CI Selalu Mengalah, Kakak Kelas Tak Peka

Bagaimana sih perasaan kalian jika kalian berada di kelas yang ‘beda’ sehingga kalian dijauhi oleh teman sepantaran dan dimusuhi oleh kakak kelas? Yang anehnya, bahkan mereka melakukan itu hanya karena ‘status’ bukan kesalahan dari beretika.

Ya, itu yang dirasakan oleh kelasku, yaitu kelas CI.

Yang paling parah adalah kakak kelas. Seakan mereka hanya memikirkan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh sekolah kepada kelas akselerasi. Mereka berani berbicara tentang perjuangan dan penderitaan. Mereka berbicara seakan mereka lah korban di kasus ini. Padahal jika mereka berpikir dewasa, tidak akan ada korban di kasus ini. Kasus ini tidak akan terjadi.

Apa sih salah kami?

  1. Karena lulus bersamaan dengan kakak kelas kah?
  2. Karena nilai raport kami lebih tinggi dari kakak kelas dan itu hasil katrolan kah?
  3. Karena kami tidak sopan?

Baiklah, aku akan menjelaskannya dengan berurutan.

  1. Siapa juga yang mau lulus sekolah cepet-cepet? Kami juga sebenarnya tidak mau berada di kelas akselerasi. Kami ingin lulus normal 3 tahun dan benar-benar merasakan apa itu ‘kehidupan SMA’. Bukannya kehidupan yang selalu belajar, belajar dan belajar setiap harinya. Bukannya kehidupan yang selalu mengerjakan tugas, tugas dan tugas setiap saat. Banyak dari kami yang terpaksa masuk kelas ini. Pada akhirnya, kami mengalah kepada nasib dan memilih untuk  memanfaatkan waktu SMA kami. Terbukti kami sangat aktif di beberapa ekskul. Bahkan Japan Club aja bisa dibilang diurus langsung oleh kelas CI walaupun pengurusnya adalah kelas bilingual.
  2. Jangan berpikiran buruk, Kak. Kami tidak pernah bangga dengan nilai hasil katrolan kami. Kami malah sedih melihat nilai kami yang tinggi padahal aslinya tidak semua bisa mendapatkan nilai sebaik itu. Tetapi kami yakin jika kami diberi waktu yang cukup untuk mempelajari semua pelajaran-pelajaran yang wajib kami mengerti, kami bisa mendapatkan nilai-nilai tinggi itu dengan nilai murni.
  3. Kami tidak sopan? Coba pikirkan lagi, Kak. Kami selalu tersenyum kepada kalian tapi kalian malah membuang muka. Kami selalu berusaha sopan tapi kalian membalasnya dengan perbuatan kasar. Kami selalu mengalah tapi kalian tidak peka. “Kalian sopan, kami segan” adalah kalimat yang kakak kelas tawarkan pada kami dan kami sambut dengan baik. Kami lakukan hal itu dengan baik tapi kakak kelas tidak melakukan jaminan kalian. Menjilat ludah sendiri kah? Kalian masih menuntut dihormati oleh kami? Oh, kalian begitu tidak tahu diri.

Kalian yang membaca postingan ini mungkin bertanya-tanya, “memang apa yang kakak kelasmu lakukan?”

Mereka melakukan hal yang sama sekali tidak dewasa. Ini membuat kami (murid CI) merasa seperti diospek sampai lulus. Lucunya, semakin lama malah semakin parah. Membuat kami berpikir, inikah yang namanya kakak kelas?

Awalnya kelas kami dan kakak kelas masih saling bertukar senyum setelah MOS selesai. Mungkin karena mereka belum tahu kami adalah adik kelas? Entahlah. Tapi sikap intimidasi mereka mulai terlihat sejak kami sibuk melakukan ujian praktek untuk naik ke kelas 3. Seakan mereka menganggap kami sebagai pengkhianat internal. Musuh dalam selimut.

Mereka mulai membicarakan kami di setiap mereka melihat kami secara frontal. Mereka menjahili kami. Mereka merendahkan kami.

Apa yang kami lakukan? Kami hanya akan selalu tersenyum sambil meyakinkan dalam hati, “That’s nothing! Fighting!”

Kesabaran memang tidak ada batasnya. Yang ada batasnya yaitu emosi. Kami masih bisa sabar. Tapi kami tidak bisa menahan diri kami untuk tidak emosi. Seemosi-emosinya kami, setidaknya kami tetap berusaha untuk sopan dan tersenyum. Munafik kah? Ya, kami munafik hanya agar kakak kelas tidak berpikiran buruk tentang kami.

Pernah saat kami olahraga dan materinya adalah voli. Bola voli kami terlempar ke sebuah saung yang kebetulan ditempati oleh kakak kelas.

Teman kami: “Kakak~ tolong lemparin bolanya dong!” *tersenyum ramah*

Kakak kelas: “Sini dong ambil sendiri!”

Teman kami pun harus mendatangi mereka. Saat sedikit lagi teman kami sampai di tempat mereka, mereka malah melempar bola itu kembali ke lapangan. Salah satu di antara mereka bahkan berkata “Kapan lagi bisa ngerjain CI?”

Lagi saat olahraga dan materinya voli namun waktu yang berbeda. Kakak kelas menguasai lapangan basket jadi guru kami menyuruh kami bermain voli saja untuk menghabiskan waktu pelajaran olahraga yang tersisa. Karena kami kelelahan, kami memutuskan untuk kembali ke kelas saja. Tapi kakak kelas ada yang meminta battle voli dengan kami. Dengan ogah-ogahan dan niat tidak-ingin-mengecewakan-kakak-kelas, kami menerimanya. Beberapa anak terpaksa kembali ke lapangan. Apa selanjutnya? Perlahan tapi pasti, mereka menggusur kami dari lapangan. We try for nothing, uh?

Sebenarnya ada yang lainnya. Tapi kami tetap tersenyum kepada kakak kelas. Kami juga selalu mengalah kepada mereka. Kami tidak pernah berani menyebut title kami sebagai CI untuk menjaga perasaan mereka. So we do it for nothing?

Batas emosi kami diuji lagi di hari Rabu, dimana hari Rabu adalah hari kami memakai baju khas sekolah. Baju khas sekolah kami setipe namun berbeda warna. Warna itu ditentukan oleh tahun masuknya murid itu. Untuk tahun ini, kelas 10 bewarna hijau, kelas 11 bewarna ungu dan kelas 12 bewarna kuning. Kebetulan juga minggu ini adalah minggu ujian sekolah. Waktunya sekolah hanya didatangi oleh kelas 12 dan guru. Tentu saja akan ada yang namanya ‘ungu di antara kuning’. Di hari itu lah intimidasi secara halus terjadi berkali-kali hingga membuat kami tidak nyaman.

Malam harinya, di grup ‘sakura 35’ yaitu grup angkatan yang tahun ini lulus, seorang kakak kelas memposting “Ketahuan kan mana yang angkatan 35 dan angkatan 36” dan ada yang membalas “Ya dari warnanya aja udah jelas. Masa ungu di antara kuning sih?”

Afsfjkndfjhruehejfnksfsrirejhsladhushre -_________________-“

Udah tuh. Kami masih belum merespon. Lagian kami juga masih tertekan karena ujian hari Rabu itu Matematika dan Biologi. Ulangan yang paling susah dibandingkan ulangan mata pelajaran yang di-UN-kan lainnya. Jadi beberapa cuma membalas dengan emot senyum dan tawa saja.

Lalu ternyata kakak kelas memang tidak bisa dikasih hati. Mereka malah kembali mengusik kami di Kamis malam. Secara kami sudah melewati ulangan pelajaran yang di-UN-kan dan pas hari Kamis juga soalnya pada mudah-mudah, kami tidak terlalu terbebani sehingga kami mulai membalasnya. Membalasnya juga main-main karena kami kira itu hanya candaan saja. Walaupun perasaan mulai tidak enak karena kakak kelas malah membalas dengan kata-kata yang sangat kasar, kami tetap membalasnya dengan main-main. Lucu sih di saat kami masih mengira itu hanya main-main, mereka malah menganggapnya serius. Jadi kalau mereka emosi ya salah mereka sendiri.

Tiba-tiba mereka mengajak untuk duel. Entah itu akademis atau non-akademis. Kami pun tersadar kalau mereka menanggapi semua dengan serius. Kami mulai membalasnya dengan serius pula. 11 kelas lawan 2 kelas. Kakak kelas lawan adik kelas. Fair? Tentu tidak. Lucunya yang paling emosi malah kakak kelas. Kelas kami? Tertawa di depan laptop atau handphone masing-masing melihat balesan kosong kakak kelas. Terbukti kami bisa membalasnya dengan membalikkan kata-kata mereka.

“Kan kakak bilang kami manja”, “Loh kami kan labil”, “Kami kan muka tembok. Kakak yang bilang sendiri. Lupa?”

Dan dari hasil membalikkan kata-kata mereka sendiri, mereka semakin emosi. Loh bukannya kita hanya ‘mengulas balik’ kata-kata yang kakak kelas katakan? Kami tidak salah dong. Kami malah baik karena sudah mengingatkan mereka.

Akhirnya salah satu teman kami membongkar rahasia kami dengan membalas, “Yasudah deh. Kami anggap ini sebagai hiburan selepas mata pelajaran yang di-UN-kan. Makasih ya, Kak, sudah mendengarkan unek-unek kita.” LOL

CI 1 adalah kelas khusus perempuan yang selalu memikirkan perasaan kakak kelas sehingga selalu takut berbuat salah kepada kakak kelas. CI 2 adalah kelas khusus laki-laki yang tidak suka dengan perselisihan dan selalu bersikap cuek dengan pertengkaran. Jika kedua kelas ini sampai ikut angkat bicara, kalian pasti tahu kenapa kan? Ya karena kakak kelasnya sudah kelewatan. Selama ini, kami selalu diam. Perasaan terintimidasi ini membuat kami tertekan.

Mereka pun mengusir kami dari grup itu. Tapi kami berpikir, “loh, kalau kami memutuskan untuk keluar, kami mengaku kalah dong? Kami sudah bosan untuk selalu mengalah. Kakak kelas siapa, adik kelas siapa. Tapi kalau mereka yang mengeluarkan kami, artinya mereka mengaku kalah dong.”

Karena tidak mau keluar dari grup, mereka kembali berkata kasar, “kalian seperti pembantu manja yang tidak mau dipecat oleh majikannya!”

Temanku membalas, “kakak seperti majikan lemah yang tidak bisa memecat pembantunya.”

Lalu mereka membalas sengit, “kalian seperti eek keras yang tidak bisa dikeluarkan dari pantat!”

Temanku membalas lagi, “kakak seperti orang yang tidak bisa buang air besar.”

Aduh ngakak bacanya. Antara emosi dan pengen ketawa bacanya. Beneran hiburan yang nyelekit ‘-‘)b

Tapi jujur yang paling membuat emosi saat ada di antara mereka yang berbicara tentang perjuangan mereka selama 3 tahun untuk mendapatkan nilai yang baik di raport. Kenyataannya kelas akselerasi menanggup hal yang setara dengan orang-orang yang bersekolah selama 3 tahun. Bedanya kami singkat semuanya menjadi 2 tahun. Sehingga biaya yang kami keluarkan lebih besar dan perjuangan kami lebih berat.

Apa kakak kelas pikir belajar 1 bab dalam waktu 1 hari sampai 1 minggu itu mudah? Kelas normal saja bisa menyelesaikan 1 bab sampai 1 bulan. Tapi kami dituntut untuk menguasainya dalam 1 hari sampai 1 minggu. Kakak kelas pikir itu mudah? Yang diberi waktu belajar selama 1 bulan saja belum tentu bisa mendapatkan nilai yang memuaskan. Apalagi kami yang hanya diberikan waktu 1 hari sampai 1 minggu?

Belum lagi saat kami dituntut untuk menguasai semua itu dalam waktu singkat, kami diintimidasi oleh para guru yang selalu menuntut kesempurnaan dari kami. Lalu sekarang kakak kelas ikut menintimidasi kami. Coba mereka pikirkan posisi kami! Apa mereka bisa belajar dan mendapatkan nilai sempurna saat keadaan mereka seperti itu? Apa mereka bisa? Mereka hanya bisa menambah beban kami!

Tapi kami bersyukur karena ternyata ada beberapa kakak kelas yang dewasa. Mereka mengerti posisi kami dan melihat usaha kami untuk tetap terlihat baik di mata mereka. Mereka mengerti penderitaan kami. Orang-orang yang menyudutkan kami hanya orang-orang yang iri karena kami lulus bersama mereka. Tidak salah sih karena jika saya jadi mereka juga saya merasa risih. Tapi apa perlu dikatakan dengan frontal? Dengan bahasa sekasar itu? Ha to the ha aja deh~

Dan akhirnya kami mengambil kesimpulan, “Kami memang bukan angkatan 35. Kami bukan pula angkatan 36. Tapi kami angkatan 35,6.” Angkatan kabisat, hm?

5644_426365427447751_981537639_n

884961_576499579028815_1814231206_o 72422_576551569023616_1520771384_n

856976_560683530618095_1698670921_o  188849_550235191674932_489127876_n

480625_4576691782260_448150410_n

59717_426096880807939_493022011_n601079_426096894141271_42863029_n

Bagi kalian yang membaca ini dan berpikir “Kok nih orang posting curhatan mulu sih?” maka saya akan menjawab “Loh bukannya itu gunanya kita membuat blog pribadi, ya?”

Advertisements

28 responses to “CI Selalu Mengalah, Kakak Kelas Tak Peka

  1. aku juga ikutan ngakak bacanya…
    Kok sampe segitunya sih, kalo di sekolahku gak sampe mengintimidasi gitu. Emang awalnya sebel sih, anak reguler nilai minimal 75 dan anak aksel 80. Awalnya kita yang reguler merasa dirugikan apalagi untuk pendaftaran snmptn, tapi semakin kesini kita semakin sadar kalo emang kita sungguh-sungguh berapapun nilai yang kita mau pasti bisa tercapai. Justru dengan adanya anak aksel seharusnya kita semakin termotivasi…
    Aku juga sependapat kalo kakak kelasnya author sedikit tidak dewasa *oke, mungkin tidak sedikit*, kalo emang mereka mau nilai lebih tinggi mereka juga harus belajar lebih giat, bukannya malah nyari ribut…
    Yaudahlah ya, sabar aja ( °v°)/(._. )

    • haha beneran hiburan walaupun menyakitkan XD
      aku juga ga tau kenapa kakak kelas sampai segitunya. mungkin ini juga kesalahan kita yang kurang bersosialisasi. entahlah. aku anggap ini pelajaran buatku 🙂
      iya aku tetap sabar. makasih atas dukungannya 😀

  2. sbar j thor…emg law jdi org pntar tu byak cobaan,krn kita punya klebihan, tp ttep brfkir dewasa j thor, mn org dewasa dpt brfikir matang,mn org dewasa yg brfkir lemot krn sifat iri, 2 krakter tsb bs dibedakn, jd mn yg pintar,atau emg bodoh.. kn…
    org yg iri itu adlh org yg brfikir’an nyaa ktigglan diblakang & gk akn mo mju….

    wlaupun sy bkn lh org yg t’lalu pintar,tp sy msih brfikir rasional & dwasa…
    sy dkung moga author & tman’a… dpt brsbr,psti tuhan brikan hikmah’a… hwaitingg….

    • yah dari kejadian ini, aku jadi tau mana kakak kelas yang ‘pintar’ dan mana kakak kelas yang ‘cerdas’. hiburan tersendiri sih. hehe
      makasih buat dukungannya 😀

  3. Hallo (‘-‘)/ masih ingat denganku? Reader gaje yg suka baca ffmu di blog exoshidae. Sekarang aku iseng main ke blog pribadi kamu—melepas penat usai ujian praktek—dan niat baca ff, tapi aku tertarik dengan postingan ini dan langsung baca.
    Well, di sekolahku juga ada kelas aksel, baru dibuka tahun 2010 ketika angkatanku baru masuk, dan aku memang bukan bagian dari kelas aksel tersebut. Awal-awal dibentuknya Cibi—sebutan untuk kelas aksel di sekolahku—kakak kelas memang memberikan respon negatif. kebanyakan mereka mengatakan, “Wah, kelas aksel itu kelas yang gak adil. Masa masuk terakhir tapi lulus bakal bareng?” Bukan hanya kakak kelas, beberapa oknum di angkatanku pun menuai protes. Mereka berkomentar, “Masa masuk bareng tapi keluar duluan? Gak solider banget, sih?”
    Dan yang bisa aku lakukan hanyalah geleng kepala. Kenapa? Karena bagiku itu adalah hal yang childish. Walaupun aku berada dalam kelas normal, aku bisa merasakan betapa sulitnya menjadi murid Cibi, karena kebanyakan teman dekatku masuk kelas tersebut. Mereka yang awalnya memiliki banyak waktu luang untuk bermain, kini harus merelakan waktu mereka untuk belajar dan belajar. Dan seiring berjalannya waktu, beberapa temanku yang masuk Cibi pun akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Sehingga hanya tinggal beberapa gelintir orang lagi yang bertahan di kelas Cibi tersebut. Dan pada saat itu, kakak kelas pada akhirnya berbalik untuk menyemangati Cibi, angkatanku yang non-cibi pun demikian. *curhat u,u*
    Entah kenapa, membaca postinganmu aku pun merasa sesak (sedikit geli juga sih u,u). Tidak seharusnya mereka memperlakukan kelas aksel seperti itu. Malah, seharusnya antara kakak kelas dan aksel itu saling mendukung dan membantu. Toh walaupun berbeda, tapi kita tetap sekolah di tempat yang sama, bukan?
    Aku gak tahu mau komentar apa lagi tentang hal yang kamu alami. Karena di sekolahku, angkatanku dengan cibi malah berbaur, bersatu untuk berjuang agar bisa lulus UN bersama. Yang ada di sekolahku malah konflik antar jurusan, IPA vs IPS. But I don’t mind about that *kok malah curhat* .-.
    Komenku kepanjangan + gaje kayaknya (‘-‘)? Aku hanya bisa bilang, memang sulit menghadapi hal yang seperti ini. Kakak kelas kalian memang belum bisa berpikiran dewasa. Tapi sudahlah, kalian berjuang saja agar bisa lulus dengan nilai memuaskan. Jangan menyerah, dan ambil kejadian ini sebagai pemicu kalian agar lebih semangat dan tabah dalam memperjuangkan kelulusan. Hwaiting, Hyura and the rest of CI members!! 🙂

    • ya di sini juga namanya cibi persatuan dari ci dan bi. kalo ci untuk kelas aksel, bi untuk kelas olahraga .-.
      wah… aku jadi iri bacanya T___T disini malah kebalikan. ipa dan ips akur banget disini. entah kelas 11 atau 12. mereka malah menjauhi ci dan bi u__u
      yah mungkin mereka ingin meluapkan tekanan mereka ke kita. yaudah lah udah terlewat. ini jadi pelajaran buatku aja deh
      sip makasih buat dukungannya 😀 kalo kamu masuknya tahun 2010, berarti kita sama-sama UN tahun ini dong? 😮 sama-sama semangat ya ^^

      • wah, ada kelas olahraga? kelas khusus olahraga gitu? O.O
        Di sekolahku sebenernya kadang akur kadang engga antara IPA-IPS, tau ah labil -.-
        Setiap sekolah pasti punya masalah masing-masing, kok. Jadikan masalah itu sebagai pemanis masa SMA aja kekeke *bicara apa aku ini* -_-
        Yup, sama seperti kamu, aku pun akan UN. Tiga minggu kurang ya persiapan kita untuk UN? T.T
        Ayo, Mari semangat!!! Semoga Lulus!! Hwaiting!! 😀

  4. Rada ga ngerti sih jalan ceritanya ._. Yang bisa aku tangkep, disini para kakak kelas itu berbuat suka-suka, kekanakan dan bikin emosi to the max .. Bener gak eonni?
    Emang begitulah kakak kelas, merendahkan adik kelas. Tapi biar ngerendahin, ga nyampe segitunya kalee -___-” apabanget deh kakak kelasnya .. Kakak kelasku aja ga gitu2 amat kok, malah kesannya baik sama adek kelas walaupun rada nyebelin, sih. Tapi yaudahlah 😀
    Yang sabar ya eonnie, yang namanya gak jauh-jauh dari kata ‘kakak kelas’ itu emg selalu nyangkut ama yg namanya ‘nyebelin’ dan ‘nyusahin’
    Hwaitingg~

  5. iyuh kakak kelas kamu tuh far… kamu sekolah di SMA mana sih? sumpah malu2in almamater! mana mau unas, g ada tobatnya sama sekali. yah bukannya tobatnya kalo pas mau unas aja maksudku. tp ya gitu, mereka kebangetan-_-
    dan… screen caps kamu ampuh. coba kamu kasih link blog kamu ke mereka lewat grup. pasti mereka malu banget tuh nyadarin kesalahannya yang emang memalukan itu -_-
    lo semangat aja far 😉

    • ya mungkin mereka mau melimpahkan semua tekanan selama ulangan ke kita. mungkin.
      tapi yasudah lah. aku udah ga kebawa emosi lagi. kejadian ini malah jadi pelajaran untukku 🙂
      aku malah takut kakak kelas baca postingan ini. aku takut ini malah jadi masalah baru lagi. mau dihapus tapi udah banyak yang komen. aku ga mau orang yang sudah mendukungku malah aku sia-siakan u_u
      makasih ya udah menghiburku 😀 muah~~

  6. walaupun aku rada ga ngerti sama curhatan (?) ini, tapi aku harap eonni tetap sabar ya 😉
    aku juga punya masalah..waktu pertama masuk kelas 8 aku kira sudah ga ada lagi yg namanya geng2an dan sifat kekanakkan (?), tapi ternyata aku salah..dikelasku sprt ada kaca atau perbatasan yg tdk terlihat antara yg famous dan yg terkucilkan, sebenarnya pertama kali aku seperti ‘diajak untuk bergabung’ ke dalam ‘geng’ famous tapi mungkin karena ga sejalan aku seperti menarik diri, akhirnya aku tertarik dengan salah satu temanku yg dikucilkan ternyata dia baik walaupun suka ngeluh, dan akhirnya aku ebih memilih untuk ada didalam lingkaran ‘geng’ yg ‘terkucilkan’..temanku yg ada di ‘geng famous’ menyarankan supaya aku ninggaln orang2 terkucil itu tapi aku tidak mau krn cuma mereka yg baik secara tulus..jadi setiap ada tugas kelompok aku dan teman2 yg dikucilkan ga pernah dianggap 😥 jadi aku seperti ada di posisi netral..
    huhuu..kok jadi OOT gini -_- mianhamnida eonni

  7. What? Gue baca postingan ini ngakak banget! Lucu banget sih kakak kelas yang tingkahnya kayak gitu-_-

    Tingakahnya kok kekanakan banget ya? Perasaan akselerasi itu udah biasa, umum banget. Yang masalah olahraga voli itu sangat amat menjengkelkan!

    God! Kakak kelas lo itu beneran udah lulus SMP kan? Kok tingkahnya kayak anak kecil sih? Bisa gila kalau seandainya gue jadi elo-elo pada. Gak bisa bayangin-_-

    Jangan terlalu difikirin lah kakak kelas yang merasa dirinya paling bener kayak gitu, bisa gila sendiri nantinya. Sabar, cuma itu satu-satunya kunci yang terbaik
    🙂

    • yah begitulah. entah mereka kenapa saat malam itu -_- halah halah~
      ya jangan dibayangin jadi kita-kita lah~ kita kan punya masalah yang beda-beda .___.
      kalo kata guruku, “Yang waras yang ngalah.” dan dalam masalahku, “CI selalu mengalah, kakak kelas tak peka.” itu artinya…. wkwkw XD /plak

      • Iya emang pasti masalah kita itu berbeda-beda tapi kalo seandainya gue ada diposisi kalian itu pasti rasanya nggak enak banget. Sekolah lo baru pertama kali ada akselerasi atau gimana?

        Bener juga, yang waras yang ngalah:)
        Nggak usah dibawa pusing lah kakak kelas kayak gitu;____;

  8. hm, ngerti jga sih sma perasaaan kamunya..
    tpi mnurut aqis, kkq klas kmu itu blum dewasa x ya, mrka pkir mudah apa untuk mendapatkan nilai KKM yg 80 itu saat ujian? aqis aja hrus berjuang dlu untuk mndapatkan nilai KKM itu..
    apalagi di tmbah dgan kesibukan mu yg membuat ff, dan bgi aqis mmbuat ff itu gk mdah *bagi aqis ya.. -_-”
    di klas aksel, bilingual, maupun unggulan dituntut siswa/i nya hnya fokus ntuk bljar dan di tambah sma tugas2 yg setiap hari di berikan oleh guru,,

    tpi kamu hrus tetap semangat ya,,
    pokoknya pantang menyerah deh..
    kami smua mndukung kamu kok..
    Hwaiting unnie and Fighting too.. 😉

  9. hahaha
    ngakak eonn bacanya!!! XD
    apalgi yg pas bagian sindir mnyindirnya. Serasa balik lg ke SD plajaran ttg klimat aktif dan pasif! kekeke g nyangka ada klimat ‘eek’ yg lngsng bkin aku ktawa terpingkal-pingkal hahahahaha
    *udhan ahh! cape*
    hmm ..,
    bdw, eonni dikota mana ..?

  10. Eonni yg sabar ya, entah kenapa aku juga bisa ngerasain penderitaan eonni. Kalau di sekolah ku sih ngk ada kelas akselerasi tapi kerasa bgt pembullian antara kakak kelas-ade kelas ny -_-. Kakak kelas di sekolah ku sih mainnya ngomongin se-geng atau lebih parahnya lagi se angkatan dia, ngomongin frontal, labrak-labrakan, tapi masa yg dilabrak kyk cuman dua org tapi yg ngelabrak bisa se-geng, masalahnya pun juga gak masuk akal, cuman gara-gara salah ngomong lah, cowo lah (kakak kelas cewe jaman sekarang kebanyakan gebetin ade kelas cowo-___-) abis itu kakak kelas cewe yg paling rempong bgt, masa temenku dia udh jadi kpopers lama dibilang abal-abal, dia aja baru tau kpop pas jaman gangnam style. Entahlah pdhl dulu pas aku sd, aku deket sama kakak kelas, skrg kakak kelas nya udh pada miring, pada sombong semua. Makanya tahun ini angkatan ku hura-hura yg kelas 9 mau lulus.

    Aduh eon, aku jadi curhat gini, mian ya … Fighting eon buat masalahnya, ternyata masalah eonni lebih berat drpd yg aku ngalamin hemm.

    • walah~ smp emang jaman labil, dek. sabar aja. setidaknya ga dilabrak satu angkatan kan? jadi masih tenang ._.v soalnya kalo cuma dilabrak segeng, aku sering gegara ga ‘sopan’ sama mereka. tapi mereka akhirnya malah speechless lalu pergi. lol
      semakin lama, senioritas memang semakin mendarah-daging. jadi sabar aja ya

  11. Hai Fara aku reader dari blog ExoShidae, rencanya sih mampir keblog ini mau nyari kelanjutan FF The Doorway tapi gag taunya malah mampir kepostingan ini.
    Ya ampun kakak kelas kamu itu pada childdish semuanya ya masa pada marah karna masalah begitu yg sebenernya kalo dpikir pake logika sepele banget. Untungnya sih disekolah aku belum ada kelas aksel, tapi disini kerasa banget ‘gap’ antara orang pribumi sama non pribumi karna setengah lebih yg sekolah ditempat aku warga keturunan semua jadi kalo misalnya kita orang pribumi trus kita biasa aja siap” aja ‘disingkirkan’ sama temen seangkatan atau kakak kelas. Disini juga mereka kalo mau temenan mandang fisik atau materi, jd kalo fisik kita ada yg ‘kurang’ atau ortu kita gag punya perusahaan dan bukan bos besar siapin diri buat selalu diejek sama mereka, walaupun gag semuanya begitu. #Curcol#
    Memang kamu line berapa sih? aku lupa 🙂

  12. Hyura! Aku juga anak aksel aka Cibi. Dan aku juga pernah ngalamin itu. Dulu awalnya waktu MOS gitu. Terus dari kakak kelas yang aksel juga udah dikasih tau kalau main ke kelas bilingual harus jaga sikap blablabla (kelas bilingual sama aksel beda kampus) dulu pas awal masuk, tiap ke kampus anak bilingual pasti diliatin gitu aneh banget. Sampe ada kan eksul yang isinya anak bilingual itu ribut sama anak cibi terus dipanggil guru heboh banget lah intinya dan akhirnya eksul itu diancam dibubarin kalo ngga mau merubah. Sampe sekarang, eksul itu jadi sepi peminat dan ngga ada anak cibi yang masuk di sana.
    Sebenernya, aku secara ngga langsung juga ngerasa dibenci atau mungkin itu perasaanku aja. Tapi karena temen-temenku di cibi itu orang orang yang hebat, jadinya kita lama-lama ngga peduli. Untung aja pas udah di tahun kedua ini, pandangan kakak kakak kelas udah beda, udah ngga menghakimi kayak dulu. Bahkan banyak yang jadi temen deket karena les di tempat bareng gitu gitu.
    Mungkin kakak kakak kelasmu cuma belum kenal kalian aja. Kalau mereka udah kenal, pasti mereka bakal merubah pandangannya.
    Jujur aja, masuk aksel itu salah satu kecelakaan yang berakhir indah. Aku masuk aksel hanya iseng tapi karena aksel aku banyak berubah dan aku seneng dengan itu. Jadi anak aksel pasti selalu disindir “Katanya anak aksel” “Katanya IQ nya tinggi” kalo ngga gitu ya anak aksel kok gini sih kok gitu sih. Tapi itu semualah yang bikin anak-anak aksel jadi orang hebat. Justru merekalah yang harus sedih karena secara nggak langsung mereka udah bikin anak Cibi belajar menerima kritik, banyak introspeksi diri, rendah hati, dll. intinya gitu.
    Pasti pandangan mereka terhadap aksel akan berubah kok kalo mereka udah kenal kalian. Aku yakin. Anak aksel mungkin emang diuntungkan dengan adanya label Cibi pasti diunggulin saat daftar snmptn atau lomba tapi anak Cibi nggak mendapatkan label itu dengan mudah. Dan mereka juga harus kerja 2 kali lebih keras untuk mempertahankan label itu.
    Cibi bukan cuma berbeda. Cibi itu anak yang luar biasa! Semoga aja anak-anak Cibi di sekolah kamu juga bisa buktiin itu biar kakak kelas kamu nyesel ngata-ngatain anak Cibi.
    Maaf ya banyak banget. Habis samaan sih :333

  13. AAAAKKK!!! Setuju banget eonn! Aku masuk kelas CI 2 kali. Pas SD sama SMP. Pas SD, okelah, gak apa. Nah, pas sekaang itu loh… Di SMP. Gila! Kakak-kakak kelas 9 nya pada songong semua! Puncaknya itu pas kami ngerencanain buat bikin Buku Tahunan Sekolah.
    Mantan ketua osis malah bilang gini di grup BBM “Ya udah, panggil aja kelas dari 9A-9H. Yang gak aku sebut gak usah.”eh, aku kelas 9I masa’ ._. Ya udah langsung aja photografernya bilang. “9I nggak nih? Panggil juga dong.”kakak yang lain malah kompakan bilang “GAK!”
    Akhirnya, photografernya bilang “Okelah, untuk satu kelas. 9I kalo gak salah. Karena gak hadir di rapat kemaren, jadi kalian foto pertama ya, 2 hari lagi. Oh! Sekalian, kalian gak bisa pilih editing, soalnya kalian gak dateng kemaren.”WHAT? Kurang kesel gimana coba? Dan kelasku malah dapet tema yang paling susah dan paliiinngg memalukan. Kesel deh eonn, kessseeellll banget T.T

    Hehehe… Aduh, jadi curcol :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s