung mendesah pelan. “Jessica sedang sibuk. Dia tidak akan mau diganggu jika sedang sibuk. Percuma mengajaknya.”

“Aku tahu.” Minseok menepuk bahu Sooyoung. “Aku tahu. Aku tahu tentang kalian.”

>>>

“Minseok bodoh! Menyebalkan! Jelek! Pengkhianat!” gerutu Jessica kesal sambil sesekali melirik keadaan diluar ruangannya. Pembatas dinding yang terbuat dari kaca, membuatnya bisa melihat Minseok dan Sooyoung sedang mengobrol bersama.

“Kim Minseok menyebalkan! Dia memberikanku pekerjaan sebanyak ini sedangkan Sooyoung malah asik mengobrol dengannya. Kejam! Ke—“

Jessica terdiam dan melirik handphonenya saat mendengar benda tipis itu berdering. Tangannya mengusap layar benda itu untuk membuka pesan yang masuk dari nomor asing.

Jessica Jung Sooyeon noona! Tebak siapa aku? Kau pasti tidak bisa menebak, kan? Jadi aku kasih tahu saja. Aku ini Park Chanyeol. Aku adalah pria tertampan, termanis, terimut yang pernah kau temui di hidupmu. Benar, kan?

Jessica mendesis membaca paragraf pertama pesan itu.

Jangan bingung bagaimana aku bisa tahu nomormu. Aku tahu dari kakakku karena aku ingin memberikan kartu kesempatan untuk menjadi modelku hari ini. Datang ke sini sekarang juga, atau kau akan menyesal!

Mengingat ia sering lupa menyimpan nomor teman-temannya, Jessica segera menyimpan nomor Chanyeol sebagai langkah pertama. Kemudian, dia membalasnya dengan gemas.

To: Park Chanyeol

Tidak! Dan tidak akan pernah!

Jessica mendesis setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Dia mengusap wajahnya sambil berpikir sejenak. Dia lapar. Tapi dia tidak terbiasa meninggalkan pekerjaannya yang belum berstatus ‘layak ditinggal sejenak’. Tapi saat mendengar dinding kaca ruangannya diketuk oleh Minseok, Jessica tahu dia harus meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk pergi makan siang.

“Semoga pekerjaanku akan baik-baik saja. Dan semoga Sooyoung tidak berbuat curang,” gerutunya pelan. Sedetik kemudian, dia mengetuk kepalanya. “Sooyoung bukan orang seperti itu, Sica! Berhenti berpikiran buruk tentangnya.”

>>>

Sooyoung melangkah dengan riang memasuki rumah makan dekat kantornya. Beberapa meja ditempati oleh teman-teman kerjanya. Dia melambaikan tangan ke teman-temannya lalu berlari ke barisan orang-orang mengantri untuk membeli makanan. Saat itu, dia baru ingat kalau dompetnya tertinggal di ruangannya. Dia segera keluar dari barisan dan berlari kembali ke kantornya.

Di tengah jalan, dia bertemu dengan Minseok dan Jessica yang ingin pergi ke tempat makan itu juga.

“Hei, ada yang ketinggalan?” tanya Jessica untuk sekedar berbasa-basi, meyakinkan Minseok kalau hubungan Jessica dan Sooyoung baik-baik saja. Walaupun Minseok juga tahu bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya.

Sooyoung tersenyum paksa. “Ya begitulah.”

“Oh, kami duluan, ya!” pamit Minseok.

Setelah memberikan senyuman terakhir, Sooyoung berlari ke depan lift. 5 menit kemudian, dia sudah berada di dekat ruangannya. Dia melirik ruangan Jessica sekilas sebelum membuka pintu ruangannya.

“Wow, pekerjaannya lumayan cepat juga,” gumam Sooyoung. “Aku harus lebih baik.”

Sooyoung membulatkan bibirnya saat melihat handphonenya ada di atas meja. Dia terkekeh pelan setelah menyadari seberapa cerobohnya dia jika sudah kelaparan. Saat dia mengambil handphonenya, terdengar suara debuman pelan dari bawah meja. Sooyoung mencoba melirik ke bawah meja. Tidak ada apapun. Dia menggeleng cepat saat otaknya mulai berpikir yang macam-macam.

Dia membuka laci kecil tempat ia menyimpan benda pribadi lalu mengambil dompetnya. Alis Sooyoung terangkat saat menyadari ada yang aneh dengan laci meja paling bawah. Dia membuka laci itu dan melihat map resmi yang asing baginya. Dia ingin memikirkan darimana map itu berasal. Tapi suara ribut dari perutnya membuatnya lupa dan memutuskan untuk segera kembali ke rumah makan tadi.

>>>

Jessica menghela napas lega setelah kembali duduk di kursinya. Laptopnya sudah kembali ia nyalakan. Sekarang dia tinggal membuka kembali map yang isinya sedang ia baca tadi. Mukanya memucat saat menyadari map itu tidak ada. Dia teringat Sooyoung tersenyum manis kepadanya saat dia sudah kembali dari ruangannya untuk mengambil dompet. Kalau dipikir-pikir, senyuman itu mencurigakan. Wajah Jessica pun memerah.

“Pasti Sooyoung yang mengambilnya!” geramnya.

Jessica menggebrak mejanya kesal seraya bangkit dan pergi ke ruangan Sooyoung. Tapi mengetuk atau meminta izin dulu, Jessica masuk ke dalam ruangan Sooyoung di saat Sooyoung sedang mendapat telepon penting. Sooyoung memicingkan matanya, melihat Jessica masuk ke ruangannya tanpa izin. Tapi dia tetap diam dan menjaga nada suaranya karena dia sedang mendapat telepon dari orang penting. Jessica melipat tangannya.

“Apa kamu tidak pernah diajari cara sopan untuk masuk ke ruangan orang lain? Apa kau tidak diajari cara mengetuk oleh orangtuamu?” desis Sooyoung, menjaga nada bicaranya tetap tenang, setelah ia selesai dengan teleponnya.

“Apa orangtuamu mengajarkanmu untuk berbuat curang? Apa orangtuamu tidak memberitahumu kalau cara curang itu sangatlah menjijikan?” balas Jessica.

Sooyoung menarik napas dalam. “Apa maksudmu?”

“Kembalikan map laporan keuanganku.”

“Apa?”

“Kau mendengarnya dengan jelas, Choi Sooyoung!!”

Sooyoung bangkit dari duduknya. “Kau pikir itu aku yang mengambilnya?!”

“Jika bukan kamu, siapa lagi? Hanya seorang Choi Sooyoung yang mempunyai kesempatan untuk melakukan itu!”

Mereka pun saling meneriaki satu sama lain. Jessica yang yakin kalau Sooyoung yang mengambilnya dan Sooyoung yang tidak terima dituduh oleh Jessica. Beberapa karyawan lain yang sedang bekerja mendengar itu dan berkumpul di depan ruangan Sooyoung untuk menonton pertengkaran 2 wanita itu. Minseok baru saja kembali dari toilet, menyeruak masuk ke dalam kumpulan orang itu dan sampai di tempat paling depan. Dia segera menyuruh orang-orang kembali ke tempat masing-masing lalu masuk ke dalam ruangan Sooyoung.

“Ada apa ini?” tanya Minseok bingung. Sooyoung dan Jessica memang tidak memiliki hubungan yang baik. Tapi mereka tidak pernah bertengkar secara langsung.

“Dia!” Jessica menunjuk Sooyoung geram yang langsung ditepis oleh Sooyoung. “Dia mengambil map laporan keuangan!” tuduh Jessica.

“Mana buktinya?!” balas Sooyoung tajam.

Jessica terdiam. Matanya menelusuri permukaan meja kerja Sooyoung. Dia berjalan ke samping Sooyoung dan mulai membuka laci-laci meja. Sooyoung semakin kesal melihat itu. Tepat saat Jessica hampir membuka laci terbawah Sooyoung mendorong Jessica hingga Jessica terjatuh.

“Kau tidak punya sopan santun, Jessica Jung!” bentak Sooyoung geram. “Berani-beraninya kau menuduhku padahal buktinya tidak ada! Dan kau seenaknya membuka laci-laci mejaku! Apa yang ku simpan adalah barang-barang yang ku anggap pribadi!”

Minseok mengacak asal rambutnya. Dia menarik Jessica bangkit lalu menggiringnya paksa kembali ke ruangannya.

“Aku benar-benar kecewa padamu, Jessica,” gumam Minseok pelan.

>>>

Wajah Jessica terlihat sangat suram. Hari ini, dia mendapat ceramah panjang dari Minseok. Minseok menekankan bahwa dia akan tetap bisa memecat Jessica jika Jessica membuatnya kecewa sekali lagi. Tidak peduli Jessica adalah sahabatnya atau tidak. Dan waktu yang diberikan oleh Minseok untuk menyelesaikan pekerjaan yang ia berikan sampai besok hari. Kalau map keuangan itu tidak berhasil Jessica temukan, Jessica tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya. Hari pertama ia kembali bekerja adalah hari terburuk.

“Annyeong, Jessica!” sapa Inyoung yang sedang bermain dengan anjing kecilnya yang di ruang tamu.

Jessica membalasnya dengan senyuman. Suami Inyoung duduk di sofa terdekat sambil membaca buku. Suaminya sempat mengedipkan matanya ke Jessica saat Jessica meliriknya. Jessica pun mengalihkan matanya sambil meringis pelan. Wajah Taewoo terlihat cabul jika sedang serius seperti itu. Berbeda saat pria itu melemparkan lelucon. Wajahnya sangat lucu.

“Kau tidak mendapatkan hari yang baik hari ini, ya?” tebak Inyoung sedih.

Jessica menghela napas dan duduk di lantai, di hadapan Inyoung sehingga anjing itu berada di antara mereka. Jessica mengelus anjing itu sambil mendesah berat.

“Hari terburuk,” tekan Jessica.

Inyoung menepuk lembut kepala Jessica. “Cerita pada kami. Anggap kami adalah orangtuamu. Kami bisa kok jadi orangtua yang baik. Kebetulan aku memang ingin sekali mempunyai anak perempuan. Tapi kenyataannya sampai aku menopause pun, aku tidak pernah hamil.”

Jessica tersenyum tipis dan memulai keluhannya tentang hari ini. Inyoung mendengarnya baik-baik. Sedangkan Taewoo masih sok sibuk membaca bukunya, padahal ia sibuk mendengarkan keluhan Jessica.

Jessica tersenyum setelah ia selesai bercerita. Sekarang rasa kesal dan sesaknya udah hilang. Dia sudah mulai berpikir positif. Dia berpamitan untuk pergi ke kamarnya. Jessica meletakkan tas dan berkas-berkasnya di meja kerjanya lalu masuk ke kamar mandi. Dia butuh merilekskan tubuhnya.

“Noona! Noona!” teriakan Park Chanyeol yang diikuti oleh suara ketukan pintu yang heboh pun terdengar. Tapi Jessica pura-pura tidak mendengarnya dan malah memasukkan kepalanya ke dalam air.

***

Jessica terbangun dengan tergesa-gesa. Dia panik karena sadar kalau dia ketiduran. Padahal dia harus menyelesaikan beberapa berkas lagi. Jessica mengecek jam di ponselnya. Dia mendengus pelan saat sadar dia terbangun tepat di tengah malam. Jessica memutuskan untuk mencuci muka dan minum air putih sebelum menyalakan laptopnya.

Jessica mengetukkan jari-jarinya saat dia tidak ada niat sedikitpun untuk mengerjakan pekerjaannya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar kamarnya. Matanya terpaku pada kotak yang berisi papan ouija. Sudah beberapa hari ini dia tidak memainkan papan itu. Dan mungkin saja hantu itu—Tiffany—bisa membantunya mencari map laporan keuangannya.

Setelah menyiapkan seluruh ‘barang wajib’, Jessica menarik napas dalam. Perlahan, dia memegang kayu penunjuk dan memutarnya di permukan papan.

“Tiffany? Kau ada disini? Aku ingin berbicara denganmu lewat papan ini,” kata Jessica. “Tiffany?”

Jessica tidak perlu menunggu selama pas pertama kali ia memainkan papan itu. Kayu penunjuk itu sudah bergerak sendiri dan mengarah ke tulisan ‘Yes’. Jessica tersenyum tipis.

HiWe are friend, right?” tanya Jessica ragu.

‘Yes’.

Jssica tersenyum senang. “Good.”

Kayu penunjuk itu bernunjuk ke per huruf. ‘H’, ‘E’, ‘L’, ‘P’. Jessica mengerutkan keningnya.

“Siapa? Kamu yang bantu aku? Atau aku yang yang bantu kamu?”

‘Y’, ‘O’, ‘U’.

Jessica terbelalak. “Kamu mau membantuku? Kau tahu apa masalahku?”

‘F’, ‘I’, ‘N’, ‘A’, ‘N’, ‘C’, ‘E’.

“Ya, itu! Kau tahu dimana map laporan keuanganku?”

‘S’, ‘O’. berputar-putar dulu sejenak, lalu kembali menunjuk ‘O’, ‘Y’, ‘O’, ‘U’, ‘N’, ‘G’.

Jessica menarik napas dalam. “Sooyoung! Aku tahu itu!”

‘1’, ‘2’, ‘1’, ‘S’, ‘E’, ‘O’, ‘U’, ‘L’, ‘P’, ‘A’, ‘R’, ‘K’.

Jessica terdiam melihatnya. Setelah mencoba mencernanya sejenak, Jessica menebaknya dengan ragu, “121 Seoul Park?”

‘Yes’.

***

Jessica datang ke kantornya dengan tergesa-gesa. Setelah meletakkan tas di mejanya, Jessica pergi ke ruangan Minseok dan menunggu kedatangan Minseok di sana. Minseok terkejut melihat Jessica sudah berada di ruangannya. Tanpa membiarkan Minseok menaruh tasnya terlebih dahulu, Jessica menarik Minseok ke ruangan Sooyoung.

“Ada apa ini? Kau masih tidak percaya padaku?” desis Sooyoung.

Jessica mengacuhkan desisan Sooyoung. Jessica mencoba membuka laci terakhir yang tidak sempat ia buka. Kali ini, Sooyoung tidak berbuat apa-apa. Dia terlalu kaget saat melihat Jessica mengeluarkan map asing kemarin yang ia lihat ada di lacinya. Melihat kilatan di mata Jessica, Sooyoung tahu itu adalah map yang dicari oleh Jessica.

Bukan salahku kalau map itu kabur dari Jessica dan memilih untuk bersamaku, kan?, pikir Sooyoung kesal.

Sooyoung mengalihkan matanya sehingga matanya bertemu dengan mata Minseok. Dia menelan air liurnya. Dia tahu dia sedang berada di posisi yang buruk.

Mati kau, Sooyoung!

>>>

Jessica tersenyum puas saat ia dan Sooyoung keluar dari ruangan Minseok. Sooyoung mendapatkan peringatan sedangkan peringatan yang kemarin dijatuhkan kepadanya Jessica, ditarik kembali.

“Ah!”

Jessica berteriak kaget saat tangannya ditahan oleh Sooyoung. Dia menoleh dan menatap Sooyoung kesal. Tapi wajah Sooyoung lebih mengerikan.

“Aku tidak menyangka kau berani memfitnahku, Jessica Jung. Kalau kau benar-benar menginginkan posisi itu, harusnya kita bisa bersaing dengan cara bersih,” geram Sooyoung pelan.

Jessica menjilat bibirnya gemas. “Siapa yang memfitnahmu? Jelas-jelas buktinya ada!”

“Aku tidak tahu kapan kau meletakkan map itu di laci mejaku. Tapi terserahlah. Aku tidak peduli. Kalau kau mau posisi itu, oke aku akan mundur.”

Sooyoung meninggalkan Jessica dengan langkah kesal. Sedangkan Jessica terdiam di tempat, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

>>>

Jessica tersentak dari lamunannya saat ponselnya berdering nyaring. Dia mendesah pelan saat melihat nama peneleponnya. Luhan. Tumben sekali artis yang juga sahabat mantan kekasihnya itu meneleponnya kecuali jika ada keperluan yang sangat amat penting.

“Yoboseyo, Luhan-ssi.”

“Yoboseyo, Sica-ya~”

Jessica kembali mendesah setelah mendengar Luhan memanggilnya akrab. Padahal Jessica sudah berkali-kali protes. Tapi orang antik itu memang tidak pernah mau mendengarkan orang lain. Nyatanya, Jessica memang sudah terbiasa tinggal di lingkungan yang dipenuhi oleh orang antik sekarang.

“Ada apa, Luhan-ssi? Aku tersanjung bisa ditelepon oleh artis terkenal,” tanya Jessica, sedikit mencibir.

Luhan tertawa. “Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Aku merasa ada yang bisa ku bantu.”

“Tentang?”

“Entahlah. Mungkin… hantu?”

Napas Jessica tercekat mendengarnya. Apa Luhan tahu soal kegiatan Jessica akhir-akhir ini di malam hari? Jessica menggigit bibirnya.

“K-kau bicara apa sih?” elak Jessica sambil terkekeh paksa.

“Aku bisa merasakannya. Ada yang bisa ku bantu?”

Jessica teringat pesan terakhir Tiffany. Dia menimbang-nimbang apa dia bisa menceritakannya dengan Luhan atau tidak. Dia memilih untuk menyimpannya.

“Aku memang sedang membutuhkan bantuan, tapi bukan tentang hantu. Sebenarnya aku sedang mencari tahu soal 121 Seoul Park. Teman-temanku membicarakan tentang itu pagi ini. Tapi aku tidak mengerti maksud 121 Seoul Park. Kau tahu?” ujar Jessica, berbohong.

Jessica menggigit bibirnya mendengar Luhan menghela napas. Kalimat yang terlontar dari Luhan, membuat Jessica tidak bisa bernapas.

“Jess, itu adalah hutan di pinggir kota Seoul. Tapi dilarang untuk dimasuki oleh orang umum.”

=== The Doorway ===

Yey aku kembali~

Hiks maaf ya aku telat banget ngeupdate nih ff. Padahal aku janjinya tanggal 8 januari loh T.T masalahnya pas itu aku ga tau kalo aku bakal langsung sibuk dari sejak pertama masuk sekolah. Sekarang udah mulai kurang tidur lagi. Kecapekan lagi. Hua~~

Lanjutannya aku coba secepatnya deh ya kalo sempet.

Yang baca, wajib kasih komentar. Bukannya aku haus akan komentar. Tapi coba deh kamu buat ff yang genrenya bukan kamu banget terus yang komentar tuh dikit. Rasanya kayak gagal loh. Jadi ga semangat untuk ngebuat lanjutannya. Lagian apa susahnya ngasih komentar? Tinggal ketik huruf doang kok. Kecuali kalo kamu ga ngerti caranya, baru deh. Tapi masa iya di jaman sekarang ada yang ga ngerti cara buat komentar?

Advertisements

12 responses to “The Doorway — Chapter 2

  1. penasaran apa maksud tiffany
    kayaknya jessica emang nggak bisa kekuar dari permainan itu
    kayaknya akan ada korban

  2. Ferong~
    ffmu yang the doorway daebak banget!!
    Empat jempol buatmu yang sukses buat ff itu!!
    Luhan punya indra keenam? Woo daebak!
    Nah lo? Si kris punya musuh hantu? Tiffany kah itu?
    Huft~
    eon sampe bingung mau komen apa lg coz ffmu keren bangettt ngett*alay*
    tahu gak? Eon tahan napas pas baca bagian terakhir, pas luhan bilang itu adalah hutan terlarang, rasanya gimana gt..menegangkan banget..
    Seperti biasa, tulisanmu selalu rapi dan keren banget, tapi tetep terasa ringan, gak berat buat di cerna orang oon kayak eon:D
    Eon sempetin komen ff ini di wp coz kalau lewat sms rasanya kurang gimana gt..
    Lanjutnya cepet ya far, ditunggu loh..
    Ffmu yang lain juga di lanjut dong, penasaran belum ada yang tamat tuh u.u
    yaudah ah komennya nanti kebanyakan. Inget, di lanjut far..

  3. Unni-ya~ lanjutannya ditunggu, ne^^ Dan, kalo bisa akhirnya dibuat jadi chanyeol-jessica couple dong~ #maksa
    Em, untuk chapter ini horrornya kurang greget unni.. Mungkin bisa ditambah pembunuhan? Eh jangan deh-_-
    Pokoknya ff ini daebak! Aku juga nunggu kelanjutan ff unni lainnya ne! Hwaiting! ‘-‘)OoOoo9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s