[Series] Calling Out – Chapter 9

calling out 4

Author : Lee Hyura

Title : Calling Out

Genre: Angst, Family, Romance

Rating : PG 15

Length : Series

Cast :

–   EXO Kris

–   EXO Luhan

–   SNSD Jessica

–   Daniel Hyunoo

–   SNSD Seohyun

–   F(x) Krystal

=== Calling Out ===

Jessica merapikan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam lemari. Seohyun berada di hadapannya dan melakukan hal yang sama. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit setelah Jessica dirawat sekitar 2 hari. Berita Jessica hamil tanpa sengaja mengundang kedatangan orangtuanya dan Kris sehingga ruang tamu rumah itu sangat lah ramai. Daniel sedang bermain pedang dengan sepupunya.

Tidak seperti ruang tamu yang ramai, kamar itu sangat sunyi. Tidak seperti biasanya 2 wanita itu tidak saling berbicara sejak mereka sampai di kediaman Kris dan keluarganya. Walaupun sebenarnya banyak sekali hal yang ingin Seohyun bicarakan dengan Jessica, tapi dia terpaksa menahan diri karena keadaan Jessica yang masih down.

Moodmu akan memberi dampak buruk pada calon anakmu, Eonni,” komentar Seohyun akhirnya.

“Seperti aku peduli saja,” tanggap Jessica datar.

Seohyun menarik napas. Ini seperti dejavu. Saat Jessica hamil Daniel, Jessica juga bersikap seperti ini. Setelah ingat apa kebiasaan buruk Jessica saat hamil, Seohyun tidak berkata apapun lagi.

“Lagi, aku hamil di saat yang tidak tepat. Menyebalkan,” gumam Jessica sembari menyusun pakaiannya di lemari baju.

“Eonni…”

“Aku tidak becanda, Seo. Dulu, aku hamil Daniel saat Luhan kembali ke Cina. Sekarang aku hamil saat Luhan kembali ke Cina lagi? Apa-apaan hidupku ini? Mengulang hal bodoh berulang kali!”

“Jangan anggap kehamilanmu sebagai masalah, Eonni. Kehamilan adalah anugerah.”

“Dengan kondisi seperti ini, bagaimana bisa aku menganggapnya sebagai anugerah?”

“Lalu apa maumu sekarang? Mengaborsinya?” sungut Seohyun tajam. “Kapan kau dewasa, Eonni? Kenapa pikiranmu sangat pendek? Dan kenapa pikiranmu selalu dipenuhi dengan Luhan oppa? Sekarang kau sudah bersama Kris oppa! Hidupmu berat karena kau menolak untuk menerima kenyataan hidupmu! Hidupmu berat karena kau selalu berusaha lari dari masalah yang malah membuat masalahmu bertambah! Eonni—aw!”

Seohyun meringis akibat baju yang dilempar oleh Jessica mengenai wajahnya. Seohyun menggigit bibir ketika melihat wajah Jessica yang merah padam. Dia lupa dengan masalah emosi Jessica yang sedang sangat sensitif.

Seohyun menatap Jessica, memelas. “Eonni, aku minta maaf. Aku tidak—“

“Keluar!” teriak Jessica.

“Eon—“

“Keluar!”

Seohyun memilih keluar secepatnya sebelum emosi Jessica meledak. Seohyun tidak langsung beranjak setelah menutup pintu kamar Jessica. Dia bersandar di pintu kamar Jessica sambil menenangkan dirinya. Bohong jika dia tidak emosi. Jika bukan karena kesehatan janin yang berada di perut Jessica, Seohyun tidak mau mengalah. Dia sudah muak dengan tingkah Jessica selama ini.

Dia mendongak saat melihat sepasang kaki di depannya. Kris. Entah Kris datang di waktu yang tepat atau salah. Untuk berbagai alasan, keduanya adalah jawabannya. Seohyun merosot jatuh.

“Jessica marah-marah lagi?” tanya Kris sambil berjongkok di hadapan Seohyun.

Seohyun mengangguk. Kris mengusap rambut Seohyun lembut. Ia sudah menganggap Seohyun sebagai adiknya sendiri setelah banyak hal terjadi. Seohyun adalah malaikat penyelamat rumah tangga Kris dan Jessica.

“Maaf atas perlakuan Jessica kepadamu. Dia—“

Seohyun menggeleng sambil terisak. “Aku muak, Oppa. Aku muak. Aku lelah. Tidak hanya dia yang mempunyai masalah. Aku juga. Kenapa kalian masih juga menyeretku ke dalam masalah kalian? Aku lelah. Muak.”

>>>

Seohyun memperhatikan layar laptop dan handphone bergantian. Pikirannya berputar-putar. Dia tidak tahu harus berpikir apa sekarang. Semua masalahnya berlomba untuk mendominasi pikirannya, itu membuat kepalanya berdenyut nyeri. Biasanya jika sudah seperti ini, dia akan menceritakannya kepada Sehun. Sayangnya pria itu juga tidak diketahui kondisinya. Sudah beberapa hari ini, dia tidak mengangkat telepon Seohyun.

“Kalau sudah seperti ini, aku harus apa?” gumam Seohyun lirih.

Dia menutup laptopnya tanpa mematikannya terlebih dahulu dan meletakkannya di sembarang tempat. Begitu pula dengan handphonenya. Setelah itu, dia mengubur wajahnya di bantal.

***

Jessica terbangun dengan tenang di Sabtu pagi. Setelah mandi, Jessica keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengerjakan tugasnya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Dia mengerjap kaget saat melihat ibunya dan ibu mertuanya sedang asik berbincang sambil membuat sarapan. Mereka menyapa Jessica—yang dibalas senyum oleh Jessica—lalu kembali asik bergosip. Jessica menggaruk tengkuknya dan memutuskan untuk ke kamar Daniel sambil meruntuki diri karena sudah lupa akan keberadaan keluarganya dan keluarga Kris.

Tidak aneh kalau Jessica lupa sebab Jessica tidak keluar seharian kemarin. Dan juga, Kris dan dia akan tidur sekamar agar keluarga mereka tidak mengetahui kondisi keluarga mereka. Namun semalam Kris malah tidur di ruang tengah bersama ayahnya Jessica karena sibuk membicarakan politik. Untung saja mereka punya 4 kamar sehingga 2 kamar lainnya—termasuk kamar Kris—bisa dipakai oleh orangtua mereka. Krystal tidur di kamar Daniel. Dan saudara Kris tidak ada yang memutuskan untuk menginap.

Jessica terdiam saat melewati ruang tengah. Dia melihat Kris yang sedang tidur meringkuk di sofa. Udara malam musim dingin pasti sangat menusuk semalam walaupun ruangan itu sudah dipasang penghangat ruangan. Apalagi ukuran sofa yang kecil untuk ditiduri oleh seseorang setinggi Kris. Kris terlihat sangat tidak nyaman.

“Dasar bodoh,” gerutu Jessica pelan. “Kenapa tidak masuk ke kamarku saja sih?”

Jessica memutuskan untuk membangunkan Kris. Jessica bisa melihat kelelahan yang tersirat dari pancaran mata Kris saat mata itu terbuka. Melihat wajah Jessica di waktu pertama kali membuka mata membuat Kris terkejut. Jessica ikut terkejut karenanya.

“O-oh, maaf! A-aku tidak—“

Kris segera menggeleng. “It’s okay. Aku hanya kaget. Kau sudah merasa lebih baik?”

Jessica menatap mata Kris sendu. Bohong jika dia tidak mencintai pria di hadapannya. Kris terlalu sempurna sebagai manusia. Tidak sulit untuk mencintainya. Yah walaupun saat awal menikah, Kris membuatnya jengkel setengah mati setiap hari. Hanya saja rasa bersalah Jessica selalu menekan perutnya setiap ia menatap wajah Kris.

“Jess?”

Jessica segera mengalihkan pandangannya. “Y-ya. Aku baik-baik saja.”

“Syukurlah.”

“Lebih baik kau tidur di kamarku. Pasti tidak nyaman sekali tidur di sini. Hari ini kau libur, kan?” ucap Jessica.

“Baiklah.”

Kris mengecup kening Jessica lalu pergi ke kamar Jessica, meninggalkan Jessica yang hanya diam di tempatnya sambil berperang dengan rasa bersalahnya. Segala perlakuan Kris terhadapnya membuat rasa bersalahnya semakin besar. Itu terasa seperti membunuhnya perlahan.

***

Jessica memeluk kakinya dan bersendagu di lututnya. Kini hanya ada dia dan Kris di rumah. Daniel diajak pergi oleh Krystal dan orangtua mereka sudah pulang setelah puas memberikan ‘pesan-pesan penting’ bagi kehamilan kedua Jessica.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Kris.

Jessica menelan air liurnya. Dia baru ingat kalau dia lah yang meminta Krystal membawa Daniel pergi agar dia bisa berbicara dengan Kris berdua saja.

“Perceraian kita…”

Jessica menggigit bibirnya. Dia tidak sanggup melanjutkannya setelah melihat Kris mengerang pelan. Jessica mengepalkan tangannya erat. Ia harus melakukannya. Hanya ini satu-satunya cara ia terlepas dari masalah yang menyiksanya selama beberapa tahun belakangan.

“Jess—“

Jessica mengangkat tangannya untuk menyela, “Kris, ku rasa ini adalah salah satu perjanjian kita. Kau harus menghargai keputusanku. Lagipula, apa yang kau harapkan dari hubungan datar kita?”

“Daniel.” Kris menghela napas panjang. “Aku mempertahankannya karena Daniel. Jika kau memaksa, aku bisa saja mengabulkannya. Tapi apa kau memikirkan perasaan Daniel? Daniel masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan orangtuanya berpisah.”

Lidah Jessica kelu. Daniel selalu menjadi titik kelemahannya. Entah sejak kapan titik kelemahannya berpindah ke anak satu-satunya itu. Berbagai pikiran pun memenuhi otaknya. Jessica segera menggelengkan kepala, membuang semua pikiran itu sebelumnya niatnya berbelok.

“Daniel bisa mengerti,” balas Jessica datar. Sebenarnya dia tidak yakin.

“Kau punya jaminan bahwa Daniel akan baik-baik saja?”

“Tentu.”

“Oh ya?”

Jessica menggertakkan giginya geram. “Aku ibunya!”

“Aku ayahnya!”

“Kau bukan ayahnya!”

Kris terbelalak mendengarnya. Begitu pula Jessica. Dia terkejut. Dia tidak menyangka ia akan mengatakannya. Jessica menjilat bibirnya gugup saat Kris menatapnya intens.

“Aku ayah kandungnya, Jess. Aku—“

“Sudah ku bilang kau bukan ayahnya!” bentak Jessica kesal. “Kau bukan ayah kandungnya, Kris! Kau hanya seorang ayah yang mengurusnya sejak ia lahir, tapi bukan ayah biologisnya..”

Deg!

Kris membuka mulutnya—hendak membalas perkataan Jessica—tapi tak ada suara yang keluar. Seakan kotak suaranya hilang, ia tidak bisa berbicara sama sekali. Dia terlalu shock mendengarnya. Dalam hati, dia sangat berharap kata-kata itu tidak benar. Berharap kata-kata itu hanya sebuah kata hasil luapan emosi Jessica. Berharap Jessica tidak bersungguh-sungguh dengannya. Harapannya pupus perlahan ketika melihat wajah Jessica yang frustasi namun lega di saat yang bersamaan.

“Maksudmu?” tanya Kris saat otaknya mulai bisa mengontrol tubuhnya secara keseluruhan lagi.

Jessica menyisir rambut yang menutupi wajahnya ke belakang dengan tangan. Dia tidak tahu harus berkata apa.

“Apa maksudmu, Jessica?” ulang Kris, kini terdengar berbahaya.

“Daniel bukan anakmu,” jawab Jessica singkat.

Rahang Kris mengeras mendengarnya. Dia masih menunggu kelanjutan penjelasan dari Jessica.

“A-aku pikir Daniel adalah anakmu. Well, semua orang berpikir seperti itu. Sampai saat Daniel mengalami kecelakaan..”

Kris ingat kejadian saat Daniel masih 2 tahun beberapa bulan. Jessica meneleponnya sambil menangis hebat. Wanita itu sibuk menyalahkan dirinya karena tidak memperhatikan Daniel sehingga ia tidak tahu bahwa Daniel menendang bolanya ke arah jalan raya lalu tertabrak mobil.

Jessica melanjutkan, “saat itu aku bersama temanku. Dokter mengatakan Daniel dalam kondisi sekarat karena kekurangan darah. Aku baru tahu kalau golongan darahku tidak cocok dengan Daniel dan malah cocok dengan temanku. Tanpa aku ketahui, temanku juga meminta tes DNA dari sampel darahnya dan darah Daniel. Ternyata—“

“Cocok?” tebak Kris ragu. Pandangannya kosong.

Jessica mengangguk. “Dia menuntutku yang tidak pernah bilang kepadanya. Padahal aku juga tidak tahu. Aku teringat kejadian saat aku dan temanku berpisah di masa lalu. Semua masuk akal. Semua orang mengira ayah biologis Daniel adalah dirimu hanya karena waktumu datang ke kehidupanku terlalu tepat.”

“Kau tidak memberitahukannya kepadaku?” tanya Kris. Untuk bernapas saja sulit baginya.

“Aku selalu berniat untuk memberitahumu tentang ini. Akan tetapi saat melihat sedekat apa kau dengan Daniel, aku tidak sanggup. Maaf.”

Suasana hening pun mendominasi. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jessica tidak berani menatap Kris. Ia yakin ia pasti akan menangis.

“Jadi, siapa temanmu itu?” tanya Kris akhirnya.

Jessica menggeleng pelan. “Kau tidak perlu tahu.”

“Aku harus tahu. Setidaknya aku bisa berterima kasih kepadanya yang telah membuatku bertemu dengan Daniel.”

Sebuah pisau baru saja tertancap di jantung Jessica. Kembali terjadi peperangan hebat di hati Jessica. Satu sisi, dia ingin mengatakan nama itu. Satu sisi, dia tidak mau mengatakannya.

“Siapa, Jess? Aku tidak akan marah,” desak Kris.

Jessica menarik napas dalam. “Namanya…”

Kris menatap Jessica seakan mengantisipasi jawaban Jessica selanjutnya.

“…Luhan.”

Jessica memejamkan matanya erat. Kini, dia benar-benar takut menghadapi dunia. Sementara Kris hanya diam. Otaknya menolak untuk berpikir. Tubuhnya menolak untuk berfungsi. Dia hanya diam di tempatnya tanpa berkedip.

Beberapa detik kemudian, Kris kembali berhasil mengontrol dirinya. Dia berdecak sinis. Betapa bodohnya dia yang baru menyadari semuanya. Padahal jika dipikir-pikir, begitu banyak bukti tentang Luhan dan Jessica. Betapa bodohnya dia yang tidak pernah memikirkan semua bukti itu.

“Jadi setelah kau mengetahui hal ini, apa kau akan menceraikanku?” tanya Jessica takut-takut.

Kris menoleh dan menatap tubuh Jessica yang dibasahi keringat dingin. Dia menyeringai tipis.

***

Krystal kebingungan melihat kondisi rumah yang sangat sepi. Dia dan Daniel menemukan Kris yang sedang melamun di ruang tengah. Krystal menarik tangan Daniel ke arah Kris lalu melambaikan tangannya di depan wajah Kris.

“Oppa~” panggilnya.

Kris pun tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum tipis—menyiratkan kesedihan—kepada Krystal. Senyumannya pun hilang saat matanya bertemu dengan mata bening yang memancarkan kepolosan milik Daniel. Anak kecil yang berstatus sebagai anaknya ternyata dia memiliki gen Luhan. Pantas saja Daniel tidak memiliki banyak persamaan dengannya melainkan dengan Luhan. Lagi, dia merasakan dirinya adalah orang terbodoh di dunia.

“Oh kalian sudah pulang rupanya!” seru Kris, ketahuan sekali dipaksa ceria.

Daddy kenapa?” tanya Daniel.

Kris menarik napas dalam lalu tersenyum. Dia mengacak rambut Daniel lembut. Dia ingin memeluk Daniel, mencium Daniel dan menggendongnya seperti biasa. Hanya saja, sesuatu melarangnya.

“Daniel, pergi lah ke kamar dan mandi. Jangan keluar dari kamar sampai Daddy panggil,” perintah Kris.

Tidak ada panggilan sayang lagi.

“Kau juga, Krystal,” lanjut Kris.

Krystal tidak memberi respon. Suara pintu kamar Daniel yang tertutup bertanda Daniel sudah berada di kamarnya, memberi sinyal aman kepada Krystal untuk menanyakan masalah orangtua anak kecil itu.

“Jadi… ada apa?” tanya Krystal.

“Bisa kau tanyakan saja langsung pada kakakmu?” sahut Kris malas.

“Lalu berakhir dengan lemparan bantal ke arahku? Atau Eonni masuk rumah sakit lagi?” Krystal mencibir.

“Tapi aku benar-benar tidak punya niat untuk menjelaskannya. Tolonglah, Krystal,” keluh Kris.

Krystal menggertakkan giginya karena Kris meninggalkannya sendiri. Krystal tidak pernah bisa dibuat penasaran. Dia terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk penjelasan tentang hubungan Kris dan Jessica. Itu sebabnya kakinya melangkah ke kamar Jessica.

Beberapa menit pun berlalu. Suara teriakan Jessica pun terdengar.

Beijing, China.

Luhan menggambar asal di kertas HVS kosong. Dia tidak ada kerjaan saat ini. Dia baru saja akan kembali bekerja di perusahaan ayahnya pada hari Senin besok. Perhatiannya teralihkan saat ia mendengar suara dering handphonenya. Sebuah dering yang spesial. Hanya dengan mendengar dering itu, hatinya pun bimbang. Dia ingin mengangkat telepon itu. Tetapi itu terasa seperti sebuah dosa. Setelah beberapa kali benda itu berdering, Luhan pun menyerah.

“Yo—“

Luhan tidak melanjutkan salamnya dan malah menelan air liur. Ini bukan yang ia mau. Mendengar tangisan seorang Jessica Jung bukanlah hal yang ia inginkan. Ini adalah hal terakhir yang ingin ia dengar.

“Lu..” panggil Jessica disela-sela tangisnya.

Luhan menarik napas dalam. “Ya, ini aku.”

“Aku tidak mau mengganggumu. Tetapi aku bingung harus berbicara dengan siapa. Semua orang di sekitarku selalu membuatku mengamuk. Aku tersiksa, Lu..”

Luhan melepaskan pensilnya lalu bangkit. Dia berjalan ke sudut ruangan dan duduk di sana. Potongan masa lalu pun bermain di pikirannya.

“Aku mengerti,” tanggap Luhan akhirnya.

“Semuanya menyalahkanku. Mereka membenciku…”

“Tidak, mereka menyayangimu. Hanya saja dengan cara yang tidak kau sukai.”

Luhan tahu jika Jessica sudah seperti ini, Luhan harus bersikap seakan berada di pihaknya. Jessica sedang emosi. Dia butuh seseorang yang berada di pihaknya. Dia tidak butuh orang-orang yang akan memojokkannya.

“Semuanya menyalahkanku kecuali dirimu. Aku benci mereka,” isak Jessica.

“Memang apa yang terjadi?” tanya Luhan.

“Aku sudah menjelaskan semuanya kepada Kris.”

Luhan menahan napasnya. Dia tidak tahu harus tersenyum atau tidak. Dia senang karena statusnya bukan lagi sebuah rahasia. Akan tetapi, rasanya kejam sekali jika dia tersenyum di kondisi yang seperti ini.

“Itu bukan salahmu. Itu adalah takdir Tuhan. Jika mereka menyalahkanmu, berarti mereka menyalahkan Tuhan,” ujar Luhan tenang.

“Kau benar! Ternyata memang hanya kau yang mengerti, Lu. Dari dulu, hanya kau yang mengerti!”

>>>

Kris terkejut ketika mendengar suara Jessica. Lagi-lagi Krystal memancing emosi Jessica. Memang salahnya sih yang membuat Krystal mendatangi Jessica dan meminta penjelasan. Dia segera pergi ke kamar Jessica dan menarik Krystal keluar dari kamar Jessica. Walaupun hanya beberapa saat, dia sempat melihat seberapa berantakannya kamar Jessica. Banyak barang berada di sekitar Krystal, itu bukti Jessica melempar apa pun yang bisa ia jangkau kepada Krystal.

“Apa yang kau perbuat, Krystal Jung?!” bentak Kris.

Krystal berkacak pinggang. “Aku hanya meminta penjelasan. Lalu dia mengamuk. Itu bukan salahku!”

“Tentu itu salahmu karena aku tahu kau pasti mendesaknya!”

“Aku mendesaknya karena dia tidak mau mengatakannya! Kalau tidak didesak, dia tidak akan mau. Ternyata aku benar. Dia baru mau menjelaskan semua. SEMUANYA! Tentang kau, dia dan Daniel! Aku tahu! Dan aku membelamu! Ini kah balasannya?”

Kris mengusap wajahnya gemas. “Krystal, dewasalah! Kau harus ingat dia sedang hamil! Emosinya sensitif! Kau hanya membahayakan kehamilannya karena sudah membuatnya emosi!”

Krystal memutar matanya gemas. Dia masuk ke kamar Daniel untuk mengambil tasnya dan keluar dari rumah itu sambil memaki pelan. Kris hendak menahannya. Akan tetapi, akan lebih baik jika Krystal kembali ke rumahnya.

Setelah beberapa waktu menenangkan diri, dia mencoba mengecek keadaan Jessica. Dia membuka pintu kamar Jessica perlahan. Dia bisa melihat wanita itu sedang duduk di sudut ruangan sambil menelepon seseorang. Air matanya mengalir. Menyakitkan melihatnya seperti itu.

“Lu..” panggil Jessica disela-sela tangisnya. “Aku tidak mau mengganggumu. Tetapi aku bingung harus berbicara dengan siapa. Semua orang di sekitarku selalu membuatku mengamuk. Aku tersiksa, Lu..”

Hati Kris pun hancur saat mendengar Jessica memanggil nama orang yang ia telepon.

>>>

“Sudah tenang?” tanya Luhan setelah ia membiarkan Jessica menangis.

“Begitulah,” jawab Jessica singkat.

Luhan tersenyum tipis. “Lain kali, kau harus bisa mengontrol emosimu. Kau sedang hamil, Jess. Itu akan berdampak buruk kepada kehamilanmu..”

Jessica mendengus. “Tidak apa. Dulu saat aku hamil Daniel, aku juga seperti ini. Hasilnya wajah Daniel jadi tampan sekali!”

Luhan tertawa mendengarnya. Matanya melirik jam dinding. Ia tahu Jessica pasti kelelahan setelah menangis dalam waktu yang lumayan lama.

“Kau ingat tidak, dulu kamu sering melakukan ini saat kamu dimarahi oleh orangtuamu. Kau akan duduk di sudut kamar lalu meneleponku. Setelah kau tenang, kau akan pindah ke atas kasur. Aku pun bernyanyi sampai kau terlelap,” gumam Luhan sambil menerawang.

Terdengar Jessica menguap. “Ya, aku ingat.”

“Mau melakukannya lagi?”

“Hump! Sekarang aku sudah di atas kasur.”

Luhan tersenyum mendengarnya. “Pakai selimutnya. Posisikan diri senyaman mungkin.”

“Sudah~”

Speaker on, Jess,” perintah Luhan.

“Ya.”

Luhan pun mulai bernyanyi. Menyanyikan lagu yang biasa ia nyanyikan dulu hingga Jessica tertidur.

>>>

From: xiluhan@yahoo.com
Cc: –
Subject: Penjelasan
Body text:
Aku tidak akan berusaha formal padamu. Ini hanya sebuah email yang tidak membutuhkan formalitas.
Aku langsung ke inti masalah. Kau tidak perlu mencurigai Jessica karena Jessica cukup setia. Dia bahkan memaksaku untuk menjauh darinya hanya agar hubungan kalian baik-baik saja. Malam dia menginap di apartemenku, kami tidak melakukan apapun. Dia hanya mengurusiku yang sedang sakit. Sepertinya dia menjadi sangat telaten setelah menikah denganmu. Sebuah kemajuan yang membuatku gigit jari. Haha..
Niatku mengirim email ini sebenarnya aku ingin memohon padamu agar untuk menjaga Daniel. Apapun masalahnya, ku harap perilakumu terhadap Daniel tidak akan berubah.

Entah sudah berapa kali Kris membaca email dari Luhan. Awalnya, Kris tidak mengerti apa maksud Luhan di paragraf terakhir itu. Namun setelah Jessica menjelaskannya, Kris mengerti. Itu lah yang kini menjadi perdebatan hati Kris. Dia ingin tetap bersikap biasa saja. Namun tubuhnya sulit untuk tetap bersikap biasa setelah mengetahui Daniel bukan anaknya.

Kris melirik ke dalam kamar. Setelah yakin Jessica sudah tertidur, ia masuk ke dalam kamar Jessica perlahan. Dia tidak mau membuat keributan yang membuat Jessica terbangun. Kris membenarkan selimut Jessica lalu mengusap rambut istrinya. Matanya beralih ke benda yang masih juga memperdengarkan suara senandung seseorang yang berada di sebrang lautan.

Kris mengembalikan telepon itu ke mode normal sembari keluar dari kamar Jessica. Dia mendekatkan handphone Jessica ke telinganya.

Hi, Luhan-ssi. How are you doing?” sapa Kris yang berhasil menghentikan senandung itu.

Untuk beberapa detik pertama, keheningan yang Kris dapat dari teman teleponnya. Akhirnya suara Luhan pun terdengar.

Hi, Mister Wu. I’m doing fine.”

Kris tersenyum tipis. “Well, I have a good news for you. I know about you and Daniel. But I promise I will keep treating Daniel as my biologist child. And please don’t forget that Jessica is mine. Forever until eternity.”

Luhan terkekeh sinis. “If you want her, don’t you dare hurt her.”

You have my words.”

Hening sejenak.

“Luhan-ssi, aku mau bertanya sesuatu,” ujar Kris. “Bagaimana bisa kau berpikiran untuk mengetes DNA-mu dengan Daniel? Mungkin jika kau tidak melakukannya, tidak akan ada yang tahu bahwa Daniel adalah anakmu.”

“Terkadang ikatan batin antara ayah dan anak tidak kalah kuat dengan ikatan batin antara ibu dan anak. Saat anakmu lahir, kau akan mengerti maksudku,” jawab Luhan. Kris bisa merasakan bahwa Luhan sedang tersenyum lebar saat mengatakannya.

=== Calling Out ===

Panjangan dikit kan? ‘-‘ wkwk~ abis aku lagi ga ada waktu buat lanjut. Ini aja aku buru-buru. Hiks.

Aku kan baca ulang dari chapter 1-8, aku agak gimana gitu sama ceritanya ~_~ aku juga baru ingat ada masalah-masalah yang aku lupain. Kayaknya masalahnya itu seenaknya aku masukin begitu aja deh. Soalnya ga ada di rancangan ceritaku. Aneh kan ya. Ckck. Jadi sepertinya ending ga jadi chapter 10. Hehe

Oh ya kemarin sempat ada beberapa reader yang nanya soal marganya Luhan. Aku pake Lu itu karena berdasarkan pasport anak-anak EXO yang disiarkan oleh salah satu siaran swasta yang meliput tentang SS4 INA, marga Luhan yang tertera di pasport itu Lu bukan Xi .-. kalo ada yang nanya sebenernya marga Luhan itu yang bener Lu apa Xi, aku ga bisa jawab. Aku bukan fansnya -_-

Buat yang mau nanya “Udah ga kesel sama exostan lagi, thor?”, jawabannya “Udah enggak. Bibir Luhan bikin ilfil ilang :3” <- nasib penggila bibir (?)
Maksudnya, feel saya ke EXO balik berkat ngeliat foto luhan yg bibirnya emoet sekali ~ sebagai pecinta bibir, saya tergila-gila akan bibir luhan *-*

Terus juga aku minta maaf buat yg nunggu ff jaesica-ku. Ini lagi buat kok. Masih dalam proses. Tunggu aja ya~

Advertisements

19 responses to “[Series] Calling Out – Chapter 9

  1. AKHIRNYA………publish juga part 9!!! ngeceknya tiap hari lho chingu!!!! aduh itu sica sensinya kebangetan ya,semua jadi korban,krystal iya seohyun juga iya ckckckck…..
    jangan sampe kris beda sama daniel 😦 kasian anak tampan itu kan ngga salah apa2
    jangan sampe juga mereka berdua bercerai! sica harus sama kris! titik! 😀
    eh kok sehun ngilang chingu?
    part 10 jangan lama2,lima menit setelah nanti part 10 publish harus hub aku ya hahahaha

    • cie yg ngecek tiap hari :3
      iya sica nyebelin ih. pengen nyekek deh jadinya :@
      kris ga boleh nyuekin daniel. kacian 😦
      sehun ngilang karna ada sesuatu ‘o’)/
      wah aku ga tau cara ngehubungin kamu 😐

  2. Akhirnya kris mengetahuinya juga…kris n jessica jgn cerai ya. Wajarlah kris marah krn dibohongi, coba aja jujur dr dlu mybe ceritanya beda lagi ya hehehe. Jessica sptnya ga peduli dgn kehamilannya, apa krn anak kris..huft
    Endingnya berharap kris n jessica bersama. Lanjut ya

    • emang kalo cerai gimana? lagian nyesek juga loh kalo mempertahankan pernikahan yang kayak gitu T.T
      kan udah dibilang, pas hamil daniel, jessica juga gitu. berarti kalo jessica hamil, kelakuannya emang selalu kayak gitu .-.

  3. Aaaa, tanda2 happy ending (versiku) nih 😀
    ciaaaaaat luluuuuku hatimu terbuat dr apa sih u,u baik cekaliiiii.. ahh jess marah2 teruss serem, aws bayinya kenaapa2 ituu, ehh krystal ikutan emosi juga hihiiii ceyeeem
    ituuuu lucu yg bilang marah2 tp daniel ttp ganteng, ada2 aja :p seo yg sabarrr yah, panggil sehun buat hiburan abs ngurusin sica wkekwe~ thankseu faraa postnya ga lama2 ;;D

    • emang happy ending versimu itu apa? 😮
      lulu terbuat dari kapas. makanya lembut ~
      ga papa. kata jessica, marah-marah pas hamil malah buat anaknya cakep. contohnya daniel ‘-‘)?
      seohyun mau panggil sehun tapi sehunnya ga ada u_u

      ya sama-sama 😀

  4. ak salut ama seo lah, karakternya kuat banget udah gitu sabar lagi. yah, jessica marahnya kurang heboh nih. tapi aku maklumin sih kan jess lagi hamil. yah, ketahuan deh kalo daniel bukan anaknya kris, pasti kris sedih banget. apalagi dia kan udah ngerawat daniel dari baby. jess plin plan nih masih labil banget, sebenernya mau tetep ama kris, cerai atau balik ama luhan? (tapi kalo balik ama luhan ngga mungkin deh)
    buat luhan ehm apa ya? udah kehabisan kata kata lagi buat ngomen karakternya dia. pokoknya luhan itu dicerita ini asjkjalhgvbska lah!
    oh ya entar pas jess lagi ngelahirin anaknya kris diceritain ya? nunggu perjuangan kris (lagi). bye – see you..

    • iya seohyun kuat plus sabar banget. beruntung ya jessica punya sahabat kayak gitu. eh jessica malah marah-marah sama seohyun. kejamnya jessica. hiks
      kurang heboh? kalo terlalu heboh, nanti keguguran lagi . wk /plak/
      jessica emang labil banget. makanya seohyun marah-marah . ih sica babo ><"
      tunggu aja ya ^^

  5. adoh, telat komen gegara try out -__-
    sumpah.. benci banget baca FF ini T_T bikin nyesek,nangis..
    Argh!! Poor Luhan.. Kamu dewasa banget ngrelain gitu.. huaaa. kaga rela Jessica sama Kris huhu
    Kasian Jessica juga lama-lama dia dibenci karena sikapnya juga sih –v
    Jessica masih feel sama Luhan, ya ampun sumpah deh kasiaaaaann, kaga kuat baca FF ini
    musti bawa annya ikut emosi ikut kesel, feel nya terlalu banyak didapat
    astaga author keren banget dah bikin FF ini, tapi banyak nyiksa Jessica sama Luhan disini -__-
    Luhan Hwaiting (?)
    Next chapt sangat saya tunggu 😀

  6. Kris… 😥
    Sedih bgt nasibmu… Aku gak tahu gmn perasaanya kris waktu dia tahu Daniel itu bukan anak kandungnya? T_T
    Fara~
    Pokoknya endingnya sama Kris ya??? Kasihan tau nanti gmn anaknya Krisica -_-

    Iya2 Far~
    I’m keep waiting 😀
    Heheheee… 😀

  7. Hy?! Salam kenal*.. Aku suk ff mu yg ini. {Calling Out# aku pngn mengikuti sampe akhir.. @penasaran] emm.. Aku pngn ending nya krisica tp.. Rasanya akn seru kalo ditambah penyiksaan batin untuk jessy.. Dia terlalu beruntung krna dicintai 2pria tampan. Ayo buat dia cemburu membara pd suami nya…*usul* salam#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s