[Series] Calling Out – Chapter 7

calling out 4

Author : Lee Hyura

Title : Calling Out

Genre: Angst, Family, Romance

Rating : PG 15

Length : Series

Cast :

–   EXO Kris

–   EXO Luhan

–   SNSD Jessica

–   F(x) Krystal

–   Daniel Hyunoo

=== Calling Out ===

 “Maaf, Oppa. Mereka mungkin tidak berpacaran lagi. Tapi mereka tetap punya hubungan. Hubungan yang tidak bisa dilepas seenaknya.”

Dada Kris masih terasa nyeri di pagi hari yang cerah ini. Biasanya orang-orang akan berbahagia di pagi hari yang cerah di musim dingin. Tapi tidak dengan Kris yang pikirannya masih sibuk memikirkan perkataan Seohyun. Seohyun tidak mau menjelaskannya lebih lanjut. Lebih tepatnya Seohyun tidak diperbolehkan untuk menjelaskan lebih jauh oleh Sehun. Sehun memaksa Seohyun ke kamarnya lalu mengusir Kris dengan lembut.

Knock… knock… knock…

Kris mendesah pelan. “Masuk!”

Pintu itu terbuka dengan perlahan. Sangat perlahan karena orang itu ketakutan. Tanpa melihat, Kris sudah tahu kalau itu adalah Jessica.

“Kris, kau tidak pergi ke kantor?” tanya Jessica.

Kris memutar matanya geram. Bekerja? Jika dia pergi ke kantor, artinya dia akan bertemu dengan Luhan. Dia tidak yakin dia akan biasa saja. Mungkin Kris akan sibuk menginvestigasi Luhan. Jika Luhan tidak mau menjawab pertanyaan, bukan tidak mungkin Kris akan memakai kekerasan. Sebenarnya dengan melihat wajah Luhan, amarah Kris sudah terpancing. Tidak pergi ke kantor adalah pilihan terbaik.

“Tidak. Aku… tidak enak badan,” jawab Kris malas.

“Kau yakin?”

Kris mengangguk mantap. “Yakin. Maaf aku tidak bisa mengantarkan Daniel.”

“Gwencana. Aku baru saja kembali setelah mengantarkan Daniel.”

“Oh…”

Jessica menggigit bibirnya. Suasana di antara mereka benar-benar canggung. Ini bukanlah hal yang ia inginkan. Terlebih saat rasa pusing dan mual masih mendominasi dirinya. Jika bukan karena Daniel, dia tidak akan mau turun dari kasurnya.

“Bagaimana denganmu?” tanya Kris.

Jessica menjilat bibirnya gugup. “A-aku.. aku baik-baik saja. Walaupun masih pusing dan sesekali mual.”

“Muntah?”

“Tidak. Hanya mual. Ini sudah biasa jika aku kecapekan. Aku… hanya perlu tidur. Jadi, aku.. kembali.. ke kamar.. sekarang!”

Blam!

Jessica menutup pintu kamar Kris agak kasar karena gugup. Rasa gugup itu membuat mualnya semakin menjadi-jadi. Jessica memutuskan untuk berbaring di kasurnya seharian.

>>>

Luhan mengangkat alisnya, antara bingung dan kaget. Padahal dia mau membicarakan rencananya untuk melimpahkan proyek itu kepada temannya dengan Kris dan Minseok. Tapi karena Kris tidak ada, rasanya Minseok juga cukup. Awalnya Minseok kaget tapi dia bisa mengerti.

“Aku tahu temanmu itu tidak akan kalah kualitasnya darimu karena kau pasti mengirim yang terbaik. Tapi aku bingung kenapa kau mau melepas proyek besar ini,” tanggap Minseok bingung.

“Karena ada beberapa alasan. Alasan-alasan itu membuatku tertekan sehingga aku tidak bisa menahannya terlalu lama. Jadi aku memutuskan untuk kembali. Jangan tanya kenapa karena aku malas menjelaskannya,” jelas Luhan santai. Padahal sebenarnya ia berat melepaskan proyek itu. Itu proyek besar sekaligus bukti yang cukup agar ayahnya percaya kepada kemampuannya.

“Baiklah, aku mengerti.”

***

Hari ini sudah hari kedua Kris dan Jessica tidak berbicara satu sama lain, kecuali kalau ada hal yang sangat penting. Walaupun Daniel merasakannya, dia hanya diam saja.

Mom, aku lapar~” rengek Daniel setelah tangan kecilnya membuka pintu kamar Jessica.

Daniel menariknya turun dari kasur. Jessica terlihat linglung awalnya. Daniel membawanya ke dapur. Jessica tersenyum kecil melihat tingkah anaknya.

“Baiklah, kita lihat ada apa di kulkas, oke?” seru Jessica seraya membuka pintu kulkas.

Jessica cemberut saat menyadari betapa kosongnya kulkas itu. Sudah beberapa hari ini dia tidak belanja. Oh, salahkan pusing dan rasa mualnya yang tidak mau hilang selama 3 hari ini. Ia terpaksa hanya membuatkan Daniel ramyun. Ramyun adalah pilihan terakhir yang akan dia berikan kepada Daniel. Dia sediakan ramyun juga hanya untuk Kris jika pria itu harus mengerjakan pekerjaannya sampai malam bukan untuk Daniel. Dia terlalu malas untuk memesan makanan dari restoran.

Dia menyondorkan mangkuk berisi ramyun itu kepada Daniel. Masa bodo dengan tradisi orang Korea untuk makan langsung di panci. Baginya itu tidak sopan dan dia tidak mau mengajarkannya kepada Daniel. Daniel menerimanya dengan senang hati.

“Apa ini?” tanya Daniel sambil menyendok isi mangkuknya. Maklum saja, ini memang pertama kalinya Jessica membiarkan Daniel memakan makanan instan seperti ramyun.

“Ramyun. Kau pasti suka!” yakin Jessica.

Daniel mengangguk sambil tetap berusaha menyendok ramyunnya tapi selalu gagal. Dia tidak tahu caranya. Jessica tertawa kecil melihatnya, dia sudah tahu akan seperti ini. Dia bangkit untuk mengambil sumpit lalu kembali duduk di samping Daniel. Pada akhirnya Daniel bisa menikmati makanannya karena disuapi oleh Jessica.

Mom, ada apa denganmu dan Daddy?” tanya Daniel saat Jessica mulai mencuci mangkuk dan peralatan masak yang ia gunakan tadi.

Jessica menggigit bibirnya. Dia tidak boleh salah memilih kata. Dia tidak mau Daniel tahu masalahnya dan Kris berkaitan dengan ahjussi kesukaannya, Luhan. Walaupun Jessica tidak yakin penyebab sikap Kris yang seperti itu adalah Luhan, tapi mengingat Kris bersikap seperti itu sejak kejadian Kris tahu bahwa dia kenal baik dengan Luhan, sepertinya perasaannya memang benar.

Mommy~”

Jessica mengeringkan tangannya setelah ia selesai dengan kegiatannya. Dia membungkuk agar wajahnya sejajar dengan Daniel. Saat itu, dia sadar bahwa anaknya sudah tumbuh tinggi. Dia bukan bayi kecilnya lagi. Rasa haru menghangatkan hatinya.

Daddymu sedang ada masalah. Jadi ada baiknya kita membiarkan dia sampai dia tenang. Kamu mengerti, Dan?” jelas Jessica.

Daniel mengangguk mantap.

***

Betapa Luhan membenci musim dingin. Dia akui ketahanan tubuhnya melemah di musim dingin. Akibatnya, kini dia tidak berhenti bersin. Tempat sampah yang ia siapkan di samping mejanya pun sudah penuh. Minseok menatapnya khawatir. Khawatir karena kesehatan Luhan serta khawatir virus flu Luhan akan tertular padanya.

“Apa tidak sebaiknya kau istirahat saja, Luhan?” usul Minseok.

“Dan meninggalkanmu mengerjakan semua ini sendiri? Bagaimana pun, belum ada kabar dari Kris. Aku tidak akan melimpahkan semua kepada—hachi! kepadamu,” sahut Luhan lalu kembali bersin.

“Dengan keadaanmu yang seperti ini malah membuat pekerjaanku semakin sulit karena aku tidak bisa konsentrasi,” sungut Minseok cepat. “Lebih baik kau pergi ke rumah sakit dan disuntik flu agar cepat sembuh. Sana! Jangan ganggu aku lagi dengan bersinmu!”

Luhan tertawa mendengarnya.

“Ayolah, Luhan. Kau tidak mungkin pulang ke Cina dengan keadaan seperti itu besok,” desah Minseok.

Oh ya…

Luhan mendesah lemas saat teringat hari ini adalah hari terakhir dia memegang proyek ini.

>>>

Dengan paksaan dari Seohyun, akhirnya Jessica memutuskan untuk pergi ke rumah sakit setelah ia mengantarkan Daniel. Kris masih tidak mau keluar dari kamarnya. Jessica sempat mengintip, Kris sibuk mencoret-coret kertas kosong. Mungkin Kris berusaha menyelesaikan tugasnya selama di dalam kamar.

Jessica menunggu di ruang tunggu sambil memainkan handphonenya setelah ia selesai mendaftarkan diri. Karena ia datang tidak lama setelah jam praktik dokter tersebut baru dimulai, dia tidak perlu menunggu lama.

“Nyonya Wu Sooyeon!” panggil seorang suster, atau mungkin adalah asisten dokter.

Mendengar namanya dipanggil, Jessica memasukkan handphonenya ke dalam tas lalu masuk ke dalam ruangan dokter. Dokter mulai menanyai gejala-gejala penyakitnya dan dijawab dengan lengkap oleh Jessica. Setelah beberapa rangkaian pemeriksaan wajib, sang dokter mendiagnosa bahwa dia hanya kecapekan. Namun Jessica diminta untuk mengikuti pemeriksaan darah. Jessica mengangguk. Setelah membungkuk kepada dokter, Jessica keluar dan menuju laboratorium umum rumah sakit.

Jessica menggumam pelan saat dia keluar dari laboratorium umum itu. Petugas rumah sakit sudah mengambil sampel darahnya dan sedang diperiksa lebih lanjut. Sekarang dia butuh mencari cara untuk menghabiskan waktu 1 jam sampai data darahnya keluar. Jessica memutuskan untuk ke café rumah sakit.

Dia memesan lumayan banyak makanan dan menikmatinya sendiri di meja café. Dia tidak mengerti apa yang terjadi dengannya. Dia memang sakit. Tapi nafsu makannya meningkat. Berbeda dengan gejala sakit yang biasa dia alami. Sambil menikmati makanannya, Jessica memandangi apapun yang ada di sekitarnya. Dia mengerjap saat melihat seorang ibu hamil di meja yang tidak terlalu jauh dengannya. Perasaannya tidak enak. Jessica menyentuh perutnya.

“Aku tidak hamil, kan?” gumamnya berbisik.

>>>

Luhan menggumam kesal. Minseok sengaja mengajukan diri untuk mengantarkan Luhan ke rumah sakit untuk memastikan apa Luhan benar-benar melakukan perintahnya atau tidak. Minseok tidak mau tahu seberapa Luhan membenci bau rumah sakit. Di sini lah dia berada, di ruang tunggu dokter umum sedangkan Minseok sudah pergi meninggalkannya sendiri. Kebetulan dia duduk di samping dinding sehingga ia bisa menyandar karena kepalanya terasa berat.

Saat merasa ada yang duduk di sampingnya, dia terpancing untuk menoleh. Apalagi aura orang tersebut yang terasa familiar. Tapi kepalanya terlalu berat untuk menoleh. Jadi dia memilih untuk tetap bersandar sambil memejamkan matanya. Apalagi dengan bau rumah sakit yang khas, Luhan menjadi semakin lemas.

“Nyonya Wu Sooyeon, hasil pemeriksaan laboratorium sudah keluar,” kata seseorang yang Luhan yakini adalah salah satu petugas rumah sakit.

Tubuh Luhan menegang mendengar nama itu. Tanpa memperdulikan rasa pusingnya, dia menoleh. Dia melihat dengan samar sosok Jessica memasuki ruangan dokter. Baru ia sadari, orang yang duduk di sampingnya tadi adalah Jessica.

“Sial,” gumamnya pelan.

>>>

Jessica kembali duduk di kursi pasien dengan cemas. Dia takut apa yang ia pikirkan menjadi nyata. Itu hanya akan membuat semuanya semakin rumit. Tapi melihat wajah cerah sang dokter, Jessica semakin cemas.

“Selamat, nyonya Wu. Anda hamil 3 minggu!” kata sang dokter. “Tapi kandunganmu lemah. Kamu harus berhati-hati!”

Jessica memejamkan matanya. Ternyata itu memang benar.

Melihat sang dokter yang kebingungan dengan reaksi yang diberikan oleh Jessica, Jessica segera memaksakan senyuman lebar. Dia cepat-cepat berpamitan lalu keluar dari ruang praktik dokter tanpa mendengar apa yang dikatakan oleh dokter selanjutnya. Jessica berjalan lemas.

Dia terlonjak kaget saat tangannya ditahan oleh seseorang. Dia menoleh cepat. Kekagetannya berlipat ganda saat melihat Luhan lah yang menggenggam tangannya sekarang.

“Hai, Jess,” sapa Luhan sambil tersenyum kecil.

>>>

Entah apa alasan Jessica menerima tawaran Luhan untuk menemani pria itu makan. Mungkin sebagai tanda terima kasih karena pria itu sudah membayar tagihan rumah sakit Jessica, atau karena dia menerimanya karena yang mengajaknya adalah Luhan. Atau mungkin karena dia juga merasa lapar lagi.

“Kau benar-benar tidak sedang sibuk?” tanya Luhan sekali lagi.

Jessica menggaruk pipinya canggung. “Tidak sepertinya.”

“Sepertinya?”

Jessica menggeleng cepat, meminta Luhan untuk tidak memikirkan jawabannya. Sebenarnya Jessica merasa ada sesuatu yang penting ia lupakan. Tapi apa? Dia juga bingung apa itu.

“Bagaimana keadaan Daniel?” tanya Luhan.

Mata Jessica membulat. “AH! DANIEL! AKU LUPA MENJEMPUT DANIEL!”

Luhan tertawa melihat tingkah Jessica. Betapa dia merindukan tingkah Jessica yang seperti itu. Masa bodo dengan reaksi orang-orang di sekitarnya. Dia hanya peduli dengan Jessica.

>>>

Jessica berlari menghampiri Daniel yang menunggunya di gerbang TKnya. Jessica memeluk anak satu-satunya itu erat.

“Daniel, mommy minta maaf. Mommy tidak bermaksud untuk melupakanmu. Tapi tadi—“

Jessica tidak melanjutkan kata-katanya karena Daniel malah mencium pipinya lalu terkikik geli. Jessica bersyukur anaknya tidak marah.

“Luhan ahjussi!” seru Daniel girang.

Daniel segera melepaskan pelukan Jessica lalu berlari menuju Luhan. Jessica merengut. Dia cemburu melihat betapa senangnya Daniel melihat Luhan. Kenapa Daniel selalu lebih menyukai orang lain dibandingkan ibunya sendiri yang selalu bersamanya hampir 24 jam? Kris, Seohyun, Minseok dan sekarang Luhan.

Daniel tidak adil!, gerutu Jessica dalam hati.

“Hello, Danny~” sapa Luhan  seraya berlutut agar tinggi mereka sejajar.

Mereka berhigh-five dengan girang. Rasa pusing yang dirasakan Luhan tadi, tidak lagi ia rasakan setelah melihat Daniel. Anaknya adalah obat terampuh bagi flu menyebalkan itu.

“Hachi!”

Mereka bersin bersamaan. Jessica terkesiap kaget karenanya. Dia segera mengeluarkan sapu tangannya dan memberikannya kepada Luhan lalu mengeluarkan tissue untuk mengelap hidung Daniel.

“Aigo, kalian kompak sekali,” komentar Jessica.

Luhan hanya tertawa karenanya.

“Sebaiknya kau pulang Luhan,” kata Jessica. “Mau ku antar?”

Luhan menggeleng. “Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”

“Tidak.. tidak.. aku yang mengajakmu ke sini. Jadi aku harus mengantarkanmu pulang. Jangan pernah menolak tumpangan gratis, Lu!”

Luhan terkekeh. Dia masih ingat bagaimana sifat Jessica. Percuma dia menolak karena Jessica akan tetap memaksanya dan akhirnya Jessica akan marah. Jadi ada baiknya Luhan menerima tawaran Jessica.

Selama di perjalanan menuju apartemen tempat Luhan tinggal sekarang, Daniel dan Luhan asik becanda dan melupakan keberadaan Jessica. Saat itu, Jessica menyadari keputusannya untuk mengantarkan Luhan adalah keputusan yang buruk. Ia menjadi semakin cemburu karenanya.

“Kemana kita?” tanya Jessica.

Luhan berhenti sejenak dari kegiatannya bersama Daniel untuk melihat keberadaan mereka. Dia membulatkan bibirnya tanda ia tahu.

“Lurus saja, Jess. Gedung apartemenku di sisi kanan jalan,” jawab Luhan.

Benar kata Luhan. Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan pintu utama gedung itu. Jessica kembali menginjak pedal setelah Luhan turun dari mobilnya.

“Apa kita tidak bisa bermain sebentar di apartemen Luhan ahjussi?” pinta Daniel.

Jessica tertawa. “Tidak.. tidak.. waktunya kita pulang dan makan siang.”

>>>

Kris keluar dari kamarnya. Sudah 1 jam lewat dari waktu biasanya Daniel sampai di rumah. Aneh sekali mereka belum sampai rumah. Lebih aneh lagi Jessica yang bahkan tidak menyempatkan diri untuk pulang kembali ke rumah setelah mengantarkan Daniel.

Kris menoleh saat mendengar suara mobilnya memasuki halaman rumah tanda mereka sudah pulang. Dia bingung harus masuk ke dalam kamar kembali atau diam di tempatnya berdiri. Dia merindukan Jessica. Hari-hari yang ia lewati tanpa berkomunikasi dengan Jessica membuatnya seakan tidak mempunyai semangat hidup.

Daddy~” sorak Daniel.

Sudah terlambat untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Kris tersenyum seraya menyambut pelukan dari Daniel. Di belakang Daniel, Jessica terlihat canggung. Kris tersenyum tipis. Dia memberi isyarat kepada Jessica agar wanita itu mendekat. Setelah Jessica sudah berada di depannya, Kris menarik kepala Jessica mendekat dan mencium bibirnya. Jessica menarik dirinya kaget.

“Kris! Daniel melihatnya!” omel Jessica.

Kris terkekeh. Betapa dia merindukan respon kikuk Jessica yang seperti itu. Dia mengumpati sikapnya selama beberapa hari ini, menyesali dirinya yang sudah bersikap seperti anak kecil.

“Esh, tenang saja. Daniel menutup matanya kok!” bela Kris. “Benar, Dan?”

Daniel mengangguk. “Tadi aku menutup mataku seperti ini,” jawab Daniel sembari memperagakan sikapnya tadi dan itu memancing tawa Jessica dan Kris meledak.

>>>

Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore dan Luhan belum makan apapun dari pagi. Walaupun dia tidak merasa lapar, dia terpaksa harus makan agar maagnya tidak kambuh. Terlebih saat dia sudah menderita flu seperti ini. Dia tidak mau menambah penyakit.

Dia menutup pintu apartemennya hingga berbunyi ‘klik’ tanda kunci otomatis pintu sudah berfungsi. Setelah itu dia berjalan menuju lift. Beruntung lift terbuka tepat saat dia sampai di depan lift. Kepalanya terasa berat akibat flunya yang semakin parah. Hidungnya kini terasa sakit karena tidak berhenti bersin.

“Aku benar-benar benci musim dingin,” gerutunya.

Akhirnya pintu lift pun terbuka. Dia keluar dengan langkah gontai. Rasa pusingnya semakin menjadi. Akhirnya pandangannya pun buram dan ia tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi.

>>>

Jessica berlari menuju halte dekat rumah setelah mendapat telepon dari pihak apartemen Luhan kalau Luhan pingsan. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana petugas apartemen malah meneleponnya. Dia lupa kalau dia bisa memakai mobilnya dan memilih untuk naik taksi menuju apartemen Luhan. Dia bahkan tidak peduli dengan Kris yang berteriak menanyakan ada apa.

Beruntung dia mengantarkan Luhan tadi siang sehingga dia tahu dimana Luhan tinggal. Dia turun dari taksi dan berlari masuk ke dalam apartemen. Dia ingat Luhan pernah memberitahunya nomor kamarnya di hari pertama Luhan sampai di Korea. Di sini lah ia sekarang, di depan pintu apartemen Luhan. Dia tidak tahu bagaimana masuk ke dalam apartemen Luhan. Sampai akhirnya ada petugas datang dan memberitahukan Jessica bahwa Luhan berada di ruang santai di lantai itu.

“Hm, siapa yang tadi meneleponku?” tanya Jessica selama perjalanan menuju tempat Luhan berada.

“Oh, itu aku. Maaf kalau aku mengganggumu. Aku meneleponmu karena hanya ada nomormu di speed dialnya. Tepat di nomor 2,” jawab petugas itu.

Jessica mengerjap pelan. Dia ingat apa arti angka 2 bagi mereka. Entah bagaimana caranya, angka 2 adalah angka keramat bagi mereka. Dia tidak menyangka Luhan masih menganggapnya demikian setelah bertahun-tahun terlewat.

Sesampainya di sana, Jessica melihat Luhan berbaring di sofa berwarna krem lembut. 2 petugas membantunya membawa Luhan ke apartemen Luhan. Jessica menelan ludahnya saat ia di hadapankan dengan mesin verifikasi pintu. Dia tidak tahu apa passwordnya.

Berpikirlah, Jessica. Apa yang bisa dijadikan password?, pikirnya.

Jessica memulai dengan tanggal lahir Luhan. Tapi itu gagal. Dengan ragu, dia mencoba tanggal lahir. Tapi tetap gagal, yang membuat Jessica merengutkan bibirnya. Tanggal saat mereka resmi berpacaran pun ia coba. Tapi tetap gagal.

Sepertinya tidak ada kaitannya denganku, gerutu Jessica dalam hati.

Entah kenapa, tangannya gatal untuk mencoba tanggal pertemuannya dengan Luhan untuk pertama kalinya. Hari itu adalah hari yang sulit dilupakan oleh Luhan dan Jessica karena mereka mendapatkan pengalaman yang heboh. Mereka bertemu karena dikejar anjing bersamaan. Hasil setelah Jessica memasukkan angka itu membuat Jessica menahan napasnya.

Berhasil…

>>>

Kris bangkit dari duduknya dengan kesal karena suara bel tidak hentinya berbunyi. Sepertinya tamunya kali ini adalah tamu yang menyebalkan.

“Krystal?” kaget Kris saat melihat sosok Krystal di hadapannya.

“Ya, ini aku. Kau berharap siapa yang datang, eh?” sahut Krystal sinis. “Mana Jessica eonni? Aku ingin bertemu dengannya. Aku merindukannya~”

Kris mendesah. “Kakakmu pergi dengan terburu-buru tadi. Kalau kau mau menunggu, silahkan masuk.”

Krystal masuk dengan senang hati. Dia langsung masuk ke kamar Daniel dan menyapa keponakannya itu.

“Daniel~!” seru Krystal.

“Krystal noona!” sambut Daniel yang sedang bermain dengan robot-robotnya.

Krystal memang memaksa untuk dipanggil noona. Dia tidak mau Daniel memanggilnya bibi karena itu membuatnya merasa tua.

“Kau berniat menginap, Krys?” tanya Kris saat melihat Krystal memakai tas ransel bukan tas tangannya. Biasanya itu karena Krystal membawa barang-barangnya untuk menginap.

Krystal tertawa. “Tentu saja, Oppa. Itu sebabnya aku datang sore hari~”

Kris menghela napas panjang. “Kalau begitu, taruh tasmu di kamar dulu lalu mandi. Setelah itu, kau baru diperbolehkan bermain dengan Daniel. Mengerti?”

“Aih, kau sudah seperti seorang nenek saja, Oppa,” keluh Krystal seraya bangkit dan pergi ke kamar Jessica.

Krystal biasa tidur bersama kakaknya jika menginap di rumah itu. Tentu saja dia tahu bagaimana hubungan Jessica dan Kris. Dia meletakkan tasnya di samping kasur dan menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia menoleh saat tangannya menyentuh sesuatu. Itu adalah tasnya Jessica. Yap, Jessica memang tidak membawa tasnya. Dia hanya membawa dompet dan handphonenya. Dengan senyuman jahil, dia mengambil tas itu dan membukanya. Krystal mendesah kecewa karena tidak ada barang yang menarik. Dia mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat dari tas Jessica dan membacanya. Matanya membulat.

“Kris oppa! Kris oppa! Oppa!” teriaknya heboh sambil berlari ke kamar Kris.

Kris muncul dari dapur dengan secangkir teh di tangannya. Dia bingung melihat Krystal menggedor-gedor pintu kamarnya.

“Krystal, aku di sini!” sahut Kris.

Krystal menoleh. Wajah jahilnya pun muncul. Dia menghampiri Kris dengan perlahan.

“Kau merasa ada yang aneh dengan Jessica eonni, Oppa?” tanya Krystal.

Kris mengangkat alisnya. “Ya begitulah. Akhir-akhir ini dia aneh.”

“Kau pikir apa penyebabnya?”

Luhan!, jawab Kris kesal dalam hati. Tapi dia memutuskan untuk menggeleng. Melihat itu, Krystal terkikik geli.

“Aigo, kalian itu senang bersikap kaku di depan orang lain tapi panas di belakang, ya?” sindir Krystal.

Kris yang tidak mengerti, hanya bisa mengerutkan keningnya. Krystal pun memperlihatkan kertas yang ia dapatkan dari tas Jessica.

“Chukkaeyo, Oppa!” seru Krystal. “Danny-ah, kau akan dapat adik bayi!”

Cangkir di tangan Kris pun meluncur jatuh saat ia melihat isi kertas itu.

“Jessica… hamil?”

>>>

Luhan membuka matanya perlahan. Dia terkejut saat melihat Jessica sedang meletakkan semangkuk bubur yang baru selesai ia buat di meja samping kasur. Jessica juga terlihat kaget melihat Luhan sudah sadar.

“Bagaimana—“

“Syukurlah kau sudah sadar. Sekarang kau harus makan bubur ini, Lu,” sela Jessica cepat. Jessica tidak mau Luhan bertanya yang macam-macam.

“Aku tidak lapar..” tolak Luhan.

Jessica memutar matanya. “Makanlah! Aku tidak mau kau pingsan lalu petugas apartemen meneleponku lagi!”

Melihat ekspresi kesal Jessica, Luhan jadi merasa bersalah. Akhirnya dia menuruti perintah Jessica. Dia memakan bubur itu. Jessica tersenyum karenanya. Luhan meliriknya lalu berhenti.

“Eh, wae? Buburnya tidak enak?” tanya Jessica cemas.

Feed me,” pinta Luhan.

Jessica meringis bingung. “Eh…”

“Ku mohon?”

Jessica menggaruk kepalanya sekilas. Melihat mata Luhan yang memelas, akhirnya Jessica menyetujuinya.

“Selesai!” seru Jessica girang saat melihat suapan terakhir masuk ke dalam mulut Luhan.

Jessica berlari keluar kamar untuk mencuci mangkuk itu dan kembali dengan obat flu dan segelas air. Dia memaksa Luhan untuk meminumnya.

“Sekarang kau harus tidur,” kata Jessica.

“Bagaimana denganmu?” tanya Luhan.

Jessica yang baru saja bangkit pun menoleh bingung. “Tentu saja pulang.”

Dengan cepat, ia menarik tangan Jessica. Untuk terakhir kalinya, ia ingin egois soal Jessica. Dia ingin bersama Jessica. Untuk terakhir kalinya, ia berharap Jessica hanya memikirkannya bukan Kris. Hatinya pun bimbang saat Jessica mendesah kasar.

“Apa lagi, Luhan?” tanya Jessica, menahan kesal.

Luhan menjilat bibirnya. “Ku mohon. Tetaplah bersamaku…”

Jessica melepaskan tangannya lalu memijat keningnya. Dia terlihat sedang depresi sekarang. Luhan mulai bersiap untuk mendengar jawaban terburuk.

“Bagaimana dengan Daniel?” sungut Jessica.

Luhan mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur. Dia tidak menjawab melainkan meraih tangan Jessica dan memainkannya. Beberapa detik berikutnya, Luhan mendongak untuk menatap Jessica dalam.

“Untuk terakhir kalinya, Jess. Besok, aku akan kembali,” ujar Luhan.

Jessica terbelalak. “Kenapa sangat mendadak?”

“Tidak mendadak. Aku sudah memberitahumu sebelumnya, kan? Dan urusanku sudah selesai sekarang. Aku sudah melepas proyek itu.”

“Luhan…”

“Untuk terakhirnya sebelum aku benar-benar pergi dari kehidupanmu..” ucap Luhan melirih.

Pandangan Jessica terfokus pada tangannya yang sedang dimainkan oleh Luhan. Pria itu terlihat sangat membutuhkan perhatian. Mengingat semua hal yang terjadi padanya, Jessica tidak kaget jika Luhan memang haus akan perhatian.

“Kau masih akan tetap pergi walaupun kondisi tubuhmu seperti ini?” tanya Jessica lembut.

“Tentu saja. Lebih cepat lebih baik, kan? Aku tidak mau keberadaanku membuat hubunganmu dan Kris semakin renggang. Kris memang sudah merebutmu dariku. Akan tetapi aku tidak bisa merebutmu kembali darinya. Terlalu kejam bagi Daniel.” Luhan kembali menatap Jessica dan tersenyum miris.

Entah kenapa, Jessica merasa kalah setelah mendengarnya. Dia melepaskan tangan kanannya untuk menarik kursi terdekat. Melihat Jessica sudah duduk di kursi, tepat di samping kasurnya, Luhan tersenyum puas.

“Ini mengingatkanku saat sebelum kau pergi ke Cina. Kau sakit dan memaksaku menginap di sini. Tetap seperti ini,” gumam Jessica lirih.

Luhan terkekeh. “Aku ingat itu.”

“Kau harus tidur sekarang,” tegas Jessica sambil tersenyum.

Luhan menggigit lidahnya ragu. “Kau tidak akan meninggalkanku sampai aku terbangun lagi, kan?”

“Aku berjanji tidak akan melakukan itu. Sekarang kau harus istirahat agar kau akan baik-baik saja selama perjalanan kembali ke Cina. Mengerti?”

Luhan mengangguk seperti anak kecil, itu memancing tawa Jessica. Luhan kembali berbaring di kasurnya. Senyumnya melebar karena Jessica menyelimutinya. Betapa Luhan merindukan momen-momen seperti itu. Sayang, hal itu tidak mungkin. Kejadian malam ini adalah keajaiban.

“Tunggu apa lagi? Ayo tidur!” omel Jessica saat Luhan tetap menatapnya setelah 5 menit berlalu.

“Kau tidak akan pergi, kan?”

“Lu—“

“Aku tidur!”

Luhan memejamkan matanya dengan semangat. Setidaknya dia berdoa agar dia tidak menyesali hal ini. Tidak, tidak mungkin. Luhan tidak mungkin akan menyesal karena sudah membuat Jessica melakukan ini.

Setelah beberapa menit Luhan memejamkan matanya, Jessica mulai merasa yakin pria itu sudah tertidur lelap. Dia bangkit lalu keluar dari kamar Luhan. Tidak terlalu jauh. Cukup sampai di balik pintu. Dia mengeluarkan handphonenya.

Sementara di dalam kamar, Luhan belum tertidur pulas. Dia mulai merasa cemas, takut Jessica tidak menepati janjinya. Tapi dia tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. Sekedar membuka mata saja, dia tidak melakukan itu. Tak lama, rasa cemasnya terhapus saat mendengar suara Jessica dari luar kamarnya. Sepertinya Jessica berusaha untuk terdengar sebiasa mungkin. Mungkin Jessica sedang menelepon keluarganya, terutama Kris. Oh Kris, betapa Luhan membenci nama itu.

“Kris, tenang lah. Aku berada di rumah Soojung sekarang. Aku menginap disini. Jadi aku pulang besok. A-aku di sini… ya karena aku merindukan Soojung. Kau tahu sendiri bagaimana Soojung kalau aku sudah datang ke rumahnya, kan?”

Luhan tersenyum lega mendengar kata-kata Jessica. Walaupun sudah jelas yang ditelepon Jessica adalah Kris, Luhan tidak peduli sama sekali selama Jessica tetap menepati janjinya. Itu cukup untuk membuatnya tertidur pulas di detik berikutnya.

>>>

“Itu dari eonni, kan?” seru Krystal heboh. Tapi kehebohannya mulai surut saat melihat wajah mendung Kris. “Kris oppa? Kau baik-baik saja?”

Kris menoleh dan tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja. Dan tadi.. ya, itu kakakmu. Dia bilang dia menginap di rumah temannya karena ada keperluan.”

“Kau tidak bilang aku datang berkunjung? Aku yakin jika dia tahu kedatanganku, dia pasti segera pulang!” protes Krystal.

Kris mengacak rambutnya lemas namun frustasi. Tapi dia tetap tersenyum kepada Krystal walaupun itu hanya sebuah senyuman kosong.

“Ya, maafkan aku. Tapi kali ini pasti sangat penting. Aku tidak mau dia mengacaukan urusan pentingnya hanya karenamu.”

Lagipula, aku tidak yakin apa Jessica akan pulang walaupun dia tahu Krystal datang. Aku rasa Jessica sedang dalam situasi yang membuatnya tidak bisa pulang, dan berbohong kepadaku. Apa dia sedang bersama Luhan? Kau benar-benar menyiksaku, Jessica Wu!

Krystal memukul lengan Kris kesal. “Yah! Kau menyebalkan, Oppa!”

***

Luhan membuka matanya perlahan. Betapa dia bersyukur saat wajah tidur Jessica lah yang menyambutnya di hari terakhir ia berada di Korea Selatan. Jessica duduk di kursi yang sama dengan semalam dengan kepala bersandar pada punggung kasur. Luhan hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Jessica. Itu membuat Jessica terbangun.

“Oh!” seru mereka bersamaan.

Luhan segera menarik tangannya sedangkan Jessica bangkit. Jessica menggaruk tengkuknya sambil membuang muka kikuk. Entah kenapa, suasana kikuk menemani mereka saat ini. Jessica mencoba melirik Luhan dan terkejut saat mengetahui Luhan masih menatapnya. Jessica mencoba meruntuhkan suasana canggung itu dengan merenggangkan tubuhnya. Percuma, tingkahnya juga tetap kikuk.

Luhan tertawa melihatnya. “Sudahlah, Jess. Tidak usah seperti itu. Sekarang kau keluar dari kamarku. Aku mau mandi sekarang. Setelah aku mandi, aku antar kau ke halte terdekat.”

“T-tapi.. kau harus mengurusi kepindahanmu, kan?” bingung Jessica.

“Semuanya sudah selesai. Kau tidak lihat seberapa kosongnya kamarku ini? Semua barang sudah aku paketkan ke Cina. Tinggal koper berisi pakaian saja yang masih bersamaku.”

Jessica mengangguk kecewa. Padahal dia kira dia bisa membantu Luhan. Bagaimana pun, Luhan melakukan ini untuknya.

“Jess?”

Jessica tersadar dari lamunannya. Dengan tingkah kikuknya, dia keluar dari kamar. Di dalam kamar, Luhan tertawa puas melihat tingkah Jessica.

“Yah! Berhenti tertawa!” omel Jessica berteriak.

>>>

Luhan tidak bisa menyiapkan apapun sebagai sarapan untuk mereka berdua. Jadi dia memutuskan untuk mengajak Jessica sarapan di café apartemennya. Setelah penampilannya dan Jessica sudah rapi—Jessica mencuci mukanya dan menyisir rambutnya—Luhan menarik kopernya keluar dari kamar. Jessica menatapnya bingung.

“Setelah mengantarkanmu, aku akan langsung ke bandara,” jelas Luhan, tanpa menunggu Jessica bertanya.

“Tapi aku mau mengantarkanmu—“

“Jangan, Jess. Kau sudah tidak pulang semalaman. Daniel membutuhkanmu. Lagipula aku tahu kau tidak mendapatkan tidur yang cukup dengan posisi tidur seperti tadi. Jadi kau harus pulang dan tidur!” tegas Luhan.

Jessica merengut. Dia ingin protes tapi dia memutuskan untuk menyimpan protesnya dan menuruti Luhan. Luhan tersenyum senang saat Jessica mengangguk patuh.

Tangan kiri Luhan menggantikan tangan kanannya untuk menarik koper sehingga ia bisa menggenggam tangan Jessica. Jessica tidak memikirkannya. Dengan fakta itu, Luhan tersenyum lebar dan menariknya keluar dari apartemen.

Baru saja Luhan menutup pintu apartemennya, sebuah suara mengagetkannya dan Jessica. Sebuah suara yang tidak ingin Luhan dengar di hari terakhirnya di Seoul. Suara berat itu sudah jelas milik suami resmi Jessica, itu adalah Kris.

“Sudah ku duga kau berada di sini, Jess,” seru Kris lirih.

=== Calling Out ===

Hai hai aku kembali ‘-‘)/

Siapa yang seneng calling out keluar lebih cepet? :3 ini sebagai perayaan aku akan kembali mempublish ff lainnya. Emang lebih cepat sih soalnya aku takut kalo nunggu awal februari malah ga sempet. Kan februari waktunya ujian praktek -,-v

Makin complicated kan? Haha, tenang aja. Bentar lagi juga selesai. Mungkin chapter 10 lah. Saya ga akan buat ff panjang-panjang.

Cuma mau bilang kalau aku malas buat lanjutan winter leaf. Emang winter leaf dibutuhin banget, ya? Aku buat ringkasannya aja deh kalau butuh banget ._.v wkwkwk /plak/ lagian aku buat winter leaf karena pengen buat ff fluff tentang lusica doang kok. Fufufu /dibakar/

Sekarang waktunya request. Ff apa yang selanjutnya aku publish?

Advertisements

23 responses to “[Series] Calling Out – Chapter 7

  1. Aigoo… jessica udh hamil anaknya kris? chukaeyo!!
    Luhan sama daniel banyak samanya yah? dari sepak bola sekarang gak tahan dingin… hufhhh mreka memang cute 😀

    Jadi curiga dulu, jessica sama luhan ngelakuin yg gituan pas sakit kya chap sekarang?!
    Luhan ge miris… jessicanya udh milik kris nih. sabar ya ge 😀 mungkin di ff lain gege bisa bersama jessica wkwkwkwk…
    seneng deh updatenya lebih awl kya gini 😀 keep writing 😀

    • chukkae chukkae \^o^/ *goyang itik*
      yah begitulah. unyu sekali sih mereka :3 ada untungnya juga ya gen luhan yg mendominasi di diri daniel. wkwkwk /ditimpuk
      heh… engga lah. jessica walaupun plinplan tapi setia tau -o-
      ah, ya benar itu, luhan.. mungkin di ff lain, kau ditakdirkan dengan jessica bukan di ff ini. pukpuk ya luhan ._.

      • Daniel itu aku bayanginnya bener2 replika luhan… cuma versi anak kecil ahh cute banget deh 😀
        iya dia udah paten setia sama kris yang notabane suaminya… cuma perkiraan yg ngebuat jessica dulu hamil ggra dia nungguin luhan yang sakit dan jadi… kebablasan mungkin -__- *analisis apaan ini*
        ya karena di ff ini takdirnya jessica udah sama kris… luhan ge, pasti ada saatnya kau bahagia, pasti ada waktu untukmu ge.. I trust it 😀 makannya thor~ bikinin cerita yang menghusus lusicanya yang banyak biar lu ge bahagia wkwkwwk 😀

      • daniel emang mirip luhan kok :3 liat aja posternya
        tapi ada benernya juga analisismu *ngangguk-ngangguk* lol
        hm kan udah banyak tuh cerita lusica. fluff semua lagi. krissica sampe jarang banget ‘-‘ wkwk

  2. OH NO!!! makin ruwet..
    tapi puas banget disini karena Kris tersiksa HAHAHA
    Sedihnya kenapa Luhan balik? kenapa? Luhan rebut aja Jessica (?)
    bertengkar-cerai-balik ke Luhan /digampar/
    Aku yang baca aja udah complicated apalagi Jessica -_- stress
    Ini udah chapt 7, end nya chapt 10.. kurang 3 chapt lagi..
    Semoga Luhan dan Jessica kembali, pan kasian couple itu dari dulu kok musti berpisah, nyeseek~
    Makasih publish lebih awal.. jadi ga galau keke
    Next chapt dan FF lainnya ditunggu~ 😀

    • sangat ruwet /ngais tanah di pojokan/
      anda kejam sekali.. kejam sekali.. malah seneng karena kris tersiksa. hiks /nangis bombay/ wk
      nyesek banget lah jadi jessica ._. saya mikirinnya aja males. ckck
      endnya sih belum tentu chapter 10. bisa lebih cepet atau lebih lambat. entah lah. 10 itu rata-rata lah . hehe

  3. sorak sorak bergembira, bergembira semua. hyura eonni publish calling out untuk kita semua ye ye ye *nyayi bareng chanyeol

    ciat ciat. hah? jess hamil anak kris? yah jess kenapa hamil anak kris, anaknya luhan aja lagi napa? tapi ini udah seru kok. entar daniel dikasih tau ngga kalo luhan itu bapa kandungnya? semoga sih iya, terus minta jess supaya balik ama luhan……
    aku request dong yang “hard to say i love you” soalnya udah lama tuh ngga dilanjutin, habis itu doorway, thorn love, winter leaf. tapi kalo lagi sibuk dipublih 1 minggu sekali ya ngga papa. yang penting hard to say i love you nya dulu oke…..

    • yey~ /goyang jempol/
      kalo anaknya luhan lagi, kapan buatnya? -__-a ckck
      kalo menurut Q&A Calling Out yang pernah saya publish, jessica melarang daniel untuk tahu pas di masih kecil ._. jadi yah begitu lah
      hard to say i love you? sip aku tampung deh votenya ^^

  4. Jessica hamil, tp knp dy ngerasa ga sk klo dirinya hamil. Sptnya jessica msh ngarep kembali ke luhan ya. Kasihan donk kris, dy slalu disakiti perasaan. Klo jessica ga sk sama kris,ngapain juga nerima kris menikahinya n hamil anaknya juga lg.
    Dr ff ini, berharap endingnya kris n jessica bersama tp buat jessica menyadari klo kris itu pria ya dy butuhkan untuk sbg pendamping hidupnya. buat jessica cemburu donk lihat kris berdekatan dgn yoeja lain. Masa lalu biarlah berlalu. Lanjut ya.

    • jessica emang babo! nyebelin banget. masa ga seneng dia hamil anaknya kris? ;;___;;
      bener tuh. harusnya jessica ga usah nikah sama kris. aduh jessica emang babo. maafkan dia ;3
      hah… usul ditampung, oke? kita cek dulu rancangan cerita ini. kalo usulnya cocok, aku lakuin deh ‘-‘)b

  5. Annyeonghaseyo~
    Aku new reader slm kenal… Eh td search di mbh google FF JaeSica dan nyasar kesini .___.v

    Tadi aku udah baca beberapa FF tp belom aku koment 😛
    Mianhae ya thor~

    Tadi pas aku ngesearch entah knp malah baca ini FF part 2 dan hari ini jg aku baca semua part
    Lgsg aja ya aq koment disini

    Ceritanya seru bgt… Makanya ngetot bgd pengen baca… I can’t say anything but over all I very love this story… ^^
    Penggambaran watak tokohnya jg cucok.. >0<

    Oh ya thor.. Mau harusnya panggil apa nih?? 😀
    Kekek.. Aku td smpet baca beberapa FF JaeSica karyamu dan semuanya DAEBAK deh 😀
    Tapi sayangnya yg I choose To You kok gak ada lanjutannya sih…
    Please donk di lanjutin satu itu aja…
    Yayayayaaaaa…. :S
    Sayang bgt katanya itu FF tinggal satu chap.. T_T
    Sayang bgt klo g di lanjutin..
    Keep writing & fighting.. Oh ya lanjutannya jgn lama2 ya.. 😀

    • waw… yo selamat datang di blogku ‘-‘)/

      ga papa kok. setidaknya kamu komen pada akhirnya ^^ dan silahkan berkeliling di blogku. jangan bosen-bosen mampir di blogku yaw 😀

      syukur deh kalo kamu suka :’) aku ga nyangka kalo snowflakes ada juga yang suka sama ff-bukan-jaesica milikku. hiks terharu. fufufu

      manggil apa ya? panggil aja fara. aku ga terlalu suka dengan panggilan kakak atau adek sih. hehe

      aku juga udah berusaha untuk menyelesaikan chapter terakhir ff i choose to love you. tapi sumpah ga berhasil dapet ending yg bagus. dan itu membuat aku menyerah T___T

  6. nggak tega ih ma luhan TT.TT
    entahlah… Aku nggak nyampe hati (?) klo luhan jd org ke-3 kris-sica, ini yg bikin aku kurang ngefeel sama mrk -_-
    maaf..

    ( ini cuman ff y..! 🙂 )

  7. akuu syudah baca 1-6 nyaa kmrn malem, waaa udh keluar lagi yg 7
    luhaan maaf, tapi cepet2 pergi dooong jgn ganggu krissica ku u,u
    ga kebayang itu luhan lagi sakit 😦 gws yaah
    krystal baru keluar di chap ini yah? atau aku yg ga ngeh ?? yepp jungsist><

  8. Iya… Tenang aja… Aku betah kok lama2 mampir di blog kamu dan nge’ublek2 semua isinya 😛
    Xixixixixi… 🙂

    Aku sih gak masalah mau FF ini gak JaeSica atau bukan yg penting ceritanya seru, kata2nya jg mudah di pahami, simple dan imajinatif, kreatif dan kebetulan over all FF kamu masuk kreteria aku 😀
    /ini apalah/
    Oh ya aku bener2 suka gaya bahasa FF kamu.. Menurutku bhasa yg kamu guna’in genius bgt karena bisa membuatku terbwa suasana FF 😀
    Kamu slah satu author favorit aku deh :*;)
    /wink wink/

    Ya.. Gitu ya??? 😥
    Beneran nih gak bisa di lanjutin?? Oke deh Far~ gpp.. Tp klo pny ide lanjutin ya??
    Tp lain kali bikin FF JaeSica series ya?? Abisnya kebanyakan td FF JaeSica series kamu pasti gak ada lanjutannya -__-“

  9. waa jess sama luhan ketahuan kris
    hayo hayo
    itu emang jess hamil ya kok bisa??
    semua ffmu bagus bagus kok terserah mau ngelanjutin yg mana star star star jg boleh

  10. THORN LOVE!
    Aku request Thorn Love
    Sama Hard to Say I Love You sekalian!
    Double post!
    Hehe
    Heboh

    Aku nunggiin Calling Out hlooooo
    Ini kereeeen!
    Makin complicated. Kasihan Kris. Dia sayang banget ya sama Jessie 😥
    Ish… Luhan,,, dia juga kasihan, sih! Tapi lebih kasihan Kris
    Aaah, masak udah mau tamat?
    Pengen, sih…
    Tapi…
    Pokoknya lanjut dulu wawe, lah!
    😀

  11. hurraaaayyy jess hamil anaknya kris!!!!!tapi itu nanti gimana pas tau jess ada di aprtemen luhan???
    dasar anak sama ayah mirip yah,mereka cute hehehe
    lanjutannya ngga boleh lama2 chingu! penasaran tingtkat tinggi soalnya nih

  12. astaga astaga astaga astaga kenapa sih ending di ff ini selalu buat aku jantungan-_- oke fine me. Sehancur apa perasaan Kris waktu tau istrinya tidur dirumah cowok lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s