[Drabble] If

Title : If

Author : Lee Hyura

Genre : Angst, Romance

Rating : General

Length : Drabble

Cast :

–                 EXO M Luhan

–                 SNSD Jessica

I can’t even say the words that I really want to say
The love that is getting farther away
The words that I can’t keep – they are making me cry

(SNSD Tiffany – Because It’s You)

=== If ===

Jessica pov.

Penyesalan selalu muncul di akhir. Perasaan ingin memutar waktu selalu menghantuiku. Kata-kata andai selalu berada di setiap kalimat yang keluar dari bibirku. Aku tidak bisa berhenti seperti ini. Rasanya sesak menekan hatiku.

Andai aku tidak memperdulikan perasaan kosongku.
Andai aku percaya apa katanya.
Andai aku mengikuti apa katanya.

Andai.. dan andai.

Aku bosan dengan kata andai. Tapi inilah aku, selalu berharap dapat memutar waktu sambil berkata “andai”.

***

Aku memilih untuk diam sambil menikmati milkshake rasa stroberi. Sebisa mungkin tidak ada satu kata pun yang ia katakan, terdengar olehku. Aku bosan diceramahi olehnya terus-menerus. Itu semua hanya karena aku tetap berusaha untuk kembali dengan mantanku.

“Jessica Jung! Kau mendengarkanku atau tidak?!”

Aku mengangkat daguku saat mendengar suara geramnya. Tatapan tajamnya hanya ku balas dengan tatapan datar. Akhirnya dia menghela napas menyerah.

“Sepertinya aku percuma menceramahimu seperti ini jika kau akan meneruskan segala tindakan bodohmu itu. Tapi ingat, dia sudah mempunyai tunangan sekarang. Dia sudah tidak mencintaimu lagi. Jangan mengganggunya atau kau akan mendapatkan masalah!” keluhnya.

Aku mendengus. “Dengar, ya! Aku tahu dia masih mencintaiku. Kami putus karena dia dijodohkan oleh orangtuanya. Bukan karena dia sudah tidak mencintaiku lagi. Jangan sok tahu!”

“Dia dijodohkan dari dulu, Jess! Kau hanya dijadikannya sebagai aksi protesnya atas perjodohan itu! Sadar!”

“Diam, Luhan! Kau tidak tahu apa-apa!”

Luhan menarik napas dalam, aku juga melakukannya. Kegeraman itu membuatku sesak setiap menarik napas. Menyebalkan. Kenapa juga aku dan Luhan harus selalu bertengkar hanya karena ini? Sebelumnya, dia tetap tenang saat aku sibuk mendekati pria-pria yang aku sukai. Tapi kenapa dia seperti ini saat aku mencoba kembali dengan Suho?

“Suho adalah orang yang baik. Dia tidak mungkin menjadikanku sebagai pelampiasan, Lu. Aku tahu dia memintaku menjadi kekasihnya karena dia mencintaiku. Bukan seperti yang kau katakan itu. Dia orang yang baik dan lembut. Dia tidak mungkin mempu—“

“Stop! Aku tidak mau mendengarnya lagi. Terserah apa yang akan kau lakukan setelah ini. Aku tidak peduli.”

***

Harusnya aku tidak membuatnya kecewa. Harusnya aku tidak membuatnya marah. Harusnya aku tetap membuatnya tenang agar kalimat itu tidak terucap olehnya.

***

“Sudah ku bilang berhenti menceramahiku! Kau sudah bilang kau tidak akan peduli lagi dengan segala tindakanku!” teriakku geram.

Luhan menarik tanganku lalu menghimpitku di antaranya dan dinding. Aku bisa mengatakan bahwa wajahnya merah padam karena marah.

“Aku tidak akan peduli jika kau melakukan hal-hal kecil seperti mengirimkannya surat dan bunga. Aku tidak akan peduli jika kau selalu berpura-pura bodoh dan memintanya mengajarimu. Tapi aku peduli jika perbuatanmu sudah melebihi batas! Kau tidak seharusnya meneror Taeyeon! Kau tidak seharusnya memfitnah Taeyeon! Dan kau tidak seharusnya menjebak Suho dan berbohong!”

Dan benar saja, dia balas membentakku. Baru pertama kali aku melihatnya semarah ini. Biasanya dia hanya mengomel tidak jelas tanpa memberikan aura berbahaya. Tapi kali ini, auranya membuat bulu kudukku berdiri. Aku memejamkan mataku untuk menekan rasa takutku kemudian kembali menatapnya tajam.

“Karena aku sahabatmu? Kau malu karena mempunyai sahabat sepertiku? Oke, seharusnya kau katakan semua orang bahwa kau bukan lagi sahabatku. Mudah, kan?” balasku.

“Jess…”

Satu kata penuh penekanan itu membuatku kembali merinding. Aku tidak tahu akan seseram ini jika emosinya sudah meledak.

“A-aku—akh!”

Aku meringis kesakitan saat tangannya mempererat remasannya terhadap tanganku. Aku ingin memakinya karena dia sama sekali tidak peduli seberapa sakit yang dirasakan oleh tanganku sekarang. Akan tetapi aku tidak mempunyai keberanian. Dia terlalu menakutkan sekarang.

Selanjutnya yang ku dengar, dia menggeram pelan penuh penekanan, “aku melakukan ini bukan karena malu. Aku melakukan ini bukan karena kasihan. Aku melakukan ini karena aku tidak rela orang yang ku cintai terpuruk. Apalagi alasannya karena pria lain!”

Aku tidak bisa berkata apapun dan hanya mengerjap. Aku tidak pernah menyangka dia akan mengatakannya. Aku menarik napas dalam dan mencoba berpikir. Alisnya terangkat saat aku malah membalasnya dengan tawa.

“Ya, tentu saja kau mencintaiku. Aku kan sahabatmu. Kalau aku—“

Mataku melebar saat Luhan mencium bibirku kasar.

***

Andai kalimat itu tidak pernah terucap olehnya, hubungan kami akan tetap baik-baik saja. Andai ciuman itu tidak pernah terjadi, aku dan dia tidak akan saling menjauh.

Aku tidak pernah berharap dia akan menjadi orang asing di keesokan harinya. Aku tidak pernah berharap hubungan kami menjadi sejauh itu. Aku tidak pernah berharap dia akan menjadi orang yang menakutkan dengan setiap kata cintanya.

Rasanya sakit kehilangan seseorang yang ku sayang.

***

Aku meletakkan buku-buku yang ku ambil dari rak buku di atas meja perpustakaan. Aku tidak mempunyai semangat untuk mengerjakan tugas-tugas semacam ini. Biasanya aku akan meminta bantuan Luhan untuk mengerjakan tugas seperti ini. Akan tetapi sekarang rasanya tidak mungkin.

Aku hampir saja melompat dari dudukku saat sebuah suara mengagetkanku. Itu adalah Luhan. Tidak ku sangka suaranya yang biasanya membawa ketenangan malah memberikan rasa takut setelah kejadian itu. Aku benar-benar benci perasaan ini, juga suasana canggung yang selalu menemani saat kami berada di tempat yang sama.

“Kau membutuhkan bantuanku?” tanya Luhan.

Aku menggeleng sebagai jawaban.

“Kau yakin?”

Aku mengangguk mantap.

“Atau kau malah ini meminta bantuan Suho?”

“Ku rasa itu jauh lebih baik.”

Luhan menghela napas panjang. “Kapan kau akan berhenti berusaha?”

“Kapan kau akan berhenti menceramahiku?” balasku asal.

“Kenapa kau tidak menerimaku saja? Lebih baik kau menerima orang yang mencintaimu daripada kau berusaha mendapatkan orang yang kau cintai tapi tidak mencintaimu. Karena mencintai lebih mudah daripada dicintai,” gumamnya seakan tidak ada yang salah dengan kata-kata yang ia lontarkan.

“Kenapa kau tidak dengan para penggemarmu saja? Banyak wanita yang mengejarmu, kan? Kenapa kau malah sibuk menceramahiku tentang ini dan itu? Dan aku yakin Suho masih mencintaiku.”

“Jessica…”

“Luhan…”

“Diam!” teriak sang penjaga perpustakaan.

Kami langsung mengatup mulut kami rapat karenanya. Aku menoleh saat mendengar suara kursi bergeser, yang ternyata karena Luhan bangkit dari duduknya.

“Ku harap kau tidak akan menyesal,” katanya sebelum pergi meninggalkanku.

Aku memutar mataku. “Tentu aku tidak akan menyesal.”

***

Nyatanya aku salah. Kini aku menyesal. Aku sangat amat menyesal.

Aku bodoh, ku akui itu. Bodoh karena setiap perbuatanku dulu. Bodoh karena setiap pemikiranku dulu. Dan bodoh karena tidak bisa menyadari seberapa benarnya semua perkataannya.

***

Author pov.

“Eonni, kenapa kau lama sekali sih?” protes Krystal.

Dengan kesal, Krystal membuka pintu kamar kakaknya. Kekesalannya mereda dan berganti rasa kasian saat melihat kesedihan yang terpancar dari mata Jessica. Dia memeluk Jessica.

“Aku menyesal,” gumam Jessica.

“Aku tahu.”

“Dia benar.”

Krystal mengangguk. “Yap.”

“Aku bodoh.”

“Tidak, kau hanya terlambat.”

“Aku benci ketelambatanku.”

“Semuanya sudah terjadi.”

“Makanya aku menyesal.”

“Aku mengerti.”

Krystal melepaskan pelukannya agar ia bisa menatap mata kakak satu-satunya. Mata itu terlalu lelah untuk menangis. Lagipula Krystal memang tidak mau kakaknya menangis lagi.

“Kalau begitu, jangan terlambat lagi. Kita hanya punya waktu 1 jam lagi,” kata Krystal.

Jessica mengerang. “Aku lebih suka terlambat!”

>>>

Jessica kembali disibukan dengan kata-kata andainya. Dia bahkan tidak berani menatap ke depan. Dia tidak mau melihat pria itu. Itu membuat hatinya semakin remuk.

Karena semuanya sudah terlambat.

Jessica mengerti makna setiap kalimat yang terlontar dari Luhan. Jessica tahu betapa benar kalimat-kalimat itu.

Sayang hal itu terlambat.

Jessica sadar bahwa dia hanya terobsesi dengan Suho. Jessica sadar betapa berharganya Luhan.

Tapi dia sudah terlambat.

Dan kini, Jessica harus menatap kenyataan yang sudah berada di depan matanya. Mantan sahabatnya sedang mengikat janji sehidup-semati dengan wanita lain. Kata-kata andai pun kembali mendominasi pikirannya.

Andai aku lah yang berada di atas altar bersama Luhan…

=== If ===

LOL aku malah nemu drabble di laptop. Sepertinya aku nyimpen banyak ff di laptop tapi lupa untuk dipublish. Jadi aku publish aja supaya kalian ga terlalu merasakan dampak hiatusku ._.v

Maaf kalo kalian ga ngerti. Namanya juga ff lama. Jadi aku ga sempet ngedit karena udah lupa feel ceritanya.

Advertisements

5 responses to “[Drabble] If

  1. astaga.. sumpah keren banget author (y)
    nyesek sekali jadi Jessica –‘ tapi itu karena kesalahannya juga sih..
    hah, itulah yang kubenci dari kata-kata ‘andai’
    seperti biasa.. ga ada bad comment 😀

  2. hmpir mw nangis bca ff nya,, (-_-;)
    hehe, bgus eonni ff nya, tpi ttap ksihan sma Jessie eonni nya.. T_T
    bisa jdi pljaran jga nih ff nya eonni..
    good comment eonni tuk ff nya.. n_n

    oh ya eonni, skali2 bkin ff nya yg horor ya eonni..

  3. Kerenn.. Suka sama alurnya walopun pda akhirnya sad end. Masih penasaran sama cwe yang nikah sama Luhan. Jess… Jess.. *geleng” kpala*
    Dibilangin kok susah ya toh?? /Plak
    So far, tak ada typo yang nyempil.
    Good job!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s