You, My Second Love

Sebelum cerita tentang mimpi, aku ingin cerita sedikit tentang kehidupan cintaku. Kelanjutan dari kisah cinta pertamaku yang pernah aku omongin di sini.

Karena orang pertama ini ga meninggalkan kenangan buruk sama sekali (ada kalau aku mau dramatis banget sih) dan sifat orang ini sangat unik yang bahwa kelebihan maupun kekurangan orang ini menjadi alasan aku suka sama dia dan menjadi standar mengapa aku ga bisa suka sama orang lain. Selama suka sama dia, aku pernah pacaran sekali dengan niat mau move on tapi endingnya putus dalam waktu singkat karena, “kamu ga kayak dia.”

Aku baru bisa move on sejak kuliah. Hati seakan udah ga bisa suka sama orang lain. Bahkan walaupun ada orang yang ngingetin aku dengan cinta pertamaku, aku tetep ga tertarik. Saat-saat ini aku banyak berpikir dan sadar kalau cinta pertamaku itu bukan sekedar cinta doang, tapi dia bagaikan muse. Aku mulai menulis cerita sejak aku bisa lancar membaca dengan alasan ada nama-nama bagus di buku membaca yang bagus untuk cerita yang lebih menarik dan saat itu pun aku udah suka sama dia. Aku berhenti menulis cerita dengan alasan sibuk kuliah tapi kenyataannya aku emang ga bisa nulis apapun sejak move on dari dia.

Percaya atau ga, aku depresi karena ga bisa nulis. Menulis bagaikan jati diriku. Menulis membantuku di masa-masa sulit. Lewat menulis, aku bertemu banyak teman berharga. Kalau aku ga bisa menulis, rasanya kayak bukan aku. Rasanya mati rasa. Bikin aku pengen suka lagi sama cowok pertama itu tapi udah ga bisa.

Nah aku ketemu cowok kedua ini saat jadi asisten lab fakultas. Sebenarnya udah pernah ketemu sebelumnya tapi emang dasarnya aku tipe yang bodo amat sama orang lain, cuma ngerasa mukanya ga asing tapi kok namanya asing ya? Ternyata dia itu anak jurusan lain yang pernah di”joki”in temen membuat alat untuk tugas kelompok dan dia pakai nama panggilan yang lain saat itu. Jujur aja, masih ga ngerti alasan dia pakai nama lain (bukan samaran tapi cuma kata lain yang ada di nama panjangnya) dan dia ga mau dipanggil dengan sebutan itu selama jadi asisten lab. Panggil aja dia Leon (nama kucingku, hehe)

Kita berdua cukup deket karena sama-sama jadi asisten termuda yang mau ga mau jadi babu senior untuk beli makanan kesana-kemari tiap ada praktikum. Dia juga sering nemenin aku nungguin angkot pas pulang karena praktikum selalu selesai malam. Dia sering melakukan hal-hal yang bikin “php” (menurut temen-temen) tapi lagi-lagi, aku terlalu bodo amat dan ga peka karena aku sendiri merasa dia melakukan semua itu seakan memang hanya untuk membantu teman.

Setelah masa praktikum selesai, kita masih sering ngobrol kalau ketemu dan ngechat untuk ngomongin hal ga penting. Dia ga ada bedanya sama sahabat-sahabat cowokku. Walaupun harus diakui, dia jauh lebih menakjubkan karena waktu-waktu senggangnya diisi pekerjaan di bengkel atau perlombaan ketimbang 4 sahabat cowokku yang tanding pes tiap ngumpul. Dan hampir satu tahun kita ga ketemu.

Hampir 3 semester kemudian, aku menjadi asisten lab di dua lab berbeda. Satu lab jurusan dan satu lab fakultas. Tapi Leon ga jadi asisten karena dia sibuk dengan hal lain. Aku cerita ke dia karena kita sempet lost contact. Yang kasih dia adalah penjaga lab. Alhasil aku sendiri kaget pas dia datang ke lab dan menyapa aku. Dia datang untuk ketemu kepala lab tapi diam di ruangan khusus dalam lab untuk menunggu aku. Perasaan pertama, aku sadar aku kangen sama dia. Perasaan kedua, kaget karena ga nyangka kedatangan dia. Perasaan ketiga, baper duh rajin amat nungguin. Perasaan keempat, mati gue ternyata gue suka sama dia.

Sayangnya, saat itu juga aku ngerasa aku harus menyerah dan move on. Okay, dia ga pernah cerita apa dia punya pacar atau ga, dia lagi suka sama seseorang atau ga, ga kayak asisten terdahulu lainnya yang entah kenapa suka curhat ke aku sambil nunggu para praktikan datang. Tapi aku ada feeling ya dia punya.

Benar aja, pas iseng buat instagram dan cuma follow teman-teman dekat, tiba-tiba dia follow aku ketika aku sendiri ga tau instagram dia dan itu menjadi kesempatan untuk stalking akun dia. Di sana aku menemukan satu foto, ya, SATU foto dia dengan perempuan dan komentarnya berisi “Jadi lo kapan lamar dia?” yang dijawab “Bentar ya, kerja dulu”. So yep, itu pacarnya. Kalaupun bukan, tetap aja aku ga niat untuk lanjut suka sama dia karena aku ga mau kejadian cinta pertama terulang lagi. Takut kalau harus suka sama satu orang sampai bertahun-tahun di umur yang udah dewasa ini.

Sayangnya move on ga segampang itu karena kalo gampang, aku ga bakal suka sama cowok sampai 12 tahun lamanya.

Untung sekarang kita berdua udah lulus jadi kita ga bakal ketemu. Aku sendiri berusaha membatasi chat dengan dia dimana aku ga bakal ngechat dia duluan dan kalau dia yang chat duluan, aku bakal cari cara untuk nutup obrolan secepatnya. Supaya ga ada niat mulai berharap. Cara itu cukup ampuh karena kita kembali lost contact.

Nah beberapa hari yang lalu nama dia tercetus di grup geng kampus. Temen-temenku masih berharap kita jadian walaupun mereka ga tau perasaanku dan Leon udah punya pacar. Selama ini aku ngakunya suka sama orang lain tapi emang aku ga bisa bo’ong, kayaknya mereka tau kalau aku emang suka sama Leon.

Nah mungkin karena itu, aku jadi kepikiran dia lagi sampai kebawa mimpi. Mimpinya aneh banget. Ya langsung aja cekidot.

Di mimpi ini aku balik ke masa kuliah. Aku sendiri ada di rumah sakit di awal mimpi tapi entah kenapa aku tau aku masih kuliah. Orang-orang ngucapin selamat tapi aku ga tau kenapa. Ya masa iya orang dirawat malah diselamatin?

Akhirnya aku pulang dan aku disambut pesta. Semakin aneh aja emang. Di pesta itu, ada orangtuaku, sahabat-sahabatku di rumah, sahabat-sahabatku di kampus sampai sahabat-sahabatku yang aku kenal lewat internet.

Dan ternyata ada Leon juga! Leon ini tingkah lakunya aneh, dia menjauh setiap aku mau nyapa dia dan selalu menghindari tatapan mataku. Aku nyerah dan ngobrol sama orang lain. Akhirnya Leon mendekat dan orang yang ku ajak ngobrol langsung menepuk kita berdua dan ngucapin selamat, lagi, lalu pergi.

Aku ga terlalu inget apa dia bilang tapi aku agak kaget dan sedih karena dia ga manggil aku seperti biasanya dan ga terlalu mikirin omongan dia yang lain karena aku sendiri ga ngerti maksud dia. Akhirnya dia narik aku keluar dari rumah dan nunjukkin sebuah rumah yang lagi dibangun. Dia bilang lantai atas di rumah itu bakal jadi rumah kita berdua. Di saat itu aku langsung sadar kalau ternyata kita berdua ini udah nikah. Gila banget! Tapi setelah rumah selesai direnovasi juga, Leon ga pernah keliatan lagi selain pas pesta. Jadi lah aku pindah duluan.

Setelah pindah, aku masuk kuliah lagi. Setiap selesai atau sebelum kuliah, aku pasti menyisihkan waktu untuk nyari Leon tapi ga pernah ketemu. Udah cara di sekitar sekjur dia, tempat dia nongkrong, nanyain temen-temennya dan sebagainya, tetep ga ketemu. Padahal semua orang bilang dia kuliah kok tapi ga pernah ketemu.

Saking galaunya, aku curhat sama temen-temenku dan mereka bantu nyari. Masih gagal juga. Akhirnya aku curhat sama orangtuaku dan ekspresi wajah mereka jadi kayak penuh rasa bersalah. Mereka cerita kalau setelah kita resmi nikah, Leon langsung minta cerai karena dia ga pernah mau nikah sama aku. Sedih euy.

Besoknya pas aku tetep nyari dia tapi dengan perasaan kayak ngebet banget pengen ketemu, ga peduli mau cerai atau apa yang penting kangen banget pengen ketemu dia dan ajaibnya, beneran ketemu dia! Aku ngejar dia dan maksa untuk bicara serius. Akhirnya dia jujur kalau dia nikahin aku cuma untuk ngebantuin aku (feeling sih tentang anak tapi ga tau deh) dan sekarang dia pengen bebas. Aku kayak yang, “Yah mau gimana lagi, asal kita tetep jadi temen.”

Lucunya cinta pertamaku muncul. Halah yaelah. Greget. Pengen nendang rasanya. Ga demen banget harus keingetan dia lagi karena temen sempet bahas cewek nembak cowok duluan tuh gimana dan aku sendiri pernah nembak cowok itu. Bukan dengan niat pengen jadian tapi lebih tepatnya adalah sebagai salam perpisahan bahwa sudah cukup, aku suka kamu sampai sini aja. Jadi benci banget kalau harus keingetan dia lagi ketika aku udah dapet closure.

Ya panggil aja cowok ini Dwi. Dengan segala sifatnya yang ga pernah berubah; tengil, banyak tingkah, usil tapi banyak ide jenius. Dia muncul di depan rumah, sok kenal dan dia mengutarakan ide supaya aku bisa dapetin Leon kembali. Aku nolak ide Dwi dan masih berusaha nyari Leon walaupun cuma untuk bertukar sapa karena aku kangen dia. Tapi kali ini Dwi suka ngikutin aku dan aku nyarinya di stasiun bukan area kampus.

Kejadian setelah itu aku lupa. Yang pasti sedih banget sampe aku minta ganti mimpi dan malah dapet mimpi aneh tapi lucu. Terus bangun disuruh anterin mama ke pasar 🙂

Ngomong-ngomong aku sempet bertahun-tahun kalau mimpi pasti dapet lucid dream. Sejak jadi asisten di 2 lab yang bikin badan mati rasa dan jam istirahat terbatas, aku berusaha ngilangin kebiasaan lucid dream. Baru ampuh yang bener-bener terbebas dari lucid dream itu setahun kemudian. Lama :’)

Ga kebayang deh kalau mimpi itu tipe lucid dream. Emang jarang dateng dapet lucid dream yang kisahnya begini tapi sekalinya dapet beginian, mungkin kisahnya bakal 11-12 sama mimpi yang ada Yunho yang klik ini.

 

 

 

The end.

P.S: maaf banyak racauan ga jelas ga penting. Udah lama ga nulis jadi ga tau batasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s