[Series] Thorn Love — Chapter 4 :: OMG!

Thorn Love

Author : Lee Hyura

Title : OMG!

Genre : Romance

Rating : PG 15

Length : Series

Main Cast :

–          SNSD Jessica

–          EXO Xiumin

–          EXO Kai

–          EXO D.O

Note : chapter ini dimulai dengan kisah Kai saat kecil ^^

Jangan lupa liat poster untuk liat bagaimana rupa Jessica, Kai dan Xiumin. Semuanya persis sama poster. Sampe ke matanya Jessica yang berbeda warna gitu. Yang satu coklat, yang satunya biru O_O

Umur cast:

  • Kai dan Kyungsoo : 22 tahun, Kyungsoo lebih tua beberapa bulan.
  • Minseok, Jessica dan Yoona : 20 tahun.

Previous: Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

=== Thorn Love ===

Bocah berumur 10 tahun itu terdiam di kursi taman. Matanya memperhatikan sekelilingnya berulang kali. Desahan kecewanya terdengar beberapa kali. Otaknya mulai memutar kenangan bersama seseorang yang ia tunggu dari dulu.

~

“Apa rasa es krim milik Kyungsoo?” tanya gadis cilik itu.

“Milikku rasa vanila,” jawab Kyungsoo lalu tersenyum manis.

Gadis cilik itu menoleh ke Jongin. “Jongin?”

“Rahasia!” jawab Jongin jutek.

Gadis cilik itu merengut. Dengan cepat, ia menarik tangan Jongin yang memegang  es krim dan menjilat es krim milik Jongin. “Rasa apa ini? Rasanya agak pahit,” komentarnya bingung.

Kyungsoo tertawa. “Itu rasa Coffee Latte. Kesukaan Jongin.”

“Oh… cocok dengan Jongin yang bermuka sedikit pahit.”

Jongin yang sedari tadi melamun karena sikap spontan gadis cilik itu tadi pun menoleh kesal. “Hei! Apa maksudnya?”

Kyungsoo dan gadis cilik itu hanya tertawa.

~

Jongin tertawa kecil mengingatnya. Gadis itu sangat polos. Tingkah polosnya itu lah yang selalu membuatnya dan Kyungsoo tertawa. Gadis itu memang menyebalkan. Tetapi sikap menyebalkannya lah yang membuat Jongin tidak bisa melupakannya.

~

“Kau akan pulang? Meninggalkanku sendiri disini?” lirih gadis kecil itu.

Jongin dan Kyungsoo sambil bertukar pandangan. Mereka menggaruk kepala mereka bingung. Mereka bingung harus bagaimana. Mereka kasihan dengan gadis itu. Tapi mereka tidak boleh keluar dari rumah terlalu lama.

“Kami harus segera pulang,” kata Kyungsoo pelan.

“Kami harus pulang. Atau kami akan dimarahi,” timpal Jongin.

Gadis kecil itu merengut. “Bagaimana denganku?”

“Kami tidak tahu. Intinya kami harus segera pulang. Atau kami akan dimarahi oleh monster!” kesal Jongin.

“Monster? Mengerikan~” gadis kecil itu mengidik ngeri. “Apa aku juga aku dimarahi oleh monster itu?”

“Iya. Kau akan dimarahi karena tidak memperbolehkan kami pulang!” jawab Jongin mantap. Sedangkan Kyungsoo menatapnya bingung.

“Yasudah! Pulang sana~ ppali! Nanti aku dimarahi juga!” usir gadis kecil itu.

Jongin tertawa. “Bodoh! Aku hanya becanda. Jangan dianggap terlalu serius.”

Gadis kecil itu pun mengerucutkan bibirnya. “Ya ku kira..”

~

Bocah itu—Kim Jongin—menghela napas kembali. Beberapa hari sejak pertemuan pertama mereka, dia jarang melihat gadis cilik itu di taman. Dia tidak tahu kenapa. Akan tetapi ada sebuah perasaan darurat untuk melihatnya setiap hari. Sayangnya dia tidak tahu nama gadis itu, apalagi tempat tinggalnya.

Itu sebabnya, Jongin sering sekali menghabiskan sorenya di taman. Dia selalu berdoa gadis itu kembali bermain di taman. Walaupun hasilnya sering membuatnya kecewa, Jongin tetap melakukan rutinitas itu selama seminggu ini. Tentu saja dengan Kyungsoo di sampingnya. Kyungsoo dan Jongin memang tidak pernah bisa terpisahkan seakan sepasang kembar siam yang selalu bersama kapanpun dan  dimanapun.

“Kau pikir dia akan datang?” tanya Kyungsoo.

Jongin mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu.”

“Apa tidak sebaiknya kita pulang saja? Masih ada tugas yang belum kita selesaikan, Jongin-ah,” usul Kyungsoo, sedikit berharap.

Jongin menoleh dan menatapnya kesal. “Kalau kau tidak mau menemaniku, kau boleh pulang kok.”

“B-bukan begi—“

“Itu dia datang!” girang Jongin.

Jongin tersenyum lebar melihat gadis itu datang lagi. Senyuman polos yang disukai Jongin pun terkias di wajahnya. Namun senyuman Jongin meluntur saat melihat gadis itu bersama seorang anak laki-laki lain. Gadis itu memeluk lengan temannya erat seakan tidak mau kehilangannya. Jongin tahu siapa anak laki-laki itu walaupun tidak tahu namanya. Anak laki-laki itu adalah alasan gadis itu menangis di pertemuan pertama Jongin dan gadis itu.

Jongin menarik tangan Kyungsoo pergi dari taman itu. Kyungsoo dibuat bingung karenanya. Bagaimana pun, mereka sudah berhasil bertemu dengan gadis yang dicari oleh Jongin. Tetapi Jongin malah membawanya pulang tanpa sempat menyapa gadis itu.

***

Selalu saja melihat dari kejauhan. Itu lah yang dilakukan Jongin. Niat untuk menghampiri gadis itu dan menanyakan siapa namanya selalu terkikis saat melihat anak laki-laki yang sama selalu bersamanya.

Hanya dengan melihatnya dari kejauhan, Jongin hafal dengan kebiasaan gadis itu. Gadis itu selalu datang setiap seminggu sekali ke taman itu, tepatnya di hari Sabtu. Gadis itu sangat menyukai es krim. Gadis itu menyukai apapun yang manis. Jika bingung, gadis itu akan menggigit kukunya. Jika sedih, gadis itu akan memeluk bocah laki-laki yang bersamanya. Jika marah, bocah laki-laki itu yang dijadikan tempat pelampiasan.

Jongin hafal semua itu. Selalu memperhatikannya selama 2 tahun, dia jadi tidak bisa melupakan gadis itu.

Saat Jongin memasuki masa SMP, dia mulai disibukkan dengan tugas dan ekstrakulikuler yang ia ikuti. Perlahan namun pasti, Jongin mulai melupakan gadis itu. Setidaknya itu lah yang dipikirkan oleh Kyungsoo. Nyatanya Jongin tetap memikirkannya. Hanya saja dia tidak mau menampakkannya lagi.

Cinta pertama adalah cinta yang paling terlupakan bagi seorang pria.

Itu lah yang terjadi kepada Jongin. Bahkan sampai ia pindah ke Jerman untuk melanjutkan pendidikannya pun ia tidak bisa melupakan momen-momennya bersama gadis itu. Yah walaupun perlahan tapi pasti, dia melupakan wajah gadis itu.

6 tahun pun berlalu. Setelah ia berhasil menyelesaikan S2nya dalam waktu singkat, dia kembali ke tanah kelahirannya. Saat itu, dia kembali teringat gadis itu. Tepat saat melihat seorang gadis dengan warna mata kanan yang berbeda dengan mata kirinya. Nama gadis itu adalah Jessica Jung.

***

Sudah 22 tahun ia dilahirkan, Kai masih tidak mengerti dirinya sendiri. Dia tidak tahu apa keinginannya yang sesungguhnya. Semua yang ia inginkan bisa ia dapatkan. Tetap saja ada yang terasa kurang. Dia juga tidak tahu apa.

Sebenarnya tidak semua hal yang ia inginkan berhasil ia dapatkan. Ada satu hal yang ia inginkan dan belum ia dapatkan saat ini. Dia ingin Jessica terfokus padanya. Namun sepertinya mustahil selama masih ada Minseok di samping gadis itu. Sudah 10 tahun ia tidak pernah memperhatikan gadis itu, Kai tidak menyangka laki-laki yang selalu bersama Jessica masih juga bersama dengan gadis itu. Kai kira laki-laki itu sudah pergi meninggalkan Jessica.

“Mencoba untuk tidak berpikir imajiner saja, Kai. Aku masih tetap menjadi pelayanmu walaupun kita berpisah selama 6 tahun. Selama 22 tahun, kita selalu bersama. Aku masih disini walaupun aku sudah berhasil menyelesaikan kuliahku dan mendapatkan gelar sarjana hukumku,” tanggap Kyungsoo setelah mendengar keluhan Kai tentang Minseok yang tidak bisa lepas dari Jessica, atau Jessica yang tidak lepas dari Minseok?

“Imajiner? Kau pikir matematika?” Kai memutar matanya.

“Maksudku rasional. Kebalikan dari imajiner, kan?”

Kai berdecak. “Aku sudah berpikir rasional, oke? Kau yang ingin tetap menjadi pelayanku, bukan aku. Padahal aku sudah memberikanmu kesempatan. Berbeda dengan Minseok. Aku tahu dia ingin lepas dari Jessica tapi tidak bisa.”

Kyungsoo menyandarkan punggungnya. “Kalau begitu bantu dia. Beri dia kesempatan seperti yang kau berikan padaku.”

Kai mendesah pelan. Tanpa ia jawab, Kyungsoo juga tahu apa yang ia pikirkan. Dia memang sedang mencari cara agar Minseok terlepas dari Jessica. Setidaknya jalannya untuk mendekati Jessica akan lebih mudah.

“Kau punya ide?” tanya Kai.

Kyungsoo menggumam pelan selama berpikir. “Berikan yang dia mau?” Lalu Kyungsoo tertawa dan melanjutkan, “untuk apa juga kau berusaha menyingkirkan Minseok jika Jessica bukan gadis yang kau maksud? Maksudku, mungkin saja dia bukan Jessica. Lagipula yang bewarna coklat itu mata kirinya bukan kanan. Berbeda dengan gadis kecilmu, Kai. Mata kanan gadis kecilmu bewarna coklat.”

Kai tercenung mendengarnya. Sebenarnya Kyungsoo benar. Hanya saja setiap kali ia bersama Jessica, ada bagian dirinya yang mengatakan, “This is where I belong.”

***

Sudah 30 menit, Jessica duduk di atas kasur Minseok di samping pria itu. Sayangnya Minseok tetap fokus pada bukunya seakan Jessica tidak berada di sana. Jessica menekankan jarinya di pipi kanan Minseok beberapa kali agar pria itu menolehnya. Minseok terus-menerus menghindari saat-saat matanya bertemu dengan mata Jessica seakan dia tidak mau melihat Jessica. Jessica tersenyum kecil ketika tangan kanan Minseok menahan tangan Jessica.

“Apa yang kau mau kali ini, Sica?” tanya Minseok, tanpa mengalihkan matanya dari buku yang sedang ia baca.

“Tatap aku.”

Minseok mendengus pelan. Perlahan, dia menoleh dan menatap wajah Jessica. Matanya bertemu dengan mata bening Jessica yang memancarkan kepolosan. Pandangannya melembut.

“Kau marah padaku?” tanya Jessica lirih.

Minseok menjilat bibirnya. Dia tidak bermaksud membuat Jessica sedih. Yang benar, dia dilarang untuk membuat Jessica sedih. Dia dituntut untuk membuat Jessica selalu senang. Itu lah kenapa orangtua Jessica membelinya.

Minseok meletakkan tangan kanannya di atas kepala Jessica dan mengacak rambut gadis itu pelan.

“Marah kenapa? Memang kau salah apa?” tanya Minseok balik, seakan dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Jessica.

Jessica meraih tangan kanan Minseok dan membawanya ke atas pangkuannya. Jessica meremas tangan itu lembut. Entah kenapa dia merasa Minseok tahu soal kepergiannya ke kantor Kai kemarin. Yah walaupun Jessica berhasil menemukan Minseok sedang membaca buku yang sama dengan yang ia baca sebelum Jessica pergi. Itu bukti bahwa Minseok tidak berkutik dari tempatnya sedikitpun. Artinya Jessica aman.

“Sica?”

Jessica menoleh linglung. “Ah, itu.. aku pikir kau marah karena aku merasa kau bersikap aneh sejak kemarin.”

“Benarkah? Mungkin karena aku …” Minseok menghela napas saat ia tidak mendapatkan jawaban yang tepat. “Lupakan saja.”

“Kau baik-baik saja? Sangat baik-baik saja?” tanya Jessica memastikan.

Mata Minseok menatap tangannya dan dengan perlahan, naik sampai ke mata Jessica. Dia memejamkan matanya sejenak. Memori ketika Kai mencium Jessica kembali melesat dan membuatnya membuka mata secepatnya. Minseok menarik tangannya kemudian bangkit dari kasur untuk meletakkan buku itu pada tempatnya.

“Akan lebih baik jika kau kembali ke kamarmu sekarang dan tidur. Aku masih ada tugas yang belum ku kerjakan. Jadi jangan ganggu aku,” ucap Minseok.

Jessica hendak membalasnya, namun ia terpaksa menggigit lidahnya seraya menurunkan kakinya dari kasur dan pergi ke kamarnya. Jessica tidak tahu selega apa Minseok saat mendengar pintu kamarnya ditutup dari luar oleh Jessica.

“Aku harus fokus..” gumam Minseok.

***

Kyungsoo tertawa renyah melihat wajah suram Kai karena kedatangan mereka pagi ini sudah disambut oleh setumpuk tugas yang harus diselesaikan Kai hari ini. Tidak ada Yoona hari ini karena Yoona sedang disibukkan dengan kuliah dan aktivitas klubnya. Bagaimana pun, Yoona masih tercatat sebagai mahasisiwi di sebuah kampus di Korea Selatan dan bagi gadis itu, pendidikan adalah nomor 1. Itu bertanda Kai tidak bisa melimpahkan semua pekerjaannya ke Yoona.

Ya, melimpahkan. Itu yang selalu Kai perbuat. Dia tidak pernah berniat bekerja di perusahaan ayahnya. Dia bermimpi untuk menghabiskan waktunya sebagai penari atau guru tari. Intinya dia ingin berada di dunia dance. Bukannya di dalam salah satu ruangan mewah di gedung yang tinggi menjulang dan ditemani tumpukan tugas-tugas yang selalu memanggil untuk dikerjakan. Itu sebabnya dia selalu melimpahkannya ke Yoona dengan alasan agar Yoona bisa lebih cepat terbiasa dengan pekerjaannya.

“Kyung—“

Kyungsoo menoleh cepat sebelum Kai menyelesaikan kata-katanya. Kyungsoo tahu apa yang akan dikatakan Kai.

“Tidak, Kai.” Kyungsoo menghela napas panjang. “Kerjakan tugas itu. Aku akan mengajarkan cara mengerjakan tugas-tugasmu itu. Tidak ada limpahan pekerjaan kepada Yoona karena Yoona tidak ada di sini. Dia juga punya dunia sendiri sebagai seorang mahasiswi.”

Kai memutarnya jengah. “Do Kyungsoo, aku masih punya urusan yang lebih penting dari ini.”

“Apa?”

“Menyelesaikan rencanaku.”

Kyungsoo kembali menggeleng. “Kau kerjakan tugasmu. Aku kerjakan tugasku.”

Kai tersenyum tipis. “Baiklah.”

>>>

Yoona tersenyum lebar. Baru kali ini, dia bersyukur bisa menghabiskan waktunya seharian di kampus. Setidaknya dia punya alasan untuk tidak ke kantor dan bertemu Kai yang menyebalkan. Hanya saja, dia tidak tahu kenapa tapi dia ingin sekali bertemu dengan Kyungsoo. Apalagi senyuman ramah dan polos milik Kyungsoo yang selalu sukses membuat semangat yang layu karena Kai, kembali mengembang.

“Tumben sekali seorang Im Yoona tersenyum lebar di kelas si Tua itu,” komentar Yuri, teman dekatnya. Mereka selalu memilih kelas yang sama.

Yoona terkekeh sambil bersendagu. “Itu karena kelas si Tua itu jauh lebih baik dari kelas tuan Kim Jongin.”

“Bosmu itu, ya?”

“Iya.”

Yuri tersenyum kecil. Baiklah, dia sedih mendengar perilaku Kai terhadap Yoona selama ini. Akan tetapi ia bisa merasakan perubahan Yoona setelah menjadi sekretaris Kai. Ada sesuatu yang membuat Yoona terasa lebih hidup.

“Yoona?”

Yoona menoleh. “Ya?”

“Kau sedang jatuh cinta, ya?”

>>>

Jessica dan Minseok berjalan santai menuju halte sekolah sambil menikmati bubble tea. Mereka hanya mempunyai 2 kelas hari ini sehingga mereka bisa pulang lebih cepat. Sebenarnya Jessica tidak mau langsung pulang. Dia ingin meminjam buku yang ditulis oleh Hitler berjudul Perjuanganku. Keinginannya harus dikubur karena Minseok memaksanya segera pulang. Memang tidak biasanya Minseok mengajaknya pulang lebih cepat, tapi Jessica tidak memikirkannya sama sekali.

Dan jika Jessica ingin memikirkan segala kemungkinan, Jessica pasti tahu alasan Minseok mengajaknya pulang lebih cepat. Itu agar Jessica tidak bertemu dengan Kai. Kai tidak pernah bisa keluar dari kantornya saat siang hari—berdasarkan penelitian Minseok selama beberapa hari ini—dan ini dimanfaatkan oleh Minseok untuk menghindari pertemuan Jessica dan Kai.

“Tidak usah cemberut seperti itu, Sica,” celetuk Minseok sambil menggenggam, berharap itu bisa membuat Jessica tersenyum.

“Tidak bisa. Aku penasaran dengan Hitler setelah kelas sejarah dunia tadi,” sahut Jessica, menggerutu.

Minseok menghela napas. “Sic, Hitler itu sudah rahasia umum bagi para murid di kelas kita. Kita sudah mengenal Hitler dengan sangat baik dan mengingat setiap kisahnya. Bagaimana bisa kau masih belum mengenalnya?”

Well, aku bukan anak sejarah.”

Jessica merengut sambil membuang muka bertanda ia kesal. Untuk ke berapa kalinya, Jessica menghela napas pasrah saat tangannya diremas oleh Minseok. Minseok selalu tahu cara untuk meredakan emosi Jessica agar Jessica tidak marah.

“Memang apa yang membuatmu penasaran dengan Hitler?” tanya Minseok.

Jessica menoleh sambil menggigit telunjuknya. “Aku penasaran kenapa Hitler sangat membenci bangsa Yahudi.”

“Itu karena dia dihasut oleh seorang gelandangan. Dia bertemu dengan gelandangan yang datang ke kota untuk masuk ke sekolah sekolah seni dan menjadi pelukis profesional namun selalu gagal, sama sepertinya. Walaupun awalnya Hitler mencemooh gelandangan itu tapi akhirnya Hitler termakan juga saat gelandangan itu membawa nama bangsa Jerman. Gelandangan itu mengatakan sebenarnya bangsa Jerman sudah dibodohi oleh bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi menyelusup ke dalam kehidupan bangsa Jerman dan menikah dengan bangsa Jerman. Perlahan, mereka mengambil alih perekonomian Jerman dan memperbudak orang Jerman.”

“Yang aku dengar, dia tidak lahir di Jerman…”

“Walaupun Hitler tidak lahir di Jerman melainkan di Austria, tapi guru SDnya yang meyakinkan dirinya bahwa bangsa Austria murni berdarah Jerman dan dia harus bangga akan itu. Itu sebabnya ia mencoba membuat negara Jerman hanya ditempati oleh para orang berdarah Jerman murni.”

Jessica membulatkan bibirnya sambil mengangguk mengerti. Melihat senyuman puas Jessica yang terukir indah, Minseok ikut tersenyum.

“Gomawo, Minseokkie~” seru Jessica girang.

Jessica berlari kecil ketika mereka sudah dekat dengan halte dan duduk di kursi halte. Jessica menepuk tempat kosong di sampingnya, mengisyaratkan agar Minseok duduk di sampingnya. Minseok dengan senang hati menurutinya.

“Tumben sekali kau penasaran dengan orang sekejam Hitler,” gumam Minseok.

Jessica mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku kaget melihat foto masa kecil Hitler yang imut sekali?”

Minseok tertawa mendengarnya. Dia mengacak rambut Jessica gemas, menyebabkan Jessica mengerang protes. Dia paling tidak suka jika Minseok menyentuh kepalanya. Jessica menarik kasar tangan Minseok tanpa ia tahu itu membuat Minseok tertarik ke arah Jessica sehingga kepala mereka terantuk.

“Aduh!”

Jessica yang paling kencang merintih. Minseok yang semula mengelus keningnya, jadi beralih mengelus bagian kepala Jessica yang beradu dengan kepalanya tadi.

“Sakit?” tanya Minseok khawatir.

Jessica mengangguk. Dia melepaskan tangan Minseok saat rasa sakitnya mulai menghilang. Dia menoleh dan mengerucutkan bibirnya tanda ia menyalahkan Minseok. Minseok hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Matanya teralih ke bibir Jessica. Kembali, gambaran ketika Kai mencium Jessica terlintas di pikirannya. Entah apa yang ia pikirkan, Minseok mendorong kepalanya hingga bibirnya bertemu dengan bibir Jessica.

Jessica membulatkan matanya.

>>>

Yoona terkesiap melihat Kyungsoo berada di hadapannya. Dia menoleh ke sekeliling Kyungsoo. Tidak ada tanda kehadiran Kai membuatnya menghela napas lega. Yoona tersenyum lebar kepada Kyungsoo yang dibalas dengan senyuman manis khas seorang Do Kyungsoo, senyuman yang sangat disukai oleh Yoona.

“Apa kau ke sini untuk menjemputku? Disuruh oleh Kai, kan?” tebak Yoona. Dalam hati, dia berharap.

Kyungsoo menggeleng pelan. “Aku hanya ingin menyapamu. Aneh juga tidak melihatmu seharian.”

Jika tidak ada Kyungsoo di depannya, Yoona sudah menari kesenangan. Ia tidak tahu kenapa, tahu kata-kata Kyungsoo berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. Ada bunga merah, kuning, biru dan warna-warna cerah lainnya. Yoona bersumpah ini pertama kalinya ada seorang pria yang membuatnya seperti itu hanya karena sebuah kalimat sederhana.

“Kau yakin?” tanya Yoona memastikan.

Kyungsoo tersenyum jahil. “Sebenarnya tidak juga.”

Wajah berseri-seri Yoona pun hilang. Senyuman kecut lah yang ia berikan sekarang. Kyungsoo tertawa melihat perubahan aura dan ekspresi Yoona.

“Maksudku, itu salah satunya. Hanya saja ada urusan lainnya yang membuatku ke sini,” jelas Kyungsoo cepat. “Besok, kau tidak perlu pergi ke kantor. Semua tugas sudah dikerjakan dan semua jadwal temu dengan klien sudah diundur. Tidak ada alasan kau datang besok.”

Alis Yoona terangkat. “Kenapa?”

“Kai mempunyai urusan penting.”

>>>

Ruangan itu hanya ditemani suara bola yang terpantul di meja biliar. Kai mengusap ujung stik biliarnya setelah dia gagal menebak masuk sebuah bola. Bibirnya terkatup rapat tanda ia sedang kesal. Kyungsoo yang menjadi saingannya kali ini, hanya tersenyum tipis sambil mengarahkan ujung stiknya dengan mata terarah ke salah satu bola solid.

“Ku rasa itu bertanda Minseok juga menyukai Jessica. What a cute couple,” komentar Kyungsoo, tersenyum mencemooh Kai.

Kai memang sedang kesal karena Kyungsoo datang membawa foto Minseok mencium Jessica. Kai tidak habis pikir tentang Kyungsoo. Sebenarnya apa yang terjadi pada Kyungsoo selama ia berada di Jerman hingga sepertinya tidak ada yang tidak diketahui oleh pria itu? Kyungsoo selalu mendapatkan berita bagus, sangat bagus. Ya, seperti sekarang. Sangat sukses membuat Kai jengkel setengah mati hingga tembakannya meleset terus dan membiarkan Kyungsoo menguasai permainan.

“Sudahlah, Kai. Menyerahlah. Sekarang masalahnya adalah Minseok juga mencintai Jessica. Jadi kau tidak punya alasan untuk memisahkan mereka,” desah Kyungsoo. Kini ia tersenyum kecil karena stiknya gagal mengeksekusi bola solid terakhir.

Kai berpindah tempat untuk membereskan bola nomor 14. Bibirnya tetap terkatup erat tanpa kegeramannya belum surut.

“Jessica sudah setuju untuk menjadi milikku. Dia milikku, officially. Aku perlu menjaganya agar tetap menjadi milikku,” tekan Kai.

Dengan melampiaskannya segala emosinya pada stik biliar itu, Kai menyodokkan stiknya hingga cueball menabrak bola nomor 14 dengan keras, terlalu keras hingga kedua itu menabrak pembatas meja biliar dan melayang keluar dari meja.

“Jalankan rencana secepatnya,” perintah Kai sebelum melempar stik biliarnya acuh dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kyungsoo yang menghela napas panjang.

“Kenapa kau keras kepala sekali? Kenapa kau tidak lihat orang yang selalu memperhatikanmu saja?” gumam Kyungsoo pelan.

***

Jessica memutar matanya sambil memainkan kakinya. Dia sudah biasa menghabiskan waktunya di perpustakaan kampus bersama Minseok. Sebenarnya ini lah yang harus ia terima jika dia ingin selalu bersama Minseok. Minseok dan buku adalah hal yang tidak bisa dipisahkan sejak Minseok mulai kehilangan teman akibat penyakit Jessica. Perpustakaan adalah rumah kedua bagi Minseok.

Saat ia menjilat bibirnya, dia teringat kejadian kemarin. Dia masih tidak percaya seorang Minseok menciumnya. Tepat di bibir. Sampai sekarang, Jessica masih menganggapnya sebagai mimpi. Dingin bibir Minseok masih terasa di bibirnya. Memikirkannya saja, Jessica sudah dibuat seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri tanpa ada alasan yang jelas.

Minseok sebenarnya menyadari tingkah Jessica sekarang. Dia menghela napas. Dalam hati, dia masih tidak percaya ia melakukannya. Dia tidak tahu kenapa dia melakukannya itu kemarin. Sesuatu di dalam tubuhnya lah yang mendorongnya untuk melakukan itu. Akibat kejadian kemarin, Minseok tidak berani menatap wajah Jessica sama sekali. Lama-lama di samping gadis itu, suhu tubuhnya menjadi tidak teratur. Dia merasa panas dan dingin di saat yang bersamaan. Rasanya sangat tidak nyaman.

Bunyi tertutupnya buku yang dibaca oleh Minseok membuat Jessica menoleh. Minseok meminta izin untuk ke kamar mandi. Tanpa mendengar jawaban Jessica, Minseok pergi meninggal Jessica. Sebenarnya dia hanya butuh udara segar tanpa Jessica di sampingnya. Dia juga butuh waktu untuk menenangkan detak jantungnya yang mulai tidak karuan.

“Aku mulai gila,” desah Minseok frustasi.

Setelah ia melewati pintu keluar perpustakaan, Minseok berbelok menuju taman. Tetapi langkahnya terhenti saat sebuah tangan menutup setiap jalan pernapasan Minseok dengan sapu tangan yang dibasahi chloroform. Minseok mulai kehilangan kesadaran.

=== Thorn Love ===

Ada yang merindukan violent scene di ff ini? Pasti aku kasih kok. Tapi ga sekarang. Mungkin nanti. Sekarang biarkan aja Jessica menikmati hidupnya *wink*

Selanjutnya, aku bakal memulai chapter dengan kisah masa kecil Yoona. Hm, atau Kyungsoo? Yoona aja deh. Kyungsoo masih mau aku buat misterius 😉

Advertisements

10 responses to “[Series] Thorn Love — Chapter 4 :: OMG!

  1. yahh, yg dimaksud dio di meja billyard sapa tuh? jan sampe yoon a -_-
    itu juga sapa lagi yang bekap xiumin?
    jan sampe juga yoona suka dio -_-
    pokoknya semua milik jessica(?) hwhw
    aku tunggu next chapter eon 😀

  2. Wooo!! Di Publish yeey.. Sekian lama aku menunggu pasangan psikopat wowowo \(^o^)/
    Rencana apa tuh yang dibuat anak yang tidak bisa pisah itu? Pasti sesuatu banget
    Yoona jangan cinta ama Kai. Big NO.. Kai milik Jessica (?), atau mungkin Yoona jatuh cinta ama Do ?
    Xiumin juga.. Mulai cinta ama Jessica yakan yakan yakan?
    Duh, itu Xiumin dibekap sama siapa? Mau diapain.. Apa itu termasuk rencana Kai?
    /KEPO/

    Saya rindu violent scene~
    Apa gadis masa kecil Kai itu ternyata Yoona bukan Jessica (?). Ah molla -_-
    Next chapt go go go

  3. itu si kai y ug nyulik minseok
    wah gmana jdi nya sica tanpa minseok
    minseok jg benci + cinta ma sica
    susah bgt ya minseok menyadari perasaannya
    ntar sica d ambil kai baru tahu

  4. Uwaaaah
    Asyiiiik
    Akhirnya di publish juga
    Itu apaaan yang pakek dibekep segala gitu?
    Minseok kenapa sih harus ikut campur?
    Kan udah bagus Kai ama Sica
    Tapi Kai keras kepala
    😦
    Bagus, sih!
    KaiSica!
    😀

    Iya Yoona dulu aja
    Kyungsoo biar misterius tapi keren
    BTW, Itu maksudnya Kyungsoo waktu bilang ” Kenapa kau keras kepala sekali? Kenapa kau tidak lihat orang yang selalu memperhatikanmu saja?”
    cuman maksud biasa apa dia merujuk ke seseorang yang memperhatikan Kai?
    A… penasaran,,,
    😀

  5. baru baca dan saya tahu ini sangat amat kudet tapi please author, itu kyungsoonya suka sama kai?-_______- kesian amat yoona demen cowo homo-________-
    kai nampaknya sangat terobsesi dengan jessica. xiumin itu, ngga tau kenapa diimajinasi gue muka dia burem thor-,-
    kai-sica lebih ada gregetnya diaku sementara xiumin-sica semaca apa yah?? greget sih cuma yah mungkin karena lbh ngeship kaisica jadi kayak gitu-,- lagipulang mukanya xiumin juga burem diimajinasi saya-,-
    adain scene kaisica pas kai cemburu trus berperilaku frontal terhadap jessica coba thorXD lbh dari cium bibir*woaaaaahhhh apa ini-_______-abaikan yang ini thor
    demi yah suka cerita psikopat2 macem ini waks. jessicanya ajeb pas sakitnya kambuh haha tapi kenapa dia sepertinya terlalu polos?-_______-
    ditunggu lanjutannya yah:)

  6. siapa yang dimaksud kyungsoo?? Siapa yg merhatiin kai?? Yoona bukan.y suka sama kyungsoo?? Aaa penasaran.. Minseok diculik?? Kenapa ga sica aja yang diculik XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s