[Drabble] Lovin’ You

Title : Lovin’ You

Author : Lee Hyura

Genre : Fluff, Romance

Rating : General

Cast :

–                 EXO M Luhan

–                 SNSD Jessica

–                 Choi Minah (OC)

Note : terinspirasi dari video klip lagunya Sammy Simorangkir. Lupa judulnya ._.v

Always do not forget your smile
Believed that pounding excitement of the road
(Secret – Twinkle Twinkle)

=== Lovin’ You ===

Luhan sedang berada di sebuah taman puncak bukit. Taman itu sangat sepi karena bukit itu memang lumayan terpencil di kota Daejeon. Udara di sana masih bersih, sangat berbeda dengan kota Beijing yang memang terkenal sebagai kota industri.

Luhan memainkan pensilnya sambil melihat ke sekitarnya, kakinya terus bergerak agar ayunan yang diduduki olehnya itu terayun pelan. Dia terbiasa di taman itu saat sore hari, di saat matahari tidak begitu menyengat. Dia selalu membawa buku gambar dan pensil HBnya ke taman itu. Taman itu adalah tempat satu-satunya untuk melepaskan kebosanannya. Ibunya sudah meninggal karena melahirkannya. Sedangkan ayahnya sibuk dengan bisnisnya. Luhan pindah dari Cina ke Korea juga karena bisnis ayahnya.

Selama ia hidup, ia hanya berteman dengan para pekerja di rumahnya. Jantungnya yang lemah membuat ayahnya sangat protektif akannya. Dia tidak pernah diperbolehkan keluar dari rumah terlalu lama. Dia menjalani homeschooling agar bisa selalu diawasi. Pada awalnya, dia juga tidak diperbolehkan untuk datang ke taman itu sendirian. Tapi karena kondisinya membaik sejak dia sering datang ke taman itu, akhirnya dia diperbolehkan. Datang ke taman itu juga satu-satunya cara untuk membebaskannya dari segala kekangan, walaupun hanya sementara.

Dia senang menggambar. Ayahnya bilang hobi dan kemampuannya diturunkan oleh ibunya. Bahkan ibunya memiliki galeri sendiri untuk semua lukisannya di rumah. Ruangan itu yang biasanya digunakan Luhan untuk mengunci diri saat sedang mengambek saat kecil. Mengetahui itu, Luhan semakin senang melukis dan bermimpi menjadi seorang pelukis.

Luhan yang asik melamun itu bersentak saat mendengar suara sepeda mendekat. Biasanya seorang pembantunya akan menjemputnya dengan sepeda. Merasa belum puas di taman itu, Luhan berusaha mencari persembunyian. Dia bersembunyi di balik pohon. Dia duduk disana sambil meremas tangannya. Dia berdoa agar pembantunya tidak menemukan tempat persembunyiannya.

Alisnya terangkat setelah beberapa menit dia bersembunyi, tidak ada suara yang memanggil namanya. Padahal suara sepeda itu terhenti saat sudah terdekat saat dekat. Suara ayunan yang diduduki olehnya tadi pun terdengar, diikuti suara senandung yang lembut. Luhan memejamkan matanya sambil menikmati senandung lembut itu. Suara orang itu—yang Luhan yakini seorang gadis—terdengar sangat merdu. Luhan membuka matanya perlahan. Dia mencoba melirik siapa kah gadis itu. Bibirnya sedikit terbuka saat melihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang agak bergelombang dengan warna hitam agak kecoklatan.

“Cantik…” gumamnya, terpesona.

***

Sore ini, Luhan juga melihat gadis itu di ayunan yang biasa ditempati oleh Luhan. Sedangkan Luhan duduk di dahan pohon yang sangat rendah, tempat beberapa langkah di belakang gadis itu. Luhan menggambar gadis itu dari belakang.

“Dari belakang saja, sudah terlihat sangat cantik,” gumamnya sambil tersenyum lebar.

Setelah dia selesai mengarsir gambarnya, Luhan menatap gambarnya dengan bangga. Dia melompat turun. Dia berjalan melewati pohon-pohon dengan perlahan agar tidak menimbilkan suara. Dia tidak mau gadis itu menyadari kehadirannya. Luhan memilih duduk di bawah pohon yang cukup jauh dari gadis itu, tapi cukup jelas untuk melihat gadis dari depan.

Wajah gadis itu seakan bersinar saat terkena cahaya jingga matahari yang mau terbenam. Gadis itu memejamkan matanya seraya mengalihkan wajahnya. Saat membuka mata, dia melihat sosok Luhan yang sedang memperhatikannya. Menyadari itu, Luhan segera bangkit dan bersembunyi di balik pohon yang cukup besar.

“Duh, hampir saja…” desahnya lega.

Luhan mencoba menilik keadaan. Gadis itu dan sepedanya sudah tidak ada di dekat ayunan.

Pasti sudah pulang, lirih Luhan dalam hati.

Luhan bangkit dari duduknya saat melihat salah seorang pembantunya datang mengendarai sepeda. Dia berlari menghampiri pembantunya itu dan sampai di sana tepat saat pembantunya turun dari sepeda. Tidak, kali itu bukan pembantunya. Tapi itu adalah Minah, anak Choi ahjumma. Gadis itu seumuran dengan Luhan dan kuliah di salah satu universitas ternama di Seoul. Dia sedang libur semester dan menghabiskan liburannya dengan membantu ibunya di rumah Luhan.

“Oh, tuan! Kau mengagetkanku saja!” seru Minah dengan bahasa Korea.

Minah menutup mulutnya saat sadar ia reflek mengatakannya dengan bahasa Korea. Mau bagaimana lagi, namanya juga reflek. Minah tahu Luhan memang tidak terlalu mengerti bahasa Korea. Tapi Minah tidak terlalu lancar berbahasa Mandarin. Itu sebabnya Minah jarang berhadapan langsung dengan Luhan.

Luhan tersenyum kecil. “Minah, apa… kau mau… mengajariku bahasa Korea?” tanya Luhan dengan bahasa Korea yang terbata-bata.

Minah mengerutkan keningnya bingung. Tapi akhirnya dia mengangguk karena melihat wajah penuh harapnya Luhan. Luhan tersenyum girang.

***

Seperti sore-sore biasanya, Luhan duduk di ayunan itu. Tapi kini ditemani oleh Minah. Minah sibuk mengajarkan Luhan tentang huruf-huruf hangul. Buku gambar yang dibawa Luhan sampai hampir penuh karena Minah memaksa Luhan untuk menulis semua huruf itu berulang kali. Luhan tidak protes. Dia melakukannya dengan senang hati. Minah tersenyum kecil melihat Luhan fokus dengan apa yang sedang ia lakukan.

Kepala Luhan terangkat cepat saat mendengar suara sepeda yang sudah tidak asing bagi telinganya. Dia bangkit seraya menarik Minah menjauh dari tempat itu. Mereka bersembunyi di balik pohon. Minah ingin bertanya kenapa, tapi dia mengurungkannya setelah melihat seberapa fokusnya Luhan memperhatikan gadis yang kini menempati ayunan yang ditempat Luhan tadi. Minah tersenyum geli melihat majikannya tersenyum lebar.

“Tuan menyukai gadis itu, ya?” tanya Minah berbisik di telinga Luhan.

Luhan reflek memutar kepalanya sehingga kepalanya terantuk cukup keras dengan kepala Minah. Mereka berdua mengerang kesakitan. Luhan mengelus bagian kepalanya yang sakit, Minah juga melakukan itu. Ternyata teriakan mereka cukup keras hingga membuat gadis yang selama ini diamati oleh Luhan menyadari kehadiran mereka. Gadis itu menghampiri mereka berdua.

“Ada apa?” tanya gadis itu.

Minah segera bangkit dan menggeleng cepat. “Eobseoyo.”

Minah melirik Luhan yang kini hanya diam dan menundukkan kepalanya. Sebuah ide melintas di kepalanya. Dia terkekeh pelan. Minah meraih tangan gadis itu dan menjabatnya.

“Perkenalkan, namaku adalah Choi Minah. Dan ini adalah majikanku. Namanya adalah Luhan,” ujar Minah. “Siapa namamu?”

Gadis itu melirik Luhan yang masih menunduk lalu menatap Minah dan tersenyum ramah. “Sooyeon. Namaku adalah Jung Sooyeon.”

>>>

Setelah kejadian tadi, Sooyeon membantu Minah mengajari Luhan. Luhan hanya diam karena terlalu malu. Dia memaksa Minah untuk pulang. Jadi ini lah mereka, mereka sedang menuruni bukit. Minah mengendarai sepeda dengan perlahan, sedangkan Luhan berjalan di sampingnya. Luhan menolak untuk dibonceng oleh Minah. Sepanjang perjalanan, Luhan terus menggerutu kesal.

“Apa yang kau lakukan, Minah?” erang Luhan frustasi, tentu saja dengan bahasa Mandarin. “Kau mempermalukanku! Kau tahu?”

Minah tertawa kecil. “Maaf. Tapi setidaknya tuan tahu siapa namanya. Anggap saja ini adalah hadiah perpisahan dariku. Aku kan akan kembali ke Seoul besok.”

Luhan menoleh cepat. “Hah? Cepat sekali.”

“Iya. Aku ada urusan mendadak di Seoul. Jadi harus segera kembali ke Seoul. Maaf karena tidak bisa mengajarimu lagi. Besok adalah hari terakhirku mengajarimu hangul,” desah Minah.

“Tidak apa. Aku berterima kasih sudah diajarkan hangul dan membantuku mendapatkan nama gadis itu.”

Luhan melempar senyum kepada Minah dan dibalas oleh Minah dengan eyesmilenya.

***

Luhan terlambat datang ke taman itu karena dia memaksa ikut mengantarkan Minah ke stasiun kereta. Tapi Luhan tidak diperbolehkan turun dari mobil. Sesampainya di rumah, dia segera mengambil buku gambar yang baru dibelinya kemarin beserta pensil. Karena terlambat, dia pergi ke taman itu dengan sepeda.

Luhan melirik jam tangannya. Biasanya jam segini, Sooyeon sudah berada di taman itu. Tapi Luhan tidak berhasil menemukan sosok Sooyeon di sekitar ayunan yang biasa. Luhan terduduk lemas di ayunan itu sambil memperhatikan buku gambarnya yang masih kosong. Dia mulai memainkan pensilnya di kertas putih itu. Tak lama, jadilah gambar Sooyeon mengenakan gaun dengan rambut tergerai cantik. Luhan tersenyum tipis sambil mengarsirnya.

“Wah, gambarmu bagus sekali. Seperti komik saja!” seru Sooyeon dari belakang.

Luhan melompat kaget karenanya. Dia menggigit bibirnya sambil melirik ke segala arah agar pandangannya tidak bertemu dengan Sooyeon. Sooyeon tersenyum kecil sambil meraih buku gambar Luhan. Tapi Luhan lebih cepat dari Sooyeon, dia menyembunyikan buku gambarnya di balik punggungnya. Sooyeon merengut karenanya.

“Luhan-ssi, aku ingin lihat!” protes Sooyeon.

Luhan menggeleng cepat. “Shireo!”

Sooyeon menggembungkan pipinya kesal sembari membuang muka. Tiba-tiba ia teringat dengan Minah.

“Kau tidak bersama Minah, Luhan-ssi?” bingung Sooyeon.

Luhan menggeleng. “M-Minah… Minah sudah… kembali k-ke.. Seoul.”

Dalam hati, Luhan meruntuki dirinya yang gagap saat menjawab pertanyaan Sooyeon sehingga Sooyeon menatapnya bingung.

“A-aku pulang!” seru Luhan cepat.

Luhan berbalik badan. Di saat itu, Sooyeon langsung menyambar buku gambar itu. Sooyeon bersorak senang karena berhasil mendapatkan buku gambar itu. Gadis itu menyeringai melihat wajah panik Luhan.

“Kembalikan, Sooyeon-ssi~” mohon Luhan.

Sooyeon menggeleng pelan. Dia berlari menjauh dari Luhan sambil melihat gambar itu. Tentu saja Luhan segera mengejarnya. Kaki Sooyeon berhenti saat melihat namanya tertulis di pojok kanan bawah. Luhan yang tidak tahu Sooyeon akan berhenti pun akhirnya menabrak Sooyeon. Mereka terjatuh ke tanah dan mengaduh. Luhan segera bangkit dan membantu Sooyeon bangkit.

Luhan membungkukkan badan. “M-maafkan aku.”

Sooyeon malah tertawa sambil menepuk bahu Luhan. Luhan menatapnya bingung. Matanya membulat saat Sooyeon menunjukkan hasil gambarnya tadi. Bukan, Sooyeon menunjukkan huruf yang ditulis oleh Luhan di bagian pojok kanan bawah.

“Jung.. Sooyeon!” seru Sooyeon bangga.

Wajah Luhan pun memerah karena malu.

***

Hari ini, Sooyeon kembali datang ke taman itu. Sejak keluarganya pindah ke rumah yang berada di kaki bukit itu, Sooyeon memasukkan datang ke taman itu sebagai hobi dan rutinitas wajib sehari-harinya. Pasalnya dia tidak suka berada di rumah setelah pulang dari sekolah. Rumahnya terlalu sepi. Menyeramkan.

Sooyeon menyandarkan sepedanya ke pohon yang paling dekat dengan ayunan yang biasa. Dia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok Luhan. Biasanya pemuda itu sudah berada di sana sebelum Sooyeon datang. Tapi Sooyeon tidak berhasil menemukannya. Sooyeon bangkit dan memutuskan untuk mencari Luhan di sekitar sana. Tapi juga tidak berhasil menemukan sosok Luhan yang sedang menggambar seperti biasa.

Akhirnya Sooyeon memutuskan untuk kembali duduk di ayunan. Saat tangannya menyentuh tali ayunan, dia baru menyadari ada sesuatu di ayunan itu. Sooyeon bangkit dan melihat sebuah kertas dengan tulisan hangul yang berantak. Sooyeon tertawa kecil, mengetahui Luhan lah yang melakukan itu.

Datanglah ke taman ini di malam terakhir di tahun 2012. Jam 7 malam. Jangan terlambat!
– Luhan

***

Seperti yang diminta oleh Luhan, Sooyeon datang ke taman itu tepat di jam 07.00 malam. Sooyeon turun dari sepedanya sambil menatap hiasan di sekitar ayunan yang biasa ia tempati dengan takjub. Dia merapatkan mantelnya saat rasa dingin mulai menyentuh kulitnya.

Cantik sekali…, pujinya dalam hati.

Sooyeon melakukan rutinitas wajib saat sampai di tempat itu –menyandarkan sepedanya ke pohon yang biasa dan duduk di ayunan. Tiba-tiba sebuah kertas meluncur jatuh dari atas dan berhenti tepat di depan wajah Sooyeon. Kertas itu tergantung dengan sebuah benang tipis. Sooyeon melirik ke atas. Tidak ada seorang pun di sana. Dengan perlahan, Sooyeon melepaskan kertas itu dari benang lalu membukanya. Gambar Luhan yang saat itu ia lihat dan sebuah tulisan di sisi kiri.

Aku sering membayangkanmu memakai gaun pengantin. Kau terlihat sangat cantik di khayalanku. Dan ku yakin kau lebih cantik dari yang ada di khayalanku.

Sooyeon menutup mulutnya, tak menyangka Luhan lah yang menulis itu. Sooyeon mencoba melirik ke sekitarnya. Dia berharap Luhan muncul. Tapi Luhan masih belum muncul. Sooyeon kembali memperhatikan gambar itu dengan perasaan terharu. Sebuah kertas lainnya kembali meluncur jatuh. Sooyeon segera membukanya.

Aku bingung mau menulis apa. Sebenarnya ini semua adalah usulan dari Minah.
Mungkin aku akan mulai dengan mengungkap semuanya.
Aku sering memperhatikanmu sejak pertama kali kau datang ke taman ini.
Aku sudah terpesona dari sejak pertama aku melihatmu.
Aku semakin terjerat setelah hari-hari yang kita lalui bersama.
Tapi aku tidak bisa mengatakan aku mencintaimu karena aku tidak mengerti cinta.
Cinta adalah bagian dari perasaan. Perasaan berasal dari hati. Siapa yang tahu isi hati?
Itu sebabnya aku tidak mau sok tahu tentang hatiku.
Tapi aku yakin aku menyayangimu.
Aku ingin bersamamu selalu.
Jadi, aku mendaftarkan diri untuk menjadi bagian penting dari hidupmu.
Apa kau mau menerimaku?

Sooyeon memutar kepalanya saat merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Dia melihat Luhan di sana.

“Bagaiman jika kita coba jalani saja?” tanya Sooyeon balik.

Luhan tersenyum kecil sebagai balasannya.

Sooyeon terkekeh canggung. “Wow, kau bisa menulis hangul sepanjang ini! Hebat..”

“Terima kasih untukmu dan Minah,” balas Luhan lalu tertawa.

=== Lovin’ You ===

Sebenernya ini ff yang aku buat di malam tahun baru tapi belum sempet aku publish. Dan maaf kalo… err, menjijikan ceritanya.

Advertisements

4 responses to “[Drabble] Lovin’ You

  1. Yey yey … Susu Boneto … Uppsss~ Maksud reader, Yey yey … HanSica HanSica!! #Reader jdi korban iklan, nih#
    Thanks, ya, Eon … udah bikin ff HanSica yg udah kutunggu2, hehe …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s