[Oneshot] Blue Rain

Author : Lee Hyura

Title : Blue Rain

Genre: Angst, Romance

Rating : G

Length : Oneshot

Cast :

–          Girls Day Yura

–          B1A4 Baro

–          EXO Chanyeol

Note: entah apa yang terjadi hingga aku memakai nama Chanyeol -_- Ririn, kalo kamu baca ff ini, selamat ya OTP kamu dipake sama aku untuk jadi saingan OTPku

=== Blue Rain ===

Sekali lagi, aku terdiam di balkon sambil memeluk buku gambar saat hujan turun. Aku tidak bisa berhenti untuk tidak berpikir tentangnya saat hujan turun. Hujan adalah kesukaannya. Hujan adalah temannya. Saat hujan, dia biasa duduk di sampingku, tangannya menggenggam tanganku erat. Kami tidak berbagi kata. Hanya diam sambil menikmati suara dan bau hujan. Di tempat yang tidak terkena cipratan hujan, kami hanya menatap langit gelap. Terdengar membosankan, tapi sebenarnya terasa sangat hangat.

Baro. Cha Sun Woo. Itu lah nama yang berkeliaran di kepalaku sekarang. Harusnya aku tidak memikirkannya. Aku tidak boleh memikirkannya. Namun aku tidak bisa berhenti memikirkannya saat hujan turun. Terlalu banyak kenangan manis bersama hujan.

Aku mengangkat wajahku ketika pintu balkonku diketuk dari dalam. Bibirku pun tersenyum melihat Minah datang.

“Kau tidak seharusnya duduk di sini saat hujan. Nanti sakit. Sojin eonni akan mengomel loh!” serunya.

Aku meringis kecil seraya bangkit dan masuk ke kamarku. Ku letakkan buku gambarku di meja terdekat lalu duduk di atas kasur.

“Tadi aku sedang menggambar. Saat selesai gambar, aku baru sadar kalau hujan turun. Tak sadar, aku jadi melamun,” jawabku pelan, menggigit bibirku untuk menekan rasa sesak.

“Aku tahu. Pasti memikirkan Baro oppa lagi, kan?”

“Minah—“

“Aku mengerti. Aku tidak akan marah seperti Sojin eonni kok. Memang sulit melupakan kenangan manis.”

Aku mendongak untuk menatap mata Minah. Tanpa sadar, air mataku mengalir. Tidak seharusnya aku mengingatnya. Tidak seharusnya aku menangisinya. Aku sudah janji dengannya. Andai dia tahu betapa sulitnya menahan diri untuk tidak melakukan semua itu.

***

“Selama kau tinggal bersamaku, kau harus mengikuti peraturanku, Kim Ahyoung!” omel Sojin eonni.

Aku dan Minah memang tinggal di rumah Sojin eonni. Aku tinggal di rumah ini selama orangtuaku menyelesaikan pekerjaan mereka di luar negeri sedangkan Minah tinggal di rumah ini karena dia tidak mau tinggal sendirian. Keluarganya tidak tinggal di kota ini sehingga dia harus menyewa rumah selama dia menyelesaikan kuliahnya.

Sojin eonni sedang marah karena aku tidak mau mengikuti sarannya untuk berdandan cantik hari ini. Alhasil, dia mengomel tak jelas dan merajuk seperti anak kecil. Terkadang aku berpikir dia itu memalsukan tahun kelahirannya menjadi 1986 padahal aslinya dia lahir tahun 2000. Karena ia sering bertingkah layaknya anak kecil berumur 13 tahun.

“Aku hanya membeli peralatan menggambarku saja, Eonni. Tidak ada alasan untuk berdandan, kan?” belaku.

“Tapi Chanyeol—“

“Chanyeol tidak memintaku untuk dandan, Eonni…”

Pipinya semakin menggembung. Dia membuang muka. Aku menatap Minah memelas, meminta bantuan darinya.

“Biarkan saja anak kecil itu. Dia terlalu sering menonton drama murahan. Makanya dia seperti itu,” tanggap Minah asal. Tangannya dengan usil menekan pipi Sojin eonni yang mengembung itu.

Sojin eonni menoleh tak terima. “Yah! Apa katamu?!”

“Aku bilang, kau terlalu sering menonton drama murahan. Makanya kau bertingkah seperti itu!”

“Bang Minah! Kau mencari masalah denganku, ya?”

“Heh? Eonni—“

Hello, everyone~ Park Chanyeol is coming!”

Aku menarik napas lega. Untuk pertama kalinya, aku bersyukur Chanyeol muncul di hadapanku setelah aku dan dia dijodohkan oleh orangtua kami. Karena biasanya, aku selalu memasang wajah suram jika dia muncul. Mungkin karena dia, aku bisa mendapat alasan bagus untuk pergi sebelum Minah dan Sojin eonni bertengkar.

Chanyeol datang untuk mengantarkanku membeli peralatan menggambar untuk tugas kuliahku. Sojin eonni sendiri yang memintanya untuk menemaniku. Sojin eonni memang terobsesi menjadi cupid bagi kami.

Tanpa banyak bicara, aku segera menarik tangan Chanyeol keluar dari rumah Sojin eonni. Sesampainya di depan mobil Chanyeol, aku melepaskan tanganku. Aku bisa mengatakan wajah Chanyeol terlihat sangat bodoh sekarang. Dia tersenyum lebar tanpa sebab.

“Ada apa dengan senyumanmu itu?” tanyaku, mendesis.

Chanyeol menggaruk kepalanya sekilas. “Aku senang.”

“Senang?”

“Kau menggenggam tanganku.”

Aku kehabisan kata mendengarnya. Kalimat itu membuatku malu dan sesak di saat yang bersamaan. Malu karena aku melakukannya kepada Chanyeol. Dan sesak karena itu mengingatkanku kepada Baro.

*

“Hua! Hujan!!” pekikku panik.

Aku segera menarik tangan Baro untuk segera meninggalkan lapangan basket. Kami berlari ke depan sebuah toko untuk berteduh. Aku menoleh ketika mendengar tawa tertahan khas Baro. Wajahnya benar-benar bodoh saat ini.

“Ada apa dengan wajah bodohmu itu?” tanyaku bingung.

Baro mendelik kesal. “Heh.. jangan mengatakan wajahku bodoh! Asal kau tahu, ini adalah wajah bahagiaku!”

“Wajah bahagia? Kau bahagia kita kehujanan. Begitu?”

“Bukan, bodoh!”

“Lalu kenapa kau senang?”

“Kau menggenggam tanganku.”

Seketika, aku melirik tanganku yang masih menggenggam tangannya. Aku segera melepaskan tangannya dan beralih memeluk diriku sendiri.

“Dingin, ya?” tanya Baro.

Aku memutar mataku. “Tentu saja dingin. Bajuku basah. Apalagi anginnya—“

Aku terdiam saat merasakan sepasang tangan memelukku dari samping.

“Sekarang sudah hangat?” tanyanya, berbisik di telingaku.

*

“Hei!”

Aku menoleh kaget saat suara Chanyeol menyadarkanku dari lamunanku. Chanyeol sudah membukakan pintu untukku, tatapannya seakan menyelidiki mataku. Aku menjilat bibirku gugup sembari masuk ke dalam mobil.

“Pikiranmu hanya tertuju kepadaku hari ini atau kau tidak akan mendapatkan peralatan menggambarmu itu!” ancam Chanyeol.

Aku meliriknya tajam dan dibalas dengan tawanya.

>>>

Hujan kembali turun selama perjalanan pulang. Chanyeol terus-menerus mengajakku berbicara agar aku tidak melamun. Saat hujan memang paling rawan untuk membuatku melamun. Sepertinya dia sudah hafal kebiasaanku ini.

“Aku turun di sini saja,” kataku ketika mobilnya berhenti di depan rumah Sojin eonni.

Chanyeol mengerucutkan bibirnya. “Wae~? Nanti kau kehujanan lalu sakit.”

“Aku membawa payung, Chanyeol-ssi…”

“Tetap saja…”

Aku mendengus melihat tingkah childishnya. Dia suka sekali bertingkah lucu setiap saat. Baro juga seperti itu, hanya ditunjukkan kepada orang-orang terdekatnya. Jika tidak, dia senang bersikap dingin. Katanya sih supaya dia terlihat keren. Bodoh sekali dia.

“Betapa aku ingin rumah Sojin noona di Amerika,” gumam Chanyeol.

Aku menoleh bingung. “Wae?”

“Jadi aku masih punya waktu untuk berdua denganmu.”

Aku memutar mataku. “Wah, mulutmu manis sekali~”

Chanyeol memang menyukaiku. Dia sudah berkali-kali mengatakannya kepadaku. Perjodohan ini tentu menguntungkan bagi hatinya. Sayang aku tidak bisa membalas perasaannya. Hatiku masih untuk Baro. Aneh, bukan? Mengingat kata-kata terakhir Baro, harusnya aku membencinya.

Who am I kidding?

Membencinya?

Aku mungkin saja bisa membencinya jika aku tidak tahu bahwa setiap kata-kata jahat yang ia katakan malam itu adalah kata-kata bukan hal yang sebenarnya ia ingin katakan. Dia terpaksa untuk melakukannya. Dia harus membuatku membencinya dan melupakannya agar aku bisa menerima perjodohanku bersama Chanyeol. Dia melakukannya karena ayahku mengancamnya. Aku terlalu mengenalnya hingga aku tidak terjebak oleh kata-katanya. Berbeda dengan Sojin eonni yang kebetulan bersamaku saat itu. Kata-kata Baro membuat Sojin eonni sangat membencinya sehingga mendukung perjodohanku dengan Chanyeol.

Ada kalanya aku ingin memarahi Sojin eonni dan memberitahunya siapa Baro sehingga Sojin eonni tahu bahwa Baro tidak bermaksud mengatakannya. Baro tidak akan mungkin menyakitiku jika bukan karena terpaksa. Namun pada akhirnya, aku hanya menutup mulutku, membiarkan Sojin eonni berpikir seperti itu. Jika Sojin eonni tahu yang sebenarnya, entah apa yang akan dia lakukan.

Ada kalanya juga aku ingin memarahi Chanyeol karena kehadiran pria itu merusak hari indahku bersama Baro. Tapi Chanyeol tidak salah apa-apa. Dia menyukaiku. Namun bukan dia yang meminta perjodohan ini berlangsung. Ini adalah perjanjian kedua orangtua kami sejak kami kecil.

“Kim Ah Young, ku mohon fokus padaku,” tekan Chanyeol.

Aku kembali sadar sebelum terhanyut terlalu jauh dalam pikiranku sendiri. Aku mengatup bibirku erat sambil menghindari tatapan Chanyeol. Aku tersentak ketika tanganku digenggam olehnya.

“Aku tahu kau selalu memikirkannya,” lirih Chanyeol. “Tetapi aku yakin aku masih mempunyai kesempatan.”

Suasana seperti ini selalu berhasil membuatku kikuk. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika Chanyeol mengekspresikan perasaannya kepadaku. Aku bisa merasakan ketulusannya. Itu sebabnya aku tidak tega untuk menyakitinya.

Tanpa salam perpisahan, aku turun dari mobilnya lalu membuka payungku. Aku berbalik badan untuk menatap kepergiannya. Lambaian tangannya tidak ku balas, berharap dia sadar kalau aku ingin dia cepat-cepat pergi. Setelah roda mobilnya pun berputar meninggalkanku, aku berbalik badan. Hampir saja aku melepaskan payungku ketika melihat sosok yang paling ku rindukan berdiri di tempat gelap, di depan rumah Sojin eonni.

“Baro…” gumamku.

Dia memaksakan bibirnya untuk tersenyum sambil mengangkat tangannya. “Yo!”

“A-apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku pelan, berusaha menyembunyikan suaraku yang mulai bergetar.

Dia mengusap tengkuknya canggung. “Aku hanya jalan-jalan. Karena hujan, aku berteduh di sini. Aku tidak tahu kau tinggal disini. Hehe…”

“Jelas-jelas kau tahu aku tinggal di sini jika orangtuaku harus keluar negeri karena itu saatnya aku boleh menginap di rumah temanku,” balasku dingin.

Dia tidak terlihat ingin membalas. Dia hanya diam sambil menatap kakinya. Sementara aku sibuk menggigit bibirku untuk menahan air mataku mengalir. Tenggorokanku mulai sakit dan ku yakin mataku juga sudah mulai merah. Aku terlalu merindukannya. Namun aku tahu aku harus menahan diri. Aku tidak boleh membuatnya mengingkari janjinya kepada ayahku.

“Kau kurus sekarang. Apa Sojin noona tidak punya banyak daging untuk makanmu?” candanya. Sayang suaranya terlalu hambar untuk terdengar sebagai candaan.

“Aku memang sedang diet.”

Dia pura-pura kaget. “Diet? Seorang Kim Ah Young diet? Apa sebentar lagi kiamat?”

Shut up!”

Melihatku merengut kesal, dia tersenyum tipis. Senyum penuh kelegaan. Aku tidak tahu mengapa dia merasa lega.

“Aku pulang sekarang.”

“Andwae.”

Dia menatapku bingung. “Apa?”

“Jangan pergi.”

Aku melepaskan payungku dan berlari memeluknya. Memeluknya dengan sangat erat. Memeluknya untuk terakhir kalinya. Memeluknya sebelum ia benar-benar pergi dari kehidupanku.

Aku tidak bisa menahan diriku. Aku tidak mau dia pergi. Aku ingin bersamanya. Malam ini saja. Ku rasa itu cukup.

“Hei—“

“Jangan banyak bicara. Peluk aku sekarang!” selaku cepat.

Perlahan tapi pasti, aku merasakan tangannya membalas pelukanku.

“Tidak seharusnya kita seperti ini,” gumamnya.

“Aku tahu.”

“Kalau kau tahu, harusnya kau tidak melakukan ini.”

“Aku adalah tuan putri. Aku boleh melakukan apapun yang aku inginkan.”

Dulu saat kami masih bersama, dia selalu memanggilku tuan putri karena aku selalu melakukan apapun sesukaku.

“Baiklah…”

Baro menyandarkan kepalanya di pundakku, hidungnya menyentuh leherku. Posisi kami yang seperti ini, membuatku tidak bisa menahan air mataku. Aku menangis. Tak lama kemudian, aku pun merasakan pundakku basah. Itu bukan air hujan. Itu air matanya. Baro menangis bersamaku. Untuk pertama kalinya.

“Setelah malam ini, kau tidak akan melihatku lagi.”

Aku meremas bajunya. “Tahu apa, kau? Dunia itu sempit. Kita bisa bertemu lagi tanpa kita rencanakan.”

Dia menghela napas panjang, gemas.

“Besok, kau harus tersenyum. Jangan terlalu dingin kepada Chanyeol lagi. Tidak susah membalas senyuman bodohnya. Karena dulu, kau sering membalas senyuman bodohku,” bisiknya.

“Kau tahu darimana tentang aku dan Chanyeol?”

“Gongchan. Gongchan tahu dari Minah,” jawabnya. “Janji ya? Kasihan Chanyeol kalau harus merasakan penderitaanku dulu.”

Aku tidak bisa membalas apapun selain, “bodoh…”

Though I know where to go to see you, I can’t go
Because after seeing how unrecognizably thin I got
You might be surprised and get worried

Because I might not be able to keep that promise we made when you were leaving me
Saying that I won’t cry over you

I can’t erase even the tiniest bit of you or those cruel words that you didn’t mean
I know that you always come and fall asleep next to me

One night when the rain was coldly falling
That night when you were especially flickering in my head
I shook my head, telling myself I shouldn’t do this

But when I got home, like a dream, you were standing there
When I saw you, coldly drenched with rain, my heart hurt
You tell me that if this night passes, you won’t be able to see me again
So you couldn’t do anything but just sit here and waited for me all day

I couldn’t just stay underneath my umbrella anymore
So I hid my flowing tears and went into your embrace

I know that you’re trying to hide the sounds of your cry with the rain
And that on my shoulders isn’t the rain but your tears

If only I can go into your embrace and cry all I want once again
I would go to where you fell asleep and talk endlessly

I can’t erase even the tiniest bit of you or those cruel words that you didn’t mean
I know that you always come and fall asleep next to me

The rain that falls under the umbrella won’t ever stop

=== Blue Rain ===

SELESAI~ ini ff Yura pertama yang bisa aku selesaikan. Sebuah songfic dari lagu yang judulnya sama dengan judul ff ini. Sebelumnya aku udah buat 2 ff bercast yura dan dua-duanya belum selesai -_-

Oke ini rada-rada gimana gitu ffnya. Gimana lagi? Aku buatnya pas lagi kena writer block. Huhuhu T_T

Awalnya aku mau make LJoe. Tapi agak ga rela gimana gitu untuk ngakuin LJoe-Yura couple ;__; terus keingetan Ririn yang suka sama Chanyeol-Yura couple. Mana dia dapet moment Chanyeol-Yura lagi. Aduh itu Yura beneran deh ya.. nargetinnya rapper mulu. Sepertinya hanya soohyun yang bukan rapper. Ckck..

Selanjutnya mau buat songfic lagu Girls Day – Expectation ah~

♬♪ Ooh ooh ooh, ooh ooh ooh, gwiyeobge
♬♪ Ooh ooh ooh, ooh ooh ooh, yeppeuge

Advertisements

6 responses to “[Oneshot] Blue Rain

  1. kok gantung sih? jeezzzz -________________-” kasian baro-nya eonnii T_T apa-apaan lagi menara eiffel muncul disini? ganggu hubungan baro-yura lagi… jangan gangguin mereka, gangguin aku aja yeol… *digeplak*
    ini akan jauh lebih sedih kalau berakhir dengan sungguh-sangat-amat-tragis karena setelahnya aku bakal nangis eon, suer. kupikir karena genre-nya angst, endingnya sungguh-sangat-amat-tragis ._. tapi yaudahlah… lagian eonni tau aja, lagi bosen gaada fanfic, ehh… ketemu sm fanfic dengan genre terfavorit 😀

    • soalnya aku bingung mau lanjutinnya gimana lagi. ide mentok sumpah ‘-‘
      jangan…. kalo lebih sedih lagi, nyesek di akunya. masa pertama kalinya buat oneshot baro-yura udah ngenes aja endingnya. ini masih lebih baik. masih di ambang batas normal ;___:
      aku buat ini juga dadakan pas liat lirik di atas. kok liriknya sesuatu gitu. eh pas coba buat, jadi kaku gini. entah karna aku jarang buat ff bercast ini atau emang karena lagi writer block. yg pasti aku ga puas sama sekali sama oneshot ini -__-“

  2. HALO FARA!!!!!!!!!!:——DDDDDDDD ^_____^

    aku gak sengaja nemu ff kamu pas aku lagi ngesearch ff yura chanyeol di google hehe terus ketemu ini ^_^
    ih aku sebel sama yura kok senyum doang gamau sama chanyeol terus aku sebel sama kamu kenapa pas di mobilnya gak ada kissing scene nya/???
    terus aku seneng ada yuah couplenya:-DD terus kan disitu minahnya ngebela yura terus ^_^
    aku seneng chanyeolnya pantang menyerah gitu ke yuranya tapi yuranya nyebelin sih

    ngomong ngomong couple ljoe-yura aku pernah ngeship mereka sebelum yura sama chanyeol:-D lagian mereka juga banyak momentnya ‘v’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s