[3Shots] Almost Have You – The First

Baby, Love You

Author : Lee Hyura

Title : Almost Have You

Genre: Angst, Romance

Rating : PG

Length : Twoshots

Cast :

  • SNSD Jessica
  • EXO Luhan

Note: ini sedikit lebih panjang dari ffku yang biasanya. Jadi semoga ga bosen di tengah cerita ya ‘-‘ kalo bisa, bacanya sambil denger lagu yang disarankan

Backsound: SNSD Jessica – Because Tears Are Overflowing / Unstoppable Tears

=== Almost Have You ===

Jessica pov.

Aku bersandar di kusen pintu sambil menatap lirih pria yang resmi menjadi suamiku. Seorang wanita masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu adalah wanita yang selalu ia bawa ke rumah kami. Aku tidak berani bertanya atau mengatakan sesuatu. Aku selalu berusaha menjadi istri yang baik untuknya tapi dia tidak pernah mempedulikan niat baikku. Aku sudah berusaha selama hampir 4 bulan tapi selalu gagal.

Dia memang pantas membenciku. Aku yang membuatnya berpisah dengan kekasihnya. Aku yang memaksa pernikahan ini. Mengingat bagaimana cara aku memaksanya, aku merasa seperti seorang iblis.

Kedua pasang mata di hadapanku terbelalak ketika pelayanku membuka koper berisi banyak uang. Tidak hanya itu, aku juga memberikan bukti lunas semua hutang mereka.

“Apa maksud semua ini?” tanya pria yang selama ini aku kagumi diam-diam.

“Aku memberikan uang untuk mengobatan ibumu dan melunasi hutang-hutang keluarga kalian. Apalagi?” jawab pelayan setiaku, Choi Sooyoung. Sementara aku hanya tersenyum kecil.

“Kenapa?” tanya adiknya yang manis.

Sooyoung membulatkan bibirnya. “Wow, sepertinya kalian sadar kalau ini memang tidak gratis! Xi Seohyun, sebagai ganti semua ini, kakakmu harus menikah dengan nona Sooyeon.”

“M-menikah?”

Luhan dan Seohyun saling bertukar pandang.

“Kalian tidak perlu tahu kenapa aku memintamu untuk menikah dengan nona Sooyeon,” ucap Sooyoung, seakan mengerti apa yang sedang mereka pikirkan.

“Bagaimana jika aku tidak mau?” tantang Luhan.

Sooyoung menyeringai sinis. “Mudah. Aku akan membuat hidup kalian seperti di neraka. Tidak akan ada rumah sakit yang akan menerima ibu kalian. Kalian mau?”

Aku terkejut mendengarnya. Aku tidak menyangka Sooyoung terpikir cara itu. Ku kira kami hanya akan meminta Luhan menikahiku. Jika Luhan menolak, kami akan menyerah. Namun sepertinya Sooyoung mempunyai rencana sendiri di kepalanya yang tidak ia beritahukan kepadaku.

Ini semua rencana Sooyoung agar aku tidak patah hati sejak kami tahu Luhan menjalin hubungan dengan wanita bernama Im Yoona. Aku lebih terkejut ketika tatapan tajam Luhan dan Seohyun mengarah kepadaku. Aku segera menundukkan kepala.

“Aku hanya memberikan 5 menit untuk kalian berpikir. Nona Sooyeon mempunyai urusan lain jadi kita tidak bisa membuang waktu terlalu banyak,” ucap Sooyoung.

Seohyun dan Luhan tidak menjawab apapun. Seohyun memeluk Luhan erat sedangkan Luhan menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangannya kuat.

“Bagaimana—“

Sooyoung segera memotong Seohyun. “Iya atau tidak? Jika kalian diam saja, akan kami anggap kalian menolak bantuan kami. Jadi—“

“Aku akan menikahi Sooyeon,” ujar Luhan cepat.

Aku tidak bisa menyalahkan Sooyoung saat itu. Dia hanya berusaha untuk membuatku bahagia. Dia berpikir jika aku mendapatkan Luhan maka aku akan bahagia, tidak peduli bagaimana caranya. Dibandingkan pelayan-pelayanku lainnya, Sooyoung memang yang paling loyal kepadaku.

Aku sudah menjelaskan bahwa sebenarnya percuma saja jika aku menikah dengan Luhan tapi aku tidak memiliki hati Luhan. Akan tetapi Sooyoung meyakinkanku setidaknya dengan pernikahan itu, aku hampir memiliki. Hampir… setidaknya hampir lebih baik daripada tidak sama sekali, kata Sooyoung.

Setelah kami menikah, aku dan Luhan pindah ke rumah yang lebih sederhana tanpa pelayanku. Sooyoung sudah memohon untuk ikut bersamaku. Tapi aku menolaknya. Dia bahkan mengancam akan membatalkan pernikahan kami jika dia tidak boleh ikut bersama kami. Namun akhirnya dia mengerti setelah aku menjelaskan bahwa aku ingin menjadi istri yang baik tanpa bantuan orang lain.

Tapi aku tidak menyangka kehidupanku akan semengenaskan ini. Dengan fakta aku menjalani ini tanpa Sooyoung, membuatku merasa hidup di neraka. Awalnya Luhan tidak pernah mau menatapku. Lama-lama dia mulai membawa wanita lain ke rumah yang ku anggap suci ini. Tetap saja, aku tidak bisa menceritakan ini kepada siapapun, terlebih Sooyoung. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Sooyoung jika mengetahui kehidupanku tanpanya.

***

“Nona Sooyeon~” pekik Sooyoung girang ketika aku muncul di pintu rumah orangtuaku yang mewah. Berbeda sekali dengan rumahku yang sederhana.

Aku memang selalu menghabiskan waktuku di rumah ini jika tidak ada yang perlu ku lakukan di rumah. Sooyoung selalu gembira ketika melihatku datang. Setidaknya dia lah satu-satunya yang masih mengharapkan keberadaanku di dunia ini. Luhan selalu mencampakkanku dan orangtuaku tidak pernah sekali pun berniat untuk bertemu denganku. Kerja. Kerja. Dan kerja lah yang ada di otak mereka.

“Bagaimana hubunganmu dan Luhan?” tanya Sooyoung. Ini adalah pertanyaan wajib ketika aku datang ke rumah.

“Baik. Hanya saja dia terlalu sibuk bekerja sehingga jarang menghabiskan waktu denganku. Aku jadi kesepian terus,” dan aku akan selalu menjawab seperti ini. Menjawabnya dengan kebohongan.

“Menjadi Manager HRD memang tidak mudah, Nona. Bagaimana kalau aku pindah ke rumahmu agar kau tidak kesepian lagi?” seperti biasa, Sooyoung akan membalasnya dengan ini.

Dan dialog wajib ini selalu aku tutup dengan gelengan kepala sambil tertawa lalu berlanjut ke topik lainnya.

>>>

Setelah waktu menunjukkan hampir tengah hari, aku segera pamit pulang. Sebenarnya bukan pulang tapi pergi ke tempat lain. Sooyoung selalu menawarkanku untuk mengantarkanku pulang tapi aku menolaknya.

Setelah 45 menit berada di bus, kini aku sampai di pintu utama rumah sakit di tengah kota Seoul. Sejak aku menikah dengan Luhan, aku selalu menyisihkan waktu untuk menjenguk ibu mertuaku. Tentu saja waktunya disesuaikan dengan jadwal jenguk Seohyun dan Luhan. Aku tidak mungkin tiba-tiba muncul di kamar ibu mereka setelah perbuatanku memaksa Luhan untuk menikahiku.

“Umma, Sooyeon datang,” seruku ceria setelah menutup pintu kamarnya.

Aku memang sudah terbiasa memanggilnya begitu walaupun aku belum mendapatkan persetujuan dari ibu mertuaku.

Pasti bingung kenapa umma koma sampai selama ini. Orangtua Luhan dan Seohyun mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Ayah mereka meninggal di tempat sedangkan umma selamat. Akan tetapi beberapa jaringan otak umma rusak. Masih bisa bertahan selama ini saja sudah bagus. Walaupun sadar, kemungkinan besar akan menderita amnesia.

“Annyeonghaseyo, Sooyeon-ssi. Semangat seperti biasa, hm?” sapa Taeyeon, suster yang menjaga umma jika tidak ada yang menjaganya.

“Idolaku baru saja meluncurkan lagu baru. Makanya aku semangat,” jawabku asal. Aku memang selalu berusaha semangat di depan banyak orang.

“Oh DBSK?” Taeyeon tersenyum tipis. “Ku dengar mereka akan menggelar konser bulan depan. Kau berniat untuk datang ke konser bersama Luhan?”

Aku merengut. “Tidak bisa. Luhan terlalu sibuk sekarang.”

“Bagaimana jika denganku?” usul Taeyeon. Aku tahu dia hanya becanda tapi aku bersyukur dia menawarkan dirinya.

Mataku berbinar seketika. “Boleh! Memang kau tidak sibuk saat itu? Jika tidak sibuk, kau wajib menemaniku! Aku yang akan traktir semuanya deh!”

Taeyeon mengangguk sambil tertawa. Begitulah kami. Selalu membicarakan banyak hal. Taeyeon adalah orang kedua yang mau berteman denganku setelah Sooyoung dan aku menyayanginya.

***

Aku sudah siap untuk pergi dengan Taeyeon ke konser DBSK saat Luhan pulang bersama wanita yang sama tiap malamnya, wanita yang bahkan tidak ku kenal siapa walaupun selalu bertemu setiap malam hampir 5 bulan ini. Hampir saja aku meneteskan air mata jika aku tidak secepatnya mengalihkan mataku. Bisa ku rasakan mata Luhan memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Kau mau kemana?” tanya Luhan.

“Pergi,” jawabku singkat. “Makan malam sudah aku siapkan di meja. Aku tidak akan pulang sampai jam 11 malam nanti.”

Tidak ada sahutan. Hanya langkah kaki yang menjauh menuju kamar. Aku menghela napas panjang. Ini kah karma jika aku memaksakan takdir?

>>>

“Baru kali ini aku bisa menonton konser idola setelah aku kerja. Aku sangat gugup sekarang!” gumam Taeyeon.

Aku tertawa kecil melihat ekspresi excited di wajahnya yang membuatnya seperti anak kecil. Aku terkejut ketika Taeyeon meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat.

“Jantungku berdebar cepat. Kau bisa merasakannya?” tanya Taeyeon heboh.

Aku kembali tertawa karena perilaku antiknya. Sudah hampir 5 bulan aku kenal dengan Taeyeon namun perilaku antiknya tetap selalu berhasil mengejutkanku.

“Kau yakin Luhan tidak apa-apa jika kau pergi bersamaku untuk menonton grup idola tampan?” goda Taeyeon sambil memainkan alisnya.

Mood baikku pun langsung hancur karenanya. Aku hanya memaksakan senyum kecil. Taeyeon mengingatkanku akan kejadian sebelum aku pergi. Tentu saja dia tidak apa-apa, bahkan tidak peduli sama sekali. Dia malah bersyukur aku pergi sehingga tidak perlu bertemu denganku.

***

Pagi harinya, aku melakukan aktivitasku seperti biasa. Setelah menyiapkan sarapan, aku pergi untuk membangunkan Luhan. Setelah memberikanku izin, aku masuk untuk merapikan kamarnya dan memungut pakaian yang berserakan di lantai kamar. Wanita yang bersamanya masih duduk di kasur dengan selimut yang menutupi tubuhnya sedangkan Luhan sudah masuk ke kamar mandi. Aku tidak memperdulikan keberadaannya dan tetap melakukan pekerjaanku.

“Kau menyedihkan, Sooyeon-ssi,” katanya wanita itu.

Aku melanjutkan pekerjaanku tanpa memikirkan perkataannya. Siapa sih dia? Hanya karena Luhan selalu membawanya ke rumah ini, dia berpikir dia mengenalku? Aku saja tidak tahu namanya siapa.

“Jika aku menjadimu, aku akan meninggalkannya. Siapa Luhan tanpa Jung Sooyeon? Rumah, uang, bahkan pekerjaannya.. itu semua darimu. Harusnya kau lah yang berkuasa. Bukan dia. Kau itu bodoh, Sooyeon-ssi,” lanjutnya.

Wanita itu membuat telingaku panas saja. Jika bukan karena Luhan masih ada di rumah ini, aku sudah pergi ke dapur untuk mengambil air panas untuk mengguyur wanita itu. Ini hidupku! Dia tidak tahu apapun tentang hidupku! Berani-beraninya dia berbicara tentang hidupku yang menyedihkan. Luhan lebih menyedihkan karena terpaksa menikahi wanita yang tidak ia cintai. Apa dia tidak bisa mengerti itu?

“Sooyeon-ssi, aku bersungguh-sungguh. Aku lelah melihatmu menderita,” ujarnya yang terdengar.. lirih? Benarkah? Bukankah dia malah harusnya senang melihatku seperti ini?

“Aku tidak perlu belas kasihanmu,” tegasku sebelum meninggalkan kamar Luhan.

>>>

Hari ini, aku pulang lebih telat 30 menit karena Taeyeon memaksaku untuk menemaninya sampai shiftnya selesai. Dengan langkah terburu-buru, aku meninggalkan rumah sakit. Aku takut bertemu dengan Seohyun karena semua kelasnya hari ini sudah selesai sekarang, yang berarti dia akan kembali ke rumah sakit untuk menemani ibunya.

“Sooyeon unnie?”

Langkahku pun terhenti. Berjuta makian berkumandang di pikiranku. Aku sudah tahu. Aku tidak mungkin bisa menghindari Seohyun setelah terlambat 30 menit. Aku memutar badanku dan melempar senyum kaku kepada Seohyun.

“Apa yang Unnie lakukan di sini?” tanya Seohyun sambil menghampiriku.

Aku menggaruk kepalaku. “Hm… menjenguk. Menjenguk teman. B-bagaimana denganmu?”

Seohyun mendesah sinis. “Kau tahu ibuku dirawat di sini.”

“O-oh! Oh iya! Bagaimana aku bisa lupa? Hehe..”

“Mau menemaniku minum?”

Aku tercengang mendengarnya. Benarkah ini terjadi? Benarkah Xi Seohyun mengajakku? Aku tidak sedang bermimpi, ‘kan?

“Aku serius, Unnie..” tekan Seohyun seakan mengerti apa yang ada di pikiranku.

“O-oh.. baiklah.”

10 menit kemudian, kami sudah sampai di kafe dekat rumah sakit dan sudah memesan. Suasana canggung menemani kami. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara.

“Jadi—“

“Kau tidak benar-benar menjenguk temanmu, kan?” sela Seohyun cepat.

Aku tersenyum kecil. “Tidak bisakah kau terima saja alasanku?”

“Baiklah…”

Suasana pun kembali hening.

“Jadi..” kini Seohyun lah yang ingin memulai pembicaraan. “Aku ingin bertanya tentang kakakku. Apa dia baik-baik saja?”

Aku mengangguk. “Dia baik-baik saja. Bukankah kalian sering bertemu?”

“Iya sih. Akan tetapi aku merasa ada yang aneh dengannya sejak kalian menikah. Apa dia benar-benar ‘baik-baik saja’?”

“Seo—“

“Mari kita ganti kata-katanya. Apa kalian baik-baik saja?”

Aku tidak bisa menjawab dan malah menunduk. Aku bisa merasakan pandangan iba dari Seohyun.

“Luhan oppa adalah orang baik. Dia selalu menjagaku sejak aku kecil. Padahal kami bukan saudara kandung. Kami satu ayah tapi berbeda ibu. Akan tetapi dia selalu memperlakukanku seakan adik kandungnya. Kau tahu kenapa? Karena saat aku kecil, umma meminta oppa berjanji untuk selalu menjagaku apapun yang terjadi. Dan oppa bukanlah tipe orang yang mudah mengingkari janjinya. Dia selalu memenuhi permintaanku, tak peduli sesulit apapun,” ucap Seohyun.

Aku tidak mengerti mengapa Seohyun menceritakan ini kepadaku. Apa dia berniat untuk menunjukkan bahwa Luhan hanya baik kepadanya? Dia ingin pamer kepadaku?

Seohyun tersenyum tipis melihatku tak bisa berkata-kata. Dia melanjutkan, “Unnie pasti bertanya-tanya kenapa aku mengatakan semua itu. Yang ingin aku sampaikan adalah… pada dasarnya, Luhan oppa adalah orang yang baik. Unnie tahu? Mungkin ada kalanya kita sudah berusaha sangat keras namun tetap gagal. Kita mencoba lagi, tetap saja kita gagal. Itu terjadi  terus-menerus sampai kita merasa ingin menyerah. Namun ketahuilah, jika kau pantang menyerah, kau pasti akan berhasil.”

Aku menjilat bibirku seraya menatap matanya. “Kenapa kau—“

Seohyun kembali menyelaku, “karena sejahat dan seburuk apapun seseorang, dia pasti menginginkan akhir yang bahagia. Akhir yang bahagia hanya bisa didapatkan dengan kerja keras.”

>>>

Aku baru saja pulang dari rumah sakit saat melihat mobil yang familiar di halaman rumah. Ku lirik jam tanganku, masih jam 4 sore. Mengapa Luhan sudah pulang?

“Sooyeon pulang,” salamku sambil mengganti sepatu dengan sendal rumah.

Aku mencari keberadaan Luhan dengan harapan Luhan pulang tanpa wanita yang biasa ia bawa. Aku memilih Luhan membawa wanita lain saja walaupun aku lebih berharap Luhan berhenti membawa wanita asing ke rumah yang ku anggap suci ini.

Aku mencoba mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada jawaban sehingga ku beranikan diri untuk membuka pintu kamarnya. Ku lihat sosok Luhan yang berbaring di atas kasur berbalut selimut. Wajahnya terlihat pucat.

“Omo!” pekikku panik.

Ternyata pekikanku membuat Luhan bangun. Aku segera berlari pergi sebelum Luhan mengomel lalu menelepon dokter keluargaku. Dokter datang 30 menit kemudian dan langsung memeriksa Luhan walaupun Luhan menolak.

“Suamimu hanya kelelahan saja. Maagnya juga memburuk karena pola makannya yang tidak sehat. Biarkan dia istirahat sekitar 2-3 hari dan atur pola makannya. Aku hanya akan memberikannya vitamin dan obat maag. Kau mengerti, Sooyeon-ah?” jelas dokter Hong.

Aku mengangguk sambil menulis segala nasihatnya di buku kecilku lalu ku tempelkan di pintu kulkas. Aku menoleh ketika rambutku diacak lembut oleh dokter Hong.

“Sooyeon-ah, kau sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik sekarang. Kau adalah istri yang baik. Luhan beruntung mendapatkanmu,” ucapnya sambil tersenyum.

Kata-katanya sukses menghangatkan hatiku yang sedang panik karena Luhan sakit. Memang Taeyeon, beberapa suster dan dokter pernah bilang seperti itu. Tapi tetap saja terasa hangat karena dokter Hong adalah salah satu orang yang memperhatikanku sejak aku kecil. Andai kata-kata itu keluar dari bibir Luhan, ku yakin aku pasti pingsan karena terlalu senang.

Dokter Hong tersenyum. “Sudah, urus suamimu sana! Aku pulang dulu.”

“Perlu ku antar sampai depan?” tawarku.

“Tidak perlu. Suruh suamimu minum obat maag itu. Setelah 30 menit, baru paksa dia makan lalu minum vitamin yang ku berikan. Mengerti?”

Aku segera mencatatnya. Entah kenapa dokter Hong tertawa, membuatku bingung saja.

Sepulangnya dokter Hong, aku segera mengikuti segala pesan dokter Hong. Aku membawakan obat maag ke kamar Luhan. Akan tetapi Luhan sedang tidur. Aku jadi dilema antara mengikuti perkataan dokter Hong atau membiarkan Luhan tidur. Akhirnya aku membiarkan Luhan tidur. Obatnya ku letakkan di sampinghandphonenya dan tak lupa aku menuliskan pesan di dekat obat itu.

Dokter Hong menyuruhmu untuk minum obat ini 30 menit sebelum makan. Tidak perlu minum air karena obatnya tinggal dikunyah. Jangan lupa, ya! Biar cepet sembuh ^^

– Sooyeon-

>>>

Aku menekan tombol remote dengan asal. Tidak acara yang seru malam ini. Banyak drama yang membosankan juga. Tidak seru.

“Apa aku menelepon Sooyoung saja? Atau Taeyeon?” gumamku.

Niatku untuk menelepon seseorang pun kandas ketika mendengar suara pintu kamar Luhan terbuka. Aku segera berbalik badan dengan lutut bertumpu di atas sofa. Dengan rambut acak-acakan karena baru bangun tidur, Luhan terlihat sangat tampan! Bahkan lebih tampan dibanding semua pria di dunia ini. Betapa beruntungnya aku bisa menjadi istrinya.

“Kau sudah meminum obatnya?” tanyaku.

Luhan menatapku bingung. “Kau terlihat sedang senang.”

Aku menggaruk pipiku sambil meringis pelan. Tidak mungkin, ‘kan, aku menjawab aku memang sedang senang karena akhirnya aku berada dengan Luhan di rumah tanpa wanita lain?

“Dokter Hong menyuruhmu untuk meminum obat maag itu lalu makan,” alihku.

Luhan mengangguk ragu. “Ya, aku sudah meminumnya. Baru sekitar 10 menit yang lalu.”

“Kalau begitu, aku akan siapkan makan malam untukmu!”

Aku segera melompat turun dan berlari ke dapur untuk menyiapkan apa saja yang bisa dibuat dalam waktu kurang dari 20 menit. Biasanya, walaupun aku selalu memasakkan makan malam untuk Luhan, Luhan tidak akan memakannya. Namun sekarang berbeda. Sekarang ada kemungkinan Luhan akan memakan masakanku. Bagaimana aku tidak senang?

Tepat seperti yang ku perkirakan, semua masakanku siap 20 menit kemudian. Luhan sudah duduk di kursi dengan tangan memegang sendok. Yang harus ku lakukan sekarang adalah tetap bersikap tenang. Tenang, Sooyeon-ah. Tenang.

“Eotte?” tanyaku ketika Luhan baru saja selesai mengunyah suapan pertamanya.

“Tidak buruk,” jawabnya singkat.

Tidak buruk? Artinya makananku tidak akan meracuninya. Bagus!

“Jangan merasa senang. Aku bilang tidak buruk, berarti tidak baik juga,” katanya cepat.

Aku mengerucutkan bibirku. Setidaknya aku sudah berusaha. Iya, ‘kan?

“Kau tipe orang yang makan cepat, ya?” celetukku tapi Luhan tidak tertarik untuk menanggapinya.

Belum 5 menit tapi mangkuk yang tadi berisi nasi sudah kosong sekarang. Aku merasa sangat senang ketika menyadari akhirnya Luhan selesai memakan masakanku untuk pertama kalinya. Yah walaupun beberapa lauk tidak dihabiskan olehnya.

Tanganku mulai merapikan meja makan. Aku mengambil piring-piring kotor dan menaruhnya di westafel. Kini aku merasakan Luhan menatapku dari belakang.

“Ku harap ini tidak membuatmu berharap bahwa aku bisa luluh hanya karena ini semua,” katanya.

Kata-katanya berhasil menusuk jantungku.

Ne,” hanya itu yang bisa keluar dari bibirku.

Aku tidak mendengar suara langkah kaki yang berarti Luhan masih diam di tempatnya. Ruangan ini sangat sepi. Hanya terdengar suara aku mencuci barang-barang dapur.

“Mau ku bantu?” tanya Luhan akhirnya.

Aku mengulum senyumku. “Tidak perlu. Sebentar lagi jika selesai.”

Tidak ada tanggapan. Hening. Hah~

Akhirnya kegiatan mencuci piring pun selesai. Tepat ketika aku meletakkan piring terakhir di rak piring, sesuatu terbang melewati tanganku. Aku melompat kaget. Saat sadar itu adalah kecoa, aku berteriak ketakutan. Aku paling benci dengan kecoa! Huaaaa!!!

“Kecoa!! Kya!!!” teriakku.

Kecoa itu terbang ke arahku dan membuatku melompat panik. Aku tidak sadar apa yang terjadi. Otakku yang terpikir tentang kecoa sialan yang menjijikan itu.

“Kecoanya sudah tidak ada, Sooyeon-ssi..”

Aku membuka mata dan baru sadar jika aku sedang memeluk Luhan. Sejak kapan aku memeluk Luhan? Kenapa aku bisa tidak sadar? Bagaimana ini? Mataku dan matanya sangat dekat hingga membuatku merasa pusing. Seperti ada kupu-kupu beterbangan di perut. Untungnya aku segera sadar. Aku langsung melepaskan pelukanku dan berlari masuk ke kamar. Huh, baru kali ini aku bersyukur bertemu dengan kecoa.

***

“Nona, kau yakin tidak bisa datang? Aku merindukanmu,” rengek Sooyoung lewat telepon.

Aku sengaja meneleponnya untuk memberitahunya bahwa aku tidak bisa datang ke rumah orangtuaku. Seperti dugaanku, dia terus-menerus memohon.

“Bagaimana jika aku saja yang datang ke rumahmu?” tawarnya.

Aku menggeleng tegas walaupun aku tahu dia tidak akan melihatnya. “Tidak!”

“Wae~?”

“Sudah ku bilang Luhan sedang sakit. Kalau kau datang, rumah ini pasti ramai dan Luhan tidak akan bisa istirahat. Kau mengerti?”

“Nona~” rupanya Sooyoung belum menyerah.

“Sampai jumpa besok!”

Aku segera menutup telepon sebelum suara melas Sooyoung berhasil meruntuhkan keyakinanku untuk tetap berada di rumah. Setidaknya sampai Luhan memakan makan siangnya lalu aku bisa pergi ke rumah sakit.

“Letakkan saja di meja makan. Aku akan memakannya nanti,” jawab Luhan ketika aku menyuruhnya makan.

Setelah itu, aku langsung bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Tentu saja Luhan tidak akan tahu rencanaku. Lagipula dia tidak peduli dengan apa yang ku lakukan dan kemana aku pergi. Sadar bahwa Luhan akan keluar dari kamar jika aku tidak ada, aku segera pergi.

Hanya perlu waktu 27 menit dari rumah ke rumah sakit. Sesampainya di depan rumah sakit, aku jadi teringat kata-kata Seohyun kemarin.

“Karena sejahat dan seburuk apapun seseorang, dia pasti menginginkan akhir yang bahagia. Akhir yang bahagia hanya bisa didapatkan dengan kerja keras.”

Entah kenapa kata-kata itu terdengar lucu di telingaku. Apa itu artinya akhir yang bahagia hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang bekerja keras? Apa aku masih kurang untuk disebut pekerja keras? Tentu saja kurang. Bahkan lebih tepatnya tidak pantas disebut pekerja keras karena kenyataannya aku tidak berusaha tapi hanya terus-menerus mempasrahkan diri. Benar kata wanita itu, aku memang menyedihkan.

“Sooyeon-ssi!”

Aku terbelalak ketika mendengar suara itu. Tidak salah lagi, suara itu memang suara wanita yang selalu dibawa oleh Luhan ke rumah. Kebetulan sekali saat aku sedang memikirkannya, dia muncul di hadapanku. Senyuman angkuhnya selalu menghiasi wajahnya yang cantik.

Dia merengut dan mengubah wajah angkuhnya menjadi seperti anak kecil. “Kau mengingatku, ‘kan? Jangan pasang wajah kau tidak mengenalku dong.”

“Aku memang tidak mengenalmu,” jawabku dingin.

“Kita selalu bertemu setiap malam di hari kerja, Sooyeon-ssi! Bagaimana bisa kau tidak mengenalku?” gerutunya.

“Aku tahu kamu. Hanya saja aku tidak mengenalmu. Tanpa mengetahui nama, mana mungkin bisa disebut ‘kenal’?”

Aku menggigit bibirnya ketika melihat wajahnya terlihat tersinggung karena kata-kataku. Apa aku berlebihan?

“Jadi selama ini, hanya aku yang mengenalmu? Apa Luhan tidak memberitahu siapa aku? Oh iya, Luhan memang tidak akan repot-repot mengenalkanku padamu.” Dia mendengus. “Namaku Yuri. Kwon Yuri. Sekarang kau mengenalku, ‘kan?”

Aku hanya mengerjapkan mata.

“Berhenti bertingkah polos! Karena aku berhasil bertemu denganmu tanpa Luhan, sekarang kau ikut aku!”

Aku memekik pelan ketika Yuri menarik tanganku. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh wanita ini! Kenapa pula dia bisa tiba-tiba muncul di rumah sakit? Sepertinya kebetulan ini sangat tidak menguntungkan bagiku.

“Sekarang kita sampai,” seru Yuri lalu tersenyum lebar padaku. Senyumannya terlihat ramah.

Aku memperhatikan sekitarku. Aku sampai tidak sadar bahwa aku dibawa ke atap rumah sakit karena terlalu asik dengan pikiranku.

“Untuk apa kita ke sini?” tanyaku bingung.

“Agar kita bisa berbincang sambil aku merokok,” jawabnya santai.

Aku melempar pandangan ‘wtf’ kepadanya namun dihiraukan begitu saja. Dia menyisipkan sebatang rokok di sela-sela bibirnya dan menyalakannya dengan satu tangan, matanya memperhatikanku tajam.

Aku mengangkat tangan. “Aku tidak tahu kenapa kau membawaku ke sini dan aku—“

“Luhan,” selanya cepat. “Aku ingin membahas tentang hubunganku dan Luhan.”

“Oh!” aku mengangguk mengerti. “Kau mau memintaku untuk meninggalkannya?”

“Iya, tapi tidak seperti yang ada di pikiranmu saat ini. Aku dan Luhan tidak dalam hubungan apapun. Aku hanya mainannya dan dia adalah mainanku. Tidak lebih. Aku tidak mencintainya dan dia juga tidak mencintaiku. Dia membawaku ke rumah kalian hanya untuk menyiksa hatimu dan dia berhasil. Jadi daripada kamu menyakiti dirimu lebih lama, ada baiknya kau tinggalkan saja dia,” jelas Yuri lalu mengisap rokoknya.

“Kau bohong!”

“Bohong? Ha! Tidak ada gunanya aku bohong. Aku melakukan ini karena aku muak mempunyai mainan yang tidak bisa ku mainkan.”

“Omong kosong!”

“Apa kau tidak mengerti juga? Apa kau begitu naif?! Sadarlah, Jung Sooyeon! Kau sempurna! Apa yang kurang darimu? Tidak ada! Kau memiliki segalanya! Untuk apa kau mengejar pria yang bahkan tidak bisa bersyukur karena sudah memiliki wanita sesempurnamu? Berhenti menjadi wanita yang menyedihkan, Jung Sooyeon-ssi! Aku muak!”

Aku menggigit bibirku melihat Yuri mengisap rokoknya dengan geram. Hatiku berteriak bahwa kata-kata Yuri benar. Akan tetapi aku tidak bisa mengakuinya.

“Kau pasti bohong. Kau melakukan ini agar kau bisa memiliki Luhan seutuhnya, kan?” tuduhku.

Yuri melempar rokoknya geram lalu mengacak rambutnya. “Ah, micheosseo! Baru pertama kali ini aku mau menyusahkan diri untuk ikut campur urusan orang lain dan aku malah difitnah? Sepertinya seorang Kwon Yuri memang tidak ditakdirkan untuk peduli dengan orang lain!”

Yuri menghampiriku dengan langkahnya yang dihentakkan kuat. Jari telunjuknya menekan dadaku.

“Dengar, Jung Sooyeon-ssi.. harusnya kau bersujud syukur karena seorang Kwon Yuri peduli dengan wanita senaif dirimu. Jadi jangan sia-siakan atau kau akan menyesal. Mengerti?” geramnya.

Dia hendak meninggalkanku namun aku menahan tangannya.

“Aku tidak bisa meninggalkannya,” kataku pelan.

“Wae~?!”

Aku menyelipkan helai-helai rambut yang menutup wajahku ke belakang telinga. “Jika aku meninggalkannya, bagaimana Luhan dapat membiayai perawatan umma dan kebutuhan Seohyun? Dan juga aku tidak bisa meninggalkannya karena Sooyoung akan tahu bahwa selama ini aku tidak bahagia dengan Luhan. Sooyoung akan menyalahkan dirinya karena sudah membuatku menikahi Luhan.”

Yuri menjilat bibirnya gemas. “Pekerjaan yang kamu berikan kepada Luhan sudah cukup untuk membiayai segalanya. Sementara Sooyoung. Aku tidak kenal siapa Sooyoung yang kau maksud. But I bet that Sooyoung girl… dia akan senang selama kau senang. Dia, mungkin pada awalnya, akan menyalahkan dirinya tapi dia akan bersyukur karena kau meninggalkan pria tak tahu terima kasih itu. Apa kau mengerti, Jung Sooyeon?”

Aku mengangguk pelan. Aku kembali menarik tangannya ketika Yuri hendak melepaskan genggaman tanganku pada tangannya.

“Apa lagi?” kesal Yuri.

“Biasakah kau, sekali saja, memanggilku Xi Sooyeon?” pintaku pelan, hampir berbisik.

“Baiklah… Xi Sooyeon, semoga kau cepat meninggalkan pria itu. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu walaupun kau adalah tipe wanita yang paling aku benci.”

>>>

Aku membuka pintu kamar rawat ibu mertuaku perlahan. Taeyeon yang menyadari kedatanganku, langsung menyambutku ceria. Dia selalu berhasil mengembalikan semangatku.

“Bagaimana keadaan umma?” tanyaku.

Taeyeon tersenyum. “Kondisinya semakin membaik walaupun sangat lambat.”

“Hm, bisakah kau meninggalkan kami berdua saja?” pintaku.

Taeyeon menatapku bingung. Baru pertama kali ini aku meminta hanya berdua karena dari awal aku menjenguk ibu mertuaku sampai kemarin, Taeyeon selalu menemaniku. Untung saja Taeyeon menyetujuinya.

Aku duduk di kursi samping kasur lalu menggenggam tangannya erat. Aku tidak bisa menahan air mataku. Ini pertama kalinya aku menangis di hadapan umma. Bagaimana pun, umma adalah orang pertama yang ku anggap sebagai orangtuaku, bahkan melebihi orangtua kandungku sendiri.

Walaupun umma tidak pernah bertatap mata denganku, setidaknya ia lebih baik dari orangtuaku yang berpikir kebahagiaanku hanya tentang uang. Setidaknya aku lebih sering bertemu dengan umma daripada orangtuaku. Bahkan saat aku memberitahu bahkan aku akan menikah dengan Luhan, mereka menyetujuinya begitu saja seakan tidak peduli dan tidak hadir pada acara pernikahanku. Walaupun acara itu hanya dibuat untuk keluarga saja, tetap saja orangtuaku harus datang. Mereka orangtuaku.

“Umma, Sooyeon di sini. Aku yang menemanimu sekarang. Aku adalah istrinya Luhan. Aku selalu mengatakan itu setiap aku datang berkunjung, ‘kan? Karena itu, jangan pernah melupakanku,” gumamku.

“Kali ini, aku tidak bermaksud untuk menceritakan segala kebaikan anakmu. Bukan berarti Luhan tidak baik. Seperti yang ku bilang kepadamu setiap hari, dia adalah orang yang sangat baik. Aku beruntung menjadi istrinya. Dan aku yakin umma juga bangga mempunyai anak seperti Luhan walaupun Luhan bukan anak kandungmu.”

“A-aku bermaksud untuk memberitahumu bahwa aku akan menceraikan Luhan. Bukannya aku tidak mencintai Luhan lagi. Tidak! Tidak! Kenyataannya, kini rasa cintaku sangat besar kepada Luhan. Terlalu besar hingga membuat dadaku sesak setiap saat. Karena itu, aku takut… jika terlalu lama, rasa cintaku akan terus bertambah. Aku harus segera mencari cara untuk berhenti mencintainya. Rasa ini menyiksaku.”

“Oh ya, aku sampai lupa. Aku ingin bilang bahwa Luhan menepati janjinya. Dia menjaga Seohyun dengan sangat baik. Bahkan salah satu alasan dia mau menikahiku adalah agar kebutuhan Seohyun terpenuhi dan Seohyun dapat melanjutkan sekolahnya dengan baik. Dia mempertaruhkan dirinya hanya untuk kebahagiaan Seohyun. Seohyun benar-benar beruntung memiliki kakak seperti Luhan. Semua beruntung karena Luhan terlahir di dunia ini.”

“Walaupun aku tidak bisa berbagi tawa dan tangis bersama Luhan, aku sudah sangat bersyukur bisa merasakan menjadi bagian dari keluarga umma. Kehidupan kami bahagia sekarang. Akan tetapi kami akan lebih bahagia jika kami berpisah. Karena itu, aku ingin umma cepat sadar untuk melihat seberapa bahagianya kami saat aku dan Luhan bercerai nanti.”

“Aku berharap, walaupun aku dan Luhan sudah bercerai nanti, aku tetap boleh bertemu denganmu. Karena umma sudah ku anggap sebagai orangtuaku sendiri.”

Aku menengadahkan wajahku dengan harapan bisa menghentikan air mataku. Hanya saja air mata ini nakal sekali. Mereka tidak mau berhenti. Tanganku sudah lelah untuk menghapusnya sehingga aku biarkan. Ketika aku bangkit dari dudukku, aku teringat saat-saat aku pertama kali jatuh cinta kepada Luhan.

Aku sedikit berlari menuju kelasku selanjutnya. 3 menit lagi kelas akan dimulai dan aku masih jauh dari kelas. Aku menuruni tangga—aku dari laboratorium yang berada di lantai atas sedangkan kelasku di lantai dasar—dengan terburu-buru hingga aku terselengkat jatuh. Buku-buku yang berada di tanganku, kini berhamburan kemana-mana. Jika tidak ada orang yang menahan tubuhku, pasti aku sudah mati. Hua~ tidak bagus sekali cara matiku! Bisa-bisa aku terpampang di halaman pertama di koran-koran dengan judul “Putri Jung Corp. meninggal karena jatuh dari tangga”.

“Kau baik-baik saja?” tanya penolongku. Suaranya bagus sekali.

Aku beranikan diri untuk menatapnya. Seketika kepalaku terasa pening karena ini pertama kalinya aku bertatapan dengan pria sedekat ini.

“Nona?”

Aku segera mengangguk. “N-ne, gwencana—akh!”

Sial, kaki terkilir. Sakit sekali. Huhu..

Pria itu berbalik badan dan berjongkok di depanku. Aku mengerjap bingung.

“Ayo naik! Kau tidak bisa jalan, ‘kan? Kau harus ke ruang kesehatan untuk mengobati lututmu itu.”

“T-tidak perlu. Aku—“

“Sudah naik saja!”

Aku pun menurutinya. Dia menggendongku dan membawaku ke ruang kesehatan.

“Kau orang yang baik,” gumamku. “Aku baru tahu ada masih ada orang sebaikmu.”

Pria itu terkekeh. “Ya aku tahu. Banyak yang bilang. Tapi terima kasih sudah memuji.”

Aku mendengus pelan. “Percaya dirimu tinggi, ya?”

“Begitulah. Oh ya, siapa namamu? Namaku Luhan.”

Aku tersenyum kecil. “Umma, ku tekankan sekali lagi. Aku tidak pernah menyesal pernah menjadi istrinya. Aku bersyukur karena pernah hampir memilikinya.”

Author pov.

Seohyun membuka pintu kamar rawat ibunya dan menemukan Taeyeon sedang menjaga ibunya seperti biasa, tanpa orang lain. Seohyun tersenyum kecil seraya membungkukkan badannya. Taeyeon membalas bungkukkannya lalu keluar. Taeyeon memang diminta untuk menjaga ibunya Seohyun ketika Seohyun atau Luhan tidak bisa menjaganya.

Seohyun duduk di kursi dan menggenggam tangan ibunya. Alis terangkat ketika merasa area kasur yang menjadi tempat tangannya bertumpu kala itu terasa basah. Akan tetapi Seohyun tidak mau memikirkannya.

“Umma, hari ini Luhan oppa sakit karena kelelahan. Dia memang jadi sibuk berkerja setelah menikah dengan Sooyeon unnie. Huh! Tadi aku sempat menjenguknya di rumahnya namun aku tidak bertemu dengan Sooyeon unnie. Aku juga bingung kenapa Sooyeon unnie pergi ketika suaminya sedang sakit. Contoh istri yang tidak baik! Ngomong-ngomong soal Sooyeon unnie—“

Seohyun tidak melanjutkan kata-katanya ketika merasa ibunya menggenggam tangannya erat dan bolanya mulai bergerak di balik kelopak mata.

“U-Umma! Umma!” pekik Seohyun panik.

Ia segera menekan tombol untuk memanggil suster berkali-kali. Dia segera menjelaskan semuanya ketika seorang suster datang. Tak lama, dokter ikut datang dan menyuruh Seohyun keluar dari kamar rawat ibunya. Di luar, Seohyun segera menelepon Luhan.

“Bagaimana keadaan ibuku?” tanya Seohyun ketika dokter sudah keluar dari kamar bertepatan dengan kedatangan Luhan.

Dokter Kim tersenyum. “Dia sudah sadar. Dari tadi dia memanggil nama Sooyeon. Ini benar-benar keajaiban karena beliau bahkan tidak mengalami amnesia. Oh ya, apa Sooyeon tidak datang bersamamu Luhan? Ku yakin Sooyeon pasti senang mengetahui ibumu sudah sadar.”

Seohyun dan Luhan terkejut mendengarnya.

“Apa Dokter tidak salah dengar? Mungkin yang disebut oleh umma adalah Seohyun. Seohyun dan Sooyeon… pelafalannya hampir mirip, ‘kan?” ralat Luhan.

Dokter Kim menggeleng pelan. “Tidak. Saya yakin Sooyeon lah yang dimaksud. Soalnya pasien terus-menerus bertanya, ‘dimana menantuku? Apa menantuku datang?’. Dan setahuku, menantu satu-satunya adalah istrimu, ‘kan, Luhan? Ada baiknya jika kau menyuruh Sooyeon datang. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan olehnya dengan Sooyeon.”

Seohyun dan Luhan saling berpandangan. Tidak mungkin, pikir mereka.

=== Almost Have You ===

First of all, aku minta maaf soal typonya. Aku males ngedit yang sepanjang ini.

Kedua, aku membuat ini dengan perjuangan loh. Soalnya setiap nyoba lanjut ff, kepalaku langsung pusing. Ga tau kenapa. Pusing sembuh kalo nonton anime -,-

Ini kemungkinan adalah ff lusica terakhirku. Aku udah bosen sama lusica. Plus luhan serasa diperebutin sama member snsd di blog exoshidae. Bosen. Bosen. Mau cari yang lain ah ‘3’

Terakhir, tenang aja lanjutannya udah hampir rampung. Akan aku publish saat dapet kesempatan. Kebetulan modemku ilang dan modem satu-satunya yang tersisa di rumah malah dibawa abang ke Bogor. Aku juga ga bisa pake wifi karena udah ga sekolah lagi. Jadi satu-satunya harapan hanya warnet. Itu juga ga bisa terlalu sering karena uang jajanku terbatas sejak ga sekolah lagi .-.

Advertisements

35 responses to “[3Shots] Almost Have You – The First

  1. serasa pingin ngetok kepalanya luhan pake palu deh, cewek sebaik jessi masa disia-siain…
    luhan diperebutin ya? Haha iya bener banget… Aku dukung deh, ayo cari couple baru!! Hahaha
    eh sama, uang jajanku juga dikurangin sama ayah 😥

      • eumm… Couple exoshidae? Gatau kenapa akhir-akhir ini aku lagi pingin baca chanyeol-sica sama minseok-sica… Gara-gara ffmu yang thorn love itu loo aku jadi suka minseok-sica haha >.<
        iya, padahal liburan itu pengeluaran justru melonjak 😥

  2. kcuan sica,crita mnyedihkn apa lg smbil dgr lgu’a jessica,jdi emosi q trasa kbwwa,bner2 bkin greget ni ff. udh gk sbr bc part 2’a apakh luhan mmblas cinta sica?? bkin pnasaran.
    by d wy… hbt jg prjuangn author,demu pra pmbc stia blog u, smpe u buatin ni diwarnet pke uang jjn lg. pkok’a u the best author dehc,gomawo….
    good job dehc ama krya2 author…
    and cute pic…

  3. eumm… Couple exoshidae? Gatau kenapa akhir-akhir ini aku lagi pingin baca chanyeol-sica sama minseok-sica… Gara-gara ffmu yang thorn love itu loo aku jadi suka minseok-sica haha >.<
    iya, padahal liburan itu pengeluaran justru melonjak 😥

    • oke ini sama. aku emang rencananya pengen berpindah hati ke chanyeol-sica atau minseok-sica .____. walaupun sepertinya minseok-sica lebih besar kemungkinannya. hohoho
      bener banget. liburan malah butuh banyak uang ketimbang pas sekolah 😥

      • oke, kita ini emang sehati apa kamu ngikut-ngikut aku nih haha… ._.
        Yah, pokoknya siapa pun itu, aku tunggu :3
        bener banget!! Apalagi 3 bulan ini aku bakalan nganggur… Sampe ayahku bilang ‘daripada bengong di rumah nonton korea-koreaan, cari kerja sambilan buat 3 bulan sana!’ -,-

  4. yaaah kenapa ini terakhir buat ff luusica
    tapi sumpah ceritanya mengharukan bnget
    klo aku jd sooyeon jg susah nyerain orang seganteng luhan kaliyaa

  5. Omegot 😮
    Sica.. kasian banget sica
    *nangis ame Luhan*
    Lusica terakhir ya eon? huhuhu 😦
    oke, lanjutkan!

  6. Males babibu ya… Aku mau baca next saja.

    Satu! Sumpah aku tertarik banget sama cerita ini… Entah kenapa gasabar pengen ngeliat Luhan menderita atau kena karma karena berani main-main dgn mertuanya! (baca: Jessica) LOL

    so, aku lanjut dolooohhhhh u,u

  7. Hai hai… aku datang.. jangan heran pleasee hahaha..
    aku gak tau mau komen apa karena lagi males ngomen hehe *peace* tapi yaa typonya ga enak bgt ._.
    “Aku menggigit bibirnya ketika
    melihat wajahnya terlihat
    tersinggung karena kata-kataku.
    Apa aku berlebihan?”
    LOL.. haha bye^^

  8. Huaaaa!!! Keren.. ToT
    Bener-bener bagus jalan ceritanya.
    Jessica pasti tersiksa banget disini.
    Jujur ini FF Luhan-Sica pertama yang kubaca.
    Because, I Like Luhan-Fany.
    But, mungkin sekarang aku akan suka dua”nya karna nih FF. Nice FF!

  9. Pingback: Rekomendasi fanfiction | Branllycious World(⌒▽⌒)

  10. oh my god, feel.a dapet bgt min. aku nyontek kta2 ini y min “Karena sejahat dan seburuk apapun seseorang, dia pasti menginginkan akhir yang bahagia. Akhir yang bahagia hanya bisa didapatkan dengan kerja keras.”

  11. ceritanya dramatis… Kasian sicanya, pengen nabok luhan deh rasanya.. Cerein aja biar luhannya menderita wkwkk #ketawajahat

  12. eh nyesek bacanya… jadi mwewk gini..
    huaa kau jahat luhan pada unni ku… ntar kau bakal kehilangan dirinyaaa.. huuaaaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s