[Series] Calling Out — Chapter 11

calling out 4

Author : Yura Lin

Title : Calling Out

Genre: Angst, Family, Romance

Rating : PG 15

Length : Series

Main Cast :

  • EXO Kris
  • EXO Luhan
  • SNSD Jessica
  • Daniel Hyunoo

Note: aku ganti username. Baru nyadar dan mempertanyakan dari mana nama Lee Hyura berasal. Jadi aku mau balik ke usernameku di zaman batu.

=== Calling Out ===

Jessica menghela napas panjang. Bukan ini yang ia inginkan. Canda tawa, saling menjahili… bukan ini rencananya akan hubungannya dengan Kris. Jessica harus menyelesaikan ini secepatnya. Egois, ya dia memang egois. Dia terlalu larut dalam ketakutannya. Dia terbiasa untuk menghindari masalah sejak ia kecil. Berhubungan dengan orang dalam hubungan yang rumit bukanlah kesukaannya.

“Eonni,” panggil Seohyun.

Seohyun meletakkan coklat hangat untuk Jessica di atas meja seraya duduk di samping Jessica. Diletakkannya tangan kanannya di paha Jessica. Jessica memang sedang berada di rumahnya.

“Jangan terlalu banyak pikiran. Tidak baik untuk kehamilanmu yang rawan,” gumam Seohyun pelan.

Jessica melihat tangan Seohyun di atas pahanya sembari menghela napas panjang. Andai Kris melepaskan dirinya dengan mudah, mungkin Jessica tidak akan seperti ini. Ya, lagi-lagi Kris yang dijadikan alasan bagi Jessica.

“Lagi-lagi menyalahkan Kris oppa, eh?” tanya Seohyun seakan dapat membaca pikiran Jessica. “Aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku tidak mau kau mengamuk lagi.”

Jessica menjilat bibirnya. Tangannya meraih secangkir coklat panas. Jessica tidak meminum. Dia hanya ingin mencium wangi coklat itu. Namun itu malah membuatnya mual. Jessica mulai tidak suka dengan hal yang satu ini. Seohyun segera meraih cangkir itu ketika melihat raut wajah Jessica yang mulai aneh.

“Kau itu, sudah tahu tubuhmu itu sedang sensitif dengan segala macam bau-bauan. Masih juga mencari masalah,” omel Seohyun.

Lagi, Jessica tidak menjawab apapun. Ini agak aneh karena biasanya Jessica senang membalas apapun yang dikatakan oleh Seohyun. Jessica akan melakukan ritual diam ini jika sedang sedih.

“Ada sesuatu yang terjadi kepadamu, Eonni? Tidak biasanya kau pendiam seperti ini,” cemas Seohyun.

Ekspresi Jessica pun berubah sedih. Bibirnya direngutkan. Seohyun kenal sekali dengan kebiasaan yang satu ini. Jessica ingin menangis. Oh tidak!

“Booblue-ku belum dikembalikan oleh Kris, Seo~ Booblueku,” rengek Jessica.

Oh…

Seohyun meraih kedua bahu Jessica agar Jessica menghadap kepadanya. Dia memasang wajah serius, membuat Jessica mengerjap bingung.

“Eonni, apa tidak sebaiknya kau berhenti menuntut Kris oppa?” tanya Seohyun.

Jessica mengangkat alisnya bingung.

“Dia sudah cukup menderita belakangan ini dan semua itu karena kau memintanya untuk bercerai. Apa kau tidak bisa melihat bahwa sekarang dia sudah bersungguh-sungguh mencintaimu? Apa kau mau membiarkan keegoisanmu menghancurkan kebahagiaan yang sebenarnya kau akan dapatkan saat ini?”

Jessica memiringkan kepalanya. “Seo, bahasamu terlalu berat. Aku tidak mengerti.”

“Kau mengerti inti dari pertanyaan-pertanyaanku tadi.”

Jessica bangkit dari duduknya untuk berdiri di dekat jendela, tangannya tertumpu pada kusen jendela. Dia tidak mau membicarakan hal ini.

“Berhenti menyiksa Kris oppa dan dirimu sendiri. Kau selalu berusaha lari dari masalahmu. Untuk kali ini, coba pikirkan baik-baik daripada kau menyesal di masa depan.”

***

Ternyata pulang lebih awal terasa lebih menyenangkan bagi Kris. Setidaknya ia mempunyai waktu lebih untuk bermain bersama Daniel. Kebetulan akhir-akhir ini, dia memang kesulitan untuk menyisihkan waktu untuk keluarga. Pekerjaannya sudah mulai sampai ditingkat selanjutnya. Dia dan rekannya harus mengurus beberapa hal sebelum pembangunan dimulai. Perdebatan tentang bahan baku dan lainnya pun sudah dimulai sejak rapat kemarin siang dengan sang ahlinya.

Sesampainya di rumah, dia disambut oleh Daniel. Seakan tahu dirinya mencari keberadaan sang istri, Daniel pun memberitahunya bahwa Jessica sedang tidur di kamarnya. Kris mengangguk lalu pergi ke kamarnya dan mandi. Tubuhnya dipenuhi debu setelah seharian berada di area tempat dibangunnya apartemen.

Pintunya terbuka tiba-tiba dan Daniel berlari masuk ke dalam saat Kris baru saja selesai berpakaian. Daniel memanjat naik ke atas kasur Kris untuk duduk di sana.

Dad, aku ingin pergi ke sauna umum. Tadi di sekolah, Yoogeun menceritakan pengalamannya saat pergi ke sauna. Aku juga ingin!” pinta Daniel.

Kris berlutut di hadapan Daniel. Tangan lebarnya berada di atas lutut mungil Daniel.

“Kau tahu, ‘kan, Daddy sedang sibuk?” tanya Kris.

Daniel mengangguk.

Kris tersenyum dan melanjutkannya, “Jadi sepertinya kita tidak bisa pergi ke sana.”

“Bagaimana dengan Mommy dan Seohyun ahjumma?”

Mommymu tidak menyukai udara panas. Dia itu berdarah dingin. Seohyun ahjumma sedang sibuk dengan novelnya. Kau tidak mau mengganggunya, ‘kan?”

Daniel menggeleng. Bibirnya dikerucutkan, mirip sekali seperti Jessica jika sedang mengambek.

“Saat Daddy tidak sibuk lagi, Daddy akan membawamu kemana saja kau ingin pergi!”

Mata Daniel berbinar. “Janji?”

“Janji!”

Kris bangkit, menggendong Daniel lalu keluar dari kamarnya. Dia mendengar suara berisik dari dapur. Kris melirik jam dinding, sudah hampir waktunya makan malam. Ternyata pulang cepat juga hanya berdampak sedikit. Setidaknya dia bisa menikmati makan malamnya dengan tubuhnya yang sudah bersih. Biasanya dia sampai di rumah tepat di jam makan malam.

“Kau sudah mandi?” tanya Kris.

Daniel mengangguk.

“Kalau begitu, ayo ganggu ibumu!”

***

Jessica memijat keningnya pelan. Rasa lelah menyerangnya lebih parah dari biasanya setelah Kris dan Daniel memaksa ingin mengganggu, yang entah bagaimana, malah berakhir dengan menyusahkannya. Yang lebih menyebalkan, kedua manusia itu tidak terlihat bersalah. Mereka bahkan memakan makanan mereka dengan sangat lahap. Berbeda dengannya yang tidak terlalu ingin makan. Dia sibuk memikirkan perkataan Seohyun kemarin. Nyatanya, dia sudah memikirkannya selama 2 hari dan dia masih belum tahu keputusannya.

“Kenapa mukamu masam? Bukannya aku sudah mengembalikan Boobluemu?” celetuk Kris.

Jessica memutar matanya. “Booblue bukanlah satu-satunya alasan yang bisa membuatku bad mood, Tuan Wu.”

“Lalu apa yang membuatmu kehilangan nafsu makan, Nyonya Wu?” sahut Kris.

Wajah Jessica merona. Mendengar panggilan itu keluar dari mulut Kris ternyata berhasil membuat kupu-kupu di perutnya bangun dan berterbangan. Itu terasa… benar.

“Setelah makan, ada yang harus ku bicarakan denganmu,” ucap Jessica.

Kris tersenyum kecut. Mengingat masalah mereka beberapa hari terakhir ini, pikiran buruk menyerang otaknya. Sementara Daniel menatap orangtuanya penasaran. Inginnya bertanya, tapi jika ia bertanya, orangtuanya akan menjawab,

“Kau tidak boleh tahu. Masih kecil.”

Daniel cemberut memikirkannya. Dia bosan dianggap sebagai anak kecil.

Seperti permintaan Jessica tadi, Kris dan Jessica diam di dapur setelah Jessica selesai mencuci semua peralatan masak dan makan. Daniel berada di kamarnya karena Jessica sudah memberi peringatan jika Daniel berani keluar dari kamarnya sebelum diperbolehkan oleh Jessica.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Kris, tak ada niat sama sekali dengan sesi perbincangan kali ini.

Jessica menarik napas dalam. “Soal perceraian kita—“

“Dengar, Jess—“

“Aku ingin membatalkannya.”

Kris menatap Jessica tak percaya. “A-apa?”

“Aku ingin melanjutkan pernikahan ini.”

“Kau yakin?”

Jessica mengangguk. Kris tidak bisa menahan senyumnya setelah melihat itu. Lidahnya menekan dinding pipinya sebagai usaha menahan senyum.

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah pikiran. Tapi…” Kris bangkit dari duduknya untuk berdiri di samping Jessica. Diputarnya kursi Jessica hingga wajah Jessica menghadapnya dan hanya berjarak tidak lebih dari 10 sentimeter. “Aku bahagia mendengarnya.”

Jessica tidak membalas apapun melainkan tersenyum. Matanya membulat ketika tangan Kris menangkup wajahnya.

“Aku mencintaimu,” gumam Kris sebelum menempelkan bibir mereka berdua.

Jessica merengutkan bibirnya setelah Kris melepaskan bibirnya setelah beberapa detik. Wanita itu mendengus.

“Serius, Kris. Kau harus menghentikan hobimu menciumku tiba-tiba!” protes Jessica.

Alis Kris terangkat. “Wae? Kau kan istriku.”

Pipi Jessica pun merona karenanya.

“Hm, Kris?”

“Ya?”

“Aku ingin Haejanggook.”

“Sekarang?”

“Ya!”

Jessica membuat muka memelas sehingga Kris tak bisa menolak walaupun tubuhnya benar-benar lelah. Bagaimana pun, istrinya memang sedang hamil muda. Tidak cara lain selain mengabulkannya.

***

Kris dan Daniel melirik isi kamar Jessica dari sela-sela pintu. Mereka tidak berani membuka pintu lebar-lebar dan membuat Jessica menyadari keberadaan mereka. Mereka hanya berdiri di sana untuk memperhatikan wanita hamil itu sedang tersenyum seperti orang gila sambil mengelus perutnya. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mata Jessica beralih dari perutnya ke pintu. Dia menyadari keberadaan suami dan anaknya.

“Oh, kalian sudah siap?” tanya Jessica, mengerjap pelan.

Daniel dan Kris tidak menjawab. Mereka saling melempar pandang, saling menyalahkan dan berdebat tentang siapa yang membuat Jessica menyadari keberadaan mereka. Jessica hanya mengangkat alisnya bingung. Akan tetapi dia tidak terlalu memikirkannya. Senyumannya kembali menghiasi wajahnya. Hal itu sebenarnya sangat jarang sejak Jessica mengetahui kehamilannya.

“Daniel, kemari lah!” seru Jessica girang.

Anak kecil yang akan berumur 6 tahun bulan depan itu menuruti ibunya. Dia melangkah dengan langkah ragu. Sesampainya di hadapan Jessica, Jessica mengambil kedua tangan Daniel dan meletakkannya di atas perutnya. Mata bening nan polos itu pun menatap Jessica penuh penasaran.

“Adikmu bergerak tadi!” jelas Jessica penuh antusias.

Ya, kehamilannya sudah memasuki bulan ke-4, yang artinya Jessica sudah bebas dari siklus morning sickness. Juga, hampir 2 bulan Luhan tidak pernah muncul di kehidupannya lagi. Pria itu melakukan janjinya terhadap Jessica maupun Kris. Walaupun sudah 2 bulan menghilang, Daniel masih menanyainya beberapa kali. Walaupun sudah dijelaskan beberapa kali, anak kecil itu tetap menanyai tentang Luhan.

Selagi kedua manusia itu sibuk bertukar kata mengenai sang janin di dalam perut Jessica, Kris hanya bersandar di kusen pintu sambil tersenyum tipis. Hatinya lega. Kenapa? Karena dari sejak mengetahui tentang kehamilannya sampai kemarin, Kris merasa Jessica tidak menerima kehamilannya itu. Namun melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Jessica sekarang, semua keraguan Kris musnah.

Dad!” panggil Daniel. “Apa adikku sudah mau keluar?”

Kris mengernyit. “Belum. Masih ada beberapa bulan lagi hingga dia siap untuk keluar. Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Kata Mommy, dia bergerak. Bukan karena dia sudah bosan di dalam perut Mommy?” bingung Daniel sambil kembali menyentuh perut ibunya.

Jessica hanya terkekeh pelan mendengarnya. Kris menghampiri mereka kemudian menarik Daniel dan menggendongnya secara tiba-tiba sehingga anaknya berteriak lalu tertawa.

“Kau sudah siap, Jess?” tanya Kris, yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Jessica.

Mereka mempunyai janji untuk datang ke acara perayaan kelulusan Sehun yang diselenggarakan di akhir bulan Februari. Bisa dibilang bulan Februari adalah bulannya kelulusan. Daniel pun tidak terkecuali. Mulai bulan depan, ia resmi menjadi murid kelas 1 SD.

Jessica meraih tas tangannya dan bangkit. Baru saja ia mendapatkan keseimbangannya, Kris sudah memberikan kecupan di kening. Bisa Jessica lihat sinar-sinar kebahagiaan di mata Kris. Dia tersenyum kecil. Setidaknya dia berhasil membuat Kris bahagia setelah beberapa bulan ini, ia menyiksa batin suaminya. Jessica menyesalinya. Setidaknya dengan membatalkan niatnya untuk bercerai, ia rasa cukup untuk membayar segala keegoisannya selama ini.

***

Luhan sedang mengecek e-mail ketika pintunya dibuka dengan kasar. Siapa lagi pelakunya selain Victoria? Wanita itu menjadi hobi menghabiskan waktunya dengan Luhan setelah ia mengetahui masalah Luhan sebenarnya.

“Luhan, aku bosan~” rengek Victoria seraya menghempaskan dirinya di kasur Luhan.

Luhan memutar matanya jengah. Padahal dia sengaja mengerjakan pekerjaannya di rumah karena Victoria selalu merusuh di ruang kerjanya. Akan tetapi ternyata sepupunya itu malah datang ke rumahnya.

“Lalu aku harus berbuat apa?” sahut Luhan. “Sudahlah, jangan ganggu aku. Aku sedang mengurusi proyek baru. Jadi jangan ganggu aku!”

“Esh, hanya proyek kecil, ‘kan?”

Alis Luhan bergetar karena menahan kesal. Proyek kecil? Ya, memang. Tapi tetap saja Luhan menganggapnya sangat penting. Setelah peristiwa bertemunya kembali dengan kekasihnya yang ternyata sudah menikah dengan pria lain dan berujung dengan dia mengundurkan diri dari proyek besar tersebut, ia kehilangan kepercayaan keluarganya. Jika ia mendapatkan proyek lagi, bukankah itu bagus? Setidaknya ia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Apa Victoria tidak mengerti itu?

“Aku mengerti. Jangan marah. Aku tahu itu penting untukmu. Tapi aku yakin seorang Lu Han pasti bisa mengerjakannya dan hasilnya pasti sempurna!” tukas Victoria cepat.

Luhan hanya menggeleng pelan dan kembali menatap layar laptopnya. Di antara 3 e-mail yang baru masuk, ada 1 e-mail yang menarik perhatiannya. E-mail dari Kris. Tanpa buang waktu banyak, Luhan segera membuka e-mail tersebut.

From: kriswu@gmail.com
Cc: –
Subject: Daniel
Body text:

Seperti yang kau tahu, Daniel lulus dari TK bulan ini. Dia mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Dia anak yang pintar. Jessica membesarkannya dengan benar. Dan aku pikir kau harus tahu soal ini. Bagaimana pun, kau adalah ayah kandungnya. Aku menyertakan beberapa foto saat acara kelulusannya. Daniel benar-benar tampan. Dia memiliki gen yang sempurna.

Kris.

Luhan tersenyum lebar. Jarinya bergerak di atas touch pad untuk mengunduh semua foto itu. Kris mengirimkan banyak foto. Dengan penuh antusias, Luhan membuka foto-foto itu. Foto saat pakaian Daniel persis seperti ia lulus dari universitasnya, foto Daniel bernyanyi bersama teman-temannya, foto Daniel bersama Jessica dan lainnya. Namun tidak ada satu foto pun yang mengikutsertakan Kris.

“Woah! Anakmu tampan sekali, Lu!” pekik Victoria heboh, yang tiba-tiba sudah berada di samping Luhan. “Memang cocok menjadi keponakan seorang Song Qian. Wajahnya mirip denganmu! Ya ampun, jika anak itu ada di depanku, pasti sudah ku peluk erat-erat!”

Untuk pertama kalinya, Luhan merasa senang mendengar segala kehebohan Victoria.

“Bukannya Daniel lebih mirip dengan Jessica?” tanya Luhan bingung.

Victoria menatap foto Daniel yang sedang duduk di pangkuan Jessica lalu menatap wajah sepupunya.

“Sebenarnya kalian mirip. Aku tidak bisa mengatakan Daniel itu lebih mirip denganmu atau Jessica,” jawab Victoria.

Luhan tersenyum kecil mendengarnya.

***

Ini adalah hari pertama Daniel masuk sekolah tanpa seragam sailornya dan sehari sebelum ulangtahunnya. Anak kecil itu terus-menerus berlari kesana-kemari dan membuat Kris pusing sedangkan Jessica sibuk di dapur untuk mengurus sarapan mereka.

“Hup!”

Kris mengeluarkan helaan lega ketika berhasil menangkap malaikat ciliknya. Daniel tertawa senang sambil berusaha terlepas dari pelukan Kris tapi Kris tidak melepaskannya dengan mudah sekarang karena Jessica sudah berteriak dari dapur bahwa sarapan sudah siap. Kris membawanya ke dapur dan mendudukkan Daniel di sampingnya.

“Bagaimana rasanya ke sekolah tanpa seragam?” tanya Jessica sambil memberikan Daniel semangkuk nasi.

Daniel meraih sendoknya. “Seperti akan jalan-jalan.”

Kris tertawa mendengarnya sedangkan Jessica hanya tersenyum tipis. Dia menarik kursi dan duduk secara perlahan. Perut sudah mulai besar di bulan ke-5 dan dia harus hati-hati karena janin di perutnya sudah memiliki nyawa.

“Jam berapa kau berangkat ke rumah sakit?” tanya Kris.

Sendoknya sudah hampir memasuki mulut, namun Jessica mengembalikannya ke mangkuk untuk menjawab pertanyaan Kris, “Jam 3 sore setelah Miyoung selesai dengan segala urusannya. Tidak perlu mengantarkanku. Aku akan pergi bersama Miyoung. Oh iya, kau harus pulang cepat hari ini! Malam ini ada acara peluncuran novel terbaru Seohyun. Mengerti?”

Kris sebenarnya ingin protes karena ia juga ingin tahu perkembangan anaknya, anak pertamanya. Namun dia sadar ia tidak akan menang melawan Jessica.

“Aku tidak bisa janji. Seperti yang kau tahu, pembangunan sudah dimulai. Aku harus mengurus beberapa hal,” balas Kris.

Jessica cemberut. “Terserah!”

Kris tersenyum kecil melihat Jessica mengambek.

“Tapi akan ku usahakan,” tambah Kris.

“Kalau begitu hati-hati.”

***

Kedatangannya disambut oleh Yixing. Pria itu menjelaskan bahwa Minseok mengurus urusan di kantor sehingga hanya dia dan Kris lah yang memantau lapangan. Bangunan apartemen itu baru berupa fondasi-fondasi dan rangkaian inti lainnya dan baru sampai 4 tingkat. Sambil berjalan memasuki area itu, Yixing menjelaskan perkembangan pembangunan. Seorang pekerja menawarkan pelindung kepala kepada Yixing dan Kris namun Kris menolaknya.

“Pelindung kepala itu penting,” komentar Yixing sambil memakai pelindung kepala.

Kris terkekeh. “Tenang saja. Tidak akan ada beton terlempar mengenai kepalaku, ‘kan?”

Yixing menggeleng kepala. Walaupun Kris hanya becanda, dia tetap tidak senang dengan jawaban Kris. Tapi dia tidak memaksa. Yixing membuka gambar struktur apartemen itu lalu memperhatikan bentuk yang sudah dibuat oleh para pekerja itu. Kris tertawa melihatnya.

“Kau masih membawa itu? Kenapa tidak kau scan saja?” tanya Kris.

Untuk ukuran seorang arsitek, Kris memang sangat santai. Dia hanya membawa laptop dan mengalungkan sebuah flashdisk. Sebenarnya seorang seniornya yang mengajarkannya hal itu. Itu terbukti lebih efektif dibandingkan membawa gulungan-gulungan kertas.

Yixing tersenyum. “Aku lebih suka cara manual.”

Okay…”

Mereka memperhatikan sekitar dan memutuskan untuk mencoba melihat pekerjaan di setiap tingkat bangunan. Ketika sampai di tingkat ketiga, mereka harus sedikit berhati-hati. Yixing tidak hentinya menyuruh Kris memakai pelindung kepala sehingga pada akhirnya, Kris mengalah. Baru saja ia mau memakai pelindung kepala, seorang pekerja tidak sengaja menyenggolnya hingga Kris terjatuh. Yixing berhasil menangkap tangan Kris namun ia tidak siap untuk menahan berat tubuh Kris sehingga mereka berdua terjatuh dari tingkat 3 ke tanah.

***

Miyoung akan memasuki bulan ke-7. Ia harus ekstra hati-hati jika tidak mau bayinya lahir lebih cepat dari yang seharusnya. Ini pertama kalinya bagi Miyoung sedangkan Jessica sudah pernah menjalaninya dan tahu harus apa. Walaupun sudah diberitahu olehnya, Miyoung tetap bersikukuh dengan kepahamannya. Karena itu, Jessica harus bersabar dengan segala keleletan Miyoung.

Jessica menghela napas lega setelah ia berhasil duduk di kursi ruang tunggu. Miyoung duduk di sampingnya dengan wajah cemberut akibat ditinggal Jessica setelah daftar ulang tadi. Tapi Miyoung tidak mau membahasnya.

“Jadi, apa kau akan melakukan USG?” tanya Miyoung.

Jessica mengangguk. “Yap. Aku ingin tahu apa perkembangannya normal atau tidak.”

“Kau juga bisa tahu jenis kelamin anakmu!” seru Miyoung girang. “Kalau anakmu laki-laki, bagaimana jika kita jodohkan?”

Jenis kelamin janin Miyoung memang perempuan. Wanita itu girang saat mengetahuinya dan menata kamar bayinya serba pink. Dia dan Minseok memang sudah memiliki perjanjian soal warna anak mereka. Jika perempuan, maka warnanya seperti Miyoung, yaitu pink. Sementara jika laki-laki, maka Minseok mau warnanya adalah biru atau hijau.

Jessica menggeleng pelan sambil mendecak. “Bukannya kau ingin menjodohkannya dengan Daniel?”

Miyoung memainkan jarinya di dagu. “Perbedaan umur mereka terlalu jauh. Lagipula aku yakin saat anakku sudah besar nanti, pas dia menyukai orang yang lebih muda darinya. Lebih muda 2 bulan juga tak apa.”

Jessica tersenyum geli. Dia mengelus perutnya ketika merasakan pergerakan lagi. Rasanya menyenangkan karena janinnya memang tidak terlalu aktif, tidak seperti Miyoung.

“Nyonya Kim,” panggil sang suster.

Miyoung bangkit lalu menarik tangan Jessica. Ia ingin bersama Jessica namun temannya itu menggeleng.

“Aku ingin ke toilet,” kata Jessica.

Miyoung mengangguk. “Nanti langsung masuk saja, ya.”

Kini Jessica yang mengangguk. Dia bangkit dengan perlahan setelah Miyoung masuk ke ruang praktek dokter. Toiletnya tidak terlalu jauh dari tempat duduknya tadi. Langkah Jessica terhenti ketika melihat beberapa suster berkumpul di depan pintu masuk. Dua buah brangcart patient diturunkan dari ambulans dan para suster itu pun segera membawanya ke emergency room.

Jessica mengambil langkah mundur saat keseimbangannya sedikit oleng hingga punggungnya menabrak dinding rumah sakit. Kepalanya pusing seketika melihat siapa orang yang terlentang di atas brangcart patient tersebut. Ia menutup mulutnya, tak percaya.

“Kris…”

***

Luhan memperhatikan wajah Victoria yang menampakan ekspresi terkejut. Ia yakin berita yang ia terima dari sang penelepon bukan lah hal yang bagus. Dia segera menahan tubuh sepupunya yang kehilangan keseimbangannya untuk berdiri. Tubuhnya menggigil hebat.

“Apa yang terjadi?” tanya Luhan.

Victoria tidak menjawab. Mata Luhan tertuju pada handphone Victoria saat mendengar masih ada suara dari sang penelepon. Luhan segera mengambil alih ponsel itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Luhan kini kepada sang penelepon.

“Tuan Yixing…”

“Ya, ada apa dengan Yixing?” sela Luhan, tak sabaran.

“Dia mengalami kecelakaan bersama rekannya di lapangan,” lanjut sang penelepon. “Mereka berdua berjatuh dari tingkat tiga. Yixing memakai pelindung kepala sehingga dia tidak separah rekannya yang menolak memakai pelindung kepala.”

Tubuh Luhan menegang. Rekan yang dimaksud pasti di antara Kris dan Minseok.

“S-siapa nama rekannya?” tanya Luhan terbata-bata.

“Kalau tidak salah namanya Kris.”

Ponsel itu diremas kuat-kuat oleh Luhan. Dirinya mencemaskan Jessica dan kehamilannya. Dia segera membuang pikirannya tentang Jessica. Tidak seharusnya dia malah mengkhawatirkan orang lain di saat sepupunya sendiri mengalami kecelakaan.

“Apa Yixing baik-baik saja?” tanya Luhan lagi.

“Belum diketahui. Dia masih berada di dalam emergency room.”

Setelah itu, Luhan menutup telepon dan memeluk Victoria erat. Victoria memang tipe kakak yang lebih senang mengekspresikan kasih sayang kepada orang lain daripada adiknya sendiri. Tapi tidak seorang pun ragu dengan rasa sayangnya kepada Yixing.

“Yixing memakai pelindung kepala. Kemungkinan dia akan baik-baik saja,” ujar Luhan untuk menenangkan Victoria.

“K-kau yakin?”

“Ya.”

Victoria tidak membalas. Dia melepaskan pelukan Luhan dan meraih tasnya lalu meninggalkan kamar. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke dalam kamar dan berdiri di hadapan Luhan.

“Luhan, kau ingin ikut bersamaku ke Korea?” ajak Victoria.

=== Calling Out ===

CHAPTER SELANJUTNYA ADALAH ENDING! DIJAMIN PANJANG BANGET BANGETAN! DIMOHON UNTUK MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK KEMUNGKINAN TERBURUK DAN BERSYUKURLAH SINETRON ALAY INI AKAN SELESAI. MUAHAHA *maaf capslock ketiban piano -,-*

Maaf ya lama. Beneran deh akhir-akhir ini aku lagi melayang jauh keluar dari dunia per-ff-an. Jangankan buat ff, baca ff pun males pake banget. Temen-temen authorku sampe protes karena aku udah jarang komen ff mereka. Gimana mau komen? Baca aja kagak. Cuma bisa bilang maaf lah (_ _)>

Kalau ada yang nanya kapan last chapter di post, nanti tunggu pengumuman tentang snmptn dirilis oleh pemerintah .___.v hehe /dibakar/

This is Yura and CAO~

Advertisements

38 responses to “[Series] Calling Out — Chapter 11

  1. Hub jessica n kris dh mulai membaik n jessica dh mulai mencintai kris dan mereka ga cerai. Kris kecelakaan…jgn sampe meninggal. Sedih bgt klo kris hrs meninggal n berpisah dgn jessica. Ya lanjut ya, harus happy ending ya n jessica sama kris aja ya.

  2. suka banget sama moment krissicanya makin so sweet… tapi di di akhir ngeness banget huaaaa krisnya jangan mati… kasian sama jessica sama daniel nya..
    happy ending ajh fara yh jangan sad ending …
    ditunggu perilisan last chapternya hehe

  3. aku sempet mikiri di awal sampe tengah “kok ceritanya santai banget gini ya” and then di endingnya gak keduga banget kalo kris bakal sekarat gini. bukan calling out kalo tanpa masalah kali ya haha

    waktu tau ada konflik baru dikira mau diperpanjang lagi, tapi ternyata udah mau tamat;___;
    disini karakternya kris aaah bikin terharu. waktu dia ngirim foto daniel ke luhan, kamu ngejelasin foto-foto yang dikirimin dan gak ada satupun foto kris, ini penting banget kalo kataku. kamu mungkin emang gak ngejelasin detailnya, tapi bagian pentingnya kamu sebutin. good point! karena karakter kris yang baik, aku jadi punya firasat buruk soal endingnya.

    di last part, aku mau tau kisah sehun-seohyun, jujur aku masih agak gak ngeh sama karakternya sehun huehe. dan tadi di kepalaku malah muncul kalo sehun ini baru lulus SMA-_-
    oke, ditunggu tiga minggu lagi. fighting 😀

    • sebenernya pas buat cerita awal, aku juga mikir gitu. kalo santai-santai aja, kayaknya buka tipe galling out banget. haha 😆
      karena ada konflik ini, nanti semua konflik selesai. makanya next chapter adalah last chapter. hoho
      ya ampun, tau ga? aku bahagia loh ada yang menyadari point apa yang pengen aku sampaikan. kayaknya ga ada yang sadar akan scene email itu selain kamu. terharu aku :’)
      sebenernya munculin sehun adalah hal yang aku takutin. soalnya aku tuh sampe sekarang pun ga berhasil membuat karakter seorang oh sehun pacarnya seo joohyun. makanya jarang aku munculin. tapi terpaksa terkadang aku munculin karena banyak reader yang minta ;;___;;

    • yah fara jahat banget yaaa-_-
      udh lg dibikin seneng jess sm kris nya happy, kenapa jadi begitu? T________T
      inimah prediksi happy ending versiku nya makin nipis T_____T
      di chap ini gaada sehun seo yaa~ kangen padahal sm mereka berdua.-.
      gapapa deh endingnya panjang juga, yg penting happy ending yaaaa far
      aku doain snmptn nya sukses!! aminnnnn^^

      • ga telat hoy -______- kamu masih dibilang cepet kok ‘-‘)b
        SEORANG FARA MEMANG JAHAT. APALAGI SAMA KRIS WU. HAHAHAHA /digebukin/
        wah maaf ya sudah berbelok dari prediksimu ._.v
        last chapter, semua couple muncul kok ^^
        makasih makasih :*

  4. Uwaaaa udah lamaaa nunggu epep ini akhirnyaaaaahhh…
    Astagahhhhh disaat sica udah g’minta cere’ kris malah kecelakaan..
    Ottkheeeee (˘̩̩̩^˘̩̩̩)

  5. “mommymu tidak suka udara panas. Dia itu berdarah dingin.” → *ngakak XD
    Next chapter nunggu snmptn? Berarti tgl 28? Okedeh aku tunggu ^^

  6. yap. aku suka bagian “mommymu tidak suka udara panas. Dia itu berdarah dingin.” ngga nyadar apa ya si kriss. tampangnya dia juga berdarah dingin…..
    hore….. akhirnya ending bakalan hansica….. *prok prok prok*
    kalo sad ending kayanya lebih seru deh daripada happy ending.
    sebenernya yixing itu siapa sih? kakanya victoria ya?

    • wadaw aku ngakak di warnet XD kris mukanya buas. untung daniel bukan anaknya kris. kalo anaknya kris, nanti besarnya kayak kris lagi. aaaa tidakkkk /digetok kris/
      waduh entah lah .__.
      yixing itu adiknya victoria. kan pernah disebut pas victoria pertama kali muncul di calling out ._.

  7. pokoknya jess harus sama kris!!!!! *ngancem* hahaha….
    duh,,,kris bandel sih, udah dibilangin harus pake penutup kepala 😦
    lanjutannya jangan lama2, chingu!!!! contact aku segera pokoknya hehe

  8. wah akhir’a stelah pnantian sekial lma,di publish jg lnjutn part’@?!”””””
    awal’@ emg sweet bget,tp lhat part akhir’@ q tkut lw kriss akn mnigglkn jessica,apalg dlm keadaan hamil,apakh akhir’a sm luhan…
    kriss…. andweyo…

    next chapter thor…

  9. huaaa…… Faraaaa~
    pleaseeee jgn buat Kris mati napaa? ToT

    udah bgus bahagia2 gt masak kamu msh tega mau memisahkan mereka???

    aku g bisa komen panjang, tp over all kren…. tp nyesek bgt bacanya kenapa mesti saat2 kyk gini? T_T

  10. authorrr tanggung jawab gue jadi ngikutin lu suka ngeliat si kris kesiksa -.-” padahal tadinya gue lope lope sama dia . tapi jangan nyiksaa krisss kaya gini juga eoonn faraa , jangan bikin dia mati pleaaseee kesian nanti danny sama sica sama gue (anak yang diperut sica eonni) *ditampar author.
    pokoknya author bebas nyiksa kris tapi jangan sampe dia mati ya thor pleaasee gatega sama kris saya , di part ini dia baik banget apa lagi yang pas ngirimin e mail foto2 danny sama sica sampe terharu gue eon .

    next chap ditunggu kalo bisa secepatnya ya eon ._. udah penasaran sama nasib semua cast .
    fighting fighting pokonya ditunggu 😀

  11. Annyeong! Aku orang baru ._. sebenernya bukan readers baru sih, aku sering baca karya-karya mu unnir! kamu author favorite aku di exoshidaefanfic, sampai akhirnya aku menemukan blog pribadi mu unnir XD hehe maaf banget baru coment, tapi aku bakal bayar semua utang ku untuk coment ff-ff mu. Mianhaeyo unnir 😀 *bow berkali-kali/?*
    Aku cuma mau bilang AKU NUGGU LAMA BANGET UNTUK NGELIAT KELANJUTAN FF INI ;AAAAAAA; ._. kenapa part selanjutnya ending? 😦 Klao kris nya mati gapapa deh ._. nanti sica sama luhan/? ._.v unnir sekali-kali bikin novel ff dong 😀 kalo boleh saran cast nya hansica ya ._.v biar jadi firts novel exoshidae (mungkin/?)
    Fighting unnir! Semangat ya, aku tunggu chapter sealnjutnya :3 suskses terus unnir 😀
    Maaf banyak ngomong ._.v

  12. Kris…. jangan sampe mati…. Kasihan Kris kalo Kris ntarnya mati. Masak baru aja bisa ngerasain kebahagiaan udah mati gitu aja. Apalagi kan dia belum sempat nepatin janjinya ke Daniel kalo dia punya waktu senggang ntar dia bakalan ngajak Daniel kemanapun Daniel mau… :'(. Kris jangan mati dooong

  13. kris senengnya berlebihan sampai dikasih tahu aja ngeyel banget,tuhkan akibatnya. tapi kenapa harus sama yixing jatuhnya? kasihan vic onnie kan? apa ceritanya bakalan jadi sad ending? yang penting semangat buat authornya

  14. aduuhh,,kaciaan sica eonni lagi hamil malah kris kna musibah hikz..
    di tunggu happy endingnya thor..zemangaad ea hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s