Bones and White Collar

Kali ini, aku datang bukan untuk mempublish lanjutan ff, melainkan memberi review 2 drama. Review? Hm, tidak sepenuhnya review juga sih. Well, apalah itu, silahkan dinikmati *berasa makanan -_-*

Drama apa sih yang ingin aku review?

Drama korea? Drama jepang?

No. I’m not so into dorama or something like that.

Ini sebuah drama Amerika. Bukan drama cinta-cintaan. Okay, cinta adalah salah satu unsur kedua drama ini. Tapi bukan yang terutama.

Terus apa?

Aku lagi suka drama tentang FBI. Yang satu adalah drama pembunuhan. Dan yang satu lagi adalah drama penipuan. Kesamaannya adalah sama-sama kisah tentang FBI. Judulnya adalah Bones dan White Collar.

1. Jalan Cerita

Jalan cerita drama Bones selalu tentang pembunuhan. Drama ini tentang tim forensik yang bekerjasama dengan FBI. salah satu wakil FBI yang turun tangan langsung dalam hubungan kerjasama ini adalah Agen Booth. Sang pemeran utama adalah dokter Brennan, sang ahli tulang dari tim forensik yang bernama Jeffersonian (kalo ga salah. Jarang disebut namanya).

Jalan cerita drama White Collar selalu tentang penipuan dan pemalsuan. Drama ini tentang seorang penipu kelas dunia bernama Neal Caffrey yang akhirnya menjadi informan FBI. Yang menjadi rekannya secara langsung dari pihak FBI adalah Peter. Neal juga mempunyai ‘rekan sejati’ yang bukan berasal dari FBI.

2. Kelebihan

Di drama Bones, aku menyukai cara mereka membuat para korban seakan mayat sungguhan. Jika drama pembunuhan lain akan mensensor saat-saat otopsi, drama ini malah memfokuskan saat-saat mayat itu diotopsi. Menjijikan pas pertama kali nonton (aku langsung disuguhkan scene mereka sedang membedah tikus secara jelas!!). Aku sampai ga selera makan dan tidur pun susah. Tapi lama-lama jadi kebiasaan. Keluargaku awalnya juga pada jijik nontonnya dan berakhir dengan muntah. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini Bones berhasil menjadi pesaing no. 1 Fairy Tail sebagai tontonan wajib keluarga di jam 18.30 setiap harinya.

Di drama White Collar, aku menyukai cara Neal berpikir. Terkadang aku ikut terkecoh dengan cara pikirannya dan selalu berhasil membuatku cengo di saat tayangan selesai. Kisahnya sederhana memang. Tapi dikemas dengan cara yang unik dan cerdas. Drama ini membuatku sadar bahwa penipuan yang ‘sebenarnya’ merupakan sebuah seni. Drama ini juga mengajarkan kita untuk jangan pernah sedikit pun percaya dengan apa yang kita lihat dan ketahui kalau kita belum bisa membuktikannya sendiri.

3. Tokoh Ayah

Aku tertarik dengan karakter sang ‘Ayah’ di drama Bones. Dimana karakter yang ku maksud adalah ayahnya dokter Brennan. Tipe ayah Brennan mirip dengan tipe ayah seorang anggota Charlie’s Angels. Sang ayah menjadi tahanan negara karena pembunuhan. Sebelum dipenjara, ayahnya sempat kabur. Setelah bebas dari penjara, sang ayah berusaha untuk dekat dengan anak bungsunya setelah sadar ia benar-benar menelantarkan anak-anaknya di masa kecil mereka. Karakternya membuatku ingin berlari untuk memeluknya erat sambil menangis terharu. Dia pantang menyerah walaupun beberapa kali Brennan sudah berlaku tidak sopan kepadanya. Aku yang nonton aja rasanya pengen nampar Brennan sepenuh hati. Walaupun begitu, aku setuju dengan pendapat dokter Sweets (psikolog FBI) bahwa Brennan melakukan itu karena takut saat ia sudah dekat dengan ayahnya, ayahnya akan meninggalkannya lagi.

Berbeda dengan karakter ayah yang memesona di drama Bones, di drama White Collar justru malah sebaliknya. Sosok Neal yang menawan, cerdas dan ternyata sangat menyayangi ayahnya. Benar-benar anak idaman, terlepas dari masa lalunya sebagai penjahat nomor 1 dunia. Namun ayahnya yang tidak tahu terima kasih membuatku memakinya di tengah malam ‘teng’. Awalnya sang ayah datang ke dalam kehidupan Neal dengan identitas palsu. Lalu ayahnya juga memberikan informasi-informasi palsu. Bahkan ayahnya mengarang kisah yang terjadi kepadanya hingga ia dituduh sebagai polisi korup dan pembunuh. Well, setidaknya aku tahu darimana kemampuan menipu Neal berasal. Tapi jauh di lubuk hatinya, Neal malah merasa Peter lah ayahnya. Peter yang selalu menjadi sosok ayah dan panutan di hidupnya setelah ia bergabung dengan FBI.

4. Akhir dari Season

Yap, keduanya sudah selesai sekarang. Di waktu yang hampir bersamaan. Bones baru saja menyelesaikan season 7nya dan White Collar menyelesaikan season 4-nya. Episode terakhir keduanya sama-sama berhasil membuatku memaki keras dan berharap di saat yang bersamaan. Aku hanya berpikir, oh come on! Duh, I wanna know what’s next! Damn it!

Season 7 drama Bones berakhir dengan kisah Brennan difitnah oleh seorang ahli komputer. Sebuah kejahatan yang sempurna hingga semakin dalam timnya berusaha mengorek kasus itu, semakin terbukti pula bahwa Brennan lah tersangkanya. Semua orang mulai kehabisan akal dan depresi dengan segala bukti yang tertuju kepada Brenna. Sebagai orang yang selalu menomorsatukan logika dan ilmu pengetahuan, Brennan setuju saja dengan bukti yang ada walaupun bukan dia yang melakukannya. Di akhir kisah, setelah dia membaptiskan anaknya yang baru beberapa minggu lahir, ayahnya membantunya untuk kabur keluar kota agar tidak ditahan oleh FBI. Kisah yang menyentuh hati.

Berbeda dengan Bones yang memakai kisah haru untuk menyelesaikan season 7, White Collar memakai kisah penuh ketegangan dan kemarahan. Di episode terakhir season 4, Neal dan kawan-kawan berhasil mendapatkan kotak yang selama ini disimpan oleh Ellen. Mereka berharap ayah Neal memang ‘bersih’. “Semua butuh pengorbanan” adalah quote yang cocok untuk Peter. Ketika dia dengan sepenuh hati berusaha membantu ayahnya Neal, ayahnya Neal malah memfitnahnya membunuh Senator Pratt. Kisah masa lalu buatan James (ayahnya Neal) sebelum James ditetapkan sebagai tersangka dulu, kini menjadi kenyataan. Hanya saja, Peter lah yang dituduh sebagai pembunuh. Neal berhasil mengetahui semua yang terjadi di masa lalu dan meluapkan kekecewaannya kepada James serta memohon James untuk mengatakan yang sebenarnya, mengatakan bahwa James lah yang membunuh Senator Pratt. Namun lagi-lagi, James menolak dan kabur sebagai pengecut.

Advertisements

4 responses to “Bones and White Collar

  1. yang bones itu setipe sama CSI nggak sih? Ya sama-sama nyelesein kasus-kasus pembunuhan gitu…
    Kapan ya sinetron indonesia diganti sama drama-drama berbobot kayak gitu? -_-

    • iya semacam CSI. tapi kalo CSI lebih ke analisis lapangan. kalo bones itu cara penyelesaiannya dengan analisis tubuh korban. jadi emang fokus di proses otopsinya -_-
      setuju~ setuju~ tapi kalo ada drama macam bones di indonesia, pasti dicekal. terlalu menjijikan ‘-‘

  2. iya sih, nanti dicekal…
    Tapi seenggaknya sinetron- sinetron itu episodenya dikurangi lah… udah tayang tiap hari, nyampe ratusan episode lagi… aku yakin pasti anak-anak muda pada bosen, emang dunia persinetronan itu ditujukan untuk ibu-ibu… -_-

  3. Weh seru~!! aku lebih suka yang white collar~ sebenernya yang bones itu juga seru, tapi karna aku ga berani sama yang namanya darah, jadi yeah~ hehehe 🙂
    Tapi aku jadi penasaran sama kedua cerita itu~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s