Begin With A Mistake – Chapter 1

Author: Yura Lin

Title: Begin with A Mistake

Genre: Romance

Rating: PG-15

Main Cast: EXO Kai – SNSD Jessica

Note: WARNING! Awal kisah bakal ada kata-kata yang seharusnya tidak boleh dibaca oleh anak kecil.

=== Begin With A Mistake ===

Pertama kali keluargaku menempati rumah pertama kami di Korea Selatan ini, aku hanya mengunci diriku di dalam kamar. Aku bukan orang yang mudah berteman. Saat aku berhasil memiliki banyak teman, orangtuaku malah membawaku pergi. Adikku adalah kebalikan dariku. Dia mungkin arogan, keras kepala dan bossy. Anehnya, sore hari di hari pertama kami, dia sudah berhasil bermain dengan seorang anak kecil di depan rumah. Seminggu kemudian, dia berhasil membawa banyak anak kecil untuk bermain di rumah dan menjadi pengikutnya.

Seperti sore ini, mereka bermain di taman depan rumah. Adikku dan teman laki-lakinya menjadi pengantin, seorang bocah yang memakai kacamata memegang sebuah buku di antara sepasang pengantin, gadis manis yang rambutnya dikuncir dua itu menebarkan bunga dan sisanya menjadi penonton. Aku bingung, bagaimana bisa anak-anak itu memainkan hal yang sakral seperti itu?

Aku hanya menatap pemandangan itu dari balkon sambil mengasihani diriku sendiri. Betapa beruntungnya Soojung mudah mendapatkan teman dengan perilaku menyebalkan seperti itu. Aku pun bertanya-tanya apa yang membuatku tidak bisa cepat mendapatkan teman seperti adikku. Apa aku harus menjadi searogannya? Sekeras kepala Soojung?

Aku mengerjap ketika bocah laki-laki yang menjadi pasangannya Soojung itu melirikku dan menyengir lebar. Menyadari tatapan bocah itu mengarah kepadaku, Soojung memukul lengan bocah itu. Bisa ku bilang bocah itu kesakitan. Terlihat dari wajahnya. Aku mendengus seraya masuk ke dalam kamar.

***

Hari pertama masuk sekolah memang tidak seburuk pikiranku. Aku cukup terkenal dengan fakta aku berasal dari benua Amerika. Jam istirahat, aku dikelilingi hampir seluruh anak di kelas itu sambil menanyakan berbagai macam pertanyaan tentang Amerika. Pulangnya, beberapa teman baruku mengajakku pulang bersama. Unik, karena aku terbiasa pulang bersama temanku tapi dengan bus sekolah di Amerika. Akan tetapi, di sini aku bisa pulang sendiri dengan bus umum. Untung ibuku sudah mengajarkan cara naik bus beberapa kali.

Hari kedua masih sama dengan hari pertama. Itu terus terjadi hingga sebulan kemudian, aku pun kembali sendiri. Aku akan pulang bersama dengan seorang teman jika bertemu di bus. Berbeda sekali dengan Soojung yang temannya semakin banyak saja. Tapi tidak apa. Aku malah menyadari bahwa sendiri lebih cocok denganku.

Siang itu, sepulang sekolah, aku memutuskan untuk bermain di taman setelah meletakkan tasku di teras rumah. Tidak ada teman sepantaranku. Hanya ada anak kecil yang umurnya hampir sama seperti Soojung.

“Jogiyo.”

Aku menoleh dan terkejut melihat seorang bocah laki-laki duduk di ayunan di sampingku. Dia menyengir lebar yang membuatku teringat dia adalah bocah yang sama dengan bocah yang menjadi pasangan Soojung saat mereka membuat pernikahan palsu beberapa minggu yang lalu.

“Kau pasti kakaknya Krystal, ‘kan?” tanyanya.

Aku mengangguk mendengar nama Inggris adikku disebut olehnya.

“Jeshiya?”

Aku menggeleng tak setuju. “Yang benar adalah Jessica.”

“Jeshika?”

“Logatmu aneh. Jes.. Sica.”

“Jeshika.”

Stop! Kau bisa memanggilku Sooyeon. Kau bisa mengucapkan Sooyeon dengan benar, ‘kan?” kesalku.

Dia terkekeh pelan. “Sooyeon noona, namaku Jongin. Kim Jongin.”

Aku mendengus. “Terserah.”

“Namamu bagus, Sooyeon noona.”

Wow, kecil-kecil sudah pandai merayu rupanya.

Beberapa tahun kemudian.

Aku mengerjap melihat Jongin di depan rumahku. Tidak seharusnya ia berada di sini karena jam sekolah belum selesai, berbeda denganku yang kebetulan kelasku hari ini selesai sebelum matahari tepat di atas kepala. Artinya pemuda itu bolos.

Sejak hari itu, entah kenapa aku dekat dengan bocah itu. Dia selalu bermain ke rumahku dan menggodaku dengan panggilan “Jeshika” yang selalu berhasil membuat kepalaku panas. Terkadang dia datang untuk mengeluh tentang hidupnya. Aku tidak pernah menjadi pendengar yang baik tapi dia tetap datang kepadaku untuk menceritakan apa yang terjadi saat aku tidak bersamanya. Terserahlah selama dia selalu menuruti kata-kataku.

“Kau bolos?” tanyaku tanpa perlu menyapa lebih dulu untuk berbasa-basi.

Jongin menggeleng. “Aku tidak bolos. Aku kan sudah berjanji kepadamu untuk tidak pernah bolos lagi.”

“Lalu?”

“Orangtuaku menyuruhku untuk tidak sekolah hari ini.”

“Kenapa?”

Jongin menundukkan kepalanya. “Aku dan ibuku pindah ke apartemen hari ini.”

Aku memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Soojung selalu bercerita kepadaku betapa nakalnya ia di sekolah tapi di depanku dia selalu seperti anak kucing. Perbedaan umur sekitar 5 tahun membuatku tidak pernah satu sekolah dengannya. Tidak ada kesempatan melihat tingkah lakunya di sekolah.

“Katakan kepadaku apa masalahmu sekarang. Kau tidak akan seperti anak kucing kehilangan induknya jika tidak mempunyai masalah besar,” ucapku seraya menghela napas berat.

“Orangtuaku akan bercerai, Sooyeon noona.”

Oh…

“Kau mau masuk? Kita bicarakan ini di kamarku,” ajakku.

Dia menggeleng. “Tidak perlu. Aku harus segera kembali untuk membantu ibuku. Semuanya harus segera selesai sebelum ia kembali terbang ke Thailand untuk pekerjaannya.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Melihat dia mulai menegakkan badannya dan memberikanku cengiran khasnya, aku tahu aku harus mengatakan sesuatu.

“Aku akan mampir ke tempatmu jika sempat,” kataku.

Alis kanan Jongin terangkat bingung. Tidak biasanya aku lah yang berniat datang ke tempatnya jika tidak karena dipaksa olehnya. “Jeongmal?”

“Ya. Asal banyak makanan dan tempatmu tidak berantakan.”

“Aku berjanji tidak akan membiarkan pasokan makanan habis dan ada debu sedikitpun di apartemenku. Datanglah jika sempat.”

Dia mengecup pipiku sembari melewatiku sebagai ‘say goodbye’nya. Tanganku segera mengelap pipiku sambil menggerutu tentang kecupan itu, seperti biasa.

“Eonni, apa itu Kai?”

Aku terkejut melihat adikku berdiri di depanku sekarang. Bagaimana bisa? Apa dia bolos? Tapi dia adalah murid kebanggaan sekolahnya. Aku memijat keningku.

“Eonni, apa itu Kai?” ulangnya.

Aku menggeleng pelan. Kai? Nama apa itu? Aku bingung kenapa orang-orang memanggil Jongin dengan nama itu jika Jongin terdengar lebih manis. Kai mengingatkanku kepada anime Jepang. Biasanya nama Kai untuk yang berkarakter dingin dan menyebalkan. Totally a jerk. Yah mungkin cocok dengan Jongin jika memikirkan bagaimana dirinya di sekolah menurut cerita Soojung.

“Ya, itu Jongin,” jawabku malas.

“Untuk apa dia datang ke sini? Apa dia bilang kenapa dia tidak masuk sekolah hari ini?” tanyanya. Wajahnya menunjukkan betapa ia mencemaskan Jongin. Aku tidak heran sih. Dia memang menyukai Jongin. Heh, selera Soojung lumayan buruk.

“Dia datang ke sini untuk memberitahuku bahwa hari ini dia tidak masuk karena keluarganya pindahan,” jawabku seperlunya.

Soojung memutar matanya. “Siapa kau baginya? Ibunya? Untuk apa pula dia memberitahumu?”

Aku mendesah. “Seperti kau tidak kenal siapa Jongin saja.”

***

Aku menarik tangan pemuda sialan itu keluar dari kantor polisi. Dia masih mempunyai orangtua tapi dia malah memberikan nomorku kepada pihak polisi untuk meneleponku dan menyuruhku untuk menjemputnya. Menyebalkan.

“Aku lapar. Ayo makan,” ajaknya sambil menarik tanganku saat aku hendak menariknya ke halte terdekat.

WHAT? Dibandingkan dengan makan, masih ada hal penting yang harus kita bicarakan, Kim Jongin!” protesku.

Dia tidak memberikan balasan dan tetap menarik tanganku walaupun aku sudah memberontak. Dia menarikku masuk ke dalam taksi dan memberitahu supir taksi tujuannya. Dia melirikku yang sedari tadi menggertakkan gigi sambil melipat tangan di dada.

“Heh.. ada apa dengan wajahmu itu? Jelek sekali,” komentarnya.

Aku memutar mataku. “Well, aku tidak akan sejelek ini jika bukan karenamu. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan terlibat tawuran antar sekolah?”

“Sahabatku dikeroyok. Aku tidak bisa diam saja.”

Aku mempertajam tatapanku kepadanya. Aku bisa mencium kebohongan. Dia menyengir seperti biasa.

“Baiklah, aku bosan dan penasaran. Selama ini aku tidak pernah ikut karena aku sudah janji kepadamu sejak kecil. Jadi aku ikut,” ujarnya.

Ya aku membuatnya berjanji untuk tidak pernah ikut tawuran saat aku masih di SMA. Teman-teman laki-lakiku datang ke sekolah dengan wajah babak belur. Pemandangan yang mengerikan. Aku jadi tidak bisa konsentrasi belajar seharian. Saat pulang, aku bertemu dengan Jongin dan langsung melarangnya untuk melakukan hal itu.

“Hm?” Aku menatapnya curiga.

“Apalagi? Aku sudah jujur!”

Aku meniup poniku. “Sudah berapa kali kau mengingkari janjimu kepadaku minggu ini? Kau mau memberontak kepadaku juga? Kau mengingkari janjimu kepadaku hanya untuk aksi protesmu kepada perceraian orangtuamu? Baik, jangan datang kepadaku lagi!”

Jongin terkekeh mendengarnya, membuatku semakin panas.

“Apa? Apa yang lucu?” kesalku.

Dia menggaruk pipinya. “Lucu membayangkan aku tidak akan mendatangimu lagi. Itu hal yang mustahil sepertinya.” Kemudian wajahnya menjadi suram. “Lagipula aku tidak protes sama sekali. Bercerai atau tidak, tidak ada efeknya denganku. Bahkan ku kira mereka sudah bercerai dari sejak aku kecil.”

“Tidak mustahil. Aku pastikan kau tidak akan bisa menemuiku lagi,” balasku cepat dan mengabaikan persoalan keluarganya.

Jongin menoleh cepat. “Noona~”

Jongin membawaku ke kafe yang biasa kami datangi.  Kami memesan menu biasa dan berbincang-bincang seakan beberapa menit yang lalu Jongin tidak ditahan dan aku harus menebusnya jika ingin mengeluarkannya. Dia menceritakan kehidupannya di sekolah. Dari gadis-gadis yang mengejarnya sampai para guru yang hobi menghukumnya. Dan aku akan selalu menjadi pendengar yang tidak baik. Perhatianku selalu tertuju kepada hal lain. Namun dia tidak peduli. Dia tetap bercerita dengan asiknya.

Pulangnya, kami kembali menggunakan taksi sebagai transportasi kami. Aku tidak peduli selama Jongin yang membayar semuanya. Bisa dibilang Jongin yang selalu membayarkan apapun saat kami menghabiskan waktu bersama. Bahkan keperluanku yang seharusnya dipenuhi oleh orangtuaku pun Jongin yang membelikannya. Dengan ayahnya yang bekerja sebagai politikus dan ibunya yang mempunyai banyak butik yang tersebar di sekitar Asia, Jongin tidak mempunyai batasan uang jajan perbulannya.

“Iya, aku janji ini adalah terakhir kalinya aku ikut tawuran. Apa aku harus mengulanginya sampai 9284 kali?” desah Jongin.

“Pastikan kau benar-benar menepati janjimu karena aku sudah sibuk dengan tugas akhirku. Jika kau tawuran dan tertangkap lagi, aku tidak akan pernah datang untuk membantumu. Aku harus fokus agar aku bisa lulus tahun ini. Kau dengar aku?” ceramahku.

Jongin mengangguk berkali-kali dengan wajah tidak niat. Aku menghela napas panjang. Wajahnya selalu seperti itu. Aku tidak pernah tahu apa dia benar-benar berjanji atau lagi-lagi hanya janji palsu.

Segera setelah aku berbalik untuk masuk ke dalam rumah, tanganku ditahan oleh Jongin. Aku memberikan tatapan kesal kepada Jongin.

“Tidak ada ucapan ‘good night’? Atau ‘have a nice dream’? Pelukan selamat tinggal?” protesnya.

Aku memutar mataku. “What are you? A baby who I have to take care of? Cepat masuk! Supir taksi sudah menunggu terlalu lama.”

Dia mendesis kesal. Dengan gerakan cepat, dia menarik tanganku, merendahkan kepalanya dan menciumku bibirku. Aku terbelalak. Ini pertama kalinya ia berani melakukan hal lebih dari kecupan singkat di pipi. Saat aku sadar, bocah sialan itu sudah berada di dalam taksi.

“Kalkke, Noona~”

Aku menggertakkan gigiku. “Yah, you jerk! Get your ass down here!”

Terlambat. Taksi sudah berjalan meninggalkanku yang sibuk mengomel sambil menendang udara kosong. Aku masuk ke rumah dengan perasaan kesal. Baru saja aku memutar kenop pintu kamarku, pundakku ditepuk oleh adikku. Aku mendelik tajam.

“Apa? Aku sedang kesal sekarang! Jangan ganggu aku!” kesalku.

Soojung menggigit bibirnya, “Aku melihat Kai menciummu.”

Aku pun tersadar. Perasaan bersalah perlahan menyusup masuk ke dalam hatiku. Lain kali, aku tidak akan membiarkan Jongin menyentuhku sedikit pun saat berada di dekat rumahku. Aku berjanji!

***

Apa yang ku bilang! Janji hanyalah sebuah kata-kata kosong bagi Jongin sekarang. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa senakal ini. Dulu, dia tidak pernah sekali pun berani mengingkari janjinya kepadaku. Dia selalu menurutiku. Ya, dia anak yang manis walaupun cengirannya selalu membuatku kesal.

Awalnya aku tidak peduli karena aku disibukkan dengan proyek akhirku. Tapi melihat wajah Soojung yang akhir-akhir ini selalu sedih membuatku geram. Betapa aku berharap Soojung membuka matanya lebar-lebar dan sadar bahwa Jongin bukanlah orang yang pantas untuk disukai oleh gadis sesempurna dirinya—ya, terlepas dari sikap arogan, keras kepala dan bossy.

“Kali ini apa lagi yang diperbuat olehnya?” tanyaku.

“Dia ditangkap karena kebut-kebutan semalam. Dia tidak membawa satu pun kartu identitas. Jadi dia dianggap masih di bawah umur dan harus ada yang menebusnya,” jelas Soojung. “Oh astaga, dia membunuhku secara perlahan kalau begini…”

Aku mengangguk mengerti. “Cepat telepon saja orangtuanya.”

Soojung menggeleng cepat. “Tidak mungkin! Ayahnya kan politikus. Bisa hancur image ayahnya jika muncul di kantor polisi untuk menebus Kai yang sudah ditangkap sampai 3 kali bulan ini. Ibunya masih di India.”

“Kalau begitu, biarkan dia menginap di kantor polisi sampai kapok!”

“Eonni~”

Aku mendecak. “Apa?”

“Ayolah~ jangan kejam begitu kepadanya. Hanya kau yang bisa diandalkan soal ini!” mohon Soojung.

“Minta bantuan kepada ayahmu tercinta saja.”

“Bisa-bisa aku dijauhkan darinya. Ingat kan apa yang terjadi saat orangtua kita mendengar tentang tawuran itu? Aku langsung diceramahi berjam-jam sampai telinga dan pantatku panas.”

Aku mencoba mengingat kejadian itu. Saat ingat, aku mengangguk-angguk.

“Aku tidak bisa membantu. Aku sibuk,” tolakku.

Soojung pindah ke sampingku dan memeluk tanganku manja. “Eonni~ kau tahu kan betapa Jongin mengandalkanmu? Jongin selalu mendatangimu jika ia mempunyai masalah. Hatinya pasti sakit jika kau tidak mau membantunya kali ini.”

“Aku tidak peduli.”

“Eonni~”

“Dengan satu syarat, aku akan memberitahu orangtua kita.”

Soojung menggigit lidahnya. Dia terlihat berpikir keras.

“Ya, kau tidak akan bisa bertemu dengannya untuk beberapa hari. Itu baik untukmu agar gelarmu sebagai oh-so-perfect-student tidak akan tercoreng,” ucapku.

Soojung menjilat bibirnya. “Tapi tanpa aku, dia akan semakin hancur. Apalagi sejak kau selalu menolak bertemu dengannya.”

“Itu urusan dia.”

“EONNI!” Soojung berdiri sambil menunjuk hidungku yang ku balas dengan tatapan malas. “Bagaimana kau bisa setega itu?! Dia menjadikanmu pegangan hidupnya! Jangan bertingkah seakan kau tidak peduli dengannya!”

“Aku memang tidak peduli dengannya. Aku masih punya urusan penting di sini,” sahutku santai.

Soojung terlihat sulit membalas kata-kataku. Dia berlari keluar dari kamarku dan membanting pintu kamarku. Aku memejamkan mataku mendengar suara yang dihasilkan dari bantingan pintu itu. Tak lama, aku mendengar pintu kamarku kembali dibuka.

“Ada apa denganmu dan Soojung?” tanya ibuku.

Aku tersenyum tipis. “Hal biasa.”

“Kai?”

Aku mengangguk.

Ibuku menghela napas panjang. “Aku harus menjauhkannya dari pemuda itu secepatnya sebelum Soojung hancur.”

“Apa aku harus menjauhinya juga?” tanyaku.

Ibuku tertawa sambil mengibas tangannya. “Apa yang bisa ia lakukan kepadamu, Sooyeon-ah?”

***

Aku menghela napas panjang sambil memijat leherku lembut. Aku menoleh saat merasa ada yang berjalan di sampingku. Aku tersenyum melihat wajah khawatir Sunkyu yang memilih jurusan dan kelas yang sama denganku.

“Apa kau mendapatkan istirahat yang cukup akhir-akhir ini?” tanyanya.

Aku berpikir sejenak lalu mengangguk. “Yeah. Aku berhasil mendapatkan waktu tidur sekitar 5 jam perhari. Normal, ‘kan? Yah walaupun terkadang harus tertidur di meja belajar.”

“Kau selalu berusaha terlalu keras, Sica. Sesekali santai lah. Kau juga sudah melangkah terlalu di depan jika dibandingkan dengan teman-teman seangkatanmu,” saran Sunkyu.

Kalau dipikir-pikir, aku memang menjadi sangat rajin soal pendidikanku sejak pindah ke negara ini. Mungkin karena aku tidak mempunyai banyak teman sehingga kebosananku aku limpahkan kepada buku pelajaran dan tugas-tugasku. Kini, itu menjadi kebiasaan.

Aku menggeleng. “Aku akan baik-baik saja.”

“Baiklah, aku pegang kata-katamu. Kau harus sehat saat sidang, ya?”

“Hump!”

Aku mengangguk mantap. Puas, Sunkyu pamit untuk pergi ke perpustakaan kampus. Sementara aku berjalan tempat menunggu bus kampus yang akan mengantarkanku ke gerbang utama kampus. Aku terkejut melihat motor sekaligus pengemudinya yang tidak asing bagiku. Sang pengemudi tersenyum kepadaku.

“Jeshaka~”

Aku memicingkan mataku. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali Jongin memanggilku dengan nama Inggrisku dan kini cara bacanya berubah dari “Jeshika” menjadi “Jeshaka”? Kenapa semakin aneh saja? Dan kenapa dia hanya gagal menyebut namaku tapi selalu berhasil menyebut “Krystal”? Apa bocah ini sengaja untuk menyulutkan amarahku? Ugh.

“Jessica…” ralatku sambil menahan geramku.

Jongin mendengus. “Apapun itu, terserah lah! Noona, ayo ikut aku. Aku bosan. Lagipula kau sudah selesai, ‘kan?”

“Belum.” Aku menggeleng. “Masih ada beberapa hal yang harus aku urus.”

“Ya tapi tidak seribet sebelumnya, ‘kan? Ayolah~ sudah lama sekali kita tidak jalan bersama,” rajuk Jongin.

Aku menghela napas dan menyetujuinya. Tapi kenapa aku merasakan bad feeling?

“Apa yang bisa ia lakukan kepadamu, Sooyeon-ah?”

Ya semoga ibuku benar.

***

Aku membuka mataku dan segera rasa sakit menyerang kepalaku. Aku memijat kepalaku lembut sebelum kembali membuka mata. Aku menatap sekitarku. Aku tidak tahu dimana aku berada. Saat mencoba mengingat apa yang terjadi, aku hanya ingat aku dibawa oleh Jongin ke sebuah butik untuk membeli gaun lalu pergi ke pesta. Seorang teman Jongin menantangku untuk tanding minum. Setelah itu aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi selanjutnya.

Saat rasa sakitnya sudah reda, aku memutuskan untuk turun dari kasur. Aku merasa aneh. Ku beranikan diri untuk melirik tubuhku yang telanjang bulat. Aku tercekat. Teriakanku tertahan di tenggorokan dan membuat tenggorokanku menjadi sangat sakit. Sebuah tangan menyentuhku dan membuat tenggorokanku semakin sakit karena kembali menahan teriakan.

“Noona, kau mau kemana?”

Aku menoleh ke asal suara. Itu Jongin. Dengan mata yang setengah terbuka, dia mencoba meraih tanganku. Aku bisa melihat dadanya yang tidak ditutupi apapun.

“Apa yang bisa ia lakukan kepadamu, Sooyeon-ah?”

Dan ternyata ibuku salah.

“AAAAAAA!!!!”

***

Selama perjalanan pulang, aku tidak berani menyentuh sosok yang sedang mengendarai motornya di depanku. Ku biarkan tanganku bertumpu dimanapun selain tubuh Jongin.

“Aduh!”

Kepalaku membentur helm Jongin saat ia mengerem motornya mendadak lalu kembali ke kecepatan sebelumnya. Emosi yang sudah aku tahan sejak aku bangun membuatku membayangkan aku memegang pisau untuk membunuhnya sekarang juga.

“Nah begitu, pegangan yang benar.”

Aku terkejut mendengar kata-kata Jongin. Aku baru sadar karena rem mendadak tadi, kini aku memeluknya. Dengan penuh emosi, aku mencubit perutnya.

“AW! Yah, Noona! Kau mau kita kecelakaan, ya?!”

***

Aku menyelinap masuk ke dalam rumah. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara agar tidak seorang pun tahu seorang Jessica Jung baru saja pulang ke rumahnya di jam 8 pagi. Hari ini adalah hari Sabtu. Ayah dan ibuku pasti sedang asik menonton tv di kamarnya sambil berdiskusi tentang berita yang mereka tonton sedangkan Krystal masih tidur di kasur tercinta.

“Krystal Jung!”

Aku terlonjak mendengar suara tinggi ayahku. Tidak biasanya beliau menggunakan suara tinggi kepada anaknya, terlebih itu adalah Soojung. Mendengarkannya saja membuatku merinding memikirkan suara itu yang dipakai untuk memarahiku karena baru pulang di pagi hari. Aku mengendap mendekati ruangan asal suara itu dan melihat Soojung sedang berdiri sambil menangis. Matanya mengedar ke sekitar dan bertemu dengan mataku.

“Tapi kenapa eonni tidak?” isak Soojung.

Aku tidak… apa?

“Kai tidak akan memberi pengaruh negatif kepada kakakmu. Dia sudah dewasa dan tahu bagaimana menyaring pergaulannya. Lagipula Kai tidak mungkin macam-macam dengan Sooyeon.”

Sesak menusuk dadaku saat mendengar perkataan ayahku. Sepercaya itukah mereka kepadaku?

Menarik napas, aku beranikan diri untuk bergabung dengan mereka dan duduk di sofa single. Orangtuaku terlihat kaget melihat kehadiranku.

“Darimana saja semalaman?” tanya ibu.

Aku menggaruk kepalaku. “Aku menginap di rumah teman semalam. Maaf tidak memberi kabar. Erm, terlalu asik sampai lupa. Hehe..”

Ibuku tersenyum mendengarnya seakan dia mempercayaiku dengan mudahnya sehingga aku bisa menghembuskan napas yang aku tahan sedari tadi. Sementara itu, pandangan ayah kembali tertuju kepada Krystal.

“Ada apa ini? Aku mendengar nama Kai disebut,” tanyaku sok bingung.

“Kami melarang Soojung dekat-dekat
dengan Kai,” jawab ayah. “Kami dengar perilaku Kai sudah kelewatan akhir-akhir ini.”

“Oh..”

Aku menoleh saat merasa aura tidak enak mengarah kepadaku. Kini Soojung menunduk sambil sesekali melirikku tajam. Mungkin dia cemburu karena hanya aku yang dibebaskan. Haha..

Tunggu, kenapa aku bangga? Jahat.

=== Begin With A Mistake ===

Ya begitu lah. Chapter 1 ini cuma menjelaskan apa yang terjadi sejak mereka kecil. Yang aslinya baru muncul di chapter 2 .__.

Oh ya, aku mau izin hiatus. Mau fokus sama SBMPTN setelah semua pihak memaksaku -_-)/

Advertisements

32 responses to “Begin With A Mistake – Chapter 1

  1. suka bnget sama kai yg selalu di gambarin jadi bad boy
    byangin yg di wolf emang cocok bnget
    semangat ya thor kita taklukan sbmptn sama sama

  2. ga sadar kalau ini ffmu far u.u
    pantes aja pas baca kok penulisannya bagus banget, jujur aja pas baca ff di exoshidae jarang yang penulisannya sebagus ini, yg eon tahu cuma tiga orang aja, salah satunya kamu..

    penasaran sama kelanjutan hubungan kai-sica disini..
    kok kai biasa aja ya setelah mereka tidur bareng*curiga#asah golok bareng luhan

    setuju sama ortu jung, krystal itu jangan deket” sama Kai, kamu itu cocoknya deket” sama si thehun#jiwashipperkeluar

    cepet lanjut ya far :*

    eomma tiri 😀

    • aku juga ga sadar ini adalah akunmu, umma tiri ._. astaga kenapa ga pernah cerita? aku taunya yang labu sepet doang -_-
      ahay aku jadi malu ^/////^ /plak
      wah hanya kau yang sadar dengan sikap tenangnya kai .____. terharu
      YA BENAR~ KRYSTAL COCOKNYA DEKET SAMA THEHUN \^w^/
      iyee abis hiatus .-.

  3. Oemji~! Itu Jeshaka sama Kai gimana? Kai nakal ya sampai berani melakukan *tittt* pada Jeshaka. Kasian Soojung gak di percayai ortunya. Sedangkan Jeshaka dengan mudahnya di percayai dan ternyata *jengjengjeng* dugaan ibunya salah.

    Penasaran sama chapter selanjutnya. Jangan lama di post, ya? Seperti biasa, susunan katanya rapi dan enak di baca. Feelnya juga dapet cuman agak kurang gak kayak biasanya.

  4. alurnya agak kecepetan far~ tp wlo kecepetan penjelasanya lumayan detail jd gak bingung 🙂

    kamu mau hiatus lagi? o_O
    baru aja selesai masak mau hiatus lg sih? 😦
    lama gak sih??

    padahal aku udah penasaran lho sama lanjutannya 😦
    huhuhuuvT^T

    • ini bukan chapter selanjutnya. ini cuma potongan-potongan masa lalu yang bakal penting banget di chapter selanjutnya sebagai penjelas. makanya terasa kecepetan. padahal bukannya kecepetan tapi emang lompatan waktu dari satu scene ke scene lain itu lama .-.
      kalo ga disuruh ikut sbmptn juga ga akan hiatus u.u tesnya tanggal 18-19 juni kok. bentaran. tenang aja

  5. wuahaha emg enak so belaga tua sih sic! wkwk kebayang banget kai aduuuh muka ngeselin menyuguhkan(?)
    krys kasian amat sihh, tapinya lucu sih sifatnya arogan keras kepala. jd kebayang ahn soojung di high kick kekeke~
    tapi benerrr kai nya nge feel banget muahahaa:3
    far far, aku copy thorn love yaa ke notepad buat di hp nnti kl udh selesai baca, aku komen pasti!! thankseuu{}

    • muka ngeselin menyuguhkan? heng……………….. ‘-‘
      sifatnya krys begitu tapi belum aku tampilin di chapter ini 😦
      secocok itukah kai buat cerita ini ? .__.
      oke oke copy aja~ ga usah izin kalo gitu. kecuali kalo mau reposting tuh baru izin .-.

  6. napeun namja,..
    kai knp bisa nKl gitu bulakbalik k.penjara, ky.y jd hobi kai deh..
    omg, kai ma sica eonni, ngelakuin”____”
    kok sica eonni ga marah ya ma kai?.
    kok bisa sih, ortu sica eonni lbih protective sm soojung?.

    • haha iya kali ya. si kai punya hobi yang unik ternyata XD
      ih kok kamu sadar sih jessica ga marah sama kai :< kirain ga ada yang nyadar . hehe
      kan soojung masih muda.masih di umur-umur kelabilan. kalo jessica kan ceritanya udah mau selesai kuliah. udah dewasa. makanya protektifnya sama baby jung aja ~

  7. aku ga komen di teaser yaa, sekalian di sini aja hehe ._.v
    gatau kenapa aku bisa banget bayangin kai yang tawuran dan kebut-kebutan dengan gayanya dia di wolf, berasa cocok banget… Tapi aku lebih suka dia yang lama, terutama rambutnya itu lo… Rambutnya dia yang sekarang ngingetin sama anak punk deket rumah -_- tapi aku tetep berharap kamu ga kehilangan feel sama kai biar thorn love bisa lanjut :3
    jangan bilang siapa-siapa ya, tapi sebenernya aku suka model cerita yang begini, yang cast ceweknya pedofil gitu. Jadi awalnya sebel dan sok cuek, tapi akhirnya luluh juga sama bocah ingusan wkwk ._.v
    dan krystal… Dia suka kai kan? Yah, meskipun tadi aku bilang suka storyline yang begini, tapi aku juga gasuka yang begini… Maksudku yang ceritanya kakak-beradik suka sama satu cowok. Kenapa aku gasuka? Karena itu bikin aku mikir, gimana kalo seandainya itu terjadi sama aku dan adekku, gimana kalo suatu saat aku sama adekku rebutan cowok?? Sumpe deh aku takut kalo sampe kejadian… -,-
    terakhir buat tuan dan nyonya jung… Jangan jantungan ya waktu dapet kabar dari jessi ^^
    Oiya karna kamu akhirnya memutuskan sbmptn, aku doain kamu ketrima… Good luck and fighting!! ^^

    • heng……. panjang banget ‘-‘
      haha aku bisa ngebayangin setelah nonton teaser kedua exo. bahkan karena itu makanya kai jadi cast ff ini.
      iya bener! aduh kai jelek banget! kata temenku, fans kai langsung berkurang loh karna rambutnya itu. hahahaha
      jangan bilang siap-siapa juga ya. aku emang udah lama pengen buat ff kayak gini. baru kesampeannya sekarang .-.
      tau ga? serasa kamu nyindir aku -..- soalnya khusus chapter 1, ini terinspirasi dari kisah nyata. jessica adalah aku, krystal adalah adikku dan kai adalah tetanggaku. persis lah tapi perbedaan aku dan tetanggaku cuma 2 tahun. terus ga sehoror kelakuan kai. kan masih kecil -,- yang pasti aku ga suka loh ya sama dia. semacam adikku -> dia -> aku .-. persis lah pokoknya.
      haha semoga jantung mereka kuat ya XD
      amin amin. makasih ^^

      • haha aku juga sempet berpikir buat pindah hati dari kai, tapi kalo liat foto-fotonya dia yang lama berasa sayang… :3
        wah maaf deh… Ga bermaksud menyindir. Mana aku tau ini terinspirasi dari kisah hidupmu wkwk XD

  8. Duh duh kai beneran deh ;_; aku selalu suka alur ceritamu, dan menurutku ini ga kecepetan ,_, dan semangant ya buat sbmptn semoga keterima di ptn yg diinginkan

    • masa sih ga kecepetan? soalnya ini cuma potongan-potongan scene penting dari masa lalu mereka doang. makanya kecepetan 😐
      iya amin. makasih ^^

  9. oh Tuhan….. bagaimana kalo orang tua sica sampe tau????
    kai……neo jeongmal nappeun namja! ckckckckckck
    lanjutannya ditunggu,chingu 🙂
    semangat buat sbmptn nya ^^

  10. kenapa pas jongin bilang Jeshaka aku malah kepikiran aji saka ya?
    bener tuh, kalo ada kai pasti bawaanya yadong mulu. apalagi udah ‘nganu’ in itu ama jess. *sok polos*
    walaupun ‘itu’ nya kurang greget, tapi nyenggol-nyenggol ngga papa lah. *lebih-lebih sok polos*
    oh ya krys sebenernya suka ngga sih ama jongin? kayanya kok biasa aja ya kalo jongin deket ama jeshika….
    emejing deh buat eneng.

  11. suka karakter badboynya kai, suka karakter arrogant dan bossynya soojung, suka karakter oon sok dewasanya jessicaXD
    suka semuanya thor!!
    ceritanya kayaknya seru, bakal banyak konflik kayaknya. secara orang tua jung aja udah ngelarang krytal bergaul sama kai tapi malah jessica hamil anak kai. bisa kena serangan jantung tiba-tiba mereka haha
    gue heran kenapa kai harus terlalu biasa-biasa aja pas udah tidur sama jessica-,-
    apa emang udah direncanain??
    ortunya jessica juga terlalu bego-,-udah jelas jessica rada oon masih aja dipercaya-,-
    oke sepertinya terlalu banyak komentar menghina jessica-,-
    saya bukan haters. dia bias saya yang cantik banget walaupun kadang mukanya oon.-.v
    sukses sbmptnnya yah thor:)

  12. Annyeong^^

    Wets, kadar galaknya Sica kurang nih *ehh
    Sumpah itu Kai berani banget, tapi mau bagaimana pun dia kan cowok -meskipun masih kecil. Soojong move on aja deh, kamu jangan sama Kai. Sama Myungsoo aja :3 /pletak/

    Can’t wait for the next chap 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s