Passion for Going To College

Kuliah.

Ya, hampir semua orang yang lulus dari SMA di Indonesia tahun ini mendambakan bangku kuliah. ‘Hampir’ bukan berarti 100% ya. Karena pasti ada beberapa orang yang tidak menginginkan kehidupan perkuliahan dahulu. Ada beberapa orang yang menginginkan untuk ‘libur’ selama setahun dahulu.

Aku adalah contohnya.

Dari awal tes SMA, aku ga pernah berharap masuk ke kelas akselerasi. Saat tahu diterima di kelas tersebut, aku nangis. Aku lebih merasa sedih daripada orang-orang yang tidak diterima. Aku menangis lebih deras daripada orang-orang yang tidak diterima. Teman-temanku yang menangis karena tidak diterima spontan berhenti menangis melihat seorang Fara menangis.

Seorang Fara menangis di tempat umum?

“Wow, sebuah keajaiban!” itulah pendapat mereka karena aku memang tidak pernah menangis. Bahkan saat acara kerohanian, di saat semua orang menangis, aku terdiam dengan wajah dingin sampai diomeli oleh guru agama.

Karena itu, aku sudah menanamkan niat dari awal bahwa aku ga akan mau langsung kuliah saat lulus nanti. Aku mau menunggu teman-teman seangkatan saat SMP untuk kuliah di tahun yang sama. Aku ga mau mendahului mereka. Keluargaku pun ceramah panjang-lebar setiap harinya tentang kuliah lebih cepat setelah aku mengungkapkan niatku. Akan tetapi, aku tetap memegang erat niatku.

Tapi akhirnya aku mulai memimpikan kehidupanku saat kuliah nanti saat aku berhasil dapat ranking 2 dalam tes beasiswa di universitas swasta dekat rumah. Padahal aku ga belajar atau apalah itu untuk tes beasiswa tersebut. Ikutnya juga beneran mendadak. Daftarnya di hari terakhir. Aku ingin mengambil beasiswa itu karena berbagai alasan.

  1. Kuliah hanya 3 tahun karena libur semesternya cuma 2 minggu.
  2. 1 tahun pertama diwajibkan untuk tinggal di asrama. Di asrama itu banyak orang asing dari berbagai negara di Asia Tenggara. So pasti setiap hari ngomongnya bahasa Inggris jadi aku bisa lancar ngomong inggris pas lulus nanti.
  3. Diberlakukan wajib berbicara Inggris si lingkungan kuliah.
  4. Akan mengikuti kegiatan PKL sebelum semester terakhir jadi saat lulus nanti, aku siap kerja.
  5. Universitas tersebut dipercaya oleh banyak perusahaan di sekitarnya. Kebetulan tempatnya memang dekat dengan kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara.

See? Terlalu banyak kelebihan universitas ini yang tidak kalah dari lulusan universitas negeri yang beken. Nilai plus lainnya adalah aku ga perlu bersusah payah lagi karena aku memang tipe orang yang malas berusaha.

Sayangnya orangtuaku ga setuju. Keluargaku di Bogor udah berharap aku bakal kuliah di IPB karena aku ga jadi masuk SMAKBO karena lebih memilih SMA dibandingkan dengan SMAKBO. Padahal keluargaku adalah “keluarga SMAKBO”. So, orangtuaku ga mau mengecewakan keluarga besar Bogor dengan tidak memasukkan aku ke IPB.

Aku pastinya ga mau di IPB. Aku ga mau diawasi oleh keluarga karena IPB adalah daerah keluargaku selain SMAKBO. Aku cukup puas mendengar bagaimana kisah abang selama sekolah di SMAKBO sehingga tidak mau kuliah di IPB.

Suatu hari, aku dan beberapa anak di kelasku ikut acara “Kuliah Sehari di IPB”. Kami menginap di vila teman karena memang tidak mungkin berangkat dari rumah masing-masing. Di IPB, aku mendapatkan pengalaman manis dan pahit.

Aku ‘bertarung’ dengan guru besar jurusan biokimia (untungnya aku berhasil guru besar yang ngaku pernah ngajar di kampus di Rusia selama 10 tahun itu speechless dan mengalihkan topik), debat dengan salah satu anak dari sekolah lain, dan dapet kelas biologi. Manisnya: aku dapet mug sebagai kenang-kenangan sudah mengalahkan sang guru besar, dapet pin dan topi dari kelas biologi dengan sedikit manipulasi (lol), dan yang asik adalah aku dapet baju khas jurusan matematika setelah asal menjawab pertanyaan dan anehnya jawabanku tepat padahal aku tidur selama dosennya mengajar. Haha.

Well, itu berhasil membuat hatiku sedikit terbuka dengan IPB.

Lalu pas liburan kenaikan kelas 11 ke kelas 12, kelasku pergi ke UNPAD dan UI. Di sana, aku mendapatkan ilham tentang cita-citaku (sebelumnya aku bahkan ga punya cita-cita). Di UI, aku mendapatkan pengetahuan soal yang namanya Aktuaria. Ditambah kakaknya temen adalah yang di bidang Aktuaria juga. Jadi bener-bener klop gitu sama jurusan Aktuaria.

Nah dari situ, aku mencari tahu Aktuari ada di mana aja. Salah satunya di Statistika IPB. Akhirnya aku tertarik deh sama IPB. Tapi paling tertarik sama Matematika UI.

Pas sedang persiapan UN, entah kenapa aku merasa aku perlu memegang niat awalku. Aku kehilangan niat untuk kuliah setelah melihat teman-teman seangkatan pas SMP masih asik-asikan dengan kehidupan kelas 11 mereka. Puncaknya pas para kakak kelas menyerang kelasku dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Aku benar-benar kehilangan niat untuk kuliah.

Setelah UN, aku mengatakan isi hatiku kepada orangtua. Aku mengatakan bahwa aku tidak niat kuliah tahun ini.

Apa respon mereka?

Mereka tetap bersikukuh supaya aku kuliah tahun ini. Ya mau ga mau, aku berdoa supaya aku ga dapat SNMPTN. Ternyata terkabul. Orangtua pun memaksaku untuk ikut SBMPTN. Aku terpaksa ikut dan mengerjakan soalnya dengan asal, plus mendoakan diri sendiri supaya ga lulus. Terkabul lagi. Puncaknya, keluarga Bogor datang ke rumah dan menceramahiku supaya kuliah di IPB. Mereka berhasil menyediakan kursi di jurusan Fisika. Well, aku bukannya ga suka sama Fisika. Dibandingkan biologi dan kimia, aku jauh lebih suka fisika kemana-mana. Tapi tetap aja aku ga mau kuliah.

Sebenarnya aku udah galau dan pasrah didaftarin di Fisika IPB. Syukurlah akhirnya orangtua mau mendengar keinginanku sehingga aku bisa bebas dari dunia perkuliahan tahun ini. Walaupun sesekali papa menawarkan tempat kuliah, aku tetap menolaknya. Kalaupun aku harus kuliah, aku lebih milih kuliah di universitas dekat rumah. Entah apa alasannya.

Kalau orang-orang bertanya apa keinginanku untuk melewati 1 tahun ini, jujur aku pengen sekolah lagi. Aku ga terlalu menikmati waktu-waktu saat kelas 11 karena saat itu, aku sudah difokuskan untuk UN. Aku terlalu sibuk dengan ujian praktek dan ulangan sehingga saat semuanya selesai, aku sudah kembali datang ke sekolah sebagai murid kelas 12. Tidak ada yang spesial. Itu cukup menyesakkan.

Doaku, semoga kelas akselerasi tidak diadakan lagi di Indonesia. Masa SMA adalah masa yang penting. Dimana kita belajar menjadi dewasa, dimana kita belajar melihat betapa egois dan sialannya orang di sekitar kita, dan dimana kita belajar betapa setiap detik sangatlah berarti. Jika masa ini tidak berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin orang tersebut akan kesulitan di masa depan.

Plus, orang-orang pintar di masa SMA jika disatukan akan menjadi kumpulan orang-orang psikopat dan sosiopat. Terbukti banyak anak berwajah nerd abis yang dalamnya bejat berbahaya di kelas akselerasi angkatanku. Hati-hati! Jika mau mengadakan kelas akselerasi, lebih baik saat SMP. Saat anak-anak masih memiliki pikiran polos walaupun hanya sedikit.

Advertisements

19 responses to “Passion for Going To College

  1. kok sama ya author, sama” ga diterima di 2 jalur itu, cuma bedanya aku berharapnya malah semoga keterima, stress banget -_-

  2. Woah,aku juga sama feelnya ama kamu yura. Sama2 malas mikir kuliah. Aku juga orangnya malas usaha,cuma bedanya kamu tuh pinter nah aku? 180 derajat deh-_-
    banyak banget peluang yg datang yah. Aku juga pengen bisa dapet banyak peluang kayak kamu,cuma yah… Otak aku nggak mampu jadi… Terima deh kalo nanti kegagalan menanti-_-

    oh iya,tempo dulu(?) aku pernah bilang kamu keren kan? Dan ternyata kish kamu ini semakin membuktikan ^_^ Jadi mirip tokoh dalam anime/manga#banyak ngayal nih-_-

    • Aku ga pinter. Darimana pinternya? Dari smp aja aku dapet ranking bawah mulu. Masuk kelas aksel itu hanya… keajaiban? Entahlah -_-
      Banyak peluang yang datang itu karena faktor hoki dan keluarga doang kok. Ga ada yang murni otak -,-

      Hoa hoa hoa~ aduh jadi terharu dibilang tokoh di anime >< makasih makasih :*

  3. Ikuti kata hati kamu aja Far… biasanya kata hati akan membawamu menuju masa depan yang cerah.
    plus, kok aku sedih ya denger kisah km? Mirip-mirip sama kisah sahabatku yang juga mantan akselerasi… dia yang awalnya ceria kini lebih sering muram dan keliatan banyak pikiran. Ternyata kelas aksel itu bener-bener sulit ya ㅠ.ㅠ
    Nah iya, aku setuju sama kamu… lebih baik jangan diadain kelas akselerasi. Masa-masa SMA itu harus dinikmati tiap detiknya, karena cuma terjadi sekali. Dan itu sangat sulit untuk dilupakan :’)
    Aku cuma berharap yang terbaik untuk kamu Far. Apapun keadaannya, tetap semangat oke? Hwaiting!!! 😀

    • Asek bahasanya keyen bingit :33
      Aku dari suram jadi ceria malah sejak masuk kelas aksel. Katanya aku jadi mengenal banyak ekspresi sekarang. Dulu muka datar mulu soalnya ‘-‘
      Iya bener. SMA itu masa penentuan yang membuat kita dewasa. Kalo ga berhasil melewatinya dengan baik, bakal kelimpungan pas kuliah. Gitu sih kata ‘kakak-kakak’ku yang udah kuliah
      Hehe oke~ makasih ya 😀

  4. woah woah woah~ universitas swasta yg kamu maksud itu president university bukan? Nggak kamu ambil beasiswanya? Sayang banget… Padahal kalo kamu ambil, kita bisa ketemu karna aku juga dapet beasiswa di sana… Hehehe ._.v

      • nggak, rumahku di malang, tapi sodaraku banyak yg di cikarang… Makanya aku sekolah di sana…
        Berarti taun depan kamu nyoba ipb lagi nih?

  5. nggak, rumahku di malang, tapi sodaraku banyak yg di cikarang… Makanya aku sekolah di sana…
    Berarti taun depan kamu nyoba ipb lagi nih?

    • Wow bisa ketemuan dong. Pake sepeda juga bisa ke president doang XD
      Kayaknya sih engga. Kalo aku bisa yakinin orangtua, kemungkinan aku bisa ke universitas keinginanku

      • wah berarti deket banget dong ya… Berarti kapan2 bisa ketemu wkwk :3
        Eh iya, di sana macet ga sih? Panas nggak?
        Orang tuamu kayaknya tipe yang gak mudah luluh dengan rengekan anak ya? Kalo gitu coba aja nangis depan mereka, siapa tau berhasil, aku dulu juga gitu hahaha ._.v
        terus kamu pingin ke ui?

      • Macet sih enggak kalo di sekitar president. Kalo panas, tergantung. Tapi daerahnya banyak pohon besar kok. Jadi walaupun panas, ga akan terkena sinar matahari langsung
        Yah kalo nangis mah tambah diomelin. Dulu aku udah nangis, sampe buat masalah di sekolah mulu biar dikeluarin dari aksel, but itu tidak berhasil sama sekali
        Entahlah. Tunggu kabarnya tahun depan aja ㅋㅋㅋ

  6. wah, aku setuju banget sama pendapatmu tentang kelas aksel d(._.)b
    di sekolahku malah dikasih aksel, padahal dulunya ga pernah ada, duh! kasian sama mereka 😦
    eh, tapi abis aku liat adek2 aksel itu, aku mikir “kok wajahnya pada sumringah gitu ya masuk aksel?” -_-v
    ah, itu mungkin belum ngerasain apa yg kamu rasain kali ya (?)
    iya ah, banyak banget anak wajah nerd tapi dalemnya ‘beuh!’ -_-
    tetep semangat ya~ 😀 fighting~ 🙂

  7. Saya gemes dg yura deh >,< sueer.
    Haha, tapi yura, entah knapa kok di mata sya kamu malah kayak adik sya. bukan karena mirip sifatnya (ada beberapa yg beda) tapi 'males usaha' << ini kata kamu sndiri loh ya* dan 'faktor hokinya' yg membuat saya gemes, pengen cubit2. *salam damai.

    sdkt sharing, adik sya juga sama kyak kamu. dia aksel tapi SMP(skrg SMA kls 1) dan dia ngaku kalo aksel itu *ehem* menyiksa. Pdhl dulu dia juga sumringah, sng bgt masuk aksel.
    emang, aksel itu kadang gag tepat. TAPI, untuk anak yang normal bukan yg superior 🙂 dan adik saya emg normal.
    karena emg ada beberapa anak yg saking pinternya malah jadi males sekolah karena alasan pelajaran di sekolah di ulang2 (itu2 mulu nggak selesai2._.)
    Sya jga ada setujunya dg ungkapan kamu ttg aksel, tepatnya yg psikopat & sosiopat. LoL.
    Yaah, ini lg2 sya ngmg pnjang lebar di postingan kamu 😉
    sekali lg, salam kenal.

    mau tanya. Yura kelahiran tahun 96,kah? kalo iya, masih mudaaa bangeeet :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s