Star Star Star — Scratch 1

Author : Lee Hyura

Title : Star Star Star

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Length : Oneshoot

Cast :

  • EXO Kai
  • EXO Luhan
  • SNSD Jessica
  • SNSD Yuri

Note : mari kita coba hal yang berbeda.

  1. Jessica jago ngelukis. Dia bahkan masuk jurusan fine art.
  2. Yuri jadi orang serius bukan dorky.
  3. Luhan itu perfeksionis. Careless. Dingin.
  4. Kai.. well, tidak ada yang berbeda dari dia. Hehe ._.

☆☆☆

Malam ini, aku kembali menatap langit.
Berdoa dengan harapan yang sama.
Berdoa dengan hati yang sama.
Berdoa untuk orang yang sama.
Dan ku bisikkan doa itu kepada bintang

☆☆☆

Soojung menggedor pintu kamar kakaknya sekali lagi sambil berteriak kesal. Sehun dan Jongin yang melihatnya, hanya bisa menggelengkan kepala.

“Yah, Eonni! Cepat keluar atau akan ku hancurkan pintu ini!” teriak Soojung mengancam.

Seperdetik kemudian, pintu itu terbuka dan memperlihatkan wajah Sooyeon yang ketakutan. Tentu saja, dia takut adiknya bersungguh-sungguh akan menghancurkan pintunya dan itu bukanlah hal yang baik.

“Aku sudah siap. Puas?” runtuk Sooyeon.

Soojung tidak menjawab tapi tersenyum puas melihat penampilan kakaknya. Dia melirik Jongin yang terdiam di tempatnya sambil menunduk seakan tidak berani menatap Sooyeon. Soojung berlari ke arah Sehun dan menarik pemuda itu menuju mobil Jongin yang terparkir di depan rumah.

“Ingat pembicaraan kita tentang gunanya berdandan?” tanya Jongin tiba-tiba, tanpa mengangkat wajahnya. Sepertinya dia masih enggan menatap Sooyeon.

“Yea? Aku ingat perdebatan bodoh itu. Kenapa?”

“Apa alasan para wanita berdandan?”

Sooyeon memutar matanya kesal. “Oh, please. Jangan mulai lagi, Jongin-ah…”

Jongin menghampiri Sooyeon tanpa mendongak. Dia membalikkan badan Sooyeon dan mendorong Sooyeon masuk ke dalam kamarnya lagi.

“Jangan berdandan terlalu cantik, Noona. Kau hanya boleh terlihat cantik untukku seorang,” gumam Jongin pelan.

Pipi Sooyeon memerah mendengarnya.

>>>

Langkah keempat manusia itu harus terhenti saat mereka mendengar suara yang tidak asing. Benar saja, seorang wanita cantik dengan penampilan feminim namun bertingkah seperti anak kecil itu berlari ke arah mereka sambil memanggil nama keempatnya. Teman prianya terlihat berjalan dengan tenang di belakang wanita itu.

“Sooyeon, Soojung, Jongin, Sehun!” seru Yoona.

“Aih, kenapa kau bisa ada di sini?” bingung Jongin.

Yoona menggembungkan pipinya. “Suho itu sahabat pengantin prianya, tau! Jadi Suho mengajakku ke sini.”

“Ya, itu benar,” timpal Suho yang kini sudah sampai di samping Yoona.

“Kenapa kalian tidak memberitahuku?” tanya Sooyeon, protes.

Suho menyeringai. “Kami sudah memberitahumu, Sooyeonnie. Kau lupa? Atau kau cemburu?”

Jongin kesal mendengarnya. Dia menarik Sooyeon agar sedikit di belakangnya, menjauhkan Sooyeon dari Suho. Suho tersenyum akibat menahan tawa melihatnya.

Dasar anak kecil, batin Suho.

“Ey, sekarang kalian jadi semakin mesra, ya? Syukurlah kalau begitu. Aku tidak perlu mengurus masalah hati Sooyeon. Dia merepotkan sekali jika sudah urusan cinta,” cibir Yoona, menyeringai tipis.

Pipi Sooyeon merona karenanya. “Yoona—“

“Tenang saja, Eonni. Setidaknya kau tidak berurusan dengan Jongin, kan? Jongin lebih menyusahkan dari Sooyeon eonni,” sela Soojung cepat.

Jongin menoyor kepala Soojung hingga membuat gadis itu meringis kencang. Soojung tidak membalas karena ia tahu jika ia membalas, akan terjadi sebuah perang di depan gereja. Dan itu sangat tidak elit.

“Anio. Sooyeon lebih menyusahkan. Kau terlalu sibuk dengan sekolahmu sampai tidak bisa meneliti hati Sooyeon lebih jauh sih! Makanya kau berani berbicara seperti itu,” bantah Yoona.

Soojung mendelik kesal. “Dengan naluri seorang psikologi dan kedekatanku dengan kedua orang ini, aku tahu benar mana yang lebih menyusahkan. Sementara kau hanya mengurusi Sooyeon eonni. Makanya kau tidak tahu seberapa menyusahkannya Jongin!”

Yoona dan Soojung saling menatap tajam. Melihat itu, Jongin segera menarik Sooyeon masuk ke dalam gereja. Dia sibuk menegaskan dirinya tidak mengenal Yoona dan Soojung jika perang di antara mereka benar-benar terjadi. Ayolah, ini di depan tempat suci dan di hari yang suci, yaitu hari pernikahan. Jika kedua gadis itu tetap mencetuskan perang, Jongin tidak mau dia dan Sooyeon dianggap mempunyai hubungan dengan mereka. Memalukan! Sementara Sehun dan Suho tidak bisa pergi kemana pun. Tidak mungkin mereka meninggalkan kedua gadis itu dan membiarkan mereka menikmati peperangan konyol mereka. Tidak sekarang. Tidak saat mereka berada di tempat umum.

***

Sooyeon memasuki kawasan sekolah tempat ia menghabiskan masa remajanya itu. Dia datang sebagai wali Jung Soojung dalam upacara kelulusan adiknya itu. Kebetulan dia sedang libur semester jadi dia datang dengan senang hati. Yah daripada tidak melakukan apapun di rumah, lebih baik menghabiskan waktu di sekolah adiknya. Bertemu dengan Jongin hanyalah bonus.

Sooyeon dan Soojung mengambil tempat duduk di tengah. Tepatnya di samping Sehun dan Jongin duduk. Soojung menarik Jongin bangkit agar dia bisa duduk di samping Sehun. Kali ini, Jongin tidak protes. Toh dia juga tidak berharap dia duduk di antara Sehun dan Soojung, sedangkan Soojung berada di antara dia dan Sooyeon. Oh, itu adalah ide terburuk. Jongin biarkan Sooyeon duduk di antara dia dan Soojung

Sooyeon melirik Jongin saat sadar bahwa kekasihnya itu memandangnya sejak ia duduk di kursi itu. Wajahnya menjadi sedikit sebal.

“Ada yang aneh dengan wajahku? Aku menuruti permintaanmu kok. Aku hanya memakai make-up tipis,” gerutu Sooyeon.

“Jeongmal? Tapi kau masih tetap terlalu cantik hari ini,” tanggap Jongin, nadanya sedikit merajuk.

Sooyeon mendorong kening Jongin dengan telunjuknya. “Berhenti merayuku! Dasar anak kecil!”

“Setidaknya aku adalah anak kecil yang mendapatkan hatimu.”

Sooyeon mengerjap mendengarnya. Dia membuang muka agar Jongin tidak bisa melihat wajah merahnya. Itu membuat Soojung menoleh dan menatap wajah kakaknya bingung.

“Aigo, Jongin-ah… apa yang kau perbuat hingga wajah kakakku semerah ini?” gumam Soojung seakan prihatin.

Sooyeon mengetuk kepala Soojung. “Babo Jung!”

>>>

Saat mereka keluar dari gedung tempat diselenggarakan upacara kelulusan, Soojung dan teman-teman seangkatannya bersorak girang. Mereka melompat riang bersama-sama. Ada beberapa yang berpelukan. Sisanya saling bertukar kata selamat.

“Aigo, sepertinya setelah ini, kita akan terpisah walaupun diterima di kampus yang sama,” gerutu Soojung.

“Fakultasmu dekat dengan Sehun, kan? Jadi tenang saja,” kata Sooyeon sambil menepuk kepala Soojung.

Seperti yang sudah diperkirakan, Soojung masuk ke jurusan psikologi. Sehun diterima di jurusan teknik elektro. Sementara Jongin memilih jurusan public relation. Dia memilih itu karena diapikir jurusan itu yang paling mudah. Dasar Jongin…

Soojung merengut. “Tapi tetap saja berbeda..”

“Intinya masih bisa saling bertemu.”

Seorang teman sekelas Soojung datang dan menarik Soojung untuk foto bersama. Sooyeon hanya tersenyum tipis melihatnya. Dia tersentak saat merasa ada yang menggenggam tangannya.

“Noona, aku lapar,” rengek Jongin sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sooyeon.

Sooyeon tertawa.

***

Liburan semester adalah salah satu hal yang dicintai oleh para mahasiswa dan mahasiswi. Dimana mereka bisa bersantai-santai dan menikmati hidup mereka tanpa harus memikirkan tugas-tugas kuliahnya. Tapi itu bukanlah apa yang dipikirkan oleh gadis yang satu ini. Dia malah menghabiskan waktunya dengan bekerjaparttime di berbagai tempat.

“Liburan adalah waktunya untuk mendapatkan uang lebih banyak.”

Itulah quotenya. Ini semua sudah tertanam di pikirannya sejak orangtuanya bunuh diri. Ayahnya bunuh diri karena tidak terima kenyataan bahwa perusahaannya bangkrut. Ibunya bunuh diri karena tidak sanggup harus dikejar oleh para penagih uang saat dia saja bingung bagaimana cara mendapatkan uang. Itulah yang membangun karakternya menjadi seperti itu.

“Jika aku mempunyai uang, aku tidak mempunyai alasan untuk menyerah dan meninggalkan dunia ini, kan? Bunuh diri hanya untuk pecundang. Ya, seperti orangtuaku. Dan aku bukan salah satu dari mereka.”

Itu pula salah satu pemikirannya yang membuatnya berpikir uang adalah segalanya. Apalagi dia mempunyai seorang nenek yang kesehatannya bisa drop setiap saat. Dia harus mendapatkan uang yang banyak. Untuk membayar hutang orangtuanya, untuk membeli kebutuhan hidupnya dan untuk neneknya.

Jangan pikir karena dia sibuk bekerja untuk mengumpulkan uang, dia mengesampingkan pendidikannya. Tentu saja tidak. Buktinya berbagai piala dan penghargaan lainnya memenuhi kamarnya sehingga terkadang dia muak melihatnya. Terlalu banyak hingga menyita tempat di kamarnya yang sempit. Kalau bukan karena barang-barang itu yang dapat membuat neneknya tersenyum, mungkin semuanya sudah berada entah dimana karena dia jual.

Dia juga mendapatkan beasiswa penuh dari kampusnya. Dia digratiskan dari segala pembiayaan, mendapatkan uang saku dan mendapatkan bantuan financial untuk mengerjakan semua tugas-tugasnya. Tidak aneh jika dia menjadi asisten dosennya. Dan karena kepintarannya, dia berhasil menyingkat kuliahnya sehingga dia bisa lulus tahun ini.

Terkadang dia berpikir dunia sangat tidak adil. Di saat dia harus menghabiskan liburannya untuk bekerja, gadis yang seumuran atau tidak umurnya dekat dengannya, menghabiskan waktu liburannya bersama-sama sahabat serta kekasihnya. Sahabat? Sepertinya dia tidak punya. Tapi jika sekedar orang-orang yang berlari kepadanya untuk meminta bantuan mengerjakan tugas, itu banyak. Kekasih? Kata ‘pria’ saja tidak ada di kamusnya. Mungkin ini adalah efek samping karena dia terlalu fokus untuk meraih semua impiannya dan menjadi yang terbaik.

“Kwon Yuri!”

Gadis itu terlonjak dari tempatnya melamun sambil menatap 4 remaja yang asik bercanda di meja sudut ruangan karena suara bentakan managernya. Para remaja itu terlihat sangat menikmati hidup tanpa ada masalah berarti. Gadis itu menjadi melamun, memikirkan bagaimana hidupnya jika ia bisa sesantai mereka.

Yuri segera membungkukkan badannya kepada managernya. “Oh jwoisonghamnida.”

Yuri berlari kecil ke pintu untuk menyambut pelanggan baru dan membawa mereka ke mejanya.

Ah, Yuri… jangan bermimpi. Mimpi hanya akan membuatmu sakit, batinnya.

***

“Noona, ayo kita kencan!” ajak Jongin saat Sooyeon baru saja mengangkat telepon darinya.

Sooyeon mengakat alisnya bingung. “Apa sekarang sudah terlalu malam?”

“Anio. Hanya berjalan-jalan sebentar saja. Bagaimana?”

“Tapi di luar dingin sekali, Jongin-ah…”

Tentu saja, saat itu masih akhir musim dingin. Kurang beberapa hari sebelum memasuki musim semi. Suhu di malam hari masih sangat dingin. Banyak orang lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di balik selimut daripada harus memakai pakaian berlapis-lapis untuk berkeliling di malam yang dingin.

“Pasti ada sesuatu, ya?” tebak Sooyeon, sedikit berharap.

“Esh, jangan berharap! Aku bosan di rumah terus. Makanya aku mengajakmu berkeliling. Tapi kalau kau tidak, ya sudah—“

“Aku mau!”

>>>

Sooyeon kembali berusaha mensejajari langkah Jongin yang cepat. Frustasi, dia menarik tangan Jongin kesal. Jongin tersenyum kecil. Tanpa Sooyeon katakan, Jongin sudah tahu apa yang akan diprotes oleh Sooyeon. Jadi langkahnya pun diperlambat.

“Kita mau kemana?” tanya Sooyeon.

Jongin mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu. Mungkin membeli game baru?”

“Aku serius!”

“Aku juga serius!”

Sooyeon melepaskan tangannya dan melipat tangannya di dada. Jongin menoleh bingung. Melihat Sooyeon yang malah membuang muka, Jongin tertawa. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kalung berbandul kunci. Dia menarik tangan Sooyeon dan memperlihatkannya di depan wajah Sooyeon.

“Eotte?” tanya Jongin sambil mengangkat alisnya jahil.

Sooyeon menyentuh bandulnya. “Kenapa harus kunci? Apa kamu juga punya kalung tapi berbandul gembok?”

Jongin mengerutkan keningnya. “Ey, kau terlalu banyak menonton drama sepertinya. Aku hanya membeli kalung ini tanpa membeli kalung yang lain. Ini bukan kalung couple.”

“Ku kira..” runtuk Sooyeon lalu mengerucutkan bibirnya.

Jongin melihat Sooyeon masih sibuk mengamati kalung itu. Sooyeon mendongak, terima kasih untuk perbedaan tinggi mereka yang lumayan berarti. Dia kesal karena sepertinya Jongin tidak berniat untuk memakaikannya untuknya. Seakan bisa membaca pikiran Sooyeon, Jongin menggeleng.

“Tidak sekarang. Aku tidak mau sok romantis di tempat umum. Tidak elit,” kata Jongin.

Sooyeon mendorong dada Jongin kesal yang dibalas dengan tawa Jongin. Jongin menggenggam kalung dengan tangan kirinya sedangkan kanannya digunakan untuk menggenggam tangan Sooyeon, menarik gadis itu menyebrang jalan. Saat sampai di sebrang, Jongin terlihat kebingungan. Dia melirik ke belakang. Oh ternyata kalung itu terjatuh di tengah jalan. Untunglah jalan itu sepi jadi Jongin melepas tangan Sooyeon dan kembali ke tengah jalan.

Cahaya terang berwarna kuning menerpa tubuh Jongin dan membuat Sooyeon seakan kehilangan oksigennya. Cahaya itu berasal dari sebuah mobil yang melaju menuju Jongin.

“Jongin!” teriak Sooyeon panik.

Terlambat.

>>>

Pria itu memainkan gelas yang berisi cairan gin lalu mendesah pelan. Temannya mengangkat alisnya bingung. Tidak biasanya dia begitu.

“Luhan, ada apa?” tanya Yixing. Ah tidak, panggil dia Lay. Dia adalah seorang model.

Pria imut itu tersenyum tipis. “Aku bosan.”

“Kita bisa pergi mencari mainan sekarang kalau kau mau. Kau bisa memilih sesuka hati,” tanggap Lay santai.

Luhan meletakkan gelasnya di meja kemudian bangkit. Lay mendongak karena tidak menyangka Luhan akan berdiri. Luhan memberikannya gelengan kepala lalu pergi keluar dari ruangan pesta. Saat itu Luhan sedang berada di salah satu pesta kliennya. Dia adalah seorang Event Organizer yang cukup handal walaupun ia masih kuliah tahun terakhir. Tentu saja Lay adalah rekan kerja terbaiknya. Itu juga jika Lay tidak disibukkan dengan jadwal pemotretan.

Luhan menuruni tangga, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Dia mengeluarkan tangan kanannya bersama kunci mobilnya. Bunyi ‘bip’ terdengar setelah dia menekan tombol autolock mobilnya. Kini tangan kirinya yang keluar bersama handphonenya. Dia mencari kontak dengan nama Lay dan mengetik pesan untuk pria itu bahwa dia pulang duluan.

Turn the radio on,” katanya lumayan keras setelah ia menyalakan mobilnya.

Mesin automatik mobilnya merespon kata-katanya sehingga musik dari gelombang radio yang ditangkap oleh mobilnya pun terdengar. Sebenarnya dia tidak mendengarkan musik itu. Hanya saja dia tidak mau merasa sepi. Dia sangat berharap musik itu bisa menghapus rasa sepi.

Go home,” katanya lagi. Layar navigasi yang menuju rumahnya pun menyala.

Luhan menggas mobilnya sambil mendesah kecewa. Suara dari radio tidak bisa menghilangkan rasa kesepiannya. Sebenarnya dia bingung apa yang membuatnya merasa sepi. Hidupnya sempurna. Dia punya segalanya. Jika dia tidak punya sesuatu, dia tinggal menyuruh pelayannya dan keesokan harinya, benda itu sudah ada di hadapannya.

“Nah! Masalah yang membuat hidup kita tidak terasa bosan!”

Luhan tersenyum kecil saat mengingat kata-kata gadis yang ia temui beberapa hari yang lalu. Dia tidak sengaja bertemu dengan gadis itu karena dia hampir menabrak neneknya. Oke, itu bukan salah Luhan. Tapi itu salah neneknya yang menyebrang seenaknya. Untung saja Luhan bisa cepat tanggap sehingga ia tidak melukai nenek itu sedikitpun. Tapi nenek itu tetap Luhan bawa ke klinik terdekat untuk mengecek luka yang mungkin saja ada. Sambil menunggu nenek gadis itu selesai diperiksa, Luhan mengajak gadis itu membeli minuman. Mereka pun berbincang ringan tentang kehidupan mereka. Satu hal yang baru ia sadari dari gadis itu, gadis itu sangat cerdas.

Luhan masih ingat bagaimana cara Yuri menatapnya, memperhatikan dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Walaupun Luhan selalu mendapatkan perlakuan itu dari para wanita, tapi Luhan tetap tidak bisa terbiasa dengan itu. Tapi Yuri melakukan itu dengan wajah polos, so it’s okay. Setidaknya itu tidak berefek apapun pada Luhan.

“Siapa namanya? Hm, Kwon Yuri? Si anak jenius itu?” gumamnya.

Luhan tertawa kecil. Dia tidak menyangka si anak jenius itu bisa juga terpesona dengannya. Setidaknya itu adalah salah satu bukti bahwa si jenius masih normal.

Luhan terbelalak saat melihat ada seseorang yang menyebrang seenaknya. Terlambat menginjak rem, mobilnya menghantam orang itu. Tidak terlalu keras. Namun itu tetap membuat orang itu terluka. Luhan terdiam dan tak melakukan apapun untuk beberapa detik pertama. Untuk bernapas saja, dia tidak bisa.

Astaga, bagaimana kau bisa melakukan ini sampai 2 kali dalam seminggu? Kau perlu mengikuti tes mengemudi sekali lagi, Luhan, batin Luhan frustasi.

>>>

Luhan menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata, mencoba merilekskan dirinya. Tapi tangisan gadis yang duduk di sampingnya, membuatnya semakin frustasi. Alisnya bergetar karena kesal.

“Bisakah kau berhenti menangis? Aku yakin dia tidak akan meninggal!” kesal Luhan.

Gadis itu menoleh dan menunjuk Luhan. Bahkan telunjuknya akan menyentuh hidung Luhan jika Luhan tidak memundurkan kepalanya. Luhan meringis melihat seberapa kacaunya wajah gadis itu karena menangis.

“Aku tidak akan menangis jika kau tidak menabraknya!” bentak gadis itu.

Luhan menggeserkan tubuhnya menjauh dari gadis itu lalu memijat keningnya lembut. Efek alkohol yang ia minum saat pesta tadi membuatnya sedikit pusing. Masalah ini membuatnya semakin pusing. Suara nyaring yang menusuk telinga milik gadis itu melengkapi penderitaan Luhan malam ini.

“Itu salah pacarmu yang menyebrang seenaknya. Kalau tidak, aku juga tidak akan menabraknya. Jadi berhenti menyalahkanku, nona!” protes Luhan.

Gadis itu menatap Luhan penuh amarah. Takut perdebatan lainnya akan terjadi, Luhan bangkit dan memohon diri. Tapi gadis itu melarangnya untuk pergi. Luhan memberikan kartu namanya untuk meyakinkan gadis itu. Awalnya gadis itu tetap ingin menghadang Luhan untuk pulang. Akan tetapi saat teman-teman gadis itu datang, gadis itu mengizinkan Luhan untuk pulang.

“Gadis yang menyusahkan,” gerutu Luhan setelah dia sudah menjauh.

Luhan sedikit kaget saat melihat teman satu jurusan dan seangkatan dengannya itu berlari panik menghampiri gadis menyebalkan itu. Bahkan temannya tidak menyadari kehadiran Luhan di sana.

“Loh, Yoona kenal dengan mereka?” pikir Luhan bingung.

***

Yoona menatap sahabatnya penuh rasa kasian. Sudah hampir seharian Sooyeon berada di rumah sakit. Dia tidak mau pulang, apalagi makan. Gadis itu seakan tidak mempunyai jiwa. Hanya duduk di samping kasur tempat Jongin terbaring sejak dokter membolehkan mereka masuk ke kamar rawat Jongin.

“Sooyeon-ah, kau harus ingat bahwa punya kehidupan di luar sana. Kau tidak boleh lupa,” ujar Yoona sambil memeluk Sooyeon dari belakang.

Sooyeon menggeleng. “Aku tidak mau. Aku takut Jongin akan seperti Hyoyeon. Aku tidak mau kehilangan Jongin. Tidak setelah aku kehilangan Hyoyeon karena alasan yang sama. Aku tidak mau.”

“Tapi Sooyeon, Jongin akan sedih kalau kau tidak makan.”

“Aku tidak nafsu untuk makan.”

“Sooyeon… kalau kau sakit, kau tidak akan bisa mengurus Jongin. Lagipula keluarga Jongin bisa menggantikanmu selama kau tidak bisa berada di sini. Ku mohon,” mohon Yoona.

Sooyeon mengangguk pada akhirnya.

***

Sudah hari ketiga, Jongin belum juga sadarkan diri. Sooyeon jadi tidak bisa fokus pada kuliahnya. Sebenarnya pria yang menabrak Jongin sudah membayar semua administrasi Jongin. Entah bagaimana caranya, pihak rumah sakit sampai memastikan keluarga Jongin tidak perlu membayar sepersen pun untuk mengobatan Jongin. Tapi jujur, Sooyeon tidak mau tahu soal itu. Jika pihak rumah sakit bisa menjamin Jongin akan baik-baik saja, dia sudah bersyukur.

Hari ini dia diminta untuk menjemput Yoona karena Yoona juga ingin menjenguk Jongin. Katanya jika Sooyeon tidak menjemputnya, Yoona akan tetap ditahan oleh temannya untuk menyelesaikan proyek mereka. Mau tak mau, Sooyeon mengikuti permintaan Yoona. Tidak sulit untuk menemukan Yoona karena Yoona pasti berada di perpustakaan fakultasnya.

“Yoona-ya!” seru Sooyeon saat melihat Yoona yang sedang berdiskusi dengan temannya.

Sooyeon mengerutkan keningnya saat dia merasa seperti kenal dengan pria yang sedang berdiskusi dengan Yoona. Mata Sooyeon terbelalak saat ia ingat siapa pria itu. Pria itu adalah pria yang menabrak Jongin!

“Hei, Sooyeon-ah~ kenapa wajahmu horror seperti itu?” tanya Yoona bingung. Yoona mengikuti arah tatapan Sooyeon dan mengernyit karena Luhan lah yang sedang ditatap oleh Sooyeon.

“Kau kenal dengannya?” tanya Sooyeon.

Pria itu seakan tidak menyadari kehadiran Sooyeon, karena buktinya pria itu tetap asik dengan laptopnya.

“Luhan?” tanya Yoona meyakinkan. “Dia teman satu proyekku. Ada apa?”

“Dia yang menabrak Jongin!”

Yoona menoleh kaget. Dia menutup laptop Luhan agar perhatian Luhan bisa teralih. Luhan terlihat bingung melihat wajah kaget Yoona. Saat dia menoleh dan matanya bertemu dengan mata Sooyeon, dia terbelalak kaget.

“Kamu!” seru Luhan kaget. “Gadis menyebalkan itu!”

Sooyeon menggertakkan giginya kesal. “Apa?”

“A-ani.. Yoona, aku pergi dulu.”

Sooyeon terbelalak mendengarnya. “E-eh!”

Terlambat. Luhan sudah pergi.

“Kau pasti salah. Luhan itu pintar mengemudikan mobil. Dia juga sangat berhati-hati. Dia itu perfeksionis, Sooyeon-ah. Tidak mungkin dia menabrak Jongin,” gumam Yoona tak yakin.

Sooyeon menatapnya tajam. “Aku tidak bohong!”

>>>

Salah seorang suster mengatakan bahwa Jongin sudah dipindahkan dari ICU ke ruang rawat. Itu artinya Jongin sudah sadar dan kondisinya sudah tidak bisa dikatakan gawat. Yoona dan Sooyeon membuka pintu kamar rawat Jongin yang baru. Kamar itu terdengar sangat berisik. Terdengar suara tawa orangtua Jongin, sehun dan… tentu saja Jongin. Jantung Sooyeon berdetak kencang mendengarnya. Suara yang ia rindukan.

“Jongin-ah!” pekik Sooyeon girang sambil memeluk Jongin erat.

Jongin merespon dengan kaget. “N-noona… kenapa kau memelukku?”

Sooyeon melepaskan pelukannya sambil merengut. “Kau tidak suka?”

Jongin menggaruk kepalanya bingung. “Tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu, tapi aku tidak terbiasa. Bagaimana pun, Hyoyeon noona belum lama meninggal. Jadi—“

“Hyoyeon?!” pekik semua orang di ruangan itu selain Jongin.

Jongin mengidik kaget karenanya. Ada apa dengan semua orang?

☆☆☆

Awalnya aku mau make Seohyun. Dia cocok sama karakter ceweknya. Tapi aku ngerasa lebih sreg sama Yuri. Dan untuk Luhan, aku sebenernya bosen castnya Luhan mulu. Tapi Luhan yang paling cocok. Mau gimana lagi? -,-

Maaf untuk typo. Saya lagi males ngedit. Wkwkwk..

Mau curhat dikit. Kenapa sih banyak yang mikir peran di cewek ketiga ini tuh berkarakter jelek? Aku malah suka loh sama karakter dia yang kebetulan kini jadi karakter si Yuri di ff ini. Tenang aja aku ga akan buat karakter ‘bitch’. Sejelek-jeleknya karakter cast ffku, paling jelek pasti karakternya Jessica ._.v

Poster menyusul. Lagi ga mood ngedit. Wk :3

Advertisements

13 responses to “Star Star Star — Scratch 1

  1. AAAAAAAAAAAA!!!!! ENDINGNYA BIKIN GREGET!!
    oh tidak.. amnesia.
    Bagiku penyakit paling menyebalkan ya amnesia, kasian orang yang dilupain tau T.T
    inilah yang kubenci dari FF yang ada cast yang amnesia, bikin greget.
    Oh no.. Luhan kau lulus mengemudi tidak? atau mau sekolah kursus mengemudi sama spongebob yang ga lulus-lulus itu -_-
    Kuharap Jongin segera ingat kembali dan back again with Jessica kekeke (?)
    Part 1 cetar membahana , nunggu part selanjutnya.
    Hwaiting!

    • bener. nyesek itu yg dilupain T-T tapi setidaknya tidak mematikan, kan? ._.
      luhan ga lulus tes mengemudi sepertinya -_- ckckck
      amin amin. tapi ga papa juga jessica kabur ke luhan :3 *jiwa shipper kumat* /plak

  2. oh ini ceritanya kaya yang di 3infraction ya? aku baru tau. soalnya aku agak bingung diteasernya. wah wah wah, dasar ya luhan. lagi enak-enak ama pairing kaisica yg lagi kasmaran malah kau muncul nabrak kai. aku tabok ya kalo sampai kai ngga inget jess…..

    waduh authornya harus diamankan nih, soalnya membahayakan jess. haha engga deh.
    hah? suka jelek-jelekin jess wah sama dong. aku juga gitu walaupun jess itu “my pabbo ice princess” soalnya gemes sendiri kalo liat slow reactionnya dia.
    nah loh si yuri lagi suka ama siapa ya? apa suka ma kai? yeah, semoga sih gitu. terus jess cemburu dan luhan mulai jatuh cinta ama jess. #terlalu ngarep.

    • sepertinya aku lupa mencantumkan keterangan kalo ini adalah sequel dari 3 infractions. wkwk
      untung kai inget sama jessica walaupun ga inget kalo mereka udah baikan . jadi luhan selamat -o-/

      diamankan gimana? emang aku teroris? -___-
      bener. kalo ga ngebully sica itu ga seru soalnya. lol

      aku juga berharap begitu ._. /plak

  3. kirain masih panjang nyatanya udah bersambung hehe….
    jongin….gimana cara jess biar dia inget lagi?
    pertengkaran yoong sama krys lucu banget hehe

  4. satu pertanyaan hyoyeon itu ada hubungan apa sama sica dan kai? 😀
    diawal aku agak bingung soalnya castnya banyak bgt mana ada krystal 😀
    tp makin kebawah sudah makin ngerti kok thor :*

  5. Bagus FFnya eonnnn~

    Kasian Jessica nya T_T
    Tapi, aku berharap yuri suka sama kai.
    Trus Luhan sama Jessica deh! ^O^
    *jiwashipperkumat ._.V*

    Hwaiting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s