[3Shots] Almost Have You – The Second

Baby, Love You

Author : Lee Hyura

Title : Almost Have You

Genre: Angst, Romance

Rating : PG

Length : Threeshots

Cast :

  • SNSD Jessica
  • EXO Luhan

Note: seperti yang ku bilang, lanjutannya hampir rampung makanya aku bisa publish hari ini. Akibat second shot ini melalui proses editing, akhirnya kisah pun kian panjang. Yang tadinya udah panjang, tambah panjang. Bahkan panjangnya sampai hampir 2 kali halaman yang sebelumnya. Jadi aku putuskan buat jadi 3shots. Hehe ._.

The First

=== Almost Have You ===

Langkah kaki Sooyeon dari halte menuju rumah sangat lamban. Dia belum menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan Luhan. Dia belum menyiapkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan rencananya.

Suara mobil yang khas di telinganya memaksanya untuk mendongak. Ia melihat sebuah mobil familiar melewatinya begitu saja dengan kecepatan tinggi. Sepertinya sang pengemudi—Luhan—tidak melihat istrinya hampir sampai di rumah. Sooyeon menghela napas lega. Setidaknya dia tidak perlu bertemu dengan Luhan malam ini.

Dia mengeluarkan handphone dari tas selempang kecil yang selalu ia pakai jika bepergian. Benda itu terus-menerus berdering, tak peduli sang pemilik sedang tidak mood untuk mengangkat telepon. Tanpa melihat layar ponselnya, Sooyeon langsung mengangkatnya begitu saja.

“Yobose—“

“Sooyeon-ah! Mertuamu sudah sadar! Dia sadar!” teriak Taeyeon heboh.

Sooyeon menutup mulutnya. Matanya yang sudah kering karena sudah mengeluarkan air mata terlalu banyak saat di rumah sakit tadi, kini kembali mengalirkan air mata. Kali ini adalah air mata bahagia.

“Kau tidak becanda, ‘kan, Taeyeon-ah?” tanya Sooyeon memastikan.

Taeyeon mendesis. “Aish, mana mungkin aku becanda soal ini. Ayo cepat kembali!”

Sooyeon tersenyum sambil melompat-lompat kecil karena terlalu senang. Para tetangganya kini sedang menatapnya heran. Menyadari itu, Sooyeon segera membungkuk malu lalu berlari ke rumahnya. Semakin cepat sampai, semakin baik!

Dan kini yang ia pikirkan hanyalah bagaimana ia pergi menemui umma? Pasti Seohyun dan Luhan berada di rumah sakit sekarang. Tidak mungkin Sooyeon muncul begitu saja. Sekali lagi, Sooyeon menghela napas.

“Sooyeon? Kau masih di sana?”

Sooyeon tersadar ketika mendengar suara Taeyeon. Ternyata teleponnya masih tersambung.

“Maaf, Tae. Aku sibuk,” jawab Sooyeon akhirnya.

>>>

Seohyun dan Luhan duduk di sofa tanpa mengatakan apapun. Mereka terlalu asik dengan pikiran masing-masing. Namun topik pemikiran mereka sama, yaitu Sooyeon. Sementara ibu mereka sudah kembali tertidur pulas.

Bagaimana caranya umma kenal Sooyeon?
Bagaimana dengan suster dan dokter lainnya?

Oh tentu saja mereka kenal. Jung Corp. adalah salah satu perusahaan yang berpengaruh di dunia bisnis, hanya itu yang ada di pikiran Luhan tentang bagaimana cara para staf di rumah sakit itu mengetahui pernikahannya dengan Sooyeon. 4 bulan ini merasakan kehidupan menjadi seorang manager HRD sebuah perusahaan terkenal, ia sudah menyicipi banyak hal. Hanya dalam 4 bulan, namanya sudah terkenal. Tentu saja sudah banyak rumor bahwa segala saham milik keluarga Jung akan diberikan kepadanya sebentar lagi.

Apa jangan-jangan Sooyeon unnie pernah mengunjungi umma? Saat aku bertemu dengannya di depan rumah sakit… ya, aku yakin saat itu Sooyeon unnie ke rumah sakit untuk menjenguk umma, beda lagi dengan kesimpulan yang berada di pikiran Seohyun kini tentang kenapa ummanya bisa mengenal Sooyeon.

“Kalian tidak berniat untuk menelepon Sooyeon?” tanya Taeyeon. Taeyeon harus mengecek semuanya sebelum meninggalkan keluarga itu.

Luhan mendongak cepat. “Bagaimana kau bisa mengenalnya?”

“Apa Sooyeon tidak pernah cerita tentangku?” balas Taeyeon sedih. “Padahal aku selalu bersamanya setiap dia datang menjenguk. Bahkan kami pergi ke konser DBSK bersama seminggu yang lalu.”

“Unnie datang ke sini? Menjenguk umma?” bingung Seohyun.

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Ya setiap hari. Dia selalu datang jika kalian sedang tidak bisa menjaga nyonya Xi. Kenapa kalian kaget?”

Tanpa kata-kata lagi, Luhan bangkit dan keluar dari kamar.

“Oppa!” teriak Seohyun tapi tidak cukup cepat untuk menahan kepergian Luhan.

>>>

Sesampainya di rumah, Luhan segera berlari mencari Sooyeon di sekitar rumah. Anehnya, istrinya tidak berada dimanapun. Sebenarnya ada satu tempat yang belum Luhan cek yaitu kamar Sooyeon. Dari dulu sampai sekarang, Luhan tidak pernah melihat bagaimana isi kamar itu. Dengan segala kemantapan hati, ia mencoba mengetuk pintu kamar Sooyeon. Namun tidak ada jawaban. Akhirnya Luhan membuka pintu itu begitu saja. Sooyeon juga tidak ada.

Luhan menelan air liurnya ketika matanya tertuju kepada sebuah foto. Itu adalah foto pernikahan mereka. Luhan kira foto itu dibuang atau apalah oleh Sooyeon karena selama ini Luhan tidak pernah melihat foto itu terpajang di rumah itu. Dia tidak menyangka bahwa foto itu dipajang di kamar Sooyeon.

Dengan langkah ragu, ia memasuki kamar itu. Kamar itu bernuansa warna putih dan biru. Di beberapa tempat terlihat stiker hewan-hewan laut. Seprai kasur juga bergambar animasi laut. Meja night-stand dihias oleh beberapa bingkai berdesain karang laut berisi foto Sooyeon dan Sooyoung. Melihat ini, Luhan mendapatkan kesimpulan bahwa Sooyeon adalah penyuka laut.

Melihat lemari pakaian Sooyeon yang sedikit terbuka, Luhan terdorong untuk mengecek isi lemari. Matanya terbelalak melihat betapa kosongnya lemari itu. Hanya ada satu kesimpulan untuk masalah ini.

Sooyeon pergi dari rumah.

***

Sooyeon mendesah pelan sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. Hidupnya kembali seperti semula sehingga ia merasa bosan. Di rumahnya bersama Luhan, dia pasti akan merapikan rumah jika bosan. Tapi di rumah orangtuanya yang mewah ini? Untuk hanya sekedar menyentuh sapu saja dilarang keras. Biasanya juga saat dia bosan, dia akan menemui Sooyoung atau Taeyeon. Tapi kini dia tidak perlu repot-repot karena Sooyoung sudah kembali di sampingnya. Taeyeon? Dia hanya bisa bertemu dengan Taeyeon di rumah sakit. Jika dia ke rumah sakit, kemungkinan besar dia tidak bisa menahan hasrat untuk bertemu dengan umma. Kalau itu terjadi, dia pasti akan bertemu dengan Seohyun atau yang lebih parahnya Luhan.

Ngomong-ngomong soal Luhan, Sooyeon jadi teringat dengan perceraiannya. Dia sudah meminta pengacaranya untuk mengurus perceraiannya. Hanya saja dia belum bilang apapun dengan Luhan. Kalau dipikir-pikir, tidak ada gunanya ia bicarakan hal ini dengan Luhan terlebih dahulu karena Luhan pasti akan menerimanya dengan senang hati. Jadi Sooyeon tidak terlalu memikirkan respon Luhan soal perceraian ini.

“Sooyoung-ah, bagaimana dengan perceraianku? Apa semua sudah selesai?” tanya Sooyeon.

Sooyoung menoleh dan langsung memasang wajah bersalah. Ini lah yang Sooyeon tidak inginkan. Sooyoung sudah terlalu baik kepadanya. Melihat Sooyoung seperti itu malah membuatnya merasa tidak tahu terima kasih.

“Ya. Tadi aku mendapat telepon tentang itu. Surat-suratnya sudah dikirimkan kepada Luhan,” jawab Sooyoung.

Sooyeon tersenyum kecil. “Sooyoung-ah, aku tidak menyalahkanmu. Aku malah berterima kasih kepadamu. Karena aku bersyukur pernah hampir memilikinya.”

Sooyoung membalasnya dengan senyuman sedih.

***

Seohyun baru saja kembali dari ruangan dokter untuk menanyakan kondisi ibunya. Dia tersenyum kecil melihat kakaknya yang tertidur di sofa. Kondisi dia masih sakit tapi Luhan menolak untuk pulang. Jika ia tidak menolak, pasti sekarang pria itu sudah sembuh.

“Aish, dasar keras kepala!” gerutu Seohyun.

Di tangannya kini ada sebuah amplop coklat yang diyakini Seohyun sebagai data pekerjaan yang Luhan tinggalkan selama beberapa hari ini. Tadi seseorang menitipkannya kepada resepsionis rumah sakit dan diberikan kepadanya lewat suster.

Seohyun menghampiri Luhan. Dia sengaja membangunkan Luhan dengan cara memukul kakaknya berulang kali dengan amplop coklat di tangannya. Dia tidak peduli apa isinya berharga atau tidak.

“Yah! Sakit, Seo!” protes Luhan.

“Aku tidak akan melakukan ini jika kau pulang dan tidur di rumahmu! Kalau kau di sini terus, bagaimana dengan pekerjaanmu?!” omel Seohyun.

Luhan mengucek matanya kesal sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Kegiatannya terhenti ketika melihat benda yang berada di tangan Seohyun. Ia menatap Seohyun penasaran. Seohyun tersenyum geli. Dia duduk di samping Luhan dan meletakkan amplop itu di pangkuan kakaknya.

“Seseorang menitipkan itu di resepsionis. Untukmu. Pasti pekerjaanmu deh!” ucap Seohyun.

Luhan tidak menjawab. Dia membuka amplop itu dengan tidak sabar. Ternyata isinya memang beberapa berkas dokumen. Seohyun ikut membaca apa isi dokumen-dokumen itu.

“Cerai?” pekik Seohyun.

Seohyun menutup mulutnya. Matanya melirik wajah Luhan yang tanpa ekspresi saat itu. Seohyun tahu Luhan juga kaget sepertinya.

“Cerai? Siapa yang cerai? Bukan kau dan Sooyeon, ‘kan?” sambar ibu mereka.

Luhan menggeleng cepat sambil memasukkan kembali dokumen-dokumen itu ke dalam amplop coklat. “Bukan, Umma. Aku dan Sooyeon baik-baik saja. Tidak mungkin tiba-tiba kami cerai,” bantah Luhan sambil tersenyum tipis.

Seohyun hanya diam. Dia pernah bisa berbohong kepada ibunya. Daripada kebohongan Luhan terbongkar, ada baiknya Seohyun diam saja.

“Kalau kalian baik-baik saja, kenapa Sooyeon tidak datang menemuiku?” gerutu umma.

Luhan mendesah. “Sooyeon sedang sibuk. Lagipula bagaimana bisa Umma mengenalnya? Bahkan aku tidak pernah memperkenalkan dia kepada Umma.”

“Karena Sooyeon lah yang membuat Umma sadar.” Nyonya Xi tersenyum kepada kedua anaknya yang terlihat kaget. “Aku bisa mendengar suaranya yang selalu menyemangatiku untuk segera sadar. Selama aku koma, aku hanya bisa mendengar suara Sooyeon yang bercerita tentang banyak hal. Dia paling sering cerita tentang betapa baiknya anak laki-lakiku. Cerita yang sama tapi ia ceritakan berulang kali hingga Umma tidak bisa lupa. Umma bisa merasakan betapa Sooyeon mencintaimu, Luhan. Itu kenapa Umma terpacu untuk segera sadar.”

Luhan menoleh ketika tangannya diremas kuat oleh Seohyun. Luhan kembali menatap ibunya.

“Aku berjanji untuk membawa Sooyeon ke sini. Aku janji,” kata Luhan.

***

Penampilan Sooyeon sudah rapi sekarang. Dia berniat untuk kembali ke rumahnya bersama Luhan untuk mengambil beberapa barang yang tidak sempat ia bawa kembali ke rumah ini. Dia berdoa agar Luhan tidak berada di rumah itu sehingga Sooyeon tidak perlu bersusah payah mencari kata.

Dia datang bersama Sooyoung. Hatinya terasa benar-benar lega karena ternyata Luhan memang tidak ada di rumah. Mobilnya tidak ada. Setelah Sooyoung memarkirkan mobil di halaman rumah, Sooyeon segera berlari masuk menuju kamarnya. Tidak ada yang berubah dengan kamarnya. Dia segera mengambil semua barang yang bisa ia bawa saat itu juga dan membawanya ke mobil. Sooyoung ikut membantu Sooyeon ‘pindahan’.

Setelah semua selesai, Sooyeon menyempatkan diri untuk mengecek kamar Luhan. Semuanya sama saja seperti saat ia meninggalkan rumah. Wangi parfum khas Luhan juga tak tercium tanda kamar itu memang tidak ada yang menempati untuk beberapa hari. Sooyeon langsung berpikir bahwa Luhan menginap di kamar rawat umma.

“Ayo pulang!” seru Sooyeon.

Sooyoung tersenyum tipis. “Kau sudah pulang, Nona Sooyeon.”

Sooyeon merengut. Dia masuk ke dalam mobil tanpa membalas apapun.

>>>

Sooyeon menoleh keluar jendela dengan kening berkerut. Dia bingung. Dia yakin itu bukan jalan pulang. Sebenarnya Sooyoung ingin membawanya kemana?

“Kau ingin ke rumah sakit, kan?” celetuk Sooyoung.

Sooyeon menoleh kaget. “Soo!! Kau tahu Seohyun dan—“

“Luhan sudah mulai bekerja lagi hari ini dan Seohyun juga ada kuliah. Kau aman jika datang sekarang,” jelas Sooyoung.

Sooyeon menghela napas panjang. Dia tidak menyangka Sooyoung akan tahu jadwal Luhan dan Seohyun juga.

“Tapi jangan terlalu lama. Kita harus pulang sebelum jam 3 sore. Orangtuamu pulang dan ingin bertemu denganmu, Nona,” tambah Sooyoung.

Sooyeon mengerucutkan bibirku. Dia tidak pernah senang bertemu kedua orang itu. Namun dia tidak bisa lari dari mereka berdua, terlebih dengan Sooyoung di sampingnya.

>>>

Perkataan Sooyoung terbukti benar. Tidak ada seorang pun di kamar itu selain ibu mertuanya, setidaknya ‘calon’ mantan mertuanya. Umma sedang tertidur. Semua ini seperti harapan Sooyeon. Dia tidak mau seorang pun tahu akan kedatangannya.

Dia duduk di kursi yang biasa lalu merapikan letak selimut nyonya Xi. Sang pasien bergerak tiba-tiba dan membuat Sooyeon panik.

“Sooyeonnie?”

Deg. Deg. Deg.

Jantung Sooyeon berdetak sangat cepat mendengar orang yang ia anggap sebagai orangtuanya sendiri itu memanggil namanya akrab. Matanya mulai panas.

“Kau memang Sooyeon, ‘kan?” tanya umma memastikan.

Sooyeon mengangguk pelan. Umma tersenyum ramah.

“Kau tidak memberikanku pelukan?”

Sooyeon terlihat ragu. Akhirnya dia memberikan pelukan lembut kepada ibu mertuanya.

“Kenapa saja kau? Umma sudah menunggu sejak Umma sadar. Apa Luhan tidak bilang apapun?” omel umma.

“A-aku.. sibuk.”

“Ya, itu lah yang dikatakan Luhan. Ku kira Luhan bohong.”

Sooyeon melepaskan pelukannya. Dia menghapus air matanya yang mengalir begitu saja. Umma hanya tersenyum lembut kepadanya.

“Bagaimana Umma tahu aku adalah Sooyeon?” tanya Sooyeon. “Apa Luhan atau Seohyun yang memperlihatkan fotoku?”

Umma menggeleng. “Aniya. Aku tahu kau adalah Sooyeon karena aku sudah mengenalmu. Suaramu yang selalu menemaniku saat aku koma. Di mimpiku, aku berada di tempat yang sangat gelap dan hanya ditemani oleh cerita-ceritamu. Cerita-ceritamu yang membuatku hangat dan tidak merasa takut. Perlahan-lahan, kegelapan itu berganti menjadi sebuah taman. Sosokmu muncul di mimpi. Sangat cantik. Kau memperkenalkan dirimu sekali lagi dan mengajakku untuk minum teh bersama. Selama acara minum teh, kau memberitahuku bahwa kau akan bercerai dengannya. Kau menceritakannya sambil tersenyum walaupun kau menangis. Saat tehku habis, kau meninggalkanku begitu saja. Aku berusaha mengejarmu tapi kau malah menghilang. Aku ketakutan saat itu. Tiba-tiba Seohyun muncul. Aku segera menarik tangannya dan.. fuh~ aku pun sadar dari koma panjangku.”

Sooyeon tertawa. “Kisah yang panjang. Umma pintar mengarang cerita.”

“Aku serius. Bahkan kau adalah orang yang pertama kali aku cari saat aku sadar.”

Tubuh Sooyeon membeku mendengarnya. Hatinya terasa sangat hangat.

“Aku bersyukur itu hanya lah mimpi karena kenyataannya hubunganmu dan Luhan baik-baik saja,” lanjut umma lalu tersenyum jahil. “Jadi kapan kalian—“

“Umma…” Sooyeon segera memotongnya. “Maaf sebelumnya. Tapi aku memang akan menceraikan Luhan.”

Umma kehilangan kata mendengarnya. Beliau tidak mengatakan apapun. Beliau malah memunggungi Sooyeon dan menarik selimut untuk menutupinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Umma, aku—“

“Tinggalkan aku sendiri.”

>>>

“Nona, kau baik-baik saja?” tanya Sooyoung khawatir.

Sooyeon baru saja kembali dan wajahnya jauh dari kata bahagia. Sooyeon malah kembali dengan ekspresi sedih. Apa Sooyoung salah mengambil keputusan lagi?

“Maafkan aku, Nona..” lirih Sooyoung.

Sooyeon menggeleng. “Tidak. Kau tidak salah apapun. Ayo kita pulang sekarang.”

“Kau yakin bisa menemui tuan dan nyonya dengan mood seperti sekarang?”

Sooyeon menghembuskan napasnya gemas. Dia mengangguk setuju. “Kau benar! Aku tidak akan bisa bertemu dengan orangtuaku sekarang. Lebih baik kita pergi ke tempat lain saja.”

“Kemana?”

“Aku agak merindukan masa kuliahku dulu. Mungkin aku ingin mencoba bernostalgia dengan berkunjung kampusku.”

>>>

“Oppa, umma mengambek kepadaku sekarang. Bahkan aku tidak tahu apa kesalahanku. Bagaimana ini?” rengek Seohyun.

Luhan sudah berada di jalan menuju rumah sakit ketika Seohyun meneleponnya dan menceritakan kondisi ibunya sekarang.

“Bagaimana bisa? Tadi pagi dia masih baik-baik saja. Semua keinginannya sudah aku penuhi,” bingung Luhan.

“Semuanya kecuali Sooyeon eonni!”

Yah, Seohyunnie! Apa itu Luhan?

Luhan tersentak ketika mendengar suara ibu tirinya. Ibunya terdengar sedang kesal sekarang. Sepertinya memang ada hubungannya dengan Sooyeon. Mungkin ibunya marah-marah tidak jelas karena menuntutnya untuk mengajak Sooyeon bertemu dengannya secepatnya?

“Yah, Xi Luhan! Apa yang kau perbuat kepada Sooyeon, uh? Kenapa kalian bercerai?!” omel umma.

Luhan sedikit meringis dan kehilangan fokus karena teriakan ibunya.

Omona, Umma! Luhan oppa sedang mengemudi sekarang! Jangan—

“Kau diam saja, Seohyun! Ini urusan Umma dan Luhan!”

Luhan menepuk wajahnya. Bagaimana bisa umma bisa tahu soal perceraiannya? Apa umma membaca dokumen-dokumen itu? Tidak mungkin. Luhan menyimpannya di rumah.

“Umma—“ Luhan berusaha untuk menjelaskan masalahnya namun ia kembali diintruksi.

“Aku tidak mau tahu bagaimana pun caranya, kau harus membatalkan perceraian kalian! Aku baru saja sadar dan kalian sudah mau bercerai? Apa-apaan?! Aku belum sempat menghabiskan waktu dengan Sooyeon!”

“Ne—“

Tut.. tut.. tut..

“Hah… susahnya mempunyai ibu pemaksa,” gumam Luhan frustasi.

Luhan membelokkan mobil di tikungan selanjutnya. Tidak mungkin dia ke rumah sakit saat ibunya sedang marah besar kepadanya. Dia perlu pergi ke tempat lain sampai malam tiba.

>>>

Keadaan kampus saat itu lumayan sepi karena sedang waktunya libur semester. Hanya ada segelintir mahasiswa-mahasiswi yang datang hanya untuk menikmati fasilitas kampus. Sooyeon memperhatikan setiap detail tempat itu dan mencoba mengingat kejadian apa saja yang terjadi di setiap sudut dan tempat.

Kegiatan bernostalgianya terpaksa harus terganggu oleh getaran ponselnya. Sebuah pesan baru dari Sooyoung.

From: Choi Sooyoung

Nona, orangtuamu memaksaku untuk membawamu pulang sekarang juga. Sepertinya mereka marah karena kau terlambat pulang. Ayo cepat kembali! Aku belum mau mati >.<

Sooyeon mendesis pelan. Selalu saja orangtuanya yang menjadi pengganggu kebahagiaannya. Terpaksa ia berlari untuk segera sampai di tempat Sooyoung memarkirkan mobil.

Sampai di tangga, tiba-tiba kilasan balik tentang kejadian pertama kali ia bertemu dengan Luhan melintas di pikirannya dan membuatnya kehilangan fokus. Dia salah mencari tempat untuk menumpukan kakinya sehingga dia kehilangan keseimbangan.

Inikah akhir hidupku? Hah, menyedihkan sekali kau, Sooyeon. Tidak pernah bahagia dan cara matimu tragis, pikir Sooyeon saat itu.

Dia sudah menutup matanya dan mempasrahkan diri. Kakinya mengenai anak tangga terlebih dahulu. Dia tinggal menghitung waktu sampai giliran kepalanya lah yang terluka. Tapi dia tidak merasakan apapun selain rasa perih di lututnya.

“Bahkan di hari terakhir aku bertemu denganmu sebelum kita bercerai, kau masih seceroboh ini.”

Otomatis Sooyeon membuka matanya ketika mendengar suara yang tidak asing.

“Lihat, lututmu juga berdarah seperti saat kita pertama kali bertemu,” lanjut Luhan.

“K-kau.. bagaimana… ini…” Sooyeon kehilangan kemampuan untuk mengolah kata.

Luhan menghela napas. “Aku juga tidak tahu bagaimana bisa bertemu denganmu di sini. Aku ke sini hanya untuk mengenang masa-masa kuliah sebelum umma menceramahiku sehari semalam karena menceraikanmu. Padahal kau lah yang menceraikanku.”

Luhan berbalik badan dan berjongkok di depan Sooyeon, persis seperti pertama kali mereka bertemu. Bedanya kini Sooyeon langsung naik tanpa berkata apapun.

“Sooyoung sudah menungguku di depan gedung,” kata Sooyeon supaya dia tidak perlu membawanya ke ruang kesehatan.

Dia hanya mengangguk. Suasana hening menemani mereka selama perjalanan menuju Sooyoung.

“Umma memintamu untuk bertemu dengannya,” gumam Luhan.

Sooyeon mengangguk. “Tadi aku sudah menemuinya.”

“Hah, pantas umma mengamuk tak jelas. Ternyata kau yang memberitahunya.”

“Ya, sepertinya dia marah sekali.”

“Tentu saja. Kau lah alasannya sadar dari koma, bukan aku maupun Seohyun. Dia mengharapkan kehadiranmu sebagai menantunya tapi kau malah datang untuk memberitahunya tentang perceraian kita.”

“Dia sudah tahu. Semua perkataanku ternyata muncul di mimpinya.”

Luhan tersenyum kecil. “Termasuk cerita pertama kali kita bertemu? Umma bilang kau menceritakan hal itu berulang kali kepadanya.”

Sooyeon malu mendengarnya. Dia segera menelungkupkan wajahnya di bahu Luhan. Sekejap, rasa nyaman menjulur ke seluruh tubuh Sooyeon.

“Kejadian pertama kali kita bertemu seperti ini, ‘kan? Aku tidak akan ingat kalau umma tidak cerita tentang kejadian ini.”

Sooyeon tidak menjawab apapun.

“Sebenarnya dari dulu aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.” Luhan menghela napas. “Kenapa kau memaksaku untuk menikahimu? Apa kau terpaksa?”

Sooyeon mengubah posisi kepalanya menjadi bersendagu di bahu Luhan. “Terpaksa? Kenapa berpikir begitu?”

“Kau tidak pernah sekali pun terlihat senang selama kita menikah.”

Sooyeon ingin mengetuk kepala Luhan dengan palu. Tentu saja ia tidak akan bahagia. Wanita mana yang akan bahagia jika suami yang sangat ia cintai membawa pulang wanita asing ke rumah suci mereka?

“Bahkan di hari pernikahanku saja, kau terlihat sedih. Pertama kali aku melihatmu senang adalah saat kau akan pergi bersama Taeyeon ke konser DBSK. Dan kedua kalinya adalah saat aku sakit. Apa kau membenciku?”

Sooyeon terplongo mendengarnya. Apa benar ia seperti itu? Seingatnya, ia merasa sedih saat pernikahan mereka karena memikirkan ia harus berpisah dari Sooyoung. Kalau soal merasa senang karena pergi bersama Taeyeon dan Luhan sakit… itu beda alasan lagi.

“Yah, kita sampai. Aku hanya akan mengantarkanmu sampai sini. Sooyoung tidak akan senang melihatku menggendongmu dengan luka di lututmu,” kata Luhan.

Luhan menurunkan Sooyeon secara perlahan. Saat Sooyeon hendak menjelaskan semuanya, Luhan sudah berbalik badan dan meninggalkannya begitu saja. Tapi harapannya tumbuh saat Luhan berbalik badan.

“Dan soal perceraian kita, tenang saja. Aku sudah menandatanganinya dan akan ku kirimkan segera ke pengacaramu,” tambah Luhan lalu kembali berbalik badan untuk melanjutkan langkahnya.

Kaki Sooyeon hampir kehilangan kemampuan untuk berdiri setelah mendengarnya. Emosinya meningkat dalam sekejap. Baru saja ia pikir mungkin hubungan mereka bisa membaik setelah ia menjelaskan semuanya. Tapi Luhan malah menghancurkan harapannya.

“Bodoh! Luhan bodoh! Aku benar-benar membencimu!” teriak Sooyeon.

Luhan berhenti melangkah mendengarnya. Dia berbalik badan dan melihat Sooyeon sedang berlari sedikit pincang menuju mobil Sooyoung berada sambil mengusap pipinya. Luhan yakin Sooyeon menangis saat itu.

“Apa lagi salahku kali ini?” desah Luhan. “Sepertinya apa yang ku lakukan selalu salah baginya.”

>>>

Sial sekali hari ini baginya. Umma marah kepadanya, Luhan sudah menandatangani surat perceraian, Sooyoung mengomel karena lututnya terluka, dan kini dia harus berhadapan dengan pasangan yang Tuhan takdirkan sebagai orangtua kandungnya. Sooyeon tidak bisa berkata banyak akan ekspresi orangtuanya saat melihat anak satu-satunya menemui mereka dengan luka di lutut.

“Apa ada yang ingin kau bicarakan tentang perceraianmu dan Luhan?” tanya nyonya Jung.

Sooyeon menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu jika orangtuanya juga akan tahu tentang ini.

“Kami akan bercerai secepatnya,” jawab Sooyeon seadanya.

“Kenapa?”

Sooyeon mendongak. “Haruskah aku memberitahukannya kepada kalian?”

Ayahnya mengerutkan keningnya mendengar balasan dari anaknya. “Kami adalah orangtuamu, Jung Sooyeon.”

“Xi Sooyeon,” ralat Sooyeon

“Siapa peduli dengan nama itu? Sebentar lagi kalian bercerai dan namamu kembali menjadi Jung Sooyeon.”

Sooyeon merapatkan bibirnya erat. Kata-kata itu benar dan menusuk hatinya. Bahkan orangtua itu pun bertemu dengannya hanya untuk menyakiti hatinya?

“Sooyeon-ah, kami bertanya seperti ini karena kami peduli—“

“Peduli?” Sooyeon mendengus tak terima. “Apa ini yang kalian sebut dengan peduli? Kalau memang kalian peduli denganku, kemana saja kalian saat aku membutuhkan sosok orangtua di sampingku? Persetan dengan kata peduli!”

“Sooyeon!” bentak nyonya Jung.

“Kalian tidak terima? Bukankah aku benar? Uang kalian adalah peduli kalian. Kalian pikir dengan memberikanku uang maka kalian sudah bisa dibilang peduli denganku? Ada apa dengan otak kalian?! Jika kalian peduli, kemana tahun-tahun yang selalu ku lalui sendiri?!”

Sooyeon menatap kedua orangtuanya dengan penuh emosi. Pasangan itu tidak terlihat ingin membalasnya karena terlalu kaget dengan kata-kata Sooyeon.

“Aku tidak butuh uang kalian. Aku hanya butuh perhatian kalian, keberadaan kalian di setiap aku memerlukan kalian. Dari kecil, orang-orang selalu bilang aku adalah sosok anak yang memiliki segalanya. Semua orang iri padaku. Apa benar? Tidak! Aku lah yang iri dengan semua orang. Ketika mereka menangis, mereka akan memanggil ibunya. Sementara aku tidak tahu harus melakukan apa ketika aku menangis. Bahkan aku tidak tahu cara memanggil ibuku sendiri! Saat mereka mendapatkan prestasi, mereka akan memamerkannya kepada ayahnya. Aku? Bahkan aku tidak pernah bertemu dan berbicara dengan ayahku. Bagaimana cara memamerkan prestasiku?”

Napas Sooyeon memburu akibat emosi yang meletup-letup.

“Dan kini, ketika aku akan bercerai, kalian baru bilang bahwa kalian peduli denganku?” Sooyeon berhenti sejenak untuk menahan air matanya. “Apa itu tidak terlalu terlambat?”

“Selama ini, aku hanya selalu berharap kalian ada di saat aku kesepian. Apa kalian tahu betapa kesepiannya putri Jung ini? Semua orang mendekatinya hanya karena ia adalah seorang putri Jung. Putri Jung tidak pernah bisa menikmati hidupnya seperti remaja biasanya. Kekurangan kasih sayang orangtua… penyendiri… menyedihkan… ini lah putri Jung yang dibilang membuat semua orang iri..”

“Sooyeon—“

“Jika kalian tidak mempunyai apapun untuk dibicarakan lagi, aku pamit,” sela Sooyeon cepat.

Sooyeon bangkit dan meninggalkan kedua orangtua menuju kamar. Dia membanting pintu kamarnya lalu menghempaskan diri ke kasur. Dia tidak peduli dengan rasa sakit kala luka di lututnya menekan permukaan kasur. Rasa sakit di hatinya beratus kali lipat lebih sakit dari rasa sakit di lututnya.

Knock.. knock..knock..

Sooyeon mengubah posisi menjadi duduk lalu menampilnya sebentar sebelum mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya masuk. Ia kira Sooyoung lah yang mengetuk pintu tapi dia salah. Ibunya lah yang mengetuk pintunya.

“Ada yang perlu kita bicarakan lagi? Apa tidak bisa menunggu besok?” tanya Sooyeon sinis.

Nyonya Jung hanya tersenyum tipis. Ia duduk di samping Sooyeon seraya menggenggam tangan Sooyeon. Dia menghela napas panjang seakan ada beban yang menekan dadanya.

“Maaf. Maaf jika kau merasa seperti itu. Maaf jika kami sudah membuatmu menderita selama bertahun-tahun. Maaf jika kami tidak pernah ada saat kau butuh kami. Maaf untuk segalanya. Kami tidak bermaksud untuk menyia-nyiakanmu. Kami tidak bermaksud membuatmu merasa tidak dicintai. Akan tetapi, percayalah bahwa kami sangat mencintaimu,” ujar ibunya.

Nyonya Jung kembali tersenyum kecil. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Sooyeon.

“Kami baru sadar bahwa putri kecil kami kini sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, dan bahkan sudah menikah! Kau tahu, tidak, kenapa kami langsung menyetujui pernikahanmu begitu saja walaupun kami belum bertemu dengan suamimu? Itu karena kami percaya Sooyeon tidak akan salah memilih calon pasangan hidupnya. Sayangnya walaupun ingin, kami tidak bisa menemui kalian. Tidak bisa melihat bagaimana rupa pria yang sudah merebut hati putri kebanggaan keluarga Jung ini. Tapi kami tidak pernah lupa untuk selalu mendoakan kebahagian kalian. Tentu saja kami kaget ketika mendengar kalian bercerai, apalagi pernikahan kalian belum genap setengah tahun. Kami bertanya-tanya, apa pria itu tidak berhasil membuat putri kami bahagia?”

Sooyeon lah yang kini tidak bisa berkata apapun. Tubuhnya bergemetar hebat. Matanya tidak bisa mengeluarkan air mata walaupun hati Sooyeon terasa sangat sesak. Oksigen seperti tidak ada yang mau mendekatinya.

“Dan kau tidak tahu bagaimana cara memanggilku? Apa aku tidak pernah mengajarkannya?” tanya nyonya Jung, merengut.

Sooyeon tersenyum kecil. Ia kenal cara ibunya merengut. Mirip sekali dengannya. Dia menggeleng sebagai jawaban.

“Mami!”

Sooyeon mengangkat alisnya. “Mami?”

Nyonya Jung mengangguk mantap. “Itu karena aku senang sekali menonton telenovela dan drama Amerika saat hamil dirimu. Buktinya wajahmu secantik wajah artis-artis barat. Itu kenapa aku selalu memimpikan diriku dipanggil Mami olehmu, Sooyeon.”

“Mami..”

“Uh-hu!” nyonya Jung tersenyum lebar. “Sekarang berikan pelukan kepada Mami~”

Sooyeon memeluk ibunya erat. Setelah itu, mereka banyak hal, mulai dari masa-masa Sooyeon masih di kandungan sampai masalah percintaan. Malam itu menjadi malam ibu dan anak perempuannya untuk pertama kalinya. Bahkan mereka tidak sadar dua sosok yang memperhatikan mereka dari sela-sela pintu yang terbuka.

“Tuan yakin tidak ingin bergabung dengan mereka?” tanya Sooyoung.

Tuan Jung menggeleng pelan. “Biarkan Sooyeon tersenyum dan tertawa sampai puas bersama ibunya malam ini.”

Sooyoung tersenyum mendengar. Malam ini bagaikan mimpi. Dia baru sadar betap orangtuanya Sooyeon menyayangi putrinya.

“Oh, Sooyoung. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.”

Sooyoung mengangguk tanda bersedia untuk menjawab pertanyaan yang akan dilontar oleh tuan Jung.

“Apa kau kenapa Sooyeon menyukai pria yang bernama Luhan itu?” tanya tuan Jung.

Sooyoung tersenyum kecil. “Aku pernah menanyakan hal yang sama kepada nona Sooyeon. Dia malah menjawab bahwa dia tidak tahu. Baginya, Luhan orang yang tampan dan baik hati. Tapi dia yakin bukan 2 faktor itu yang membuatnya jatuh cinta. Maaf, Tuan.”

“Tidak.. tidak. Aku malah puas dengan jawabanmu.”

Sooyoung menatap majikannya bingung.

“Bukankah itu bukti ketulusan Sooyeon? Setidaknya walaupun aku gagal menjadi orangtua yang baik baginya, dia tetap bisa belajar mencintai seseorang dengan tulus. Aku bersyukur mempunyai anak seperti Sooyeon,” jelas tuan Jung.

***

Sooyeon membuka matanya malas. Senyumnya merekah ketika melihat ibunya masih tertidur di sampingnya. Baru kali ini ia tidur bersama ibunya dan itu terasa luar biasa. Walaupun ia ingin di kasur lebih lama lagi, Sooyoung sudah memergokinya dan memaksanya masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, Sooyoung menarik Sooyeon turun ke ruang keluarga. Di sana, ia melihat sebuah sosok familiar sedang berbicara dengan ayahnya.

“Oh Sehun?” gumam Sooyeon ragu. “Iya! Kau pasti Oh Sehun!!”

Kedua pria yang sedang asik berbincang kini menoleh ke Sooyeon sibuk berteriak heboh melihat adik sepupu kesayangannya datang. Sehun berlari menghampiri Sooyeon dan memeluk wanita itu erat. Sementara itu tuan Jung meninggalkan ruang itu. Sooyoung juga ikut pergi.

“Aku sudah dengar tentang perceraianmu,” ucap Sehun.

“Apa ayahku yang—“

“Ya.”

Sooyeon menghela napas pelan. Dia memang sudah berbaikan dengan ibunya. Tapi ayahnya? Sooyeon bahkan belum sempat berbicara dengan ayahnya sejak kejadian semalam.

Sehun melepaskan pelukannya. “Baiklah, lupakan! Ahjussi memanggilku ke sini bukan untuk melihatmu sedih tapi untuk menghiburmu. Jadi… apa kau mau jalan-jalan bersamaku?”

>>>

Sooyeon tahu Sehun bukan tipe orang yang senang menghabiskan waktu di luar rumah. Namun hari ini berbeda. Sehun menariknya dari butik ke butik seakan dia juga penyuka fashion seperti Sooyeon. Sehun berusaha keras untuk membuat Sooyeon senang hari ini.

“Aku lelah,” desah Sehun setelah menghempaskan dirinya di kursi.

Kini Sooyeon dan Sehun sedang berada di sebuah kafe untuk makan siang yang sudah terlambat. Di samping meja sudah ada beberapa tas belanja milik Sooyeon. Sementara dua orang itu sibuk memijat kaki mereka. Kegiatan memijat kaki diganggu sebentar untuk memesan makan.

“Jadi apa kau bahagia sudah membuatku berkeliling?” goda Sehun.

Sooyeon mendengus pelan. “Oh ayolah, kau sendiri yang menarikku dari butik ke butik! Kenapa kau malah menyalahkanku?”

Sehun tertawa melihat wajah marah Sooyeon. Mau tak mau, Sooyeon ikut tertawa. Tapi tawa itu terpaksa dihentikan saat seorang wanita menghampiri meja kalian sambil menggandeng tangan seorang pria.

“Annyeong, Sooyeon-ah~ lama tidak bertemu,” sapa Yuri, yang artinya pria yang bersama Yuri adalah Luhan. Siapa lagi kalau bukan Luhan?

Sooyeon memaksakan senyumnya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan kedua orang itu. Terlebih ketika moodnya sudah kembali baik. Di depannya, Sehun menatap wajah Sooyeon bingung. Ia tahu sepupunya itu kembali bersedih.

Apa pria ini adalah suami Sooyeon noona?, batin Sehun.

=== Almost Have You ===

Final shotnya ga tau mau dipublish besok atau lusa. Mungkin besok karena besok adalah waktunya pembagian uang jajan. Atau mungkin lusa karena aku bosen ke warnet 2 hari berturut-turut. Liat aja nanti ;3

Bagi yang minta aku jangan berhenti buat ff lusica, maaf tapi keputusanku sudah bulat. Aku udah bosen banget karena lusica itu udah mainstream sekarang. Dan beberapa reader setiaku pasti tau aku orangnya ga suka sama couple mainstream. Jadi ya begitu deh ._.

Advertisements

30 responses to “[3Shots] Almost Have You – The Second

  1. masih ada typo ya eonni?
    hah mau merhenti buat ff lusica? yah ngga papa deh. tapi tetep mau buat ff exosica kan?
    nah luhan masih jalan ama yuri lagi? duhduhduh….
    sica plin plan ya. katanya mau pisah sama luhan giliran luhan udah tanda tangan tu surat perceraian, si jess malah ngatain luhan bodoh.
    pertanyaan terakhir sebenernya luhan cinta ama jess ngga sih?

    • sepertinya begitu. hehe
      aku ga tau. aku juga udah krisis feel jessica nih. lagi kepikiran yura mulu. huhu 😥
      yah begitulah jessica. plinplan selalu ‘-‘

  2. nyonya jung, mami, dan telenovela… Ya ampun… Ngakak gulung-gulung!! >o<
    Wah, ada sehun pasti akan ada kesalahpahaman deh… Timingnya tepat banget…
    Aku suka banget karakternya sooyoung, perhatiannya, kesetiaannya, overprotectivenya, dan lain-lainnya…
    Iya iya aku tau, makanya aku ngajak cari couple baru hahaha ^^

    • akhirnya ada juga yang peduli dengan dialog kesukaanku itu .__. wkwk. semua terfokus ke kisah luhan-sica sih -o-
      sehun malah jadi masalah baru 😆
      iya sama. aku juga suka karakter sooyoung. sayang disini aku susah masukin sooyoung terlalu banyak. padahal karakternya menarik loh 😦

      • soalnya yang nyeleneh-nyeleneh biasanya malah aku inget daripada cerita utamanya :3
        yaudah, kalo gitu, besok-besok bikin cerita tentang pelayan sama majikan aja, ntar pelayannya kaya sooyoung wkwk ‘v’

      • eh far, nanya dong, bingung nih mau nanya di mana, jadi aku nanya di sini hehe ._.v
        rating pg-15 itu maksudnya apaan sih?
        Terus pengertiannya angst itu sebenernya gimana?
        Terakhir nih, oneshot itu boleh gantung apa nggak?

      • okedeh, makasih yaa ;D
        eh tapi aku bingung deh, kalo misal di ceritanya ada ciuman, ratingnya pg, pg13 apa 15?
        Sori yaa aku banyak nanya… Habis gatau mau tanya sapa lagi hehe ^^

  3. Ihiw, dipublishnya cepet asek/? Tambah asik aja ceritanya, momen kekeluargaannya bikin tersentuh :”
    berhenti lusica? Kalo gt aku tantang tao/chen/onew – jessica ‘-‘

  4. thor terusin ffmu yg baekhyun sica dong katanya bosen luusica
    ff terakhir plah ceritanya nyesek gini
    tapi smoga endingnya bahagia ya

  5. tumben cepet….
    pas sica eon marah2 sama ortunya aku nangis
    eh…ga lama ketawa pas sica eon ngobrol sama maminya
    bingung…sebenernya perasaan luhan ke sica eon tuh gimana sih??
    cepet di post lanjutannya ya…
    semangat 45….

    • kayaknya biasanya aku lama banget ya? maaf deh ya ._.v sibuk sibuk~ (?)
      iya dari awal kan aku udah bilang kalo ff ini udah hampir rampung jadi aku bisa publishnya cepet
      jujur aku suka banget scene sooyeon dengan maminya dan luhan yg dimarahin lewat telepon. itu hubungan ibu dan anak yang unik loh .__.
      luhan masih abu-abu. susah untuk ditebak -o-

  6. Luhan oppa pasti nganggap Sehun itu pacar barunya Sica eonnie deh
    Muncul masalah baru.
    Huaaaaa.
    Sumpah terharu banget di scene Sica eonnie sama Umma-nya. Bener-bener menguras air mata.
    Daebak banget thor ff-nya.
    T.T
    Saran aku sih, pairing nya KrisSica ajah.
    Hehhehe.

    • masalah baru~ masalah baru~ kasian masalah mereka ga ada abisnya T_T
      aku ga bener-bener nguras air mata kamu kan ya? hehe .__.v
      ampun deh. krissica malah lebih lebih mainstreamnya dari lusica -_-

  7. thor dpet bget feel’a, q smpet ngeluarin air mata wktu mama’a dtg & crita keseyeon ttg dirinya,itu ngingatin q sm mama yg jauh dirmh…
    msih pnasarn,tu si luhan msih jln j sm siyuri,pdhal udh mau cerai,bnar2 luhan jhat..
    & kira2 tu luhan cmburu gk ea wktu ngelihat seyeon sm sehun, scara dia kn gk tau sehun itu spupu’a seyeon, q kgin bget klaw luhan itu cmburu,hbis’a udh bc part 1 sm part 2 luhan itu gk prnh ngersain cmburu, jdi q bnar2 gk tau lw luhan cinta jg gk sm soyeon….
    well akhir’a dtg jg sehunnie…
    ayo sehhun bwd luhan cmburu mati,biar dia sdar & kpok…. hehe
    ok ditggu part last’a thor..
    o ea thor ngomog soal gk authir yg gk moid lg bwd ff lusica, bkn brati author hk nglnjutin ff calling out’a kn scr itu lusicakriss loe, jgn smpe blg ea… krn q akn nangis 7 hari 7 mlam….

    ok next dehc… gomawo

    • pukpuk ya yg ingat ibunya ._.)/
      luhan abu-abu banget ya? jadi susah ditebak. haha
      tetep dilanjut kok. orang bentar lagi selesai. nyesek aja mau selesai eh malah dihentikan begitu aja. hehe

  8. Gregetan bgt sikap luhan, dy ngira sooyeon yg ga suka pernikahaan. Berharap part terakhirnya luhan cemburu krn kedekatan sehun dgn sooyeon. Saeng, harus happy ending ya. Dtunggu ya lanjutannya

  9. Keren keren keren…

    Yah, keputusan author udh bulet(?) gapapa sih. Asal jangan buat FF Krissica aja *eh

    hihi..

  10. Huwaaaaaaaaa Faranisa Nadya!!!!!!
    Sumpah demi apa ff kamu bikin aku nangis ToT Nyesek senyesek-nyeseknya!
    Ya ampun, malu-maluin! ><

    Dongkol banget aku sama Luhan disini. Gabisa ditawar-tawar lagi =,= Dongkol to the max! Ya ampun suamiku~ .-.

    Kata-kata Jessy pas membentak ke2 orangtuanya itu yang bikin aku makin menangis 😦 Ngena banget~
    Haaaaahhhh silakan tertawa sepuasmu bayangin wajah mewek sepupumu ini-,-

    Nah Sehun dtg atas permintaan Tuan Jung. Ayah memang selalu kesulitan dlm menunjukan perasaannya pada Anaknya. Apalagi kalau Anaknya itu adalah perempuan. Jadi mommy Jessy harusnya mengerti itu~ 🙂 #bijak XD

    Oh Sehun!! My Sehun! My lilbro(?)! Semangat!!
    Sehun semangat!!!! Buat Luhan cemburu sama kamu dan Jessy!!!!!!!!!!!!! u,u

    Awas aja ending tdk sesuai harapan. Tunggu aja namaku muncul di mentionmu!(?) ._.

    Eh,, beneran nih udah bosen LuSica? Yasudah, sekarang saatnya kamu bikin ff yang main-castnya Luhan sama Aku saja ._.v hahaha

    Okeeehhh lanjooottt lageh :p

  11. Aku kira Yuri baik, but.. Mereka jalan” lagi?
    Apa memang Yuri ingin merebut Luhan dari Jessica? Bagaimana kira-kira ekspresi Luhan saat melihat Jessica brsama Sehun ya? Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Berharap Happy ending lah

    Kata-katanya menyentuh thor, pemilihan katanya juga bagus walaupun masih banyak typo + kata-kata yang kurang. Aku nangis pas bagian Jessica sama Eomma n Appanya itu, smpe basahin bantalku.
    Good job lah thor!

  12. menyentuh banget pas part jessi ketemu orang tuanya 😥 itu sedih banget sumpah sampe nangis aku -,-
    gpp koq klo mau berenti bikin ff lusica 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s